Homeless (Kidnap!-Part.7-)

Homeless

 

Tittle              : Homeless

Author           : NtaKyung (@NtaKyung)

Art Poster      : NtaKyung

Main Casts    : Tiffany Hwang, Kim Suho, Kris Wu, Oh Sehun, Park Chanyeol, Xi Luhan

Genre             : AU (Alternate Universe), Comedy, Family, Friendship, Romance

Length           : Main Chapter

Rated             : PG-15

Disclaimer     : Segala hal yang berada dalam Fanfiction ini, Murni adalah imajinasi saya! So, Jangan Copy-Paste or BASHING!! Don’t Like? Don’t Read!!

Fanfic ini saya Publish juga di Blog Pribadi saya di All About Tiffany Hwang Fanfiction

©Homeless©

Tatapan Tiffany terlihat menerawang, ia tak dapat mengabaikan ucapan Luhan sepenuhnya. Meskipun, Luhan mengatakan hal itu di saat dirinya sedang mengalami demam tinggi dan setelahnya pria itu kembali tak sadarkan diri. Tapi Tiffany tetak tak dapat melupakan kata-kata yang di lontarkan Luhan saat itu.

‘Apakah… dia… oh tidak-tidak! Itu tidak mungkin terjadi, Tiff! Dan darimana kau yakin jika Luhan memanglah Xiao Lu?! Itu jelas tidak mungkin! Jika Luhan adalah Xiao Lu, bukankah dia harus mengatakannya sejak awal pada diriku?’

Hati kecil Tiffany terus-menerus mengucapkan hal yang sama. Sebenarnya ia tak ingin terlalu memikirkan hal ini. Toh, Luhan pun mengatakannya saat sedang mengigau. Tapi Tiffany tetap saja masih merasa bingung, seharusnya jika Luhan memang mengetahui nama itu, bukankah berarti… Luhan merupakan salah satu dari sekian banyak orang yang di kenalnya saat di masa kecilnya dulu? Tapi… siapa sebenarnya Luhan?

Trik!

Sebuah jentikan jari yang berlangsung tepat di hadapan Tiffany, seolah menyedot kesadaran gadis itu kembali. Tiffany terkesiap dan segera menoleh ke arah sampingnya, menatap kaget pada sosok Sehun yang ntah sejak kapan telah duduk tepat di sampingnya.

“Noona… apa yang sedang kau pikirkan? Kau melamun seperti orang gila saja!” Ujar Sehun seraya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.

Tiffany tersenyum tipis sembari menggelengkan kepalanya singkat. “Bukan sesuatu yang penting… aku hanya… sedang mengingat masa kecilku.” Jawabnya kemudian.

Sehun mengangguk dengan mulutnya yang membentuk lingkaran. “Kau merindukan masa-masa itu?”

“Ya… aku sangat merindukannya, Sehun-ah.”

“Kalau begitu kenapa kau tidak pergi ke suatu tempat saja? Misalnya… sebuah tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan tentang masa lalumu?” Saran Sehun.

Tiffany menggeleng lemah, senyumannya tipis di wajahnya berubah menjadi senyu “Aku tidak bisa melakukannya, Sehun-ah.”

“Kenapa?” Tanya Sehun dengan kening mengkerut.

“Ya… karena aku memang tidak ada tempat apapun yang memiliki kenangan tentang masa laluku dulu. Kecuali…” Tiffany tak melanjutkan perkataannya, kesedihan jelas terpancar di wajahnya yang cantik dan kedua matanya mulai memerah, menandakan jika ia sedang berusaha menahan dirinya agar tidak menangis.

“Kecuali?”

“Tempat panti asuhanku dulu.”

Sehun langsung terdiam begitu mendengar jawaban Tiffany. Ia nyaris saja melupakan hal itu, seharusnya ia ingat jika Tiffany menghabiskan masa kecilnya di sebuah panti asuhan, sebelum akhirnya Tn.Hwang menemukannya kembali.

“Hanya itu satu-satunya tempat yang memiliki banyak kenangan tentang diriku, Sehun-ah.”
Lanjut Tiffany kemudian. Setetes air mata mengalir dari ujung matanya, tetapi ia segera mengusapnya kemudian meneguk tehnya yang sudah sedikit dingin.

