[Freelance] Please Love Me Back (Sequel Sorry, Because I Love You)

Untitled-1

Title : Please Love Me Back (Sequel  Sorry, Because I Love You )

Author : Selvy

Length : Oneshot

Rating : PG 17

Genre : romance, Sad

Main Cast : Taeyeon, Kai

Other Cast : Lihat sendiri yah J

Author Note : Sesuai janji kemarin, aku bikin sequel buat ff sorry, because I love you. Semoga para reader senang dengan ceritaku yah.

 

. . . . . . . .  .

Kai POV

Kau bagaikan bulan yang tak pernah lelah menemaniku kala malam tengah datang. Bagaikan mentari yang tak pernah lesu memancarkan sinarnya untukku. Tapi, itu adalah masa lalu. Masa lalu yang mengiris hatiku bahkan hanya karena mengenangnya. Betapa bodohnya aku tak pernah memandangi bulanku yang indah dikala malam telah datang. Betapa bodohnya aku selalu memayungi diriku dari panas mentariku.

Kau tahu betapa sakitnya hatiku saat kau mengacuhkanku. ini memang sangat lucu, mengapa dunia seolah berbalik. Apakah ini karma untukku? Aku yang selalu menganggapmu tak pernah ada, kini sangat merindukan keberadaanmu. Aku yang dulu selalu menghindarimu sekarang malah seolah berlalik kau yang menghindariku.

Aku rindu saat kau mengejarku, aku rindu taeyeon yang selalu datang dikala terbit mentari, aku rindu taeyeon yang selalu menemaniku dikala mentari tengah tertidur. Hati ini sangat sekarat saat ini tersayat sayat oleh pedang yang bahkan tak bisa aku lihat. Hatiku sakit bukan karena kau mengacuhkanku. bukan karena kau menghindariku. Tapi, karena sekarang aku mengerti betapa menderitanya dirimu saat itu. Andai saja waktu dapat diputar aku mungkin orang pertama yang memutar waktu, aku ingin menata kembali serpihan- serpihan hatimu yang telah aku hancurkan.

Tapi sayang waktu tak akan pernah kembali, masa lalu adalah kenangan yang tak akan bisa terulang kembali. Aku benar- benar bodoh saat ini, selalu saja berfikiran konyol. Bagaimana mungkin aku bisa menata kembali hatimu yang retak sedangkan hatiku saja tengah sekarat karena diriku sendiri.

Senyum yang dulu selalu membuatku jijik, malah sekarang aku sangat ingin melihatnya. Senyum yang tak pernah kau pancarkan lagi. Kemana sebenarnya senyuman itu?

Mata yang selalu berbinar ketika menatapku sekarang menjadi redup. Hanya ada tatapan kosong disana, tak ada kasih sayang, tak ada kegembiraan, dan tak ada cinta. Ayo katakan apa yang harus aku lakukan agar tatapan itu kembali ke mata indahmu?

Bahkan saat ini suaramu yang dulu selalu mengganggu pendengaranku seolah lenyap bersama cintamu padaku yang kurasa juga sudah lenyap. Lenyap karena kebodohanku, lenyap karena keegoisanku, ya tuhan apa yang harus aku lakukan saat ini?

 . . . . . . . . .

 

“Taeyeon . . .” ucapku seraya bangkit dengan kasar dari tempat tidurku. Aku sangat shok, bagaimana mungkin aku bermimpi taeyeon pergi dari hidupku.

“Yaa, aku terlambat” aku bergegas mandi saat melihat jarum jam telah menunjukkan pukul 06.30 am, dan berarti tiga puluh menit lagi bel akan berbunyi. Aku berlarian di dalam kamar mencari seragam sekolahku yang ternyata berada di ruang tamu, aku benar- benar teledor bisa- bisanya seragam sekolahku berada di ruang tamu.

“Kai kau sangat buruk dalam menyimpan barang” aku segera mengambil seragamku dan langsung memakainya. Aku memakai sepatu sedangkan dasiku kupasang sambil berjalan, tentu saja karena saat ini waktuku sangat berharga.

Aku ingin membuka pintu, namun aku ragu saat memegang gagang pintu itu, “Pasti dia ada diluar sana menungguku, aku harus kabur lewat jendela” aku membuka jendela dan hendak melewatinya, namun aku menyadari sebuah kenyataan pahit, kenyataan yang tidak mau aku ungkit lagi. Namun, entah kenapa aku masih merasa kehilangan dirinya yang dulu selalu hadir disetiap pagiku.

Aku melewati jendela dengan hati- hati, dan aku rasanya tidak ingin membalikkan badanku. Sungguh saat ini aku sangat ingin ia muncul dihadapanku sambil mengucapkan ‘good morning dengan aegyo andalannya.

