You’re My Song

You're My Song

Tittle              : You’re My Song

Author           : NtaKyung (@NtaKyung)

Art Poster     : NtaKyung

Main Casts    : Tiffany Hwang, Xi Luhan and Other Casts (Find By Yourself)

Genre             : AU (Alternate Universe), Romance, School Life

Length           : Oneshot

Rated             : PG-13

Disclaimer    : Segala hal yang berada di dalam Fanfiction ini, Murni adalah imajinasi saya! So, DONT Copy-Paste or BASHING!! Don’t Like? Don’t Read!!

Summary      : “Ketika suatu alunan musik mampu mewakili sebuah perasaan yang tak dapat di ungkapkan hanya dengan kata-kata.”

¶©You’re My Song©¶

Gadis itu kembali terpaku berdiri di hadapan sebuah pintu ruang kesenian yang berada di lantai paling atas gedung sekolahnya itu. Dalam dekapan kedua tangannya, terdapat sebuah buku musik yang sangat di sukainya.

Tak berapa lama, sebuah alunan musik yang berasal dari sebuah piano yang berada di dalam ruang kesenian itu pun terdengar sampai keluar. Gadis itu bergerak sedikit, berusaha mengintip di antara celah kecil pada pintu yang tak tertutup rapat itu.

Seulas senyuman terkembang di wajah gadis ini.

“Dia memainkannya lagi.” Gumam gadis berambut bergelombang panjang berwarna cokelat tua itu. Parasnya terlihat begitu cantik namun tertutupi oleh sikap pemalunya, padahal gadis ini terlihat jauh lebih cantik ketika memperlihatkan senyumnya yang khas dengan kedua matanya yang melengkung ikut membentuk sebuah senyuman.

Tiffany Hwang nama gadis ini.

Dia merupakan anak baru di sekolah ini. Dua bulan yang lalu ia masuk ke sekolah Neul Paran High School ini karena tugas pekerjaan kantor Ayahnya yang mengharuskannya untuk datang kembali ke Seoul, tanah kelahiran mendiang Ibunya.

Namun, baru saja dua bulan ia menetap di sekolah ini. Ia sudah menemukan sesuatu hal yang menarik perhatiannya. Ya, kecintaan Tiffany terhadap musiklah yang membuatnya bertemu dengan sosok pria yang telah menjadi pujaan hatinya itu. Xi Luhan namanya.

Tiffany sejenak terpaku, membayangkan kembali hari pertama ia masuk ke sekolah ini, yang di mana hari itupun adalah awal pertemuannya dengan Xi Luhan.

<Flash Back Start>

 “Aku tidak bisa melakukan ini, Ayah. Oh aku, benar-benar gugup sekarang!” Sejak tadi, Tiffany terus saja berceloteh karena merasa gugup.

Ia dan Ayahnya baru saja bertemu dengan kepala sekolah di Neul Paran High School ini dan sekarang adalah waktunya Tiffany untuk berkeliling di sekolah ini. Ini semua harus ia lakukan agar di hari pertamanya masuk sekolah nanti, gadis ini tidak akan bingung lagi.

Tn.Hwang tersenyum menenangkan, di belainya rambut panjang Tiffany dengan sangat lembut dan kemudian ia pun berkata, “Aku tahu kau bisa melakukannya, Tiff. Bukankah kau sangat pintar bergaul? Kau pasti tidak sulit untuk beradaptasi kembali, percayalah.”

Tiffany mengerucutkan bibirnya. “Itu dulu! Semenjak Ayah sering berpindah-pindah ke luar negeri aku menjadi gadis pendiam dan pemalu! Ayah tidak pernah tahu seberapa sulitnya aku untuk bergabung dengan siswa-siswi yang lain!” Gerutunya.

“Aku tahu. Tapi kumohon… mengertilah posisi Ayah juga, Tiff.”

Hening, Tiffany tak ingin menanggapi perkataan Tn.Hwang. ia sudah terlalu kesal pada Ayahnya yang selalu memaksanya untuk ikut dengannya dan membuatnya harus selalu bersiap-siap setiap saat, takut jika sang Ayah akan berpindah ke suatu tempat yang lain.

“Aku tahu kau pasti marah padaku. Tapi percayalah… Ayah melakukan ini karena Ayah tidak ingin berpisah jauh denganmu, Tiff. Jadi, kumohon… bertahanlah sebentar lagi.”

Tn.Hwang menepuk lembut pipi Tiffany lalu memberikan satu kecupan singkat tepat di atas kening gadis itu dan ia pun kembali memperlihatkan seulas senyuman khasnya.

“Bersenang-senanglah, sayang… Ayah akan berusaha pulang lebih awal malam ini.” Ujar Tn. Hwang  sembari berbalik dan pergi meninggalkan Tiffany yang tak berkomentar apapun lagi.

Sejenak, Tiffany masih terdiam di tempatnya. Di tatapnya punggung sang Ayah yang kini mulai tak terlihat kembali. Dan ketika mobil Ayahnya melintas melewatinya, Tiffany masih tetap terdiam, tak sedikitpun tersenyum.

“Aku juga tidak ingin berpisah dengan Ayah… Tapi… Tak bisakah Ayah mengerti jika aku begitu kesepian sekarang?” Ia bergumam sedih.

Namun, tanpa Tiffany sadari. Sesosok pria yang memiliki wajah yang tampan serta imut itu-rupanya telah mendengar percakapan Tiffany dengan Tn.Hwang tadi-, terus saja memperhatikannya. Kedua tangannya di lipat di depan dadanya dan tubuhnya sedikit bersandar pada dinding di sampingnya.

“Dia gadis yang manis.” Dan komentar pria itu pun terlontar begitu saja dari mulutnya. Kemudian, ia pun berbalik dan pergi dari tempat itu, tanpa di sadari oleh Tiffany.

¶©You’re My Song©¶

Tiffany telah menyelusuri seluruh gedung sekolah dengan di teman seorang guru yang memiliki jam kosong saat ini, Kim Taeyeon namanya.

“Nah, ini adalah ruangan terakhir yang berada di gedung sekolah ini. Ya… seperti yang kau lihat dari tulisan di pintunya. Ini adalah ruang kesenian, biasanya ruangan ini di gunakan untuk berlatih para siswa-siswi pada event-event tertentu. Misalnya seperti perayaan ulang tahun sekolah dan lain-lain. Dan ruangan ini juga biasa di pakai oleh beberapa siswa-siswi yang masuk mata pelajaran tambahan dalam bidang musik.” Jelas Taeyeon dengan panjang lebar.