Awalnya, Sehun sudah berniat mengatakan sesuatu untuk membuat Tiffany kembali ceria. Tetapi, ntah kenapa kata-katanya itu tertahan di kerongkongannya dan setelah beberapa detik terdiam dalam kesunyian, akhirnya Sehun menyerah untuk mengatakan sesuatu dan lebih memilih untuk tetap melanjutkan keheningan ini.

©Homeless©

Sehun memasuki ruang keluarga dengan wajah tertunduk, di sana sudah nampak Chanyeol yang tengah memainkan ponselnya.

“Ini menyebalkan!” Sehun tiba-tiba saja menghela nafas berat sembari menjatuhkan dirinya di atas sofa yang empuk itu, tepat di samping Chanyeol.

Chanyeol yang pada awalnya tengah asyik bermain games di ponselnya, Ia lantas menoleh ke arah Sehun dengan kening yang mengkerut.

“Ada apa, Sehun-ah?” Tanya Chanyeol bingung.

Hening, tak ada sahutan dari Sehun. Dan Chanyeol benar-benar merasa kesal karena merasa terabaikan oleh adik bungsunya itu.

Chanyeol baru saja berniat mengatakan sesuatu, tetapi tertahan kala seseorang memasuki ruangan itu dan ia tak lain adalah Suho.

“Aku pulang…” Ujar Suho sembari melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya itu.

Sehun menoleh ke arah Suho, dan pada detik selanjutnya juga ia telah beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan menghampiri Suho. “Eoh? Suho Hyeong! Kebetulan sekali, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu!”

Mulut Chanyeol nyaris menganga dengan lebar saat ia melihat reaksi Sehun tadi. Rasanya, ia benar-benar di buat kesal oleh adiknya itu. Ia yang jelas-jelas bertanya padanya malah di acuhkan tadi, tapi lihatlah reaksi Sehun sekarang ketika melihat Suho, begitu antusias!

“Cih! Dasar anak menyebalkan! Jelas-jelas tadi aku bertanya padanya juga!” Chanyeol mulai menggerutu kesal, tapi dengan suara yang sepelan mungkin.

“Ya, tentu. Apa yang ingin kau tanyakan padaku, Sehun-ah?”

“Itu… apakah kau tahu nama Panti Asuhan Tiffany Noona dulu?” Tanya Sehun to the point.

Suho tertegun sejenak, tetapi sebisa mungkin ia mengontrol dirinya dan bersikap tenang.

“Untuk apa kau menanyakan hal itu, Sehun-ah?” Tanya Suho kemudian, sebelah alisnya sedikit terangkat ke atas.

“Tidak. Hanya saja… kupikir kau mengetahui hal itu.”

“Tapi untuk apa kau ingin mengetahuinya?”

“Ya, untuk apa kau menanyakan hal itu Sehun-ah?” Tanya Chanyeol kemudian, merasa ikut penasaran juga dengan pertanyaan Sehun tadi.

“Err… Soal itu… Aku… ada satu permintaan untuk kalian…” Ujar Sehun seraya mengusap-usap tengkuknya yang tidak gatal.

“Permintaan?”

Dan Sehun pun hanya mengangguk cepat untuk membalas pertanyaan kedua kakaknya itu.

©Homeless©

Tiffany baru saja selesai membersihkan dirinya, dan sekarang ia berniat untuk segera tidur secepat mungkin karena rasanya seluruh badannya sudah terasa sangat lelah, padahal ia tak melakukan banyak hal ini.

“Aaah… kenapa leherku terasa pegal sekali.” Tiffany bergumam pelan sembari memegangi tengkuknya dan berjalan menuju ranjangnya, bersiap untuk menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuk itu.

Namun, belum sempat Tiffany melakukan niatannya tadi. Tiba-tiba saja lampu di kamarnya padam dan hal ini jelas membuat Tiffany terkejut sekaligus bingung.

“Eoh? Aneh… kenapa lampunya tiba-tiba saja padam? Tidak biasanya sekali…” Pikirnya.

Greb!

Kedua bola mata hitamnya membulat, Tiffany berusaha meronta-ronta dan melepaskan diri dari bekapan seseorang yang berada tepat di belakangnya. Namun, pada detik selanjutnya Tiffany merasa kepalanya berputar-putar dan gadis ini pun kehilangan kesadarannya.

