[Freelance] Lovhobia (Chapter 3)

lovhobia

Tittle: Lovhobia! (chap  3) || Author: AegyoKyung (Rie Fujiwara) || Cast: Seo Joo Hyun (GG) Xi Lu Han (EXO) || Other Cast: Oh Se Hun (EXO) || Genre: Romance, Family, School-life || Rated for Teen || Length: Chapter || Author’s Note: Annyeong~ Author comeback bawa Lovhobia chap 3 ._. adakah yang masih ingat ? >_<  Big thanks for Mizuky@CafeArt yang udah bikin georgeous poster. Okay happy reading and Sorry for Typo(s) ^^

-o0o-

Dear you, dont be afraid to love me

-o0o-

“Seohyun-ah, maukah kau pergi ke festival Chuseok nanti malam bersamaku ?”

-o0o-

Seohyun hampir saja berteriak jika saja dirinya tidak segera menggigit bibir bawahnya. Senang ? Tentu saja senang ! Tetapi ia senang bukan karena Luhan yang akan mengajaknya pergi bersama nanti di festival Chuseok, melainkan ia senang karena ia baru menyadari bahwa festival Chuseok-kesukaannya itu sebentar lagi akan tiba. Ia telah membayangkan banyak hal-hal berbau Chuseok seperti Hanbok, Sangpyeon, Toran-tang, dan yang lainnya. Masalah Luhan mengajaknya ? Entah, antara ingin mengiyakan dan menolak. Pasalnya jika ia akan pergi dengan Luhan, bagaimana dengan Sehun ? Mana bisa ia harus meninggalkan adiknya itu disaat festival besar nanti?

“bagaimana, Seohyun-ah ? Apakah kau mau ?” tanya Luhan lagi, kali ini penuh dengan rasa penasaran. Sepertinya Luhan harus menyiapkan mental yang cukup untuk mendengarkan jawaban Seohyun. Pertama, ia harus menyiapkan mentalnya agar tak berjingkrak-jingrak kegirangan karena rencananya sukses—Seohyun menerimanya. Kedua, ia juga harus menyiapkan mentalnya agar tak terlalu down jika Seohyun menolak tawarannya ini.

Belum selesai menyiapkan mentalnya, Luhan sudah dikejutkan oleh anggukan kepala dari seorang Seohyun. Tunggu….Jika Seohyun menganggukkan kepalanya, apa itu berarti Seohyun menerima tawarannya ? Benar, Seohyun menerima tawarannya ! Luhan tersenyum lebar, amat lebar. Jika sekarang hanya dia saja yang berada di kelas ini, tentu saja ia akan berteriak sekeras-kerasnya, menumpahkan seluruh rasa senangnya. “Benarkah Seohyun-ah ?”

Seohyun kembali mengangguk, membuat Luhan semakin yakin Seohyun menerima tawarannya. Dengan segera ia mengambil handphone miliknya, dan mengetikkan sesuatu pada Sehun untuk kelanjutan rencananya nanti malam.

‘ Hun-ah, rencana awal berhasil ! Siapkan untuk rencana berikutnya’

-o0o-

Seohyun barusaja meletakkan sisir keroro kesayangannya ketika ia mendengar suara bel mobil dari luar rumahnya.Seohyun meraih tas tangan pemberian Sehun, kemudian berdiri sebentar di depan cermin. Setelah dirasa cukup rapi, Seohyun pun berlari bergegas menuju sebuah mobil hitam yang ia duga sebagai mobil milik Luhan. Sebelumnya ia berhenti sejenak,  sebelum akhirnya ia tersenyum dan melanjutkan langkahnya ketika Luhan membukakan pintu mobil untuknya, seraya tersenyum lebar.

“Ehm, Luhan-ssi, kemana kita akan pergi ?” tanya Seohyun membuka pembicaraan, sekaligus sebagai pemecah suasana hening nan canggung yang sedari tadi mereka ciptakan selama perjalanan. Luhan menatap Seohyun, kemudian berkata, “ Kurasa kita akan pergi ke tepi Sungai Han. Kudengar mereka juga mengadakan event spesial untuk festival Chuseok malam ini. Bagaimana Seohyun-ah ? Apa kau tidak keberatan ?”

“Tentu saja tidak,Luhan-ssi”

Jawaban dari Seohyun mungkin adalah penutup pembicaraan mereka. Dan kini mereka kembali hanyut dalam suasana canggung dan hening. Seohyun menghabiskan waktunya dengan memainkan sebuah game yang ada di handphone nya, sedangkan Luhan tengah sibuk  berdoa. Berdoa agar rencana yang ia bangun bersama Sehun itu berhasil sempurna. Atau paling tidak berjalan sesuai dengan apa yang mereka harapkan.

“Uhm, bagaimana dengan Sehun ? Apa ia betah di rumah disaat seperti ini ?” Tanya Luhan basa-basi. Padahal ia sudah tahu jelas bahwa Sehun telah mendahuluinya pergi ke Sungai Han dan kini Sehun bersama kawannya—Kris sedang mengatur rencana mereka sebaik mungkin. Dan yah, ini hanya sekedar pemecah keheningan mereka saja. Dan sedikit catatan, biasanya Luhan benci suasana canggung. Jika canggung, Luhan akan berbicara panjang lebar demi menghilangkan suasana itu. Namun kali ini ia hanya bisa berbicara sekenanya saja.

