(Oneshoot) Because I’m Not a Perfect Girl

JESSIE KIM

PROUDLY PRESENTS

cz-im-not-a-perfect-girl__jessie-kim

(poster by chwang tata)

With Hyoyeon Kim, Sunkyu Lee, Jongin Kim and Zhang Yixing as  a main casts

Another story from me, hope you enjoy it

Karena aku hanya gadis biasa.

Karena aku tak mempunyai wajah yang menawan.

Karena aku bukan gadis yang menjadi sorotan.

Karena seorang Kim Hyoyeon sampai kapanpun akan tetap menjadi Kim Hyoyeon.

.

.

“Hyoyeon-ssi,”

“Ya?”

Lelaki itu menyodorkan sesuatu kearahya, “Bisa berikan ini ke Sunkyu?”

“Ini…apa?” ucapnya sambil menerima pemberian lelaki tersebut.

“Ck,” decak lelaki itu, “pokoknya berikan saja pada Sunkyu. Jangan dibuka. Pastikan Sunkyu yang menerimanya,” lanjut lelaki tersebut sambil beranjak pergi meninggalkan Hyoyeon yang masih menatap benda di tangannya.

Bahkan tanpa ucapan ‘terima kasih’.

.

.

.

Karena seorang Kim Hyoyeon tak pernah menjadi yang utama.

.

.

“Hei, Hyoyeon-ssi,”

“Ya?”

Lelaki berambut jabrik itu menggaruk tengkuknya, “aku mau bertanya sesuatu,”

“Bertanya apa?”

Lelaki itu menarik nafas sejenak, “sebenarnya, lelaki seperti apa yang Sunkyu sukai?”

Hyoyeon berpikir sejenak, “kurasa, lelaki yang baik, bertanggung jawab, dan—“

“Ya!” Hyoyeon sedikit kaget ketika lelaki itu membentak kearahnya, “ciri seperti itu sih, aku juga tau. Maksudku ciri yang lebih spesifik.” Ucapnya dengan mendengus.

“Ciri…spesifik?”

Lelaki itu mendecak, “iya, spesifik! Kau ‘kan teman baiknya masa tidak tahu sih!”

Hyoyeon menggeleng, “tapi, aku benar-benar tidak tahu. Sunkyu tidak pernah cerita soal—“

“Bilang saja kalau kau minta bayaran.” Ucap lelaki tersebut sambil menatap sinis Hyoyeon, “dasar matre.” Lanjut lelaki tersebut sambil beranjak pergi meninggalkannya.

Hyoyeon menatap kepergian lelaki tersebut dengan pandangan yang sulit diartikan. Ini seperti…sudah biasa untuknya.

.

.

.

Karena seorang Kim Hyoyeon tak pernah bisa menjadi gadis yang sempurna.

.

.

Bisik-bisik terdengar saat kedua gadis itu berjalan disekitar lorong sekolah. Selalu seperti ini ketika mereka datang—tidak—lebih tepatnya ketika gadis itu datang.

“Wah! Sunkyu benar-benar cantik ya.”

“Iya. Aku tak percaya ada gadis yang secantik dia! Senyumnya~”

“Selain itu, tubuhnya benar-benar~”

“Eh, tapi kenapa Hyoyeon itu selalu di dekatnya sih?!”

“Bodoh, mereka ‘kan teman baik. Tapi, iya juga, dia merusak pemandangan ya,”

“Kenapa Sunkyu malah berteman dengan gadis culun sepertinya sih!”

Dan Hyoyeon hanya bisa menunduk mendengar bisik-bisik tersebut. Ia memandang gadis di sebelahnya—yang sedang tersenyum sambil menceritakan sesuatu kearahnya tanpa memedulikan bisik-bisik disekitarnya—ini dengan pandangan sayu.

Karena sampai kapanpun seorang Kim Hyoyeon dan Lee Sunkyu akan selalu berbeda.

.

.

.

“Kurasa kau harus merubah penampilanmu.”

Hyoyeon menoleh saat mendengar suara sahabatnya itu. Mereka sedang dalam perjalanan menuju kelas ketika beberapa saat yang lalu Hyoyeon tak sengaja mendengar bisik-bisik siswa di koridor—yang membuatnya melamun sambil berjalan.

“Merubah penampilanku?”

Sunny berdecak, “Hyoyeon-ya, jangan pura-pura. Aku tentu saja dengar bisik-bisik tadi dan aku bosan mereka selalu membanding-bandingkan kita,” ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya.

Hyoyeon kembali melihat kearah depan sambil tersenyum, “aku tidak apa-apa kok, Sunkyu-ya,”

“Tapi mereka—“

“Aku benar tidak apa-apa kok. Lagipula aku nyaman dengan penampilanku.” Ucap Hyoyeon sambil menunjukkan rambutnya yang dikepang dua kearah Sunkyu. Mereka terus berjalan menuju ke tempat loker siswa berada. Pelajaran pertama adalah Sejarah Korea dan buku sejarah setebal 5 inci itu tak mungkin mereka bawa pulang ke rumah.