“Good morning” aku membalikkan badanku, dan benar saja suara itu kembali dalam hidupku. Yeoja yang kucintai kini benar- benaar ada dihadapanku. Aku terharu hingga aku memeluknya, namun mengapa tubuhnya perlahan menghilang? Mengapa aku tidak bisa menyentuhnya? Oh tuhan jangan katakana bahwa ini hanya fatamorganaku saja.

Aku menangis dan terus menangis. Aku benar- benar mati tanpanya, aku rasanya ingin mengakhiri hidupku. Andai saja tuhan saat ini mencabut nyawaku mungkin aku akan sangat berterima kasih padanya.

Perjalananku saat ini terasa sangat panjang, sunyi itulah kata yang pantas saat ini untuk keadaanku. Tak ada lagi yang memegang lenganku, tak ada lagi yang terus berbicara padaku, tak ada lagi yeoja yang terus membuatku muak dan marah, sekarang hanya ada aku, aku sendiri. tak dan menemani.

“Mana adikmu yang manis itu?” tiba- tiba seorang nenek menghampiriku, aku hanya tersenyum miris melihatnya. Nenek ini adalah orang yang pernah memarahiku habis- habisan ketika taeyeon menangis karena aku menolak saat ia meraih tanganku. “Kau sangat menyedihkan tanpanya, makanya jangan selalu menyakiti adikmu, sekarang aku yakin pasti dia menjauhimu. Kau terkena hukum karma” nenek itu meninggalkanku yang tengah terpaku.

“Ia nek aku memang terkena hukum karma” aku menghapus air mataku yang mulai terjatuh lagi. Belakangan ini sepertinya aku terlalu banyak menangis. Aku segera berlari menuju sekolah dengan air mata yang masih berjatuhan.

Lima menit lagi bel berbunyi, aku baru saja tiba didepan pintu gerbang, “Au . .  “ ringis seseorang ketika aku mabraknya.

“Mian mian” aku meminta maaf dan membantu yeoja itu membereskan bukunya. Saat bukunya hendak aku berikan, betapa terkejutnya aku saat mengetahui siapa yeoja yang aku tabrak, “Kim taeyeon”

Ia menatapku lama lalu mengambil bukunya dari tanganku. Ia berdiri hendak meninggalkanku namun aku segera meraih tangannya, “Jangan seperti ini, aku mohon”

“Apa pedulimu?” ucapnya kasar tanpa membalikkan badannya ke arah ku.

“Bahkan sekarang kau tak mau menatapku” ucap kai.

Dia hanya menghempaskan tanganku dan berlari meninggalkanku,  “Apakah sekarang aku benar- benar tidak artinya untukmu?”

Hari- hari ku aku jalani seperti biasanya tanpa taeyeon. Aku hanya mengurung diri di kelas, karena aku tak mau sakit lagi melihat yeoja yang aku cintai seolah hancur karenaku. Aku tak perna melihat lagi aura kehidupan yang ia pancarkan, persis sepertiku sekarang ini.

Sementara seohyun sekarang menjalin hubungan dengan kyuhyun. Aku baru mengetahui ternyata selama aku menjalin hubungan dengannya ia juga menjalin kasih dengan kyuhyun. Oh mengapa aku sangat bodoh untuk melihat yeoja yang benar- benar mencintaiku atau tidak.

Dan lebih parahnya lagi, ternyata dia hanya mendekatiku untuk menghancurkan taeyeon. Karena memang taeyeon dan dia selalu bersaing di segala bidang, seperti akademik maupun nonakademik. Dan dulu taeyeon selalu unggul darinya maka dari itu itu ia memanfaatkanku untuk menghancurkan taeyeon, oh sungguh wajah polosnya itu sangat menipu.Mengapa aku harus mengetahui ini semua sangat terlambat ?

 

. . . . . . . . . .

Hari ini benar- benar menyesakkan untukku. Kemana sebenarnya taeyeon? Aku sudah mencarinya kemana- mana namun tetap saja aku tak menemunkan yeoja itu. Entah mengapa beberapa hari terakhir aku tidak melihatnya, sungguh aku sangat tersiksa.

