[Freelance] Hurt (Chapter Three)

rs-sequel (1)

Title : Hurt (Chapter Three) || Author : Tiffany Tania || Genre : Sad, Angst, Married Life || Length : Chaptered

Cast by “Im Yoona GG’s –Park Chanyeol EXO-K’s”

Note : This is just a fanfic, dont think to much. All of the cast its belong to God, themselves, theirparents and also SM.Entertaimet but the storyline its pure mine.

POV can changed in every chaptered,

Romantic Street | Hurt (Chapter One)  | Hurt (Chapter Two)

So, please enjoy!^-^

—-

Preview~

“Asal kau tahu.. Chanyeol hanya milikku seutuhnya Yoona.. Kau tak berhak merebutnya dariku” ucapnya berbisik lagi.

“Dahulu kau boleh merebutnya tapi sekarang aku tak akan membiarkan hal itu terjadi.. Jadi kau pilih yang mana, hm?”

Aku tertohok, mukaku memucat ketika Jessica memeluk sambil menyodorkan pisau dibelakang punggungku. “Kau pilih yang mana sayang?”

Aku hanya mampu menelan salivaku pelan. “Aku memilih…”

.

.

Yoona POV

Aku tertohok lemas ketika Jessica semakin menyodorkan pisau lipatnya kepunggungku. “Yatuhan.. tolong aku komohon..”

Jessica langsung saja melipat pisaunya dan dengan profesionalnya menyimpan dibalik jeansnya ketika Nicole menghampirinya. “Aunty! Kapan – kapan kita bermain lagi ya?”

Lantas Jessica mensejajarkan badannya dengan Nicole, dielusnya pipi lembut anak imut itu. “With my pleasure, baby”. Aku masih terdiam sedangkan Chanyeol menarik paksa lengan Jessica. Dia membawa Jessica keluar rumah.

Chanyeol mengeratkan genggaman paksanya pada Jessica sehingga si pelaku meringis kesakitan dan beberapa kali mencoba melepaskan namun apa daya kekuatan Jessica tak sebanding dengan apa yang Chanyeol lakukan.

Chanyeol menatap tajam mata Jessica, yang ditatap membalas tak kalah tajamnya. Hendak melayangkan tamparan perlakuan Chanyeol terhenti ketika Jessica memblocknya terlebih dahulu.

“Apa yang kau mau Jess?”

Jessica mendecih pelan, “Tentu saja aku ingin kau!”

“Baiklah.. jika itu memang maumu aku akan melakukannya asalkan kau tidak menyakiti Nicole dan Yoona”

“Benarkah?” mata Jessica langsung berbinar langsung saja tanpa aba – aba Jessica memeluk erat Chanyeol. Chanyeol hanya mampu mendesah pelan, “Maafkan aku Yoong, ini semua demi kebaikan kau, Nicole, dan calon anak kedua kita” ujarnya dalam hati.

Namun sayang, mataku mengamati pemandangan yang cukup menguras hati diluar sana. Mataku memanas seketika, sebelum air mataku tumpah aku menutup gorden rumah dan berlalu pergi.

.

.

Aku tertidur diranjang, mataku memang terpejam namun aku masih terjaga. Aku semakin menarik selimutnya ketika seseorang yang dapat ku pastikan Chanyeol memasuki kamar. Dia tertidur disebelah ranjangku dia semakin mendekat dan memeluk pinggangku erat. Dia menciumi bahuku perlahan.

Sepertinya dia mengetahui bahwa aku memang sedang tertidur.

Sebuah kata yang terlontar dari mulutnya mampu membuat luka dihatiku semakin menganga.

“Maaf Yoong.. aku tak pernah membayangkan jika kejadiannya akan seperti ini. Kukira semua takkan seperti ini. Aku tahu kau pasti terluka akan keputusanku ini tapi sungguh aku melakukannya demi kau, Nicole, dan calon anak kedua kita. Satu hal yang harus kau tahu, aku mencintaimu”

Air mata mengalir begitu saja dipipiku, Chanyeol pun terlelap tidur disampingku. Aku berbalik dan menghadap kearahnya, kutatap wajahnya yang damai itu. Kuusap pelan dari kening, hidung, sampai ke bibir. Aku bergumam pelan, “Aku juga mencintaimu Chanyeol-ah”

Aku semakin mendekap tubuh Chanyeol, aku menghirup aroma tubuhnya yang khas itu. Aku menenggelamkan wajahku didada bidang lelaki yang sudah beberapa tahun ini setia mendampingiku. Selalu, aku memang cengeng. Air mata turun begitu saja tak tertahankan. Isakan terdengar semakin menjadi – jadi sampai akhirnya aku meredamnya dengan cara menenggelamkan wajahku didadanya.

