The New One

The New One SuFany

[icydork] | Suho, Tiffany, Sehun | Romance, Sad, Angst, Marriage-Life | PG 17+ | Banyak kata-kata yang agak kurang baik untuk dibaca oleh pembaca yang masih dibawah umur | ALUR CEPAT DAN DIPAKSAKAN

Seorang pria berpaSuhoan jas rapi berjalan di sebuah gedung kantor. Rambutnya yang berwarna coklat keemasan itu mengilap karena pantulan cahaya dari lampu yang berada di langit-langit gedung kantor ini. Dengan berkas-berkas yang terpeluk di lengannya, Sehun berjalan menuju ruangannya. Lebih tepatnya ruangan pekerjaan dia dengan rekan kerjaanya –Suho.

Sehun membuka pintu ruangannya dan tersenyum –sekilas, “Hai, Sehun!” Sapa Suho yang sedang duduk sambil mengetik dengan tangan kanan dan kopi kanas di tangan kirinya.

“Hai, Suho!” Sapa Sehun balik lalu duduk di atas meja kerjanya.

“Bagaimana dengan berkas dari perusahaan CHZ? Sudah kau berikan kepada bos?” Tanya Suho sambil meneguk kopi pahitnya itu.

Sehun mengangguk sekilas sambil memehatikan berkas-berkas di hadapannya, “Sudah.” Sehun menyertakan jawaban sambil mengangguk. Suho bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati Sehun sambil tersenyum.

“Pantas saja kau cepat naik jabatan. Kau benar-benar gesit dalam pekerjaan!” Ucap Suho sambil menepuk pundak Sehun.

“Terima kasih, kau juga!” Balas Sehun sambil menepuk lengan kanan Suho.

“Argh!” Erang Suho. Sehun langsung menatap Suho sambil mengangkat kedua alisnya.

“Ada apa? Apa aku membuatmu terluka?” Tanya Sehun. Suho menggeleng.

“Tidak, ini dicakar Tiffany kemarin.” Jawab Suho.

Sehun mengangguk mengerti sambil mengenmbungkan pipinya. Walaupun dia belum berkeluarga seperti Suho, dia tahu betul mengapa Suho dicakar.

“Tiffany betul-betul wanita hebat. Dia cantik, baik, pintar, cerdik, bahkan saat di atas ranjang dia betul-betul menganggumkan,” Ucap Suho sambil tertawa dan memegang pundak Sehun lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Sehun. “Kau harus cepat mencari istri. Kau sudah 27 tahun, Sehun.” Lanjut Suho lalu kembali ke bangkunya.

Sehun hanya bisa terkekeh pelan sambil menggelengkan kepalanya. Istri? Hal itu tidak akan pernah muncuk di benak Sehun jika Suho tidak mengatakannya tadi.

                Sehun bangkit berdiri dari bangkunya, Suho menatapnya kebingungan.

“Mau kemana? Mau makan siang? Tunggu saja, siapa tahu Tiffany membawakan makan siang untukku lebih. Aku bisa memberikannya untukmu.” Tawar Suho panjang lebar.

Sehun menggeleng sambil meraih tasnya yang sudah diisi dengan laptop dan berkas-berkas miliknya yang akan dia bawa, “Maaf, Suho, aku harus rapat di perusahaan CHZ sekarang. Aku duluan, ya?” Pamit Sehun.

“Oh, okay. Hati-hati, Sehun!” Kata Suho. Sehun mengangguk sekali dan keluar dari ruangan tersebut. Sehun berjalan menelusui gedung ini lagi sambil membetulkan dasinya lalu memegang perutnya. Sebenarnya, dia merasa lapar.

“Tidak keburu lagi jika aku makan siang.” Gumam Sehun sambil menatap jam tangannya. Dia mempercepat langkahnya. Ah yah, ada mesin minuman, batin Sehun sambil melihat sebuah mesin minuman di sudut gedung ini.

                Sehun berjalan sambil menghisap susu kotak itu sampai habis –tanpa sisa bahkan sampai mengeluarkan suara sedotan yang sangat familiar untuk didengar. Sehun melihat seorang wanita berjalan dari ujung sana. Rasanya Sehun mengenalnya.

“Pagi, oppa!” Seru wanita itu. Oh, Tiffany, gumam Sehun.

“Pagi!” Balas Sehun sambil tersenyum.

“Suho ada di ruangannya?” Tanya Tiffany.