Tiffany hanya menanggapi guru muda berparas imut itu dengan sebuah anggukan kecil. Tak terlalu mendengarkannya karena ia masih terlalu gugup dengan suasana baru di lingkungan sekolah ini. Belum lagi, tadi ia sempat mendapatkan berbagai tatapan aneh dari para siswa-siswi yang tak sengaja berpapasan dengannya.

“Baiklah… kalau begitu aku harus segera kembali ke kelas sekarang. Beberapa menit lagi jam pelajaranku akan di mulai. Tapi, jika kau masih ingin berkeliling di sekolah ini… kau bisa melakukannya sampai jam sepulang sekolah nanti.” Ujar Taeyeon lagi.

“Ya, terima kasih Seongsaenim.” Tiffany kembali mengangguk singkat dan Taeyeon pun bergegas pergi, takut jika ia akan telat masuk jam pelajarannya sendiri.

Tiffany menghela nafas panjang. Merasa senang karena akhirnya ia tak harus berkeliling sekolah ini lagi. Ya, gadis ini sebenarnya memang tak ingin berkeliling sekolah ini. Tapi karena kepala sekolah terus memaksanya, maka gadis ini pun terpaksa mengikuti apa yang di katakan kepala sekolah itu.

Ia baru saja hendak melangkahkan kakinya ketika terdengar sebuah dentingan piano yang mengalunkan sebuah melodi yang tak asing lagi baginya. Gadis ini menoleh pada pintu ruang kesenian yang tak tertutup rapat.

Ia memberanikan dirinya untuk membuka lebih lebar pintu tersebut. Dan di saat itulah, kedua bola mata hitamnya menangkap sesosok pria yang tengah asyik memainkan jari-jarinya di atas tuts piano tersebut.

Tiffany termenung. Menikmati setiap detiknya dari alunan melodi yang sudah sangat di hapalnya itu. Kedua matanya hanya tertuju pada sosok pria tersebut.

“Dia benar-benar sangat mahir memainkan piano itu.” Ia bergumam dalam hatinya.

Dan tepat di saat gerakan jari pria itu melambat, beberapa detik selanjutnya alunan lagu itu berhenti. Pria itu tersenyum puas dengan hasil permainannya, ia mendongakkan wajahnya dan mengalihkan tatapannya dari piano tersebut.

Namun, baik Tiffany dan pria asing itu sama-sama terdiam, saat kedua mata mereka kini saling bertemu pandang. Seolah-olah waktu telah berhenti berputar dan bumi tak lagi bergerak pada porosnya. Mereka hanya tetap terdiam tak bergeming, keheningan pun menyelimuti ruangan yang hanya di huni oleh dua orang berjenis kelamin berbeda ini.

“Kau… siapa?” Dan pertanyaan itu pun langsung terlontar dari mulut sang pria setelah di sadarinya jika mereka sudah terdiam cukup lama.

Tiffany tersentak dari lamunannya dan tiba-tiba saja ia jadi sulit untuk berbicara. Seolah suaranya telah habis tertelan angin, “A-aku.. anak baru di s-sekolah ini.” Ujarnya dengan terbata-bata.

“T-tadi… a-aku tidak sengaja mendengarkanmu bermain piano itu. J-jadi… aku langsung saja m-masuk ruangan i-ini.” Lanjutnya lagi masih dengan terbata-bata.

Ia meringis sembari menundukkan wajahnya, merasa malu dengan sikapnya sendiri. Ia merasa seperti seorang maling yang sedang tertangkap basah sekarang, dan ia benar-benar tak berharap jika pria itu takkan marah padanya. Toh, bukankah dia memang sudah bersikap salah karena masuk ke dalam ruangan itu dengan seenaknya?!

Akan tetapi, reaksi pria itu ternyata di luar dugaan. Ia justru tersenyum lembut padanya dan  ketika Tiffany tak sengaja mencuri pandang ke arahnya, ntah kenapa Tiffany dapat merasakan jantungnya seakan-akan berpacu dua kali lebih cepat daripada biasanya. Seluruh tubuhnya menegang dan kedua pipinya terasa bersemu merah.

“Ya… lagu Yiruma memang yang terbaik.” Ujar pria asing itu seraya beranjak dari posisi duduknya dan perlahan-lahan mulai berjalan mendekati Tiffany.

Sesaat kemudian pria itu telah berdiri di hadapannya lalu ia kembali tersenyum lembut pada Tiffany. “Kau belum menyebutkan namamu sejak tadi… Jadi, katakan padaku, siapa namamu nona?” Tanya pria itu dengan kalem, bersikap seolah-olah mereka sudah saling mengenal satu sama lain.

Sejujurnya, Tiffany sedikit terkejut dengan keramahan pria tersebut. Selama ini, dia tak pernah menerima perlakuan ini di sekolah manapun-kecuali sekolah pertamanya-, sejak dulu, dia lah yang harus terlebih dulu menanyakan nama mereka, tapi lihatlah pria ini! Ia bahkan menanyakan nama Tiffany dengan seulas senyuman ramah di wajahnya yang tampan sekaligus imut itu.

“T-Tiffany… N-namaku Tiffany Hwang.” Jawab Tiffany akhirnya, masih saja terbata-bata.

Pria itu tertawa, membuat Tiffany mendongakkan wajahnya dan menatap pria tersebut dengan tatapan bingung. ‘Kenapa dia tertawa? Apakah dia sedang menertawakanku? Ah.. aku tahu ini tidak sebaik seperti yang ku pikirkan!’ Gadis itu kembali bergumam di dalam hatinya.

Tetapi, seolah pria itu mampu membaca apa yang di pikirkan Tiffany. Pria itu berhenti tertawa dan mengatakan sesuatu yang mampu membuat jantung Tiffany lagi-lagi harus berdetak dua kali lebih cepat daripada biasanya.

“Maaf. Aku tidak menertawakanmu, Tiffany-ssi. Hanya saja… sikapmu yang gugup ini, benar-benar sangat lucu. Kau terlihat begitu menggemaskan sekarang!” Ungkap pria itu jujur.

Blush!

Kedua pipi Tiffany seketika bersemu merah. Ia merasa begitu senang ketika mendengar pujian pria itu. Sebenarnya Tiffany berfikir jika pria itu mungkin saja hanya sekedar ber-basa-basi dengannya, tapi Tiffany tidak dapat memungkiri jika suara pria itu begitu terdengar bersungguh-sungguh dan tak ada sedikitpun kebohongan yang terasa di sela-sela ucapan pria itu.

