[Freelance] Just Wait! (Sequel of ‘Because of You’) (Chapter 1)

just-wait

Author : Kim Hee Rin a.k.a KaiKat

Genre : Romance, Sad, Friendship

Rating : PG-13+

Cast :

–      Im Yoon Ah a.k.a Yoona

–      Oh Sehun a.k.a Sehun

–      Find ‘em by urself ^^

Disclaimer : The plot & story is MINE, but Inspired by some novels, comics, dramas of korea. (Special thanks for ‘yeoshin1002@ highschoolgraphics.wp.com’ who have made the poster for me… 🙂 )

Author’s note : (FF ini juga terdapat di WP pribadi—dengan cast yang berbeda)

Annyeong!

Pertama-tama, aku ingin meminta maaf atas keterlambatan yang sangat keterlaluan ini. Aku baru bisa memberikan FF ini(Sequel dari BECAUSE OF YOU) sekarang. Itu berarti, sudah hampir 2 bulan yang lalu dari waktu yang seharusnya.

Semoga saja, apa yang telah kuberikan dibawah ini, sesuai dengan lamanya waktu yang terpaksa aku lewati.

Happy Reading all!! ^^

*Yoona POV

Lagi-lagi hari yang ku tunggu akhirnya tiba. Butuh penantian yang cukup panjang untuk menantikan datangnya hari ini. Hari dimana aku akan kembali bertemu dengan pujaan hatiku, seseorang yang telah membawa hatiku pergi dan berjanji akan segera membawanya kembali tanpa ada kurang sedikitpun.

Menantikan kembalinya seseorang yang telah membuat hidupku kembali berwarna, membangkitkanku dari segala keterpurukan yang sempat melanda kisah perjalanan hidupku_perjalanan kisah cintaku, lebih tepatnya. Menantikan pulangnya seseorang dari kepergiannya, tepat setelah aku memberikan hatiku untuknya. Disaat aku sudah berhasil meyakinkan diriku akan pilihan yang telah kutentukan, ia pula yang sempat membuatku merasa ragu akan pilihanku. Namun, ketulusan hatinya jugalah yang telah sukses menumbuhkan benih-benih keyakinan dalam hati ini.

Tiga tahun terpisah cukup untuk membuat rasa rinduku memuncak, seakan-akan sebuah gunung berapi yang sudah tak dapat membendung semua lavanya dan akan segera siap untuk meluncurkannya kapanpun ia mau. Begitu pula dengan apa yang sedang ku rasakan saat ini. Rasanya teramat sulit untuk diutarakan, seperti merujuk pada bagian tubuh yang lain untuk segera melampiaskan semua yang terasa begitu sesak di dada ini.

Melampiaskannya langsung pada sumber persoalan, siapa lagi jika bukan Sehun_Oh Sehun.

Kesibukan sang sumber persoalan di lain tempat inipula, yang menyebabkan dirinya sama sekali tak menyisakan waktu sedikitpun untuk sekedar mengunjungi tanah kelahirannya ini. Bahkan ketika hari libur sekalipun.

Pada saat itu, ia selalu menggunakan waktu luangnya dengan sebaik mungkin.  Selalu ia gunakan untuk mengejar semua mata perkuliahannya, agar segera terselesaikan sebelum waktu seharusnya. Walau tak terlalu berpengaruh memang, hanya akan menghilangkan beberapa bulan dari masa pendidikannya di jenjang perguruan tinggi. Akan tetapi, aku sangat menghargai kegigihan atas tekadnya yang telah ia tentukan sebelumnya.

Alasan atas betapa sibuknya ia, benar-benar tak bisa membuatku mengelak akan pengaruh hadirnya diriku dalam kehidupannya. Jika saja aku tak meyakinkan hatiku untuk menetapkan hati ini padanya, mungkin ia tak harus terburu-buru untuk menyelesaikan perkuliahannya.

Posisi dimana kedua orangtuanya berdiam-pun, sangat tidak memungkinkan menjadi sebuah alasan untuknya agar segera kembali ke tanah yang sedang kupijaki saat ini. Berada di antara jarak yang terpaut sangat dekat—bahkan berada di dalam sebuah atap yang sama saat ini, apa bisa dijadikan alasan baginya untuk kembali ke Seoul? Sama sekali tidak.

Hubungan dengan kedua orangtuanya pun, hingga saat ini masih terus terjalin harmonis, tak ada persoalan yang dapat menjadikan sekat bagi keduanya untuk saling membuang muka. Jadi, jika alasannya adalah hanya untuk menghindari kedua orangtuanya itu sama sekali tak masuk akal. Tak dapat menjadi hitungan akan penyebab kebulatan hatinya yang sama sekali tak bisa diganggu gugat lagi, untuk langsung kembali ke Seoul begitu kuliahnya terselesaikan.

Mujur sekali baginya, kedua orangtuanya sangat mendukung apa yang menjadi pilihannya. Termasuk dalam hal memilih yeoja_aku_untuk menjadi pengisi rongga kosong di dalam hatinya. Semakin menumbuhkan rasa percaya diriku akan mulusnya perjalanan kisah asmaraku kali ini. 

