[Chapter 2] Between (Sequel of Ring)

between2

Title : Between

Author : Baconyeojachingu

Main casts :

          Seohyun SNSD

          Suho EXO

          Lay EXO

Genre : Romance, Hurt / Comfort

Rated : T

Length : Chapter

A/N : Mian…. kyaknya chap ini lama bgt update-nya. Mianhae…mianhae… oke, deh, langsung aja dibca, ingat selalu, NO SIDERS, NO PLAGIATOR, AND NO BASH!!

~*~*~Between~*~*~

                “Apa ini karena Seohyun lagi?!”

                Suho menghela nafas lalu mendekati Yoona yang berdiri tak jauh darinya dengan tangan di pinggang. “Ini juga bukan kemauanku. Kau mengerti itu kan?” Suho menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Yoona, kekasihnya. Ia tersenyum menenangkan, namun tetap saja tak mampu membuat keresahan yang mengganggu Yoona beberapa hari ini menghilang.

                “Oppa…” suara Yoona yang sebelumnya ketus melembut. “Apa suatu hari nanti kau akan meninggalkanku? Kau akan menikahi Seohyun?”

                Suho tersenyum lagi lalu menggeleng. Tubuh mungil Yoona dibawanya masuk dalam hangatnya dekapan seorang Suho, “Tentu tidak. Percayalah.. Seorang Kim Joon Myun hanya mencintai Im Yoon Ah.”

                “Appamu?”

                “Jangan pikirkan appaku, Yoona. Kau hanya perlu mencintaiku, dan aku akan menjamin semuanya baik-baik saja.”

                Suho melepas pelukannya namun ia masih setia tersenyum ke arah Yoona. “Kau hanya perlu menungguku, seminggu lagi aku akan ke Boston dan itu hanya untuk memenuhi keinginan appa. Setelahnya aku akan kembali.”

                “Ya, kau akan kembali. Kembali dengan calon istrimu.”

                Suho terkekeh pelan, “Aniya.” Tangannya menangkup pipi Yoona lagi, “Calon istriku hanya ada satu dan dia saat ini sedang cemberut karena calon suaminya akan pergi ke luar negeri.”

                Yoona tersenyum pertama kalinya malam itu.

~*~*~Between~*~*~

                Seohyun yang sedang menata makanan di meja makan mendengar suara bel dari pintu kamar apartemennya seegra berjalan mendekat bermaksud membukakan pintu. Sebenarnya tanpa melihat pun Seohyun tau yang memencet bel itu adalah Lay, tetangganya yang kebetulan bermulut besar dan hobi mengoceh. Siapa lagi yang ia kenal di Boston selain Lay?

                Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lewat, dimana ia telah berjanji mengundang Lay untuk makan malam di apartemennya.

                “Annyeong!!!!”

                Seohyun memutar bola mata saat melihat Lay melambaikan tangan di depan pintu apartemennya—sesuai dengan dugaan Seohyun sejak awal.

                “Masuklah..”

                Lay melangkah masuk seperti suruhan tuan rumah. Sepasang matanya menelisik ruang apartemen Seohyun dari sudut ke sudut, “Ternyata sama persis dengan apartemenku.” Gumamnya membuat Seohyun mengerutkan dahi. Bukankah semua kamar apartemen yang ada di satu gedung bentuknya memang sama?

                Lay mengikuti Seohyun menuju meja makan. Di sana terhidang lumayan banyak jenis makanan yang sepertinya kurang familiar bagi Lay. Seingatnya Seohyun berjanji hanya akan memasak sup iga, tapi apa semua ini?

                “Kukira hanya akan ada sup iga?”

                “Cerewet. Duduk saja lalu makan dan pulang ke apartemenmu sendiri.”

                Bibir Lay melengkung ke bawah, namun begitupun ia tetap mengambil posisi duduk di kursi yang ada di depan Seohyun. Matanya masih sibuk menelisik satu persatu hidangan, lalu saat matanya menangkap sessuatu yang ia kenal, ia segera berseru—seperti biasa, berseru dengan hebohnya, “Ini kimchi kan? Wahhh!!! Aku suka sekali masakan ini. Kukira kau tidak akan menghidangkan kimchi.” Lay tidak mempedulikan helaan nafas Seohyun yang sebenarnya diselingi senyum kecil, ia malah memfokuskan dirinya untuk menyumpit lembaran daun sawi—bahan utama membuat kimchi—lalu memakannya dengan ekspresi berlebihan. “Enak sekali…” gumamnya kemudian. Matanya terpejam dan ekspresinya persis seperti presenter dalam acara-acara kuliner di tv.

