Polaroid

Polaroid

Polaroid

icydork | Sooyoung, Suho | Romance, Sad, Angst, Little Fluff | PG 15+

© October 2013 by icydork

                Seorang gadis dan seorang pria sedang duduk canggung di atas bangku taman. Sang gadis tengah mengenggam sebuah kamera polaroid yang selalu dia bawa kemana-mana, sedangkan sang pria sedang duduk sambil mengatur nafasnya. Suasana hening ini sudah berlangusng selama sepuluh menit.

“Sooyoung.” Sang pria memulai pembicaraan. Sang gadis yang dipanggil Sooyoung pun menoleh.

“Ya?” Responnya sambil tersenyum manis. Sang pria menatap manik mata Sooyoung sambil tersenyum.

“Maukah kau menjadi kekasihku?” Tanya pria itu to the point. Sooyoung membelakakkan matanya tidak percaya.

“Kau serius, Suho?” Sooyoung mencoba untuk memastikan. Suho mengangguk dengan cepat.

CKREK!

                Sooyoung memotret Suho ketika dia menganggukkan kepalanya itu. Suho terkejut.

“Sooyoung, apa yang kau lakukan?” Tanya Suho.

“Aku,” Jawab Sooyoung sambil mengantungkan perkataanya. “Aku mau menjadi kekasihmu.” Lanjut Sooyoung. Suho terkejut lagi untuk kesekian kalinya.

“Sungguh? Ahhh, terima kasih.” Kata Suho. Sekali lagi, Sooyoung memotretnya.

CKREK!

                Refleks. Suho menoleh dengan cepat. “Mengapa kau memotretku secara terus menerus?”

Simple,” Sooyoung memasukkan polaroidnya ke dalam tas kecilnya. “Karena aku ingin mengenang setiap moment yang kita lewati.” Lanjut Sooyoung sambil tersenyum lebar. Suho terkekeh pelan dan mengacak rambut Sooyoung.

“AKu mencintaimu, Sooyoung.”

                Kencan pertama.

Sooyoung benar-benar gugup. Dengan pakaian yang sangat teramat simple, dia berjalan di sebelah Suho yang memakasi baju super mewah bahkan mendekati kata formal. Sooyoung mengembungkan pipinya dengan sebal. Suho yang menyadari hal itu langsung menoleh ke arah Sooyoung.

“Ada apa?” Tanya Suho. Sooyoung menoleh dan mengempiskan pipinya.

“Seharusnya kau bilang bahwa kita akan pergi ke tempat seperti ini.” Jawab Sooyoung. Suho tertawa mendengar jawaban itu.

“Memangnya kenapa? Bukankah aku bilang bahwa kita akan kencan?” Tanya Suho lagi. Sooyoung menggeleng.

“Jika kau bilang bahwa kita akan berkencan di restoran mahal seperti ini. Aku tidak akan mengenakan sebuah kaod dan celana pendek seperti ini. Aku pikir kita akan makan fast food.” Oceh Sooyoung.

“Hahaha, tidak apa. Kau selalu nampak cantik, Sooyoung,” Ucap Suho sambil berjalan ke meja makan yang sudah dia pesan. Dia menarik sebuah bangku dan tersenyum ke arah wanitanya. “Silahkan duduk.” Kata Suho. Sooyoung tertunduk malu dan tersenyum lalu duduk di atas bangku tersebut.

Suho berjalan ke posisinya yang berada di seberang Sooyoung dan menduduki bangku yang ada disana. “Mau pesan apa?” Tanya Suho sambil membuka buku menu yang ada di atas meja itu. Sooyoung juga membuka buku menu yang berada di depannya.

Chicken Gordon bleu dan jus jeruk.” Kata Sooyoung sambil menutup buku menu tersebut, begitupun Suho.

“Aku juga sama seperti dia.” Kata Suho sambil menyerahkan buku menu tersebut kepada sang pelayan yang baru saja datang.

“Baiklah. Silahkan menunggu sepuluh menit.” Ucap sang pelayan lalu pergi meninggalkan mereka berdua.

Suasana canggung menyelimuti malam mereka. Mereka hanya melempar senyuman satu sama lain. Kencan pertama memang tidak biasa untuk mereka. Dikarenakan ini Sooyoung adalah kekasih pertama Suho dan begitupun Sooyoung. Mereka belum pernah mengalami kencan pertama sebelumnya.

“Besok kita ulangan bahasa ‘kan?” Tanya Sooyoung memulai topic pembicaraan mereka dengan sekolah.

                Suho mengangguk mantap, “Iya, kau sudah belajar?”

“Tentu, kalau kau?” Tanya Sooyoung balik.

“Oh-uh..”

“Belum ‘kan? Aku mengenalmu baik, Suho.” Celah Sooyoung sambil terkekeh pelan dan mengeluarkan kamera polaroid miliknya.

“Kau tahu saja, hehe.” Tawa canggung milik Suho itu sangat menganggu telinga Sooyoung.