Walaupun dia selalu bersifat dingin padaku, tapi tetap saja cintaku tidak berkurang sedikitpun padanya. Aku puas walau hanya memandangnya dari jauh. Namun mengapa sekarang ia menghilang? Aku terus berfikir sampai otakku menemukan sebuah jawaban, jawaban yang sangat menyakitkan untukku, kata- kata terakhirnya kini menggema ditelingaku. Aku tersungkur dan mulai menangis lagi dan lagi,

“Aku tidak mau berurusan denganmu lagi, aku sudah cukup lelah selama dua tahun. Aku akan pindah dari seoul. Jadi jangan pernah menggangguku lagi, anggap saja aku tidak pernah hadir dalam hidupmu”

Aku sekarang tidak peduli tentang semuanya, bagiku hidupku adalah taeyeon, dan matiku juga karena taeyeon. Aku tidak peduli tentang sekolah, aku tidak peduli emageku yang hancur karena sering menangis, aku tidak peduli jika sekarang semua siswa menatapku dengan tatapan aneh. Yang aku peduli sekarang hanya taeyoen, hanya taeyeon.

Aku berlari meninggalkan sekolah, aku sekarang juga tidak peduli walaupun aku akan di skorsing. Aku berlari dan terus berlari ke arah rumah taeyeon. Walaupun kini bajuku sudah sangat kotor karena selalu tersungkur ke tanah, walaupun cacian memenuhi telingaku karena terus menabrak orang- orang, namun sekarang hanya ada taeyeon di otakku.

Langit sekarang menangis melihat keadaanku yang sangat menyedihkan saat ini. Aku menghambuskan nafas lega karena telah sampai di depan rumah taeyeon, di tempat inilah taeyeon memutuskan untuk meninggalkanku, dan aku sangat berharap ditempat ini juga taeyeon akan menerimaku untuk kembali.

Aku mengetuk pintu pelan dengan hati yang was- was, aku sangat kaget ketika aku melihat orang yang yang membukakan pintu untukku bukanlah taeyeon, “Ahjumma, bolehkah aku bertemu dengan taeyeon?” oemma taeyeon hanya menatapku dari atas sampai bawah dengan tatapan sendu.

“Tunggu sebentar” Ia masuk kedalam rumahnya lalu kembali membawa sebuah buku, yang sepertinya buku diary. “Ahjumma sudah tahu segalanya kai, ini adalah buku diary taeyeon bacalah agar kau mengetahui seluruh isi hati taeyeon.

Aku mengambil buku diary itu pelan, namun belum saja kau sempat bertanya banyak kepada oemma taeyeon pintu rumahnya ternyata sudah tertutup.

Aku membuka buku itu pelan, dan aku melihat sebuah foto yang membuatku tarsenyum kembali, foto itu adalah fotoku dan taeyeon, terlihat sekali wajahku sangat jelek difoto itu, karena memang pada waktu itu taeyeon yang sangat antusias memaksaku untuk berfoto.

Aku perlahan membuka diary itu,

“Dear diary . . .

Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan untukku, kau tahu kenapa? Karena hari ini adalah pertama kalinya aku masuk sekolah untuk tingkat SMA. Dan kau tahu aku bertemu dengan seorang namja yang membuat hatiku berdebar pada pertemuan pertama. Oh siapakah nama namja itu?”

Aku tersenyum memabaca halaman ini, aku yakin pasti namja itu adalah aku. Ya tuhan kai kau sangat kegeeran. Aku mulai membuka halaman selanjutnya.

“Dear diary . . .

Oh tuhan, namanya kai. Kau tahu aku benar- benar tidak punya harga diri saat ini, bagaimana bisa aku yang mengajaknya berkanalan? Tapi tidak apalah yang penting aku sangat bahagia. Walaupun dia sedikit mengacuhkanku, tapi aku yakin suatu hari nanti ia akan mencintaiku”

Kau sangat percaya diri taeyeon, tapi tidak apa- apa karena sekarang dugaanmu itu benar benar terjadi. Karena aku mencintaimu kim taeyeon.

“Dear diary . . .

Aku melihatnya bersama seorang wanita bernama seohyun. Aku melihat ada cinta dimatanya, aku benar- benar sakit saat ini. Rasanya aku ingin sekali menyatakan perasaanku padanya”

Hatiku terasa teriris saat ini, memang dari awal aku memang mengejar seohyun, tapi aku tidak pernah tahu kalau dia terus memperhatikanku.

“Dear diary . . .

Hari ini aku mengikutinya sampai kerumahnya, sepertinya mulai besok aku akan terus menjemputnya. I coming baby”

Pantas saja dia tahu rumahku, karena dia mengikutiku ternyata.

“Dear diary . . .

Hari ini ada konser Super junior idolaku, aku ingin pergi nonton bersama tiffany sehabis pulang sekolah. namun aku khawatir kalau kai belum makan, jadi aku memasak saja untuknya sebelum berangkat”

“Dear diary . . .

