Roommates – Shoot Four (END)

room-mates

Roommates – Shoot Four

Icydork | Luhan, Sunny, Luna (OC) | Romance, Fluff, School-Life | T

Los Angeles

                Seorang gadis duduk di atas bangku taman belakang rumahnya. Gadis berlidah orang barat tapi berwajah orang asia ini sangat cantik untuk dipandang. Dia meletakkan secangkir the yang dia teguk tadi ke atas piring kecil yang terletak di atas meja. Seorang wanita tua berjalan menghampiri gadis itu.

“Luna-ya, sudahkah kau urusi akte-mu?” Tanya wanita tua itu.

“Aku sudah mengirimnya melalui fax, mom.” Jawab gadis yang dipanggil Luna itu.

Are you sure? But, your teacher ask me about it again.” Tanya wanita tua itu memastikan.

Yeah, I’m sure. All teachers are very annoy. You should know that, mom,” Luna meraih secangkir the itu lagi dan meminumnya sambil menyelipkan beberapa helai rambut ke belakang telinganya. “Aku rindu oppa.” Lanjut Luna.

Have we go back to Korea?” Tawar wanita tua tersebut –mamanya.

“Baiklah. Jika kita akan belanja nanti.” Jawab Luna sambil tersenyum.

                Dua insan itu sedang menonton film yang mereka putar di TV sekarang. Tangan sang pria –Luhan melingkar di leher sang wanita –Sunny. Tapi, lama kelamaan kepala Sunny semakin menurun, menurun, menurun dan akhirnya mendarat sempurna di pundak Luhan. Luhan yang sadar pun menoleh ke arah Sunny sambil tersenyum.

“Kebiasaan, haha.” Luhan menceloteh sendiri lalu mencium kening indah milik Sunny itu. Dia menggendong Sunny dan membawanya ke atas tempat tidur. Diselimutkannya tubuh Sunny agar lebih hangat.

Night, deer.” Luhan mencium punggung tangan Sunny lalu tidur di sebelahnya.

                Pagi pun tiba, alarm berbunyi kencang sampai menembus pendengaran kedua manusia yang sedang tertidur ini. Sunny mengerjapkan matanya berkali-kali, berusaha melebarkan matanya dengan sempurna. Dia bangkit dari tidurnya dan duduk lalu mematikan alarm-nya. Dia menoleh ke arah Luhan yang masih sibuk dengan alam mimpinya. Dia mengguncangkan tubuh Luhan pelan.

“Luhan, Luhan-ah..” Panggil Sunny. Tidak ada jawaban.

“Menyebalkan, huh,” Keluh Sunny lalu bangkit berdiri dan segera mandi.

                Sunny keluar dari kamar mandinya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dia menghelakan nafasnya ketika masih melihat Luhan yang tertidur di atas tempat tidur, bahkan posisinya lebih berantakan dibanding yang tadi.

“LUHAN!” Teriak Sunny. Masih tidak ada jawaban. Dengan kesal Sunny berjalan ke arah Luhan dan membangunkannya.

“Luh—“ Sunny terjatuh didalam dekapan Luhan.

“Jangan berisik! Aku masih mengantuk.” Oceh Luhan sambil memeluk Sunny.

“Jangan seperti ini, Lu! Ish, kau bau!” Kata Sunny sambil mendorong-dorong tubuh Luhan.

Aniyo, aniyo, seperti ini saja dulu.” Balas Luhan.

Tiba-tiba ponsel berdering dengan keras. Keduanya langsung bangun dan menatap satu sama lain.

“Ponsel siapa itu?” Tanya Sunny.

“Entahlah, aku lupa nada dering ponselku,” Luhan menggaruk tengkuknya. “Tapi, sepertinya, itu ponselku.” Lanjut Luhan.

“Aish, jinjja! Cepat angkat!” Suruh Sunny. Luhan langsung bangkit dari tempat tidur dan berlari ke meja yang berada di depan TV lalu meraih ponselnya dan mengangkat panggilan tersebut.

”Hallo?” Sapa Luhan.

Oppa!!” Suara cempreng ini, Luhan sangat mengenalinya.

“LUNA?!”

                “Bagaimana ini, Sun?” Tanya Luhan frustasi. Dia masih belum mandi dari pagi karena dia masih belum siap untuk menjemput adiknya di bandara jam delapan malam nanti.

Mianhae, Luhan, tapi aku juga tidak tahu.” Jawab Sunny.

“Tidak mungkin kan kalau aku mengaku bahwa aku menyamar menjadi wanita?” Tanya Luhan lagi.