“Sehun ? Ah tentu saja ia tak mungkin betah dirumah.Awalnya aku takut ia takkan bisa merayakan festival ini. Namun beruntungnya tadi sore dia izin pergi ke suatu tempat bersama temannya. Yah, setidaknya aku bisa pergi dengan lega” jawab Seohyun yang masih belum mengalihkan pandangannya dari handphonenya itu. Luhan mengangguk-angguk mengerti dan kembali membungkam mulutnya, membiarkan suasana canggung menyelimuti mereka lagi.

Setelah hampir duapuluh menit perjalanan, akhirnya mobil yang Luhan kendarai pun sampai di depan tempat parkir Lotte-World. Karena terlalu banyak mobil, mereka harus memutari tempat parkir ini karena tempat yang lain penuh. Setelah memarkirkan mobilnya, Luhan segera menggandeng tangan Seohyun ke arah pintu masuk. Namun, Luhan berhenti setelah ia menyadari bahwa tangannya tengah menggandeng tangan gadis manis di belakangnya ini. “Mianhae” ujarnya singkat sembari melepaskan genggaman tangannya.

Sedangkan Seohyun hanya tersenyum malu.

-o0o-

Perayaan semalam sebelum festival Chuseok malam ini sangatlah padat pengunjung. Baik anak-anak, remaja, hingga para manula semuanya berkumpul disini. Entah itu hanya untuk membeli bahan makanan untuk besok, membeli hanbok atau alat make up, atau bahkan hanya berjalan-jalan biasa. Lagipula, itu semua juga tidak terlalu penting bagi Luhan. Karena sebagai warga pendatang baru dari China, tentu ia tidak tahu apa-apa tentang Chuseok. Yang ia ketahui, Chuseok adalah thanks-giving day yang biasanya Korean laksanakan setiap pertengahan bulan september.

Luhan yang sedari tadi hanya berdiri tidak jelas sambil menatap aktivitas warga Korea yang lalu lalang merasakan tangannya ditarik oleh seseorang. Siapa pelakunya ? Siapa lagi kalau bukan Seo Joo Hyun. Seohyun tengah menarik Luhan, menerobos para Korean yang berada disana dan akhirnya langkah mereka berdua terhenti di depan salah satu stand yang menjual Hanbok. Luhan menghela nafas panjang setelah gadis itu menariknya kembali masuk ke dalam stand itu.

Luhan mengedarkan pandangannya—mencari tempat duduk yang nyaman dan tenang. Dan berkat ketajaman matanya yang dianugerahkan oleh Tuhan kepadanya, akhirnya ia menemukan sebuah kursi kecil yang berada di pojok sebelah kanan stand. Tanpa ragu-ragu, ia meninggalkan Seohyun yang tengah memilih-milih hanbok menuju kursi yang akan menjadi singgasananya untuk sementara waktu.

“Luhan-ssi !”

Luhan mendongakkan kepalanya dengan terpaksa dari layar handphone nya menuju gadis yang kini tengah menatapnya dengan mata berbinar-binar sekaligus dua hanbok  wanita dengan warna berbeda di kedua tangannya. “Ada apa, Seohyun-ah ?”

Seohyun mengerucutkan bibirnya, menambah kesan childish sekaligus menggemaskan. “bisakah kau menentukan salah satu yang terbaik di antara dua hanbok ini ? Aku tak dapat memilih yang terbaik salah satu diantara keduanya, maka aku meminta bantuanmu. Bagaimana ?”

Luhan menatap satu persatu hanbok yang berada pada tangan Seohyun. Hanbok  pertama dengan Jeogori  berwarna putih bersih dengan Chima  berwarna merah muda. Hanbok  kedua dengan Jeogori  berwarna merah muda dengan Chima  berwarna biru laut. Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya jari telunjuk Luhan menunjuk hanbok pertama. “Kurasa Hanbok itu pantas untukmu, Seohyun-ah”

Alasan dibalik pilihan Luhan yang memilih hanbok  dengan  jeogori  putih dan Chima merah muda adalah wajah Seohyun yang terlihat lembut dan polos, walaupun sangat berbalik dengan sifatnya yang sedikit dingin dan tertutup. Ah, sudahlah. Akhirnya Luhan kembali memainkan handphone nya sesaat setelah Seohyun meninggalkannya sejenak untuk membayar hanbok  yang akan ia beli.

“Ya Luhan-ssi !!” Seohyun menatap Luhan dengan pandangan innocentnya, begitu juga Luhan yang menatap Seohyun dengan pandangan tak kalah Innocentnya. “Kau tidak membeli hanbok ?”

“untuk apa ?” tanya Luhan santai. “Aku bukanlah Korean seperti kalian. Jadi, apa aku perlu mengikuti peringatan Chuseok besok ?”

Seohyun memutar bola matanya, kemudian tangannya menarik Luhan menuju bagian hanbok pria. “Karena kau sekarang tinggal di Korea, itu berarti kau juga bagian dari kami, babo!” balasnya seraya mendorong Luhan ke arah salah satu etalase. “Pilih yang menurutmu paling menarik, aku akan bersedia membantumu jika kau membutuhkan bantuan” lanjutnya santai.