“Pesanan kalian sudah selesai. Dua chicken Gordon belu dan dua jus jeruk.” Sang pelayan meletakkan makanan yang mereka pesan di atas meja makan mereka. Sooyoung dan Suho menatap makanan di depan mata mereka dengan napsu yang membara. Tentu saja, keduanya mempunyai hobi makan.

“Ayo makan!” Ajak Suho. Sooyoung mengangguk dan mengambil sendok serta garpu dan memulai acara makannya. Suho makan dengan terburu-buru dan sampai pada akhirnya..

“Uhuk!” Suho tersedak.

CKREK!

Sooyoung memotret Suho dengan cepat yang sedang tersedak itu. Suho langsung meraih jus jeruknya dan meminumnya.

“Kenapa kau memotretku? Seharusnya kau membantuku, Soo.” Celoteh Suho. Sooyoung menurunkan polaroidnya perlahan.

“Kau-kau marah?” Tanya Sooyoung.

“Tidak. Kenapa kau memotretku?” Tanya Suho.

“Bukankah aku sudah pernah menjawab pertanyaan itu?”

Karena aku ingin mengenang setiap moment yang kita lewati.

                “Oh-uh, begitu. Baiklah. Makan lagi, ya?” Ajak Suho. Sooyoung tersenyum dan mengangguk lalu makan lagi bersama Suho.

                Hari kelulusan.

Sooyoung dan Suho berpegangan tangan sambil melewati murid-murid yang sedang berdesak-desakkan yang sedang melihat hasil pengumuman mereka di papan pengumuman sekolah. Akhirnya mereka sampai di depan papan pengumuman. Keduanya memperhatikan nomor urut mereka, apakah nomor mereka tercantum disana atau tidak.

“YES!” Seru Suho sambil mengepalkan kedua tangannya di depannya. Sooyoung masih sibuk mencari nomor urutnya sambil berkata “122643” berulang-ulang, itu nomor urutnya.

“122643, kumohon.” Mohon Sooyoung. Telunjuknya yang menunjuk papan pengumuman itu akhirnya berhenti di depan nomor yang bertuliskan 122643.

“AAAAAA! Terima kasih!” Teriak Sooyoung lalu memeluk Suho. “AAAA! Thanks God!” Teriak Sooyoung sekali lagi. Tiba-tiba Sooyoung merasa bahwa pundaknya itu basah. Sooyoung terkejut lalu melepaskan pelukannya dan melihat Suho yang sedang mengelurkan air matanya.

“Suho?” Panggil Sooyoung. Suho menoleh sambil menutup mata kanannya. “Kau kenapa?” Tanya Sooyoung. Suho menggeleng.

“Tak apa, aku bahagia.” Jawab Suho.

CKREK!

                Sooyoung memotret Suho yang sedang menangis. Suho melebarkan matanya tidak percaya.

“Sooyoung?”

“Ini moment berharga untukku.” Kata Sooyoung sebelum Suho berkata lebih.

Aigoo..

                Universitas.

“Jadi, kau akan kuliah dimana?” Tanya Suho. Sooyoung menaik-nurunkan kedua bahunya.

“Masih belum tahu.” Jawab Sooyoung. Suho mengangguk.

“Aku akan pulang ke China.” Kata Suho. Sooyoung terkejut dan menoleh ke Suho dengan cepat.

“Kau, kenapa baru bilang sekarang?” Baru saja Sooyoung bertanya, air mata sudah terbendung di matanya.

“Maafkan aku, aku akan segera kembali. Percayalah.” Kata Suho. Sooyoung menggeleng air matapun terjatuh di pipi mulusnya.

“Aku takut kau berbohong, Suho.” Ucap Sooyoung. Suho memegang kedua bahu Sooyoung dan tersenyum. Berusaha memberikan sebuah keyakinan pada Sooyoung.

“Percayalah, aku akan kembali.” Kata Suho. Sooyoung menghapus aliran air matanya.

“Yakin?” Sooyoung berusaha memastikan.

“Yakin.” Jawab Suho.

                Hari terakhir.

Sooyoung mengantar Suho ke Incehon airport untuk melepas kepergian Suho ke China untuk melanjutkan studinya disana. Suho menarik koper dan memakai ranselnya. Sedangkan Sooyoung memegang polaroid di tangan kanannya dan sebuah paper bag di tangan kirinya.

“Tunggu aku, Soo.” Ucap Suho.

Sooyoung mengangguk dan tersenyum –pahit, “Ya, aku akan selalu menunggumu. Tenang saja, Suho.”

“Aku senang mempunyai kekasih sepertimu.” Ucap Suho sambil mengelus lembut puncak kepala Sooyoung.

“Iya, aku juga. Jangan lupa kirimkan alamat rumahmu jika sudah tiba di China. Okay?” Kata Sooyoung meningatkan Suho. Suho mengangguk.

“Tentu saja.” Balas Suho.

“Bagaimana jika kita foto bersama?” Ajak Sooyoung. Suho mengangguk. Sooyoung pun memposisikan polaroid yang di genggamnya di hadapan wajah mereka berdua.

“Satu, dua, tiga.”

CKREK!

                Dengan cepat Sooyoung mengambil kertas foto yang keluar dari polaroid tersebut dan menggoyang-goyangkannya dengan cepat.