“Cobalah, siapa tahu lebih baik dibanding kau berbohong lagi,” Sunny berpikir sesaat. “Siapa tau ketika kau jujur, kau bisa pindah sekolah da asrama, mungkin?” Luhan langsung menatap sinis Sunny.

“Kau,” Nada dingin yang keluar dari mulut Luhan itu membuat bulu kuduk Sunny berdiri. “Kau tidak menginginkan aku lagi?” Luhan bangkit berdiri.

“Jadi apa hari-hari yang kita lewati bersama?” Tanya Luhan sambil berjalan ke sebuah kalender yang dipenuhi dengan gambar love disetiap tanggal yang sudah dilewati.

“Dua bulan sudah, kau mau aku pergi begitu saja, Sun?” Tanya Luhan.

“Tidak, bukan itu maksudku—“

“Baiklah, aku akan meminta surat pindahanku sehabis ini. Aku akan pindah jika kau menginginkannya.” Luhan masuk ke dalam kamar mandi tanpa menatap Sunny lagi setelah berkata seperti itu.

“Aku tidak menginginkan itu, Lu.”

                Luhan berjalan di bandara ini sendirian dengan ponsel yang ada di tangan kanannya. Dia tengah menuju ke tempat Luna berada. Dengan jaket yang dia gunakan, dia berjalan ke tempat dimana Luna berada.

Oppa!” Terdengar seruan dari arah belakang Luhan. Seorang gadis berlari dengan bubble tea di tangan kanannya.

“Dimana umma?” Tanya Luhan.

Umm—oh! Do you mean mom?” Tanya gadis itu –Luna dengan bahas ainggrisnya yang melewati kata lancar.

“Huh?” Luhan yang tidak mengerti malah memasang tampang anehnya. Luna langsung menonjok lengan kanan Luhan dengan pelan.

“Kau tidak mengerti ya? Aku sudah malas berbicara bahasa Korea. Agak lebih sulit dibanding inggris.” Oceh Luna. Luhan menghelakan nafasnya.

“Alasan deh, kau akan tinggal dimana?” Tanya Luhan. Luna nampak berpikir.

“Bagaimana di apartemen-mu?” Tanya Luna.

“Tidak bisa, aku tidak punya apartemen.” Jawab Luhan.

“Huh, lalu aku tinggal dimana?” Tanya Luna lagi.

“Mana aku tahu? Siapa yang menyuruhmu kesini? Tidak ada kan?” Luhan malah memberikan pertanyaan yang bertubi-tubi ke Luna.

“Ya! Oppa menyebalkan!” Oceh Luna.

“Sudah, sudah, lebih baik kau ke asrama-ku saja.” Ajak Luhan.

Are you sure? Pasti banyak pria yang tampan!” Balas Luna antusias.

                Luhan dan Luna sudah tiba di depan gedung sekolah yang sangat menjulang tinggi. Luna yang melihatnya langsung terkejut dan menjatuhkan handbag-nya.

Op-oppa.” Suara Luna bergetar.

“Aku tinggal disini.” Kata Luhan. Mata Lun alangsung tertuju ke sebuah papan yang bertuliskan ‘Sekolah khusus perempuan’. Bahkan dia sempat mengerjap dan mengucak matanya berkali-kali untuk memastikan. Namun, hasil tetap sama. Tulisan itu tidak berubah.

Oppa!” Panggil Luna. Luhan menoleh sambil memakai hoodie-nya.

“Huh?” Respon Luhan.

“Kau tidak sedang bercanda kan? Apa kau sakit?” Luna sedikit menjinjit lalu memegang dahi Luhan.

“Haha, aku tidak sakit. Sudahlah, ayo masuk!” Ajak Luhan sambil membawa koper Luna pelan-pelan.

                Mereka berjalan pelan-pelan, bahkan hampir tidak ada suara langkah kaki mereka. Luna menoleh ke Luhan sambil tersenyum.

“Kenapa sepi sekali?” Bisik Luna.

“Sekarang sedang libur musim panas. Maklumilah.” Jawab Luhan. Mereka pun tiba di depan kamar Luhan. Mata Luna membulat sempurna ketika melihat nama ‘Im Sunny’ di atas nama ‘Xi Luna’ yang menempel di depan pintu.

“Na-namaku?” Tanya Luna.

“Sssstt!” Luhan langsung membuka pintu dan mengajak Luna masuk.

