[Freelance] Goodbye Love

Goodbye Love SeoChan

Title : Goodbye Love
Author : Himmalaya
Length : Ficlet
Rating : T
Genre : AU, Romance, Sad
Cast :

  1. Seohyun [SNSD/Main]
  2. Chanyeol [EXO K/Main]
  3. Yuri [SNSD/ Support]
  4. Jongdae [EXO M/ Support]
  5. Baekhyun, Kyungsoo, & Minseok [EXO K/ Support]


Disclaimer © Artists are belonging to God, their company, and their parents. This story is belonging to me.

Note : Annyeong! Kali ini saya membawa cast dengan couple exoshidae … ini kali pertama saya membuat FF dengan couple exoshidae. Jadi maaf kalau kurang memuaskan atau alurnya terlalu dipaksakan, karena saya juga masih belajar. Maaf juga jika ada typo.

© Himma Isya Haniyya

Author POV

Seohyun bersenandung ria seraya menyisir rambutnya di depan cermin. Setelah itu, ia merapikan seragamnya sebentar dan pergi keluar dari kamar pribadinya.

“Aku berangkat,” teriaknya dari ambang pintu rumah.

Seohyun berjalan menuju sekolahnya sembari bersenandung. Entah mengapa, hari ini terasa begitu indah baginya. Bagaimana tidak? Ayahnya berjanji akan membelikan Seohyun piano baru saat pulang dari Jepang. Dan lusa, Ayahnya sudah berada di Korea.

“Seohyun-ah!” panggil seseorang membuat Seohyun menoleh ke belakang.

“Chanyeol? Tumben berangkat pagi?”

“Ah~ kau membuatku malu saja. Ceria sekali, ada apa denganmu?”

“Kau tahu? Lusa Ayahku akan pulang! Dan Ayahku berjanji saat pulang dari Jepang nanti akan membelikanku piano baru!” ungkap Seohyun sampai melompat-lompat kecil.

Chanyeol tersenyum tipis dan mengacak pelan rambut Seohyun. “Bilang pada Ayahmu, jangan lupa membawakan buah tangan dari Jepang untukku.”

“Bagaimana jika tidak mau?”

“Oh… ayolah… aku kenal dekat dengan keluargamu,” jawab Chanyeol sedikit memohon.

“Baik-baik, aku hanya bercanda,” kata Seohyun membuat Chanyeol tersenyum lebar.

“Nah, begitu. Kita ‘kan sudah lama bersahabat,” ungkap Chanyeol lalu merangkul pundak Seohyun.

~ Goodbye Love ~

Bel sekolah berdering menandakan pelajaran pertama telah tiba. Suasana kelas 2-4 masih saja ramai. Ada yang sedang menyalin pekerjaan milik temannya, bermain sepak bola di kelas, dan ada juga yang sibuk belajar.

Bae seonsaengim memasuki kelas 2-4 yang masih sedikit ribut. Melihat guru mereka sudah memasuki kelas, dengan cepat mereka kembali duduk manis di tempat masing-masing.

Annyong haseyo,” sapa Bae seonsaengim.

Annyong haseyo Bae seonsaengim,” jawab semua murid.

“Kemarin saya memberikan kalian pekerjaan rumah, bukan?”

Ne.”

“Letakkan buku tugas kalian di atas meja.”

Semua murid patuh untuk meletakkan bukunya di atas meja. Tetapi, Seohyun masih terlihat mencari buku tugasnya di dalam tas. Seingatnya, buku tugasnya sudah ia masukkan ke dalam tas. Tapi buku itu tidak ada.

“Nona Joohyun… dimana buku tugasmu?” tanya Bae seonsaengim.

“Entahlah, aku tidak tahu. Buku tugasku tidak ada di dalam tas. Tetapi, semalam aku sudah mengerjakannya, dan aku yakin buku itu sudah aku masukkan ke dalam tas,” jawab Seohyun.

“Saya tidak mau tahu. Berdiri!”

Chanyeol yang duduk tidak jauh dari bangku Seohyun menatap Seohyun dan buku tugasnya bergantian. Ia merasa iba dengan Seohyun, Seohyun pasti akan dikeluarkan dari kelas dan mungkin di luar kelas ia tidak mempunyai teman. Tanpa pikir panjang, Chanyeol menyembunyikan buku tugasnya di dalam laci meja.

“Kau juga Park Chanyeol, berdiri!” perintah Bae Suzy yang melihat meja Chanyeol bersih—tidak ada bukunya.