“Sooyoung, bolehkan aku meminta sesuatu?” Tanya Suho.

“Apa?” Jawab Sooyoung langsung. Suho mendekatkan wajahnya ke wajah Sooyoung, mendekat, mendekat, semakin mendekat sampai-sampai bibir mereka bertemu. Kertas foto yang dipegang Sooyoung terjatuh mulus ke atas lantai bandara ini yang amat dingin.

Bibir mereka bersentuhan dalam jangka waktu yang bisa dihitung lama. Hanya bersentuhan. Suho menutup matanya dengan tenang sedangkan Sooyoung melebarkan matanya karena terkejut. Suho pun melepaskan bibirnya dan bibir Sooyoung lalu memberi jarak di antara mereka.

Suho menggaruk punggung lehernya dengan malu, sedangkan Sooyoung masih terkejut dan tak percaya.

“Suho, bagaimana—“

“Maafkan aku.” Suho memotong perkataan Sooyoung.

“Tidak, tidak apa. Bisakah kau mengulanginya lagi?” Tanya Sooyoung sambil terkekeh pelan.

                Dua tahun kemudian.

Seorang wanita menignjak bandara yang berada di China, wanita cantik nan anggung dengan sunglasses yang terpasang di wajahnya dan sebuah kamera polaroid bergantungan di lehernya.

“Akhirnya.” Keluh wanita itu lalu menarik kopernya dan menaiki taksi yang berada di dekatnya.

“Fang Di Hotel.” Ucap wanita itu kepada sang supir taksi.

                Wanita itu memasuki kamar yang dia pesan dan seorang pelayan membantunya. Wanita itu mengeluarkan dompetnya dan memberikan beberpa alembar uang kepada pelayan itu sebagai tips.

Xie xie.” Ucap wanita itu. Sang pelayan hanya menunduk dan keluar dari kamar itu. Wanita itu mengeluarkan sebuah kotak kecil yang berada di dalam kopernya dan tersenyum. Dia melihat lembar-lembar foto yang ada di dalamnya. Kebanyakan dari foto-foto itu adalah foto pria –kekasihnya –Suho.

Ya, Sooyoung sudah tiba di China untuk memberikan Suho kejutan. Dia masuk ke kamar mandi, membersihkan dirinya dan akan segera pergi ke rumah Suho.

                “Changdi. Jalan Changdi.” Ucap Sooyoung berulang-ulang sambil melihat-lihat plang-plang jalan disekitarnya.

“Ah, itu dia!” Serunya dengan semangat lalu masuk ke daerah jalan Changdi.

                “Nomor 185.” Gumam Sooyoung sambil melihat-lihat rumah-rumah di sekitarnya. Senyumnya mengembang ketika melihat sebuah rumah mewah dengan angka 185 yang menempel di dinding rumah tersebut.

“Akhirnya!” Sooyoung berlari ke rumah itu namun langkahny terhenti ketika melihat sebuah mobil yang baru tiba di depan rumah itu.

Pasti Suho, batin Sooyoung. Sooyoung mengumpat di balik dinding sambil mengintip. Senyumnya menganmbang ketika melihat Suho keluar dari mobil itu, langkah pertama baru saja dia pijakkan namun terhenti ketika melihat seorang wanita keluar dari mobil yang sama juga.

Perlahan tapi pasti, Sooyoung mengangkat kamera polaroidnya dan memotret Suho dengan wanita itu. Suho menghampiri wanita itu dan mencium bibirnya lalu melingkarkan tangannya di leher wanita itu dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Hati Sooyoung terpahat, air mata jatuh begitu saja dari matanya, Sooyoung menyaksikan adegan tadi dengan seksama.

“Suho.” Gumam Sooyoung lalu berjalan meninggalkan rumah itu dengan perlahan.

                Hari ini juga Sooyoung akan kembali ke Korea. Dia sudah mengemaskan barang-barang bawaanya ke dalam koper. Tinggal satu barang yang akan dimasukkan ke dalam koper, yaitu kotak tersebut. Sooyoung meraihnya dan membukanya. Dia melihat foto pertama, dimana Suho terkejut ketika Sooyoung menerimanya. Foto kedua, dimana Suho tersedak. Foto ketiga, dimana Suho menangis di hari kelulusannya. Foto keempat, dimana mereka berfoto bersama dan masih banyak foto lainnya.

Sooyoung mengangkat foto lembar terakhir yang baru saja dia potret tadi. Sooyoung tersenyum miris melihat foto tersebut. Hubungan yang dia jalani nyari empat tahun ini pun berubah menjadi status yang tidak jelas. Kesetiaan dan kata manis yang selalu Suho umbarkan tiap hari berubah menjadi sebuah kenangan pahit bagi Sooyoung.

“Apa yang sudah berlalu tidak boleh dibawa, hanya dikenang dan dijadikan sebuah pelajaran.” Ucap Sooyoung sambil meletakkan kotak yang penuh foto dirinya dengan Suho ke dalam laci meja rias di kamar hotel tersebut bersama polaroidnya.

“Selamat tinggal, Suho.”

END

 

35 thoughts on “Polaroid

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s