[Freelance] Love is Unfair (Chapter 1)

59153df71fb5b427 - Copy

Title : Love is Unfair  “Chapter 1”

Author : AceLisa

 Main Cast : Kim Taeyeon    Kris Wu    Nara Wu

Length : Chapter

Rating : 16+

Genre : Family, Romantic, Sad.

Disclaimer : FF ini agak terinspirasi dari film Nice Guy, tapi beda kok ceritanya. So, do not be plagiator and silent readers. Just give me a reason. Gamsahamnida!

===.

Setiap orang pasti berfikir untuk bunuh diri jika melihat seorang yang dia cintai membecinya kan? Begitupun aku. Menatap matanya yang penuh kebencian membuat kehidupanku semakin menyedihkan. Tapi sepertinya itu hanya hukuman ringan.

Saat ini karenanya kehidupanku menjadi seperti kehidupan narapidana yang terus mendekam dalam situasi yang menyebalka dan tentu saja menyakitkan. – Kim Taeyeon

===

Matahari pagi sudah menyinari bumi sejak satu jam yang lalu, tapi walau begitu seorang laki-laki tampan yang bernama Kris Wu tetap saja bergeming di atas ranjang besarnya. Ia terlalu malas untuk bangun dan melihat keadaan dunia ini.

Tapi tuntutan seseorang yang sudah menunggunya sejak membuka mata, membuat laki-laki tampan itu mau tidak mau bangun dari tidurnya.

Kemudian ia bangkit berdiri. Ia bergegas menuju kamar mandi untuk mencuci muka.

“Dad!” seru sebuah suara melengking dari luar kamarnya.

Ia tersenyum mendengar suara bidadari kecilnya itu. Ia mempercepat kegiatannya saat itu dan beranjak pergi menemui putri kecilnya.

“Ya? Wait a few momment, Nara-ya”.

Tiba-tiba saja putri kecilnya itu masuk kekamar mandi tanpa mengetuk pintu. “Daddy!  Aku lapar! Kenapa Dad tidur seperti beruang kutub? Daddy sangat sulit di bangunkan!” protes putri kecilnya itu.

Laki-laki tampan itu berjongkok dihadapan putrinya, “Mianhe, kemarin Daddy pulang malam sekali. Kau mau makan apa, sayang?” Ucapnya sambil tersenyum.

“Jangjamyun!” seru putri kecilnya. Kris tertegun mendengarnya.

“Okay. Dad akan memesankannya.” Kata Kris.

Putri kecilnya melonjak senang dan mencium pipinya sekilas, “Thank you, Dad! Love ya!” ucap Nara Wu lalu anak berumur 6 tahun itu berlari ke ruang tengah untuk melanjutkan kegiatannya. Menghias setiap inchi sudut ruangan itu.

Kris tersenyum miris. Dalam benaknya ia memikirkan wanita itu. Wanita yang selalu hadir dalam pikirannya setiap saat. Wanita yang saat ini mengisi penuh hatinya. Wanita yang dicintainya. Wanita yang menjadi ibu bilogis Nara Wu dan wanita yang sekarang ini membuatnya hancur berkeping-keping.

“Kau tahu? Semua yang ada di diri Nara sama persis denganmu. Makanan kesukaannya. Kebiasaannya. Wajahnya pun mirip sekali denganmu. Apa kau tidak merasa bersalah meninggalkan anak itu?” Sejenak perkataan-perkataan itu melintas di benak Kris.

Ia menghela napas panjang. Lalu mulai mengucapkan beberapa kalimat untuk dirinya sendiri, “Mungkin kau tidak merasa bersalah sama sekali. Mungkin sekarang kau sangat bahagia dengan hidup glamourmu itu.”

Flashback

Desember, Tahun 2003

“Wufan, mama tidak setuju kau pergi ke Korea hanya untuk sekolah kedokteran. Papamu pun begitu. Dia bisa marah sekali denganmu.”

Kris tersenyum pada ibunya, “Mama, aku sudah 19 tahun. Aku bisa hidup mandiri. Aku berjanji pada mama dan papa jika tidak akan kembali ke sini lagi sebelum aku menjadi dokter yang sukses. Aku berjanji.”