Beberapa konflik di masa lampau, dapat kuyakini tak akan terulang kembali kali ini. Yakin 100%.

Sejujur-jujurnya, hingga saat ini aku memang sangat menginginkan dirinya agar segera kembali ke sisiku. Akan tetapi lagi-lagi aku tak sampai hati melihatnya menjadi terburu-buru_bahkan memenuhi hari-harinya dengan kegiatan kuliahnya yang sangat padat.

Desakkan yang sebelumnya tak terpikirkan olehku, bahkan kata-kata yang terlontar dari mulutku yang diartikannya sebagai sebuah permintaan agar ia segera kembali ke sisiku, kadang sama sekali tak terbayangkan dalam diriku.

Kalimat yang menyatakan ‘Aku merindukanmu’—malah ia artikan sebagai sebuah pernyataan ‘Cepatlah pulang!’—agar menyuruhnya segera kembali ke dekatku. Entahlah, tetapi tak jarang pula aku merasa secara tak langsung apa yang bersemayam di dalam hatiku tersampaikan dengan baik pada dirinya.

Berhubungan melalui ponsel, membuat kami merasa seperti sedang berhadapan kala itu. Sepertinya koneksi yang begitu kuat antar kedua hati ini sungguh-sungguh tak dapat terkalahkan oleh apapun, jarak yang terbilang sangat jauh-pun dapat terkalahkan oleh dua hati yang saling bertautan ini. Menyebabkan jarak di antara kami terasa sangat dekat, justru seakan tak ada lagi jarak sejengkal-pun yang memisahkan kami.

Penantian yang cukup panjang memang, hanya untuk menunggu kedatangan seseorang. Menunggu seseorang yang sangat berarti dalam hidup ini, bahkan yang sudah pasti akan datang sekalipun, tetap terasa seperti menunggu sesuatu yang sama sekali belum memiliki kepastian bagiku. Tak ada satupun manusia di dunia ini yang merasa senang akan kegiatan yang satu ini, tak terkecuali aku. Tak ada satu orangpula yang mau mengajukan dirinya untuk rela ditinggalkan seseorang yang memiliki posisi penting dalam hatinya dan menunggu kedatangannya kembali selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun sekalipun, terlebih-lebih denganku.

Akan tetapi, jika semua hal yang selama ini telah dilakukan akan berakhir bahagia, siapa yang tak mau melakukan hal sepele namun merangsang emosi ini?

Begitu juga denganku. Apa yang kulakukan selama ini_menunggu datangnya sesosok manusia, terus saja membuat ‘keraguan’ tak jarang melingkupi hatiku. Kesalahan yang pernah terjadi di masa lalu, segala kenangan burukku di masa lalu pun juga turut menyinggahi hati dan pikiranku beberapa kali. Akan tetapi, aku selalu berusaha agar semua itu sirna dari pikiranku. Tak akan kubiarkan pemikiran-pemikiran negatif seperti itu kembali menyinggahi pikiranku, bahkan menjadi penghuni tetap pikiranku_tidak akan. 

*Author POV

Jarum jam sedari tadi terus saja berputar, sama seperti otak yeoja ini yang terus saja berputar tak karu-karuan. Seakan memutar kembali rekaman yang sebelumnya telah terekam dengan sangat baik di otaknya. Rekaman yang berhasil di ambilnya kurang lebih 3 tahun silam. Tepat sebelum kepergian-sementara-seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya_saat ini.

Kurang dari 2X24 jam lagi, ia akan kembali bertemu dengan seseorang itu. Pertemuan kembali yang terjadi di antara keduanya setelah beberapa tahun tak saling bertatap wajah secara langsung sama sekali.

Drttt… Drttt…

Getaran serta bunyi nada dering standard yang melantun dengan sempurna dari Android pengeluaran baru yang dimilikinya, berhasil membuyarkan lamunan tak jelasnya.

“Yeoboseyeo~” langsung saja ia menekan tombol hijau yang berarti menyambungkan panggilan sang penelepon pada dirinya, tepat setelah tangannya dengan sigap menyambar ponselnya yang tertata rapi di atas meja belajar yang kini menjelma menjadi meja tempat dimana ia meletakkan semua koleksi barang-barang miliknya.

“Yoona.” terdengar suara parau dari seorang namja di seberang sana, terdengar pula cukup jelas nada keraguan yang bersamaan dengan masuknya gelombang bunyi yang baru saja memasuki rongga telinga yeoja ini_Yoona.

“Sehun-ah!! Kau meneleponku?? Tak seperti biasanya. Biasanya kau ‘kan selalu sibuk.” omel Yoona sambil mengacung-acungkan jari telunjuknya ke arah lurus ke depan, seolah-olah orang yang sedang bercakap-cakap dengannya memang sedang berdiri tepat di hadapannya.