Sunkyu menghela nafasnya, “terserah kau saja.” Ucapnya sambil tersenyum kearah Hyoyeon.

Mereka berbelok di ujung koridor dan masuk ke tempat dimana jejeran loker-loker siswa berada. Tempatnya masih cukup ramai mengingat bel sekolah masih 15 menit lagi berbunyi. Ya, mau ramai atau tidak juga tak jadi masalah karena—sekali lagi—tetap Sunkyu yang akan menjadi sorotan.

Mereka berjalan ke jejeran koridor yang paling dekat dengan ujung ruangan dan membuka loker masing-masing—loker Sunkyu dan Hyoyeon berjarak 2 loker jadi tidak bersebelahan.

Hyoyeon hanya melirik sebentar ke arah Sunkyu yang masih sibuk mengeluarkan surat-surat dan kiriman dari fansnya lalu kembali memandang lokernya yang hanya diisi buku dan sepatu olahraga. Ia menarik nafas sebentar sebelum mengambil buku sejarah dan menutup lokernya lalu membantu Sunkyu yang masih sibuk dengan kiriman dari penggemarnya.

Daerah tempat loker mereka cukup sepi—mengingat jejeran loker mereka berada di ujung ruangan. Sunkyu mengeluarkan surat dan kiriman dari fansnya lalu memasukkannya ke dalam kantong plastic yang sudah sengaja ia bawa. Ini terjadi setiap harinya dan ia sudah sangat malas untuk menanggapinya. Kalau bisa memilih, ia ingin menjadi siswi biasa saja di sekolah.

Hyoyeon menghampirinya dan membantunya. Tepat saat itu, sebuah surat jatuh dari genggaman Sunkyu. Sunkyu membungkuk untuk mengambilnya dan tanpa sengaja membaca nama pengirimnya, “Zhang Yixing,” ucapnya.

Mendengar nama itu, Hyoyeon langsung menoleh kearah Sunkyu dan melihat surat yang digenggam Sunkyu, “siapa kau bilang?”

“Zhang Yixing,” ulang Sunkyu sambil menoleh kearah Hyoyeon dan kembali memandang surat digenggamannya, “sepertinya pernah dengar.” Lanjut Sunkyu sambil menaruh telunjuknya di dagu, “ah! Bukankah dia pemenang ajang Dance Competition tingkat kota itu ya,”

Hyoyeon hanya mengangguk sambil terus memandang kearah surat yang dipegang oleh Sunkyu. Zhang Yixing adalah seorang dancer sekolah yang bahkan namanya sudah di perhitungkan oleh pengamat seni dan tari di Korea. Ia seperti sosok lelaki yang sempurna yang tak bisa digapai bagi Hyoyeon—karena ia juga mempunyai otak yang pintar dan sifat yang sopan dengan wanita.

Senyumnya yang manis dan sikap sopannya kepada Hyoyeon lah yang membuat gadis tersebut menyukai lelaki itu. Dia juga satu-satunya lelaki yang tak pernah berbisik sesuatu tentang Hyoyeon. Mungkin lelaki itu memang cuek dan terkesan tak peduli tapi itulah yang Hyoyeon suka dari seorang Zhang Yixing.

Dan tak ada yang tahu jika seorang Kim Hyoyeon menyukai—tidak—mencintai Zhang Yixing. Tak ada bahkan Sunkyu sekalipun. Bahkan ia juga mengirim surat untuk Sunkyu, batin Hyoyeon.

“Cukup menarik!” ucap Sunkyu sambil membuka surat yang berada di genggamannya. Ia mengernyit saat hanya mendapati 3 kata yang ditulis oleh lelaki itu. Dan lagi-lagi Hyoyeon hanya menjadi pengamat yang baik.

Detik berikutnya, Sunkyu menunjukkan ekspresi yang sulit ditebak dan Hyoyeon yang membulatkan matanya setelah membaca tulisan tersebut. Sunkyu menaikkan sebelah alisnya sambil membulak-balik surat itu dan memeriksa amplop yang masih berada di genggamannya.

.

.

.

“Wo Ai Ni,” ulangnya, “apa artinya?” tanya Sunkyu kearah Hyoyeon yang masih terlihat kaget—bahkan matanya tampak sedikit berkaca-kaca.

Hyoyeon melihat kearah Sunkyu dan mencoba terlihat biasa, “artinya ‘aku cinta kamu’. Dia menyatakan cinta kepadamu, Sunkyu-ya,” ulang Hyoyeon dengan nafas yang sedikit tercekat.

Sunkyu menaikkan sedikit alisnya, “Eh? Tidak romantis sekali! Menyatakan cinta tanpa bunga atau apapun hanya selembar kertas dengan 3 kata? Aneh.”

Hyoyeon masih mencoba menormalkan dadanya yang masih terasa sesak. Ia ingin marah. Ia ingin menangis. Ia ingin berteriak. Hanya saja ia tak bisa. Ia bukan gadis yang dibesarkan untuk mengeluarkan perasaannya secara terang-terangan. Ia bukan gadis yang dibesarkan untuk mengatakan apa yang berada dalam pikirannya. Ia hanya gadis yang di doktrin dengan kata ‘senyumlah dalam keadaan seperti apa dirimu berada’.