Ny.Wu menangis. Ia tidak bisa menghalangi cita-cita anak semata wayangnya itu. Tapi bagaimana dengan suaminya yang menginginkan anaknya itu menjadi penerus Grup …. perusahaan milik keluarga Kris yang terbesar di China bahkan memiliki 1000 cabang lebih di luar China.

===

Tuan Wu memejamkan matanya. Dadanya sesak karena ia terlalu banyak berteriak pada anak laki-lakinya.

“Papa, ku mohon. Aku berjanji tidak akan kembali ke China sebelum aku sukses. Aku berjanji papa.” Pinta Kris.

Laki-laki tua yang duduk dihadapannya lemas tidak berdaya.

Ia menyahut perkataan anaknya itu dengan tenaga yang tidak terisi penuh, “Terserahmu! Kau tidak kubolehkan pulang kemari sebelum kau benar-benar sukses. Jika kau berani menginjakkan kaki ke rumah ini lagi kau tidak akan ku anggap sebagai anak. Selama kau pergi kau akan kuhapus dari daftar nama keluarga Wu.”

Kris menganggukan kepalanya. Tidak apa dia dihapus dari daftar keluarga. Yang paling penting adalah impiannya menjadi dokter. Impian yang ingin diwujudkannya itu sudah berada di depan mata.

Keesokan harinya, Kris berangkat ke bandara.

“Mama akan merindukanmu nak.” Ucap Ny.Wu sambil mendekap anak laki-lakinya itu. Kris Wu juga menangis dalam pelukan ibunya.

Aku juga akan merindukan mama’ batinnya dalam hati.

Ia meninggalkan Gwangzou China di akhir 2003.

Tuan Wu memberi uang Kris dengan jumlah yang tidak sedikit. Uang itu akan digunakannya untuk membayar sekolah dan menyewa rumah kecil-kecilan di Korea.

===

Beberapa jam perjalanan di udara membuat energinya terisi penuh. Setelah menginjakan kakinya di tanah Korea, Kris buru-buru mencari taxi.

“Ahjussi, tolong carikan tempat kontrakan yang murah ya.” Kata Kris pada supir taxi yang dinaikinya.

Kris memang fasih berbahasa Korea. Waktu ia SMA, bahasa yang dipilihnya adalah bahasa Korea. Alasannya agar besok jika ia diterima Dongguk University, sekolah kedokteran terbaik di Korea ia tidak kesusahan belajar bahasa lagi.

Supir taxi yang di naiki Kris menurunkannya di daerah Sandaebang.

Ia melihat sekeliling dan tatapannya berhenti di bangunan tinggi yang lumayan bagus dihadapannya.

===

Ketika Kris mengamati bangunan dihadapannya, seorang wanita muda berlari ke arahnya. Kris menatap wanita di hadapannya itu dengan tatapan yang sulit diartikan.

Wajah wanita itu dipenuhi lebam dan sudut bibirnya mengeluarkan darah, “Kumohon, jangan biarkan orang itu melihatku.” Pinta wanita tadi. Kris menurutinya. Tubuhnya ia geser sedikit untuk menutupi wanita itu.

Seorang laki-laki gemuk berteriak di belakang Kris, “Kim Taeyeon! Dimana kau?”

Wanita dihadapan Kris menegang ketika mendengar teriakan itu. Wanita itu, mencengkram telapak tangan Kris kuat.

Setelah laki-laki itu menjauh dari hadapannya, wanita itu menghela napas panjang.

“Gumawo.” Ucap wanita itu tulus.

Kris mengayunkan tangannya, “Kris Wu.”

Wanita tadi menerima jabat tangan Kris, “Kim Taeyeon.” Ia tersenyum. “Sedang apa kau disini?”

“Mencari sewaan rumah.”

Taeyeon menganggukan kepalanya, lalu tangannya yang masih berada di telapak tangan Kris, menarik Kris.

“Aku tahu dimana tempat sewaan rumah yang murah disini.”

Saat Taeyeon menariknya, Kris tidak mengelak. Ia juga tidak mengedipkan mata sekalipun untuk menatap Taeyeon. Ia terpesona pada wanita di depannya itu. Kris terpesona dengan wajah cantik dan senyum Taeyeon. Kris juga terpesona dengan suara dan perbuatan baik Taeyeon yang mau menemaninya mencari rumah sewaan padahal mereka baru saling mengenal.