                “Siapa itu—Luhan-ah?” Panggil Sunny ketika melihat Luhan dan mungkin saudara kembarnya yang bernama Luna itu. Luna yang melihat Sunny langsung tersenyum manis sedangkan Luhan masih membuang pandangannya ke Sunny.

Hello, my name is Luna.” Luna memperkenalkan dirinya sendiri. Sunny langsung menoleh ke Luhan.

“Dia tidak bisa berbicara bahasa Korea?” Sunny bertanya seolah-olah tidak ada masalah tadi pagi. Luna yang mendengar itu langsung terkekeh pelan.

“Aku bisa kok!” Jawab Luna.

“Oh, hehe,” Sunny berjalan mendekati Luna dan mengulurkan tangan kanannya. “Namaku Im Sunny. Salam kenal.” Sunny juga memperkenalkan dirinya sendiri.

“Kau seharusnya mengetahuiku, bukan? Xi Luna.” Luna juga memperkenalkan dirinya lagi sambil menjabat tangan Sunny yang hangat itu.

                “Ceritamu seperti drama-drama saja, oppa.” Kata Luna meremehkan.

“Kalau responmu seperti itu, aku tidak akan cerita dari awal.” Balas Luhan.

“Lagi pula aku juga tidak tertarik sama sekali.” Balas Luna sambil duduk di atas sofa dan mengangkat satu kakinya.

“Sunny unnie, bisa temani aku?” Tanya Luna.

Unnie? Dia lebih muda darimu.” Kata Luhan.

“Suka-suka aku.” Kata Luna melawan Luhan. Sunny menoleh yang tadinya membaca novel.

“Temani? Kemana?” Tanya Sunny.

Shopping.” Jawab Luna.

                Benar-benar menyusahkan untuk Luhan agar bisa keluar dari asrama dengan aman. Ditambah lagi dia harus menemani dua wanita yang gila berbelanja ini. Terutama Luna, dia adalah seseorang shopaholic akut.

“Kita sudah berada di luar asrama selama tiga jam. Jangan terlalu lama belanjanya!” Kata Luhan sambil menenteng belanjaan-belanjaan Luna. Sedangkan nYona hanya sebuah paper bag yang berisi belanjannya.

“Sebentar lagi, oppa.” Rengek Luna. Luhan menggeleng dengan cepat.

“Kau tahu? Resiko diluar seperti ini sangat berbahaya untukku!” Oceh Luhan. Sunny yang memang dasarnya sangat teramat khawatir dengan identitas Luhan yang sebenarnya pun mulai megutarakan kekhawatirannya.

“Luna-ssi, kita pulang sekarang saja. Besok aku akan menemanimu belanja lagi, ya?” Rayu Sunny. Sepertinya Luna ini cocok dengan Sunny sampai-sampai sebuah anggukkan tercipta olehnya.

“Baiklah!”

                Luhan menghempaskan tubuhnya di atas sofa sambil menghelakan nafasnya. Disusuk dengan adiknya yang duduk di sebelahnya.

“Hari yang melelahkan!” Ucap Luna sambil merenggangkan otot-otot tubuhnya.

“Kalimat itu lebih cocok untukku.” Kata Luhan. Sunny duduk di salah satu sofa yang lain dan menyalakan TV-nya lalu menoleh ke arah mereka.

“Kalian berniat makan malam?” Tanya Sunny.

“Selalu berniat.” Jawab Luna. Mata Sunny berbelok ke Luhan dan menyunggingkan sedikit senyumannya. Luhan menoleh ke arah Sunny dan mengangkat alisnya.

“Kau?” Sunny membuka suara.

“Tentu,” Luhan menjawabnya lalu tersenyum sekilas. “Sun.” Lanjutnya.

                Suara sendawa keluar dari tenggorokan mereka dengan lancar. Sunny dan Luna refleks menutup mulut mereka. Luhan langsung menengok dan meihat ke arah mereka secara bergantian dan tertawa.

“Jangan terlalu ditutupi! Aku menyukai kalian yang seperti ini, kok!” Ucap Luhan sambil membereskan sisa makanan mereka.

Oppa! Ini tidak sengaja.” Sangkal Luna.

“Iya, diluar kendali.” Sambung Sunny sambil tersenyum memamerkan deretan giginya. Luhan melihat wajah Sunny yang sangat cantik lalu menyentuh bibir bagian pojok kanannya dengan pelan. Wajah Sunny memerah bagaikan kepiting rebus. Sedangkan Luna? Dia merasa canggung sekali.