Bisa kupastikan bajunya basah.

Dan, Chanyeol masih tertidur tentu saja dia tak menyadarinya.

Hingga aku pun ikut terlelap.

.

.

Aku mengerjapkan mataku perlahan, kulihat ranjang disebelahku nampak kosong. Mungkin Chanyeol sudah berangkat ke kantor, gumamku dalam hati. Aku berjalan kearah cermin dan mulai mengikat rambutku dan berganti membersihkan ranjang.

Kubuka jendela kamar sehingga udara segar pagi langsung memenuhi rongga dadaku.

Sebentar, aku semakin menajamkan pendengaranku. Bukankah itu suara piring yang beradu dengan sendok? Aku semakin mendekat kearah pintu dan membukanya perlahan. Aku melangkah kecil dan mengintip dibalik dinding, aku tertegun melihatnya.

Suamiku dan anakku sedang duduk sarapan bersama, aku tersenyum. Namun pada saat aku ingin melangkahkan kakiku tiba – tiba dari arah dapur datang seorang wanita berparas bule –ya bisa kalian tebak sendiri- sedang membawa dua piring spagethi bolognese.

Tunggu sebentar, spagethi bolognese?

Bukankah itu makanan yang sering kubuat untuk mereka?

Chanyeol menatap kearahku, air mataku sudah tak bisa tertahankan lagi. Aku menggigit keras lengan dan air mataku semakin mengalir ketika Chanyeol hanya memutar bola matanya asal.

DEG!

Yatuhan ada apa ini sebenarnya? Mengapa Chanyeol berubah seperti ini?

Sebentar, Nicole hai ini ibu sayang! Aku melambai kearahnya namun Nicole hanya menatap sinis dan beralih menjadi duduk dipangkuan Jessica. Dan kini giliran Jessica yang tersenyum sinis kearahku.

Air mataku semakin meluncur bebas saja tanpa ku perintahkan. Aku melangkah mundur memasuki kamar dan menutup pintu kamar rapat – rapat.

Aku menjambak rambutku asal dan mulai memukuli perutku dengan keras. Tubuhku merosot kebawah, kulakukan itu lagi hingga tak sadar cairan merah kental itu merembes keluar hingga kekakiku. Melihatnya aku semakin menjerit.

“AAAAAAAAAAAKH!”

“Kau kenapa Yoong?”

Suara itu, aku mengerjapkan mataku lagi mencoba berinteraksi dengan masuknya cahaya dari jendela kamarku itu. Setelah penglihatanku sempurna, kutatap wajahnya. Wajah suamiku, wajah orang yang ku sayangi.

“Chanyeol?”

“Bukankah kau.. bersama Jessica dimeja makan?” ucapku tergugup, Chanyeol menyibakkan rambutku kebelakang telinga. “Kau bermimpi Yoong, aku bersamamu sedari tadi”

“Bermimpi?”

“Hmmm..”

“Nicole?” tanyaku padanya. Wajahnya berubah.

“Diantar Jessica ke sekolah.. dia merengek ingin diantarkan wanita itu”

Aku merubah posisiku menjadi duduk, aku menatap dalam ke manik hitam pekat Chanyeol, mataku berair, aku menangis lagi.

“Aku takut.. aku takut Nicole melupakanku Chanyeol-ah”

Chanyeol memeluk erat tubuhku, aku mengeratkan pelukannya. Kini dia mengelus pelan rambutku. “Tidak Yoong, bagaimanapun kau Ibunya..”

“Aku takut.. sudah cukup aku kehilanganmu aku tak ingin Nicole meninggalkanku juga”

Chanyeol diam tak bergeming, “Apakah kau akan melakukannya Chanyeol? Apa kau tega membagi rasa cintaku dengan Jessica?”

“……………”

“Baiklah” ucapku pergi ke kamar mandi, lenganku masih digenggam Chanyeol namun pada saat aku pergi perlahan lengan kami.. terlepas begitu saja.

Chanyeol hanya mampu terdiam, ia tak tahu harus berbuat apa lagi karena ya ini semua ide konyol dari Jessica. Jika saja ia menolak, Jessica tak akan segan – segan melakukan hal yang tak diinginkan.