-o0o-

Luhan merasakan getaran dari sakunya—atau lebih tepatnya berasal dari handphone miliknya. Senyumannya mengembang ketika ia melihat sender dari pesan singkat itu adalah Sehun. Dengan sigap jarinya menekan tombol read.

‘Persiapan telah selesai, Hyung. Tapi jangan sekali-kali kau mengajaknya kesini segera. Pastikan kau akan mengajaknya membeli  Toran-tang, Dakjjim atau Songi-sanjeok  karena itu membuat Noona akan senang. Setelah itu, baru kau bisa mengajaknya kemari. Hwaiting~”

“Mengapa kau tertawa sendiri ? Pesan dari siapa itu ? Dari pacarmu ya ?” Ujar Seohyun santai namun membuat mata Luhan membulat sempurna.

“Mwo ? Ya Seohyun-ah, apa kau lupa bahwa aku tidak punya pacar ?” Sanggahnya. “Lagipula ini… Ini.. Ini adalah pesan dari temanku tentang beberapa lelucon tentang Chuseok. Kau puas?” Lanjutnya sembari menatap layar handphonenya kembali.

“Really ? Kalau begitu coba kau bacakan pesan temanmu itu. Aku ingin mendengarkan seberapa lucu lelucon temanmu itu tentang Chuseok.” Kini tangan Seohyun telah terlipat rapi di depan dadanya. Matanya menatap Luhan seakan-akan menantang lelaki itu.

“Tidak boleh ! Disini bertuliskan bahwa perempuan dilarang membacanya. Hanya para lelaki yang boleh membacanya, kau mengerti ?”

Seohyun mencibir, “Pasti tentang yadong” Ujarnya sembari mengambil langkah—melanjutkan aktifitas berjalannya kembali. Meninggalkan Luhan yang hanya menatap punggungnya semakin menjauh. Ketika  punggung Seohyun sedikit terlihat samar-samar, barulah ia menyadari bahwa Seohyun meninggalkannya dan tanpa berpikir panjang lagi, ia segera mengambil langkah seribu sembari berteriak,

“Hey Seohyun-ah ! Aku bukan namja seperti itu !!”

-o0o-

“Luhan-ssi…” Seohyun mengeratkan gandengannya pada tangan Luhan.Pasalnya lelaki itu telah membawanya di tempat sepi dan jauh dari sinar lampu seperti ini. Bagaimana tiba-tiba seorang hantu tiba-tiba terbang ke arah mereka ? Bagaimana jika hantu itu menculik salah satu diantara mereka ? Bagaimana jika…. Ah, memikirkan itu semua membuat Seohyun bergidik ngeri dan semakin mengeratkan gandengannya. Bagaimana dengan Luhan ? Rupanya mata lelaki itu tengah mencari sosok Sehun dan Kris yang mengatakan bahwa rencana mereka dilakukan disini.

“Luhan-ssi….bisakah kita pergi dari sini ?”

Luhan menatap Seohyun yang terlihat ketakutan itu. Sebagian dari dirinya merasa kasihan, sedangkan sebagiannya lagi ia tertawa terbahak-bahak. Jujur, wajah Seohyun terlihat sangat….err cantik jika ketakutan seperti ini. “Ah, tidak bisa Seohyun-ah. Aku perlu menyelesaikan sesuatu disini. Aku pastikan tidak akan lama, arra ?”

Seohyun mengangguk mengerti, walau di dalam hatinya ia sangat ingin pulang. Terlintas pula dibenaknya, urusan apa yang membawa mereka ke tempat seperti ini. Jangan bilang, lelaki itu ingin…. memanggil hantu ? TIDAK. Jika memang benar Luhan akan memanggil hantu, maka Seohyun akan memastikan bahwa Luhan takkan mendekati pemakamannya nanti jika ia akan mati karena ketakutan. Lupakan masalah itu, Seohyun kini menatap Luhan yang tengah seperti mencari sesuatu. “Kau…Apa kau mencari sesuatu ?” Tanya Seohyun yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Luhan.

Seketika tiba-tiba terdapat cahaya yang menyilaukan mata sehingga mereka memejamkan mata masing-masing. Terkejut ? Tentu saja. Baik Luhan dan Seohyun tak tahu darimana asal cahaya ini. Saat cahaya mulai meredup, akhirnya mereka memberanikan diri untuk membuka matanya perlahan. Dan mata Luhan membulat ketika melihat apa yang ada di depannya. Di dalam hatinya ia sama sekali tak habis pikir dengan rencana yang Sehun dan Kris persiapkan ini. Awalnya Luhan berpikiran jika Sehun dan Kris akan menyewa beberapa orang untuk menjadi hantu untuk menakuti Seohyun.Tetapi… Apa ini ? Sangat berbeda seratus delapanpuluh derajat dari apa yang ia pikirkan.

