[Freelance] Hurt (Chapter One)

rs-sequel

Title : Hurt || Author : Tiffany Tania || Genre : Sad, Angst, Married Life || Length : Chaptered

Cast by “Im Yoona GG’s –Park Chanyeol EXO-K’s”

Note : This is just a fanfic, dont think to much. All of the cast its belong to God, themselves, theirparents and also SM.Entertaimet but the storyline its pure mine.

Ini adalah sequel dari Romantic Street, bagi yang belum baca silahkan klik! Bagi yang sudah, silahkan baca FF ini hehe xD
So, please enjoy!^-^

—-

Hai, apa kalian masih ingat denganku? Aku, Im Yoona seorang wanita yang dipersunting oleh seorang lelaki bertubuh tinggi bernama Park Chanyeol. Seorang wanita yang bertemu jodohnya di sungai Thames tepatnya di Oxford Street, City of Westminster – London.

Seorang wanita yang selalu bersabar dengan kesibukan – kesibukan suaminya itu, suami yang melupakan moment penting yaitu hari jadi pernikahan kami yang pertama.

Lalu, lima tahun kemudian..

Aku dikaruniai seorang anak perempuan yang sangat cantik dan lucu bernama Kenneth Nicole Brodsky. Sejak dikaruniai Nicole, jujur saja Chanyeol-suamiku itu sudah banyak berubah. Dia lebih sering menghabiskan waktunya bersama kami.

Meskipun hanya sekedar sarapan pagi bersama tapi itu adalah hal yang sangat langka di dalam kehidupan rumah tanggaku.

Semenjak Nicole merengek ingin diberi adik, Chanyeol lebih sering memerhatikanku hingga akhirnya dia memberiku seorang anak lagi, ya aku kini tengah mengandung anak lelaki (yang katanya– hasil USG) dari suamiku yang sangat aku sayangi.

Kini, Nicole sudah berusia tujuh tahun kini dia sudah menduduki kelas dua sekolah dasar.

Semuanya terasa indah saat itu, namun tidak dengan sekarang.. Karena dia sudah lupa akan aku, Nicole, dan calon anak keduanya ini.

Semuanya berawal pada saat kedatangan wanita itu..

FLASHBACK

Pagi itu, aku tengah mempersiapkan sarapan untuk Nicole dan Chanyeol suamiku. Oh ya, aku tengah mengandung saat itu. Usia kandunganku saat itu menginjak bulan ketiga.

Bunyi derap langkah Nicole yang menuruni tangga terdengar sangat jelas, tak lama kemudian suara derap langkah itu kembali terdengar. Aku menoleh, ternyata Chanyeol dan Nicole tengah bergandengan menuju meja makan keluarga.

Mom.. Aku lapar!” rengek Nicole. Segera saja aku menyajikan spagethi kedalam dua piring disebelah wajan. Yang satu untuk Nicole dan yang satu lagi tentu saja untuk suamiku, Park Chanyeol.

“Ini sayang.. maaf menunggu lama” ujarku sambil menyajikan kedua spagethi dihadapan mereka. Kulihat Nicole yang langsung makan dengan semangat, bahkan sausnya sampai berceceran dimana – mana. Aku hanya terkekeh pelan, “Nicole.. pelan – pelan makannya sayang! Kau bisa tersedak”

Nicole hanya tersenyum, “I’m sorry mom!

Berbeda dengan suamiku, dia tengah sibuk membenarkan dasinya itu. Beberapa kali dia mencoba namun selalu gagal, bisa kulihat dia mengerucutkan bibirnya kesal membuat aku tersenyum.

“Sudah kubilang.. Jika tidak bisa jangan sok-sokan!” ujarku terkekeh pelan sambil membenarkan letak dasi yang sudah suamiku rancang itu. Chanyeol semakin mengerucutkan bibirnya, aku mencubit bibirnya gemas. “Kau semakin terlihat tampan..”

Chanyeol hanya mampu mendengus kesal, “Ya! Kau ini selalu saja menggodaku membuatku kesal saja” rutuknya kesal. Nicole hanya tertawa, “Mom, Dad.. bisakah kalian tidak bertengkar dipagi hari seperti ini?”

