Our Test – Chapter Two

Our Test SuFany

Our Test – Chapter Two

[icydork] | Suho and Tiffany | Marriage-Life, Sad, Mystery, lil bit Romance | All Rated

“Suho.” Tiffany membangunkan Suho yang tertidur lelap di atas sofa. Sekarang sudah pukul Sembilan pagi. Tiffany masih belum sarapan. Tiffany dilarang keras oleh Suho untuk memasak selama mengandung. Maklumlah, ini anak pertama mereka. Oleh sebab itu, Suho selalu over-protective dengan calon anaknya.

Tetapi, ketika dia mendengar kabar yang menyakitkan itu dari dokter. Terbayang seberapa rapuhnya hati Suho?

Dia selalu menjaga Tiffany, peduli terhadap Tiffany. Suho rela berlari tengah malam untuk mencari toko obat karena Tiffany sakit. Dia rela di kerjai oleh Tiffany habis-habisan ketika masa hamil mudanya. Suho rela melawan rasa lepuh di punggung tangannya ketika terciprat minyak panas saat memasak.

Semua pengorbanan Suho terbayar dengan anak seperti itu? Dunai tidak adil.

“Suho.” Panggil Tiffany lagi sambil mengguncangkan tubuh Suho pelan.

Tubuh Suho pun merespon. Kelopak mata Suho perlahan terbuka. Tebak apa yang pertama dia lihat?

Tiffany. Istrinya.

“Akhirnya kau bangun.” Keluh Tiffany lalu duduk di sebelah Suho. Suho membenarkan posisi tidurnya—setengah duduk menjadi duduk tegap di sebelah Tiffany.

“Segeralah mandi. Kita makan di luar hari ini.” Kata Tiffany.

“Hah?” Respon Suho.

“Aku ingin makan bubur di kedai bibi Cho.” Balas Tiffany.

“Bibi Cho?” Tanya Suho memastikan bahwa dia salah dengar atau tidak.

“Iya, siapa lagi?” Tanya Tiffany lagi tak mau kalah.

“Bibi Cho sudah meninggal setengah tahun yang lalu, Tiff.” Ucap Suho.

“Tidak! Bibi Cho belum meninggal!”

“Tiff..”

“Kemarin siang aku bertemu dengannya!” Tiffany masih kukuh dalam pendiriannya.

“Kalau begitu kita buktikan bersama.” Ajak Suho dengan tenang sambil menarik lengan Tiffany pelan lalu keluar dari rumah mereka dan menuju kedai bibi Cho yang tidak jauh dari rumah mereka.

Suho mengetuk pintu di depan kedai yang masih tertutup ini. Tidak ada balasan. Sekali lagi Suho mengetuknya. Sedangkan Tiffany berdiri di belakang Suho sambil memerhatikan Suho yang mengetuk pintu kedai tersebut.

Pintu itu pun terbuka.

Suho sudah mengambil ancang-ancang untuk bertanya namun..

“Maaf, kami belum buka.” Seorang gadis muda muncul dari balik pintu tersebut.

Suho menoleh ke arah Tiffany dengan sebuah lengkungan senyum kemenangan.

“Baiklah, nanti kami akan kembali lagi.” Ucap Tiffany sambil tersenyum.

“Baiklah. Mohon maaf.” Gadis muda itu membungkukkan tubuhnya lalu menutup pintu tersebut.

Suho dan Tiffany berjalan pulang ke rumahnya. Suho terkekeh pelan lalu menepuk puncak kepala Tiffany.

“Jangan terlalu banyak berkhayal, sayang.” Ucap Suho.

“Aku tidak salah lihat kok.” Balas Tiffany.

“Sudah jelas-jelas salah.” Gumam Suho. Tiffany menoleh dan menatap tajam Suho.

“Kau bicara apa, hah?” Tanya Tiffany.

Suho menggeleng, “Tidak. Aku tidak bicara apa-apa. Dasar jelek!”

“YAK! Kalau aku jelek begitupun anakmu.”

Rasanya hati Suho terpanah dan anak panah tersebut menembus sempurna. Suho mengingatnya lagi. calon anaknya. Suho pun menghentikan langkahnya sedangkan Tiffany masih berjalan lurus –dia tidak sadar.

“Dasar ayah payah! Masa dia mengataimu, nak?” Tanya Tiffany sambil mengelus perutnya yang sudah membesar itu.