===

Kris menyetujui usul Taeyeon. Ia menyewa rumah di rumah susun daerah itu dan Taeyeon ternyata juga tinggal di rusun itu. Bangunan nya memang lebih kumuh dari yang ia minati tadi. Tapi tidak apa, sepertinya Kris menyewa rumah ini bukan untuk sekedar ditempati.

Sejak hari itu Kris dan Taeyeon mengenal satu sama lain. Hari-hari Kris belajar di temani oleh Taeyeon. Dan dihari-hari itu, Kris Wu sama sekali tidak menutupi perasaanya pada Taeyeon.

===

Juli, Tahun 2004

“Kris aku tidur disini ya?” ucap Taeyeon, ia menyelonong masuk kerumah Kris tanpa mengetuk.

Kris mengernyit bingung, lalu bertanya, “Ayahmu ingin menjualmu lagi?”

Taeyeon mengangguk, “Ya, besok kau ada kelaskan? Kalu begitu aku bisa membereskan rumahmu ini. Jadi dua hari menghindar dari Appa sudah membuatnya jauh lebih baik.”

“Kapan ayahmu berhenti ingin menjualmu?”

Bahu Taeyeon terangkat, “Tidak tahu.” Jawabnya enteng

“Tidurlah di kamar, ini sudah malam. Aku ingin lihat televisi.” Kata Kris berbohong. Sejujurnya, ia juga mengantuk karena ini sudah jam 11 malam, tapi wanita dihadapannya jauh lebih penting darinya.

Taeyeon tersenyum manis dihadapan Kris, “Gumawo Kris. Kau memang teman terbaikku!”

“Ya ya.” Seru Kris sambil mecibir pelan. Ia menatap tubuh kecil Taeyeon masuk ke kamarnya.

===

Kris sedang memasak ramen ketika Taeyeon masuk ke rumahnya tanpa mengetuk. Kris terbelalak kaget melihat wanita yang disukainya menangis.

“Ada apa?” tanya Kris.

Beberapa menit Taeyeon tidak menjawab, “Kris aku ingin mendaftar di Hongseok Entertaiment. Tapi aku tidak memiliki pendidikan yang mecukupi. Syarat disana harus memiliki latar belakang pendidikan seni.” Jawabnya sambil menyeka air mata.

Melihat Taeyeon menangis seperti itu, Kris merasa hatinya diremas-remas.

Ia menghampiri Taeyeon. Kemudian lengannya memeluk erat tubuh Taeyeon. “Aku ada uang, kau bisa mendaftar di Universitas mana saja. Besok aku akan mengantarmu. Hari ini aku di DO dari sekolah dan aku sudah di terima menjadi bartender. Hehe.” Hibur Kris.

Lagi-lagi Kris harus berkorban demi wanita ini. Walaupun ia harus mengorbankan nyawanya untuk wanita ini, ia mau. Asalkan bibir wanita ini terus melengkung membentuk senyum.

Taeyeon melepas pelukan Kris, “Apa maksudmu? Kau tidak mungkin di DO Kris. Nilai ujianmu selalu sempurna aku tahu itu.”

“Kemarin, saat praktek aku menghancurkan patung peragaannya. Jadi dosen-dosen disana tidak percaya lagi denganku. Dan akhirnya aku dikeluarkan.” Jawab Kris.

Kenyataan jika ia menghancurkan patung di laboratirium memang benar, karena saat melakukan ujian praktek dengan patung itu pikiran Kris melayang memikirkan wanita dihadapannya saat ini.

Kemarin, saat ia meninggalkan rumah kondisi Taeyeon memang sedang sakit panas karena ulah ayahnya yang menghukumnya untuk tidur di luar rumah semalam. Dan urusan bartender, ia memang mendaftar di salah satu Bar mewah dekat daerah Cheongdam ia berfikir jika ia mengambil pekerjaan sambilan, hidupnya semakin tercukupi.

Tangan Taeyeon memukul dada bidang Kris, “Hey, kenapa kau berbohong padaku?”

“Aku tidak berbohong.” Ucap Kris. Lalu tangannya mecengkram tangan Taeyeon.

