Our Friendship – Vignette

vi-66

Our Friendship || Written by Vi || Starring SNSD Taeyeon | EXO-M Luhan || Rated for General || Life, Friendship || Disclaimer: I just borrow the cast || Note: inspired by other ff, manga, anime, japanese drama, and my imagination. Sorry for bad fanfic and story.

Poster by ssoopuding.wordpress.com [fearimaway]

*****

Taeyeon POV

Sahabat ..

Apa sahabat bisa kau buang begitu saja ketika kau tak membutuhkan mereka lagi ?

Kurasa tidak. Bukan kurasa lagi, jawabannya memanglah tidak.

Sahabat bukanlah benda yang bisa kau buang begitu saja saat kau sudah bosan atau tak membutuhkan mereka lagi. Sahabat harus dihargai karena selama kau masih memiliki sahabat maka kau takkan merasa kesepian saat kau membutuhkan seseorang untuk mendengarkan ceritamu ataupun kesedihanmu.

Kalau sahabat memang bukan benda seperti itu, mengapa dirinya membuangku yang sudah sekian lama menjadi sahabatnya ? Semenjak ada murid baru itu, aku seperti dibuangnya begitu saja seolah aku bukan siapa-siapa bahkan ia tidak menyapaku dan tersenyum padaku, apa persahabatan kami hanya sampai disini saja ?

“Luhan , ayo kita naik ke roller coaster kurasa itu menyenangkan,” kata seorang gadis berambut coklat pada Luhan. Luhan adalah sahabatku dulu namun sekarang ia tak pernah memperhatikanku, apa kini ia masih bisa disebut sebagai sahabat ? Tapi .. Meski ia bersikap seperti itu padaku, bukan berarti aku bisa memutuskan hubungan persahabatanku dengannya, aku masih memberikannya kesempatan.

Luhan mulai bersikap cuek padaku semenjak kedatangan murid baru bernama YoonA itu. YoonA memang tampak lebih cantik daripada diriku tetapi bukan berarti Luhan lebih memilih YoonA daripada diriku kan ? Apa YoonA pernah menenangkannya saat ia sedih seperti apa yang kulakukan dulu ? Apa YoonA peduli padanya ?

Saat melihat sosok Luhan dan YoonA berjalan pergi, akupun ikut dengan mereka, aku diam-diam mengikuti mereka agar tahu apa yang spesial diantara persahabatan mereka berdua. Menurut pengamatanku selama ini, aku melihat hubungan Luhan dan YoonA tidak seperti hubunganku dengan Luhan. Rasanya aku lebih perhatian dan peduli pada Luhan dibanding YoonA.

“Sudahlah, lebih baik kuikuti mereka,” batinku sambil berjalan mengikuti mereka. Aku tidak ikut menaiki roller coaster, hanya berdiri di dekat permainan tersebut sambil mengamati Luhan dan YoonA yang dengan cerianya menaiki wahana tersebut.

Saat keduanya sudah turun dari wahana tersebut, aku kembali mengikuti mereka secara diam-diam, mereka masuk ke toko es krim lalu keluar sambil melahap es krim yang mereka beli barusan. Rasanya seperti bernostalgia pada masa lalu saat aku dan Luhan masih memiliki hubungan yang baik.

Keduanya masih berjalan di sekitar taman bermain sampai akhirnya keduanya memutuskan untuk pulang. Aku sempat kehilangan jejak Luhan namun setahuku rumah Luhan itu cukup jauh dari taman bermain, ia bisa kelelahan kalau berjalan kaki dari taman bermain, maka itu aku menemukannya di halte bus yang membawanya menuju daerah rumahnya. Aku berdiri di belakangnya sambil menunggu bus pula, rupanya YoonA masih bersama Luhan.

Saat bus yang ditunggu kami telah sampai, YoonA, Luhan, begitu pula dengan diriku pun memasuki bus itu. Kebetulan saja kami bertiga tinggal di daerah yang sama.

Bus bergerak menuju daerah tempat tinggal kami bertiga. Sesampainya kami disana, aku pun turun. YoonA dan Luhan berjalan menuju rumah YoonA –tampaknya–, kalau aku sih lebih memilih untuk berpisah di persimpangan jalan agar Luhan yang tinggal di jalan sebelah kiri bisa pulang duluan dan aku yang tinggal di jalan sebelah kanan juga bisa pulang , jadinya kan adil kalau seperti itu, tak ada yang terlalu lelah dan tak ada yang tak begitu lelah.

“Apa YoonA yang menyuruh Luhan mengantarnya pulang ?” tanyaku pelan sambil mendengus kesal. Aku tak tega kalau memang begitulah kenyataannya, bisa-bisa Luhan kelelahan.

“Sampai jumpa, deer Lulu,” kata YoonA sambil melambaikan tangannya. Luhan menganggukkan kepalanya dan balas melambaikan tangannya. Sesaat kemudian, ia berjalan meninggalkan YoonA dan diam-diam menghembuskan nafasnya lega. Rasanya, ekspresi Luhan menunjukkan bahwa ia tidak baik-baik saja, karena itulah aku menghampirinya.

“Luhan !” seruku sambil berlari kearahnya. Luhan menoleh dan meletakkan jari telunjuknya di dekat bibirnya. “Shhh..”

