[Freelance] When I Was Your Man

When i was you man poster

Title
When I was Your Man

 

Author
L’Cloud

 

Length
Song Fic

 

Rating
PG 15+

 

Genre

Bromance
Angst

 

Main Cast
Park Chanyeol

Tiffany Hwang

 

Other Cast

EXO’s members

 

Disclaimer
The storyline is made by my self. The casts are owned by God, their parents, and theirselves.

 

Author Note

Songfic ini berdasarkan lagu When I was Your Man nya BtoB, bukan Bruno Mars. ^^*

Thanks for read. Maaf kalo belepotan typo.

 

****

Oh yeah. I’m a free man now
We have broken up not long ago,
but why do you keep calling me
Without you, the endorphin left within me is overflowing
I’ll never take you back, girl

 

“Siapa?”,tanya Baekhyun padaku ketika kubuang ponselku ke atas kasur meskipun nada deringnya masih berputar memenuhi kamarku.

Yea, you know who..”,ucapku sembari memutar bola mataku sebal.

“Tiffany?”,tanyanya tanpa basa-basi lagi.

“Ya, begitulah.”

“Kupikir kau sudah memutuskannya.”,

“Memang sudah. Hanya saja dia masih menghubungiku seperti orang kesetanan. Ah, bisakah kita lupakan pembicaraan kita tentang gadis itu?”

“Wae?”

“Aku bahagia saat tak ada yang mengingatkanku tentang gadis itu. Aku tak ingin mengingatnya lagi. Meskipun sedetik.”,ucapku mengakhiri pembicaraan lalu meraih kunci motorku untuk beranjak pergi bersama Baekhyun.


I hang out with my friends around,
unleash those wings in my heart, so fly high
I’m not into you, But I like you
It’s sick now, every thing STOP

 

“Hahaha! Aku tak tahu bahwa kau sekonyol itu!!! Bagaimana bisa kau meninggalkan Baekhyun yang jelas-jelas orang yang memberimu ide untuk datang ke ulang tahunku?! Hahahaha!!”,Suho tertawa sembari menenggak soju langsung dari botolnya.

“Dia sangat kecil, mana mungkin aku melihatnya? Ahya, apa kalian ingat saat kita SMA, kita harus menjaganya dari para fansnya yang membabi buta?”,aku bercerita penuh semangat.

“Ah, yaya, aku ingat!! Bukankah saat itu Tiffany juga fangirl Baekhyun?”,ucap chen membuatku tiba-tiba terdiam.

 

Semua orang juga terdiam. Beberapa saling pandang satu sama lain, dan beberapa lagi memberi tatapan tajam ke arah Chen. Chen tampak merasa bersalah.

 

“Sorry Chanyeol, benar-benar tak sengaja.”,Chen menutupi mulutnya.

“Ahahaha, apa yang kalian lakukan? Dia bukan siapa-siapaku lagi. Jadi, tak masalah kau membahas cerita itu. Ayo, kita lanjutkan lagi pembicaraan ini. Hahahaha. Kalian tak perlu canggung seperti itu.”,ucapku mencairkan suasana.

“Tentu saja, Tiffany bukan siapa-siapa lagi bagi Chanyeol. Lagipula dulu Tiffany tak benar-benar menjadi fangirlku.”,Baekhyun turut mencairkan suasana.

“Bukan siapa-siapa? Don’t lie to us. Kau masih mencintainya bukan? Kau anggap apa kami, hingga kau tega menutupi sesuatu dari genk mu ini.”,Kai tampak sinis.

 

Aku terdiam lagi. Kemudian tersenyum getir.

 

“Ahya, aku memang masih mencintainya. Tapi aku tak lagi ingin memilikinya. Tak juga mengharapkan kami kembali bersama. Cinta ini, akan segera menghilang bersamaan dengan datangnya gadis lain yang lebih keren. Mungkin sekeren teman sekampusku Jessica. Atau sekeren Choi Sooyoung tetangga baruku. Aku tak terikat oleh Tiff lagi. Jadi, ayo kita bersulang untuk kebebasanku!!”,aku memproklamirkan kebebasanku.

“Yea!! Bersulang untuk kebebasan Chanyeol!!!”,Chen berteriak girang.

 

Seluruh botol soju terangkat, kecuali botol Kai. Ia tampak memandangku begitu lama kemudian tersenyum.

 

Gurae.. Bersulang!!!!”,dan kemudian terdengarlah suara botol-botol yang saling beradu di ruangan itu.