Aku, Chanyeol dan Nicole langsung tertawa, mampu kurasakan kesempurnaan keutuhan keluarga. Aku sangat menyayangi mereka tak sekalipun terpintas dibenakku untuk meninggalkan mereka.

Nicole turun dari bangku dan meraih tas kecilnya, lalu meraih lengan Chanyeol. “Dad.. ayo cepat! Ini sudah siang!”

Belum sempat makan Chanyeol menghembuskan nafas kesal, “Nicole, ayah belum makan sesuap pun. Tunggu ayah sebentar ya?” ujar Chanyeol sambil mengelus lembut rambut Nicole. Nicole memanyunkan bibirnya, “No no no! Comeon dad.. Please! Aku bisa dihukum lagi nanti!”

Chanyeol hanya bisa pasrah, jika saja dia semalam tak menonton pertandingan Manchester United vs Real Madrid dia yakin dia sekarang bisa memakan masakan istrinya yang sangat enak itu.

Aku hanya menggelengkan kepala, melihat anak dan suaminya yang bertingkah layaknya seorang anak kecil. Aku mengantarkan Chanyeol dan Nicole sampai kedepan pintu.

Nicole berhambur memelukku lalu menciumi kedua pipiku tak lupa kucium bibirnya yang tipis itu. “Be careful baby, don’t forget my message ok?”

Okey mom, bye~” ujarnya berlari kecil kemobil. Aku mencoba membenarkan lagi dasinya yang masih terlihat kurang rapi, “Kau lembur lagi?” tanyaku.

“Entahlah, sepertinya tidak”

Chanyeol mencium keningku pelan tak lupa perutku juga, tempat dimana calon anak keduaku. “Aku pergi, kau berhati – hatilah disini. Aku akan menghubungimu nanti!” ujarnya sambil berlalu. Sebelum mobil itu melesat jauh, Nicole melambaikan lengannya kearahku.

Aku hanya tersenyum, “Bye!”

Aku tersenyum dihadapan cermin, “Kau cantik, Im Yoona!” ujarku memuji diriku sendiri. Kuraih tas selendang kecil dan ponselku. Tak lupa aku membawa sekotak bekal untuk suamiku itu dan mengunci rapat rumah.

Ku stop taksi yang melewatiku dan mulai menaikinya. “Pak, antarkan aku ke London Gazette

Langsung saja mobil itu melesat ketujuan. Didalam mobil aku hanya tersenyum sambil sesekali mengelus pelan perutku ini.

Sesampainya disana seluruh karyawan membungkuk hormat kepadaku, aku hanya membalas mereka dengan bungkukan dan senyum merekah diwajahku.

“Sehun, apa kau melihat Chanyeol?” tanyaku pada Sehun, salah satu rekan kerja sekaligus suami dari sahabatku, Tiffany. “Baru saja dia menyelesaikan meeting, sepertinya dia sedang ada diruangannya” ujarnya tersenyum.

Aku hanya mengangguk, sebelum pergi aku memanggil Sehun lagi. “Sehun! Kudengar..” ucapku mendekat kearahnya. “Tiffany sedang mengandung, apa benar?” ucapku melanjutkan sambil berbisik.

Sehun hanya tersenyum dan menggaruk tengkuknya, “Iya, usia kandungannya masih satu bulan Yoong” Aku tersenyum sumringah mendengarnya, “Chukkae! Jika anakmu perempuan akan kujodohkan dengan anakku ini” ujarku mengerlingkan mata nakal, bercanda.

Sehun tertawa pelan, “OK!”

Aku berjalan pelan menuju ruangan Chanyeol, setibanya disana kulirik dia lewat kaca transparan. Kulihat dia sedang termenung, aku mengernyit bingung dan masuk kedalam.

“Sayang?” tanyaku namun Chanyeol masih tak menyadari kehadiranku. Aku mendekat dan mengelus pundaknya pelan, “Kau kenapa?”

Dia terhenyak kaget, lalu tersenyum. “Tidak apa – apa, hanya saja sedikit pusing”

Aku menyimpan tasku diatas meja kerjanya, kupijat pelan kepalanya. Namun tiba – tiba dia tertidur manja dipangkuanku. “Aku hanya butuh istirahat..” ujarnya sambil memejamkan mata.