“Kau harus menjadi anak yang cantik bukan jelek seperti—“ Ucapan Tiffany terhenti ketika menoleh ke sebelah kanannya. Kosong. Suho tidak ada.

“Suho?” Panggil Tiffany lalu menoleh ke belakang dan Suho disana.

Tiffany menggeleng, “Kenapa dia begitu menyusahkan?” Tiffany menghampiri Suho lalu mencubit lengannya dengan keras.

“Hei, pria jorok! Kau harus cepat pulang dan mandi! Lihat jigongmu menumpuk!” Ocehn Tiffany sambil menarik kulit Suho.

“Aaawww! Sakit, Tiff..” Erang Suho sambil mengikuti langkah Tiffany.

Ada satu hal yang perlu kalian ingat. Erangan Suho tadi tidak sepadan dengan rasa perih dan sakit hatinya tersebut.

Suho keluar dari kamar mandi dengan boxer dan handuk yang setengah basah. Dia mengeringkan rambutnya yang lembut dan wangi itu menggunakan handuknya lalu duduk di ruang makan mereka.

Tiffany tersenyum menyambut Suho.

“Makanlah. Masakanmu sangat enak sekarang.” Ucap Tiffany sambil meletakkan beberapa syaur-mayur dan lauk-pauk ke atas piring Suho.

“Aku belajar banyak dari masa hamilmu.” Balas Suho lalu menggantungkan handuknya ke lehernya dan memulai acara makannya.

“Ehhmm, ini enak sekali! jauh lebih enak dibanding masakanku.” Puji Tiffany.

Suho tersenyum, “Masakanmu itu pas-pasan, Tiff. Asal kau tahu, aku lebih cocok menjadi istri dibanding kau.”

Tiffany menyueki Suho dengan cara memasukkan suapannya dan memutar bola matanya, “Menyebalkan.” Gumam Tiffany ditengah acara mengunyahnya itu.

Suho menghabiskan aktivitasnya seharian di rumah dengan Tiffany. Hari libur adalah hari merdeka untuk siapapun itu. Suho duduk di atas sofa sambil menyalakan lagu jazz di ponselnya lalu dia mem-plug-in headphone-nya dan meletakkannya ke perut Tiffany.

Semoga ini bekerja, batin Suho.

Sedangkan Tiffany? Dia sedang sibuk membaca majalah fashion yang baru dia beli tiga hari yang lalu.

“Seandainya aku masih bisa memakai baju seperti ini.” Gumam Tiffany.

Well, siapa yang tidak tahu Tiffany? Seorang model professional dari Amerika. Semua roang mengetahuinya kecuali orang yang tinggal di dalam gunung. Bukan bermaksud sombong, tapi inilah kenyataannya.

Namun,

Kepopularitasan Tiffany makin hari makin menurun bahkan sekarang sudah terbilang minus. Semenjak dia kawin lari bersama Suho. Tidak ada kabar, bahkan tidak ada wartawan yang mengejar-ngejarnya. Sama sekali tidak ada.

Tiffany membuka halaman demi halaman sampai-sampai dia melihat selembar halaman yang menurut prediksinya akan menjadi puncak dari majalah ini namun salah. Sebuah ancaman yang mengerikan muncul disana.

KALIAN AKAN MATI!

Tiffany melempar majalah itu dengan kasar ke atas lantai. Suho terkejut. Dia langsung menoleh ke majalah yang dilempar oleh Tiffany tadi lalu memalingkan wajahnya ke Tiffany.

“Ada apa, Tiff?!” Tanya Suho.

Tiffany langsung menutup kedua telinganya dan menutup matanya rapat-rapat, “PERGI!”

“Tiff!” Suho mulai khawatir. Dia meletakkan ponsel dan headphone-nya ke pinggir sofa.

“Tiff!” Panggil Suho sambil memegang kedua bahu Tiffany.

Tiffany menggeleng, “Tidak! Jangan ganggu kami! Pergi!!” Teriak Tiffany.

“Tiffany!!” Bentak Suho. Tiffany pun berhenti tapi dia tidak menurunkan kedua tangannya dari telinganya.

“Ada apa? Beri tahu aku!” Pinta Suho. Tiffany menunjuk majalah yang dia lempar tadi dengan ekor matanya dan Suho mengikuti arah matanya.