 

Ruangan itu harusnya juga ikut bersulang. Kursi dan meja tempat kami bercanda tawa harusnya juga ikut bersulang. Semuanya. Semua yang ada harusnya juga bersulang. Bersulang untuk merayakan kebebasanku.

 

Yea. Kebebasanku.

 

***


When I was your man, you should’ve been better to me
The man who always bring you home,
and looks only at you, no longer exist now
When I was your man, why didn’t I know that I could be this amazing
All day long, I could do nothing, not even to think
I’m really good now

 

Are you lonely now? Where did all those many men go?
The person in your fantasy that you’ve dreamed of,
who is it, other than me?

“Chanyeol..”,gadis itu terpaku di depan mulut pintu rumahku yang baru sedetik lalu terbuka.

“Mmm.. Apa yang kau lakukan di sini? Tiff?”,aku berusaha bersikap sewajar mungkin.

“Aku, merindukanmu.”

 

Aku terdiam. Kemudian tersenyum getir.

 

“Uh? Hhhh… Lucu. Awalnya aku ingin bersikap seolah kita putus dengan baik-baik saja. Tapi mendengarmu mengucapkan hal itu, satu-satunya yang kupikirkan adalah, mengapa baru sekarang? Mengapa baru sekarang kau terpikir untuk merindukanku?”,rahangku mengeras.

“Chanyeol.. Maafkan aku. Aku benar-benar… menyesal.”

“Tiffany, kau benar-benar terlambat. Kau tahu, jika kau melakukannya sedetik saja sebelum kita putus, itu akan lebih berarti. Ya, seharusnya kau melakukan pengakuan ini sebelum kita putus.”

“Chanyeoli.. Ku mohon, kembalilah padaku.”

“Aku tak bisa. Aku bahagia sekarang. Aku tak perlu susah-susah memikirkan makanan apa yang harus kubelikan saat berkunjung ke rumahmu. Aku tak harus berdiri mematung di depan pintu rumahmu setiap pagi hanya agar kau tak marah karena merasa kuabaikan. Aku tak harus berpanas-panasan menunggumu di depan gedung fakultasmu hanya untuk menjemputmu yang tanpa perasaan bersalah justru tengah bercanda tawa dengan teman-temanmu.”

“Chanyeol..!”

“Wae? Apa kau baru merasa bersalah kini? Apa kau baru sadar betapa baiknya aku padamu dulu? Apa kau baru sadar seharusnya kau dulu memperlakukanku dengan lebih baik? Apa kau baru sadar bahwa untuk menjadi pacarmu adalah hal paling rumit di dunia ini? Huh, ironis. Kuharap kau dulu sadar saat tengah memintaku melakukan bermacam-macam hal.”,kuputar bola mataku sebal.

“Maafkan aku.. Tapi aku benar-benar menyesal.. Aku janji tak akan melakukan hal-hal seperti itu lagi.”

No Tiff, i can’t. The past was really enough for me. Pulanglah.”,aku mebalikkan badanku sebelum menutup pintu.

“Aku tak bisa.. Aku tak bisa hidup tanpamu. Aku tak ada artinya tanpamu. Chanyeolie, tanpa tawamu itu, hidupku benar-benar…… Sepi. Nahonja.”

“Sepi? Kukira kau punya teman-teman pria yang siap ada untukmu kapanpun. Apakah mereka kini tinggal nama saja? Sayang sekali, padahal kau sering membayangkan jika aku bisa seperti mereka bukan? Sekarang, coba carilah mereka. Tentu saja, bukankah mereka masih jauh lebih baik dariku? Atau kau mungkin bisa mencari pangeran impianmu yang lain. Pangeran berkuda putih yang selalu… kau impikan. Huh, lucu.”,kupejamkan mataku seiring pintu rumahku yang kututup perlahan. Tentu saja, begitu juga pintu hatiku.

 

***

 

Since it has come to this, unleash those freedom
Living without you, the room grows bigger
I have more friends now
I play like crazy
Till the late nights, and yet there isn’t enough time.

“Astaga, kurasa aku tak pernah bermain bersamamu seharian penuh seperti ini Chanyeol! Ini benar-benar menyenangkan!”,baekhyun berteriak padaku di keramaian bar malam itu.

“Hahaha, kurasa aku juga benar-benar menyukai hari ini! Bukan begitu Chanyeol?!!”,Chen menimpali.