“Yoona, kali ini dengarkan aku baik-baik. Aku sangat_sangat_ minta maaf sebelumnya. Kuharap setelah aku mengatakan ini kau tak akan memarahiku lebih dari yang sebelumnya.” sekarang nada berbicara namja ini sudah berubah menjadi seserius mungkin.

“Hm? Kau mau berbicara apa, chagi?” kali ini nada berbicara Yoona juga berhasil di ubahnya menjadi 1800 berbeda dari sebelumnya, jauh lebih lembut dari beberapa detik yang lalu.

“Apakah kau bisa berjanji untuk tak memarahiku habis-habisan setelah ini?” tanya namja itu lagi yang tak lain dan tak bukan adalah Sehun_namja yang dinanti-nantikan oleh Yoona kehadirannya kini.

“Hmmm. Akan kuusahakan.” jawab Yoona skeptis, namun sekiranya mampu membuat Sehun yakin akan perkataannya.

“Yoong, untuk jadwal kepulanganku lusa sepertinya benar-benar tak akan terlaksanakan. Mianhae, jeongmal mianhae.” terang Sehun, membuat Yoona tertegun mendengar pernyataan yang didapatnya.

“Aku benar-benar bisa pulang, mungkin sekitar 2 bulan lagi. Itupun masih belum ada kepastian yang jelas. Mianhae, Yoong~” lanjutnya lagi, dengan nada keraguan yang semakin terdengar jelas dalam nada bicaranya.

Untuk beberapa saat, durasi menelepon diantara keduanya berjalan begitu saja tanpa ada yang mengeluarkan suaranya. Tepat 10 detik kesunyian menelan keduanya, Yoona yang sebelumnya belum bisa mencerna dengan sempurna apa yang dikatakan namjachingunya, sekarang telah berhasil menelaah satu-per-satu kata-kata yang dilontarkan namjachingunya.

“Mwo?? Apa kau ingin membunuhku?? Belum cukupkah waktu 3 tahun yang dengan sangat tidak rela untuk aku jalani, tanpa seseorang yang baru saja mengisi rongga kosong dalam hatiku?? Dan… dan sekarang kau mengatakan bahwa kau tak bisa kembali diwaktu yang telah kau tetapkan sendiri padaku sebelumnya?? Dan mengatakan bahwa kau baru bisa kembali 2 bulan kedepan?? Kau benar-benar keterlaluan! 2 bulan bukanlah waktu yang singkat!” berbagai jenis tudingan, pertanyaan_yang bisa dibilang—tak masuk akal, bahkan cercaan2 yang menyakitkan meluncur begitu saja dari bibir tipis seorang yeoja rapuh yang bernama Im Yoon Ah. Tak ada yang bisa membuatnya hilang kendali seperti ini sebelumnya kecuali namja yang satu ini.

Yang mendapat segala macam pernyataan pedas inipun hanya dapat membelalakkan matanya. Tak menyangka, akan mendapat semua perkataan-perkataan itu dari mulut yeoja yang sangat dicintainya. Di sisi lain Yoona yang merasa hatinya sangat bimbang, gundah gulana dan sejenisnya—hanya dapat meneteskan air matanya. Tak dapat-lagi-menahan rasa panas yang telah mendera kedua matanya sejak tadi. Entah siapa yang mengundang kehadiran sang air mata yang telah membanjiri kedua pipinya dengan begitu deras.

“Yoong~”

Nittt.. Nittt.. Nittt…

Memutuskan sebuah percakapan dalam situasi seperti ini, sepertinya solusi yang cukup baik bagi seorang yeoja yang baru saja mendapatkan berita menyesakkan dari seorang namjachingunya.

Beruntung, sang namja mengerti benar akan perasaan yeoja miliknya, mengerti bagaimana perasaan seseorang yang baru saja mendapatkan informasi mendadak— namun sangat menusuk seperti itu.

Bagaimana tidak, semua kesepakatan bahkan rencana-rencana yang telah dibuat olehnya-Yoona- setelah kedatangan namjachingunya nanti, akan sirna begitu saja. Memang tak akan sirna sepenuhnya, itu berarti ada beberapa hal yang nantinya akan benar-benar terlewatkan tanpa berjalan sesuai dengan apa yang diharapkannya.

Tidak usah jauh-jauh, terhitung 2 bulan ke depan mulai dari sekarang, liburan musim panas di Seoul akan segera berakhir, bagaimana dengan rencana berlibur yang telah direncanakannya dengan namjachingunya_Sehun ke Nami Island? Apa perlu menunggu tahun berikutnya, hanya untuk menikmati hari libur dengan waktu dan suasana yang sangat mendukung seperti ini?

Segala macam pemikiran dan segala kesimpulan yang dapat ditariknya dari percakapannya dengan Sehun sebelumnya, berkecamuk dalam pikirannya, ‘Apa-apaan dia? Aku benar-benar tak habis pikir.’ gumam Yoona.