Sedangkan Seohyun sendiri berada diambang-ambang antara terkejut dan terpesona. Pasalnya, puluhan lampu berjejer rapi dan membentuk suatu kalimat yang sangat mengejutkan baginya. Kalimat yang terbentuk adalah ‘I Love You, Seo Joohyun’.Terkejut ? Pastinya. Ia sama sekali tak menduga jika Luhan membawanya kesini hanya menunjukkan kejutan yang istimewa ini. Jika ditanya perasaannya sekarang, entahlah. Terkejut, kesal,malu dan err…Sedikit senang semuanya tercampur di dalam hatinya. Tunggu, Seohyun sendiri tak tahu mengapa ia merasa sedikit senang dengan semua ini.Apa karena ia mulai menyukai Luhan ? Ah tentu saja tidak.Bukan berarti ia tak menyukai Luhan, tetapi ia tak mungkin menyukai lelaki yang baru saja ia kenal sebulan itu.

Seketika suasana canggung menyelimuti mereka.Baik Seohyun maupun Luhan tak ada yang mau…tidak. Baik mereka berdua tidak ada yang berani membuka suara.Membiarkan hanya bunyi desiran angin malam yang bertabrakan dengan ranting pohon menyelimuti suasana mereka kali ini. Mereka tampak asyik menggeluti hal-hal yang berada di pikiran masing-masing.Hingga akhirnya getaran dari handphone milik Luhan memecahkan keheningan. Sebuah pesan dari Sehun, pikir Luhan. Tanpa basa-basi Luhan segera menekan tombol read.

‘Luhan hyung! Bagaimana kejutannya ? Keren bukan ?Awalnya aku sama sekali tak memikirkan itu. Namun sejak Kris hyung mengatakan kau menyukai noona, akhirnya jadilah karya ku ini. Ah ! Kris hyung menitipkan pesan padaku, bahwa sebelum kau menyusun rencana, maka pahamilah keadaan sekitar. Satu lagi, Chuseok tidak bernuansa horror. Sekian Hyung ! Semoga sukses dan jangan marah padaku atau Kris hyung okay ?”

Luhan menelan ludahnya dan melirik gadis di sampingnya ini dengan sangat hati-hati. Luhan bersyukur karena gadis di sampingnya ini masih berusaha mencerna apa yang telah terjadi. Di dalam hatinya, ia tengah mengutuk Kris dan Sehun yang bisa-bisanya membuat kejutan seperti ini. Memang, jauh di lubuk hatinya, ia merasa senang dengan kejutan ini. Namun, bagaimana jika Seohyun malah menghindar dan menjauhinya ?

Sebenarnya, ini juga bukan sepenuhnya salah Kris dan Sehun. Namun dirinya juga ikut bersalah dalam hal ini. Luhan menyadari bahwa dirinya bukan asli seorang Korean, melainkan Chinesse. Mengapa ia lupa untuk bertanya atau mempelajari seluk beluk tentang Chuseok lebih dalam ? Jika ia tahu seluk beluk Chuseok, tentusaja ia takkan tertipu. Dasar bodoh ! rutuknya dalam hati.

-o0o-

“Bagaimana ?”

“eung ?”

Seohyun menatap heran adik lelakinya yang tengah mengunyah sarapannya itu. Padahal Seohyun baru saja akan menarik kursi makan dan mendudukinya. Sedangkan yang ditatap—Sehun—dengan wajah datarnya malah asyik melanjutkan sarapannya, tanpa menghiraukan pertanyaan dari Seohyun yang masih menatap adiknya itu dengan tatapan apa-maksudmu-sebenarnya.

“Bukankah kemarin Noona kencan dengan seseorang ?”

Blush !

Pertanyaan yang dengan polosnya keluar dari mulut Sehun berhasil membuat pipi Seohyun memanas. Entah mengapa sepertinya ia merasakan detak jantungnya seketika berhenti setelah Sehun melontarkan kalimatnya. Dengan cepat Seohyun menggelengkan kepalanya dan menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.Dan juga sesekali melirik Sehun yang masih dengan wajah datarnya menyendokkan nasi ke mulutnya juga. Tak seperti biasaya, seketika suasana hening menyelimuti kegiatan sarapan ini. Padahal biasanya mereka sarapan dengan diiringi oleh beberapa percakapan, atau bahkan beberapa gurauan. Mungkin mereka ingin menikmati sarapan pagi ini.

Sehun barusaja menyeruput teh panasnya, “Tadi malam aku melihatmu keluar dari sebuah mobil milik seorang lelaki. Apakah itu Luhan hyung ?”

Uhuk!

Kali ini Seohyun tersedak karena mendengar pernyataan dari Sehun. Dengan cepat tangannya meraih segelas air putih di depannya dan meminumnya cepat-cepat. Bagaimana anak ini tahu jika ia keluar dari mobil Luhan ? Bukankah kemarin setelah ia pulang Seohyun melihat Sehun sudah tertidur di kamarnya ? Jangan-jangan Sehun membuntutinya ? Atau bahkan Sehun tak sengaja bertemu denganya dan membuntutinya ? “Bagaimana kau bisa tahu ? Bukankah kau kemarin tengah tertidur di kamarmu saat aku pulang ?”

“Bukan tertidur, tetapi pura-pura tertidur” jawab Sehun santai sembari meletakkan cangkir tehnya yang kini tak bersisa.Membuat Seohyun hanya bisa menatapnya bingung. “secara tak sengaja aku melihat kau dengan seorang laki-laki di tepi Sungai Han kemarin. Kupikir noona bersama dengan teman mu yang lain, ternyata tidak. Kulihat lebih detail lagi, ternyata kau dengan Luhan hyung berkencan berdua. Oleh sebab itu aku dan temanku memilih untuk pulang” lanjut Sehun lagi, dengan sedikit bumbu kebohongan agar noona nya ini percaya.

