[Freelance] Just Wait! (Sequel of ‘Because of You) (Chapter 2)

just-wait

Author : Kim Hee Rin a.k.a KaiKat

Genre : Romance, Friendship, Sad

Rating : PG-13+

Cast :

–      Im Yoon Ah a.k.a Yoona

–      Oh Sehun a.k.a Sehun

–      Find ‘em by urself ^^

Disclaimer : The plot & story is MINE, but Inspired by some novels, comics, dramas of korea. (Special thanks for ‘yeoshin1002@ highschoolgraphics.wp.com’ who have made the poster for me🙂 )

FF INI JUGA DIPOST DI >>AKATHERINE234.WP.COM<< — DENGAN CAST YANG BERBEDA

—PREVIEW LAST TAKE—

Hari yang telah ditentukan-pun akhirnya tiba. Tiba saatnya, pertemuan yang sangat menegangkan bagi Yoona. Sebuah pertemuan yang melibatkan dua orang manusia yang selama ini berhubungan melalui sosial media, dan kini harus dipertemukan dalam sebuah urusan pekerjaan. Tak butuh waktu sebentar bagi Yoona, untuk mendapat kepastian—siapa sebenarnya sahabat penanya tersebut. Entah berapa lama menunggu_sekiranya mampu membuat kebosanan meliputi Yuri—sahabat Yoona— yang turut menemaninya dalam pertemuan kali ini, akhirnya orang yang dinantikan kehadirannya pun datang. Sesuatu yang terbilang sangat tidak baik bagi Yoona terjadi saat itu, yakni mendapati dua sosok manusia yang tak pernah dibayangkannya kembali bertatap langsung dengannya. Namun, kini kedua orang tersebut telah hadir di depan Yoona pada detik itu juga.

*Author POV

“Annyeong-“

Glek~

Susah payah kedua insan ini-Yoona dan Yuri-menelan saliva milik mereka masing-masing, tepat setelah mereka melihat penampakkan yang berada tepat di depan kedua mata kepala mereka sendiri.

“K-kau-”

“Yoona? Bagaimana bisa… K-kau ‘Oh SeNa’?” tanya seorang yeoja, salah satu dari dua manusia yang baru saja datang bagaikan petir yang menyambar hati Yoona dan tak ketinggalan Yuripun ikut merasakan sambaran kilatnya.

“Dan kau? ‘Keroro’? Emm.. Maksudku ‘Xi Joo Hyun’?” bukannya menjawab, yang ditanya malah kembali bertanya dengan skeptis.

“Yup. Tak salah lagi.” Jawabnya yakin, namun berhasil membuat Yoona kembali tertegun akan pernyataan yang didapatnya.

Sedangkan seorang yang lain diantara kedua manusia yang baru datang tadi, masih saja mematung. Tak berkutik sedikitpun, sebelum akhirnya manusia yang berada di sebelahnya menyikut lengannya pelan.

“Ah..emm..” melihat tingkah sang namja disisinya yang gelagapan, sang yeoja tadi justru menampakkan raut kesal di wajahnya.

“Yoona, apa kabar?” pertanyaan gamblang, terlontar begitu saja dari mulut namja itu_pertanyaan yang sama sekali tak ingin didengar dari mulut namja yang sempat mengisi kekosongan dalam hati Yoona, kemudian pergi begitu saja dan sekarang kembali bertemu dengannya namun dengan status yang-jauh-berbeda.

Benar-benar tak ada yang menduga pertemuan tiba-tiba, namun telah direncanakan ini terjadi. Pertemuan yang telah direncanakan oleh ‘Oh SeNa’ dan ‘Keroro’_bukan oleh Yoona dan Seohyun.

“Aku? Baik, sangat baik.” Jawab Yoona, sambil berusaha mengatur nada berbicaranya agar tak terlihat canggung didepan kedua manusia ini.

“Ehmm.” Yuri berdeham cukup keras, cukup untuk mengalihkan pandangan seorang Xi Luhan yang sedari tadi menatap lurus ke arah seorang Im Yoon Ah.

“Jadi, kalian lah klien kami yang sebenarnya?” tanya Yuri, mencoba mengalihkan pembicaraan, sebelum pembicaraan menjurus ke arah yang tak diinginkannya.

“A-annyeong, Yuri-ah.” Sapa Luhan yang sepertinya baru tersadar akan kehadiran Yuri di antara mereka bertiga_Luhan, Seohyun dan Yoona.

“Annyeong Luhan-ssi.” Sahut Yuri, lalu melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Luhan_ membungkukkan tubuhnya.

“Jadi?” tanya Yuri kembali, berusaha memastikan kebenaran fenomena yang baru saja terjadi di hadapannya.

“Ne, benar sekali.” Kini yang meladeni pertanyaan Yuri bukanlah sang namja langsung, melainkan sang yeoja yang sekarang semakin mengeratkan genggaman tangannya pada sang namjachingu lalu bergelayut manja di lengan sang namja.

By the way, kemarin kau bilang padaku bahwa kau baru saja pindah ke Seoul? Maksudmu?” Yoona menanyakan hal yang sedari tadi mengganjal di dalam hatinya. Ganjalan itu akan segera hilang, jika saja seseorang yang menimbulkan tanda tanya dalam hatinya langsung menjawabnya. Namun, yang ditanya malah saling menatap satu sama lain.

“Hmm. Ya, itu memang benar adanya. Sekitar 1,5 tahun yang lalu kami memang pindah ke Busan. Akan tetapi, setelah Luhan melamarku dan memutuskan ingin segera menuju ke pelaminan, kami memutuskan untuk kembali ke Seoul. Berhubung kedua orangtua kami menetap di sini, mau tak mau kami juga akan melaksanakan pernikahan kami di tempat ini. Ditambah lagi, aku telah menemukan ‘WO’ yang cocok untuk membantuku, dalam urusan persiapan pernikahanku kelak.” Jelas Seohyun panjang lebar, diakhiri dengan senyuman manis yang terukir di bibirnya, yang dipersembahkannya hanya untuk Luhan seorang. Namun, yang diberikan senyuman itu hanya membalas dengan senyuman sekilas_apa-adanya.

Miris, sang yeoja sangat membangga-banggakan pernikahan yang sangat didambanya. Namun, sang namja?

Keheningan kembali menyelimuti kedua kubu pertahanan ini. Keduanya sama-sama mempertahankan perasaan masing-masing, yang kiranya sudah siap meledak-ledak karena sudah tak sanggup menanggung semua pertanyaan dan pernyataan yang akan menghujani mereka satu sama lain.

“Jadi, kapan kita bisa membicarakannya lebih lanjut?” suara Seohyun yang melengking seperti ringkik kuda lepas kendali itu, sukses membangunkan mereka semua dari pergulatan mereka masing-masing dengan berbagai persepsi mereka setelah pertemuan yang tak terduga ini.