“Kalau begitu ini adalah giliranku untuk memperkenalkan diriku.” Ujar pria itu dengan seulas senyuman yang masih terkembang di wajahnya. “Namaku Xi Luhan.”

Dan itu adalah awal dari pertemuan Tiffany dengan seorang pria bernama Xi Luhan itu. Seorang pria yang telah berhasil mencuri perhatiannya dan bahkan mencuri hatinya, dan hanya Xi Luhan lah satu-satunya pria yang mampu membuat hati Tiffany selalu bergetar hebat hanya karena melihat senyumnya atau di saat pria itu memainkan jari-jarinya di atas tuts piano itu.

<Flash Back End>

¶©You’re My Song©¶

Siang ini, Tiffany menghabiskan waktu istirahatnya dengan memakan bekal yang telah di siapkan Lee Ahjumma,-pelayan di rumahnya-. Ia hanya duduk tepat di bawah pohon rindang yang berada di halaman belakang sekolah, tak ada siapapun di sana selain dirinya. Ya, sampai saat ini Tiffany memang belum memiliki teman akrab.

“Di sini kau rupanya!” Sebuah seruan keras terdengar, Tiffany menoleh ke asal suara itu dan ia tersenyum tipis saat mendapati jika seruan itu berasal dari Luhan.

Luhan menjatuhkan dirinya tepat di samping Tiffany. Ya, semenjak pertemuan mereka saat itu, Tiffany dan Luhan menjadi akrab satu sama lain. Walau terkadang Tiffany tetap masih terlihat canggung pada pria itu, tetapi Luhan justru sebaliknya.

“Kenapa kau selalu makan siang sendirian, Tiff? Apakah kau tidak memiliki teman dekat di kelasmu?” Tanya Luhan kemudian.

Gadis itu menggedikkan bahunya, “Tidak. Lagipula… siapa yang ingin berteman dengan gadis sepertiku?” Jawabnya tanpa minat.

Luhan mendengus pelan, “Bicara apa kau ini. Jelas aku adalah orangnya. Bukankah aku adalah teman terdekatmu, eoh?!”

“Ya, tapi kau berbeda!”

Seringaian kecil terbentuk di wajah Luhan, menandakan jika ia berniat untuk menggoda Tiffany sekarang, “Berbeda apanya?”

“I-itu… ehm.. maksudku, ya… pokoknya kau berbeda!” Jawab Tiffany kebingungan. Gadis ini kehilangan kata-katanya dan ia tak bisa mengatakan apapun lagi selain kata-kata itu.

Luhan tertawa, lantas mengacak-acak rambut Tiffany dengan lembut. “Jangan terlalu serius menanggapinya. Aku hanya bercanda.” Ujarnya kemudian.

Tak ada balasan dari Tiffany. Gadis itu hanya tersenyum malu, dan merasa senang akan perilaku Luhan yang begitu pengertian terhadapnya.

“Kau bukannya tidak bisa memiliki teman, Tiffany-ah. Hanya saja… mungkin kau kurang bersosialisasi dengan para teman-temanmu itu.”

“Tapi aku sudah berusaha mendekati mereka…”

“Kalau begitu tingkatkan usahamu. Dan jangan lupa untuk tetap tersenyum! Aku yakin kau akan mendapatkan banyak teman jika kau berusaha lebih keras lagi…”

Tiffany terdiam sesaat, berusaha menerapkan kata-kata itu di dalam otaknya. Lalu gadis ini pun mengangguk dan tersenyum. “Aku akan mencobanya. Terima kasih, Luhan-ya.”

Lagi, Luhan kembali mengacak-acak rambut Tiffany dengan lembut sembari terkekeh kecil. “Ya… ya.. ya.. teruslah berterima kasih pada malaikatmu ini.” Candanya dan Tiffany pun ikut tertawa karena kata-katanya.

“Ah iya! Apakah kau sudah makan siang?” Tanya Tiffany kemudian seraya menyodorkan kotak bekalnya yang berisi sushi ke hadapan Luhan. “Lee Ahjumma menyiapkan sekotak sushi untukku, jika kau mau-”

“Aku tidak lapar sekarang. Aku hanya ingin tidur sekarang, dan satu-satunya yang dapat kau lakukan adalah meminjamkan pundakmu agar aku bisa bersandar di sana!”

Pernyataan Luhan jelas membuat Tiffany terkejut, gadis ini tak jadi melahap sepotong sushi yang sudah ada di antara jepitan sumpitnya. Kedua matanya sedikit membulat dan ia hanya terpaku menatap Luhan dengan tatapan bingung sekaligus kaget.

“A-apa?” Tiffany kembali bersuara meski sedikit sulit.

Luhan berdecak pelan sebelum akhirnya berkata, “Aku artikan itu sebagai jawaban ‘ya’.” Dan setelah itu pun, Luhan telah menyandarkan kepalanya di atas pundak Tiffany lalu sebuah dengkuran halus pun terdengar, menandakan jika pria itu benar-benar tertidur di atas pundak Tiffany.

Sementara Luhan telah terlelap ke dalam alam mimpinya. Tiffany justru masih terlihat sedikit kaget sekarang, dan di saat kesadarannya telah terkumpul semua. Tak ada yang dapat Tiffany lakukan selain berusaha untuk tetap tenang dan tenang. Berharap jika Luhan tak dapat mendengar debaran jantungnya yang terasa begitu keras sekarang.

Ia menoleh ke arah Luhan, menatap wajah damai pria itu ketika tertidur pulas di atas pundaknya, dan Tiffany pun tersenyum tipis. “Kuharap… ini bukanlah  mimpi.” Pikir Tiffany dan secara perlahan-lahan pun ia mulai menyandarkan kepalanya di atas kepala Luhan,-setelah sebelumnya menyingkirkan terlebih dahulu kotak bekalnya yang tak lagi di minatinya-.

Selagi kedua orang ini tertidur lelap di bawah pohon rindang itu. Sepasang mata tajam tengah memperhatikan mereka dengan tatapan tak suka, rahangnya terlihat mengeras dan kedua tangannya mengepal dengan kuat.

“Sial! Berani-beraninya anak baru itu mendekati Luhan!”