Kris menatap manik mata Taeyeon, “Kau harus sekolah.”

Ditatap seperti itu, Taeyeon sekali lagi meluruh. Air matanya jatuh lagi. Jantungnya berdegup tidak karuan. Kris membuatnya menjadi patung yang hanya tidak bisa menatap apapun selain dirinya.

“Kenapa kau selalu seperti ini Kris?”

Laki-laki itu tidak menjawab. Tatapan matanya seakan mencair karena Taeyeon.

“Karena aku mencintaimu.” Akhirnya Kris menyatakan perasaannya.

Taeyeon terdiam. Air matanya semakin deras mengalir. Ia merasa tubuhnya ringan sekali mendengar Kris berkata seperti itu. Ia menatap Kris lama.

Akhirnya suara lirihnya keluar karena perintahnya, “Bodoh, aku lebih dulu mencintaimu.”

Kris merasa dirinya berhenti bernafas. Jantungnya juga berhenti berdetak. Dunia seolah-olah berhenti berputar sesaat. Sebelum dirinya sempat bereaksi, Taeyeon berjinjit. Bibir dingin Taeyeon menyentuh bibirnya. Tubuhnya  tidak bisa digerakan. Matanya juga sulit sekali dipejamkan.

Kemudian, tangan Taeyeon terangkat ke tengkuk Kris. Tangan Taeyeon meremas lembut rambutnya. Saat itu juga Kris memejamkan mata menikmati ciuman panjangnya dengan Taeyeon.

===

Januari, Tahun 2007

Tanggal 5 Januari 2007 Taeyeon resmi diterima di Hongseok Entertaiment. Karena itu, sekarang ini Kris mengajaknya untuk merayakan moment penting ini di Pulau Jeju. Mereka berdua mempunyai jadwal selama 2 hari di Jeju.

Sampai disana, Kris dan Taeyeon mengelilingi banyak hotel di Jeju untuk mencari dua kamar kosong.

Tapi sampai di hotel yang ke 14, mereka berdua belum juga mendapatkannya.

“Penuh.” Ucap Kris lalu menarik lengan Taeyeon.

Mereka memasuki hotel yang ke 15. Tapi, hanya ada satu kamar kosong. Karena ini sudah menjelang malam, mereka tidak mempunyai pilihan dan memesan kamar itu.

===

Setelah chek in di kamar hotel itu, Kris mengajak Taeyeon ke pantai. Ia menggengam tangan wanitanya sambil terus tersenyum.

Terimakasih Tuhan, aku sangat bersyukur karena Tuhan telah memberiku seorang laki-laki tampan, baik dan sangat mencintaiku. ‘ucap Taeyeon dalam hati. Ia memperhatikan wajah kekasihnya itu setiap saat.

Ketika Kris mengajaknya duduk di pinggiran pantai, hujan tiba-tiba saja mengguyur bumi.

Kris menariknya untuk meneduh.

“Kau kedinginan? Kau basah kuyub.” kata Kris saat mereka sudah berada di gubuk dekat pantai.

Taeyeon mengangguk. Tidak berselang lama, Kris mengusapkan kedua tangannya berkali-kali. Setelah itu, ia membelai telinga, pipi dan bahu wanita itu.

Ia tersenyum, lengannya melingkar di bahu Taeyeon.

Sentuhan yang ringan, tapi itu sukses membuat kedua pipi Taeyeon memerah. Ia menjadi batu sekarang ini. Matanya tidak bisa berkedip sama sekali. Ia juga merasa jantungnya tidak bekerja dengan benar. Bagaimana tidak?! Jantungnya sekarang berdetak 3x lebih cepat daripada biasanya!

Taeyeon menolehkan kepalanya untuk melihat Kris. Bulu kuduknya terangkat ketika menyadari tubuh Kris basah kuyub karena hujan. Akhirnya, iapun tersedak ketika melihat beberapa tetes air turun di tengkuk Kris.

“Kau kenapa?” Tanya Kris polos.

Tiba-tiba Taeyeon melepaskan pelukan Kris dan sedikit menjauh, “Ha..” ucapnya lalu tersenyum. “Hahaha tidak apa-apa.” lanjutnya garing.