“Secepatnya. Ya, secepatnya.” Jawab Yoona cepat, yang reflek menyebabkan otot lengan Yuri bekerja dengan sendirinya. Menyentuh lengan sahabatnya dengan cukup keras, yang membuatnya meringis kesakitan.

“Ada apa denganmu?” bisik Yoona tepat di telinga Yuri.

“Kurasa ada beberapa hal yang harus kubicarakan terlebih dahulu dengan Yoona sebentar.” Ucap Yuri kepada sepasang kekasih dihadapannya cepat, sambil tersenyum tawar, lalu menarik tangan sang kawan menuju sisi yang berlawanan dengan tempat dimana tadi mereka berdiri.

“Kau gila?? Apa kau masih yakin ingin melakukan hal ini?? Apa kau lupa, orang yang akan menjadi klien kita adalah-“

“Yuri-ah! Aku sama sekali tak gila. Aku juga sama sekali tak lupa, mana mungkin aku lupa akan hal itu. Akan tetapi kali ini apa kau lupa, Seohyun telah mendaftarkan dirinya secara online dengan perusahaan kita dan itu sama sekali tak bisa dibatalkan_jika kau tidak ingin terkena denda yang cukup besar dari perusahaan kita.” Jelas Yoona se-detail-detail-nya.

“Akh.. Bagaimana bisa aku melupakan hal itu.” ucap Yuri frustasi.

“Ini semua salahku, dengan mudahnya aku percaya dan dengan mudahnya pula aku menerima pekerjaan yang belum pasti akan kulakukan untuk siapa.” Kata Yoona putus asa.

Siapa yang ingin melakukan pekerjaan seperti ini untuk seorang ‘mantan kekasih’? Sepertinya tak akan ada yang rela dengan hal ini. Sekalipun perasaan ‘spesial’ untuk seseorang tersebut sudah benar-benar sirna, pekerjaan ini bukanlah hal yang mudah dilakukan bagi seseorang yang berpisah dengan kekasihnya melalui cara yang sangat menyakitkan.

“Mungkin aku bisa menggunakan biaya pertunanganku dengan Kai untuk membayar denda yang akan diajukan pihak perusahaan nanti.” Tawar Yuri bersemangat. Namun tidak dengan Yoona, ia menganggap penawaran yang dikemukakan sang sahabat sama sekali konyol_tak masuk akal.

“Kau-gi-la!” pernyataan Yoona menjadi akhir dari percakapan diam-diam mereka, lalu segera saja Yoona melangkahkan kakinya meninggalkan temannya, yang entah dimasuki oleh makhluk apa—yang sukses membuatnya terlihat seperti orang idiot. Berpikir dan mengajukan penawaran-penawaran yang sangat tak logis.

“Luhan-ssi-Seohyun-ssi, bagaimana jika lusa saja. Maaf sekali, sepertinya ada beberapa hal yang harus aku dan Yuri urus sebelum melayani kalian.” Kata Yoona formal, tepat seperti seorang pekerja yang berbicara dengan kliennya. Berbicara seakan-akan dengan seseorang yang baru saja dikenalnya.

“Hmm.. Jika lebih baik begitu, lakukanlah seperti apa yang kau bisa dan jangan lupa, persiapkan mentalmu juga, ne?” ucap Seohyun, yang membuat Yoona sedikit kesal akan penekanan yang dilakukannya di akhir perkataannya.

Segala bayang-bayang akan sahabat pena-nya itu hilang seketika. Kebaikan dan ketulusan yang sering ditemuinya ketika sedang ber-chatting-an dengan ’Keroro’ sama sekali tak ditemukannya dalam diri seorang Seohyun.

“Baiklah, sekarang kami permisi.” Kata Yoona mengakhiri pertemuan mereka, kemudian segera masuk menuju kendaraan Yuri yang diikuti oleh sang pemilik mobil.

“K-kau yakin akan melakukan ini Yoong?” tanya Yuri, setelah keduanya sudah benar-benar berada di posisi mereka masing-masing.

“Lebih baik, kita tak membicarakan hal ini sekarang.” Jawab Yoona kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Yuri-pun segera melajukan mobilnya menuju rumah Yoona.

“Aku harus melakukan ini Yul, dan kuharap kau juga mau bekerja sama denganku.” Ucap Yoona pasrah akan peristiwa yang harus dihadapinya.

“Aku pasti akan selalu menjadi partner-mu. Tetapi yang kucemaskan sekarang adalah kau_kau Yoong. Aku tak ingin karena mengerjakan hal ini kau harus menelan berbagai kepahitan nantinya.” Kata Yuri, berupaya mengingatkan sahabatnya akan keputusan besar yang telah diambilnya.

“Tenang saja, aku sudah terbiasa akan hal ini. Dapat kupastikan, tak akan ada kepahitan yang menjadi santapan ku nantinya.” Ujar Yoona menyemangati dirinya sendiri, juga temannya.

“Ku pegang kata-katamu. Jika kau memang tak kuat atau merasa apapun itu— bicara saja padaku, jauh lebih baik jika kita membatalkan semua ini.” saran Yuri kembali.

“Ne, gomawo Yul. Kau selalu ada untukku.” Kata Yoona, kemudian memeluk sang sahabat erat. Lebih baik ia kehilangan segalanya daripada kehilangan harta berharganya saat ini_Yuri.

“Seo, aku mau kau mencari ‘WO’ lain. Aku tak ingin mendapatkan pelayanan dari perusahaan itu.” protes Luhan pada yeojachingunya.

“Lulu, mana mau begitu? Aku sudah membayar sejumlah biaya, jika kita membatalkannya berarti uang itu akan hangus begitu saja.” Jawab yeojachingunya yang tak lain adalah Seohyun, tanpa menghentikan aktifitasnya— membaca beberapa majalah fashion miliknya.

“Pokoknya, aku mau kau mencari ‘WO’ lain. TITIK!” ucap Luhan yang kini berubah menjadi sebuah hardikan.

Melihat namjachingunya bertindak seperti itu, membuat Seohyun menghentikan gerak tangannya yang sedari tadi sibuk membolak-balik lembar demi lembar majalah miliknya.

“Lu~” kini ia malah menangis tersedu-sedu.

‘Oh My Gosh, bagaimana bisa aku terjebak dalam suatu hubungan dengan yeoja manja seperti ini.’ batin Luhan.

Sifat lembut seorang namja yang sangat tak tega-an itu, tak bisa membuatnya membiarkan seorang yeoja menangis terus menerus seperti itu.

“Ayolah Seo, jangan seperti ini terus.” ucap Luhan, yang kini telah merengkuh yeojachingunya itu dalam pelukannya. Ia sangat tahu, hanya dengan pelukannya-lah, yeojachingunya itu dapat kembali tenang.