“Maafkan aku Yoong.. aku menyakitimu lagi..”

.

.

Kini aku sedang bersolek didepan meja rias, ku sisir rambut panjangku dengan lemas. Wajahku terlihat pucat bahkan.. jelek. Kuusap pelan perutku yang kini sudah menginjak usia tujuh bulan.

“Tiffany..”

Tiba – tiba terbesit difikiranku untuk mendatangi sahabat terbaikku itu. Langsung saja aku meraih tas Gucci dan dompet. Aku berjalan dan melihat Chanyeol yang sedang membaca koran ditengah rumah. Aku mengabaikannya.

Bahkan tak berpamitan, sekalipun.

Aku menyetop taksi yang lewat didepan rumahku, aku menaikinya. Terdengar teriakan Chanyeol yang memanggil namaku. Supir taksi masih terdiam, “Jalan pak..” ucapku dan taksi itupun langsung melesat begitu saja.

.

.

Jessica POV

“Aunty, nanti akan menjemputku kan?” ucap Nicole yang masih terduduk manis di samping kemudiku. Aku tersenyum manis menanggapinya, “Tentu saja sayang..”

“Baiklah aunty.. Nicole masuk dulu ya?”

Aku menahan lengan kecilnya itu, “Nicole.. bisakah kau memanggilku Ibu?”

“Eh.. I-Ibu?”

Aku mengangguk, Nicole tampak ragu – ragu dan menimbang nimbang. Sedetik kemudian senyuman Nicole mengembang, “Baiklah Ibu, Nicole masuk dulu ya? Bye!” ucap Nicole pergi dan berlari kecil kearah sekolahnya.

Aku tersenyum senang mendengar Nicole memanggilku Ibu. Aku merasa memiliki keluarga yang sempurna, ya walaupun mereka bukan bagian keluargaku seutuhnya. Senyumku semakin mengembang ketika mobilku terparkir rapi di halaman rumah Chanyeol.

Ketika ku buka pintu rumah dapat ku lihat jelas Chanyeol yang sedang siap – siap ke kantor. Bibirnya mengerucut ketika kesusahan membenarkan dasi. Dia masih terlihat sama. Tiba – tiba fikiranku melayang ke beberapa tahun lalu.

Flashback on

Aku terkikik geli ketika melihat Chanyeol yang kesusahan membetulkan letak dasi sekolah kami. Dia menghentakkan kakinya sambil mengerucutkan bibirnya. “Aish.. aku menyerah!” ucapnya melempar asal dasi itu.

Aku semakin terkekeh melihat tingkah konyolnya itu, aku meraih dasinya dan mulai mendekatinya. “Kau ini memasang dasi saja tak bisa, payah!” cibirku sambil membenarkan kerah seragam SMA-nya itu.

Chanyeol menatap kearahku, “Begini caranya…” ucapku membenarkan dasi dan memasangkannya. Tiba – tiba lengan Chanyeol melingkar sempurna dipinggangku, dia menarik pinggangku hingga aku mendekatinya. Mataku terbelalak ketika menatap mata Chanyeol.

Bibirnya mendekat kearahku dan aku mulai menutup mataku. Dia berbisik, “I love you, Mrs. Jung”

Flashback off

Aku mendekat kearahnya, kusimpan tas di kursi. Aku menarik paksa dasinya dan mulai membenarkannya, “Kau masih sama Chanyeol, tidak bisa memasang dasi sendiri! Dasar payah!”

Matanya menatapku intens, tatapannya bahkan masih sama dengan tatapannya saat itu. Ketika aku membalas tatapannya dia menghindari tatapanku. Aku menarik dagunya agar menatapku lagi, “Apa alasanmu memutuskanku waktu itu karena aku… tak bisa mengandung?”

Air mataku terjun bebas begitu saja, aku melepas lenganku darinya. Tubuhku merosot kebawah, aku menangis dengan kedua lenganku yang masih setia menghapusnya.

.

.

Chanyeol POV

Jessica datang dan tersenyum kearahku, dia mendekat dan mulai membenarkan letak dasi yang menurutku absurd itu. “Kau masih sama Chanyeol, tidak bisa memasang dasi sendiri! Dasar payah!” ucapnya dengan senyuman.

Senyuman itu.. mengingatkanku pada Yoona. Ketika dia membenarkan letak dasiku, aku masih ingat dengan jelas setiap ukiran senyumnya. Ketika mataku bertemu pandang dengan matanya aku menghindarinya. Tiba – tiba saja dia menarik daguku agar menatapnya.