                Senyum kecil terselip lagi di bibir Seohyun. Semua wanita senang kan jika masakannya dipuji sedemikian rupa? Ia mulai menyumpit kimchi juga dan menaruhnya di atas mangkuk nasinya.

                “Ah, aku sampai lupa.” Lay mengambil sesuatu yang tergantung di lehernya.

                Kamera lagi.

                Lay berkutat sejenak dengan kameranya lalu mulai mengarahkan lensa dari kamera  tersebut pada hidangan kimchi di atas meja. Ia membidik sekali dan tak lama setelah blitz kamera terpancar, kertas foto kecil keluar perlahan dari bagian bawah kamera.

                “Kamera polaroid?”

                Lay mengangguk. Di tangannya ia sedang memegang selembar hasil foto yang baru saja diambilnya. Selembar foto itu dikibas-kibaskan sementara ia tersenyum ke arah Seohyun. “Cantik kan?” ia bertanya dengan senyum lebar seraya menyodorkan hasil potretannya.

                “Apa yang kau maksud ‘cantik’ dari selembar foto kimchi?”

                Lay terkekeh lalu menyingkirkan foto berukuran cukup kecil itu dari depan Seohyun. “Jadi, Joo-ya, bisakah kau mengenalkan satu persatu masakan di atas meja ini?”

                “Kenapa aku harus menjelaskannya segala. Kau hanya perlu memakannya dan segera pulang.”

                “Aku tidak memakan makanan yang tidak kukenal Joo-ya.”

                Seohyun mendecih, “Ya, terserah kau saja. Yang ini namanya soondubu jiggae.” Ucap Seohyun sambil menunjuk semangkuk—cukup—besar makanan yang terlihat berkuah berwarna agak orange.

                Lay menyumpit udang dari dalam hidangan bernama soondubu jiggae tersebut. Ia memakannya lalu mengangguk-angguk. “Lumayan.” Ucapnya lalu mulai mengaduk-aduk isi hidangan tersebut seperti mencari-cari sesuatu di dalamnya. “Masakan ini dipenuhi seafood ya?”

                “Ya.”

                “Ini…”

                “Ini bulgogi kan? Aku tau!! Aku sudah pernah memakan ini saat di korea dulu.”

                “Oh ya, terserah. Kalau kau memang sudah tau, tunjuk saja yang mana yang belum kau ketahui.”

                “Ini?”

                “Nakji bokum.”

                “Ini cumi-cumi ya?”

                “Gurita.”

                Lay memandang masakan itu dengan mulut membulat. Ia menyumpit bagian tentakel dari gurita itu lalu mengunyahnya. “Pedas.” Komentarnya lalu menyeruput air putih dari gelas yang disediakan Seohyun di depannya.

                “Kurasa kita bisa mulai makannya sekarang.”

                “Ya, silahkan silahkan. Aku tidak akan bertanya.” Lay memandang sepiring lagi hidangan yang sebenarnya belum ia ketahui namanya, “Walaupun aku belum mengetahui yang itu.” Gumamnya.

                “Baesook.”

                “Mwo?”

                “Nama masakan itu Baesook.”

                “Ini pbuah pear kan?”

                “Ya, ya, ya. Kau cerewet sekali, makan saja, aku tidak akan menaruh yang aneh-aneh di makananmu.”

                “Baiklah.” Lay tersenyum lebar lalu memindahkan sesendok soondubu jiggae ke atas mangkuknya. Ia mulai mengunyah, namun sesuatu yang lain menarik perhatiannya.

                Lay tersenyum lalu meraih kamera polaroid yang tadi ia taruh di atas meja—di sebelah gelasnya. Lay mengarahkan lensa kamera polaroid itu ke arah Seohyun yang sedang menyumpit sepotong gurita, dan begitu kedua belah sumpit itu terjepit di antara dua belah bibirnya Lay cepat-cepat menekan salah satu tombol perintah untuk mengabadikan momen itu.

                Lay menurunkan kameranya—menunggu hasil potretan keluar—lalu tersenyum dengan wajah tanpa dosa pada wajah Seohyun yang sudah mengerut. “Kenapa kau sangat suka memotret eoh? Kau ini pengkoleksi kamera atau tukang foto?”

                Lay tertawa mendengar ucapan Seohyun, “Aku fotografer bukan tukang foto.” Kedua matanya menghilang saat dia tersenyum sangat lebar, dan sebagai gantinya sepasang dimple muncul di kedua belah pipinya.

                “Sama saja.” Dengus Seohyun.