“Hatiku sangat sakit jika mendapatkan hardikan seperti itu darimu Lu..” Ucapnya di tengah-tengah isakkan tangisnya yang semakin lama semakin mereda.

“Baiklah, maafkan aku.” Ucap Luhan malas, namun berhasil membuat tangis Seohyun benar-benar reda.

“Tak perlu ganti ‘WO’, ne? Aku sudah terlanjur cocok dengan ‘WO’ yang satu ini. Oke? Oke?” tanya Seohyun antusias dan ia sudah tahu jawabannya_sangat tahu.

“Baiklah, terserah kau saja.” Luhan menyerah, ia sama sekali tak bisa melawan apa yang sudah menjadi ketetapan bagi sang yeojachingunya ini.

“Gomawo, Lulu.” Ucap Seohyun semangat, kemudian mengecup pipi namjachingunya singkat dan kembali memeluknya erat.

‘Apa boleh buat.’ Gumam Luhan pasrah. Jika ia terus menerus hidup dengan yeoja ini, bisa-bisa ia gila dibuatnya. Namun, ia sama sekali tak bisa berbuat apa-apa.

Rasa berhutang budi yang sangat besar kepada keluarga Seohyun-lah yang membuatnya terpaksa melakukan hal ini_benar-benar terpaksa. Termasuk dalam hal melepaskan seseorang yang sangat ia cintai, bahkan hingga detik ini.

“Yeoboseyo~”

“Sehun-ah, akhirnya kau mengangkat panggilanku juga. Kupikir kau masih akan sibuk seperti hari-hari sebelumnya.” Oceh Yoona, tepat ketika orang yang sangat dinanti-nantikannya itu mengangkat panggilannya.

“Kebetulan hari ini tak ada pekerjaan yang benar-benar harus kukerjakan, Yoong. Jadi, kau dapat bebas berbincang-bincang denganku seharian ini. Kau sangat merindukanku, eoh?” tanya Sehun yakin pada yeojachingunya.

“Huh, percaya diri sekali kau ini.” ucap Yoona, disertai dengan kekehan kecil dari mulutnya.

“Memang benar ‘kan?” ulang Sehun lagi.

“Ya, terserah kau saja-lah.” Ujar Yoona malas, ia sedang malas berdebat dengan Sehun kali ini. Ia ingin memanfaatkan waktu seharian penuh ini untuk menceritakan semua pengalaman yang ia alami selama Sehun tak ada disampingnya, termasuk dalam hal pekerjaannya.

“Sehun-ah, aku mau bercerita denganmu. Tetapi tentang pekerjaanku, tak apa ‘kan?” tanya Yoona memastikan. Kalau-kalau jika ia menceritakan perihal pekerjaannya, malah dapat menambah rasa penat dalam diri Sehun.

“Ne, tentu saja. Sejak kapan aku melarangmu untuk membicarakan hal yang satu ini?” ucap Sehun.

“Baiklah, jadi begini….. ” jelas Yoona mendetail, sangat detail. Ia hendak Sehun mengetahui semua seluk beluk tentang pekerjaannya.

“Mwo?? Luhan dan Seohyun?” tanya Sehun, diakhir Yoona bercerita.

“Emm..Ne..”

“Kau yakin?” tanya Sehun memastikan, ia takut_sangat takut. Bisa jadi, perasaan cinta Yoona pada namja itu belum sepenuhnya musnah dalam hatinya. Dan setelah mereka kembali bertemu_bahkan menjadi sering bertemu, malah akan menumbuhkan kembali benih-benih cinta yang belum sepenuhnya sirna dari hatinya.

“Awalnya aku memang tak yakin, tetapi sekarang aku telah membulatkan tekadku untuk membantu mereka. Dan kuharap kau bisa mempercayaiku. Hatiku telah kau bawa pergi dan di dalam dada ini ada hatimu. Jadi sangat tak mungkin jika ada orang lain yang berani mencoba mengait hatiku_lagi, dan mencoba memasuki hati ini.” ucap Yoona, ia tahu sekali apa yang menjadi pergulatan dalam hati namjachingunya itu.

Sehun benar-benar ragu, ia sangat ragu. Dapat dipastikan 2 bulan ini akan jauh lebih berat dibanding dengan 3 tahun yang pernah dijalaninya sebelum ini.

“Aku percaya denganmu dan akan selalu mempercayaimu.” Ucap Sehun, namun kali ini suaranya mengecil. Semakin lama, menjadi semakin lebih lirih—bahkan nyaris menjadi seperti sebuah bisikkan.

“Maaf, aku malah bercerita hal ini padamu. Kumohon kau jangan terlalu memikirkan hal ini. Fokuslah pada pekerjaan dan tugas-tugasmu disana.” Ujar Yoona memberi semangat pada namja miliknya.

“Akan selalu kuingat semua nasihat dan semangat darimu, Nona Im.” Kata Sehun semangat, ia juga sama sekali tak ingin jika mereka sama-sama memikirkan hal yang tak penting seperti itu.

Berusaha menanamkan rasa percaya satu sama lain adalah hal yang sangat penting dalam menjalin sebuah hubungan, begitu juga dengan hubungan jarak jauh yang mereka jalani saat ini.

Tiga tahun terpisah, tak ada satupun dari mereka yang dapat mengalihkan perasaan mereka kepada orang lain. Namun kali ini, banyak sekali hal-hal yang ditakutkan oleh mereka_terlebih Sehun.

“Oh ya, kudengar pertunangan Kai hyung dan Yuri noona dibatalkan. Apa itu benar?” tanya Sehun, yang segera mengalihkan pembicaraan mereka, mengganti ketopik yang memang sangat ingin ia ketahui kepastiannya.

“Dibatalkan? Siapa yang mengatakannya? Itu tidak benar, hanya saja mereka sepakat untuk mengundurnya. Sehun-ah, Kai itu ‘kan hyungmu. Masa’ kau tidak tahu menahu tentang masalah ini?” ucap Yoona.

“Bukan begitu Yoong. Beberapa hari yang lalu aku sudah berusaha menghubunginya. Namun seperti biasa, ia sangat enggan bercakap-cakap melalui ponsel lebih lama dengan adik lelakinya ini.” jelas Sehun sedikit kecewa. Bagaimana bisa ia sama sekali tak mengetahui berita_pasti mengenai kakak kandungnya sendiri.

“Ya sudahlah. Toh, sekarang kau telah mengetahui berita ini bukan? Jika nanti ada perkembangan terbaru tentang hyung-mu, pasti aku akan mengabarimu secepatnya. Lebih baik, kau jangan terlalu memikirkan berbagai macam persoalan di sini. Pusatkanlah segala perhatianmu pada kuliahmu disana.” Jawab Yoona.

“Baiklah Nona Im.” Sahut Sehun antusias.