Kuelus pelan rambutnya itu, dia terlelap.

“Jangan meninggalkanku ya? Apapun yang terjadi.. kumohon” ucapnya mengigau sambil menggenggam erat lenganku. Aku hanya tersenyum simpul, “Tak akan pernah sayang…”

Nicole sedang terduduk manis diayunan itu, dia sedang melamun. Memang, temannya disekolah tak cukup banyak. Hanya Erika, sahabat satu – satunya. Namun hari ini Erika tidak masuk dikarenakan dia sakit.

Melamun, hanya itu yang dia lakukan disana.

Namun tiba – tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya pelan. Lantas dia menoleh, “You?” tunjuknya tak percaya pada seorang anak lelaki sebaya dengannya. Wajah polos itu, wajah yang pernah dia lihat disuatu tempat. Namun, dia sepertinya sudah lupa.

“Masih mengingatku, manis?” ujarnya dengan suara menggoda. “Aku.. Byun Baekhyun lelaki yang kau temui di sungai Thames, remember?”

Nicole menyipitkan mata sambil mengetuk telunjuk pada kepala, berpikir. Lalu dia tersenyum, “Oh, ya aku ingat” ujar Nicole acuh. Memang dia sangat ketus jika berhubungan dekat dengan lelaki, bisa terbukti hanya Erika sahabat satu – satunya yang dia miliki.

Bocah lelaki bernama Baekhyun itu duduk disebelah Nicole, “Mulai hari ini aku akan satu kelas denganmu!”ujarnya semangat. Nicole membelalakkan matanya, “Seriously? Oh my god..”ujarnya menepuk pelan keningnya.

Baekhyun hanya tersenyum melihat tingkah lucu Nicole, sekali lagi dia menggoda Nicole dengan mencolek dagunya. “Kau sangat lucu sekali!”

Nicole mendengus kesal, “YA! KAU! AWAS YA!” ucap Nicole sambil berlarian mengejar Baekhyun.

Yoona masih mengelus pelan kepala Chanyeol, dia masih tertidur lelap. Namun semenit kemudian Chanyeol terbangun dari tidurnya. Dia mengucek matanya asal dan menatap bingung keseluruh ruangan.

“Apakah tidurmu nyenyak Tuan?” tanyaku sambil tersenyum. Chanyeol menatap kearahku dan tersenyum, “Gomawo, Yoong

Aku memasang wajah kesakitan, kupukul – pukul kakiku terus menerus. Chanyeol mengernyit tak mengerti, “Kau kenapa Yoong?”

“Aah.. ini kakiku.. Pegal” ucapku manja. Tak apalah sekali – kali aku yang bermanja – manjaan pada suamiku. Chanyeol lantas berlutut dihadapanku dan memijat kakiku lembut. “Bagian mana yang sakit? Ini? Atau yang ini?” ujarnya memijat kakiku.

Aku terkekeh pelan, “Aku ingin digendong!” rengekku pada Chanyeol. Chanyeol membelalakkan matanya, “Kau sudah besar Yoong, kau berat! Tidak!” ucapnya menolak.

Seolah tak menyerah, aku mulai menarik lengan bajunya. “Aaaah.. kumohon sekali saja, ya?” ucapku sambil mempoutkan bibir.

Chanyeol menyerah, dia berlutut. “Baiklah, ayo naik!”

Aku tersenyum sumringah dan menaiki punggung suamiku itu, aku memeluknya dengan sangat erat. Chanyeol menggendongku dan mengelilingi ruangan kerjanya yang cukup luas itu, “Gomawo chagiya!” ucapku sambil mencium pipinya.

Namun tiba – tiba pintu kantor Chanyeol terbuka, seorang wanita yang mengenakan pakaian formal memasuki ruangan suamiku dengan membawa berkas – berkas.

Lantas saja Chanyeol menurunkanku. Aku hanya terdiam melihat wanita itu, wanita yang memakai rok sangat minim. Wanita berparas blasteran, dengan kesan ketus itu. Hatiku berdebar tak menentu, merasakan perasaan yang tidak enak.

“Ada berkas yang harus diselesaikan sekarang Pak” ucapnya sopan. Chanyeol menghampirinya, “Simpan saja, akan aku selesaikan sekarang juga” dan langsung duduk dikursi kerjanya lagi.