                “Apanya yang sama?! Jelas saja itu berbeda! Tukang foto itu tidak akan bepergian ke luar negeri sepertiku. “

                “Terserah..”

                “Ya! Berheentilah mengatakan ‘terserah’ setiap saat. Apa jika aku menyuruhmu menikah denganku kau juga akan bilang terserah?”

                Raut wajah Seohyun berubah menjadi tak berekspresi mendengar kata ‘menikah’. “Selesaikan saja urusanmu lalu pulang. Aku sudah kenyang.” Seohyun bangkit berdiri meninggalkan Lay di meja makan dengan suara deritan dari kursi kayu yang dipakainya.

                “Ya! Kau kenapa? Apa aku salah bicara?” Lay ikut berdiri menyusul Seohyun. ia menahan lengan gadis itu sebelum ia berhasil masuk ke kamarnya. “Kau kenapa? Apa aku salah bicara tadi? Aku minta maaf.”

                “Tidak.”

                “Lalu kenapa?”

                “Kenapa apanya? Aku hanya lelah.”

                Pegangan Lay mengendur di pergelangan Seohyun lalu perlahan terlepas. “Maaf mengganggumu kalau begitu. Aku pulang sekarang.” Salah satu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis namun Seohyun tau senyuman itu tidak sama cerahnya dengan senyum-senyum Lay sebelumnya.

                Lay melangkah mundur. Tak menoleh sedikit pun lagi ke belakang sampai tubuhnya menghilang di balik pintu keluar apartemen Seohyun dan Seohyun sendiri masih diam berdiri di depan pintu kamar tidurnya.

Apa dia keterlaluan pada Lay?

~*~*~Between~*~*~

                Saat Seohyun bangun keesokan harinya, ia masih menemukan hal yang sama dengan meja makannya tadi malam. Semua masakannya masih di tempat semula, nasi di mangkuk Lay bahkan masih tersisa tiga per empat bagian.

                Seohyun mendudukkan dirinya di kursi tempat Lay duduk kemarin malam. Dagunya di topang oleh kedua telapak tangannya lalu ia menghela nafas panjang. Saat ia melihat dua lembar foto hasil olahan kamerra polaroid Lay kemarin malam, ia menegakkan posisi duduknya.

                Ia meraih kedua foto tersebut.

                Salah satu foto menunjukkan kimchi yang ia masak dan foto yang lain menunjukkan fotonya yang sedang makan. Seohyun tersenyum melihat bagaimana cara Lay mengambil angle dan momen yang pas. Ya, tak disangkal, kemampuan mengambil foto Lay hebat dalam sekali lihat.

                Seohyun mendengar bel apartemennya berbunyi, namun kali ini ia agak ragu dengan dugaanya tentang kedatangan Lay. Ia merasa kurang yakin Lay akan datang lagi setelah apa yang terjadi tadi malam.  Diperlakukan seperti itu oleh tuan rumah tempat kita berkunjung bukankah sangat menyakitkan?

                Saat Seohyun membuka pintu, ia tidak menemukan siapapun di depan pintu, melainkan hanya sebuah koran yang diletaakkan begitu saja. Ia mulai menduga-duga bahwa yang memencet bel nya barusan adalah pengantar koran.

                Seohyun menunduk untuk memungut koran tersebut namun saat ia hendak menegakkan tubuhnya, ia mendengar suara pintu ditutup. Seohyun menoleh ke samping dan menemukan tetangga ber-dimplenya sudah berpakaian rapi dengan tas punggung serta kamera yang tergantung di lehernya. Bukan kamera polaroid seperti yang ia bawa ke apartemen Seohyun kemarin malam, melainkan kamera lain yang terlihat lebih indah dan kemungkinan—menurut dugaan Seohyun—berjenis DSLR.

                Baru saja Seohyun akan menyapanya, Lay sudah lebih dulu tersenyum, membungkuk sedikit, lalu berlalu begitu saja. Seohyun memandangi punggung Lay yang semakin menjauh dan bahkan sampai siluetnya menghilang ia sama sekali tak menoleh ke belakang.

                Perasaan bersalah semakin menghantui Seohyun, padahal kalau dipikir-pikir, Lay hanya berusaha bersikap seperti tetangga normal pada umumnya. Lay sudah menyapanya tadi—walau tanpa suara—dan itu adalah suatu yang wajar untuk status hubungan yang hanya ‘tetangga’ kan?

                Itu adalah sikap paling normal dari seorang tetangga.

Apa lagi yang kau harap dilakukannya Seo Joo Hyun?