“Jadi, konsep yang kalian pilih adalah ‘International Wedding’, diselenggarakan di Yuksam Building, konsumsi untuk porsi 800 orang, dan pakaian pengantin bergaya modern… emm… Ah ya, kemarin kalian telah memesan dan mendesainnya bukan?” tegas Yoona kembali_kembali memastikan segala pekerjaan yang telah ia kerjakan selama 2 minggu belakangan ini.

Kali ini, ia melayani kliennya hanya seorang diri. Yuri tak bisa berhadir dalam pertemuan dengan klien mereka hari ini, dikarenakan ia harus menghadiri pertemuan antara dirinya dengan namjachingunya yang akhir-akhir ini jarang sekali dapat saling bertemu.

Melayani klien yang satu ini memiliki tantangan tersendiri bagi Yoona. Namun kini, tak ada lagi rasa canggung dalam dirinya untuk menjalani pekerjaannya ini. Sifat dan kepribadian dari tokoh ‘Keroro’ yang selama ini dikenal baik oleh Yoona, semakin lama-makin tampak dalam diri Seohyun. Namun tidak untuk Xi Luhan.

Ia masih belum bisa menerima kenyataan ini, bahkan ketika Yoona sudah bisa menerima semua ini dengan besar hatipun ia masih juga tak kunjung dapat menyediakan tempat kosong bagi Seohyun dan menutup hatinya untuk Yoona.

Sepertinya, kali ini ia benar-benar membutuhkan dokter cinta yang seharusnya bisa menutup lukanya yang selama ini hampir tertutup agar tak membiarkan kuman dan bakteri masuk dengan seenaknya. Akan tetapi luka itu kembali terbuka, di kala ia kembali terjatuh dalam lubang yang seharusnya tak ia temui lagi kali ini.

Lubang yang sama sekali telah tertutup dan tak akan mengijinkannya masuk_lagi. Namun ia tetap memaksa, sehingga menimbulkan luka yang jauh lebih sakit dari sebelumnya.

“Lulu! Mengapa kau melamun, kau tak mendengar perkataanku ya?” tanya Seohyun dengan nada manjanya, yang sangat ampuh dalam perkara menyadarkan Luhan dari lamunan yang sudah membawa jiwanya pergi entah kemana.

“A..e.. kau bertanya apa chagi?” ucap Luhan dengan penekanan diakhir kalimatnya. Satu kata yang mampu membuat Seohyun luluh.

“Huh. Jangan bilang kau juga tak mendengar apa yang dikatakan Yoona?” tanya Seohyun lagi dengan bibirnya yang kini telah bergerak maju.

“Tentu saja aku mendengar, tadi kalian membicarakan tentang konsep pernikahan kita ‘kan? Aku pasti akan menyetujui apa yang manjadi pilihanmu, jadi pilihlah sesukamu.” Ujar Luhan santai kemudian mengalihkan pandangannya menuju beberapa buku ‘fashion’ yang sedang berdiam dihadapannya.

“Baiklah.” Kata Seohyun menyerah. Jarang sekali ia mengalah dalam sebuah perdebatan antara dirinya dengan namjachingunya, biasanya ia selalu ingin terlihat unggul dalam segala percek-cokan dalam hubungannya.

Yoona yang melihat tingkah sepasang kekasih dihadapannya kini malah tertawa geli. Melihat perilaku mereka, tak jauh berbeda ketika ia melihat seorang ayah sedang bersama dengan gadis kecilnya. Watak manja yang telah melekat dengan sempurna dalam diri Seohyun telah sukses menenggelamkan kedudukannya sebagai seorang kekasih dari seorang pria dewasa_Luhan.

“Sudah.. Sudah.. Kalian mengapa menjadi bertengkar seperti ini. Pernikahan kalian hanya akan menunggu beberapa minggu lagi. Jadi biasakanlah bersikap layaknya sepasang suami-istri.” Goda Yoona disertai dengan senyuman nakalnya_akan tetapi terlihat sangat manis jika dilihat dari sudut pandang seorang Luhan.

‘Yoong, apakah namaku benar-benar telah hilang dalam hatimu?” gumam Luhan.

“Kau benar sekali Yoong-ah. Dengarkan itu Lulu.” Kata Seohyun bangga karena merasa mendapatkan bala bantuan dari Yoona lalu menatap sinis ke arah Luhan. Yang menjadi bidikan mata Seohyun hanya menjawabnya dengan sebuah gumaman kecil, yang membuatnya semakin merasa kesal.

“Luhan! Kau akan menjadi seorang suami-nya kelak. Janganlah bersikap dingin seperti ini.” tentang Yoona.

‘Apa kau amnesia Yoong? Dulu kau sempat mengisi ruang khusus dalam hatiku, bahkan hingga detik ini! dan kini kau sama sekali tak menganggap semua itu pernah terjadi dalam hidupmu? Fine!’

“Tanpa kau beritahu, aku juga telah mengetahui hal itu.” jawab Luhan dingin kemudian berlalu begitu saja, menyisakan yeojachingunya dan ‘mantan’ yeojachingunya saling bertatapan heran satu sama lain.

“Ada apa dengannya? Aku tak salah berbicara ‘kan?” tanya Yoona pada Seohyun. Yang ditanya malah mengangkat bahunya singkat. Mereka terlihat sangat dekat sekarang.

Sangat tak kerap jika ada yeojachingu dari seorang namja terlihat begitu akrab dengan ‘mantan’ yeojachingu kekasihnya. Namun, semua gelar itu sama sekali tak menjadi pembatas diantara keduanya sekarang. Saat ini mereka hanya terjalin dalam sebuah hubungan antar pekerja dan kliennya, antar sahabat pena yang baru bertemu dan melanjutkan kedekatan mereka dalam kehidupan ‘nyata’ yang sempat terjalin di media sosial.

*Sehun POV

“Baiklah, terimakasih atas kerja samanya selama ini. Ini benar-benar sangat membantu saya.” Ucap seorang lelaki paruh baya dengan senyuman yang merekah di wajahnya.

“Ne, sama-sama. Saya juga merasa sangat terhormat bisa dipakai oleh bapak.” Sahutku dengan bangga.

Sesaat kemudian kami membungkukkan tubuh milik kami masing-masing dan meninggalkan ruangan yang tadi sempat menjadi tempat dimana kami berbincang-bincang.

“Huuaaaaa… akhirnya semua ini terselesaikan.”

Seorang mahasiswa yang akhirnya telah benar-benar terbebaskan dari berbagai tugas-tugasnya pasti akan merasa sangat lega. Begitupula denganku, berteriak dengan sekuat-kuatnya di tanah lapang yang begitu luas ini menjadi salah satu pilihan bagiku untuk mengungkapkan rasa bahagia yang meluap-luap dalam diriku.

Kini yang harus kulakukan adalah memikirkan apa yang akan menjadi perencanaanku kedepannya nanti.