¶©You’re My Song©¶

Siang itu, Tiffany baru saja selesai mengembalikan beberapa buku yang di pinjamnya beberapa hari yang lalu ke perpustakaan. Dan sekarang, gadis ini berniat untuk pergi ke ruang kesenian.

Luhan berjanji padanya akan memainkan lagu Yiruma lagi. Dan Tiffany memang sangat menyukai lagu-lagu milik pianis berbakat itu.

Tiffany berniat mempercepat langkahnya, tetapi tertahan ketika mendengar seseorang memanggil namanya. “Tiffany-ssi.”

“Ya?” Tiffany menoleh ke arah belakang dan mendapati sesosok pria yang tak di kenali olehnya. Ia mengkerutkan keningnya, “Kau… siapa? Apakah kita pernah saling bertemu sebelumnya?” Tanyanya bingung.

Pria itu tersenyum lebar padanya. “Namaku Kim Jongin, tapi kau bisa memanggilku Kai.” Ujar pria itu kemudian memperkenalkan dirinya. “Err… sebenarnya, kita belum pernah bertemu secara langsung. Hanya saja.. sudah sejak beberapa minggu yang lalu aku selalu memperhatikanmu.”

“Memperhatikanku?!” Kedua bola mata Tiffany terbuka lebar, jujur saja gadis ini sangat-sangat terkejut mendengar pengakuan pria bernama Kim Jongin ini. “A-apa maksudmu dengan kau selalu memperhatikanku?”

Jongin tersenyum lagi, dan ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Well… aku bisa saja mengatakannya padamu. Tapi… bagaimana jika sebagai imbalannya kita bisa makan siang bersama-sama?”

“H-huh?”

Merasa jika ajakannya itu terlalu cepat, Jongin lantas mengibaskan tangannya. “Tak apa-apa jika kau tidak menginginkannya sekarang, tapi aku harap… kau mau makan siang bersamaku suatu hari nanti, Tiffany-ssi.” Senyumnya.

“Kalau begitu aku pergi dulu, temanku yang lain sudah menunggu.” Ujar Jongin. “Oh iya.. dan jika suatu saat nanti kau berpapasan denganku. Ingatlah untuk tersenyum padaku, ok? Bukankah kita sudah saling mengenal sekarang?” Jongin mengedipkan sebelah matanya dan setelah itu pun beranjak pergi dari tempatnya, meninggalkan Tiffany yang masih mematung di tempatnya.

¶©You’re My Song©¶

Kini, Tiffany tengah duduk tepat di samping Luhan yang sedang bermain piano. Sejak tadi Tiffany terus bercerita tentang kejadian beberapa jam yang lalu, kejadian di mana ada seorang pria yang secara tak langsung mengungkapkan perasaannya pada dirinya.

Senyum sumringah tak dapat di sembunyikan dari wajah cantik gadis ini. Ia tak sadar jika ada yang berbeda dari raut wajah Luhan ketika mendengar cerita gadis itu.

“Oh, kau tidak lihat betapa lucunya wajah pria itu tadi, Luhan! Dia benar-benar sangat menggemaskan dan… oh! Apakah dia memang menyukaiku dan telah memperhatikanku sejak lama?” Kata-kata itu terus terlontar dari mulut Tiffany, seolah gadis ini tak dapat mengontrol dirinya sendiri. Mungkin, gadis ini terlalu senang.

Luhan tak menjawab, ia hanya bergumam pelan tanpa penuh minat. Alunan lagu yang sedang di mainkannya pun mendadak jadi terdengar tak karuan dan pria ini terlihat seperti dalam mood yang buruk.

“Luhan-ya… apakah menurutmu aku harus menerima ajakan Jongin untuk makan siang bersama?” Tiffany kembali berceloteh.

Dan di saat itu pulalah rahang Luhan terlihat mengeras, bibirnya mengatup rapat dan jari-jarinya langsung menekan keras tuts-tuts piano itu sehingga menghasilkan nada yang nyaris dan menyakitkan telinga. Tiffany tersentak dan segera menoleh padanya.

“Aku baru ingat jika aku memiliki janji dengan temanku. Aku harus pergi sekarang!”

Luhan beranjak dari duduknya, membiarkan Tiffany di buat bingung karenanya. Pria itu bahkan tak menoleh pada Tiffany saat meraih tas dan jaketnya.

“Kau… ada janji dengan temanmu?” Tiffany bertanya dengan pelan. Sejujurnya, ia masih ingin berlama-lama dengan Luhan. Dan tak biasanya Luhan akan pergi secepat ini, pria itu biasanya akan bermain piano selama mungkin dengannya.

Luhan menggedikkan bahunya tanpa berbalik. “Ya begitulah.” Jawabnya singkat, ia pun membuka pintu ruangan tersebut, dan sebelum benar-benar pergi Luhan berkata, “Lebih baik kau pulang sekarang, hari sebentar lagi akan gelap. Aku pergi.”

Rasanya, ketika melihat pintu itu tertutup. Tiffany ingin mengejar Luhan dan membuat pria itu tetap berada di sini menemaninya. Tapi apa daya? Pria itu sudah pergi sekarang dan Tiffany tidak memiliki hak apapun untuk melarang Luhan pergi.

Senyuman kecut terlihat di wajahnya yang murung. “Ya… aku hampir saja lupa jika dia memiliki kehidupan yang lebih menyenangkan daripada hanya terus bersamaku. Hah… kau memang bodoh, Tiffany.” Batinnya lirih.

¶©You’re My Song©¶

Sudah lebih dari empat hari Tiffany tak juga menemukan Luhan. Pria itu seolah lenyap dari bumi ini, atau mungkin… lebih tepatnya pria itu sedang berusaha menghindarinya? Itulah yang ada di pikiran Tiffany saat ini, tapi Tiffany berusaha mengenyahkan pikiran itu dan lebih berfikir jika mungkin Luhan sedang sibuk akhir-akhir ini.

Jam makan siang pun tiba. Biasanya, Tiffany akan makan di pohon belakang sekolah, tapi tidak untuk hari ini. Tiffany tiba-tiba saja merasa tidak terlalu lapar namun anehnya langkah kakinya malah menuju kantin sekolah.

Baru saja memasuki kantin sekolah. Tiffany di kejutkan oleh sebuah pemandangan yang tak pernah di lihat sebelumnya. Di meja yang berada di tengah-tengah kantin itu, ada sesosok pria yang sudah selama beberapa hari ini sangat di rindukannya. Namun pria itu tidak sendiri, dia bersama seorang gadis yang jelas sangat populer di sekolah Neul Paran High School ini, Jessica Jung.