Seohyun menghela nafas lalu berbalik masuk kembali ke dalam ruang apartemennya. Koran yang ia ambil tadi ia lemparkan begitu saja ke atas meja di ruang tengah lalu ia sendiri bergegas masuk ke kamarnya—hendak membersihkan diri.

Seohyun menggulung rambut panjangnya lalu memperhatikan pantulan wajahnya di cermin, namun pikirannya jauh melayang.

Ia merasa hari ini akan sangat membosankan karena ia sama sekali tidak mempunyai siapa-siapa untuk menemaninya. Ia hendak melepas kebosanan dengan cara berjalan-jalan di sekitar kota Boston, tapi saat tidak ada yang menemaninya bukankah itu juga sama membosankannya dengan berdiam diri di apartemen seharian?

                Seohyun mengehela nafas—entah yang keberapa kalinya—lalu beranjak dari depan cermin menuju toilet. Mungkin setelah ini ia benar-benar akan berakhir dengan berdiam diri seharian.

                Tidak buruk.

                Ia bisa menghabiskan waktu dengan cara tidur sepanjang hari.

                Berhibernasi.

~*~*~Between~*~*~

                “Kapan kau akan ke Boston Kim Joon Myun?”

                “Minggu depan abeoji.”

                Tuan Kim berdeham lalu melanjutkan acara makan malamnya. “Sebelum itu sebaiknya kau urus proyek pembangunan resort baru kita di Jeju dulu. Kita harus mengamankan proyek yang satu itu, kau mengerti?”

                “Ne, abeoji.”

                “Yeobo, apa tidak sebaiknya kita batalkan saja pernikahan Joon Myun dengan Seohyun?” interupsi Nyoy Kim.

                “Batalkan bagaimana maksudmu?! Kau ingin keluarga ini jatuh miskin?!” mata Tuan Kim berkilat-kilat, “Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran kalian berdua. Apa menikah sebegitu sulitnya?”

                Nyonya Kim menghembuskan nafas lelah. Ia merasa sangat kesulitan untuk berbicara baik-baik dengan suaminya itu, “B ukan begitu. Kau tau sendiri kan, Joon Myun sudah punya Yoona, kalau kita memaksanya menikahi Seohyun bukankah itu hanya akan menyakiti mereka bertiga saja?”

                “Kau ini cerewet sekali. Aku juga menikahimu saat aku punya perempuan lain! Tidak ingat dengan sikap ayahmu yang memaksaku menikahimu?”

                “Aku selesai.” Suho bangkit dari kursinya. Sejujurnya jika kedua orang tuanya mulai berselisih dengan hal-hal tidak penting Suho selalu memilih tidak mendengarkan.

                Ia meninggalkan meja makan lalu naik ke lantai atas menuju kamarnya.

                Mau ayahnya dulu menikahi eommanya karena urusan bisnis, dipaksa, atau apa pun itu, Suho tidak ingin mengerti. Yang ia ingin mengerti adalah, kenapa ia juga harus mendapatkan hal yang sama? Kenapa ia juga harus dipaksa menikahi seseorang yang bahkan hanya diingini harta oleh appanya? Apa dia ini hanya sebuah alat agar ayahnya tetap bermandikan uang setiap tahun?

                “Yeoboseyo?”

                “Siapkan tiket pesawat ke Jeju besok.”

                “Ne, sajangnim.”

                Suho menutup sambungan telepon lalu beralih melonggarkan dasinya yang kini terasa begitu mencekik. Dua kancing teratas kemejanya dibuka, lalu ia menghempaskan tubuhnya telentang di tempat tidur.

                Namun baru sesaat, ia kembali bangkit. Sejurus kemudian ia berjalan ke arah lemari di sudut ruang kamarnya dan mengeluarkan koper berwarna hitam.

                Ya, mungkin lebih baik Suho berada dlam jarak jauh dari ayahnya. Ia akan mengurusi proyek pembangunan resort di sana lalu langsung terbang ke Boston dan kembali dalam jangka waktu yang paling lama yang ia bisa.

                “Yeoboseyo?” Suho mengangkat telepon yan baru saja masuk.

                “…”

                “Mianhae Yoona-ya, appa menyuruhku mengurus pekerjaan di Jeju. Aku harus pergi besok dan setelahnya langsung terbang ke Boston, mianhae.”

                “…”

                “Jangan khawatir. Aku akan kembali. Secepatnya.”

                “…”

                Ya, secepatnya yang entah kapan.

                TBC

                Hola~~~ Give me a comment please, not a short comment but a long one please~~~ #plak

Advertisements

21 thoughts on “[Chapter 2] Between (Sequel of Ring)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s