©Homeless©

Suara alunan lagu yang berasal dari radio di dalam mobil tersebut, menemani perjalanan ketiga pria ini menuju sebuah tempat,-ralat, maksudnya dengan satu orang gadis yang kini masih tak sadarkan diri-.

“Oh, aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Kris Hyeong nanti saat tahu jika kita ber-empat tidak berada di rumah!” Seru Chanyeol dari jok depan, berada tepat di samping Suho yang tengah menyetir mobil tersebut.

Suho hanya menggedikkan bahunya acuh sambil memandang lurus ke depan. Sementara itu, Sehun yang berada di jok belakang nampak mendenguskan nafasnya dengan kasar.

“Kenapa Chanyeol Hyeong harus ikut dalam rencana-ku ini?! Aku kan tidak mengajakmu untuk ikut masuk dalam rencana ini!” Gerutu Sehun terdengar kesal.

“Ey… Ya! Oh Sehun, jika aku tidak datang kemari, lalu kau pikir siapa yang akan menjaga Tiffany, eoh?!”

“Aku dan Suho Hyeong masiih bisa menjaga Tiffany Noona!” Balas Sehun sembari melipat kedua tangannya. “Seharusnya aku tidak mengatakan rencana ini di hadapanmu!” Lanjut Sehun kembali menggerutu.

Chanyeol mencibir kata-katanya. “Haish… kau memang bocah tengik menyebalkan!”

“Sudahlah, kalian berdua itu berisik sekali. Lagipula tidak ada gunanya mempeributkan hal itu lagi. Kita sudah pergi bersama-sama sekarang.” Ujar Suho kalem.

Keduanya lantas menghela nafas kasar dan menyandarkan tubuh mereka dengan cepat. Tak di sadarinya, jika Tiffany perlahan-lahan mulai menggerakkan jari-jarinya dan gadis itu pun tak lama kemudian mulai tersadar dari pingsannya.

“Enghh…” Tiffany mengerang pelan sambil memegangi ujung pelipisnya yang berdenyut.

Sehun sontak menoleh, “Eoh! Noona, apakah kau sudah bangun?!” Serunya tak sabar.

Mendengar seruan Sehun, Chanyeol jelas saja ikut menoleh dan mendapati Tiffany tengah sadarkan diri dan menoleh ke sisi kanan serta kirinya dengan tatapan bingung.

“Aku… dimana?” Tanya Tiffany dengan suaranya yang serak.

“Err… itu…”

Tiffany masih memperhatikan jalanan yang mereka lewati sembari melirik ke arah Sehun dan Chanyeol. Sungguh, ia tidak dapat mengingat kejadian apapun sekarang. Kepalanya masih terasa berdenyut-denyut, dan ia tidak dapat berfikir jernih sekarang.

“Kau sedang di culik!” Ceplos Chanyeol dengan santainya, membuat Tiffany langsung saja menoleh padanya dengan tatapan heran. Sementara itu, Sehun justru melemparkan tatapan membunuh pada kakaknya itu.

“Hyeong!” Serunya kesal tapi Chanyeol hanya membalasnya dengan menggedikan kedua bahunya. Sehun mengumpat dalam hatinya, seharusnya dia memang tidak membawa pria itu dalam rencananya ini.

“Sehun-ah, sebenarnya ada apa ini? Mau kemana kita?” Tiffany kembali menoleh padanya dan Sehun pun terlihat bingung harus mengatakannya dari mana.

“Katakan saja, Sehun-ah. Toh, nanti pun dia akan tahu.” Suara Suho terdengar dari arah depan dan Sehun pun terlihat mengambil nafas panjang saat itu.

“Baiklah.” Gumam Sehun setelah menghembuskan nafasnya perlahan-lahan. “Err… itu… sebenarnya, noona… kami… kami… yang telah menculikmu!” Akunya kemudian.

“Apa?!” Tiffany memekik keras, nyaris menjerit.

Pikirannya melayang pada kejadian beberapa jam yang lalu dan akhirnya gadis ini ingat akan kejadian saat di kamar tadi. Saat ia di kejutkan oleh sesosok asing yang masuk ke dalam kamarnya dan membekap dirinya hingga dia pingsan.