Tubuh Tiffany terasa begitu menegang. Seakan peredaran darahnya tak dapat mengalir dengan baik, otaknya tak mampu berfikir dan jantungnya berhenti berdetak.

‘Jadi… apakah ini penyebabmu menghilang akhir-akhir ini, Luhan-ya?’

Tiffany merasakan sesak di dadanya. Perasaan itu begitu menyakitkan dan membuatnya seakan ingin menangis sekencang-kencangnya sekarang. Bagaimana tidak? Jika pria yang sangat di pujanya selama ini, kini justru tengah berduaan dengan seorang gadis yang menurutnya bahkan lebih baik dari dirinya.

Lamunan Tiffany terpecahkan oleh suara beberapa orang gadis yang saat ini tengah asyik bergosip tentang dua orang yang sama yang kini ada di dalam pikiran Tiffany juga.

“Hey.. hey.. apakah kalian tahu jika Jessica dan Luhan adalah sepasang mantan kekasih?”

“Yang benar?! Wuah… sayang sekali! Padahal mereka terlihat begitu serasi!!”

“Begitulah… tapi yang kudengar, mereka sedang dalam proses menjalin hubungan lagi. Sepertinya… aku memang tidak bisa menyaingi seorang Jessica Jung! Hufht!”

“Ha ha ha ha, tentu saja kau tidak bisa!”

Obrolan para gadis yang tak sengaja tertangkap oleh pendengaran Tiffany pun seakan tengah menyindir dirinya. Gadis ini sejenak melirik kembali ke arah Luhan dan Jessica, dan sesaat kemudian gadis ini merasa benar-benar tak mampu bertahan di tempat ini lagi. Ia kemudian berbalik dan berlari secepat mungkin, tak ingin melihat lebih lama kedekatan di antara Luhan dan Jessica yang jelas-jelas mematahkan perasaannya dan membuat dirinya merasakan rasa sakit dan sesak yang teramat.

Ia tak menyadari jika Jessica diam-diam menoleh padanya dan menyeringai licik. Gadis ini lantas melirik ke arah gerombolan gadis-gadis yang tadi sempat menggosip dan ia pun menggedikkan bahunya, menandakan jika ternyata Jessica telah berkomplotan dengan para gadis-gadis penggosip itu.

¶©You’re My Song©¶

Tiffany terdiam di ruang kesenian itu. Menurutnya, tak ada ruangan yang lebih tenang selain ruangan ini sekarang. Ia sedang butuh waktu sendiri, hatinya kini terasa hancur berkeping-keping.

“Benar-benar tak ada harapan… aku memang tak lebih baik ataupun cantik dari gadis bernama Jessica Jung itu.” Gumamnya sedih.

Cklek!

Pintu ruang kesenian itu terbuka, Tiffany sontak terkejut dan menoleh ke arah ambang pintu yang telah terlebih dulu terbuka itu. Dan gadis ini lebih terkejut lagi saat melihat orang yang ternyata membuka pintu itu adalah Xi Luhan.

“Luhan-ya!” Tiffany beranjak dari duduknya dan berbalik ke arahnya.

Luhan terlihat sama terkejutnya seperti Tiffany, tetapi beberapa detik kemudian ia telah merubah kembali raut wajahnya dan tiba-tiba saja Tiffany merasakan aura dingin di sekitar pria itu.

Tiffany berusaha tersenyum di hadapannya meski sedikit gugup, tetapi Tiffany tetap tak mendapatkan balasan dari Luhan. Seolah senyuman hangat yang dulu biasa di lihatkan Luhan untuknya kini telah lenyap begitu saja.

“A-akhir-akhir ini a-aku.. tidak melihatmu. K-kau.. kemana saja?” Tiffany memberanikan dirinya untuk bertanya lebih dulu.

“Aku sibuk.” Dan hanya kata-kata itu yang Tiffany dapatkan, jawaban singkat dan datar.

“Ah…” Tiffany mengangguk kecil. Raut wajahnya seketika berubah semakin sedih. “Ya… kau jelas memiliki gadis yang sempurna seperti Jessica.” Ia berucap lirih dalam hatinya.

“Lalu, apa yang kau lakukan di ruangan ini?” Luhan akhirnya bertanya, membuat Tiffany mendongakkan wajahnya dan terlihat seperti ada secercah harapan di wajahnya. Tapi semua harapan itu lenyap ketika wajah Luhan masih tetap terlihat dingin.

Tiffany lantas tersenyum kecut dan menggeleng singkat. “Tidak ada. Sekarang aku juga akan pulang ke rumah.” Ujarnya sambil meraih tasnya dan mulai melangkahkan kedua kakinya menuju ambang pintu, tempat dimana Luhan berdiri sekarang.

Luhan sekilas terlihat memperhatikan wajah Tiffany yang tertunduk dalam. Raut wajah Luhan mendadak berubah kesal dan pria ini pun menggertakan giginya dengan kedua tangannya yang mengepal keras. Sepertinya pria ini kesal karena Tiffany terlihat tak mau melihat ke arahnya dan memilih mengabaikannya meski gadis itu melewatinya.

“Jadi, apakah kau sudah berkencang dengan pria bernama Kim Jongin itu sekarang?!” Luhan kembali bersuara dengan nadanya yang terdengar sarkastik.

Langkah Tiffany tertahan dan ia pun segera menoleh pada pria yang kini berada tepat di sampingnya itu. “Apa?”

“Sudahlah, akui saja. Kau berkencan dengan pria itu kan?!”

“Apa maksudmu? Aku tidak berkencan dengan siapapun.”

“Ck! Benarkah?” Suara Luhan masih terdengar sinis sekarang. “Kau jelas terlihat sangat senang ketika pria itu mengajakmu makan bersama!”

Kening Tiffany mengkerut dalam. “Tapi aku tidak berkencan dengannya!” Jawabnya, ada sedikit penekanan pada perkataannya itu, mencoba meyakinkan Luhan akan hal itu.

“Sudahlah… jangan mengelak lagi! Aku rasa kau memang cocok dengannya!”

Deg!

Ucapan Luhan benar-benar menyakiti perasaan Tiffany sekarang. Gadis ini merasa jika Luhan seperti tengah menjodohkan dirinya dengan pria bernama Kim Jongin itu! Tapi dia tidak berharap seperti itu! Pria yang di cintainya itu adalah dia!