Seperti saat ini. Meski dengan hati yang sesak ia hanya bisa tersenyum. Menunjukkan bahwa ia merasa bahagia kepada sahabatnya.

“Kurasa, ia lelaki yang baik, Sunkyu-ya,”

“Benarkah?”

Dan lagi-lagi Hyoyeon hanya bisa tersenyum menanggapinya. Bagaimana pun Sunkyu tak bersalah. Ia tak tahu jika Hyoyeon menyukai Yixing. Karena memang tak ada yang memberi tahunya.

“Apa kau menyukainya?”

Dan pertanyaan Sunkyu yang selanjutnya membuat Hyoyeon sedikit terpaku. Sunkyu menatap Hyoyeon dengan pandangan yang dalam.

“Kenapa bertanya seperti itu,” ucap Hyoyeon mengalihkan perhatiannya dengan membereskan surat-surat penggemar Sunkyu.

“Hanya ingin bertanya,” ucap Sunkyu mengedikkan bahunya, “jadi?”

Dan sekali lagi, Hyoyeon tahu hanya senyuman yang dapat membantunya.

“Tidak. Tentu saja tidak, Sunkyu-ya,” lagipula aku takkan bisa menggapainya.

Dan Sunkyu hanya mempercayainya tanpa sedikitpun rasa curiga akan senyuman sahabatnya.

.

.

.

Hyoyeon tahu ia salah.

Hyoyeon tahu ini bukanlah dirinya.

Dan ia tahu kalau seharusnya ia tidak seperti ini.

Tapi bagaimana pun, ia tetaplah seorang gadis berumur 19 tahun yang masih emosional.

Ia merasakan marah, sedih dan…iri. Dan ia tahu tidak seharusnya ia merasakan hal itu kepada temannya—tidak—sahabatnya sendiri. Tapi, sekali lagi aku bilang, dia hanyalah gadis muda berumur 19 tahun yang masih emosional.

Dari awal, sudah seharusnya ia menyadari perbedaan antara dirinya dengan sahabatnya, yang selalu dianggap sempurna oleh orang lain.

Dan dari awal, seharusnya ia tidak melihat papan pengumuman yang bertuliskan nama calon pemain drama di festival sekolah nanti. Seharusnya, ia tidak merasakan iri saat nama sahabatnya berada di urutan pertama sebagai pemain utama wanita.

Tidak, ini salah. Ia tidak boleh iri. Lee Sunkyu pantas mendapatkan itu. Dan sekali lagi, hanya topeng senyuman yang ia tunjukkan.

Sayangnya, seorang Lee Sunkyu sangat mengenal Hyoyeon.

“Ms.Jung pasti salah menulisnya,” ucap Sunkyu sambil melihat kearah Hyoyeon, “aku tidak mungkin jadi pemeran utama,” lanjutnya dengan tawa yang dipaksakan.

Hanya saja topeng senyuman itu sangat sulit untuk dilepaskan, “kenapa? Kau pantas mendapatkannya, Sunkyu-ya,”

“Hyoyeon-ya—“

“Baiklah, sekarang kita lihat siapa pemeran utama pria nya,” Hyoyeon menoleh kearah Sunkyu sambil mengedipkan sebelah matanya, berniat mencairkan suasana diantara mereka. Dan, mungkin, menghilangkan perasaan cemasnya.

Cemas akan siapa nama pemeran utama pria itu.

Ia kembali melihat kearah papan pengumuman di depan mereka. Jarinya menyusuri deretan nama lelaki dalam daftar tersebut dari bawah sampai akhir.

Kumohon jangan namanya.

Deretan namanya ini cukup panjang, aku serius.

Tak ada namanya kumohon.

Mata itu terus menelusuri daftar nama para pemain.

Jangan dia, kumohon. Jangan Zhang Yixing.

Dan telunjuk itu berhenti pada sebuah nama di urutan paling atas.

Ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Otaknya masih memeroses apa yang ia lihat, begitupula sahabatnya di sampingnya. Dan detik berikutnya ia menyadari bahwa ia adalah seorang gadis yang tak pernah mengenal kata beruntung dalam hidupnya.

“Ini…kebetulan yang unik,” Sunkyu menoleh kearahnya, “iya kan, Hyo-ya?”

Dan selanjutnya Hyoyeon mendapati matanya yang memanas dan dirinya yang berlari dari tempat tersebut dengan Sunkyu yang mengejarnya. Masa bodoh dengan tatapan orang-orang yang menatapnya sinis—karena beberapa kali menabrak mereka. Tak ada yang mengerti perasaannya saat ini. Tidak, bahkan Sunkyu sekali pun.

Hanya karena sebuah nama. Ya, sebuah nama di urutan paling atas.

Zhang Yixing.

.

.

.