“Tapi… kenapa kalian menculikku?” Kini gadis itu kembali terlihat bingung. “Tidak bisakah kalian hanya mengatakannya saja padaku?!” Dan wajah gadis ini berubah kesal sekarang.

“Itu… kami tidak bisa mengatakannya sekarang, Noona.”

“Kenapa?!”

“Kau akan mengetahuinya nanti, Tiff. Jadi, percuma saja jika kau bertanya sekarang.” Ujar Chanyeol kemudian.

Kening Tiffany mengkerut, bibirnya mengerucut dan kedua pipinya pun mengembung. “Terkadang aku memang tidak pernah mengerti jalan pikiran pria-pria ini!” Gerutunya.

Namun, baru saja Tiffany berniat untuk memilih diam. Ia baru saja menyadari jika ada dua orang yang tentu saja tak berada di dalam mobil ini.

“Kemana Kris dan Luhan? Apakah mereka menggunakan mobil yang berbeda?”

“Mereka berdua tidak ikut.”

“Eh?! Kenapa?”

“Karena ini adalah rencanaku!” Jawab Sehun singkat. Sekilas Tiffany mendengar nada tak suka yang terselip pada suara Sehun tadi.

“Mereka pasti akan lebih senang jika berada di rumah. Sudahlah tenang saja, tidak perlu memikirkan mereka…” Ujar Chanyeol sambil tersenyum lebar pada Tiffany.

Awalnya Tiffany terlihat sangat bingung dengan semua ini. Tapi, saat ia melirik ke arah Sehun yang mulai menguap karena mengantuk serta Suho yang nampak serius dengan stir mobilnya, akhirnya Tiffany memilih untuk benar-benar diam sekarang.

“Oh… aku sungguh-sungguh tak bisa membayangkan bagaimana raut wajah Kris Hyeong dan Luhan Hyeong saat menemukan kita tidak berada di rumah sekarang!” Chanyeol menyeringai kecil sambil tertawa geli membayangkan semua itu.

©Homeless©

Langkah derap kaki yang bergema di seluruh ruangan itu terdengar. Berkali-kali langkah itu terhenti hanya untuk membuka pintu dan memastikan jika apakah orang-orang yang tenngah di carinya saat inii ada atau tidak.

“Sial! Mereka benar-benar menghilang dari rumah ini!” Gerutu Kris sambil mengumpat dan mengusap wajahnya dengan kasar.

Luhan nampak berlari dari lantai atas, ia kemudian berjalan menghampiri Kris lalu pria ini pun menggeleng singkat. “Mereka tidak ada di manapun. Sepertinya mereka pergi sejak tadi malam… aku juga tidak dapat menemukan Tiffany di kamarnya.” Jelasnya.

“Ck! Ini pasti ulah mereka bertiga! Mereka pasti membawa Tiffany pergi keluar tanpa kita sadari tadi malam!” Kris menghentakkan kakinya dengan keras sambil meletakkan kedua tangannya di sisi pinggulnya.

Sementara Kris terus mengumpat kesal karena kepergian ketiga adik serta Tiffany yang ntah kemana. Luhan lebih memilih berjalan ke arah dapur untuk mengambil sebotol air es yang mungkin dapat lebih menenangkannya.

“Sebenarnya pergi kemana mereka sekarang? Kenapa Tiffany tidak memberitahu kami?” Luhan bergumam dalam hatinya, pria ini benar-benar mencemaskan keadaan Tiffany saat ini.

Luhan baru saja berniat menarik pintu lemari es itu, tetapi tertahan saat melihat sebuah note kecil yang tertempel di sana.

Ia mengamati note itu sejenak sebelum akhirnya ia dapat mencerna setiap kata demi kata yang tertulis di dalam note tersebut. “Ck! Berlibur apanya! Menculik Tiffany mungkin benar! Dasar bocah-bocah tengik!” Luhan mencabut note kecil itu, lantas memasukannya ke dalam saku celananya.

Kemudian, ia bergegas meraih jaket serta kunci mobilnya. Berniat mencari ketiga adik laki-lakinya itu beserta Tiffany.

“Kau mau kemana?” Tanya Kris saat melihat Luhan hendak keluar dari rumah.