Ia sama sekali tak dapat menghentikan aliran air matanya yang terus saja mengaliri kedua pipinya, kendati ia menghapus air matanya dengan seadanya—tetap saja, sedetik kemudian kembali dipenuhi dengan cairan-cairan bening itu.

Di tempat yang jauh darinya, Sehun masih berusaha memberikan waktu bagi sang yeojachingu untuk menerima pernyataan yang baru saja disampaikannya. Walau sebagaimana adanya, seorang yeoja terlihat sangat tak pantas berkata seperti itu kepada seorang namja—melalui telepon genggam pula. Jujur, Sehun-pun masih belum percaya bisa mendapatkan berbagai makian dan umpatan dari gadis yang dicintainya itu.

Namun, apa mau dikata—sejak awal ia telah berpikir keras, apa saja yang akan menjadi konsekuensi-nya sesudah ia mengatakan hal itu dan ia benar-benar bisa menerima segalanya_walau, itu memang tak mudah.

Siapa yang dapat menyangka, seorang yeoja yang berparas lembut dan memiliki watak yang tak kalah lembutnya dari penampilannya itu, dapat menyatakan hal seperti itu?

Akan tetapi, apa lagi yang bisa dilakukan—jika kemarahan dan rasa kecewa telah menyelubungi diri sendiri? Sama sekali sulit, untuk mengendalikan diri. Bahkan sang pemilik tubuh-pun, kesulitan dalam menangani emosinya yang tak terkendali. Seakan-akan kemarahan dan emosi yang meluap-luap telah berhasil mengendalikan dirinya dengan sangat baik. Tak terkecuali dengan Yoona.

Apa yang bisa dilakukan oleh gadis dengan hati selembut sutra ini, jika semua itu sudah berhasil merasuki jiwa dan raganya?

‘Apa aku terlalu jahat padanya. Perkataanku memang terlalu kasar. Tak seharusnya aku mengatakan semua hal itu pada Sehun_namjachinguku sendiri. Aku benar-benar keterlaluan.’ sesal Yoona, kemudian segera menghapus jejak-jejak air matanya kasar dan langsung memungut ponselnya di atas lantai kamarnya, mengambil ponselnya yang beberapa menit lalu ia hempaskan begitu saja hingga terlihat cukup berantakan. Bagian casing-nya terbuka, yang mengakibatkan baterai dan sim card-nya berhamburan begitu saja.

Rasa sakit sebesar apapun yang dirasakannya saat ini, semarah apapun dirinya sekarang—bagaimanapun juga, jiwa seorang yeoja yang dimilikinya tak semata-mata akan tenggelam begitu saja. Mana ada, yeoja yang benar-benar sampai hati mengatakan hal se-jahat itu.

“Sehun-ah…” panggil Yoona persis ketika panggilannya telah tersambungkan dengan baik kepada orang yang ditujunya.

Sangat baik nasibnya, Sehun tak mematikan ponselnya, kemudian segera mengganti sim card-nya, lalu sama sekali tak ingin bercakap-cakap lagi dengannya_serupa dengan sifat kekanakan yang biasanya ditunjukkan oleh beberapa pasangan kekasih diluaran sana.

Yoona sadar-sangat sadar-apa yang baru saja ia lakukan sangat menyakitkan. Seluruh perkataan yang ia luncurkan dari mulutnya, benar-benar tak logis jika dituturkan oleh seorang yeojachingu yang baik.

“Yoong! Mianhae. Aku tak ber-“

“Sehun-ah, aku lah yang seharusnya meminta maaf kepadamu. Mianhae_jeongmal mianhae. Aku sungguh-sungguh hilang kendali tadi. Maafkan aku atas segala perkataan kasar yang tadi sempat dilontarkan oleh mulut jahatku ini. Maafkan aku~” sergah Yoona cepat, seraya meminta maaf dengan sangat sopan berulang-ulang kali pada namjachingunya.

Memiliki usia yang berada diatas namjachingunya, tak membuatnya merasa tinggi hati, merasa dirinyalah yang menjadi seorang pemimpin.

Tentu saja, itu semua takkan pernah terjadi. Sebagaimanapun jadinya nanti, seorang namja-lah yang akan selalu menjadi seorang pemimpin dalam sebuah hubungan.

Menjadi seorang yeojachingu yang lebih tua dalam sebuah hubungan, tidak selalu menonjolkan hal-hal negatif, yang banyak orang pikirkan. Terkadang keuntungan yang cukup memadai-pun, juga ikut serta—ambil bagian dalam suatu hubungan yang ‘unik’ seperti itu. Menasihati atau mungkin membimbing sang namjachingu, agaknya adalah salah satu hal positif atau bisa dibilang manfaat dalam menjalin sebuah hubungan layaknya yang sedang dijalani Yoona dan Sehun. Namun ketika keduanya-sang namja- telah benar-benar dewasa, tak dapat dipungkiri—kelak sang namja pasti akan memiliki kepribadian yang jauh lebih matang dari si yeoja tadi.