Hyoyeon tak pernah tahu bagaimana mengungkapkan perasaannya. Saat ia marah, sedih, senang, ingin menangis atau apapun. Yang ia tahu, ia akan berlari menjauh dari orang-orang dan mencari sebuah tempat dimana tak ada seorang pun disana saat ia merasakan sesak di dadanya—seperti saat ini.

Ia bukan gadis remaja yang akan berteriak-teriak di tempat sepi atau meloncat-loncat di tengah keramaian. Ia tetap akan tersenyum meski sesak di dadanya terus bergumul.

Ia akan pergi ke sebuah tempat yang sepi dan hanya diam meringkuk di sana. Bukan tempat seperti atap sekolah atau perpustakaan. Tempat yang sangat sepi dan—mungkin—sedikit kotor agar orang-orang tak menghampirinya disana.

Seperti saat ini. Takkan ada—mungkin—gadis remaja yang memilih hutan sepi belakang sekolah untuk menenangkan pikirannya. Tempat yang sangat sepi untuk dilewati oleh orang-orang dan cukup menyeramkan untuk di datangi.

Dan untuk pertama kalinya ia besyukur Sunkyu kalah dalam hal kecepatan berlari dengannya—sehingga ia tak bisa mengejar sampai ke tempat ini.

Gadis itu hanya meringkuk di tanah sambil terisak—membenamkan kepalanya diantara kedua lututnya yang ditekuk.

Tak ada yang salah. Semua orang pasti merasakan iri bahkan jika itu sahabatmu sendiri. Hanya saja, ia sudah terlalu sering merasakannya. Bisik-bisik setiap hari saat mereka melewati koridor bersama, para lelaki yang menitipkan hadiah mereka untuk Sunkyu pada Hyoyeon. Bahkan, sampai orang yang ia sukai sekalipun.

Semua orang punya batasan sendiri, kan? Begitu juga gadis ini. Ia tidak berteriak saat marah. Ia tidak akan menangis meraung-raung atau membenci Sunkyu saat itu juga. Ia hanya tidak ingin seseorang mengganggunya saat ini.

Sayangnya, sudah kubilang kalau gadis ini tak pernah mengenal kata beruntung dalam hidupnya.

“Gadis aneh,”

Satu—tidak—dua kata yang sukses membuatnya mengangkat kepalanya dan mencari sosok yang berkata itu padanya. Tak bisakah seseorang membiarkannya sendiri sekali saja, huh?

Dan saat itu juga pandangannya menemukan seorang lelaki yang tengah duduk di atas dahan pohon—yang tidak terlalu tinggi—tak berada jauh darinya. Lelaki yang berpakaian acak-acakkan, dianggap brandal sekolah—bahkan ia tengah menghisap rokok saat ini, memilik otak sangat pintar untuk seukurannya, tapi bahkan selalu dipuja-puja oleh gadis-gadis seantero sekolah.

Hyoyeon tak pernah mengerti.

Ia berbeda jauh dari Yixing dan—mungkin sekali lagi—hanya seorang Hyoyeon yang tak pernah tertarik dengan seorang Kim Jongin.

Gadis itu masih ingat saat pertama kali ia menginjakkan kaki di depan gerbang sekolahnya dan orang yang pertama ia temui adalah lelaki brandal ini. Ia juga masih sangat ingat ketika masa orientasi sekolah, saat itu setiap anak lelaki diharuskan untuk memilih pasangan mereka untuk sebuah permainan, dan satu-satunya yang memilihnya sebagai pasangan adalah lelaki brandal ini. Tidak. Gadis itu tak pernah tahu alasan lelaki—yang selalu dikagumi gadis-gadis—itu memilihnya.

Dan Hyoyeon sangat ingat—bahkan yakin—lelaki brandal ini pernah menolongnya saat ia mengalami cedera ketika olahraga—saat itu mereka berada dalam kelas yang sama bahkan sampai saat ini.

Tapi, sekali lagi Hyoyeon tak pernah merasa sedikitpun tertarik dengan lelaki yang brandal ini.

Lelaki itu menoleh kearah Hyoyeon dan menghisap rokoknya kembali, “apa?”

Hyoyeon menatapnya sesaat sebelum menggeleng, “kau merokok, Jongin-ssi,”

“Ya. Dan kau gadis yang aneh,” Hyoyeon mengernyit mendengar perkataan lelaki itu, “mana ada gadis yang memilih hutan untuk menyendiri,” lanjutnya lagi.

“Apa itu bermasalah untukmu?” Hyoyeon membalasnya dengan perkataan yang sedikit sinis. Masa bodoh jika lelaki ini pernah menolongnya atau apapun. Ia tak berhak berkomentar apapun tentang Hyoyeon.

“Tidak juga.”

“Kalau begitu, lebih baik urus, urusanmu sendiri, Jongin-ssi,”

“Seandainya bisa lebih mudah jika kau tidak tiba-tiba datang dan duduk disitu sambil menangis.” Ucap Jongin, “kau cukup berisik, tau!”

Hyoyeon menghela napasnya. Ia tidak ingin berdebat saat ini. Selain, karena tak terbiasa, ia hanya ingin menyendiri saat ini. Apa tempat yang sepi sudah sangat jarang di kota besar, huh?