Aku masih mematung dibelakang, sedangkan wanita itu hanya tersenyum sinis kearahku sambil sesekali mengerlingkan mata kearah Chanyeol. Buku – buku tanganku terkepal kuat, “Dasar genit!!” ujarku dalam hati.

Diapun keluar ruangan tak lupa sekali lagi dia mengerlingkan mata kearah Chanyeol.

Aku semakin mengepalkan tanganku kuat – kuat. Aku menghampiri meja Chanyeol, “Mengapa dia bisa bekerja disini? Apa dia sekretaris barumu, hm?” ucapku ketus dan duduk disofa.

Chanyeol mengacak rambutnya frustasi, “Okey, aku akui dia sekretaris baruku tapi hubunganku dengannya tak lebih dari rekan kerja, Yoong. Mengertilah”

“Cih, pantas saja kau betah lembur disini! Ternyata dia ada disini! Baiklah, aku pergi menjemput Nicole dulu” ucapku meraih tas kecil “Dan jangan ikuti aku!” ucapku menunjuk kearah Chanyeol.

BAM!

Terdengar suara debaman keras dari pintu kerja Chanyeol, Chanyeol hanya mendesah pelan sebenarnya dia tahu jika semuanya akan seperti ini.

Yoona pergi dari kantor suaminya dengan berderai air mata, lantas dia pergi kesekolah Nicole untuk menjemputnya.

Tiba – tiba pintu terbuka lagi, lantas Chanyeol menoleh, “Yoong?”

“Jessica! Namaku Jessica! Bukan Yoona!” ujar wanita itu wanita yang merusak suasana romantis antara dirinya dan istrinya, Yoona.

Chanyeol diam tak bergeming sama sekali, dia menutupi wajahnya dengan kedua lengan. Jessica menghampiri dan mengusap tengkuk Chanyeol pelan dan berbisik, “Ini belum seberapa sayang…”

“Hentikan Jess! Kumohon! Jangan rusak rumah tanggaku dengan Yoona! Aku bahagia bersamanya!” sentak Chanyeol yang membuat Jessica tertawa terbahak – bahak.

“Hahaha! Tapi aku? Aku tidak bahagia melihat kau bersama wanita jalang itu! Dia merebut kau dariku!” suara Jessica semakin meninggi.

Chanyeol bangkit dari duduknya, “Aku yang memilihnya! Jangan berani – berani kau sentuh istriku! Atau…” ancam Chanyeol pada Jessica.

Jessica tersenyum sinis, “Atau apa? Kau akan memecatku, iya? Jika iya bisa kupastikan istri dan calon anakmu tak akan selamat!” ucap Jessica lirih hampir seperti berbisik dan memeluk Chanyeol.

Chanyeol meneguk salivanya pelan, dan mengepalkan tangannya kuat. “Jessica Jung!” ucapnya mengutuk Jessica dalam hati.

Mommy!” teriak seorang bocah kecil dengan rambut dikuncir dua itu. Lantas saja, aku menghapus air mataku.

“Hei! Bagaimana harimu?” ucapku mensejajarkan posisiku dengannya, Nicole. Nicole menyipitkan matanya heran, “Mommy, are you cry?” ucapnya menghapus sedikit air mata dipelupuk mataku.

Aku menghapusnya, “Im fine baby, it’s ok! Let’s go” ucapku menggandeng lengan Nicole. Nicole menghentikan langkahnya, “Dimana daddy? Apa dia tak mengantarkanmu mom?”

Aku hanya tersenyum pahit, dan mengelus pelan pipi Nicole. “Ayahmu sibuk sayang.. dia lembur sepertinya”

Nicole mengangguk mengerti dan menarik lenganku, “Oh begitu ya.. Lets go mom!” ucapnya semangat. Melihat senyumannya membuatku semangat lagi, dialah salah satu sumber semangatku.

Mengingat Chanyeol hatiku merasakan perih lagi, “Ayahmu.. Ayahmu menyakiti ibu sayang.. hati Ibu perih..” ucapku dalam hati.

*TBC*

4 thoughts on “[Freelance] Hurt (Chapter One)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s