“Aku sangat egois, Hun. Aku tak memikirkan bagaimana perasaanmu saat ini. Aku hanya memikirkan perasaanku sendiri. Aku sangat minta maaf.” Lanjutnya lagi, yang kini disertai dengan isakan tangis yang semakin terdengar di telinga Sehun.

Lihat saja, entah sang yeoja yang lebih tua ataupun sebaliknya dalam suatu hubungan, bisa saja tak jarang salah satu di antara keduanya melakukan kesalahan-kesalahan seperti ini_kesalahan yang sangat kekanak-kanakan.

“Kau tak salah, aku lah yang salah. Aku memberitahumu terlalu mendadak. Aku lebih mementingkan tugas kuliah—yang tak wajib kulakukan ini dari pada dirimu. Maafkan aku Yoong. Kuharap kau mengerti apa alasanku melakukan ini.” balas Sehun lirih.

Yoona benar-benar beruntung, begitu pula sebaliknya. Sehun juga adalah namja yang sangat beruntung di dunia ini. Mereka sama-sama mendapatkan pasangan yang dapat mengerti posisi mereka satu sama lain. Tidak pernah menyalahkan satu sama lain dan berusaha mengutamakan kepercayaan satu sama lain.

“Sekarang, aku telah mengerti Sehun-ah. Maafkan otak dan hati ini, yang lambat dalam mencerna segala peristiwa ataupun kenyataan yang harus diterimanya, ne. Aku sangat kecewa memiliki otak dengan kapasitas minim seperti ini. Sehingga membuatmu harus menelan berbagai perkataan yang sangat tak pantas kuucapkan.” Ucap Yoona, yang mendapat balasan kekehan pelan dari Sehun.

Mereka memang selalu bisa mencairkan suasana, bahkan dari suasana yang tegang nan canggung seperti sebelumnya sekalipun. Malah saat ini, senyuman manis telah merekah diwajahnya-Yoona-, entah kemana perginya isakan dan tangis yang tadi sempat melanda dirinya beberapa detik yang lalu.

“Memiliki yeoja berotak minim sepertimu tak selamanya mendatangkan sesuatu yang tak baik. Kkk~” sekarang bukan kekehan pelan lagi yang didapat Yoona, tetapi namja yang sedang berbicara dengannya kini malah cekikikan dengan keras.

“Huh, kau ini. Aku ralat. Otakku tak seminim apa yang kau pikirkan. Setidaknya otakku 11-12 lah dengan otak milikmu.” bela Yoona kembali.

“11-12? Apa tak salah? Kurasa itu salah besar. Apa kau bisa mengalahkan otakku yang dapat membawa diriku mengikuti Olimpiade di kota besar London seperti ini? Kemudian dapat memasuki Universitas Oxford dan memilih jurusan sesuka hatimu, terlebih lagi kau tak perlu bersusah payah memikirkan biaya pendidikannya. Apa kau bisa Nona Im?” sombong Sehun pada yeojachingunya.

“Dasar kau bocah. Sombong sekali kau. Walau selayaknya harus kuakui, apa yang kau katakan memang tak ada yang salah, Professor Oh.” Balas Yoona pasrah, apa lagi yang dapat dikatakannya jika sifat sombong dan percaya diri yang melampaui batas normal telah meraja lela dalam diri namjachingunya itu, yang dapat dilakukannya hanyalah menyerah, menerima kekalahan dari perdebatan yang entah sampai kapan dapat dimenangkan olehnya.

“Hey, aku sudah besar. Aku bukan bocah_lagi.” Protes Sehun.

“Kau tau, tak hanya dirimu yang mengakui tingkat kemampuan otakku—yang bisa dikatakan seperti seorang master ini. Seluruh dunia-pun, juga mengakui akan tingkat kecerdasan yang dimiliki otak ajaibku ini.” lanjutnya, lalu tertawa terbahak-bahak; setelah ia berhasil berpamer-pamer ria akan kehebatan dirinya sendiri. Di lain pihak Yoona malah mendengus sebal mendengar perkataan namjachingunya, yang boleh dikatakan kelewat cerewet bagi ukuran seorang namja dewasa.

“Baiklah. Up to you. So, bagaimana? Jadi 2 bulan kedepan…?” setelah benar-benar menyerah, Yoona kembali mengalihkan pembicaraan menuju topik utama sebelumnya.

“Hmmm. Ya, 2 bulan kedepan. Waktu tambahan yang akan terasa sulit bagiku disini dan juga bagimu_bagi kita. Maafkan aku.” Suasana -kembali- menjadi sedikit canggung.

“Tenanglah, kau baik-baik saja disana. Tak usah terlalu banyak memikirkanku. Aku selalu baik disini. Jadi, kau konsentrasi saja dengan kuliahmu disana. Luluslah dengan nilai serta prestasi-prestasi yang membanggakanku, kedua orangtuamu dan orang-orang disekitarmu. Fighting!” sahut Yoona memberi semangat. Bisa sekali ia memberi semangat bagi orang lain, tetapi bagaimana dengan dirinya sendiri? Ia terlalu rapuh untuk berpura-pura terdengar tegar oleh orang yang sedang berbicara dengannya.