Gadis itu bangkit dari duduknya dan menepuk-nepuk roknya yang sedikit kotor, “kalau begitu aku permisi, Jongin-ssi,”

Tepat saat akan berbalik badan, suara lelaki itu kembali terdengar dan menghentikan rencananya untuk pergi dari sana, “kau menangis karena orang yang kau suka menyukai sahabatmu, huh?” Jongin terkekeh merendahkan.

Melihat tak ada respon dari gadis didekatnya, Jongin melanjutkan, “apa perempuan secengeng itu?” Jongin membuang rokok yang berada digenggamannya tanpa menginjaknya dulu, “Kau selalu membanding-bandingkan dirimu sendiri dengan sahabatmu yang kau anggap beruntung, apa seperti itu semua perempuan?”

Hyoyeon masih bungkam mendengarkan perkataan lelaki di dekatnya.

“Selalu menangis karena masalah lelaki. Apa kalian akan mati jika tidak memikirkannya?” Lelaki itu kini turun dari dahan pohon dan berdiri angkuh sambil memasukkan tangannya ke saku celananya, “Dulu aku kira kau berbeda dari gadis-gadis lain. Tapi ternyata kau sama saja. Cengeng.” Lanjut lelaki itu.

Cengeng adalah kata yang paling Hyoyeon benci di dunia ini.

“Jongin-ssi, aku kira kau tak berhak berkomentar apapun tentangku,” Hyoyeon berbalik untuk menatap lelaki yang kini menatapnya angkuh, “kau tak tahu apapun tentangku.”

Hening.

“Kau munafik.”

Dan dengan satu kata yang gadis itu dengar dari mulut lelaki di dekatnya membuat Hyoyeon melotot dan berjalan cepat kearah lelaki itu. Detik berikutnya ia sadar, tangannya telah menampar keras pipi lelaki tersebut. Dan ia tak menyesal. Tidak, lelaki itu pantas mendapatkannya.

“Apa yang kau tahu tentang aku, huh, Tuan Cassanova?!” napas gadis itu terdengar memburu, “Apa kau tahu rasanya dibanding-bandingkan?!” untuk pertama kalinya seorang Hyoyeon berteriak kepada orang lain, “Apa kau tahu rasanya setiap hari ditanya ini-itu tentang sahabatmu sementara kau diacuhkan?!” dan saat sebuah air menetes dari matanya, gadis itu tahu pertahanannya telah hancur saat itu juga,“Apa kau pernah merasakan tak bisa mengeluarkan perasaanmu, huh? Dan apa kau tahu rasanya ketika orang yang kau sukai malah menyukai sahabatmu sendiri dan lebih buruknya kau tak bisa meluapkan amarahmu?!” Hyoyeon menatap lelaki di hadapannya sangar, “Jawab aku, apa kau pernah merasakannya?!”

“Tentu tidak! Karena kau bukan seorang Kim Hyoyeon!” dan Hyoyeon menyesal saat setetes lagi meluncur dari matanya, “kau seorang Kim Jongin, pria yang disukai banyak gadis! Kau takkan tahu rasanya menjadi diriku!” tapi, masa bodoh dengan segala topeng tegarnya. Hyoyeon tetaplah Hyoyeon. Seorang gadis remaja berumur 19 tahun.

“Kau tak berhak menilai apapun tentang diriku!” dan untuk pertama kalinya Hyoyeon menunjuk seseorang di bahu orang itu—tindakan yang cukup tidak sopan kepada orang lain. Tapi sekali saja, ia ingin melepas topeng ketegarannya.

Gadis itu menghapus air mata—yang telah membuat jalur di pipinya. Ia tahu, menjadikan Jongin sebagai pelampiasan kemarahannya bukan hal yang patut di banggakan. Tak ada yang ingin tiba-tiba diteriaki dan dimarahi, kan? Tapi setidaknya ia tidak sepenuhnya bersalah. Biarlah nanti ia meminta maaf pada lelaki itu tapi tidak sekarang.

Ia hendak berbalik ketika sebuah tangan menahan pergerakannya dan suara itu kembali terdengar, “kau bertanya hal spele seperti itu padaku, huh?” ucap Jongin dengan nada yang sedikit sinis.

Spele? Bloody Hell!

Jongin masih memegang lengan gadis itu, “hal seperti itu takkan membuatmu mati.” Ucapnya dengan nada dingin, “bagaimana jika kau melihat ayahmu sendiri menusuk ibumu dengan pisau di depan matamu?” Hyoyeon melotot mendengar pertanyaan itu, “apa kau akan langsung dikirim ke neraka, huh?”

Gadis itu sedikit kaget saat Jongin bertanya sesuatu hal yang tidak ia pikirkan. Sesaat ia langsung ingat bahwa pernah beredar gossip tentang ayah Kim Jongin yang dimasukkan ke penjara.Ia juga ingat ketika Jongin pernah selama satu bulan tak muncul di sekolah. Mungkin itulah yang membuat Kim Jongin menjadi seorang brandal sekarang. Tapi gadis itu tak mengerti kenapa lelaki dihadapannya melontarkan pertanyaan seperti itu.