Aku berhenti berlari dan juga berteriak namun Luhan melakukan gerak tubuh yang menyiratkan agar aku mendekat kearahnya diam-diam. Aku berjalan pelan-pelan kearahnya lalu berbisik, “ada apa ? Mengapa kau seperti itu ?”

Luhan menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Sepertinya ada yang salah.

“Aku menyesal sudah menjadi teman YoonA,” kata Luhan lirih. Aku mengerutkan dahiku, bingung dengan apa yang baru saja ia ucapkan.

“Memangnya kenapa ?”

“Ia tidak sebaik yang kupikirkan. Ia ingin agar aku hanya dekat dengannya bukan orang lain, ia tak mau kalau aku dekat-dekat denganmu karena ia ingin agar teman yang kupunya hanya dirinya. Maka dari itu, maafkan aku yang selama ini tak memperdulikanmu. Karena kalau aku bersamamu ia mengancam akan menyakitimu maka itu aku menjauhkan diri darimu agar bisa melindungimu,” jelas Luhan dengan lemas. Jadi begitukah ? Itulah mengapa ia tak mau mendekatiku selama ini ? Mengapa aku tak tahu bahwa sahabatku ini menanggung beban seberat ini ?

“Maaf, aku tak tahu kau menanggung beban seperti itu karena diriku. Kita kan sahabat, aku tak mau hanya diriku yang dilindungi, aku juga mau melindungimu. Aku ingin kita menghadapi ini bersama-sama sebagai sahabat,” tekadku. Luhan menggeleng, sepertinya ia menolak ideku.

“Tidak, jangan.”

Aku melihat ekspresi penuh kekhawatiran di wajah Luhan. Aku pun tersenyum dan merangkulnya layaknya sahabat, “tidak apa-apa. Sebenarnya kau ingin berteman dengan YoonA atau tidak sih ?”

“Aku tak mau lagi, ia suka memaksaku. Selama ini sahabat yang sungguh-sungguh bisa kupercaya adalah kau, Taeyeon. YoonA itu memaksaku untuk mengatakan semua rahasiaku padanya padahal aku tak bisa mempercayainya,” kata Luhan.

“Begini, bukannya aku memihak pada YoonA. Tapi kurasa ia berusaha untuk berteman denganmu, Luhan. Dari cerita-ceritamu, sepertinya ia memang berusaha untuk berteman denganmu, ia ingin menjadi sahabat yang kau percayai maka itu ia tak ingin ada orang lain yang bisa lebih kau percayai daripada dirinya. Meski begitu, caranya membuatmu untuk mempercayainya memang salah, kalau kau mau jujur mengenai apa yang kau pikirkan mengenai YoonA siapa tahu ia bisa berusaha menjadi sahabat yang lebih baik lagi bagimu dengan begitu kalian bisa bersahabat dengan baik. Hmm, kurasa bukan hanya kalian, andai itu terjadi, mungkin ia bisa menerimaku menjadi sahabatmu dan kita bertiga bisa menjadi sahabat,” kataku. Luhan menatapiku dengan mata dan mulut membulat, apa ia ingin mencoba untuk melakukannya ?

“Begitukah ? Akan kucoba, tapi untuk sekarang kalau kau ingin membantuku tolong jauhi aku untuk sementara agar ia tak menyakitimu andai kata ia tak mau berubah nantinya,” jawab Luhan atas kata-kataku.

“Kalau itu bisa membantumu untuk menyelesaikan masalah ini , aku akan melakukannya tapi kalau kau hanya ingin melindungiku dan tidak melakukan apa yang kukatakan tadi, aku takkan tinggal diam saja. Aku akan mendekatimu seperti dulu lagi dan menghadapi YoonA bersama-sama denganmu dengan caraku sendiri,” kataku dengan penuh penekanan di setiap kata-kataku.

Luhan menggigit bibirnya sejenak kemudian menganggukkan kepalanya pelan, ia pun tersenyum lebar. Aku rindu sekali pada senyuman manis itu untuk dilontarkan padaku, akhirnya, kami bisa menghabiskan waktu bersama lagi meski harus di belakang YoonA. Aku harus berterima kasih karena setidaknya aku masih bisa menghabiskan waktu bersama Luhan di belakang YoonA dan secara diam-diam menyelesaikan masalah bersamanya lagi. Ternyata ia tidak membuangku yang sudah menjadi sahabatnya sejak dulu. Baguslah kalau pikiranku itu tidak sungguhan, ia masih peduli padaku, sebagai sahabatnya. Kami masih sahabat yang akan menyelesaikan masalah satu sama lain bersama-sama, menanggung beban bersama, tertawa bersama, dan mennghibur satu sama lain saat sedih seperti dulu.

END

Mian gaje, gak yakin sih sama alurnya karena ini ff sudah kupikirin sejak dulu tapi baru buat skrg,  pls komen ya !

17 thoughts on “Our Friendship – Vignette

  1. Bgs kok ceritanya
    Cuma ending nya aja agak ngegantung
    Soalnya nasib selanjutnya bener2 ga ketebak
    Hehe

    Ditunggu sequel/ff yg laen yah^^

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s