“Hm,” Dehaman Luna itu sukses membuyarkan pikiran Luhan.

“A-ada sisa makanan.” Alasan Luhan. Sunny langsung salah tingkah dan mencari tissue yang berada di dekatnya dan membersihkan sisa makanan tersebut.

“Oh-uh, kalian bisa tidur di atas kasur.” Ucap Sunny. Mata Luhan melebar dan menatap Sunny dalam.

Unnie-ya!” Respon Luna.

“Kalian itu tamuku disini.” Kata Sunny. Sepertinya itu dibuatnya sebagai sebuah alasan. Luhan menggeleng.

“Tidak bisa, kau tidur saja bersama Luna.” Suruh Luhan. Luna mengangguk mantap.

“Aku juga takut tidur di sebelah monster.” Lanjut Luna. Luhan langsung melemparkan death glare-nya ke Luna.

Aniyo, biarkan aku merasa aku ini tuan rumah disini. Jadi, aku akan melayani kalian.” Ucap Sunny.

“Hari ini saja. Bagaimana?” Tawar Luhan. Luna yang mendengar itu langsung memberikan tonojkkannya ke lengan kanan Luhan.

Ani—“ Suara Luna terhenti ketika melihat Luhan menoleh ke arahnya dan mengedipkan sebelah matanya. Sepertinya Luhan merencanakan sesuatu.

                Sunny tertidur di atas sofa dengan pulas. Selimut yang menyelimutinya itu nampak tebal dan menutupi seluruh tubuhnya hingga tidak ada secelah anginpun yang bisa melewati selimut itu. Seseorang bangun dari kasur yang berada di pojokkan kamar ini. Ya, Luhan bangun dari tidurnya.

Dia berjalan ke arah Sunny dan berjongkok agar posisinya sama dengan Sunny. Dia tersenyum dan menyibakkan rambut yang agak menutupi wajah cantik Sunny itu.

“Sunny-ah,” Panggil Luhan dengan suara yang kecil. Tubuh Sunny bergerak, mungkin dia sadar ada kehadiran seseorang di dekatnya.

“Aku mencintaimu, akan selalu menicintaimu.” Ucap Luhan lalu melepaskan selimut Sunny. Sunny yang masih tidur refleks memeluk tubuhnya sendiri karena kedinginan. Luhan langsung menggendong Sunny ala bridal dan membawanya ke atas kasur.

Luhan meletakkan Sunny di atas kasur yang empuk itu lalu merapikan posisinya agar tidur Sunny jauh lebih nyaman. Luhan berlutut dan meletakkan lengannya di atas ranjang sambil tersenyum, memerhatikan wajah Sunny yang manis dan cantik.

“Tidur yang nyenyak. Sweet dream.” Luhan mengelus pipi Luhan sekali. tiba-tiba terdengar gerakkan di samping Sunny, Luna belum tidur.

“Jadi ini maksudmu, oppa?” Tanya Luna setengah berbisik.

“Sssstt! Berisik kau!” Oceh Luhan tanpa mengeluarkan suara –hanya gerakkan bibir.

                Sunny terbangun dari tidurnya dan mengecek kanan-kirinya namun kosong. Tidak ada Luna dan Luhan. Akhirnya dia memutuskan untuk bangun dari kasurnya dan keluar dari kamar dengan niat mencari Luhan dan Luna. Bisa gawat jika sampai ketawan. Dengan jaket yang dia kenakan, Sunny keluar kamar dengan keadaan belum mandi.

Sunny berjalan menelusuri lorong asrama sampai pada akhirnya dia keluar dari asrama dan memilih untuk masuk ke gedung sekolah. Hari ini memang libur, pasti gedung sekolah sangat sepi. Dengan tangan yang dia masukkan ke dalam saku jaket, dia berjalan dengan langkah yang cepat ke dalam gedung sekolah.

                Sunny berjalan menelusuri ruang demi ruang gedung sekolah sampai-sampai langkahnya terhenti di ujung lorong diaman kantor guru dan kepala sekolah berada. Dia berhenti karena melihat Luhan yang sednag berdiri sambil mengumpat disana. Sunny berjalan ke arah Luhan. Namun ketika dia melewati pintu kantor kepala sekolah, langkahnya terhenti. ‘Jadi, apa alasanmu untuk keluar dari sekolah ini?’ Kira-kira itu yang didengar Sunny ketika berada di depan pintu kantor kepala sekolah.