Sehun mengangguk sekali, “Tentu saja!” Jawab Sehun.

“Baiklah, sampai nanti, oppa!

“Sampai nanti!”

                Tiffany membuka pintu ruangan itu perlahan sambil mengukir senyumannya.

“Halo!” Sapa Tiffany semangat sambil memasuki ruangan itu dan meletakkan tas kecil yang berisi makanan di dalamnya.

“Makanan apa hari ini?” Tanya Suho sambil bangkit dari bangkunya.

“Seperti yang kau minta kemarin, Japchae!” Jawab Tiffany sambil mengeluarkan sebuah kotak makan dari tas kecil tersebut.

“Kau benar-benar mengetahui keinginanku!” Ucap Suho sambil mengacak rambut Tiffany pelan.

“Karena aku ini kau dan kau adalah aku. Jadi, kita saling mengetahui satu sama lain, bukan?” Tebak Tiffany.

“Tepat!” Suho mencubit pipi Tiffany sambil tertawa.

                “Presentasimu sangat bagus.” Ucap salah seorang yang ditengah rapat ini. Sehun membungkukkan tubuhnya.

“Terima kasih! Itu sudah sebuah kewajiban untuk saya agar memberikan yang terbaik untuk kerja sama kita.” Ucap Sehun penuh dengan percaya diri.

Orang tersebut –Manager yang lebih sering disapa dengan Kyuhyun mengangguk dengan mantap.

“Kami menerima proyek ini. Tolong berikan surat perjanjian secepatnya agar proyek ini berjalan lancar.” Kata Kyuhyun.

“Baiklah. Untuk hal dalam gedung seperti ini aku yang mengatasinya. Jika proyek ini sudah berlangsung, rekan saya yang akan menjalaninya. Agar nantinya beliau dengan rekan saya tidak canggung, rekan saya yang akan membawa surat perjanjian antar perusahaan ini.” Jelas Sehun.

Kyuhyun mengangguk berkali-kali, “Tentu saja! Kinerja perusahaan kalian sudah snagat terkenal baiknya!”

                To : Suho

                Presentasi berhasil.

                Hanya dua kata yang dikirim Sehun sebagai pesannya untuk Suho. Tsk! Sehun ini berdarah dingin ya? Dia terlalu cuek!

Sehun berjalan mengeluari gedung perkantoran ininamun ponselnya berdering, nampaknya ada panggilan masuk ke ponslenya. Sehun mengangkat ponslenya yang masih dia genggam sambil menggeser layarnya dan menempelkan ponslenya ke telinga sebelah kanannya.

“Halo?” Ucap Sehun.

“Presentasi berhasil?” Suara Suho terdengar dari ujung sana.

“Hm.” Respon Sehun singkat.

“Jadi, aku harus kesana sekarang dengan surat perjanjiannya?”

“Iya, jangan lupa bahwa proyek akan dilaksanakan besok secara langsung!” Ingat Sehun.

“Oh, okay, baiklah!” Sambungan pun diputuskan oleh Suho. Sehun memasukkan ponslenya ke dalam tas kerjanya lalu kembali ke kantornya.

                Suho memasuki rumahnya sambil melepas jas kerjanya perlahan. Tiffany yang duduk –menunggu Suho pulang langsung berjalan ke arah Suho dengan cepat sambil mengambang senyumannya dan melepaskan dasi yang dikenakan oleh Suho.

“Ada apa? Kau nampak bahagia sekali, bahkan sampai menyambutku seperti ini.” Ucap Suho sambil terkekeh pelan dan meletakkan tas kerjanya di atas sofa yang terletak di ruang tamu ini.

Tiffany memperlebar senyumannya, “Aku punya kejutan untukmu!”

Alis Suho terangkat sebelah sambil melepaskan kancing bagian paling atasnya lalu menuntun Tiffany berjalan ke ruang makan. Suho membuka tudung saji yang menutup makanan yang sudah disajikan oleh Tiffany dengan baik.

“Ini kejutannya?” Tanya Suho. Tiffany langsung menabok Suho pelan sambil menggigit bibir bawahnya dengan gemas.

“Bukan, bodoh!” Kata Tiffany.

“Hahaha, lalu apa?” Tanya Suho berusaha untuk ‘sok’ peduli sambil duduk di atas bangku –bersedia untuk makan.