“Kau bilang, aku tak pantas menilaimu. Lalu kenapa kau terpengaruh dengan perkataan orang-orang, huh?” lengan itu masih memegang Hyoyeon erat, “kau bilang kalau aku lelaki yang disukai banyak gadis, tapi kau tidak tahu apa yang kurasakan.” Sekilas Hyoyeon melihat tatapan yang sedikit sendu dari mata hitam di hadapannya, “kalau begitu kau tak pantas menilaiku. Kau munafik, Hyoyeon.”

Dan detik berikutnya yang Hyoyeon rasakan adalah kasarnya permukaan tanah yang menghantam lututnya. Ia terjatuh. Ia terjatuh dengan air mata yang membanjiri wajahnya dan seorang Kim Jongin hanya terus menatapnya tanpa melakukan apapun.

Tidak. Lelaki itu sudah melakukan suatu hal. Setidaknya ia membuat Hyoyeon tegar karena ternyata masih ada orang yang jauh lebih menderita daripadanya. Cerita seperti ini saat masih SMA memanglah wajar jadi seharusnya ia tidak bertingkah kekanakkan hanya karena lelaki yang ia sukai menyukai sahabatnya dan—mungkin—sahabatnya juga membalasnya.

Setidaknya lelaki ini masih lebih menderita daripadanya. Ia dibalik topeng kesempurnaannya tetaplah seorang remaja lelaki yang mempunyai emosi dan kelemahan. Sayangnya, remaja ini tak tahu cara menumpahkannya.

Jongin berjongkok dihadapan Hyoyeon sambil memegang telapak tangan gadis itu yang memegang erat rok nya sendiri, “kau seharusnya tau suatu hal,” Hyoyeon masih terisak tapi tetap mendengarkan, “kau terlalu naif untuk tau seberapa cantik dirimu,” salah satu ibu jari lelaki itu mengusap air mata yang mengalir dari mata gadis dihadapannya, membuat Hyoyeon menatap lelaki itu, “kau terlalu sering menjatuhkan dirimu sendiri dihadapan orang lain,” isakan gadis itu perlahan berhenti tapi matanya tetap terfokus dengan lelaki dihadapannya.

Jongin tersenyum sessat sebelum melanjutkan, “dan kau terlalu bodoh untuk tahu ada seseorang yang selalu memperhatikanmu, bahkan menyukaimu.” dan telapak tangan yang besar itu berhenti di rahang tajam milik gadis dihadapannya. Dua pasang mata yang saling bertatapan tanpa ada yang berniat melepaskannya membuat kedua sejoli ini terlarut dalam dunia mereka sendiri.

Sampai akhirnya Hyoyeon menyadari perkataan Jongin yang keterakhir, “Kau…apa maksudnya?” otaknya masih memperoses ketika melihat Jongin tersenyum kearahnya, dan saat ia tahu yang dimaksud lelaki itu ia hanya bisa membelalakan matanya, “jangan-jangan…”

“Kurasa aku tak perlu menjelaskannya, kan,”

Dan yang terakhir Hyoyeon rasakan adalah sesuatu yang lembut dan basah menempel dipermukaan bibirnya.

.

.

.

“APA?!”

Hyoyeon mengernyit saat mendengar suara Sunkyu, sahabatnya, yang sangat menggelegar. Saat ini mereka sedang berada di kantin dan hampir dari seluruh penghuni kantin yang lain melihat kearah mereka berdua. Hyoyeon meminta maaf dan kembali focus dengan sahabatnya yang masih membelalakan matanya.

“Sunkyu-ya, kecilkan suaramu. Aku menceritakan ini padamu bukan agar semua orang tahu tentang hal itu,” ucap Hyoyeon sebelum menghela nafasnya dan memandang kesal Sunkyu.

Sunkyu menarik nafas sebentar sebelum kembali menatap Hyoyeon dengan normal, “Kau hebat sekali, Hyo-ya! Kim Jongin yang itu bisa sampai menciummu benar-benar sebuah keajaiban!”

“Jangan berlebihan,” Hyoyeon mengaduk jus jeruk dihadapannya, “dia pasti sudah mencium lebih dari setengah gadis disekolah ini,”

Sunkyu menatap Hyoyeon sebentar sebelum memandang penuh arti kearah sahabatnya, “Ah~ Kau cemburu ya~” ucap Sunkyu sambil menunjuk Hyoyeon, “Ternyata kau bisa menyukai seseorang secepat itu ya,” lanjut Sunkyu kemudian (“Aku tidak menyukainya, Sunkyu-ya,”)

“Kau salah besar kalau mengira Jongin sudah mencium banyak gadis,” Hyoyeon mulai menatap kearah sahabatnya, “dia tak pernah menerima gadis-gadis yang menyatakan cinta padanya. Dan ketika kau bilang, dia menciummu, aku sangat yakin kalau dia menyukaimu!” ucap Sunkyu bersemangat.