 

Tawaku yang khas langsung membuncah mewarnai bar itu.

 

“Aha! Aku juga tak yakin kapan terakhir kali kau tertawa seperti itu.”,Xiumin memandangku penuh arti.

“Jangan pandang aku seperti itu. Aku takut aku bisa jatuh cinta padamu! Hahahaha!”,Aku tertawa lebar.

“Aaak! Itu menjijikan!!”,Xiumin memukul perutku pelan.

“Hey, itu tak terlalu buruk. Lagipula, kupikir kalian berdua sama-sama single bukan?”,Suho memasang wajah tanpa dosanya.

“Andwaeee!! Jika ada di antara kita yang boleh menikahi Chanyeol itu aku!”,Baekhyun mencekik leher Suho sambil tertawa.

“Baiklah kalau begitu. Ayo kita menikah.”,aku menatap Baekhyun penuh arti.

“Astaga. Kalian. Menjijikan.”,Luhan menatap aku dan Baekhyun tak percaya.

“Jika kalian benar-benar menikah, ijinkan aku yang bermain piano. Aku ingin membawakan lagu pernikahan untuk kalian.”,Lay menimpali kemudian ikut mendapatkan tatapan tak percaya dari Luhan.

“Aku yang akan menyanyi.”,Kyungsoo menepuk dada, dan juga mendapatkan tatapan tak percaya dari Luhan.

“Hey Luhan hyung! Kau ini kenapa, bukankah kita juga akan segera menikah? Ahahahaha!!”,Sehun menyenggol perut Luhan.

“Aaaaaaakkk!! Menjiikkan!”,Luhan mendorong tubuh Sehun menjauh.

 

Ah, hari itu, benar-benar menyenangkan. Seakan tak ada hal yang lebih membahagiakan lagi selain 11 orang temanku yang gila itu. Kami menggila, menghabiskan berbotol-botol anggur. Baru pulang setelah tengah malam. Kami benar-benar bahagia seperti sekumpulan anak-anak serigala yang baru beranjak dewasa. Jika ada yang bisa kami minta pada Tuhan adalah menjadikan hari beberapa jam lebih lama saat kami tengah bersama.

 

***

 

Look, I’m okay even with just myself.
When you’re here, it’s tiring,
when you’re not here, the sense of emptiness
Half of it is right, but there’s probably something wrong

 

Aku berlari-lari kecil di trotoar jalanan Seoul seperti ritual pagiku beberapa minggu belakangan. Saat kurasa aku mulai lelah, aku berhenti pada sebuah kursi taman yang kosong dan duduk di atasnya.

 

“Haaaaahh! Segarnya!!”,aku tersenyum sembari bernafas lega.

 

“Oy Chanyeol!”,seseorang menghampiriku sembari memanggil namaku.

“Baekhyun! Aku tak tahu kau juga suka jogging.”,ucapku menyambut kedatangannya.

“Huh, kau bahkan tak tahu aku juga suka menggunakan eyeliner.”,ia mencibirku.

“Aaak! Hahahaha!”,aku melepaskan tawaku.

“Apa kau sendiri?”,tanyanya.

“Iya, sampai kau datang tentunya.”,ia mengendikkan bahunya.

“Ah, kukira kau dulu benci untuk pergi kemanapun sendirian.”

“Yea, tapi sendiri juga tak terlalu buruk ternyata.”,ucapku sembari mengingat kebersamaanku dengan Tiffany.

“Oh, tentu. Tapi apa kau tak kesepian? Ya, kau tahu, mungkin kau harus mencari pacar lagi.”,kini Baekhyun yang mengendikkan bahunya.

“Oh, kesepian? Tentu. Semua yang sendiri pasti kesepian. Tapi rasa sepi itu akan hilang seiring waktu.”

“Atau kau mungkin justru akan terjebak dengan rasa sepi itu dan mulai membiasakan diri dengannya.”,Baekhyun menatapku miris.

“Eummh, mungkinkah? Akankah seperti itu? Hanya saja…”

“Apa?”,Baekhyun memotong pembicaraanku tak sabar.

“Hanya saja aku terkadang masih merasa kehilangan Tiffany. Aku..”

“Tapi kupikir kau sudah bahagian tanpanya.”

“Tentu saja Baekie, aku bahagian tanpanya. Aku bebas! Apalagi waktuku bersama kalian jadi lebih banyak. Tapi mungkin aku butuh waktu untuk sendiri lebih lama lagi. Maksudku, sendiri dari para wanita.”