“Aku,” Ucap Tiffany menggantung sambil meraih tangan Suho dan mengangkatnya lalu meletakannya di atas perut rata Tiffany.

“Kenapa? Perutmu rata? Aku sudah tahu—“ Ucap Suho menggantung lalu bangkit berdiri dan melebarkan kedua matanya. “Kau, Tiffany, kau, kau, kau ha—“

“Aku hamil, Suho.” Tiffanylah yang melanjutkan perkataan Suho tersebut.

“Kau, kau serius, Tiffany-ah?” Tanya Suho yang masih terkejut, sangat amat teramat terkejut.

“Dua rius.” Jawab Tiffany sambil mengeluarkan dua jarinya memperlihatkan angka dua.

“Bohong.” Ucap Suho. Tiffany langsung memukul bokong Suho dengan keras.

“YAK! Kau tidak percaya?” Tanya Tiffany setengah berteriak.

Suho langsung menarik Tiffany ke dalam dekapannya dan tersenyum layaknya malaikat.

“Tentu aku percaya, Tiff.” Ucap Suho sambil mengelus rambut lembut Tiffany dan harus itu. Tiffany mempererat pelukannya dan mengangguk pelan di dalam dekapan Suho. Sedangkan Suho? Perlahan muncul air mata di matanya yang indah itu.

Five months later

                Suho sedang berdiri di depan fondasi gedung yang masih setengah jadi. Suho menyentuh helm berwarna kuning yang hanya menutupi kepala dan rambutnya saja. Terik matahari itu menembus kemeja rapi yang Suho kenakan. Dengan malas Suho berjalan ke sebuah meja dimana banyak botol air mineral yang dingin di atasnya.

Suho mengambil botol air mineral tersebut dan meneguknya hingga tersisa hanya setengah. Suho melepaskan lelahnya dengan cara duduk di atas bangku yang terletak di tengah lapangan kosong ini. Ya, Suho sedang menajalankan proyek yang sudah disetujui oleh perusahaan yang menaungi Suho dengan CHZ yang ditangani oleh Kyuhyun.

Suho mengeluarkan ponselnya dan mencari kotak nama yang dia simpan dengan nama Sehun lalu menyentuh ikon telepon yang berawarna hijau. Suho menghubungi Sehun.

“Halo?” Ucap Suho ketika sambungan mereka sudah tersambung.

“Suho? Ada apa?” Tanya Sehun di seberang sana.

“Bolehkan aku minta tolong sesuatu?” Tanya Suho dengan perlahan.

“Apa itu?” Tanya Sehun.

“Ehm, begini. Aku masih di lokasi kerja sekarang. Bisakah kau menemani Tiffany untuk ke rumah sakit? Mengecek kandungannya. Aku mohon, Sehun-ah.” Mohon Suho.

“Hm,” Keduanya hening. “Maaf, tapi aku—“

                “Aku benar-benar minta tolong, Sehun. Bukankah kau tahu bahwa aku sedang menjalani proyek yang sangat teramat penting untuk perusahaan kita? Aku mohon, hanya kali ini, Sehun.” Mohon Suho lagi.

“Hm, baiklah. Hanya kali ini saja, mengerti?”

                “Mengerti! Terima kasih banyak!!”

“Hm.” Sambungan pun diputuskan dari Sehun. Suho menghelakan nafasnya dan meletakkan kepalanya di atas sandaran bangku tersebut. Dia memandangi sinar matahari yang bersinar layaknya senyumannya Tiffany. Seandainya Tiffany dan Sehun mengetahui apa yang Suho rasakan. Seandainya.

                “Sehun oppa, dimana Suho? Apakah sesibuk itukah dia sehingga tidak bisa megantarku, huh?” Keluh Tiffany yang sudah duduk di samping Sehun sekarang, mereka sedang berada di dalam mobil. Berdua.

“Ya, begitulah.” Sehun melirik sekilas ke perut Tiffany yang sudah agak cembung kedepan, pipinya juga mulai tambah tembem karena dia mengkonsumsi lebih banyak makanan dari sebelumnya.

“Astaga, mengapa nasib-ku seperti ini?” Oceh Tiffany lagi. Sehun masih fokus ke acara menyetirnya, jadi dia tidak menaruh banyak perhatian kepada Tiffany.

                “Jadi, bagaimana dengan kandunganku, dok?” Tanya Tiffany sambil duduk di depan dokter kandungan yang menanganinya –disebelah Sehun.