Hmm, aku tidak jadi nonton konser karena terlambat. Tapi aku tidak menyesal karena ini demi kai. Yah, walaupun dia menolak masakan yang aku bawakan aku tetap senang”

Ya tuhan betapa jahatnya aku saat itu, aku telah menolak masakannya mentah- mentah. Padahal dia telah berkorban untuk membuatnya.

Aku terus membaca sampai halaman diary taeyeon hampir habis, aku sekarang mengetahui betapa besar pengorbanannya untuk. Setiap hari ia menjemputku, padahal rumah kita berada agak jauh, setiap hari ia membawakan makanan untukku hingga waktunya terbuang sia- sia. Bagaimana ia dibuly oleh teman- temannya karena terus mengejarku, aku masih sanggup menahan air mataku hingga tiba disebuah halaman yang sangat menyakiti hatiku.

“Dear diary . . .

Hari ini aku benar- benar sakit, aku tidak sengaja melihat kai mencium seohyun. Ya tuhan kuatkanlah aku untuk menghadapi ini semua”

Aku benar- benar menangis saat ini, ternyata ia melihat kejadian itu. Namun aku lebih prustasi lagi ketika melihat halaman selanjutnya.

“Dear diary . . .

Oh tuhan kenapa ini harus terjadi padaku? Mengapa penyakit ini harus menyerangku? Hari ini aku pergi memerikasakan diri ke dokter, karena aku sering pusing dan lupa akan sesuatu, ternyata benar aku terserang penyakit Alzheimer, penyakit ini menyerang fungsi otakku, sehingga perlahan aku akan melupakan segalanya. Ya tuhan, aku tidak ingin melupakan orang tuaku, aku tidak ingin melupakan kai aku masih ingin bersama mereka”

Taeyeon kenapa kau tidak pernah menceritakan ini padaku, mengapa kau harus menanggung beban ini sendirian? Aku jatuh tersungkur di lantai rumah taeyeon. Rasanya aku sudah tidak sanggup lagi menopang badanku saat ini. Perlahan aku mulai membuka halaman selanjutnya.

“Dear diary . . .

Hari ini aku membuatkan makanan seperti biasanya untuk kai, tapi entah kenapa aku tiba- tiba lupa bumbu apa saja yang harus aku campurkan. Ya tuhan apakah penyakit itu benar- benar menyerang fungsi otakku?”

“Dear diary . . .

Hari ini aku benar- benar sedih saat kai menjatuhkan makananku. Dia bilang aku sumber masalahnya, ya tuhan apa yang harus aku lakukan? Padahal aku ingin berbagi tentang penyakitku padanya. Tapi sepertinya dia benar- benar membenciku?”

Taeyeon membuat makanan itu sambil melawan penyakitnya, tapi aku dengan teganya malah menghempaskan makanan itu. Mencacinya, aku benar- benar orang yang jahat. Taeyeon bukan kau yang harusnya dibenci tapi aku.

“Dear diary . . . 

Hari ini kai menyatakan cintanya padaku. Tapi aku malah menolaknya mentah- mentah, aku bahkan membentaknya. Aku benar- benar jahat, tapi aku tidak mau membawa masalah lagi dalam hidupnya, apalagi kalau dia mengetahui tentang penyakitku. Maafkan aku kai”

Entah apa yang harus aku lakukan saat ini, apakah aku harus senang atau tidak dengan pernyataan taeyeon. Taeyeon berarti masih mencintaiku, ia tidak membenciku. Oh aku sengguh lega, namun itu tidak berlangsung lama ketika aku membuka halaman terakhir dari buku diary itu.

“Dear diary . . .

Hari ini aku bertabrakan dengan kai, dan lagi- lagi aku membentaknya. Kau tahu aku tidak mau menatapnya bukan karena membencinya, tapi karena aku tidak mau ia melihat air mataku. Yah, hari itu aku menangis, menangis karena tidak sanggup melihatnya untuk yang terkhir kalinya. Penyakitku sudah semakin parah, bahkan terkadang aku lupa jalan pulang ke rumahku sendiri. hari ini aku akan berangkat ke seoul untuk berobat, walaupun penyakitku ini tidak ada obatnya. Tapi, aku akan berjuang, aku akan berjuang demimu kai. Aku akan selalu mencintaimu, aku akan kembali suatu saat nanti”

“Taeyeon saranghae, saranghae” aku terus menangis memeluk buku harian itu, sampai akhirnya sebuah kertas kecil terjatuh dari dalam diary itu. Kertas yang aku yakin oemma taeyeon yang menaruhnya, “Alamat rumah sakit di seoul?” aku tersenyum “taeyeon aku akan menyusulmu”

Aku berlari pulang sambil terus memegang buku diary itu, aku tidak peduli walaupun saat ini tengah hujan deras, aku tidak peduli walaupun saat ini aku tengah basah kuyup, yang aku tahu saat ini aku harus menyusul taeyeon.