Kembali ke Seoul, itu sudah pasti. Namun, yang menjadi persoalannya sekarang adalah bagaimana caranya agar ini semua terlihat berbeda. Terlihat lebih mengesankan dengan menambahkan beberapa benih-benih sensasi didalamnya.

“HUAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!” entah makhluk apa yang sedang merasuki tubuhku kali ini. Akan tetapi seingatku baru beberapa detik yang lalu aku berteriak lepas, namun sekarang aku malah berteriak frustasi.

Teringat akan yeoja yang kucintai jauh diseberang sana membuat kepalaku ingin pecah rasanya. Dipenuhi dengan berbagai buku yang merumitkan saja sudah lebih dari cukup untuk membuat kepalaku menjadi penuh sesak. Ditambah lagi dengan bayang-bayang yeoja yang satu ini.

Mencoba menghilangkannya beberapa kali dari otakku, justru membuat hatiku memberontak ganas. Seakan-akan otak dan hatiku bekerja berlawanan. Namun tetap saja, pada akhirnya selalu dimenangkan oleh hati yang sama sekali tak ingin mengalah.

Cinta memang egois, tak pernah memandang bulu. Bahkan melawan rekan kerjanya sendiri saja ‘hati’ bisa melakukannya.

“Apa yang harus kulakukan?! 2 bulan sudah berlalu, mengapa hal ini sama sekali tak pernah terbesit dalam benakku?!”

Akhh!

Mengatakan bahwa aku akan segera pulang ke Seoul, kemudian mengabarinya lagi bahwa pesawat yang kutumpangi sudah landing di International Incheon Airport. Lalu memintanya untuk bersiap-siap menyambutku, atau memintanya untuk menjemputku.

Ah tidak! Itu terlalu mainstream.

“…”

Satu kata, dua kata, tiga kata, sebuah kalimat, dua kalimat, berangkai-rangkai kalimat. “Aha! Aku ada ide. Ide yang sangat cemerlang. Buahahaha!”

Tawa yang sangat menggelegar tak bisa lagi kusembunyikan ketika kata demi kata-kalimat demi kalimat, akhirnya mampir ke otakku yang berhasil membuatku lepas kendali.

“Hanya membutuhkan sedikit skenario dan dramapun siap dilaksanakan.” Bibirku terus saja bergerak tak menentu. Mengangguk-anggukan kepalaku sambil tersenyum miring, sungguh tak dapat kubayangkan apa yang orang banyak pikirkan ketika melihatku bertingkah seperti ini.

Namun, buat apa aku menutup-nutupi rasa puasku. Rasa bangga terhadap diriku yang sangat jenius. Padahal beberapa menit yang lalu kepalaku dipenuhi dengan hal-hal yang berbau ilmiah, tetapi aku masih mampu mencetuskan ide-ide seperti ini.

Sepertinya naluri kelicikanku sedang beraksi kali ini. Walau kadang membantu, namun aku tak terlalu bangga dengan naluri yang satu ini. Yoona sangat membenci hal ini, dan aku akan menggunakan sesuatu yang dibencinya sekembalinya aku ke sana.

Kringg..Kringg..Kringg..

“Okay, kali ini siapa-” gerutuku ketika mendengar dering ponselku berbunyi. Lihat saja, tempat ini benar-benar tak pernah tak bisa membiarkanku tenang barang sedetikpun.

Baru saja aku merasa benar-benar bebas, sudah datang lagi panggilan yang masuk. Sangat tak menutup kemungkinan jika itu berasal dari dosenku atau rekanku yang lain, yang mungkin saja berniat ingin membincangkan tentang perkuliahanku.

Akan tetapi mulut, serta tangan dan kakiku yang sedari tadi bergerak mengemudikan mobilku berhenti bergerak ketika mataku tertuju kepada nama sang pemanggil yang tertera dilayar ponselku.

“Yeoboseyo~ Sehun-ah.” ucap sang pemanggil dengan nada yang mengundang pertanyaan.

“Y-Yoona? Ada apa?” ujarku ragu seraya memelankan laju mobilku dan akhirnya menghentikannya tepat di depan sebuah kios yang sudah tertutup rapat.

“Kalau tidak salah menurut catatan di agendaku, lusa adalah hari ke-60 sekaligus bulan kedua setelah…” ucapnya menggantung.

Sesuai dengan perkiraanku, ia pasti akan menagih kedatangan hari itu.

“Ne, aku tahu.”

“Jadi?” tanyanya kembali.

“Kau benar-benar ingin aku segera pulang ya?” gurauku.

“Menurutmu?” bukannya menjawab, ia malah kembali bertanya seraya mendengus sebal mendengar pernyataanku barusan.

“Baiklah, tetapi sepertinya aku tidak bisa pulang hari itu. Mungkin, 3 hari atau 1 minggu ke depan aku baru bisa pulang. Kau tak ingin ‘kan aku dikejar-kejar oleh orang-orang di sini karena belum menyelesaikan semua tugas-tugasku?” jelasku berbohong.

Terang saja aku berbohong, mana mungkin aku membatalkan_lagi janji yang sudah kuutarakan 2 bulan yang lalu. Membatalkan pembelian tiket pesawat yang baru beberapa menit yang lalu kudapatkan dengan susah payah.

“Benarkah?” katanya lirih.

Bukan ini yang sempat menjadi prediksiku. Yang kuperkirakan adalah setelah aku memberikan pernyataan seperti itu, ia akan marah dan emosinya akan mencuat seperti yang terjadi 2 bulan yang lalu.

Padahal aku sudah menyiapkan telingaku untuk menampung segala omelan dan cercaan yang dilontarkannya.

“Yoona?” panggilku, memastikan bahwa orang yang sedang berinteraksi denganku masih berada di tempatnya.

“Hmmm. Sebenarnya sejak awal aku sudah yakin bahwa kau takkan kembali secepat yang awalnya kuperkirakan. Namun yang kupikirkan sekarang adalah siapa yang akan menjadi pasanganku lusa.” Jelasnya.

“Kudengar ada suara kendaraan berlalu lalang. Sepertinya kau sedang mengemudi. Lebih baik kuputus panggilanku sekarang. Nanti kuhubungi lagi.” Lanjutnya lagi lalu segera mengakhiri panggilannya.

“Yoong-“ belum sempat aku mengucapkan sepatah kata ia sudah memutuskan percakapan kami.

‘Pasangan?’ yeoja ini benar-benar selalu dapat menimbulkan banyak pertanyaan dalam otakku.

Apa maksudnya? Aku adalah pasangannya dan akan selalu menjadi pasangan dalam hidupnya, walau sekarang jarak sedang melintang diantara kami. Tetapi itu semua tak akan pernah bisa menutupi kenyataan bahwa aku adalah pasangannya_kekasihnya.

“Ya, sudahlah.” 

