Our Test – Chapter One

Our Test SuFany

Our Test – Chapter One

[icydork] | Suho and Tiffany | Marriage-life, Sad, Romance | All Rated

Seorang wanita dengan perut yang membusung ke depan itu terbaring lemah di atas lantai yang sangat dingin. Secarik surat yang bertuliskan beberapa kalimat pendek berada di genggaman tangan kanannya. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, muncullah seorang pria tampan dibalik pintu tersebut.

Raut wajah pria itu berubah menjadi khawatir ketika melihat wanita yang tengah terbaring di atas lantai tersebut, “TIFFANY!”

Pria itu langsung menghampiri wanita itu lalu mengangkatnya dan meletakkannya ke atas ranjang mereka. Setelah itu, perhatian pria itu tumpah pada ponsel milik Tiffany yang berada di sisi pinggir ranjang tersebut. Suho meraihnya dan mengeceknya.

“Bodohnya!” Keluh Suho sambil memukul dahinya sendiri ketika melihat ponel milik Tiffany itu menandakan bahwa Tiffany sudah menghubungi Suho lebih dari sepuluh kali. Inilah kebodohan Suho yang tidak dia sadari.

Suho langsung meraih surat yang berada di genggaman Tiffany. Dia membacanya perlahan-lahan, menyerapi seluruh kata dan kalimat yang tertera di atas kertas itu.

Kau akan mati, Tiffany!

Aku tidak akan membiarkan anakmu lahir dengan selamat!

Dan aku tidak akan membiarkanmu hidup bahagia dengan pria bajingan itu!!

Lagi-lagi surat kaleng, pikir Suho sambil meremas surat tersebut. Suho khawatir dengan keadaan Tiffany yang tengah hamil besar ini. Dia takut jika Tiffany mengalami sesuatu, dia takut jika kandungan Tiffany tidak baik, dia takut jika anak mereka nanti tidak sehat, dia takut jika Tiffany tidak selamat karena ancaman-ancaman keparat ini.

Suho membuang surat kaleng itu. Itu sudah hal yang sangat teramat biasa oleh Suho. Karena dia lebih sering membakar surat itu agar tidak muncul lagi. Suho melepas dua kancing dari atas kemejanga itu lalu duduk di pinggiran ranjang milik mereka.

“Huh.. Jangan ganggu ah-ku!” Tiffany mengigau. Suho sudah tidak heran, bahkan Suho akan heran jika Tiffany tidak mengigau. Tiffany selalu mengigau selama tidurnya sejak ancaman surat-surat kaleng itu datang. Pikiran Tiffany jadi sedikit bermasalah, dia jadi sedikit lebih ketakutan dari sebelumnya.

Suho bangkit berdiri dan segera membersihkan dirinya yang baru saja pulang kerja itu.

Suho membuka laci yang terbuat dari kayu yang berada di kamar mereka –Tiffany. Tiffany masih tidur terlelap di dalam tidurnya. Tadi Tiffany sempat sadar dan dengan cepat Suho memberikannya makan malam. Suho menyuapinya. Suami yang baik, bukan?

Suho mencari surat dari dokter kandungan Tiffany yang diberikan beberapa hari yang lalu. Suho masih kurang mengerti, ah, maksudnya Suho masih belum bisa menerima dari isi surat tersebut.

“Nah!” Seru Suho begitu dia mendapati sebuah amplop besar yang berisi surat dari dokter tersebut. Suho mengeluarkan kertas tersebut dambil menarik afasnya dalam-dalam. Dia memejamkan matanya dengan kuat, dia masih belum berani membaca surat itu kembali.

Suho membuang nafasnya kasar dan membuka matanya, dibacanya kata perkata, kelimat perkalimat. Jujur, dia dalam hati Suho terdalam, dia berharap matanya salah membaca kalimat atau tulisan di atas kertas ini dapat berubah. Namun nihil. Setiap kata dan kalimat masih sama bahkan persis.

Mata Suho memerah, cairan bening muncul perlahan di mata Suho. Dengan cepat Suho menghalang cairan tersebut jatuh. Yah, Suho mempunyai statement tersendiri. Laki-laki menangis? Yang benar saja, haha! Itu yang akan dikatakan Suho jika dia hampir dipergoki oleh Tiffany yang sedang hampir menangis.

Tapi kali ini Tiffany sednag tertidur. Mengapa Suho masih menghapus air matanya?

Suho masih berharap. Berharap bahwa surat dari doket yang membicarakan tentang kandungan Tiffany itu salah. Anak yang dikandung Tiffany tidak mungkin mengalami keterbelakangan mental.

Suho kesal. Suho sedih. Suho marah. Setelah kabur dari Negara mereka, Amerika karena tidak direstui oleh kedua pihak dari mereka lalu anak mereka yang harus mengalami keterbelakangan mental? Malang sekali hidup mereka.

“Suho.” Panggil Tiffany. Suho sadar lalu membuang surat tersebut ke atas tanah lalu menoleh ke Tiffany.

Suho tersenyum menyambut panggilan Tiffany itu.