“Baiklah Chanyeol, apapun keputusan bodohmu, kau tak perlu bingung. Ada aku dan 10 anak idiot lainnya yang siap membantu dan mendukungmu. Kami akan selalu ada. Mendukungmu.”, ia menepuk bahuku dengan senyumnya yang penuh arti.

 

Kau tahu Tiffany, aku benar-benar lebih bahagia tanpamu.

 

***


It must be embarrassing, I’m starting to regret it now
When I become regretful, I would think of doing better
Yeah, I should do that, really, I should do that
Those childish words
The boat had already took off and found another boat

I’m a free man now, girl
You think I want you back?
Get it in your head

 

“Tiffany? Apa yang kau, lakukan?”,keningku berkerut saat mendapati gadis yang menyedihkan itu duduk di depan rumahku di tengah malam seperti ini.

“Chanyeol? Kau sudah pulang?”,ia tersenyum menatapku.

“Tentu, kau bisa melihatnya. Aku ada di depan rumahku saat ini.”,aku tersennyum kecut.

“Ah, ya tentu.”,ia menganggukkan kepalanya.

“Jadi, apa yang kau lakukan di sini? Tengah malam?”

“Ah, itu. Aku… Aku ingin..”,ia menunduk kemudian secara tiba-tiba memelukku.”Chanyeolie, jebal, kembalilah padaku. Ku mohon!!”

“Tiffany! Lepaskan!”,aku memberontak dengan kasar untuk melepaskannya.

“Chanyeol! Kumohon!”

“Lupakan keinginanmu dan pulanglah. Aku tak akan menarik kata-kataku untuk putus darimu. Aku tak akan kembali padamu.”,ucapku sebal sembali berjalan menuju pintu rumahku.

 

Gadis itu mungkin tengah menatap punggungku miris saat berkata,”bukankah kau masih mencintaiku?”

“Huh?”,aku berhenti membuka kunci pintu namun masih memunggunginya.

“Kau masih mengharapkanku bukan? Mengapa kau bersikap hypocrite? Kau masih mencintaiku dan berharap aku mengemis padamu bukan? Aku sudah mengemis, mengapa kau masih tak mau? Mengapa?”,tanyanya dengan nada terluka.

“Hahaha!”,aku tak bisa menahan tawa ironisku kemudian berbalik ke arahnya.

 

“Tiffany, sayang sekali. Kau pikir aku masih mau kau menjadi pacarku? Meskipun kau mengemis dan bersujud padaku, tak akan berarti apapun. Karna kau tau apa? Kau tahu? Kau mau tahu? Hahaha. Sayang sekali Tiff, aku sudah punya kekasih baru yang lebih mengerti aku, dan tak memperlakukanku seperti budak.”,ucapku dengan tatapan menghina.

“Chan..yeol?”,ia menatapku kosong.

“Jadi, Tiff, lebih baik bila kau berhenti berfikiran bodoh. Hahahaha! Aku? Kembali padamu? Hahahaha! Just get it your head.”

 

Aku berbalik untuk kembali menatap pintu rumahku dan meninggalkannya masuk ke dalam rumah.

 

You and I? Sorry Tiff, just get in your head.

****

End~

Sorry for bad fanfic atau agak kurang sesuai sama makna lagunya.

 

Buat Chanyeol-Tiffany shipper, maafkan aku untuk endingnya. Mau dibuat happy ending itu impossible banget. -_-v

 

Buat pacar barunya Chanyeol, kalian bisa pilih yang kalian suka, tapi untuk aku entah kenapa aku kepikirannya Sooyoung.. Hehe..

 

Tapi aku #Bukan Chanyeol-Sooyoung shipper

34 thoughts on “[Freelance] When I Was Your Man

  1. keren konfliknya seru >< terus itu ada moment chanbaek nya ah unyu :3
    sequel-nya chanyeol ama jessica aja dong plis mereka otp favorit aku dan jarang ada ff mereka pls authornimmmm^^

  2. konflik-nya itu lho yang greget banget, sampai kebawa emosi aku bacanya. sampai sebel sama tiffany (hanya di cerita aja, mian Fanytastic) Chanyeol dibikin jadian aja deh sama Sooyoung hehehehe…😀 nice ff

  3. Pingback: [ONESHOT] When I Was Your Man | Nerdy Little Girl

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s