“Yoong~”

“Sudahlah, kau sedang sibukkan? Lebih baik aku tutup saja teleponnya. Dahh..” pembicaraan benar-benar diakhiri_lagi kali ini. Dengan sepihak pula, sama seperti sebelumnya.

‘Sehun-ah. Saranghae…’

Pipinya kembali membasah. Basah oleh air yang kembali—entah atas perintah siapa-kembali-keluar dari kedua matanya. Biar saja kesedihan ini, cukup dirinya yang merasakan. Toh, nantinya ini semua akan berbuah baik_lagi, bukan?

Sehun? Ia memang tak pernah bisa, dibohongi oleh yeoja yang satu ini. Tak perlu menatap dalam manik milik yeoja itu, cukup dengan mendengar suaranya saja ia dapat memastikan apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh yeoja itu.

Namun, ia tak ingin mengecewakan siapapun_lagi kali ini. Terlebih lagi Yoona, yeoja yang telah dibuatnya merasa sangat kecewa beberapa saat yang lalu. Dan kini ia telah kembali membulatkan tekadnya untuk menjalankan apa yang telah dipesankan oleh yeojachingunya tersebut.

*Yoona POV

Dua bulan_lagi, ini akan menjadi salah satu dari saat-saat yang paling tidak nyaman dalam hidupku. Kukira 3 tahun cukup, untuk membuatku merasa sendiri_benar-benar sendiri. Ternyata, malah mendapat bonus tambahan 2 bulan kedepan yang sama sekali tak pernah menjadi angan-anganku sebelumnya.

Disibukkan dengan beberapa pekerjaan, kuharap bisa mengalihkan perhatianku dari ‘kesendirian’-ku kali ini.

Menjadi seorang ‘Wedding Organizer’.

Entah apa yang membuatku ingin melakoni pekerjaan ini. Beralih dari keinginan menjadi seorang penulis handal, sekarang justru menjelma menjadi seorang ‘WO’. Tak jarang segala apa yang kukerjakan ini membuatku merasa ingin mengalami apa yang klien-klien-ku alami.

Menetapkan tempat dimana akan dipersatukannya cinta mereka, menentukan segala kuliner yang akan menemani kebahagian mereka kelak, melakukan fitting baju sebelum hari bahagia mereka, melakukan segala halnya bersama-sama dan memilih segala sesuatunya_apapun itu, yang akan mendampingi mereka ketika hari spesial mereka datang suatu hari nanti.

Melihat klien-klien-ku merasa puas akan pekerjaanku adalah hal terbaik yang ingin kulakukan sepanjang karirku ini, terlebih lagi dalam 2 bulan kedepan.

Ting.. tong..

“Siapa?” sahutku dari dalam ‘ruangan pribadi’-ku. Bagus-aku masih bisa mengendalikan otot dan saraf tangan serta tubuhku. Jika tidak, mungkin ponsel yang berada di tangan kananku sebelumnya sudah menjadi rongsokkan karena terbanting dari balkon lantai 2 ‘ruangan pribadi’-ku ini.

“Yuri-ah, tumben kau datang pagi-pagi sekali.” Ucapku, setelah membukakan pintu rumahku dan mendapati seorang yeoja bertubuh kurus berdiri dengan menenteng beberapa kantongan yang entah berisi apa.

“Aku ingin menceritakan sesuatu padamu.” Jawabnya lirih, sembari berjalan melewatiku_tanpa menoleh ke arahku dan duduk di sofa ruang tamuku tanpa dipersilahkan terlebih dahulu oleh sang pemilik hunian.

“Curhat? Tentang?” tanyaku.

“Aku sangat kesal pada Kai sekarang!” geramnya, menyebabkan-ku yang baru saja ingin duduk di sampingnya, mengurungkan niatku dan memutuskan untuk menyiapkan beberapa hidangan untuknya.

Kai? Siapa lagi yang akan membuatnya menjadi sangat kesal seperti ini, jika bukan lelaki itu. Dugaanku mengatakan, bahwa sifat kekanakkan Kai kembali kambuh dan menyerang Yuri sampai menelusuk ke dalam hati-nya. Perasaan seorang yeoja memang sangat sensitif. Tak terkecuali denganku dan Yuri.

“Kai, lagi? Ada apa dengannya?” kataku, sambil membawakan sebuah nampan berisi dua buah gelas orange juice dan beberapa makanan ringan untuk nantinya kami santap bersama. Keluar dari perkiraanku sebelumnya_sebelumnya aku berpikir jika kami akan menyantapnya ketika ia selesai bercerita, akan tetapi yang terjadi malah sebaliknya.

Setelah aku meletakkan nampan yang kubawa tadi, ia segera menyambar salah satu gelas yang kubawa dan segera meminumnya tanpa tersisa sedikitpun. Selepas menghabiskan minumannya, tangannya segera bergerak menggapai makanan ringan yang baru saja kusediakan lalu memasukan ke dalam mulutnya yang mungil. Sehingga membuat kedua pipinya terlihat besar akibat banyaknya cemilan yang disantapnya.