Seohyun mengangkat sebelah alisnya dan menatap Chanyeol ketika ia berdiri. Bae Suzy—guru mereka berdua—menunjuk pintu dengan tongkat kecilnya. Seohyun mengangguk lemah dan berjalan keluar diikuti Chanyeol.

“Kau tak membawa buku tugas?” tanya Seohyun ketika mereka sudah berada di luar.

“Tidak, aku membawanya. Aku menyembunyikan buku tugasku di laci meja,” jawab Chanyeol.

“Kenapa? Kau malas mengikuti pelajaran?”

“Tidak juga,” jawab Chanyeol sambil tersenyum memperlihatkan gigi putihnya.

“Lalu?”

“Aku hanya ingin bersamamu.”

“Ja— Chanyeol-ah, kau membuatku merasa bersalah.”

“Itu kemauanku sendiri, bukan kau yang memintanya. Tak perlu merasa bersalah seperti itu,” kata Chanyeol lalu mengelus pundak Seohyun yang tertutup oleh seragam.

Chanyeol menatap wajah Seohyun yang menunduk. Ia tersenyum, Seohyun sangat cantik menurutnya. Ya, mereka telah bersahabat sepuluh tahun lamannya, sepuluh tahun lamanya mereka selalu bersama. Wajar saja bila Chanyeol jatuh cinta pada Seohyun. Namun, Chanyeol tak mau mengutarakan perasaannya pada Seohyun. Ia takut persahabatannya bersama Seohyun akan selesai begitu saja.
———-

Chanyeol dan Seohyun menyapu halaman belakang sekolah. Mereka mendapat hukuman karena tidak membawa buku tugas dan tugas itu selesai sampai pulang sekolah nanti. Peluh menetes dari dahi mereka berdua. Halaman belakang sekolah sungguh luas. Setelah selesai menyapu, mereka mengelap jendela kantor guru, menghapus tulisan-tulisan di papan tulis, membersihkan penghapus papan tulis dari serpihan-serpihan kapur, mengepel kelas, dan setelah itu mereka pulang bersama.

Matahari saat ini sedang senang-senangnya bersinar. Dengan lelah dan panas, Seohyun berjalan pulang bersama Chanyeol ditemani basahnya peluh mereka dan bau tak sedap dari keringat mereka.

“Hari ini melelahkan, hari yang buruk,” ungkap Chanyeol.

Seohyun berbalik ke arah Chanyeol. Kilauan berlian pada kalung Seohyun membuat Chanyeol refleks menutup matanya dan mengeluh, “Seohyun-ah, kalungmu benar-benar menyilaukan mataku.”

Seohyun menatap kalungnya. “Mianhae, lagipula kilauan dari mata kalungku tidak akan membuatmu mati,” kata Seohyun lalu membalik arah kalungnya.

“Tapi tetap saja itu mengganggu.”

“Kau saja yang berlebihan.”

Dengan kesal Seohyun berjalan mendahului Chanyeol. Chanyeol pun hanya bisa terkikik geli melihat tingkah laku Seohyun yang mudah sekali kesal. Dengan sedikit berlari, Chanyeol mensejajarkan langkahnya dengan Seohyun dan tersenyum geli.

“Mengapa tersenyum?”

“Kau lucu,” jawab Chanyeol.

“Lucu bagaimana?”

“Kau marah, dan marahmu itu selalu membuat orang tertawa.”

“Aku tidak marah,” kata Seohyun.

“Kau kesal karena aku tidak suka dengan kalungmu?”

“Tidak juga. Tidak sama sekali malahan,” jawab Seohyun.

Chanyeol tersenyum jahil, lalu mendekatkan wajahnya ke pipi Seohyun dan mengecupnya singkat. Tentu saja itu membuat Seohyun terlonjak dan membuat wajahnya memerah.

“Kau ini apa-apaan Chanyeol-ah?” tanya Seohyun sedikit membentak.

“Mencium pipimu,” jawab Chanyeol dengan wajah innocentnya.

“Memalukan!”

“Ayolah Seohyunnie … kita ini sahabat. Dulu kita juga sering melakukannya. Bahkan dulu kita sering mandi bersama,” ungkap Chanyeol yang berjalan mendahului Seohyun.

Seohyun yang mendengarnya semakin malu dan ia maju ke arah Chanyeol untuk mencubit pinggangnya. Chanyeol refleks mengaduh dan memukul kepala Seohyun. Mereka pulang ke rumah masing-masing dengan tawa dan candaan indah.