‘Apakah kau tidak sadar, jika aku hanya mencintaimu, bodoh?!’

Dewi batin Haneul berteriak dengan keras. Raut wajah Tiffany nampak menegang dan kedua matanya mulai terlihat memerah sekarang, sepertinya ia menahan dirinya untuk tidak menangis karena merasa putus asa dan sakit hati atas perkataan Luhan tadi.

“Jadi, bagaimana rasanya di kagumi oleh pria tampan dan populer sepertinya?!” Luhan berkata dengan nada setengah mengejek dan menyindir, membuat Tiffany semakin kesal dan sakit hati karena kata-katanya.

“Cukup!” Tiffany menjerit kesal dengan nada frustrasi.

Ia menatap Luhan dengan tajam, kedua matanya mulai berkaca-kaca dan di saa itulah Luhan sadar, jika dia pasti telah melukai perasaan gadis itu sekarang.

Perasaan bersalah pun perlahan mulai merayapi hati Luhan. Dan ia benar-benar sangat menyesal karena telah membuat Tiffany terlihat seperti akan menangis seperti saat ini.

“Aku memang salah mengiramu! Kupikir kau baik! Ternyata, kau sama saja! Aku sangat membencimu, Xi Luhan!” Tiffany kembali menjerit dengan nada putus asa dan tanpa terasa, air mata pun mengalir dari ujung matanya.

Tiffany berbalik dan langsung berlari keluar ruangan, dia benar-benar tak ingin melihat wajah Luhan lagi sekarang. Dia begitu teluka dan sakit hati sekarang, terlebih ini semua karena seorang pria bernama Xi Luhan. Pria yang sangat di cintainya selama ini.

Kedua tangan Luhan reflex mengepal dengan kuat dan rahang pria itu pun mengeras. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas lantai dan langsung terduduk lemas dengan kepalanya yang kini tertunduk dalam.

“Shit! Aku membuatnya menangis sekarang!” Geramnya, kesal kepada dirinya sendiri. “Sebenarnya kenapa kau melakukan itu, Xi Luhan?! Kau memang sialan!” Makinya pada dirinya sendiri.

Luhan meremas rambutnya dengan frustrasi dan perasaan sesak pun langsung terasa menyelimuti dadanya sekarang.

¶©You’re My Song©¶

“Ya, maafkan aku. Baiklah, terima kasih, seongsaenim.” Ujar Tn.Hwang kemudian ia pun meletakkan ponselnya di atas meja lalu menoleh pada Tiffany yang masih bergelung di bawah selimutnya, sama sekali tak mau mengatakan sepatah katapun padanya.

“Tiffany-ah… Appa sudah meminta izin pada gurumu jika hari ini kau tidak akan masuk. Beristirahatlah jika kau memang merasa kurang enak badan. Maaf, Appa tidak bisa menemanimu sekarang. Tapi Appa berjanji akan pulang lebih awal hari ini…” Ujar Tn.Hwang sambil mengelus lembut kepala Tiffany.

Hening. Gadis itu memilih tetap diam dan Tn.Hwang hanya dapat menghela nafas berat saat menyadari jika percuma saja jika ia mengharapkan Tiffany mengatakan sepatah atau dua patah kata padanya.

“Baiklah, Appa akan pergi sekarang.” Ujar Tn.Hwang seraya beranjak dari atas kasurnya dan kemudian bergegas pergi dari kamar Tiffany itu.

Tiffany perlahan-lahan menyibakkan selimut yang sedikit menutupi wajahnya itu. Dia terlihat begitu berantakan sekarang, air mata tak henti-hentinya keluar dari ujung mata gadis ini dan kedua matanya pun sudah terlihat bengkak karena ia terus saja menangis.

Mulutnya bergetar dengan hebat dan wajahnya pun terlihat begitu pucat. Ya, Tiffany memang masih sedih atas kejadian kemarin sore itu. Dan hari ini, dia benar-benar tidak ingin bertemu dengan siapapun. Tidak dengan Xi Luhan, tidak dengan sekolahnya dan bahkan Ayahnya sendiri. Dia butuh waktu sediri sekarang.

¶©You’re My Song©¶

Luhan mendengar dari salah satu temannya jika Tiffany tidak masuk sekolah karena sakit hari ini. Tadinya ia berniat meminta maaf pada gadis itu, ia benar-benar menyesal karena telah membuat Tiffany marah kemarin sore.

Seharusnya, ia tidak termakan oleh rasa cemburunya. Cemburu? Well, itu memang benar. Luhan memang merasa cemburu pada kedekatan Tiffany dan Jongin. Sungguh, ia benar-benar tidak rela jika sampai Tiffany dekat dengann pria lain.

Karena sejujurnya… Luhan telah jatuh cinta pada Tiffany sejak pertama kali ia melihat gadis itu berbicara dengan Ayahnya. Ia sadar jika ada yang berbeda dalam diri gadis itu yang mampu membuat hatinya bergetar dengan hebat.

Dan ia semakin yakin jika ia telah jatuh cinta pada Tiffany saat mereka akhirnya dapat bertatap muka langsung di ruang musik itu. Luhan begitu terpesona dengan kecantikan alami yang terpancar dari diri Tiffany saat itu. Dan pada saat itu pulalah, pria ini bertekad jika Tiffany hanya akan menjadi miliknya, bukan milik pria manapun selain milik Xi Luhan!

¶©You’re My Song©¶

“Sepertinya kita berhasil membuat gadis itu patah hati! Pasti mulai sekarang dia tidak akan mendekati Luhan lagi!” Ujar salah seorang gadis yang kini tengah duduk melingkar bersama ketiga teman lainnya yang di mana salah satunya adalah Jessica.

“Tentu saja! Dia pikir dia siapa sampai berani mendekati pria-ku?! Luhan itu hanya akan cocok jika menjadi kekasihku!” Seru Jessica dengan nada angkuh.

“Oh… itu tentu saja!” Sahut temannya yang lain. “Gadis bernama Tiffany Hwang itu pasti akan merasa sangat bersalah padamu!”

“Yeah… tentu saja.”

Brak!

Suara gebrakan meja di hadapan mereka, sukses mengejutkan ke-empat gadis itu. Dan di saat mereka menoleh pada orang yang telah menggebrak meja itu, raut wajah mereka sontak menegang dan perasaan terkejut pun tak dapat terelakaan lagi.

“L-Luhan-ya.” Jessica berucap dengan nada bergetar.