“Yuri-ah, jika kau marah apa kau akan selalu menjadi seperti itu?” ujarku.

Bukannya mendapatkan jawaban secara lisan, yang kuterima malah tatapan meng-intimidasi yang dikirimkannya melalui signal dari kedua matanya.

“Ah ya, minumlah.. makanlah.. tak ada yang melarang..” tatapan tajam matanya memang sangat ahli dalam hal membuat orang menjadi takluk akan dirinya, maksudku takut_sangat takut. Jarang sekali orang-orang di luaran sana bisa mendapatkan tatapan yang sangat tak kerap ia perlihatkan seperti ini.

Namun sesaat kemudian, sesudah ia benar-benar menelan semua makanan yang tadi menggumpal dimulutnya, ia malah menangis sejadi-jadinya. Seakan-akan seorang anak kecil yang mainannya baru saja direbut secara paksa oleh teman sebayanya.

“K-Kai!! Huaaaaa..”

“Yuri-ah, tenanglah. Sekarang, coba ceritakan padaku apa yang sebenarnya telah terjadi di antara kalian.” Ucapku berusaha menenangkannya, sebelum seluruh tetangga di kiri-kananku menyerbu rumahku dan membakarnya dengan amarah karena telah membuat keributan di saat semua orang sedang menyiapkan dirinya untuk mengawali seluruh aktifitasnya masing-masing.

“Kai. I-ia membatalkan jadwal fitting baju untuk pertunangan kami, hanya karena alasan yang tak penting. Ia mengatakan bahwa ia harus menghadiri reuni bersama teman-teman SMA-nya. Padahal itu bukanlah reuni resmi, hanya acara kecil-kecilan saja.” Jelasnya ditengah-tengah isakkan tangisnya.

“Mwo? Hanya karena itu saja kau membuang-buang air mata berharga-mu secara cuma-cuma?”

Ada apa dengan anak ini?

“’Hanya’ kau bilang? Kami telah merencanakan hal ini sejak 1 bulan yang lalu, bahkan ini sudah yang kesekian kalinya ia membatalkan acara fitting baju kami. Kini, ia malah kembali membatalkannya begitu saja tepat 2 hari sebelum hari yang telah kami tentukan. Apa kau masih bisa mengatakan ‘hanya’? Hah? Apa yang kualami memang 1800 berbeda, dengan apa yang sebentar lagi kau hadapi. Kekasihmu akan segera pulang lusa bukan? Dan kalian pasti akan bersenang-senang diatas kesedihanku ini, ‘kan?”

“Kau salah_salah besar.” balasku lirih.

Bagaimana bisa ini terjadi? Apa yang kualami turut dialami pula oleh sahabatku, soulmate pertamaku sebelum Sehun_bukan berarti kami memiliki hubungan spesial yang sama seperti aku dan Sehun rasakan ya..? Walau memiliki persamaan, tetap saja persoalanku akan lebih tampak menyakitkan dari pada masalah-kecil-nya.

“A-apa maksudmu?” tanyanya heran, lalu segera menghapus air matanya perlahan.

Aku menghembuskan nafasku kasar, “Lusa tak akan ada orang yang datang dan harus kusambut.” Mataku memanas, otakku kembali memutar percakapan yang hampir saja musnah dari pikiranku_jika saja tak kembali muncul karena sesuatu hal yang hampir sama, menimpa orang yang-juga-kusayangi.

“Bagaimana bisa begitu? Kalian ‘kan sudah merencanakan semuanya dari beberapa bulan yang lalu?” tanyanya.

“Y-Yoona… Jangan menangis… Maafkan aku, aku tak bermaksud…” lanjutnya lagi, ketika melihat beberapa tetes cairan bening terjun bebas dari kedua mataku.

“A-apa? A-aku menangis? Mungkin mataku hanya dimasuki oleh sesuatu.” Aku sungguh-sungguh tak boleh menunjukkan kesedihanku, di depan orang yang datang kepadaku untuk menceritakan kesedihannya. Teman macam apa aku ini, bukannya mendengarkan suara hatinya aku malah berusaha untuk menambahkan cerita yang sangat tak mengenakkan.

“Sudahlah, lupakan saja. Ini juga tak penting. Ya, intinya Sehun tak akan pulang lusa.” Ujarku dengan nada santai. Berusaha menutupi nada kekecewaan yang seharusnya dapat aku lampiaskan kapanpun aku mau, namun tidak untuk sekarang.

“Apa-apaan dia??” hardiknya dengan suaranya yang semakin meninggi, melengking persisnya.

“Yoong, ceritakan padaku semuanya. Jangan ada yang kau tutup-tutupi, ne?” tanyanya yang kini telah berhasil menurunkan nada berbicaranya menjadi lebih normal, jauh lebih halus dari sebelumnya.