Melihat itu Kris tertawa lebar. “Apa maksudmu?” Kris mendorong ringan lengan Taeyeon, “Kenapa pipimu memerah? Kau malu padaku ya? Astaga, seorang Kim Taeyeon yang tidak punya urat malu, ternyata bisa malu diahadapan Kris Wu.” Ledek Kris

Taeyeon tidak terima, ia mencibir tidak jelas. Lalu genggaman tangannya meluncur bebas di dada bidang Kris, “Aku tidak malu padamu! Dasar Koala!” seru Taeyeon sambil menjulurkan lidahnya.

Kris tidak menjawab seruan Taeyeon, ia hanya mengusap ubun-ubun Taeyeon beberapa kali, lalu sibuk melihat titik-titik hujan yang ada dihadapannya sekarang.

Taeyeon memandang kearah lain, lalu ia memukuli kepalanya sendiri, “Bodoh! Kenapa kau menganggapnya namja sexy?! Astaga! Bod..” belum selesai gunamnya pada diri sendiri, tangan Kris menarik tubuhnya mendekat.

Kris memalingkan wajahnya menghadap Taeyeon. Tatapan matanya berubah tajam dan itu ditunjukkan pada Taeyeon seorang.

Taeyeon kaku melihat mata Kris. Ia seakan terserap pada tatapan mata coklat milik kekasihnya.

Kris memajukan kepalanya untuk mendekati wajah Taeyeon. Kurang beberapa centi lagi bibirnya menyentuh permukaan bibir tipis Taeyeon. Taeyeon memejamkan matanya erat-erat. Mengantisipasi apa yang terjadi beberapa menit kedepan.

“Hachuuh!” Tanpa ada aba-aba Kris Wu bersin dihadapan Taeyeon. Kris tersenyum kikuk dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Karena malu, Taeyeon berlari meninggalkan Kris yang bingung harus berbuat apa.

===

Shower yang dinyalakan Taeyeon mengguyur tubuhnya. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali.

“Kenapa kau terus membayangkan Kris yang seperti tadi Kim Taeyeon?! Astaga, dia hanya seorang Koala!”

Ia memejamkannya beberapa saat, lalu bayangan tubuh Kris yang basah total dan membuat tubuh asli laki-laki itu terlihat, melintas di benak Taeyeon.

Taeyeon menggelengkannya lagi, “TIDAK BOLEH!” teriaknya. Suara tingginya menggema di tempat yang ia tempati sekarang.

===

Taeyeon menggunakan handuk untuk mengeringkan rambutnya. Ketika ia keluar dari kamar mandi, mulutnya menganga lebar. Dalam hitungan detik ia tidak bernafas.

“K..Kris, pakai bajumu!” serunya sambil menangkupkan kedua tangannya di wajah. Kris Wu sekarang sedang bertelanjang dada.

Suara cengiran Kris masuk dalam indra pendengarannya, “Mian, aku kedinginan. Baju itu benar-benar basah.”

“Cepat mandi kalau begitu!” ucapnya lalu berjalan menjauh dari pintu.

Dengan wajah tanpa dosa Kris memasuki toilet yang baru saja dipakai Taeyeon.

Setelah Kris benar-benar masuk ke toilet, Taeyeon menghembuskan nafas yang ternyata sedari tadi ia tahan.

“Apa laki-laki itu berniat menggodaku?”

===

Belum sampai 5 menit Kris berada di kamar mandi, lampu di ruangan itu mati tiba-tiba.

“KRIS!!!”

Kris mendengar jeritan Taeyeon dari luar kamar. Ia terlalu takut jika terjadi apa-apa dengan Taeyeon. Cepat-cepat Kris mengenakan handuk untuk menutupi bagian tubuh bawahnya dan berjalan keluar tanpa menggunakan kaos.

Tangannya meraba-raba untuk mencari keberadaan Taeyeon. Kris merasa seseorang mendekap dadanya yang belum kering dari air.

“Kenapa lampunya mati Kris?” tanya Taeyeon

Kris tidak bisa menjawab. Ia sibuk mengatur nafasnya karena hembusan nafas Taeyeon terasa di sekitar leher dan dadanya.

Ia tidak mungkin melakukan itu pada wanita di hadapannya ini. Status mereka belum menikah.