Luhan yang ternyata telah mendengar percakapan ke-empat gadis itu, lantas menatap tajam ke arah Jessica. “Ck! Aku tidak menyangka kau selicik ini, Jessica! Bukankah sudah kukatakan padamu untuk tidak mengganggu kehidupanku lagi?!”

“T-tapi… i-itu… aku hanya.”

“Diamlah!” Sentak Luhan garang. “Sejak dulu aku selalu bersikap baik padamu karena aku sudah menganggapmu sebagai temanku. Tidak kusangka, kau berbuat hal selicik itu pada Tiffany dan membuatku bertengkar dengannya! Kau memang jahat, Jess!”

“Tapi aku melakukan itu karena aku mencintaimu!”

“Aku tidak peduli! Kau sudah keterlaluan, Jess!”

Dan di saat itu pulalah Luhan berbalik dan meninggalkan Jessica yang nampak terkejut sekaligus menyesal di saat yang bersamaan. Sedetik kemudian gadis itu telah menangis dan berteriak kata ‘maaf’ pada Luhan, tetapi pria itu mengabaikannya dan memilih untuk pergi ke suatu tempat.

 ¶©You’re My Song©¶

Drt… Drt… Drt….

Ponsel Tiffany berdering dengan cukup keras. Gadis ini menyibakkan selimut yang sejak tadi menutupi hampir seluruh tubuhnya, ia meraba-raba meja kecil samping ranjangnya dan tanpa melihat siapa yang telah meneleponnya, Tiffany langsung saja menjawab.

“Yeobseyo…” Jawabnya dengan suara serak, khas seseorang yang baru saja menangis.

Kedua matanya masih nampak bengkak sampai sekarang dan wajahnya yang cantik pun kini terlihat sedikit lusuh dengan jejak air mata di kedua pipinya.

Bukannya terdengar suara sahutan dari seberang sana. Tiffany justru mendengar suara alunan musik yang berasal dari sebuah piano dari sana. Ia mengerutkan keningnya dan ketika ia memperjelas pendengarannya, ia sadar jika ini adalah melodi lagu Love Me yang di ciptakan oleh pianis terkenal, Yiruma.

Tiffany ingat jika ia pernah meminta Luhan untuk memainkan lagu kesukaannya itu. Tapi Luhan menolak dan mengatakan padanya, jika ia akan memainkannya nanti, di saat waktunya sudah tepat. Saat itu Tiffany tak mengerti maksud perkataan Luhan apa, tapi ia akhirnya mengalah dan memilih untuk mendengarkan lagu lainnya.

Ia menjauhkan ponselnya dan melihat layar ponselnya. Memastikan dirinya sendiri agar tidak terlalu berharap banyak, tetapi Tiffany benar-benar terkejut saat menyadari jika yang meneleponnya saat ini adalah Luhan.

Dan bukankah itu berarti… pria itu tengah memainkan lagu itu untuknya sekarang?

Tiffany lantas beranjak dari posisi tidurnya sekarang. Buru-buru ia meraih jaket rajutan berwarna merah muda, lalu berlari secepat-cepatnya keluar rumah. Ia tak peduli pada teriakan Lee Ahjumma yang menanyakan akan pergi kemana dia sekarang.

Yang ada dalam benak Tiffany sekarang, ia hanya perlu tiba ke tempat itu sekarang juga. Ponselnya masih ia letakkan di telinganya, mendengarkan dentingan piano yang saat ini tengah Luhan mainkan.

Pria itu tak mengatakan sepatah katapun dari seberang sana, tapi Tiffany yakin jika pria itu tengah berusaha mengutarakan sesuatu melalu alunan melodi tersebut.

Ingatannya kembali berputar pada kejadian beberapa waktu lalu. Saat di mana Luhan dan dirinya tengah asyik mengobrol saat itu.

<Flash Back Start>

“Luhan-ya… apa yang membuatmu begitu menyukai bermain piano?” Tanya Tiffany saat itu, begitu penasaran.

“Hm, ntahlah. Mungkin… karena kedua orang tuaku yang juga seorang seniman, jadi ada darah seniman yang ikut mengalir dalam diriku. Lagipula… aku ini terlalu jenius, aku bahkan tak tahu kapan aku mulai bisa bermain piano. Semuanya terjadi begitu natural.” Jawab Luhan dengan nada yang sedikit di buat-buat.

“Eiy… percaya diri sekali dirimu! Menyebalkan!” Tiffany mencibir perkataan Luhan dan pria itu langsung tertawa karena komentar gadis itu.

“Well… sebenarnya aku memang menyukai piano. Setiap dentingan dari tuts-tutsnya benar-benar menciptakan suatu harmonisasi yang indah. Dan itulah sebabnya aku sangat suka bermain piano.” Jawab Luhan kemudian.

Tiffany terdiam sejenak, memperhatikan wajah Luhan yang kini tengah menatap kagum pada piano di hadapannya. Ya, inilah yang Tiffany suka dari Luhan. Begitu tulus dan mengagumkan seperti biasanya.

“Kau tahu, Tiffany-ah?” Luhan menoleh padanya sambil tersenyum. “Terkadang, ketika kau tak mampu mengungkapkan sesuatu pada seseorang. Maka… sebuah alunan musik mampu mewakili sebuah perasaan yang tak dapat di ungkapkan hanya dengan kata-kata.”

Dan Tiffany benar-benar tersentuh dengan perkataan Luhan tadi. Gadis itu terdiam cukup lama, keduanya saling berpandangan dengan cukup intens dan perlahan-lahan pun senyum Tiffany nampak terkembang di wajah cantiknya.

“Aku akan terus mengingat itu.” Jawabnya kemudian, dan keduanya pun saling bertukar senyuman hangat.

<Flash Back End>

Tiffany telah tiba di hadapan ruang musik sekolahnya. Beruntung hari sudah mulai sore dan sekolah sudah sangat sepi, Tiffany menarik kenop pintu di hadapannya itu. Nafas gadis ini masih nampak tersenggal-senggal.

Ia melangkah perlahan ke dalam ruang musik itu. Dan langkahnya pun terhenti kala ia melihat Luhan tengah berdiri di sisi piano itu sambil memegang ponselnya, menatap gadis ini dengan lembut, seolah tahu jika Tiffany akan datang kemari.

“Lagu… tadi…” Tiffany berucap dengan susah payah di sela-sela nafasnya yang masih terasa sesak karena gadis ini telah berlari cukup jauh.