“Apa alasanmu memutuskanku waktu itu karena aku… tak bisa mengandung?”

“Apa alasanmu memutuskanku waktu itu karena aku… tak bisa mengandung?”

“Apa alasanmu memutuskanku waktu itu karena aku… tak bisa mengandung?”

Pertanyaan itu terus saja berdengung di pendengaranku, aku semakin tertohok ketika melihat Jessica menangis dibawah. Kutatap dia, tiba – tiba hatiku terenyuh begitu saja. Aku ikut terduduk dan menangkup wajahnya, kuhapus air matanya yang jatuh begitu saja dari mata indahnya itu. Bagaimanapun juga dia adalah sepenggal kisahku, walaupun masa lalu. Jujur saja melihatnya menangis sama saja sakitnya ketika aku melihat Yoona menangis.

Tanpa sadar aku memeluknya, dia memelukku erat. “Dont cry Jess.. please..”

.

.

Author POV

Yoona tiba dipekarangan rumah Tiffany, dia mengetuk pintu rumah berwarna coklat kemerahan itu. Dia juga memencet bel rumahnya. Tiba – tiba pintu rumah terbuka, seorang lelaki memakai kaos putih polos membukakan pintu.

“Ah, Yoong.. silahkan masuk”

“Gomawo Sehunna.. Tiffany dimana?”

Sehun tersenyum, “Dia berada didapur, sedang membuatkanku kopi”

“Kau ini istri sedang mengandung malah kau yang manja.. dasar!” ucap Yoona terkekeh ketika Sehun mengantarnya ke ruang tamu. Sehun ikut terduduk, “Kandunganmu sudah berapa bulan Yoong? Sudah besar nampaknya..”

Yoona tersenyum, “Sudah tujuh bulan, sebentar lagi hehe” ucapnya mengelus perut yang sudah terlihat membesar itu. “Tiffany?”

“Ah.. baru tiga bulan Yoong”

Tiffany datang sambil membawakan kopi untuk suaminya itu, “Ah.. Yoong, apa kabar?” ucapnya meletakkan kopi di meja dan beralih memeluk erat wanita dihadapannya.

“Baik, bagaimana kandunganmu?” ucap Yoona mengelus pelan perut Tiffany, sahabatnya. “Baik Yoong, bagaimana denganmu?” kini giliran Tiffany yang mengelus perut Yoona. “Sama sepertimu.. baik”

Sehun bergegas pergi, “Baiklah sepertinya ini urusan wanita” sebelum dia pergi, dia berbalik. “Yoong, apa Chanyeol pergi ke kantor?”

Yoona terdiam sesaat.. dia tersenyum kearah Sehun. “Entahlah.. sepertinya dia berangkat”

“A.ah baiklah” ucap Sehun pergi sambil menggaruk tengkuknya, heran.

Tiffany mengelus lengan Yoona, “Kau kenapa? Bertengkar dengan Chanyeol?”

“Tidak..”

“Jangan berbohong”

“Aku tidak berbohong”

“Aku sahabatmu selama bertahun – tahun Yoong, jadi aku tahu!” suara Tiffany sedikit meninggi sehingga membuat Yoona menghela nafas panjang.

“Baiklah..” ucapnya menghela nafas dan menahan tangis. “Chanyeol berhubungan dengan Jessica lagi..”

“Jes.. Jessica? Teman SMA ku dulu?” ucap Tiffany tak percaya. Yoona hanya mampu mengangguk lemah, “Aku ingin bertanya.. saat SMA apa mereka sangat romantis?”

“Mengapa kau bertanya seperti itu?”

“Ayolah.. kau kan sahabat suamiku sekaligus sahabat Jessica”

“Tapi.. aku tak mau membuatmu sakit hati Yoong..”

“Tenang.. aku sudah menyiapkan mentalku” ucap Yoona membuang nafas.

“Baiklah jika itu maumu…”

Setelah lama berbincang – bincang, Yoona pun mulai berpamitan kepada Tiffany. Dan mulai menyetop taksi, lagi. Pada saat di taksi pikiran nya melayang pada kata – kata Tiffany.