Suho berjalan ke majalah tersebut. Dibaliknya halaman demi halaman. Diperhatikannya dengann pasti halaman yang dia balik tersebut sampai pada akhirnya dia tiba di tengah halaman dengan sebuah pesan di atasnya. Suho melecakkan halaman tersebut hingga robek.

Diluar masuk akal, batin Suho lalu berjalan dan membuang robekkan halaman itu ke tong sampah.

Kami seharian berdua di rumah ini tapi kenapa masih ada terror gila ini?, tanya Suho pada dirinya sendiri.

Suho berjalan menghampiri Tiffany yang masih ketakutan itu.

“Tenanglah.” Ucap Suho berusaha menenangkan Tiffany.

Namun, kepala Tiffany mendarat di lengan Suho. Lagi dan lagi. selalu seperti ini jika Tiffany menerima terror itu. Dia pingsan.

Tiffany masih terbaring di atas ranjangnya. Sekarang Suho makin sadar mengapa calon anak mereka itu sangat teramat tidak sehat.

Ketika Tiffany mulai mengandung. Terror itu dimulai. Dimanapun Tiffany berada, terror itu selalu bermunculan. Dimana Tiffany sudah sangat teramat terkejut atau lelah, dia akan pingsan. Tiffany pingsan mengakibatkan Tiffany jarang makan, itu berpengaruh besar pada kandungannya. Tiffany tertekan oleh terror tersebut, itu juga berpengaruh besar pada mental dari kandungannya.

Seandainya Suho bisa menyelesaikan ini semua, dia akan melakukannya.

Seandainya Suho bisa memutar waktu ulang dari awal, dia akan menjaga Tiffany lebih lagi.

Percayalah, jika hal itu bsia terjadi. Namanya dunia ini sudah gila.

Suho membuka lemari pakaian mereka lalu menengok ke arah Tiffany –memastikan dia masih tidur dan ke jam dinding.

Jam delapan malam, batin Suho.

Dengan cepat Suho membongkar isi lemari mereka. Suho mencegah terror itu datang lagi. Teror itu selalu bermunculan dimanapun, bahkan di kamar mandi pun ada. Menganehkan, bukan?

Niat Suho adalah mencari seluruh terror tersebut dan membakarnya agar Tiffany tidak melihatnya lagi. Suho mengucak-ubak isi lemari pakaian mereka. Tanganny menemukan secarik kertas. Dengan cepat Suho menariknya.

MATI! MATI! MATI!

Suho tercengang. Hebat sekali peneror ini bisa sampai ke kamar mereka. Dia berjalan ke meja rias, dia membuka laci di meja rias tersebut.

Jantung Suho berdebar hebat.

Dia menemukan sebuah buku dengan banyak bekas sobekkan. Ternyata orang ini menggunakan barang dalam. Benar-benar tidak punya modal.

Suho berjalan di lain sisi lagi. Dia melihat lemari novel koleksi Tiffany. Dia memerhatikan setiap buku dari luar. Dari paling bawah hingga paling atas sampai dia melihat sebuah kotak berwarna merah dengan pita pink di atasnya.

Suho ingat betul kotak apa itu.

Itu kotak dimana Tiffany mengirimnya surat cintanya.

Suho meraih kotak tersebut  dan membukanya. Dia rindu tulisan Tiffany yang bagus dan rapi –tidak seperti dirinya itu.

Sebuah amplop dia buka lalu tersenyum manis sambil mengingat kenangan mereka.

For my dearest, Suho

Happy Anniversary!

Aku tidak menyangka bahwa kita sudah dua tahun di hari ini. Kau harus ingat bahwa aku sangat mencintaimu.

……

…..

…..

Suho tidak membaca surat itu sampai habis. Dia merasa kejanggalan dengan surat tersebut. Dia meletakkan surat tersebut ke dalam kotaknya dan meletakkan ke habitat kotak tersebut lalu keluar dari kamar.

Suho berada di dapur rumah mereka. Dia mengeluarkan kertas yang dia temukan di lemari tadi. Kertas tersebut sudah lecak parah. Dia membukanya dengan niat ingin membacanya ulang.

Mata Suho melebar. Bahkan terlihat hampir keluar dari rongga matanya.

MATI! MATI! MATI!

Tulisan itu sangat familiar.

Dia baru saja melihatnya tadi.

“Tiff-Tiffany?!”

TBC

42 thoughts on “Our Test – Chapter Two

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s