“Aih, sudahlah ! Cepat pakai hanbokmu kemudian aku akan mengajakmu Seongyo dan Beolcho. Kemudian bantu aku membuat Songpyeol sebagus mungkin, arra ?”

Sehun mencibir. Ia tahu bahwa noona nya itu hanya mengalihkan rasa malunya. Ia tahu jelas karena sekarang pipi noona nya itu sedang memerah. Hal yang menandakan bahwa noona nya itu sedang menahan malunya. Kemudian ia melanjutkan sarapannya sebelum akhirnya kegiatan mereka berhenti karena handphone milik Seohyun berbunyi.

“Hey Oppa Najom-bwa ! Nareul jom bara-bwa ~”

Seohyun meraih handphone miliknya. Nama Xi Lu Han tertera di layar ponselnya sesaat setelah ia membuka password handphonenya. Sebuah pesan dari Luhan ? Batinnya. Dengan cekatan ia menekan tombol read di depannya.

‘Annyeong. Maaf sebelumnya mengganggu. Namun aku mengirim ini atas nama Lee Soo Man kepala sekolah bahwa nanti malam tepat pukul 7 akan diadakan peringatan Chuseok di sekolah khusus siswa tahun pertama kedua dan ketiga 1,2,3  . Jangan lupa memakai hanbok terbaik kalian. Gamsahamnida >>Xi Luhan’

-o0o-

Seohyun mematut-matutkan dirinya di depan cermin sambil berputar untuk melihat hanbok  ber jeogori  putih dan Chima merah muda yang ia kenakan. Ia juga mengecek Otgoreum miliknya untuk memastikan warnanya agar tampak serasi. Setelah merasa yakin penampilannya telah sempurna, Seohyun merapikan rambutnya yang tadinya ia kepang menjadi sebuah sanggul kecil.

“Seohyun Noona”  Sehun mengetuk pintu kamar Noona nya yang setengah terbuka. Meskipun Seohyun hanya menutup setengah pintunya, bukan berarti sembarang orang dapat masuk ke ruangan pribadinya tanpa izin.Tentu saja Seohyun tetap tidak suka jika ada orang langsung masuk ke kamarnya tanpa izin atau mengetuk pintu. “ Wah, penampilan Noona rapi sekali”

Seohyun terkekeh pelan. “Bagaimana penampilanku, Sehun-ah ? Apa aku sudah rapi ? Ah tidak tidak. Apa aku sudah cantik ?”

Tatapan Sehun berubah menjadi lembut. Ia sandarkan badannya pada pintu kamar Seohyun. “Kau gadis tercantik yang pernah aku temui, Noona”

“Terima kasih banyak”  Seohyun tertawa kecil. Ia salah mengartikan ekspresi salah tingkah Sehun sebagai bentuk kekaguman pada dirinya. “Baiklah, Sehun-ah. Mari kita pergi. Pukul tujuh tinggal dua puluh menit lagi. Kajja ! Aku sudah ditunggu”

Sehun melipat kedua tangannya. “Apa-apaan ? Bahkan Noona belum mengomentari atau memeberikan kalimat tentang penampilanku malam ini”

Seohyun menatap Sehun heran. Sesaat, Seohyun merasa bingung dengan sikap Sehun. Ia mengerjapkan matanya,  sepertinya baru paham maksud adik kesayangannya itu. “Aigoo, kau mau memakai baju apa  saja juga tetap saja terlihat tampan.” Ujarnya. “Sudahlah, kau sangat sangat tampan. Kajja kita berangkat !” Ajaknya sembari menggandeng tangan Sehun keluar dari kamarnya dan pergi menuju garasi rumahnya.

-o0o-

Luhan berdiri dengan gelisah di depan gerbang sekolah sambil sesekali melihat ke arah kiri dan kanan. Sekarang baru pukul tujuh kurang sepuluh dan ia baru menunggu selama sepuluh menit. Namun, bagi pemuda China ber jeogori  biru laut dan baji biru tua itu, rasanya hampir seabad. Ia sangat gugup sampai nyaris saja membatalkan pertemuannya dengan Seohyun di atap sekolah nanti. Ingin rasanya ia menelpon Seohyun, mengatakan bahwa pertemuannya nanti dibatalkan, namun disisi lain, ada suatu desakan kuat yang menginginkan untuk bertemu gadis cantik itu.

Sambil menunggu Seohyun datang, Luhan melihat aktivitas di sekitarnya untuk menghabiskan waktu. Perayaan Chuseok selalu berlangsung meriah setiap tahunnya sehingga membuat seluruh orang yang merayakannya merasakan kesakralan peringatan tersebut. Berbagai stan makanan berjajar rapi, masing-masing anggota OSIS ikut turun tangan membantu perwakilan siswa untuk mendirikan, atau bahkan melayani pelanggan. Beberapa siswa perempuan memakai hanbok terbaik mereka dan berfoto sambil bergosip serta bersenda gurau di tengah lapangan.