 

. . . . . . . .  .

Aku sekarang berada di taman rumah sakit di seoul. Yah aku pergi menyusul taeyeon, dan sekarang aku telah tiba dengan selamat. Aku berada di taman karena tadi aku menanyakan kepada suster tentang beberadaan taeyeon, karena memang tadi aku ke ruang dimana taeyeon dirawat dan ternyata taeyeon sekarang berada di taman.

Aku mencari sosok wanita yang selama ini aku rindukan, hatiku tersayat- sayat saat melihatnya tengah duduk di kursi roda, aku perlahan mendekatinya seraya menghapus air mataku yang lagi dan lagi terjatuh dari mataku.

Aku melihat ia tersenyum memandang kupu- kupu yang beterbangan di hadapannya, senyum yang sangat aku rindukan kini dapat kulihat kembali. Aku benar- benar sangat bahagia, sangat bahagia.

Aku memeluknya erat, sangat erat, “Kim taeyeon maafkan aku, maafkan kau” dia hanya terdiam, tidak meolak dan tidak membalas pelukanku.

“Kau siapa?” Kata- katanya membuatku tersentak. Aku melepas pelukanku, dan mulai menatapnya dalam. Apakah penyakit brengsek itu telah merebut kenangan indah yang telah kami ukir bersama?

“Taeyeon sekarang waktunya minum obat” suara suster tiba- tiba datang bersama dengan seorang namja yang berpakaian dokter.

“Baik suster” taeyeon menatapku lagi lalu membalikkan kursi rodanya. Aku berdiri ingin menahannya, namun dokter itu menahanku.

“Bisa bicara sebentar?”

Aku memandangi taeyeon yang mulai pergi bersama dengan suster tadi. Aku menatap dokter yang sepertinya seumuran denganku, sepertinya dia jenius, karena bagaimana mungkin namja yang mungkin umurnya tidak jauh beda denganku bisa menjadi seorang dokter? Aku mengangguk pelan sebagai jawaban.

Kami duduk di kursi taman, “Namaku DO kyungsoo, kau bisa memanggilku D.O” ucap dokter atau yang katanya bernama D.O  itu memecah kesunyian.

“Aku kai, sebenarnya apa yang ingin kau katakan?” tanyaku to the point, aku mulai kesal padanya, harusnya waktuku saat ini bisa kumanfaatkan bersama taeyeon. Tapi, dia malah menghancurkan segalanya.

“Bahagiakan dia di akhir hidupnya”

“Apa maksudmu” tanyaku mulai geram akan pernyataannya.

“Hidup taeyeon tinggal sebentar lagi kai. Mungkin tinggal menghitung hari atau bahkan jam” aku mencengkram kerah bajunya.

“Jaga ucapanmu”

Dia melepas tanganku pelan, “Penyakitnya benar- benar sudah parah, bahkan bukan hanya menyerang fungsi otaknya, tetapi juga menyerang syaraf- syaraf lainnya. Jadi aku mohon tolong bahagiakan dia di sisa akhir hidupnya. Aku tahu kau adalah orang yang sangat ia cintai. Jadi aku berharap banyak padamu” ia memegang pundakku lalu perlahan meninggalkanku.

Jujur saat ini aku ingin mati saja, aku tidak bisa hidup tanpa taeyeon.

. . . . . . .

Aku terus menatap warna bunga impianku yang tengah bermain di alam mimpi indahnya. Yah saat ini aku berada di kamar rawat taeyeon, ia kini tertidur dengan damai. Aku memegang erat tangannya, rasanya aku ingin waktu berhenti saat ini. Aku tidak ingin ada yang memisahkan kami.

Ia perlahan membuka matanya, “Kau siapa?” pertanyaan itu lagi, sungguh saat ini pertanyaan itu benar- benar menggangguku.

Aku berusaha tersenyum menghadapnya, “Aku namjachingumu, mengapa kau bisa melupakanku?” ucapku berbohong.

Dia perlahan tersenyum tipis, ia ingin bangkit dari tempat tidurnya, namun aku menahannya.” Kau sakit jadi jangan banyak bergerak”  ia memelukku.

“Kalau kau namja chinguku, bawa aku pergi dari sini. Aku ingin bebas” aku melepas pelukannya pelan.

“Tidak bisa taeyeon, kau harus beristirahat yang cukup disini” ia mendorongku setelah mendengar penjelasanku.

“Pergi kau bukan namjachinguku”

“Taeyeon jangan se . . “

“AAAA . . “ Ia mengerang kesakitan memagang kepalanya. Aku panik saat ini, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.