~ Goodbye Love ~

Seohyun POV

Aku dan teman-temanku berjalan menuju ruang musik. Setelah Yoonjoo seonsaengim membuka pintu ruang musik, kami mengambil alat-alat musik sesuai giliran. Hari ini aku tidak lagi memegang piano cantik itu. Namun, hari ini aku harus memetik senar-senar yang dapat menyanyi dengan merdu—gitar.

Chanyeol duduk di kursi piano bersama Yuri, teman kami. Perasaan tidak suka menyelimuti hatiku. Ia bermain piano bersama Yuri dengan raut wajah ceria dan tawa khasnya.

Aku tak tahu apa yang terjadi padaku. Tetapi, aku benar-benar ingin menendang Yuri dan menggantikan tempatnya. Aku benci, aku tidak suka dengan situasi saat ini. Biasanya kami berdua—aku dan Chanyeol—yang memainkan piano itu. Kalau tidak, mungkin Jongdae dan Yuri.

Rasa tidak suka ini bukan seperti sahabat yang cemburu pada orang yang dekat dengan sahabatnya. Tapi, rasa ini berbeda… seperti seorang kekasih yang cemburu dengan kekasihnya yang dekat dengan lawan jenis lain. Apa aku selama ini mencintai Chanyeol lebih dari sahabat?
———-
Author POV

Seohyun keluar dari ruang musik dengan wajah merah karena menahan amarahnya. Sesekali ia menoleh ke arah Chanyeol yang sedang bercakap-cakap dengan Yuri. Seohyun benar-benar cemburu pada mereka.

“Seohyun-ah,” panggil Yoonjoo seonsaengim.

Seohyun menoleh ke belakang dan tersenyum tipis. “Ada apa seonsaengim?”

“Kau bisa membantuku mengambil buku tugas teman-temanmu di mejaku sekarang?”

“Tentu saja bisa,” jawab Seohyun.

Seohyun melangkahkan kakinya menuju kantor guru bersama Yoonjoo seonsaengim. Setelah itu ia kembali menuju kelas. Senyuman Chanyeol menyambutnya ketika ia akan duduk. Namun, Seohyun tak membalas senyuman Chanyeol. Ia menganggap di kelas ini tidak ada Chanyeol, juga Yuri.

Pada saat waktu istirahat tiba, Seohyun keluar dari kelasnya membawa tumpukan buku. Ia berjalan menuju loker miliknya yang ada di koridor sebelah kanan kelasnya. Ketika ia berjalan, Baekhyun, Kyungsoo, dan Minseok menjahilinya dengan cara meletakkan mainan kecoak di pundak Seohyun tanpa Seohyun ketahui.

Merasa sesuatu menempel pada pundaknya, Seohyun menoleh ke pundak kirinya. Seketika itu Seohyun berteriak dan menjatuhkan bukunya. Dengan marah ia menoleh ke belakang. Chanyeol berdiri tepat di belakang Seohyun dengan senyum mengembang. Ia melihat Seohyun yang sedang dijahili oleh Baekhyun, Kyungsoo, dan Minseok tadi. Maka dari itu, Ia berniat untuk membantu Seohyun memungut buku-bukunya yang jatuh.

Namun, Seohyun justru menampar wajah tampannya. Chanyeol benar-benar terkejut. Mungkin Seohyun berfikir jika Chanyeol yang menjahilinya. Setelah menghentakkan kaki kanannya, Seohyun berlalu begitu saja dari hadapan Chanyeol.

“Seohyun-ah! Bukan aku yang melakukannya! Baekhyun, Kyungsoo dan Minseok lah yang melakukannya!” jelas Chanyeol dengan sedikit berteriak.

Seohyun terus berjalan membiarkan buku-bukunya berserakan di lantai. Ia tak peduli siapa pun yang menjahilinya tadi. Ia marah pada Chanyeol bukan karena sebuah mainan kecoak. Tetapi, karena kejadian di ruang musik tadi.

“Dia marah padamu,” kata Kyungsoo.

“Mungkin?”

Chanyeol berjongkok untuk memungut buku-buku Seohyun yang berserakan di lantai. Lalu membawanya kembali ke meja Seohyun.

~ Goodbye Love ~

“Hey! Bukankah hari ini Ayahmu pulang dari Jepang?” tanya Chanyeol ketika ia dan Seohyun berjalan pulang.

“Lalu?” sahut Seohyun dingin.