“Aku akan mencari mereka.”

“Kalau begitu aku ikut!”

Luhan terdiam sejenak, ia nampak berfikir sebelum akhirnya berkata, “Kupikir akan lebih baik jika kita mencari mereka secara berpencar. Itu akan mempercepat pencarian kita.”

“Ide bagus! Baiklah, aku akan membawa mobilku sendiri. Kau pergilah duluan!”

“Baiklah!” Luhan mengangguk singkat seraya berlari keluar rumah.

Dinyalakannya mesin mobilnya itu, dan tak berapa lama mobilnya pun mulai melaju cepat, memecah belah jalanan kawasan kota Seoul yang masih sepi karena hari yang masih pagi.

©Homeless©

“Kita sampai!” Seru Sehun, Chanyeol dan Suho secara bersamaan.

Mendengar hal itu pun, Tiffany sontak terbangun dari tidurnya dan buru-buru membuka kedua matanya, gadis ini menoleh ke samping kirinya dan melihat pintu mobil telah terbuka dengan ketiga pria itu yang tengah menatap penuh antusias kepadanya.

“Huh? Dimana ini?” Bingung Tiffany, masih terlihat setengah sadar dengan kedua matanya yang menyipit, pertanda jika gadis ini masih sangat mengantuk.

“Ayo, Noona keluarlah dan lihatlah! Kau akan tahu tempat apa ini!” Seru Sehun sembari menarik tangan Tiffany agar gadis itu mau keluar dari dalam mobil itu.

Dengan sedikit terpaksa, akhirnya Tiffany mau keluar dari dalam mobil tersebut. Ia mulai merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan dan merapatkan jaket tebal yang sempat di berikan Suho kepadanya.

“Tadaaaaaaaaaaa!!! KEJUTAN!!” Seru ketiga pria itu kembali bersamaan.

Dan Tiffany benar-benar kehilangan kata-katanya saat melihat ke sekeliling tempatnya. Ia masih menatap sebuah rumah panti asuhan di hadapannya ini dengan kedua matanya yang sukses membulat serta mulutnya yang menganga dengan lebar. Dan keterkejutan Tiffany pun semakin bertambah saat kedua matanya menangkap sesosok wanita paruh baya yang tak asing lagi baginya.

Air mata menggenang di pelupuk matanya dan mulai membasahi kedua pipi Tiffany tanpa sadar. Ia lantas berlari ke arah wanita paruh baya itu dan langsung menghambur ke dalam pelukannya.

“Ahjumma!! Aku sangat merindukanmu!” Serunya di sela suara isak tangisnya yang ntah sejak kapan telah meledak dan berubah menjadi sebuah isakan tangis bahagia.

Wanita paruh baya itu pun sontak memeluknya erat dan membelai lembut rambut serta punggung Tiffany, memberikan kehangatan serta kelembutan yang sudah lama tak lagi di rasakan oleh Tiffany.

“Ahjumma juga merindukanmu. Kenapa baru mengunjungiku sekarang, eoh?” Bisiknya tak kalah lembut dengan perlakuannya pada Tiffany.

Dia menarik lembut tubuh Tiffany dari pelukannya, mengusap perlahan-lahan jejak air mata Tiffany dan mengecup singkat keningnya. Tiffany tersentuh dengan semua perlakuan lembut itu, tak menyadari sama sekali kehadiran ketiga pria yang sudah memberikannya kejutan itu.

“Nah, sudahlah… jangan menangis lagi. Apakah kau tidak malu pada pria-pria tampan ini, eoh?” Canda wanita paruh baya itu, membuat Tiffany terkekeh geli dan langsung menoleh ke belakang.

Di lihatnya ketiga pria itu tengah tersenyum lebar padanya, dan tanpa ragu Tiffany pun segera menarik ketiga pria itu ke dalam pelukannya. “Gomawo.” Bisiknya saat memeluk ketiga pria itu di waktu bersamaan.

Dan walaupun terkejut dengan pelukan tiba-tiba ini, Suho, Sehun dan Chanyeol tetap tersenyum juga dan balas memeluk Tiffany.

“Ini hadiah untuk gadis sebaik dirimu.” Balas Chanyeol sambil melepaskan pelukan itu dan mencubit gemas hidung Tiffany.