Alangkah baiknya aku bergegas pulang sekarang, mengemasi pakaianku, kemudian beristirahat sepanjang malam, menyiapkan energiku untuk perjalanan udara selama beberapa jam yang akan kujalani besok malam.

*Luhan POV

Mungkin banyak orang akan berpikir bahwa ini gila. Bahkan otak kecilku saja bisa mengatakan bahwa apa yang sedang kurasakan ini sedikit melenceng dari keadaan yang logis.

Beberapa jam lagi kau akan sah menjadi seorang suami dari seorang yeoja, Xi Luhan! Bisa-bisanya masih ada nama yeoja lain yang terpatri dalam hatimu.

Freak!” aku menggeram frustasi, berteriak sekencang mungkin, lalu menarik rambutku kuat. Benar-benar terlihat seperti seseorang yang tengah tertimpa banyak masalah yang sangat berat.

Namun tetap saja, masih belum bisa mengeluarkan segala kekesalan dan kemarahan dalam hatiku-terhadap diriku sendiri.

Bertahun-tahun aku berjuang dengan sangat kuat untuk melakukan hal ini. Memusnahkan nama seorang yeoja dari diri ini.

Akan tetapi hingga detik ini, namanya sama sekali tak mau sirna begitu saja. Apalagi ketika pertemuan yang sama sekali tak terduga beberapa waktu yang lalu.

Bukannya terhapus, kini namanya malah tertera lebih tebal dari sebelumnya.

*Author POV

Tok.. Tok..Tok..

“Arghh! Siapa yang datang kemari di pagi hari seperti ini.” gerutu namja berparas tampan itu, seraya melepaskan bantal guling kesayangannya dari dekapannya dan segera meloncat dari petiduran miliknya untuk menyambut tamu_yang seingatnya tak mendapat undangan sepagi ini darinya.

Hampir saja rasa kesalnya menghilang, jika saja matanya tak menangkap sosok seorang yeoja yang tak asing lagi dalam kehidupannya.

“Seo-ah. Ada apa kau datang pagi-pagi seperti ini?” bola matanya berputar malas, ketika nyawanya benar-benar telah bangun seutuhnya dan mendapati yeoja itu langsung bergelayut manja pada lengan kekar miliknya.

“Tuan Lu, apa kau lupa? Hari ini kita akan pergi ke Butik dan melakukan fitting pakaian kebangsaan kita nanti.”

“Huh? Bukankah itu besok?” ucapnya mengingat-ingat kembali kapan terakhir kali, ia dan yeojachingunya membicarakan hal ini.

Beberapa minggu sebelum hari ‘H’ milik mereka berdua, sang namja_Luhan selalu mencoba menghindar dan mengalihkan pembicaraan ketika tema dari pembicaraan di antara keduanya sudah hampir menjurus ke arah yang tak diinginkannya.

“Isshh. Kau pasti lupa ‘kan? Sudah lah, ada baiknya jika sekarang kau lekas mandi dan bersiap-siap. Tubuhmu sangat bau, kau tahu?” kata yeojachingunya_Seohyun lalu menutup ujung hidungnya seakan-akan sangat jijik dengan apa yang terhirup melalui alat pernapasannya itu.

“Huh? Aku tak se-bau itu ya.” Protes Luhan, akan tetapi yang menjadi wadah protesnya malah menghilang dengan secepat kilat dari pandangannya dan segera beranjak menuju sofa ruang tamu sang pemilik hunian.

“Cepat mandi. Sebelum aku yang memandikanmu.” Tak mau perdebatan kecil itu menjadi semakin menggunung, dengan malas ia melangkahkan kakinya menuju sumber mata air di rumahnya dan membersihkan seluruh tubuhnya.

“Sudah siap?” tanya Seohyun, begitu melihat pintu kamar milik namjachingunya terbuka dan menampilkan sesosok pria tampan lengkap dengan busana casual yang terbalut rapi pada tubuh proporsionalnya.

“Aku siap.” Jawab Luhan_namjachingunya_yang masih sedikit malas sembari -terpaksa-mengulas sebuah senyuman tipis dari bibirnya.

“Kajja, kita harus cepat. Sebelum Nyonya Kim menunggu lama.” Ajak Seohyun kemudian menarik tangan Luhan dan melihat wajah namjachingunya sekilas.

‘Kapan kau bisa benar-benar membuka hatimu untukku?’ Batinnya.

Sejak awal Seohyun tahu, bahwa yang dinamakan perjodohan memang amat sulit menumbuhkan benih-benih cinta di antaranya. Apalagi jika sebelumnya sang namja telah memiliki hubungan yang teramat dalam dengan yeoja lain.

Namun, ia tetap meyakini dirinya untuk tetap menjalani perjodohan itu. Karena setaunya, cinta akan datang tanpa ada yang mengundangnya. Tanpa diketahui banyak orang, bahkan orang itu sendiri. Akan tetapi, hingga saat ini ia masih belum merasakan apa yang sebelumnya menjadi gagasannya.

Ia sangat tahu, perasaan Luhan sama sekali belum bisa kembali terbuka bagi yeoja manapun termasuk dirinya.

‘Haruskah aku melepasmu? Tidak! Tidak akan!’ berulang-ulang_beribu-ribu_bahkan berjuta-juta kali ia menyemangati dirinya sendiri, berusaha menghilangkan segala pemikiran-pemikiran yang seharusnya tak boleh terbesit sedikitpun dalam benaknya.

“Kalian terlihat sangat serasi dengan balutan pakaian pengantin seperti ini.” puji seorang yeoja bangga terhadap dua orang manusia di hadapannya. Sepasang kekasih yang akan segera mengucapkan janji sehidup-semati mereka dihadapan pendeta, terutama dihadapan Tuhan.

Sang namja nampak sangat gagah dengan tuxedo yang melekat dengan sempurna pada tubuhnya, sedangkan sang yeoja juga nampak sangat anggun dengan gaun putih panjang yang ia kenakan.

“Sayang, Yuri tak berada di sini. Jika ia melihat kalian seperti ini, pasti dia turut merasa senang bercampur bangga akan buah dari kerja keras yang telah kami lakukan.” Ungkapnya lagi.

“Terimakasih Yoona.” Sahut seorang yeoja lainnya lalu memeluk yeoja tadi dengan lembut.

“Sudah kubilang, jika kau dan Yuri yang menjadi ‘WO’ semuanya pasti akan berjalan dengan sangat baik. Kalian benar-benar partner yang sangat cocok.” Lanjut yeoja itu kembali, kemudian melepas pelukannya perlahan.

“Setiap ‘WO’ juga pasti akan melakukan yang terbaik untuk kliennya, Seo.” Jawab yeoja yang lainnnya-Yoona-merendah. 