“Buah tangan untukku,” jawab Chanyeol.

“Tak ada. Kau bukan buah hatinya,” kata Seohyun ketus, lalu berlari pulang—menghindar dari Chanyeol.

Chanyeol menggaruk kepalanya bingung. Biasanya jika Seohyun kesal dengannya, mereka pasti akan cepat berbaikan. Tetapi rasanya ini berbeda. Seohyun justru terlihat seperti enggan menatapnya atau berusaha menghindar darinya.

Seohyun menoleh ke belakang. Chanyeol sudah tidak terlihat. Dengan langkahnya yang berat, sembari terus melangkah, Seohyun memejamkan matanya dan mengenang saat-saat dirinya dan Chanyeol bermain piano bersama di ruang musik.

“Seohyun-ah?”

Seohyun berhenti melangkahkan kakinya ketika mendengar suara berat yang memanggilnya. Kelopak matanya terangkat untuk naik—terbuka. Kepalanya perlahan menoleh ke arah suara berat yang memanggilnya tadi. Sosok Chanyeol berdiri disana.

“Apa yang terjadi pada dirimu?”

“Tidak ada apa-apa,” jawab Seohyun dengan suara datar.

“Kau marah padaku?”

“Menurutmu?”

“Tapi mengapa?”

“Entahlah. Kuyakin kau tahu sendiri,” jawab Seohyun dan mulai berbalik memunggungi Chanyeol.

“Soal kecoak itu? Bukan aku yang melakukannya… Baekhyun, Kyungsoo dan Minseok lah yang melakukannya,” kata Chanyeol mencoba menjelaskan.

Seohyun tersenyum sinis dan kembali melangkahkan kakinya menuju rumah. Meninggalkan Chanyeol yang berdiri dengan beribu pertanyaan di kepalanya.

Seohyun tahu, ternyata ia telah mencintai Chanyeol sedalam-dalamnya palung Mindanau. Mungkin Chanyeol tak memiliki perasaan sedikit pun pada Seohyun, itu yang ada di pikiran Seohyun saat ini.

———-
Chanyeol POV

Aku membuka pintu kelas kami, kelasku dan Seohyun. Sebagian pasang mata tertuju padaku ketika aku membuka pintu kelas.

“Apa yang terjadi padamu?” tanya Baekhyun yang tampaknya melihat luka lebam di pipi kiriku.

“Kau habis bertengkar?” tanya Minseok.

“Bukan urusanmu,” jawabku ketus.

Aku berjalan menuju meja Seohyun dan meletakkan sebuah boneka Keroro dan sebuah kartu yang disematkan pada telinga boneka Keroro.

Seohyun melirik boneka itu sekilas dan menoleh ke arahku. Aku hanya melempar pandangan dingin ke arahnya.

Seohyun terlihat mengambil boneka itu dan membaca kartu yang kusematkan pada telinga boneka itu.
Ketika kau marah, aku juga marah.Ketika kau kesal, aku juga kesal. Kita selalu bersama, bukan? Dalam suka ataupun duka :’) Maka dari itu, aku mengajakmu berbahagia pada hari yang cerah ini… salam damai ^^

With Love, Chanyeol.
Aku menoleh ke arah Seohyun yang tersenyum ke arahku. Ia mencium boneka Keroro itu dan memasukkannya kedalam ransel miliknya.

~ Goodbye Love ~

Author POV

Seohyun meletakkan buku-bukunya di lantai sebelum menutup pintu lokernya. Ketika ia akan mengambil buku itu, Seohyun membulatkan matanya kaget. Pasalnya, buku itu tidak ada lagi pada tempatnya.

“Ayo kita pulang!”

Sekarang Seohyun benar-benar kaget. Setelah matanya yang tak menemukan bukunya di lantai, kini giliran telinganya yang harus mendengar suara berat yang mengajaknya untuk segera pulang.

Sejurus kemudian, Seohyun memutar badannya. Sosok lelaki bertubuh jangkung berdiri membawa buku-bukunya yang ia letakkan di lantai tadi.

“Ternyata kau… mengagetkanku saja,” kata Seohyun.

Mianhae, aku hanya ingin membantumu,” balas orang itu yang ternyata adalah Chanyeol.

“Ayo kita pulang!” ajaknya—lagi.

“Biar aku yang membawa bukunya. Itu bukuku,” pinta Seohyun.

“Tak perlu,” tolak Chanyeol yang sedetik kemudian berlari meninggalkan Seohyun di belakang.