“Haish! Jangan cubit hidungku seperti itu!” Pekik Tiffany sambil memegangi hidungnya dan ketiga pria itu pun hanya dapat tertawa geli saat melihat tingkah laku Tiffany yang sedikit kekanak-kanakan itu.

“Ok! Cukup untuk main-mainnya, sekarang adalah waktunya bekerja!” Seru wanita paruh baya lainnya dengan tubuhnya yang terlihat lebih tambun daripada wanita sebelumnya.

“Huh?!” Ketiga pria itu hanya menoleh sambil melemparkan tatapan bingung, berbeda halnya dengan Tiffany yang justru tersenyum kecil seakan mengerti maksud perkataan wanita paruh baya berbadan tambun itu.

©Homeless©

“Heol… kenapa kita jadi harus berakhir mencuci seperti ini?!” Chanyeol menggerutu sambil menjemur salah satu pakaian yang telah di perasnya itu.

“Yeah, bukankah kedatangan kita kemari untuk berlibur. Ck! Ini namanya penyiksaan!” Sahut Sehun terlihat tak kalah kesalnya.

“Sudahlah, jangan mengeluh lagi! Masih ada dua ember pakaian yang masih harus kita jemur.” Suho menggedikkan kepalanya ke belakang, membuat Sehun dan Chanyeol langsung menoleh pada dua ember pakaian itu.

“Haish!! Ini benar-benar membuatku frustrasi!” Keluh Chanyeol sambil melemparkan cucian yang di pegangnya itu ke arah ember di sampingnya.

“Aku juga!” Seru Sehun sambil mengikuti apa yang di lakukan Chanyeol tadi.

“YA! Jangan hanya menggerutu saja! Cepat kerjakan semuanya!” Teriakan Kwan Ahjumma-wanita paruh baya berbadan tambun itu-, terdengar dan reflex membuat Chanyeol dan Sehun segera kembali melanjutkan pekerjaan mereka.

“Ish! Dia wanita tua yang galak!” Gerutu Sehun lagi dan di ikuti anggukan Chanyeol.

Suho hanya menggelengkan kepalanya saja saat melihat tingkah laku kedua adiknya itu. Ia berbalik untuk mengambil ember cucian yang lainnya, tetapi langkahnya tertahan ketika ia melihat Tiffany yang tengah tertawa geli melihat kelakuan Sehun dan Chanyeol tadi.

Segurat senyuman tipis pun terkembang di wajah Suho. Tak dapat di pungkiri memang jika ia sangatlah menyukai senyuman Tiffany yang terlihat memukau seperti sekarang ini.

“Kuharap kau bisa selalu tersenyum seperti ini, Tiff. Dan akan lebih baik jika senyuman itu aku dapat melihatnya setiap hari…” Gumamnya dalam hati.

©Homeless©

“Aku tidak percaya ini! Kwan Ahjumma benar-benar membuat mereka bertiga kesal dengan cucian-cucian itu! Terlebih Sehun dan Chanyeol!” Tiffany tak dapat menghentikan suara tawanya ketika melihat kejadian tadi. “Apakah Kwan Ahjumma memang selalu seperti itu? Tidak berubah sama sekali?” Candanya sambil menoleh pada Lee Ahjumma.

Lee Ahjumma-wanita yang selama ini telah merawatnya dari kecil itu-, terkekeh kecil dan mengangguk singkat. “Kau tahu kan jika dia memang selalu bersikap seperti itu?”

“Oh ya… aku tidak akan lupa.” Tawa Tiffany kembali terdengar dan gadis ini pun memilih untuk duduk tepat di samping Lee Ahjumma. “Aku benar-benar sangat merindukanmu, Ahjumma…” Ia memeluk Lee Ahjumma erat dan wanita paruh baya itu mengelus lembut punggungnya sambil memberikan satu kecupan singkat di keningnya.

“Katakan padaku… apakah selama tinggal di Seoul, kau mengalami hal yang buruk, Tiff?” Ujar Lee Ahjumma kemudian.

Tiffany menggeleng singkat sambil melepaskan pelukannya. “Tidak. Aku baik-baik saja…”

“Bahkan jika harus bertunangan dengan lima pria sekaligus?!”

Deg!