Sunny langsung menoleh ke dalam kantor tersebut. Ada Luna disana. Sunny kecewa. Menapa Luhan dan Luna membohongi dirinya seperti ini? Sunny menggigit bibir bawahnya dan berjalan menghampiri Luhan yang berada disana.

“Luhan!” Panggil Sunny dengan kasar. Luhan menoleh dan meletakkan jari telunjuknya di depan mulutnya seakan-akan menyuruh Sunny untuk diam. Sunny kesal dan menarik Luhan keluar dari gedung sekolah ini.

                “Apa maksudmua tentang semua ini?!” Tanya Sunny setengah berteriak.

“Ha? Maksud—“

“Jangan bertanya kepadaku! Jawab pertanyaanku!” Suruh Sunny kepada Luhan. Luhan menundukkan kepalanya, dia bingung harus menjawab apa.

“Maaf, Sun, tapi aku harus segera pindah dari sini. Tidak mungkin ‘kan kalau aku harus berpura-pura menjadi perempuan agar bisa disini terus?” Kata Luhan sambil mengutarakan rasa pahit yang dia rasakan selama ini. Well, rasa manisnya memang lebih banyak dari Sunny.

“Tidak Luhan, tidak. Seharusnya kau memebri tahuku, aku ini masih kekasihmu. Apa kau tidak menganggapku, huh?”

“Tidak, Sun, kau harus menger—“

“Harus selama apa aku mengertimu, Lu?”

“Sun, dengar—“

“Bukankah selama ini aku yang—“

“Dengarkan aku, Sunny!!” Bentak Luhan. Sunny pun bungkam.

“Aku akan pindah. Tidak jauh, aku akan pindah ke sekolah Kim Minseok. Percayalah, kita masih bisa bertemu.” Kata Luhan sambil menarik Sunny ke dalam dekapannya. Sunny diam, dia tidak berani menjawab ataupun mengeluarkan sepatah katapun.

“Bohong.” Kata Sunny.

“Tidak.” Balas Luhan.

“Bohong.”

“Tidak.”

“Boho—“

Oppa! Unnie!” Suara Luna itu bisa memisahkan pelukan sepasang kekasih ini, Luhan dan Sunny. Luna berlari dari pintu gedung sekolah ke tempat Luhan dan Sunny berada –di tengah lapangan.

Oppa, unnie, kalian sudah aman dan kau, oppa, besok kau sudah bisa pindah.” Kata Luna.

“Sungguh?” Luhan berusaha untuk memastikan. Luna mengangguk dengan mantap.

“Ahhh, akhirnya!” Luhan pun menarik Sunny kembali ke kamar mereka.

                Luhan membereskan seluruh barang-barangnya dan mengemaskannya ke dalam koper. Sedangkan Luna baru saja kembali ke bandara untuk pulang ke Los Angeles. Sunny hanya memerhatikan Luhan yang sedang sibuk sendiri.

“Aku akan sering-sering kesini.” Kata Luhan ditengah kesibukkannya.

“Bagaimana caranya? Menyelinap?” Tanya Sunny.

“Iya, aku akan meminta Sehun untuk mengajariku.” Canda Luhan.

Kamar mereka cukup hening selama Luhan sibuk membereskan barang-barangnya sampai pada akhirnya seluruh barangnya beres dan dia duduk di sebelah Sunny.

“Melelahkan.” Keluh Luhan sambil menyeka keringatnya.

“Sering-sering kesini ya? Kau harus janji!” Ucap Sunny.

“Pasti.” Jawab Luhan singkat. Sunny meletakkan kepalanya ke bahu kanan Luhan.

“Luhan, apa kau mencintaiku?” Tanya Sunny.

“Tentu, apa perlu aku membuktikannya?” Tanya Luhan balik.

“Boleh.” Jawab Sunny.

“Dulu aku bersumpah bahwa ciuman pertamaku akan kuberikan kepada wanita yang akan menemaniku di pelaminan nanti dank au sudah mendapatkannya, bukan?” Tanya Luhan.

“Yup.” Jawab Sunny.

“Apa kau mau aku membuktikannya lagi?” Luhan menunjukkan smirk-nya.

“A..ah, tidak. Jangan!” Sunny berusaha menolak.

“Kau yakin?” Tanya Luhan sambil mendekatkan kepalanya ke kepala Sunny.

“Yakin.” Sunny mengangguk lalu memejamkan matanya.

TUK!

                Sebuah ketukkan mendarat di kepala Sunny. Ya, Luhan memukul –pelan kepala Sunny.

“Untuk apa memejamkan matamu? Memberiku akses?” Tanya Luhan.