“Luhan-ssi ?” kepala Luhan berputar cepat saat mendengar namanya dipanggil seseorang. Ia meremas baji miliknya untuk meredakan perasaan gugupnya yang semakin menjalar.

“Ah, Seohyun-ah” Luhan tersenyum kikuk sembari menggaruk kulit kepalanya yang tidak gatal sama sekali. “Akhirnya kau datang juga”

Seohyun tersenyum, “Ya begitulah. Maaf telah membuatmu menunggu lama”

“Tidak… Sama sekali tidak !!” jawab Luhan cepat. Ia hanya dapat menelan ludahnya saat melihat penampilan Seohyun yang sama sekali tidak biasa. Ia merasakan jantungnya berdebar sangat kencang. Lidahnya hampir terasa kelu untuk kembali mengeluarkan kalimat. “Hanbokmu… cantik”

“Benarkah ? Terima kasih” sahut Seohyun senang. “Kau mengatakannya bukan karena kau yang memilihkan hanbok ini untukku bukan ?”

“Bukan, bukan itu maksudku Seohyun-ah” Luhan tiba-tiba merasa kikuk dengan dirinya sendiri. “Maksudku… Hanbok-mu bagus. Dan… kau ca-ca-cantik saat memakainya”

Seohyun kehabisan kata-kata sepertinya. Ia hanya menunduk. Ia dapat merasakan pipinya memerah sekarang. Aneh. Biasanya jika ia dipuji, ia hanya bersikap biasa saja. Termasuk kepada Sehun. Namun entah kenapa kali ini jika Luhan yang mengatakannya rasanya seperti… err. Entah berapa lama mereka berdiri  terpaku di depan gerbang dan tidak ada yang ingin membuka pembicaraan. Sama-sama diselimuti oleh rasa canggung.

Beruntung, berkat sikap Luhan yang tidak suka suasana canggung maka Luhanlah yang pertama kali memecah keheningan di antara mereka. “Ba… Bagaimana jika kita beli Toran-tang ?” tawar Luhan yang dijawab oleh anggukan kepala oleh Seohyun.

Ketegangan mencair ketika Luhan mengajaknya ke stand accecories wanita. Diam-diam Luhan membeli sebuah boneka beruang berwarna ungu dan sebungkus jepit pita yang manis untuk Seohyun. Ketika mereka keluar dari stand tersebut, Luhan memberikannya kepada Seohyun. Dan Seohyun menerimanya dengan senang hati.

“Ini benar-benar untukku ? Wah, kau memang baik sekali Luhan-ssi. Terima kasih” ujarnya tersenyum senang.

Luhan pun ikut tersenyum. “Tentu saja untukmu.” Jawabnya. “Tidak mungkin aku mengenakan jepit dan membawa boneka selagi aku kemana-mana bukan ?”

“Siapa bilang ?” Seohyun membuka bungkus jepit itu cepat dan menambil sebuah jepit merah muda dengan kepala kelinci kecil di pangkalnya. Ia berjinjit kecil dan memasangkan jepit itu pada rambut Luhan sebelum pemuda tampan itu mengelak dan memberontak. “Nah, sekarang kau lebih manis dan lebih cantik daripada aku, Luhan-ssi”

Luhan terdiam sejenak. “Apa aku terlihat manis hm ?” Tanyanya dengan nada genit. “Oh, seharusnya aku memakai sebuah chima dan menyanggul rambutku. Kita akan bisa menjadi sepasang gadis yang akan memenangkan permainan Gang-gang-Suwollae tengah malam nanti, benarkan ?”

Seohyun tertawa terbahak-bahak melihat kekonyolan Luhan yang terus berakting sebagai wanita yang melenggak-lenggok di atas catwalk. Ia barusaja ingin berkomentar ketika ponselnya bergetar, menandakan sebuah pesan masuk. ‘Dari Sehun’  pikir Seohyun.

‘Noona, nikmatilah waktumu bersama Luhan hyung, ne ? Ah, jangan lupa tengah malam nanti akan diadakan perlombaan Gang-gang-suwollae (bagi para gadis), Juldarigi dan Ssireum (bagi para laki-laki)’

“Apa sesuatu telah terjadi ?” Tanya Luhan hati-hati.

Seohyun menggeleng pelan, “Hanya sms dari Sehun, memberitahu jika ada perlombaan nanti malam” jawabnya santai yang membuat Luhan mengangguk-anggukkan kepalanya.

-o0o-

Pukul sepuluh malam tepat. Masih tersisa dua jam sebelum perlombaan dimulai. Dan untuk menghabiskan dua jam tersebut, Luhan memilih untuk mengajak Seohyun ke basement sekolahnya. Awalnya Seohyu tidak mau karena alasan faktor ‘hantu’. Namun, berkat bujukan Luhan, akhirnya gadis itu mau menemaninya di balkon sekolah.

Angin malam yang berhembus sepoi-sepoi membuat rambut Luhan menari terkena sapuannya. Malam ini tidak mendung, syukurlah. Banyak bintang yang menampakkan keindahannya malam ini. Baik Seohyun maupun Luhan tenggelam dalam sunyinya malam. Tidak ada dari keduanya yang ingin membuka pembicaraan. Sepertinya keduanya sedang menikmati hawa malam yang kali ini bersahabat dengan mereka. Mungkin.