Hyoyeon menatap Sunkyu dengan alis yang mengangkat, “Kau tahu darimana tentang dia?”

“Kurasa, satu sekolah ini hanya kau yang tidak tahu sama sekali tentangnya,” ucap Sunkyu dengan pandangan malas.

Hyoyeon terkekeh sebentar sebelum kembali melanjutkan, “kalau begitu kau cocok dengannya, fans kalian sama-sama banyak,”

Sunkyu mendelik sambil menyeruput minumannya, “mendekati lelaki yang sudah mencium sahabatku sendiri? Tidak, terima kasih. Lebih baik aku berpacaran dengan keledai daripada mengkhianati sahabatku sendiri.”

“Hey! Apa maksudnya ‘mengkhianati?’ Kami tidak pacaran!”

Sunkyu tertawa melihat wajah sahabatnya yang memerah, “pantas saja kau tidak lagi mengepang dua rambutmu. Ternyata seorang Kim Hyoyeon sedang jatuh cinta~” dan lagi-lagi Hyoyeon hanya cemberut melihat Sunkyu yang terus menggodanya.

Saat tadi pagi, Hyoyeon memang memutuskan untuk mengubah sedikit penampilannya. Ia memang tidak berdandan atau menata rambutnya. Ia hanya mengubah ikatan rambutnya—yang asalnya berkepang dua menjadi rambut dengan gaya kucir kuda atau ponytail. Dan cukup membuatnya malu saat ia memasuki gerbang sekolah karena setiap orang yang melihat kearahnya.

Sunkyu masih tertawa dan Hyoyeon dengan wajah cemberutnya ketika ada sebuah suara yang menginterupsi kegiatan mereka.

“Hai.”

Dan sukses membuat kedua gadis itu membelalak tak percaya saat menyadari si pemilik suara tersebut.

Bukan seorang Kim Jongin jika tidak membuat orang lain penasaran dengannya. Seperti saat ini, hampir—tidak—seluruh melihat kearah meja mereka. Oh ayolah katakan ini berlebihan, lebay, alay, atau apapun bahasa remaja jaman sekarang tapi kalian harus tahu bahwa seorang Kim Jongin tak pernah menghampiri wanita apalagi menyapanya. Apa kalian perlu lagi underline dan italic?

Ini tak berlebihan. Kim Jongin memang seorang lelaki yang sangat, sangat, sangat, sangat, sangat, sang—baiklah hentikan itu. Maksudku, Kim Jongin adalah seorang lelaki yang sangat popular—sekaligus dingin kepada wanita. Ia tak pernah mencoba mengejar wanita atau apapun namanya. Mungkin salah satu alasannya kenapa dia seperti itu sudah aku sebutkan sebelumnya. Tapi tetap saja! Kim Jongin tak pernah menghabiskan waktunya untuk menyapa seorang wanita. Ia lebih sering menghabiskan waktu dengan teman-teman brandalnya daripada harus berkencan.

Dan sekarang ia menyapa wanita. Di kantin. Dimana ada ratusan anak yang melihat kejadian itu. Dan… harus aku sebutkan lagi seberapa popularnya dia? Kurasa tidak.

Meski ada seorang Sunkyu disana, tapi bukan gadis yang memiliki banyak penggemar itu yang ia tuju. Melainkan gadis dengan kuciran ponytail yang saat ini menatap bingung kearahnya.

“Jongin,” Hyoyeon membuka suara, “apa yang kau lakukan disini?”

Jongin mengangkat bahunya, “hanya menyapa. Apa tidak boleh?” dan lebih mengagetkan lagi ketika seorang Kim Jongin menjawab pertanyaan gadis yang dianggap banyak orang culun tersebut. Hell! Mereka saja yang tidak tahu apa yang telah terjadi, benarkan?

Jongin melihat kearah sekitar—kearah orang-orang yang terus memperhatikan mereka tanpa sembunyi-sembunyi, “kurasa tidak baik mengatakannya disini,” gumamnya. Hyoyeon tidak terlalu jelas ketika mendengarnya jadi ia hanya mengangkat alisnya. Tapi yang mengejutkan adalah ketika Jongin mendekatkan tubuhnya kearah Hyoyeon dan berbisik tepat ditelinganya, “puang sekolah tunggu aku di gerbang. Jangan kemana-mana.” Dan selanjutnya lelaki itu menegakkan badannya dan pergi meninggalkan Hyoyeon yang masih mematung dengan pipi merona.

Bisik-bisik di kantin malah terdengar seperti suara mesin bor yang berada di dekat rumahnya.

Ayolah Kim Jongin yang popular dan Kim Hyoyeon yang bukan apa-apa? Seseorang sedang membuat lelucon sepertinya. Tapi sudah kubilangkan mereka tidak tahu yang terjadi saat kemarin, benarkan?

“Apa yang dia katakan? Ayo cepat katakan, Hyoyeon-ya~”

Dan pertanyaan penasaran Sunkyu semakin membuat kepalanya pening. Seseorang bisakah tolong telfon ambulans sekarang?

.

.

.