“Dokter . . .  suster . . . “ dokter dan suster datang memeriksa taeyeon. Sedangkan aku menunggu diluar. Aku benar- benar khawatir saat ini.

Aku menunggu suster dan dokter keluar dari kamar taeyeon, rasanya sangat lama. Hingga seorang namja menghampiriku.

“Apa yang terjadi?” namja itu bertanya padaku. Yah, dia adalah appanya taeyeon.

Aku hanya terdiam menatapnya sendu. Rasanya satu katapun saat ini tak bisa aku keluarkan. Namun ada yang menarik perhatianku, ketika pintu kamar taeyeon terbuka.

“Bagaimana keadaannya dok?” Tanya appa taeyeon sambil beralih dariku. Aku juga ikut berdiri ingin mendengar jawaban dari dokter.

“Apa yang ia katakan padamu?” Tanya D.O kepadaku tanpa mempedulikan pertanyaan appa taeyeon.

Aku agak ragu menjawabnya, namun dokter, suster maupun appa taeyeon kini menatapku menunggu jawaban yang akan ku berikan, “Ia ingin aku membawanya pergi” jawabku sedikit ragu.

Mata appa taeyeon membulat sempurna mendengar jawabanku, “Bawalah dia” jawaban dari dokter sukses membuat semua orang tercengan termasuk aku.

“Apa maksud dokter?” Appa taeyeon sepertinya mulai geram mendengar jawaban dari dokter, yang menurutku tidak masuk akal.

“Taeyeon sudah cukup menderita, apapun yang kita lakukan tak ada gunanya sekarang. Penyakitnya telah menyerang seluruh syarapnya, jadi biarkanlah dia merasakan kebahagian di akhir hidupnya”

Appa taeyeon terdiam begitu juga denganku. Aku mulai sibuk dengan fikiranku. Bagaimana mungkin aku akan membawanya? Dan kemana aku harus membawanya? Namun appa taeyeon tiba- tiba membuatku tersentak, saat ia menyerahkan kunci dan sebuah kartu kredit kepadaku, “Bawalah taeyeon ke villaku dan ini kunci mobil dan villa itu, kalau kau ada kebutuhan berbelanjalah dengan menggunakan ini . dan ini alamat villanya” ia kemudian memberiku lagi sebuah kertas putih.

Aku mengambil perlahan fasilitas yang telah diberikan kepadaku. “Jangan membuang- buang waktu, bawalah dia sekarang”

Aku hanya mengangguk mendengar pernyataan dokter, aku memasuki kamar taeyeon dan melihat ia tertidur dengan damai di kasurnya. Aku menghapiri dan mengusap kepalanya. Apanya juga mengecup puncak kepala taeyeon dan berkata, “Berbahagialah sayang” Ia meneteskan air mata.

Appa taeyeon mengangguk sebagai pertanda inilah saatnya aku membawa anaknya. Aku mengangkat taeyeon ke gendonganku, lalu mengikuti appa taeyeon menunjukkan mobilnya.

“Tolong bahagiakan dia” kata appa taeyeon sebelum aku berangkat.

“Pasti”

. . . . . . . .

Aku sekarang berada di villa keluarga taeyeon. Disini sangat damai, villa dengan dinding kaca yang berada di atas bukit. Dibelakang villa adalah pantai yang sangat indah. Sekarang taeyeon sedang tidur di dalam pelukanku. Sejak kami sampai ia bahkan belum membuka matanya.

Aku sangat senang saat ini, masa- masa bersamanya adalah masa terindah dalam hidupku. Aku merasakan ia mulai menggerakkan badannya dan itu berarti ia mulai terbangun dari tidurnya. Aku memerhatikan setiap inci dari ekspresinya, hingga ia membuka matanya. Tatapan kami bertemu, kami saling menatap dalam, baik dia maupun aku tak ada yang berbicara.

“Kai” aku tersentak saat dia menyebut namaku.

“Bagaimana mungkin kau bisa mengingatku?” aku bertanya dengan penasaran.

Ia mendengus kesal, “Apa kau kira aku pikun tidak mengenalmu?”

Aku memeluknya penuh haru, “Tolong jangan bersikap dingin lagi padaku. Aku sudah tahu akan penyakitu, dan kau juga tidak akan pernah membawa masalah dalam hidupku, maafkan semua sikap- sikapku yang menyakitimu” ia perlahan membalas pelukanku.

“Oemma pasti memberikan buku harianku padamu” pernyataannya tentu saja membuat mataku terbelalak lebar. Aku perlahan merenggangkan pelukan kami dan menatapnya heran.

“Bagaimana kau bisa mengetahuinya?”