“Kandungan anda baik-baik saja,” Ucap sang dokter sambil menulis pesan untuk Tiffany yang harus diingat olehnya. “Hanya saja, kau perlu banyak istirahat dan tidak banyak memikirkan hal yang kurang penting.” Lanjut sang dokter sambil memberikan selembar pesan untuk Tiffany agar kandungannya bisa lebih baik lagi.

“Kandungan istri anda baik-baik saja. Jaga dia lebih lagi, ya?” Ingat sang dokter kepada Sehun yang berstatus sebagai teman dari suami Tiffany itu langsung tersentak. Dia diam seribu kata, dia tidak tahu harus menjawab apa. Tiffany menyikutnya pelan, menghancurkan lamunannya.

“O-oh, baiklah, terima kasih sudah mengingatkanku.” Ucap Sehun dnegan gugup.

“Baiklah, kami keluar dulu dokter. Terima kasih.” Sambung Tiffany.

“Ya, sama-sama.” Balas sang dokter. Sehun tersenyum sekilas dan membungkukkan tubuhnya.

                “Hahaha, reaksimu lucu sekali tadi, oppa!” Kata Tiffany setengah tertawa. Sehun hanya menyengir pelan sambil menyetir.

“Jangan tertawa terlalu banyak! Ingat kandunganmu, Tiffany-ah!” Hati Tiffany terketuk ketika mendengar Sehun menyebut namanya dengan unformal.

“Haha, maaf, oppa, sepertinya itu tidak ada hubungannya.” Balas Tiffany sambil tertawa dan menepuk lengan bagian atas kanan Sehun pelan dan akhirnya keduanya tertawa bersama.

                Suho berjalan di tengan hari dengan sinar terik matahari yang sangat menyala menyerang permukaan bumi ini. Pandangannya buyar. Suho melepas helm-nya lalu membuangnya dengan sembarang. Berkas proyek yang dia genggam jatuh ke atas tanah. Suho duduk di atas tanah yang panas sambil memegangi kepalanya yang berdenyut hebat.

Darah segar keluar dari lubang hidung Suho. Darah itu mengalir hingga menetes ke atas tanah tersebut. Salah satu pekerja sadar dengan keadaan Suho sekarang. Dia langsung berlari. Saat itu juga Suho tertepar di atas tanah.

“Telepon ambulans!” Teriak pegawai tersebut.

                Sehun kembali lagi ke rumah sakit yang sama. Dengan jas kerja yang dia peluk, dia berlari menelusuri kamar demi kamar di rumah sakit ini sampai dia berhenti tepat di kamar bernomor 3176. Dia membuka pintu tersebut, lututnya melemas. Rekan kerjanya, sahabatnya, saudaranya tengah berbaring di atas kasur di rumah sakit ini dengan wajah yang pucat.

“Suho!” Panggil Sehun sambil berlari kea rah Suho, dia melempar jas kerjanya ke atas sofa dan berlutut di samping ranjang Suho.

“Suho!” Panggil Sehun. Suho membuka matanya perlahan. Dia tersenyum dengan bibirnya yang berwarna putih pucat tersebut.

“Halo, Sehun!” Sapa Suho dengan suara yang agak serak. Sehun mengerutkan keningnya.

“Suho, kau kenapa?” Tanya Sehun tak sabar. Suho mengedikkan bahunya sekilas.

“Aku tidak tahu.” Jawab Suho. Sehun menggali manik mata Suho dan dia menemukan kebohongan disana. Ya, Suho berbohong.

“Bisakah kau jujur denganku?” Pinta Sehun.

Suho mendecak pelan, “Tsk! Baiklah. Aku,” Ucap Suho menggantung. Air mata perlahan turun dari mata kiri Suho. “Aku mengidap kanker otak, Sehun.” Lanut Suho.

Sehun terkejut. Dia tidak tahu harus berbicara apa lagi. Mata Sehun memerhatikan sebuah aliran yang turun dari mata Suho. Sungguh sedih Sehun melihat hal ini semua.

“Tiffany. Apakah dia tahu?” Sehun membuka topic pembicaraan dengan Tiffany.

“Tidak. Dia tidak akan dan tidak boleh mengetahui hal ini.” Jawab Suho.

Sehun menggeleng, “Dia harus tahu.”

“Tidak.” Balas Suho singkat.