Tiffany tersentak, kedua bola matanya membulat dalam seketika. “B-b-bagaimana bisa-”

Lee Ahjumma tersenyum geli melihat reaksi Tiffany ini. Ia memegangi kedua tangannya lalu berkata, “Tidak ada yang bisa kau sembunyikan padaku, Tiff. Aku tahu segalanya… kau tahu itu kan?”

“Tapi… ini jelas tidak mungkin! Kecuali, jika memang ada seseorang yang memberitahumu tentang semua itu!”

“Itu tidak penting!” Lee Ahjumma mengibaskan salah satu tangannya dengan acuh lalu ia pun kembali tersenyum. “Jadi… bagaimana rasanya tinggal bersama para pria tampan itu, eoh?!” Godanya sambil mengerling jail.

Blush!

Kedua pipi Tiffany sontak memerah bagaikan se-ekor kepiting rebus yang sudah matang. Ia mengalihkan tatapannya ke arah lain, berniat menghindari tatapan Lee Ahjumma.

“I-itu! Itu tidak seperti yang Ahjumma pikirkan! Well, aku memang tinggal dengan mereka semua, tapi tidak ada apapun yang terjadi! Lagipula, ini semua terjadi karena wasiat gila dari Kakek tua itu!”

“Aku tahu semuanya, Tiff.” Tawa geli Lee Ahjumma terdengar dan ini membuat Tiffany merasa benar-benar malu sekarang. Yeah, sejak dulu memang tidak ada hal apapun yang pernah bisa Tiffany sembunyikan dari Lee Ahjumma.

“Tapi bukan itu maksudku, Tiff. Maksudku… bagaimana rasanya bertemu dengan kakak-kakakmu lagi, eoh?” Lanjut Lee Ahjumma kemudian.

Kening Tiffany sontak mengkerut mendengar pertanyaan Lee Ahjumma tadi. “Huh?”

“Kenapa? Apakah kau juga masih ingin menyembunyikan tentang hal itu?” Tanya Lee Ahjumma lagi, belum menyadari jika Tiffany benar-benar bingung sekarang.

“Tidak-ehm, maksudku… tunggu, aku tidak mengerti apa maksud dari ucapanmu tadi. Apa yang Ahjumma maksud dengan bertemu dengan kakak-kakak-ku?”

Kini giliran kening Lee Ahjumma yang mengkerut dalam. “Ya tentu saja adalah Xiao Lu dan Kim Joonmyeon. Kau tidak lupa mereka kan, Tiffany?”

Deg!

Bagai tersengat serangan listrik ribuan volt, Tiffany merasakan tubuhnya menegang dan berubah menjadi kaku hanya untuk beberapa detik saja. Kedua telapak tangannya ntah kenapa mendadak berubah dingin dan kedua bola mata hitam miliknya kembali membulat dengan sempurna.

“Apa… maksud Ahjumma? Xiao Lu? Kim Joonmyeon?” Kerongkongan Tiffany mendadak terasa kering sekarang. Rasanya, begitu sulit untuk mengatakan dua nama itu.

Dua nama yang dulu sangat berarti bagi Tiffany, bahkan sampai sekarang pun ia takkan pernah bisa lupa akan nama itu. Kedua pria cilik yang dulu selalu menjaganya namun tiba-tiba saja menghilang dari hadapannya dan tak pernah kembali ataupun memberi kabar. Bagaimana Tiffany bisa lupa pada mereka berdua?

Tapi sekarang? Apa yang dikatakan Lee Ahjumma? Kenapa dia berkata seolah-olah Tiffany telah bertemu kembali dengan kedua pria itu?

“Ahjumma… apa yang kau katakan? Aku tidak mengerti.” Tiffany menggeleng lemah.

Sementara Lee Ahjumma justru semakin terlihat bingung sekarang. “Tapi… mereka jelas mengatakan padaku jika… kau sudah mengetahuinya.”

“Mengetahui apa?! Ahjumma kumohon, katakan yang jelas! Aku sungguh-sungguh tidak mengerti dengan maksud ucapanmu!” Ujar Tiffany terlihat begitu frustrasi dan bingung di saat yang bersamaan.