“Terimakasih banyak Yoong. Jika bukan karena kau, ini semua belum tentu terjadi sesuai dengan apa yang kami kehendaki. Bukan begitu, chagi?” ujar yeoja itu _Seohyun, lalu mengalihkan pandangannya menuju namja pilihannya.

Sedari tadi mata yeoja ini tak henti-hentinya memancarkan rasa bahagia, namun lain halnya dengan namjachingunya_Luhan. Ia malah menatap kosong segala apa yang berada di depannya.

Mata serta hatinya serasa menolak kenyataan yang harus dihadapinya. Menikahi seorang yeoja yang namanya sama sekali tak terdaftar sebagai pengisi rongga hatinya itu akan menjadi salah satu hal gila yang akan dilakukannya.

“Ne.” ucap Luhan lirih.

‘Luhan, kurang dari 24 jam lagi kau akan sah menjadi pendamping hidupku. Apa kau akan seperti ini terus, bahkan ketika statusku telah berubah menjadi istri sah darimu?’ Seohyun tak pernah-tak bisa mengartikan segala tatapan dari dua manik milik Luhan. Ia benar-benar mengetahui apa yang sedang dipikirkan namjachingunya itu, apa yang sedang dirasakan, bahkan apa yang ingin disampaikan oleh namjachingunya itu pun dapat diketahui olehnya. Itu semua dapat terlihat dengan jelas oleh Seohyun dari sorot mata Luhan.

“Lebih baik aku meninggalkan kalian berdua sekarang.” Kata Yoona, memecah keheningan yang menyelubungi mereka bertiga seraya bergegas melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu_meninggalkan sepasang kekasih itu yang masih terus terdiam.

Keduanya memilih untuk berargumen dalam hati mereka masing-masing. Tak ada yang mau membuka suara, hingga akhirnya Luhan memutuskan untuk pergi ke kamar kecil. Bukan untuk membuang zat sisa dari dalam tubuhnya, melainkan hanya untuk sekedar menghindar sejenak dari diri yeojachingunya. Diam berdua di sebuah ruangan tanpa ada percakapan sedikitpun memintanya untuk segera beranjak keluar dari mencari udara segar yang tak didapatnya di ruangan tadi.

“Seo, aku mau ke kamar kecil sebentar.” Ucap Luhan tanpa menatap orang yang menjadi lawan berbicaranya. Langkahnya terhenti ketika sebuah tangan nan hangat menggenggam pergelangan tangannya.

“Jangan lama-lama ya. Kau akan kembali lagi ‘kan?” ucap sang pemilik tangan lirih, matanya terlihat berkaca-kaca. Sedang Luhan sama sekali tak menangkap tatapan itu, matanya benar-benar menolak untuk melakukan kontak langsung dengan manik milik yeoja itu.

“Iya, aku takkan lama.” Ucap Luhan lalu berusaha melepas genggaman sebuah tangan yang beberapa detik yang lalu menggenggam lengannya lembut. Seakan-akan tak rela untuk ditinggal, barang sebentar saja. Namun, ia tetap tak mengalihkan pandangan matanya menuju kedua mata si pemilik tangan.

Seohyun merasa beribu-ribu_bahkan berjuta-juta anak panah menelusuk relung hatinya. Rasanya bukan seperti baru mendapat pernyataan cinta, melainkan baru saja mendapat perlakuan dingin dari namja yang sangat dicintainya.

Ia menggit bibir bawahnya kuat, sama sekali tak ingin air mata yang telah terbendung di kedua matanya jatuh begitu saja. Merusak riasan yang telah teroles dengan apik di wajahnya yang amat elok.

‘Ketika kau telah resmi menjadi isterinya kelak, perlahan perlakuannya pasti akan berubah. Menjadi lebih baik. Menganggap kau jauh lebih berarti lagi dalam hidupnya.’ Tak terhitung lagi jumlahnya, berapa kali ia telah melakukan hal ini. selalu memberi motivasi tersendiri bagi dirinya sendiri. Mebangkitkan lagi kemauan yang sempat mereda dalam dirinya, mebangunkannya dari segala pemikiran-pemikiran jelek dimasa mendatang.

Sama halnya dengan Seohyun, dengan langkah gontai Luhan berjalan menuju kamar kecil sambil berupaya meyakinkan dirinya sendiri akan masa depan yang telah menunggunya di depan mata. Ia hanya berusaha untuk berpikir positif dan membuang jauh-jauh segala pikiran yang buruk akan masa depannya_sama dengan apa yang dilakukan Seohyun, hanya saja mereka memiliki misi dan visi yang berbeda.

Langkah kakinya membawa dirinya hingga tepat di depan sebuah pintu dengan tulisan ‘Toilet’ di sampingnya. Jika saja matanya tak menangkap sesosok yeoja di balkon dekat kamar kecil tersebut, mungkin ia sudah berada di balik pintu di hadapannya saat ini.

Dengan ragu ia mengganti arah tujuannya, yang semula berniat untuk segera ke kamar kecil kini merubah haluan menuju tempat di mana gadis yang tadi dilihatnya berada.

“Yoong-“ tenggorokannya seperti tercekat ketika pandangannya sekilas melihat sebutir cairan mengalir di pipi yeoja di depannya.

Tanpa sadar pandangan mereka bertemu, membuat sang yeoja menggerakkan tangannya cepat menuju kedua pipinya dan menyapu bersih air yang tadi sempat menggenang di kedua pipinya.

“L-Luhan? Ada apa?” tanya yeoja itu-Yoona- bergetar, sedikit berusaha mengatur nada berbicaranya agar terlihat normal, terlihat agar seolah-olah tak ada yang baru saja terjadi pada dirinya, terlihat seakan-akan air matanya sama sekali tak ada keluar sedikitpun tadi.

“T-tadi aku ingin ke kamar kecil. Tetapi aku melihatmu berada di sini, jadi aku mampir sebentar.” Jawab lelaki itu. Ia sedikit merasa menyesal, untuk apa ia menghampiri yeoja ini. kini yang terjadi malah kesunyian yang kembali tercipta di antara keduanya.

“Lalu Seohyun?”

“Ia tetap berada di tempat tadi. Mana mungkin ‘kan jika aku membawanya ke kamar kecil.” Jawabnya sembari terkekeh kecil.

“Kau benar, pertanyaan konyol macam apa yang aku lontarkan barusan.” Balas Yoona yang kini ikut terkekeh seperti namja itu.

“Hmmm. Yoong kudengar kau telah memiliki hubungan spesial dengan seorang namja apa itu benar?” akhirnya, kini Luhan dapat bernapas lega. Pertanyaan yang selama ini mengganjal dalam hatinya telah ia kemukakan dengan sangat berhati-hati. Kini yang ditakutkannya adalah jawaban yang nanti akan diutarakan oleh Yoona.