“Tentu saja aku tahu, karena aku tidak sengaja meninggalkan diaryku dirumah. Aku sadar dibalik semua kejadian ini, sepertinya takdir mengisyaratkan kita untuk terus bersama.” Ia memelukku lagi dan aku membalasnya.

Suasana yang tercipta sangat romantic, sampai akhirnya suara perutku merusak suasana romantic ini, “Kau lapar yah?” Ia terkekeh pelan, aku sangat malu saat ini. Ia perlahan bangkit dari pelukanku.

“Auu “ namun ia kembali duduk sambil memegang kepalanya. Aku sangat khawatir dan kembali mendekapnya.

“Kau kenapa? Sudahlah biar aku saja yang menyiapkan makanan.” Aku mengecup puncak kepalanya dan perlahan berdiri meninggalkannya. Namun tangan mungilnya menahanku.

“Aku ingin makan daging”

“Nanti aku buatkan”

“Aku ingin memanggang berdua denganmu”

“Kau sedang sakit biar aku saja yang membuatnya”

Ia mendengus kesal, “Kalau bukan aku yang membuatnya aku tidak mau makan”

Aku mengalah karena dia sangat keras kepala, “Baiklah, sekarang naik ke punggungku” aku berjongkok dihadapannya.

“Aku ingin kita memanggangnya di luar”

“KIM TAEYEON apakah kau belum mengerti juga kalau kau sedang sakit?” dia menarik selimutnya dan menangis, jujur aku tidak sengaja membentaknya.

“Maafkan aku sayang, tapi kau sedang sakit” aku mendekat dan mengelus kepalanya.

“Tapi aku ingin makan diluar untuk yang terakhir kalinya” aku perlahan mengalah karena mengingat kalau aku harus membahagiakan taeyeon.

“Baiklah”

Ia keluar dari selimutnya, dan memelukku senang, “Kau sangat baik”

. . . . . . . .

Kami telah selesai memanggang dan memakan daging, “Taeyeon ayo kita tidur” aku menggendongnya.

“Kai aku tidak mau tidur”

“Kenapa?” Tanyaku heran.

Ia memelukku, “Aku takut aku akan melupakan kenangan ini, aku takut aku akan melupankanmu”

Aku tersentak mendengar jawabannya, jujur aku juga takut akan hal itu. “Baiklah kita tidur sebentar lagi”

Aku membawa taeyeon ke bukit belakang rumahnya, kami duduk berdua. Aku melihatnya kedinginan sehingga aku membuka jaketku dan memakaikannya untuknya. Ia tersenyum menatapku dan memelukku.

“Saranghae” ia mengucapkan kalimat yang sangat indah ditelingaku, aku perlahan merenggangkan pelukanku  dan mengecup bibirnya.

“Saranghae” jawabku dan kemudian memeluknya kembali.

Tak ada suara lagi dari kami berdua, hanya ada suara angin dan ombak. Disini sangat dingin tapi kami saling menghangatkan.

Matahari pagi tengah masuk kedalam ruang mataku, aku membuka mataku dan tersenyum melihat taeyeon yang masih tertidur di dalam dekapanku. Tak kusangka kami ketiduran diluar seperti ini.

“Taeng bangun “Aku mengelus singkat wajahnya, namun tak ada jawaban.

Aku berharap ia tak mendengarnya, ia dia pasti tidak mendengarnya, “Taeng” Lagi dan lagi tidak ada jawaban. Aku merasakan urat nadi dan jantungnya denan air mata yang sudah membanjiri wajahku, “Taeng bangun sayang, bangun “Aku mengguncang tubuhnya setelah tak kurasakan denyut jantungnya.

Aku memeluknya sangat erak, “TAENG JANGAN TINGGALKAN AKU . . . “

 . . . . . . .  .

Malam telah datang namun kau masih belum mau meninggalkan rumah baru dari kekasihku. “Taeng aku tahu disini sangat tidak nyaman, aku tak akan membuatmu kesepian” aku terus berbicara pada batu nisan didepanku.

Aku benar- benar tidak menyangka taeyeon akan meninggalkanku secepat ini, “Pulanglah jangan terus seperti ini” sebuah suara tiba- tiba memasuki ruang pendengaranku. Suara yang aku kenali, suara seoarang Do kyungsoo dokter yang merawat taeyeon.

“Kau tidak merasakan apa yang aku rasakan jadi kau berbicara seperti itu” ucapku tanpa menatapnya.

“Aku tahu karena aku menyukainya” aku beralih menghadapnya, dan ia tersenyum manis padaku.