“Seohyun-ah ?”

“hm ?”

“Mengapa kau menjaga jarak dengan orang-orang ?” Tanya Luhan tanpa mengalihkan pandangannya dari langit malam. Sedangkan Seohyun kini beralih menatapnya heran.

Seohyun mengendikkan bahunya. “Apa selama ini aku terlalu menjaga jarak denganmu ?” Ia balik bertanya. Luhan menggelengkan kepalanya pelan. Kali ini suasana hening kembali menyelimuti kedua insan itu. Mereka kembali menikmati hawa malam peringatan Chuseok.

Dibalik wajah tenang Seohyun, sebenarnya ia merasa hatinya ingin meledak. Entah kenapa ia merasakan jantungnya berdebar tak beraturan saat berada di samping pemuda China ini. Aliran darahnya serasa mengalir dengan cepatnya. Ia merasakan perutnya kini terdapat banyak sekali kupu-kupu yang berterbangan, membuatnya ingin mual saja. Apakah dirinya sedang jatuh cinta dengan Luhan ? Bagaimana jika ia jatuh cinta dengan Luhan ? Entahlah. Seohyun masih meragukan hal itu. Dan Seohyun berharap agar semua itu tidak benar.

“Bagaimana kalau kita beli Seongpyeon saja ?” Kali ini dan untuk kesekian kalinya Luhan lah yang memecahkan keheningan.

Seohyun menoleh ke arah Luhan sekilas. “Kamu belum makan tadi ?”

“Tidak sempat. Kajja sebelum penjualnya tutup semua !”

Seohyun seharusnya menolak. Seharusnya, ia menolak ajakan Luhan tadi dan menghabiskan waktu bersama Sehun saja. Seharusnya ia tadi tak menyapa Luhan di gerbang dan memilih untuk tetap bersama adiknya. Seharusnya, ia tak mengizinkan Luhan bersamanya. Seharusnya, mulai saat ini dia harus menjaga jarak dengan pemuda itu sebelum ia benar-benar tergelincir dan jatuh pada perasaan asing yang ia rasakan pada pemuda ini.

Akan tetapi, yang ia lakukan justru malah mengikuti keinginan Luhan. Langkahnya terhenti di salah satu stand penjual Seongpyeon . Luhan segera menggandeng tangannya masuk dan memesan satu porsi. Kemudian, pemuda berdarah China itu duduk di salah satu kursi tepat di hadapan Seohyun.

“Kau mau juga ?”

Seohyun tersenyum kecil dan menggeleng. Ia terlalu sibuk untuk membangun kembali benteng pertahanannya yang mulai retak, agar tidak runtuh sepenuhnya sehingga ia bisa melupakan rasa laparnya. Padahal, ia sendiri belum makan apa pun kecuali Toran-tang  saat kemari.

“Seohyun-ah” panggil pemuda itu. “Boleh bertanya sesuatu ?”

“Kau sudah banyak bertanya hari ini, Luhan-ssi.” Kata Seohyun. “Memangnya, kau mau bertanya apa lagi, hm ?”

“Mengapa kau takut dengan cinta ?”

Seohyun tampak sedikit terkejut. Sedetik kemudian ia pun berusaha kembali bersikap tenang.  “Sehun mengatakannya padamu ?” Tebak Seohyun. Seohyun mengalihkan wajahnya dari Luhan, berusaha menghindari tatapan pemuda itu. “Aku hanya tidak ingin hancur” jawabnya pelan. Lagi-lagi Seohyun mulai bersikap terbuka pada Luhan. “Cinta membuat semuanya buta. Cinta dapat membuat seseorang melakukan diluar logikanya, segalanya. Tidak peduli dengan seberapa sifat buruk yang dimiliki pasangannya, ia pasti terima. Dan aku tidak mau seperti itu. Melakukan semuanya sesuai otak dan logika itu lebih baik dari pada menggunakan hati dan perasaan, menurutku”

“Kau pernah jatuh cinta lalu patah hati ? Dikhianati ?” tebak Luhan.

“satu-satunya orang yang paling aku cintai adalah Minseok oppa. Menurutku dia adalah kakak yang terbaik di dunia.”

“Selain itu?”

Seohyun tersenyum datar, “Sehun dan Eomma-Appa.”

“Lalu, mengapa kau harus takut jatuh cinta jika kau tidak pernah patah hati, Seohyun-ah ?”

Seketika, wajah Seohyun yang tadinya terlihat datar kini berubah menjadi dingin. “Cukup melihat orang yang aku sayangi tersiksa karena cinta itu sudah cukup bagiku tanpa ikut merasakannya.”

Mulut Luhan menganga selebar-lebarnya. Ia menatap nanar Seohyun, tetapi ia tak berani untuk bertanya lagi walaupun banyak pertanyaan yang masih bergentayangan dalam benaknya. Apalagi saat Seongpyeon pesanannya itu sudah datang. Dia memakannya dalam diam.

-o0o-

Setelah peristiwa di stand tadi, Mereka kembali menghabiskan waktunya di atas basement sekolah. Menatap ratusan bintang yang memancarkan keindahannya pada langit malam. Masih tersisa satu jam lagi menuju jam dua belas malam, jadi baik Seohyun maupun Luhan pun tak terlalu terburu-buru.