“Tidak kok.” Jawab Sunny sambil memegang kepalanya.

“Alasan deh.” Balas Luhan.

“Tidak, Lu! Oh iya,” Tiba-tiba Sunny teringat sesuatu. “Bukankah kau sudah pernah menyamar menjadi wanita? Bagaimana sekarang giliranku? Menyamar jadi pria dan masuk ke asrama-mu.” Lanjut Sunny. Luhan terbelalak.

“TIDAK! Tidak boleh! Ini karena kau saja yang beruntung, jadi bisa satu kamar dneganku. Jika kau menyamar jadi pria dan satu kamar dengan Kim Minseok, bagaimana?” Protes Luhan.

“Hehe, jadi kau cemburu?” Tanya Sunny memastikan.

“Maksudku, satu kamar dengan pria lain. Apa kau rela? Apa kau pikir aku rela?” Luhan malah mulai terpancing emosi, ya, mungkin dikarenakan bahwa dia sedang cemburu.

“Hahaha, tenang, deer. Aku tidak akan melakukan hal itu. Tenang saja!” Ucap Sunny.

“Kau yakin?” Tanya Luhan.

“Yakin!!” Jawab Sunny penuh dengan semangat.

                Malam pun tiba dan ini akan menjadi malam terakhir mereka satu kamar. Ya, walaupun mereka akan berada di satu kamar lagi di kemudian hari. Sunny merebahkan tubuhnya di atas kasur, begitupun Luhan. Sunny memiringkan posisi tidurnya sambil memeluk guling yang dibalut dengan sprei itu.

“Selamat tidur, putriku.” Ucap Luhan sambil mengelus puncak kepala Sunny.

“Selamat malam, Luhan.” Balas Sunny sambil memencet hidung Luhan dnegan jempol kanannya.

“Ugh! Seharusnya kau bilang, ‘Selamat malam, pangeranku’” Oceh Luhan.

“Hahaha, tidak, itu berlebihan.” Balas Sunny.

“Hahaha, tidur sekarang, ya? No more talks.” Ucap Luhan. Sunny pun mengangguk sebagai tanda dia meng-iya-kan perkataan Luhan.

Six years later

“Bermula dari kesan pertama yang jelek bertumbuh menjadi sebuah cinta. Percayalah, kalian akan bisa menemukan kebahagiaan sekalipun orang tersebut tidak bahagia sama sekali layaknya Luhan yang baru masuk ke asrama dan tidak menemukan setitik kebahagiaan. Namun, akhirnya dia menemukannya di diri seorang Im Sunny. Gadis cantik dan bersemangat serta tomboy yang menjadi teman sekamarnya. Sungguh ini sebuah lelucon bagiku. Kami idak berhenti tertawa ketika mendengar cerita panjang dari Sunny dan Luhan. Selamat menikah, nak. Semoga kalian akan bahagia.” Isi hati dari seorang Im ahjussi itu sedikit mengiris lubuk hati Sunny. Dia sungguh bangga bisa mempunyai orang-orang hebat dan berharga di sekitarnya.

Ya, hari ini adalah hari terbahagia dan terspesial bagi Luhan dan Sunny. Kedua dari mereka akan menaiki altar dan menyatakan sumpah serapah bahwa mereka akan selalu bersama di saat suka dan suka, sehat dan sakit, kaya dan miskin, sampai maut memisahkan mereka.

Dengan tangan Luhan yang ditutupi dengan sarung tangan berarna putih susu itu, Luhan membuka tudung milik Sunny yang menghalangi wajah cantiknya itu. Luhan tersenyum kepada Sunny dan begitupun Sunny.

Luhan meraih cincin yang dipegang oleh Luna dan memasukannya ke dalam jari manis kanan Sunny. Begitupun Sunny, dia memasukkan cincin yang sama ke jari manis kanan Luhan. Keduanya tersenyum lalu memperdekatkan wajah mereka, memperkecil jarak di antara mereka, hidung mereka bersentuhan, semakin dekat, dekat, dan.. mereka berciuman.

Dimulai dari hari inilah mereka akan benar-benar menempuh hari baru mereka. Bukan sebagai sepasang kekasih lagi. Namun, sebagai sepasang suami dan istri.

END

23 thoughts on “Roommates – Shoot Four (END)

  1. DAEBAK!!! THOR!!! Pairingnyaaa apa lagii akukan sunhan shipper! Aku suka buangettttzzzz ceritanyaaa mian baru bisa comment padahal nih FF dah lamaaa😛

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s