“Bagaimana kau bisa sekejam ini terhadap Tiffany? Apakah kau tidak memikirkan bagaimana nasib Tiffany nanti?” Tanya Sehun.

“Aku yakin kau bisa memikirkan Tiffany.” Jawab Suho singkat.

“Ma-mak-maksudmu, Suho?” Tanya Sehun.

“Jaga Tiffany, untukku, Sehun.” Pinta Suho.

Sehun menggelng dengan cepat, “Jika masalah pekerjaan, aku sangat bisa. Tiffany? Maaf, dia milikmu dan selamanya akan menjadi—“

“Tapi aku tidak akan lama lagi disini.” Potong Suho. Ah, mata Sehun memanas. Rasanya matanya akan membendung cairan sebentar lagi.

“Aku sudah tidak bisa disembuhkan. Kanker-ku sudah stadium empat. Jadi, kumohon,” Suho menggantungkan perkataannya sambil berusaha duduk. “Jagalah dirinya, untukku.” Lanjut Suho.

Sekali lagi, Sehun menggeleng, “Tidak, aku tidka bisa. Aku benar-benar minta maaf, Suho.”

“Aku yang meminta hal ini secara—“ Perkataannya tertahan ketika dia merasakan sebuah cairan merah kental dan segar turun dari lubang hidungnya. Sehun yang melihat hal itu langsung panik.

“Tenanglah, ini sudah biasa, Sehun.” Kata Suho sambil meraih tissur yang berada di sebelah kanannya dan mengelap darah tersebut.

“Kau, sudah berapa lama mengidap penyakit ini?” Tanya Sehun.

“Mungkin hampir dua tahun? Aku tidak menyadarinya.” Jawab Suho.

“Jadi, sudah dua tahun kau bersandiwara di depan Tiffany?” Tanya Sehun. Dia berdeham. “Maksudku, kau sudah bersandiwara di depan Tiffany, aku, dan lainnya. Kau sudah bersandirwara di depan kami selama dua tahun?” Ralat Sehun.

“Lu—“

“Aku pikir kita sahabat.”

“Aku tidak pernah menganggapmu sebagai sweornag sahabat. Kau tahu sendiri bukan? Tiffany adalah junior kita di sekolah. Kita bahkan pernah bersaing sampai bertaruh untuk mendapatkannya. Setelah itu, aku yang menang.” Suho terkekeh pelan setelah menyelesaikan perkataan itu.

Suho mengambil nafas lagi, “Lalu kita bersaing ketat di dunia kerja. Kau benar-benar menarik perhatian atasan dengan baik. Ku akui kali ini aku yang kalah.” Ucap Suho. Dia memejamkan matanya, berusahan menetralkan pandangannya yang bercampur-campur itu.

“Tapi, kali ini. Tak ada lagi persaingan. Aku menyerah.” Lanjut Suho.

Sehun mengangguk mengerti.

“Oleh sebab itu, jagalah Tiffany. Aku tahu dia juga berharga untukmu.”

Dengan yakin, Sehun menganggukkan kepalanya, “Ya, dengan senang hati, Suho.”

                Pintu rumah Tiffany terbuka. Tiffany langsung menoleh dari TV-nya ke arah pintu. Senyumannya menyungging, dia senang bahwa suaminya telah tiba.

“Tiffany.” Suara itu muncul sembari pintu itu terbuka. Tiffany mengenal suara ini, namun bukan suara Suho.

“Fany-ah.” Tiffany terkejut. Hanya satu orang yang mengetahui panggilannya ini, hanya satu orang yang mencipatkannya, hanya satu orang yang memanggilnya dengan nama ini, yaitu Sehun.

Oppa?” Panggil Tiffany. Akhirnya orang tersebut muncul sambil tersenyum. Namun, terdapat hal yang disembunyikan disana.

“Tiffany, apa kabarmu? Bagaimana kandunganmu?” Tanya Sehun sambil berjalan mendekati Tiffany.

“Baik, sangat baik. Oppa, apakah kau tahu dimana Suho? Biasanya dia sudah tiba di rumah setengah jam yang lalu.” Jawab Tiffany sambil melemparkan pertanyaan kepada Sehun.

“Suho,” Sehun berpikir sejenak untuk menjawab pertanyaan Tiffany. Dia tidak tahu harus berbohong atau jujur. Dia ingin yang terbaik untuk Tiffany. Sehun mengepalkan tangannya keras sambil menatap manik mata Tiffany yang cemas.