Mereka diam selama 3 menit dalam posisi seperti itu. Lalu lampu hotel itu menyala.

Taeyeon menelan ludah dengan susah payah. Ini yang kedua kalinya melihat kris tidak mengenakan kaos.

Tidak tahu setan mana yang merasuki Taeyeon, ia memberanikan diri untuk menarik tubuh Kris mendekat padanya. Masa bodoh ini masih masa suburnya, ia tetap menginginkan Kris.

Kris terbelalak melihat tindakan Taeyeon. Mata Taeyeon tertutup sempurna. Dengan sekali sentakan ia melumat bibir Kris lembut. Lalu lama-kelamaan ciuman itu semakin menuntut. Ia menggalungkan lengannya ke leher Kris dan menariknya.

Kris tidak tahu harus berbuat apa. Sekarang ia juga sulit sekali memejamkan mata.

Damn. Teriak Kris dalam hati. Kali ini nafsu mengalahkan logikanya. Baiklah, ia akan meladeni wanita ini karena wanita ini juga yang memulainya.

Lalu, ia membalas setiap ciuman yang diberikan Taeyeon. Ia tahu jika malam itu akan menjadi malam terindah dalam hidupnya. Malam ini akan terjadi ledakan-ledakan cinta antara dirinya dan Taeyeon.

===

Februari, Tahun 2007

“Kris, aku hamil.” Ujar Kim Taeyeon. Suaranya pelan sepelan hembusan angin.

Seorang dihadapannya tidak mengatakan apapun. Seseorang dihadapannya itu terlalu sulit mencerna apa yang dikatakan kekasihnya itu. Ekspresi di wajah laki-laki itu bercampur menjadi satu antara sedih, senang dan bingung.

Kris Wu menggerakan tangannya untuk meraih tangan Taeyeon, “Aku akan bertanggung jawab.” Lalu ia tersenyum. “Kau tenang saja. Setelah ini aku berjanji akan melamarmu.”

Sungai kecil membentuk dipipi Kim Taeyeon, “Bagaimana dengan karirku Kris? Bagaimana jika pihak label memecatku? Bagaimana jika? Kris, aku baru saja diterima. Aku tidak bisa Kris. Anak ini harus..” suara wanita itu berlanjut menjadi isakan tangis yang menggema di rumah kecil milik Kris.

Kris menatap wanita didepannya dengan tatapan kosong. “Apa maksudmu?” tanya Kris.

Selama 2 menit penuh tidak ada suara yang menjawab pertanyaan Kris.

“Aku harus menggugurkannya.” Ucapnya dengan suara yang sangat pelan.

Tubuh Kris kaku. Ia merasa seluruh syarafnya membeku. Apa tadi dia salah dengar?

Genggaman tangannya sedikit mengendur. “Kau mau membunuh anak kita?”

Taeyeon hanya bisa terdiam. Ia menangis mendengar pertanyaan laki-laki miliknya itu. Bahunya terguncang saking kerasnya ia menangis.

“Aku tidak bisa Taeyeon-ah. Jangan bunuh anak itu.” Bisik Kris. Apa yang merubah wanitanya?

Ia lalu bangkit berdiri, “Apa kau malu mempunyai anak dariku?” tanya Kris.

Taeyeon tetap terdiam di posisi semula. Hatinya berteriak TIDAK untuk menjawab pertanyaan Kris. Tapi saat ini, ia dan laki-laki dihadapannya memang harus selesai. Ia harus bisa mengejar impiannya untuk menjadi seseorang bintang ternama.

“Ya! Aku malu mempunyai anak darimu Wu Yi Fan! Aku malu jika media mengetahui aku dihamili seorang bartender di Pub jalanan Seoul! Aku akan dipecat jika produserku tahu aku hamil! Dan semuanya itu karenamu! Aku muak terhadapmu!” Teriak Taeyeon penuh penekanan setiap katanya.

Kris menatap wanita dihadapannya dengan tatapan tidak percaya. Kim Taeyeon, wanita yang sangat dicintainya itu tidak sudi mempunyai anak darinya.

Beberapa menit ia diam mengartikan perkataan yang diucapkan Taeyeon barusan.

Kim Taeyeon bangkit berdiri. Ia menyeka semua airmata yang jatuh dipipinya. Ini sudah keputusan final, batinnya.