“Jangan berfikiran yang tidak- tidak, dan ini surat yang pertama kali taeyeon titipkan kepadaku saat ia tiba dirumah sakit. Sepertinya dia tahu kalau kau akan datang” ucapnya menodorkan sebuath amplop dan dengan senang hati aku mengambilnya.

Ia pergi meninggalkanku dan aku mulai membuka surat itu.

“ Dear Kai

Aku tahu pasti kau akan datang. Aku tidak sengaja meninggalkan buku diaryku di rumah dan pasti oemma akan memberikannya kepadamu. Kau tahu aku sangat takut jika kau datang dan aku tidak bisa mengenalimu lagi.

aku sengaja membuat surat ini sebelum aku melupakan segalanya. Mungkin kalau kau sudah membaca surat ini aku sudah tidak berada di dunia yang indah ini lagi.

Aku tidak ingin berkata banyak karena pasti kau sudah membaca semuanya dari diaryku, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku sangat sakit melihatmu hancur saat aku mengacuhkanmu.

Jadi, aku mohon jika aku sudah tidak ada tetap lanjutkan hidupmu, gapai cita- citamu dan buka hatimu untuk wanita lain.

Aku akan tetap mencintaimu kai, hidup ataupun mati.

Love

Taeyeon”

Aku menghapus air mataku, lalu kau memegang batu nisan taeyeon, “Aku akan bangkit taeyeon, aku berjanji. Ini semua demi kau. Tapi maaf aku tidak akan pernah membuka hatika untuk wanita lain selain kau “

 

End

Yah sad ending lagi sad ending lagi. Sebenarnya aku mau buat happy ending, tapi entak kenapa jadinya malah sad ending, hehehe . . .

And aku sengaja buat sequel sorry, because I love you karena tanggapan dari para reader bagus- bagus. Aku harap semua senang yang dengan karya- karyaku J .

See you . . . .

61 thoughts on “[Freelance] Please Love Me Back (Sequel Sorry, Because I Love You)

  1. Iiih kai cengeng bnget sih hisk…hisk…hisk T.T
    #lapingus#
    Hufffttt….. Mewek lagi guaT_T saeng.
    kai bohong tuh kaga mau buka hati utk wnita lain.GO TO HELL kai. Lu kan udh nikah sma gua kemarinT.T
    #dilemparingranat#

    Ditunggu EXOTAENG yg baru saeng^_^
    Hwaitaeng

  2. Iiih kai cengeng bnget sih hisk…hisk…hisk T.T
    #lapingus#
    Hufffttt….. Mewek lagi guaT_T saeng.
    Cie Kaisoo shipper nih author?hehehehe
    gua kira dede D.O itu koki ternyata udh beralih jd Dokter.hahahaha
    kai bohong tuh kaga mau buka hati utk wnita lain.GO TO HELL kai. Lu kan udh nikah sma gua kemarinT.T
    #dilemparingranat#

    Okai Ditunggu EXOTAENG yg baru saeng^_^
    Hwaitaeng

    • Ia kai cengeng banget nih gak cocok sama emagenya #dikejarkai
      Hehehe, kok tahu kalau aku kaisoo shipper? cucunya eyang subur yah ? #ditelanaryawiguna #diselamatinadi #abaikan
      Iya aku juga bingung kok D.O beralih profesi yah? #plak
      Maaf chingu kai itu hatinya cuma buat aku #dilemparrumah (?)

      hehe, ff yang lain nyusul yah🙂 . . . . . .
      Hwaitaeng . . ..

    • Mian chingu, aku juga agak gak puas sih karena sad ending lagi . . . .
      Tapi ide itu tiba- tiba muncul, jadi terpaksa deh endingnya jadi sad🙂 . . ..
      tapi sebenarnya aku pecinta happy ending kok . . . ..

  3. Kenapa sad ending thor…….. Aturan author nambahin cast pesulap biar nyulap taeyeon jadi sembuh /apa, tuh kan kai nyesel kan lo taeyeon ditolak adoooh, udah jelas taeyeon itu ngangenin/? Wkwk bagus thor hiiks meresap thor/??? Ditunggu karya lain yaah

    • Ide bagus tuh chingu kita nambain cast pesulap yang bisa bikin taeyeon hidup #lirikpaktarno
      Ia sih memang taeyeon ngangennin, hehehe . . . .
      Makasih yah and karya yang lain ditunggu aja🙂 . . . .

  4. keren banget thor!
    aku nangis sendiri di kamar thor TT__TT
    dan sebenernya aku baru baca sequelnya *waks…
    sumpah ga sabar banget pingin baca cerita awalnya, kai itu kaya gimana..
    tapi tinggalin jejak dulu..
    ok, fighting buat ff selanjutnya yaa,,, ditunggu hasil karya author yang lain;)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s