“Chanyeol dan Jessica saling mencintai bahkan Chanyeol berjanji akan menikahinya, tapi.. karena Jessica tak bisa mengandung Chanyeol memutuskan hubungannya secara sepihak dan itu membuat Jessica gila. Jessica sangat mencintai Chanyeol, sangat. Bahkan beberapa kali dia mencoba untuk bunuh diri pada saat kedua orang tuanya meninggal dan Chanyeol yang meninggalkannya begtu saja..”

“Pantas saja dia begitu membenciku..” ucap Yoona merasa bersalah.

Setibanya didepan rumah, Yoona melihat mobil Jessica terparkir di halaman rumahnya. Ketika Yoona memasuki ruang tamu, pemandangan itu membuat hati Yoona sakit. Dia melihat Chanyeol sedang memeluk Jessica yang menangis.

Jessica menangis?

Tiba – tiba pikiran nya kembali melayang pada cerita yang Tiffany tuturkan. Yoona mempercepat langkah kaki nya dan diam tepat dihadapan mereka. Chanyeol yang menyadari nya langsung berdiri begitupun Jessica.

Dia menatap tajam mata Chanyeol, sambil sesekali menatap kearah Jessica. Entah kenapa pada saat dia menatap mata Jessica ada perasaan perih disana. Dia bisa merasakan perihnya beban hidup Jessica. Ditinggal orang yang disayang dan ditinggal kedua orangtuanya?

Yoona tak bisa membayangkannya. Sebenci – bencinya dia terhadap Jessica, tapi dia masih merasa iba terhadap wanita itu. Apalagi dia tak bisa mengandung, pantas saja dia sangat menyayangi Nicole.

Yoona beralih menatap Chanyeol, Chanyeol tak mengerti. “Kau kenapa Yoong? Ini tak seperti yang kau bay-

PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat begitu saja di pipi mulus Chanyeol, Jessica terbelalak ketika melihat Chanyeol dan mencoba menahan lengan Yoona. “YA! Apa yang kau lakukan?”

Yoona menepis kasar lengan Jessica, “Diam kau!”

“Kau! Pria biadab!” cercah Yoona dengan segala amarah yang membuncah di dadanya. Air mata turun lagi, bibirnya bergetar. “Bagaimana bisa kau meninggalkan Jessica dan menikahi ku HAH?”

“E..eh?” Jessica terkaget ketika namanya disebut Yoona.

“Apa maksudmu Yoong?” ucap Chanyeol sambil memegangi pipinya.

“Apa karena dia tak bisa mengandung kau meninggalkannya hah? Kau ini, tega sekali! Dia wanita! Aku wanita! Aku bisa merasakan perihnya jadi dia!”

DUAR!

Sebuah bom meledak begitu saja didalam dada Chanyeol, bagaimana bisa dia mengetahui masa lalunya dengan Jessica. “Bagaimana bisa kau tahu?”

“Tak penting..”

Air mata Jessica semakin menderas begitupun Yoona, Yoona menatap kearah Jessica dan mulai menggenggam tangannya. “Maaf jika dahulu aku menjadi parasit di hubungan kalian.. aku tak tahu”

Jessica tersenyum, “Tidak apa – apa, sudah jelas Yoong lelaki mana yang mau menikahi wanita yang tidak bisa memberikan keturunan?”

“Kau tak boleh berbicara seperti itu.. masih ada yang mau denganmu”

“Siapa?”

Yoona menatap kebelakang, “Chanyeol”

“Apa – apaan kau Yoong?” ucap Chanyeol menarik paksa lengan Yoona. Yoona hanya tersenyum, “Kau menyayangiku?”

“Tentu saja.. aku sangat mencintaimu Yoona!”

“Baiklah.. kalau begitu nikahi Jessica”

Chanyeol mengerjap tak percaya, “Kau ini apa – apaan Yoona? Kau bercanda!”

“Aku tak bercanda, jika kau menyayangi Jessica nikahi dia” ucap Yoona mengelus pelan lengan Chanyeol, “Demi aku.. kumohon” lanjutnya sambil menggenggam erat lengan Chanyeol.

Jessica terhenyak mendengarkan pernyataan yang terlontar dibibir delima gadis itu, air matanya semakin menyeruak. Chanyeol mengacak rambutnya frustasi.

“Kau gila Im Yoona! Kau gila!”

*TBC*

5 thoughts on “[Freelance] Hurt (Chapter Three)

  1. Thor,aku pengen banget dibuat sequel BaekYeon,Pleaseeeeeeeeee😥

    Pasti seru tuh😉

    Kasihan banget jessica,ternyata dia tak bisa mengandung😦

    Fighting!!

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s