“Aku berjanji tidak akan mengunggurkan anak ini.” Ucapnya, lalu ia menghela napas, “9 bulan waktu yang tidak lama, aku hanya butuh bersembunyi dari siapapun. Setelah ini hak asuh anak ini semuanya ada padamu Kris. Aku tidak mau seorangpun tahu jika anakmu ini anakku juga. Kumohon, jangan temui aku lagi.” Lanjutnya. Lalu Taeyeon melangkah cepat menuju pintu keluar ruangan itu.

Kris mencengkram sandaran kursi kayu dihadapannya. Ia tidak pernah merasakan sakit yang seperti ini. Sakit yang ia rasakan kali ini bisa menyebar ke seluruh tubuhnya hanya dalam waktu beberapa detik.

Tangannya terangkat kepelipis dan memijatnya perlahan. Ini tidak benar. Ia tidak bisa kehilangan wanita itu. Cepat-cepat Kris memakai sepatunya dan berlari mengikuti Taeyeon.

===

Sampai di lantai bawah bangunan itu, tubuhnya sekali lagi membeku. Perasaan sakit itu semakin menjadi dalam dirinya. Kalau sekarang ini di sebelahnya tidak ada pegangan tangga mungkin tubuhnya sudah membentur tanah dengan keras.

Wanitanya memeluk laki-laki lain. Taeyeon menangis di dekapan seorang laki-laki dan laki-laki itu bukan dirinya. Sungguh, jika saat ini ada pipa besi, ia tidak akan berfikir dua kali untuk melemparkan pada laki-laki yang sudah berani menyentuh wanitanya itu.

Tapi apa yang dilihatnya ini sudah menjadi pembuktian. Kim Taeyeon tidak menginginkannya lagi. Taeyeon sudah meninggalkannya dan memilih laki-laki itu. Laki-laki yang diketahui Kris adalah tangan kanan pemilik label Taeyeon. Berarti dia adalah tangga menuju kesuksesan Taeyeon.

Kris tidak berhenti menatap dua orang yang berjarak 5 meter dihadapannya itu.

“Luhan-ah, kumohon sembunyikan aku sampai bayi ini lahir.” Perkataan Taeyeon menusuk pendengeran Kris.

Kris memejamkan matanya untuk meredakan rasa sakit yang ia rasakan. Cengkraman tangannya di pegangan tangga juga semakin kuat.

Dari sudut matanya, ia melihat Taeyeon dituntun laki-laki yang bernama Luhan itu ke mobilnya. Lalu setelah itu, Kris tidak melihat Taeyeon lagi.

Ia melangkah gontai menuju taman didekat rumah susunnya.

Kris mendudukan tubuhnya di ayunan kesukaan Taeyeon. Ia tertawa hambar. Lama kelamaan tawanya itu semakin keras. Ia tidak peduli dengan perkataan orang-orang yang disekitarnya. Ia hanya peduli pada hatinya yang perlu diobati sekarang. Ia hanya perlu berteriak dan ia yakin setelah ini akan membaik dengan sendirinya.

Tapi pemikirannya itu sama sekali tidak benar karena hari-hari setelah hari itu dijalaninya seperti menjalani hidup seorang terkena penyakit kanker stadium akhir. Kris Wu tidak memiliki tujuan hidup.

TBC

NB: Comment ya😀  Ini ada fotonya  Nara Wu

30 thoughts on “[Freelance] Love is Unfair (Chapter 1)

  1. Ga nyangka banget Taeng kyk gitu._. next chap thor jangan lama2 ceritanya menarik ko bikin penasaran nih hehehe😀 panjangin lagi thor._. #plaakk readers emang banyak maunya.-.

  2. waduuhhhh.. biasanya taeng yg tersakiti.. tapi skrg taeng yg menyakiti.. daebak thor ff-nya..
    di tunggu chap selanjutnya.. cepet di posh ya thor🙂

  3. ceritanya bagus, pas part dihotelnya ,aq agak geli wkwkkwk,, ih taeyeon kok jahat bgt sih sama kris, padahal udah banyak berkorban lhoo, jd bartender juga gara2 taeyeon, bgs ff nya, ditunggu kelanjutannya ya

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s