Tiba-tiba Seohyun tertawa. “Aku tidak tahu apa yang kau lakukan kepadaku, Luhan-ssi. Sebelumnya tidak ada yang berhasil membuatku cerita mengapa aku takut dengan cinta, termasuk Sehun.” Kali ini Seohyun menatap mata Luhan. “Apa yang sebenarnya kau lakukan ?” tanyanya.

“tidak ada” jawab Luhan pelan, namun masih dapat Seohyun dengar.

“Aku merasa asing dengan semuanya” tutur Seohyun. “perasaanku tidak nyaman waktu ada di dekatmu, Luhan-ssi. Tapi, pada waktu yang bersamaan kau membuatku tidak ingin menjauh. Sejujurnya, ini malah membuatku semakin takut, Luhan-ssi” Seohyun menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mata Luhan. “Aku telah mengharapkan sesuatu yang tidak pernah berani aku ambil”

“Apa itu ?”

Seohyun mendongakkan kepalanya, menatap mata Luhan. “Dirimu”

Kini Luhan menatap Seohyun dengan perasaan bercampur aduk. Antara senang dan gugup. Semuanya menjadi satu. Dan kini ia berusaha menyembunyikannya sebaik mungkin. “maksudnya ?”

“Aku yakin kau mengerti, Luhan-ssi”

“Tidak” Luhan menggeleng cepat. “Aku tidak tahu, Seohyun-ah. Memangnya apa ?” Tanya Luhan yang dikejar oleh rasa penasaran.

Seohyun membuang muka.

“Aku menyukaimu, Seohyun-ah” ujar Luhan pelan. “ Dan kau juga seperti itu bukan ? Namun hanya saja kau tidak berani melakukan itu. Benarkan Seo Joohyun ?”

Seohyun tidak menjawab. Ia memilih untuk memandang indahnya langit malam.

“Kau tahu ? Aku juga merasakan hal yang sama sepertimu. Bedanya, yang membuatku seperti ini adalah takut ditolak, bukannya trauma sepertimu”

Seohyun menggeleng. “Aku tidak bisa” Ujarnya seraya berdiri.

“Tidak. Kau bukannya tidak bisa, Seohyun-ah. Melainkan kau tidak mau.” Balas Luhan cepat, ikut berdiri di samping Seohyun. “Selama hampir delapan belas tahun hidup, aku selalu menunggu perasaan ini. Aku merasa aneh, aku yakin ada yang tidak beres. Saat aku menyadari apa yang aku rasakan, kau salah besar jika kau berfikir aku akan melepasnya begitu saja!”

“Lalu ? Apa maumu ? Menjalin suatu hubungan seperti Taeyeon dan Baekhyun ? Menjadi sepasang kekasih seperti anak-anak yang lain ? Atau sampai tunangan dan menikah ?” Seohyun mendengus kasar. “Aku tidak tertarik hal seperti itu, Luhan-ssi” ujarnya dingin lalu berbaik menuju tangga untuk turun.

“Hey Seohyun-ah ! Sampai kapan kau terus berlari ?” pekik Luhan.

Seohyun membalikkan kepalanya, mengeluarkan lidahnya—mehrong kepada pemuda China itu. Namun, barusaja Seohyun melangkah, mehrongnya telah berganti menjadi teriakan keras karena terpeleset. Beruntung, gadis itu memegang salah satu pipa air yang ada disana. Kini mulut Seohyun terus berkomat kamit membaca do’a apapun yang ia hafal agar ia tidak terjun bebas dari ketinggian yang jika dihitung mungkin hampir tiga puluh meter.

“YAA LUHAN-SSI !! BANTU AKU !!”

-o0o-

Bagaimana ff nya ? gaje ? Hihihi miann ;;; Sorry juga buat late postnya *bow* Karena author masih amatiran mohon kritik dan sarannya ^^ Oh iya, kalau tadi ada kata-kata bercetak miring yang kurang dimengerti, ini glosariumnya (?) semoga bermanfaat ><

-Glosarium-

Chuseok : Perayaan yang berupa pesta makan untuk mengucapkan terimakasih atas keberhasilan panen

Beolcho : Kegiatan membersihkan rumput liar di sekitar kuburan

Seongmyo: mengunjungi makam leluhur

Ssireum: Gulat ala korea

Gang-gang-Suwollae : tarian melingkar Korea, yang biasanya dilakukan oleh wanita.

Juldarigi : tarik tambang ala Korea

Songpyeon: Kue beras khas chuseok yang terbuat dari tepung beras yang diremas menjadi seukuran bola golf dan diisi oleh biji wijen, kacang, kacang merah, kastanye atau buah-buahan.

Toran-tang : makanan yang terdiri dari telur

Dakjjim: Ayam kukus dengan campuran saus jahe, kacang kedelai dan cabai merah

Jeogori: Bagian atas hanbok seperti rompi

Otgoreum: tali yang mengikat jeogori, fungsinya sebagai kancing untuk era modern (hanbok wanita)

Chima: rok terluar dengan warna-warna cerah (hanbok wanita)

Baji : Celana hanbok (hanbok pria)

-o0o-

8 thoughts on “[Freelance] Lovhobia (Chapter 3)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s