“Ya, itu memang benar adanya.” Jawab Yoona yakin. Ia sangat bangga dengan statusnya kini, menjadi seorang yeojachingu dari namja lain, yang itu berarti ia telah benar-benar berhasil memusnahkan sosok Luhan sebagai seseorang yang spesial dalam hatinya. Namun sedetik kemudian hatinya kembali terasa amat pilu. Matanya kembali menjadi sendu. Mengingat namja yang dicintainya tak sedang berada di sisinya sekarang.

“Jadi, dimana ia sekarang?” tanya Luhan, masih belum puas atas jawaban yang diterimanya dari Yoona barusan.

Penglihatannya sama sekali belum rusak hanya untuk melihat sesosok namja asing-baginya-berdiri atau berada di dekat seorang Yoona sedari tadi. Sejak awal pertemuan kembali merekapun, Luhan juga sama sekali belum pernah melihat sosok spesial dalam hati Yoona sekarang sedang berada dekat dengan gadis itu.

“Ia sedang pergi untuk sementara waktu. Seharusnya ia sudah kembali sekarang, namun-“ perkataannya terpotong seiring jatuhnya beberapa tetes cairan bening dari pelupuk kedua matanya.

Merasa ada sesuatu yang terjatuh dari kedua mata yeoja disampingnya, refleks Luhan langsung menggenggam tangan yeoja ini erat. Merasa bahwa sang pemilik tangan tak memberikan respon, ia meberanikan diri mendekap yeoja itu dalam pelukannya.

Lambat-lambat, Yoona menyadari akan sebuah sosok sedang merangkulnya erat. Disaat itu pula ia segera menjauhkan dirinya dari sosok tersebut.

“A-apa yang kau lakukan?” ucapnya sesaat setelah ia menyeka air matanya dari kedua pipinya.

“M-mian Yoong, a-aku tak bermaksud.” Balasnya dengan wajah yang perlahan menunduk lemah.

‘Apa yang kulakukan?!’ Frustasi. Satu kata yang sangat pantas untuk menggambarkan suasana hati serta pikiran Luhan sekarang. Tubuhnya benar-benar tak ingin terlepas-jauh-barang satu sentipun dari diri yeoja ini. Tetapi, keadaanlah yang mendorong tubuhnya agar menjauh dari tubuh yeoja ini.

“Y-Yoong, kurasa aku masih belum bisa…m-melupakanmu.” Hampir saja mata Yoona melompat dari tempatnya ketika mendengar kata-kata itu keluar dari bibir Luhan.

Bisa sekali ia mengatakan hal itu, sedangkan dirinyalah yang mengakhiri hubungan mereka lebih dahulu. Lebih-lebih, dengan cara yang sangat kejam_setidaknya, mampu membuat hati Yoona terasa hancur berkeping-keping.

“A-apa maksudmu? Kau tidak sedang mengalami gangguan mental ‘kan?” canda Yoona, bermaksud mencairkan suasana yang entah mengapa berubah menjadi dingin dan menegangkan seperti ini.

“Kali ini aku tak bercanda, Yoona. Aku sangat serius.” Sahutnya, yang kini membuat Yoona kembali tertegun.

“Kau yang meninggalkanku, namun kau bilang, kau masih tak bisa melupakanku. Apa maksudnya ini semua? Permainan apa lagi yang sedang kau mainkan sekarang? Kali ini, tolong jangan libatkan aku dalam permainan konyol-mu itu.” tukas Yoona.

Luhan sudah yakin akan tanggapan yang akan diterimanya. Ia juga sangat yakin akan apa yang akan dikatakannya selanjutnya.

“Mungkin aku gila, aku juga sangat jahat. Namun apa daya, meninggalkanmu kala itu bukanlah kehendak diriku sendiri. Bahkan melaksanakan pernikahan seperti inipun juga bukanlah kehendak diriku. Semua ini sudah ada yang mengaturnya, permainan ini bukan aku yang menjalankannya. Akan tetapi orang lain_kedua orangtuakulah yang memperalat diriku sebagai tokoh utama dalam permainan ‘sadis’ ini.”

“Huh? Sadis? Kau mengetahui hal itu rupanya.” Apapun itu-sudah pasti tak dapat membuat Yoona terlihat menjadi sangat ‘jahat’ saat ini, kecuali masa lalu yang teramat perih yang kini kembali terputar dalam memorinya.

“Aku tahu, pernyataan ku ini tak akan merubah apapun. Namun jika memang masih ada kesempatan, aku yakin aku bisa merubahnya. Yang perlu kau ketahui, aku masih dan akan terus mencintaimu Yoong. Kumohon dengarlah suara hatiku ini.” ucap Luhan bergetar, sesekali ia menarik napasnya dalam. Mencoba mengatur nada dan intonasi berbicaranya.

Plaaaakkk~

Dengan sigap tangan Yoona melayang dengan sendirinya kearah salah satu pipi milik namja yang berada dihadapannya sekarang, tepat ketika ia merasakan sebuah tangan kembali berusaha menyentuh tangannya.

“Cepat atau lambat-kau akan menjadi seorang suami dari Seohyun, Luhan-ah. Apa kau sama sekali tak memikirkan bagaimana perasaannya sekarang? Kau benar-benar kejam!” bentak Yoona, lalu berniat meninggalkan namja itu seorang diri. Hanya saja, ia mengurungkan niatnya, langkahnya terhenti seiring matanya menangkap kehadiran sesosok yeoja dengan gaun mewah sedang menghadangnya jauh dari tempat dimana mereka berbincang-bincang tadi.

“S-Seo~”

—TBC—

Author’s POV :

Fiuh! Akhirnya aku bisa ngirim ini FF. Bagaimana? Masih gaje kah?

Mian-lah, kalau begitu-_- Tapi, I’ve did my best! ^^ Oh ya, makasih juga ya buat respon kalian (r:readers) untuk yang chapter 1-nya. Semoga chapter 2 ini udah bisa ngejawab pertanyan kalian sebelumnya. Untuk yang kedua ini, aku juga berharap respon kalian juga sama seperti yang sebelumnya, bahkan lebih dari sebelumnya.

So, don’t forget to leave ur comment, guys! ^^

19 thoughts on “[Freelance] Just Wait! (Sequel of ‘Because of You) (Chapter 2)

  1. Huuu bagus thorr
    Seo liat luhan meluk yoona ??
    Seo ngganggu aja -_-
    Btw busway si luhan blm bisa ngelupain si yoona pan ?? #4l4y
    Thehun kapan lo pulang tjoba gua gorok pake golok tau rasa lo !!!
    Thehunieeeeeeeeeeee

  2. Keren thor. Aku suka konfliknya. Yoona sama luhan kasihan ya, mereka sama sama mencintai tapi tidak bisa bersatu. Yoona mungkin sudah memiliki sehun, tapi ada sedikit perasaannya untuk luhan’-‘ LuYoonHun!!!

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s