“Suho di rumah sakit. Dia sekarat.” Seketika itu juga tubuh Tiffany melemas. Untung saja Sehun bergerak cepat. Jadi, dia bisa menopang Tiffany terlebih dahulu.

                Tiffany terbaring di atas ranjang miliknya dengan Suho. Sedangkan Sehun duduk di pojokkan ruangan sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya lalu memerhatikan Tiffany yang sudah tidur tanpa mengedipkan matanya. Sehun menghembuskan nafasnya kasar. Dia membuang pandangan ke arah lain lalu melihat sebuah bingSuho foto besar.

Foto pernikahan Tiffany dan Suho.

Sehun tersenyum pahit. Dia bangkit berdiri lalu berjalan ke sebuah lemari, dia membuka laci yang berada di dalam lemari itu. Memang terlihat tidak sopan, tapi dia harus mulai ‘terbiasa’. Sehun meraih sebuah bingSuho foto kecil disana.

Foto Tiffany dan Suho yang sedang bertamasya bersama.

Sehun tersenyum sekilas lalu membalik bingSuho tersebut. Kini dia melihat bagian belakangnya. Sehun mengucak matanya, dia melihat sebuah lembaran foto lagi di tengah-tengah penutup foto dengan foto Tiffany dan Suho. Penasaran, Sehun membuka penutup bingSuho tersebut lalu melihat lembaran foto tersebut.

Sehun terkejut.

Itu foto selca Tiffany dan Sehun ketika hari kelulusan Sehun. Ternyata Tiffany masih menyimpannya. Sehun mendengar pergerakkan dari arah Tiffany. Dengan cepat, dia menutup dan mengembalikan bingSuho foto itu ke tempat semula. Dia takut Tiffany sadar apa yang dia lakukan.

                “Aku sudah membuatkanmu bubur. Jadi, makanlah.” Bujuk Sehun.

Tiffany menggelng, “Tidak akan sebelum kau mengantarku kepada Suho.” Jawab Tiffany.

“Aku janji untuk mengantarmu jika kau makan ini terlebih dahulu.”

Tiffany menoleh ke arah Sehun. Memerhatikan bola mata Sehun. Mata itu masih sama, batin Tiffany. Tiffany meraih sendok yang berada di sebelah kanannya.

“Baiklah.”

                Air mata Tiffany terjatuh dengan lancar dari ata indahnya ketika melihat tubuh Suho yang sudah ditutupi dengan Suhon putih dari bawah kaki sampai atas kepala. Suho telah tiada subuh tadi. Kaki Tiffany memelas, dia terjatuh di atas lantai yang dingin ini.

“Suho.” Panggilnya sambil disusul dengan tangisannya. Sehun yang berada di belakang Tiffany hanya terpaku diam. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Baru kali ini, otaknya buntu.

“Suho, jangan tinggalkan kami!” Mohon Tiffany sambil memeluk perutnya. Memeluk calon anaknya.

“Suho, aku mencintaimu. Aku janji Suho. Aku janji.” Ucap Tiffany. Dia bangkit berdiri lalu memeluk tubuh Suho yang bisa dirasakan dinginnya walaupun sudah ditutupi dengan Suhon putih itu.

“Suho, kumohon. Aku janji, aku akan dan hanya mencintaimu.” Ucap Tiffany.

“Fany-ah.” Panggil Sehun. Dia tidak tega dengan keadaan Tiffany yang tengah mengandung tapi menangisi suaminya yang meninggalkannya. Sehun berjalan pelan ke arah Tiffany. Perlahan, Sehun meraih lengan Tiffany dan memeluknya dari belakang dengan erat.

“Tenang, Tiffany. Biarkan Suho tenang disana.” Ucap Sehun.

“Tapi—“

“Biarkan dia tenang.”

“Suho.”

“Ayo kita keluar.” Ajak Sehun. Tiffany menurut, dia meninggalkan kamar tersebut. Dengan langkah yang berat, dengan pandangan yang terus terarah kepada Suho, dengan tangan Sehun yang melingkar di pundaknya, dengan air mata yang mengalir, Tiffany meninggalkan kamar tersebut.

Selamat tinggal, Suho. Aku mencintaimu.

END

Semenjak moment SuFany di SMTown beijing, aku jadi nge-ship mereka loh #curcol

41 thoughts on “The New One

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s