Luhan tersenyum hangat padanya. “Yiruma. Love me.” Balasnya dengan tenang. “Aku… memainkan itu khusus untukmu, Tiffany Hwang.” Lanjutnya kemudian.

Tiffany benar-benar terkejut sekaligus tidak percaya dengan apa yang di dengarnya itu. Namun, tak dapat di pungkiri jika gadis ini pun merasa begitu senang karena akhirnya Luhan memainkan lagu itu untuknya. Tanpa sadar, akhirnya Tiffany pun berlari ke arah pria itu dan langsung menghambur ke dalam pelukannya.

“Maafkan aku.” Bisik Luhan sambil memeluk Tiffany dengan erat. “Aku begitu egois dan menyebalkan! Maafkan aku, Tiffany…”

Tiffany menggeleng dalam pelukannya, “Kau tidak salah. Sungguh…”

“Tidak. Aku memang bersalah, Tiff.” Luhan melepaskan pelukan tersebut, tapi ia tetap memegang erat kedua tangan Tiffany. Di raihnya dagu Tiffany agar gadis itu menatap kepadanya. “Aku begitu cemburu dan kesal ketika mendengarmu dekat dengan pria itu. Karena, itulah… aku jadi bersikap sangat menyebalkan akhir-akhir ini. Aku tahu sifatku ini terlalu kekanak-kanakan.. tapi… aku melakukan semua ini karena… aku mencintaimu, Tiffany Hwang.”

Deg!

Kedua bola mata Tiffany sukses membulat dan jantung gadis ini pun langsung berdegup dua kali lebih cepat daripada biasanya, seperti ia baru saja berlari seperti tadi.

“Kau… cemburu padaku… dan… kau…. kau… mencintaiku?!” Pekik Tiffany tertahan, ia tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.

Luhan mengangguk dengan sedikit malu-malu. “Well… sebenarnya aku telah jatuh cinta padamu sejak pertama kali kita bertemu.” Akunya kemudian.

Kedua pipi Tiffany sontak memerah, pijar-pijar di hatinya yang awalnya meredup kini mulai bercahaya kembali dan dewi batinnya pun seakan berteriak karena senang.

“Tapi… kudengar… kau dan Jessica…” Tiffany tiba-tiba saja berucap ketika mengingat akan obrolan para gadis di kantin itu.

Wajah Luhan seketika menggelap dan pria itu mendengus kesal. “Kita di jebak!” Serunya kesal. “Jessica menyuruh teman-temannya untuk mengatakan hal seperti itu padamu dan gadis itu bahkan mengatakan padaku jika kau mulai berkencan dengan Jongin… karena itulah…”

“Karena itulah kau menghindariku saat itu. Karena kau berfikir aku sudah berkencan dengan pria itu, begitukah?”

“Err… ehm… ya.” Jawab Luhan nampak gugup.

Melihat kegugupan yang terpancar di wajah Luhan, Tiffany jelas merasa geli. Seluruh perasaan kecewa dan kesal pada pria ini pun sekejap langsung sirna dan tergantikan kembali oleh perasaan cintanya selama ini.

Chup!

Luhan sontak membulatkan kedua matanya dan menatap pada Tiffany dengan tatapan terkejut. Dia memegangi pipinya yang baru saja terkena kecupan lembut nan singkat dari gadis di hadapannya itu.

Tiffany tersenyum malu-malu sambil menundukkan wajahnya. “Sebenarnya… aku juga telah jatuh cinta padamu.” Ujarnya kemudian.

Lagi, kedua bola mata hitam Luhan kembali membulat. “Benarkah?! Kau… juga memiliki perasaan yang sama denganku?!” Seru Luhan nyaris berteriak, tak dapat menutupi rasa senangnya sekarang.

Tiffany mengangguk dengan singkat. “Yeah. Hanya saja saat itu kau malah mengatakan padaku jika aku lebih cocok dengan Kim Jongin! Kau tahu?! Itu benar-benar membuatku sangat kesal padamu saat itu!” Ungkapnya dengan jujur.

“Maafkan aku.” Sesal Luhan. Namun sedetik kemudian ia kembali tersenyum, “Tapi, kau benarkah… kau mencintaiku juga?”

“Tentu saja bodoh! Apakah aku harus mengulangnya beratus-ratus kali hingga mulutku ini tidak bisa berbicara kembali, eoh?!”

“Jika kau bisa melakukannya, aku tidak keberatan untuk terus mendengarnya!” Sahut Luhan sambil mengerling jail.

“Ish, kau menyebalkan!” Tiffany berniat melayangkan pukulannya pada Luhan, tetapi pria itu segera menangkan kepalan tangannya dan menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.

“Aku mencintaimu, Tiffany…” Bisik Luhan dengan lembut.

Tiffany tersenyum dan menyandarkan kepalanya di dada Luhan. “Aku juga… aku begitu sangat mencintaimu juga. Xi Luhan…” Balasnya tak kalah lembut.

Luhan lantas menarik dagu Tiffany dan mendongakkan kepala gadis itu, wajahnya pun perlahan mendekati wajah Tiffany. Dan tak butuh waktu lama, hingga akhirnya bibirnya pun kini telah mendarat tepat di atas bibir Tiffany, memberikan sebuah kecupan lembut yang takkan pernah di lupakan oleh keduanya.

The End

Note : Kyaaaaaa… Akhirnya bisa update ff lagi setelah cukup lama hiatus dan gak update ff lagi. Hehehehe. Dan maaf untuk semua readers yang baca + nunggu ffku yang series. Maaf aku belum bisa lanjutin ffnya, terutama untuk ff Homeless… >w<

Tapi, semoga aja dalam waktu dekat ini aku bisa update yaa… dan terima kasih untuk semua readers yang udah mau baca ff ku… ^^ Gomawoyooooo…. \^o^/ Jangan lupa tinggalin comment yah biar aku semakin semangat lanjutin ffnya. Hohohohoho

39 thoughts on “You’re My Song

  1. Hhihhii ini manis eh, jarang baca kuhan-fany..😄
    Tapi aku suka kata2nya, eh sica sama kai aja deh jangan ganggu luhan-fany dulu untuk saat ini wkwkwkwkk..
    Ditunggu cerita2 selanjutnya.. (`▽´)

  2. OMO!! Huwaa co cweett deh /lebay/😀
    ohiya thor jgn lama2 ya ditunggu ff yg Homeless :3
    Keep Writing Thorr !! EXOFany jjang!!

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s