“Tiffany… maksudku… Xiao Lu itu adalah Xi Luhan dan Kim Jonnmyeon itu adalah Kim Suho. Apakah kau tidak mengetahui itu? Mereka berdua adalah cucu Tn.Kim. Kau jelas telah tinggal bersama mereka selama beberapa terakhir ini, bagaimana kau tak megetahui hal ini, Tiff?”

Deg!!

Jantung Tiffany seolah langsung berhenti berdetak saat itu juga. Seluruh darah dalam urat nadinya seakan berhenti mengalir dan tubuh gadis ini membeku bagai sebuah patung.

Xiao Lu adalah Xi Luhan dan Kim Joonmyeon adalah Kim Suho!

Bagaimana bisa Tiffany tidak menyadari semua ini! Dan kenapa mereka tidak pernah mengatakan apapun padanya?! Kenapa?!

“Tiffany… kau baik-baik saja?” Cemas Lee Ahjumma saat melihat perubahan pada raut wajah Tiffany.

Gadis ini sesaat terdiam dan pada detik selanjutnya ia pun mengangguk lalu berusaha untuk tetap tersenyum. “Aku harus keluar sebentar.” Ujarnya pelan seraya bergegas keluar dari ruangan itu.

Tiffany masih terlalu syok menerima kenyataan ini. Ia benar-benar tak mengerti, bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa ia tak pernah menyadari jika kedua pria itu adalah dua pria yang sangatlah berarti di kehidupan masa kecilnya dulu? Bagaimana bisa Tiffany tak merasakan semua ini?

“Hey, Tiff. Apa yang kau lakukan di sini?” Suara Suho terdengar, memecah lamunan gadis ini. Tiffany reflex berbalik padanya dan ntah kenapa, bayangan akan wujud Joonmyeon kecil pun langsung terlintas dalam benaknya.

Tiffany tertegun di tempatnya. Masih memandang Suho dengan tatapan yang sulit untuk di artikan. Kini, yang ada dalam bayangan Tiffany. Joonmyeon kecil tengah berdiri tepat di hadapannya, tersenyum lembut kepadanya. Lalu, Joonmyeon kecil tiba-tiba saja berubah menjadi Kim Suho dengan senyumannya yang masih terlihat lembut.

Dan Tiffany benar-benar terkejut saat baru menyadari betapa pria ini memang begitu mirip dengan Joonmyeon kecilnya dulu. Senyuman serta tatapan lembut mereka begitu sama, tapi sayangnya Tiffany tak menyadari hal itu sama sekali.

“Joonmyeon-ah…” Dan kata-kata itu pun spontan meluncur dari mulut Tiffany tanpa bisa di tahan lagi.

Suho jelas terkejut dengan perkataan Tiffany. Pegangannya pada ember kosong itu terlepas dan kedua mata pria ini pun sontak melebar.

Keduanya sama-sama mematung di tempatnya, tak menyadari kehadiran Luhan yang rupanya telah melihat semua kejadian itu dari awal. Ada sorot kesedihan yang jelas terlihat dalam pancaran matanya itu.

“Kau ternyata lebih dulu mengingatnya daripada aku, Tiff…” Lirihnya sedih.

To Be Continued…

Note : Annyeong readers… Woah… mian y buat semuanya yang udah pada nungguin lanjutan FF Homeless tapi saya udah lama gak publish-publish nih FF… Tapi semoga deh, lanjutan fanfic ini memuaskan para readers semua… dan jangan lupa yah commentnya… biar saya makin semanget buat lanjutin ffnya… Hehehehehe

Advertisements

69 thoughts on “Homeless (Kidnap!-Part.7-)

  1. aaaaaaaaaaaaaaaa…
    aku baru liat ni ff gara2 fokus sama baekhyun -_-
    mianhae baru coment sekarang ..
    walaupun gaada baekkiku disini tapi gapapa lah ,
    ceritanya aku suka banget

  2. aku benar2 tidak rela jika fany bersama suho, kenapa harus suho sih, kenapa gak kris aja yang menjadi teman kecil fany kan jika kris atau luhan itu jauh lbh baik, tapi msh ada kesempatan untk berharap, bukan hanya ada suho saja yg berada di hati tiffan dan aku sngt berharap luhan menjadi pendamping fany#mian buat fans suho, tapi aku g suka

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s