“Menunggu seseorang itu menyedihkan ya,” Hyoyeon tiba-tiba mengucapkan itu sambil terus memandang burung yang terbang di atas mereka berdua.

Saat ini ia dan seseorang yang baru saja menciumnya sedang membaringkan tubuh masing-masing di padang rumput dekat sekolah dan melihat kearah langit. Tempat ini jarang dilewati oleh murid karena cukup jauh dari arah sekolah.

Mereka tak mempunyai hubungan apapun, seharusnya.

Tapi kenapa mereka berciuman?

Lalu sekarang mereka menatap langit bersama?

Dan mereka mengobrol?

Oke, lupakan yang keterakhir. Itu sangat wajar.

Jongin menutup matanya, “kau sedang menyindirku atau dirimu sendiri, hm?”

Hyoyeon mendelik kesal kearah Jongin yang menutup matanya.

Ia kembali melihat kearah atas ketika tiba-tiba Jongin mengatakan sesuatu.

“Aneh ya?”

Hyoyeon mengernyit mendengarnya, “aneh apanya?”

“Kau bukan gadis yang cantik,” Hyoyeon menghela nafas mendengar Jongin mengatakan itu, “bahkan dadamu juga rata,” Jongin masih menutup matanya—tak menyadari Hyoyeon yang mati-matian menahan hasrat ingin memukulnya, “tapi kenapa aku bisa menyukaimu?”

Dan pertanyaan terakhir membuat seorang Kim Hyoyeon bungkam. Benar juga.

Jongin membuka matanya dan mengubah posisinya menjadi miring kearah Hyoyeon dengan menopang kepalanya dengan sikunya, “kalau aku, aku takkan menunggu seseorang jika ada orang lain yang siap bersamaku,” matanya menatap kearah Hyoyeon yang juga membalas tatapan matanya.

Hening beberapa saat sampai akhirnya Hyoyeon mengeluarkan suara tawanya—yang membuat Jongin mengerutkan keningnya.

“Kau seperti sedang mengajukan dirimu padaku,” ucap gadis itu dengan senyuman diwajahnya.

“Memang begitu,”

“Kalau begitu kenapa kau tidak bersama dengan gadis-gadis yang siap bersamamu itu daripada menungguku?”

Jongin mendecak lidahnya sambil memandang kesal Hyoyeon, “kau gila? Manamungkin aku berpacaran dengan hampir dari semua gadis di sekolah,”

“Hampir?” Hyoyeon mengernyitkan dahinya.

“Hampir karena kau tidak menyukaiku.”

Dan hening kembali. Hening yang benar-benar canggung.

“Siapa bilang aku tak menyukaimu?” Jongin mengerjapkan matanya ketika mendengar Hyoyeon mengatakan itu, “kau benar. Untuk apa menunggu seseorang jika ada orang lain yang siap bersamamu.”

“Kau menerimaku?”

“Tidak juga.”

Jongin mendengus dan kembali ke posisi awalnya sambil melihat kearah burung diatas sana.

“Makanya, buat aku agar bisa menerimamu.”

Dan detik berikutnya Jongin langsung bangkit dari posisi berbaringnya dan memandang kearah Hyoyeon. Oh God! Mau dikemanakan reputasinya jika ada yang melihat keadaannya saat ini! Kaget dengan mata yang melotot dan mulut yang menganga? Tidak, tak ada yang pernah melihat seorang Kim Jongin seperti ini kecuali gadis didepannya, tentu saja.

“Maksudnya?”

Hyoyeon menghela nafas lalu ikut bangkit seperti yang dilakukan Jongin, “buat aku agar bisa menyukaimu. Bagaimana?”

“Tentu.” Jongin tersenyum miring—lebih tepat menyeringai, “akan kupastikan kau menyukaiku dan melupakan Yixing, Kim Hyoyeon.”

Benar. Jika ada seseorang yang siap bersamamu, untuk apa harus menunggu orang lain? Oh ayolah, Kim Hyoyeon bukan gadis yang sempurna. Ia berbeda dengan Sunkyu yang bisa memilih siapapun lelaki yang diinginkannya. Ia berbeda dengan Sunkyu yang selalu mendapatkan pujian dari setiap orang. Tapi setidaknya ia tahu ada seorang lelaki yang akan berusaha untuk membuatnya menyukai lelaki itu. Setidaknya ada seorang lelaki yang akan mengejarnya—mulai dari sekarang.

END

Note: Ini ff yang aku pake buat daftar jadi author di exoshidae ini, ingin lihat gimana respon para reader^^ (maafkan atas typo, lagi male ngedit hehe._.v) Oh ya aku update dua ff kemarin dan sekarang biar jagajaga aja mungkin setelah ini bakal sulit update lagi._.V RnR jangan lupa ya! Seribu cinta untuk kalian 😀

Advertisements

21 thoughts on “(Oneshoot) Because I’m Not a Perfect Girl

  1. Asli ff ini daebakk!!!!
    Alur ceritanya gampang dimengerti, bahasanya, castnya*lho? Pokoknya semuanya aku suka!!!
    Sequel dong,,, DAEBAK!! ^^

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s