Melihat tingkah laku Chanyeol yang kekanak-kanakan, Seohyun hanya bisa terkikik geli dan berlari menyusul Chanyeol.
———-
“Mau main ke rumahku?” tanya Seohyun.

Chanyeol terlihat berfikir seraya memandangi rumah Seohyun yang ada di hadapannya. “Boleh.”

“Mencoba piano baruku?” ajak Seohyun yang sedang membuka gerbang rumahnya.

“Oh, dengan senang hati tentunya,” jawab Chanyeol.

Seohyun dan Chanyeol masuk kedalam rumah. Setelah mempersilahkan Chanyeol duduk, Seohyun berlalu menuju kamarnya sembari membawa buku-bukunya yang dibawa Chanyeol tadi. Sedangkan Chanyeol sibuk memijit jari-jarinya yang sedikit pegal.

Beberapa menit kemudian, Seohyun kembali dengan mengenakan t-shirt dan skirt panjang.

“Pianonya ada disana,” kata Seohyun sembari menunjuk arah barat rumahnya.

“Ayahmu menaruh piano ini di tempat yang strategis,” komentar Chanyeol.

Majayo, setiap sore aku suka bermain piano. Jadi, saat aku bermain piano, sinar dari matahari yang akan tenggelam selalu menemaniku.”

Chanyeol duduk di kursi putih itu dan mulai menekan tuts piano dengan asal. Chanyeol berhenti sejenak dan tersenyum. Ia menekan tuts-tuts piano itu yang perlahan membentuk nada-nada yang indah.

Seohyun terlihat berfikir mendengar nada-nada yang Chanyeol mainkan dengan piano miliknya itu. Mengapa Chanyeol memainkan lagu itu? Pikir Seohyun.

Just The Way You’re? Kau suka lagu itu?” tanya Seohyun.

“Tidak juga. Aku mempersembahkan lagu itu untuk seseorang,” jawab Chanyeol yang masih terus memainkan tuts-tuts piano itu.

Nugu? Sebutkan ciri-cirinya!”

Chanyeol menyeringai sejenak. “Berambut hitam dan panjang, tinggi semampai, dan pandai bermain piano,” ungkap Chanyeol.

Seohyun tersenyum kecut. Ia tahu siapa yang dimaksud Chanyeol. Yuri. Gadis itu selalu terlihat sempurna, tidak seperti dirinya yang tak pernah terlihat sempurna.

“Emm… akan kubuatkan minum dulu,” kata Seohyun meninggalkan Chanyeol bermain piano sendiri.

~ Goodbye Love ~

Seohyun sesekali memandang Chanyeol yang sedang fokus bermain piano. Sembari fokus memainkan gitarnya, Seohyun juga sesekali tersenyum senang. Hari ini Chanyeol bermain piano sendiri, tanpa ditemani dirinya, Jongdae, ataupun Yuri.

Setelah pelajaran seni musik selesai, semua murid kembali menuju kelas. Kali ini ganti pelajaran Matematika yang harus mereka perhatikan. Bae seonsaengim kembali memasuki kelas mereka.

Chanyeol menyambut wajah ceria Bae seonsaengim dengan wajahnya yang muram. Lampau, ia tidak mengikuti pelajaran Bae seonsaengim. Mau tidak mau, pada saat pembahasan soal nanti, jika Chanyeol dipanggil maju, ia harus siap.

“Chanyeol-ah! Tolong kerjakan soal nomor satu halaman dua ratus tiga puluh lima!”

Bingo! Benar dugaanku,’ batin Chanyeol.

“Joohyun-ah! Kau kerjakan nomor dua!”

Chanyeol tersenyum pada Seohyun yang juga tersenyum ke arah Chanyeol. Mereka maju ke depan dan mulai mengerjakan masing-masing soal yang Bae seonsaengim berikan.

Dengan senyum yang terus mengembang, Seohyun mengerjakan soal itu dan sesekali melirik ke arah Chanyeol. Ia benar-benar senang hari ini. Yuri absen sekolah karena sakit.
———-
Seohyun POV

Aku berjalan menelusuri koridor setelah keluar dari toilet perempuan. Ketika melewati ruang kepala sekolah, sosok familiar terlihat berada didalam sedang berbincang dengan kepala sekolah.

Kuputar langkahku dan mengintip mereka dari samping pintu.

“Chanyeol? Sedang apa disana?” gumamku.

Kupertajam pendengaranku untuk mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan. Sepertinya pembicaraan itu penting sekali.