“Kau sedang apa?” Tanya Tiffany. Wajahnya terlihat pucat, tampilannya tidak rapi.

“Tidak. Kau kenapa bangun?” Tanya Suho.

Tiffany memeluk kedua lengannya, “Aku takut.” Jawab Tiffany.

“Kena—“

“Dia mendatangi kita lagi, Suho. Dia tahu rumah kia sekarang. Kita harus pindah lagi.” Potong Tiffany.

Suho menghelakan nafasnya, “Tiffany, dalam dua bulan ini kita sudah pindah dua kali.”

“Tapi—“

“Tak apa. Besok aku akan mencari rumah yang paling aman untuk kita,” Jawab Suho menggantung. Suho membaringkan tubuhnya sambil menyilangkan tangannya ke belakang kepalanya. “Lebih baik kita tinggal di pinggiran kota.” Lanjut Suho.

Tiffany terdiam. Dia sedang sibuk dengan pikirannya. Bukankah itu terdengar egois? Memaksa Suho untuk selalu pindah. Hei, Tiffany, sadarlah!

“Bagaimana dengan pekerjaanmu? Kantormu di kota, sayang.” Ucap Tiffany berusaha merubah pikiran Suho agar tidak jadi pindah.

“Aku bisa pulang pergi setiap hari kok.” Ucap Suho sambil tersenyum.

“Tidak, aku tidak mau. Aku mau menjadi istri yang baik, bukan istri yang egois.”

“Aku tidak meng-klaim dirimu egois ‘kan? Tenanglah, kita mempunyaii kendaraan yang layak. Yang terpenting, kau dan calon anak kita tidak tertekan lagi.”

Tiffany refleks memeluk perutnya yang tengah mengandung enam bulan itu.

“Aku tidak mau dia kenapa-kenapa.” Ucap Tiffany.

“Dia tidak akan kenapa-kenapa, percayalah.” Ucap Suho.

“Suho.” Panggil Tiffany lagi.

“Huh?” Respon Suho. Baru saja dia memejamkan matanya.

“Aku..aku ta-takut.” Ucap Tiffany sambil memeluk selimutnya dan menariknya sampai menutupi setengah wajahnya.

Suho memeluk Tiffany dari samping. Tiffany selalu ketakutan jika malam-malam seperti ini.

“Ada aku, tenanglah.” Ucap Suho. Tiffany menggeleng, Suho bisa merasakan pergerakkan kepala Tiffany.

“Ada apa?” Tanya Suho yang sadar bahwa Tiffany telah menggeleng.

“Aku yakin dia ada diluar!” Tiffany bangkit berdiri dari tidurnya dan berlari keluar kamar layaknya seorang wanita yang sedang tidak hamil.

“Ada apa lagi?!” Suho pun menyusul Tiffany.

“PERGI KAU!” Teriak Tiffany sambil berlutut di depan rumah mereka. Suho menyusul dari belakang langsung membantu Tiffany berdiri.

“Pergi! Jangan ganggu aku!” Tiffany memberontak, dia menyikut perut Suho sampai Suho meringis kesakitan.

“Tiffany, ini aku, Suho!” Teriak Suho. Tiffany terdiam. Namun perlahan tubuhnya melemas. Untung saja Suho masih menopang tubuh Tiffany. Lagi, untuk kedua kalinya, Tiffany pingsan. Suho menoleh kanan-kiri sambil mengangkat tubuh Tiffany. Tidak ada siapa-siapa. Lalu kenapa Tiffany meneriaki seseorang?

Jarum jam menunjukkan angka satu namun Suho masih berada di ruang tamu, duduk di atas sofa empuk dengan secangkir kopi yang berada di tangannya. Dia memerhatikan Tiffany yang tertidur dari sini –pintu kamar dibiarkan terbuka.

Kantung mata muncul di wajah mulus Suho. Dia tetap mengantuk walaupun sudah minum dua cangkir kopi malam ini. Suho menyanggakan kepalanya ke sofa. Sebuah cairan turun lewat ujung mata Suho. Dia menangis.

Suho berusaha mengingat-ingat, apakah dia mempunyai musuh di dalam dunia bisinisnya, sepertinya tidak. Otaknya bekerja secara terus-menerus. Berusaha mencari tahu siapa di balik ini semua ini. Suho menjambak rambutnya pelan, siapa tahu dia melakukan hal tersebut dia bisa mengingatnya kembali?

“Ah!!” Respon Suho lalu membenarkan posisi duduknya. Dia ingat perkataan Tiffany.

“Lee Donghae adalah mantan kekasihku tapi.. dia sudah meninggal.”

Suho terkekeh pelan. Bagaimana bisa dia berpikir ini ulah hantu? Suho menutup wajanya dengan telapak tangannya, kepalanya berat, dia sangat mengantuk. Sekali lagi, Suho meraih secangkir kopi tersebut lalu meneguknya hingga habis dan kembali ke acaranya –bergadang untuk Tiffany. Lagi pula besok kantor libur, tidak salahkan?

TBC

27 thoughts on “Our Test – Chapter One

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s