“Mulai hari ini kau akan keluar dari sekolah ini. Aku hanya bisa berdoa, semoga prestasimu tidak menurun, justru malah meningkat di sekolah yang akan kau tempati.”

Ne, kamsahamnida. Aku juga berharap begitu.”

“Maafkan aku Park Chanyeol. Tetapi, orang tuamu sudah menunggu di depan sekolah. Kau tidak bisa pamit terlebih dahulu dengan teman-temanmu.”

Kepala sekolah menepuk pelan pundak Chanyeol yang sedang tersenyum getir. Aku memegang dadaku yang sedikit sesak dan berbalik.

Kenapa Chanyeol harus pergi? Kami baru saja berbaikan kemarin. Mengarungi hari-hari yang cerah, damai, dan indah. Kenapa Chanyeol harus pergi? Ketika aku telah jatuh hati padanya. Ini benar-benar tidak adil.

———-

Author POV

Seohyun menghapus air mata yang mulai menetes dari matanya dan berlari.

Chanyeol melangkahkan kakinya dengan langkah yang begitu berat. Beban di tasnya belum seberapa dari beban yang ada di hati dan pikirannya. Wajahnya tertunduk melihat ke arah lantai. Ia berjalan keluar dari gedung sekolah.

“Chanyeol-ah…” panggil Seohyun yang sedari tadi berniat untuk mencegat Chanyeol.

“Seohyun?” lirih Chanyeol.

Sedetik kemudian Chanyeol kembali melangkahkan langkah kakinya yang berat, mengabaikan Seohyun yang berdiri dengan penuh harapan. Ia tak kuasa melihat raut wajah Seohyun yang begitu sedih. Hatinya sakit jika melihat Seohyun sedih.

Sepertinya Seohyun tahu akan kepergianku. Tapi, darimana?’ pikir Chanyeol.

Seohyun menutup mulutnya rapat-rapat menatap punggung Chanyeol yang semakin kecil di matanya. Matanya masih berkaca-kaca.

Chanyeol menuruni tiga anak tangga dan memijakkan kakinya di tanah. Ia tidak lagi berada di halaman sekolah yang sudah ia tempati selama dua tahun. Di hadapannya, Ibu dan Ayah Chanyeol terlihat menunggunya.

“Ya! Park Chanyeol!”

Chanyeol membalikkan badannya mendengar suara seseorang yang selalu berputar-putar di telinga dan kepalanya. Suara milik Seohyun.

Seohyun berjalan menghampiri Chanyeol. Perlahan tapi pasti, air matanya kembali turun. Seohyun mengangkat tangannya ke leher jenjangnya. Memperlihatkan kalung berliannya pada Chanyeol.

Kalung itu kini telah berpindah ke telapak tangan Seohyun. Tangan kanan Seohyun lantas memegang tangan kanan Chanyeol dan memberikan kalungnya pada Chanyeol.

For you. Don’t forget me. Promise! Okay?” kata Seohyun.

Seohyun terisak seraya menundukkan kepalanya dan berbalik pergi dari hadapan Chanyeol. Chanyeol memperhatikan kalung itu dan meremasnya kuat.

“Seohyun-ah!” panggilnya.

Seohyun menoleh ke arah Chanyeol. Chanyeol berlari ke arah Seohyun dan memeluknya erat. Setelah itu ia memegang pipi Seohyun dan mendekatkan wajahnya pada wajah Seohyun.

Mengecup bibir Seohyun pelan. Menekannya dan menjilatnya. Setelah itu ia tersenyum pada Seohyun—senyuman terakhir.

Saranghae. Tahukah kau? Selama ini aku mencintaimu Seohyun-ah…”

“Aku juga mencintaimu. Selamat tinggal Chanyeol-ah… Semoga kita akan berjumpa kembali.”

“Tahukah kau? Aku memainkan lagu Just The Way You Are dengan pianomu itu khusus aku persembahkan untukmu.”

“Terima kasih. Kau boleh saja jauh dariku, tapi cintamu dan cintaku akan selalu dekat.”

“Ah~ hari ini terasa sangat cepat. Bahkan lebih cepat daripada menghitung angka satu sampai sepuluh. Seohyun-ah, kita akan berjumpa lagi. Aku janji,” lirih Chanyeol setelah mobilnya keluar dari pekarangan sekolahnya.

~ Goodbye Love ~
©Himma Isya
~The End~

10 thoughts on “[Freelance] Goodbye Love

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s