“Mengapa kau jadi mellow begini? Biasa sajalah. Katanya, ada beberapa tugas kampus yang belum ia selesaikan dengan benar. Lalu, ia juga mendapat beberapa tugas-permintaan-tambahan dari seorang dosen pembimbingnya yang harus ia kerjakan. Ia akan segera kembali 2 bulan kedepan.” Terangku panjang lebar.

“Hahh?? Hanya karena itu saja ia menunda kedatangannya?? Bahkan sampai 2 bulan?? Ia benar-benar keterlaluan!” Bentaknya lagi sambil berkacak pinggang, seolah-olah orang yang menjadi sasaran kemarahannya benar-benar sedang berada di depannya saat ini.

“Sudahlah, aku sudah bisa menerimanya. Lagipula apa yang ia kerjakan itu ‘kan memang hal yang baik. Selama itu adalah hal yang positif, aku akan berusaha agar tak marah atau protes akan keputusannya. Walau, memang membutuhkan waktu bagiku untuk benar-benar bisa menerimanya dengan besar hati.” Ucapku, yang seakan-akan terdengar sedang berusaha untuk menghibur diriku sendiri.

“Lalu, bagaimana denganmu? Apa kau sudah bisa menerima keputusan namjachingumu itu? Huh?” lanjutku lagi, mencoba untuk mengalihkan pembicaraan kembali ke topik pembahasan utama. Tak lupa, berusaha menampilkan senyum terbaikku setelah kesedihan-kekecewaan-melanda diriku.

“Yoong-”

By the way, kau yakin akan membiarkan minuman dan cemilan yang ada dihadapanmu tergeletak begitu saja tanpa tersentuh sedikitpun? Tak ingin menyantapnya? Sebelum naluri kerakusan-ku merasuki tubuhku, dapat kupastikan semua yang ada dihadapanmu saat ini tak akan tersisa sedikitpun.” Gurauku sambil terkekeh kecil, berusaha mencairkan suasana ‘ganjil’ yang sama sekali tak diharapkan kehadirannya di tengah-tengah kami.

“Yoong, maafkan aku. Aku sama sekali tak mengetahui berita ini.” ucapnya, perlahan tangan lembutnya menggenggam tanganku erat.

Well… itu berarti, sekarang ada dua orang yeoja—pada 2 hari yang akan datang, sama-sama memiliki waktu yang kosong bukan? Bagaimana jika kita berjalan-jalan ke MyeongDong? Jarang sekali, kita memiliki waktu senggang di waktu yang bersamaan seperti ini.” lanjutnya lagi.

Ya, mempunyai profesi yang sama membuat kami memiliki kesibukkan yang tak jauh berbeda. Sama-sama menjadi seorang ‘WO’, bahkan mendapatkan kesulitan dalam pekerjaan terkadang tak benar-benar kami rasakan. Saling berbagi kesulitan satu sama lain, membuat pekerjaan kami menjadi terasa jauh lebih ringan.

“Ide bagus. Aku akan berbelanja sebanyak-banyaknya. Kau benar-benar sudah berhasil membuat jiwa Yoona yang sebenarnya bangkit. Kkk~” ucapku kemudian kembali terkekeh.

Bertemu dengan manusia yang satu ini memang paling bisa membuat semua kejadian-kejadian pahit yang sebelumnya hinggap di hatiku sirna begitu saja, dan juga sebaliknya. Lihat saja, beberapa menit yang lalu ia baru saja menangis sejadi-jadinya, dan sekarang? Dengan bangganya ia menampakkan sederetan gigi putih bersihnya kepadaku.

“Yuri-ah!”

“Yoong! Bisakkah kau tak berteriak seperti itu, ketika aku sedang berkonsentrasi pada suatu hal??” protes Yuri, yang sebelumnya sedang fokus membaca salah satu koleksi novel miliknya.

“Kau ingat ‘Keroro’? Salah satu teman pena-ku yang sering kuceritakan padamu?” tanyaku antusias.

“Hmmm… Ya, aku ingat. ‘Keroro’; teman chatting di Twitter-mu itu ‘kan? Ia juga adalah ‘Visitor’ setia blog design kau itu ‘kan?” jawabnya, tanpa mengalihkan pandangannya dari novel favoritnya—yang sudah entah berapa kali ia baca.

“Kau ini!” ucapku geram, seraya merebut paksa apa yang sedari tadi bersandar di tangannya.

“Yoong! Apa-apaan kau!” ia berusaha merebut novelnya, yang sukses kurampas dari tangannya.

“Dengarkan aku dulu, setelah itu baru akan kukembalikan.” Tawarku tanpa menghentikan aktifitasku_berusaha menghindari gerak tangannya yang terus saja mencoba meraih barang miliknya dariku.

“Baiklah, sekarang cepat ceritakan.” Ujarnya pasrah.

“Nah, jika kau begitukan aku juga enak berbicaranya.” Kataku puas.

“Kau tahu? Tadi ia bercerita padaku bahwa kemarin ia baru saja dilamar oleh kekasihnya.” Ceritaku bersemangat, namun yang kuajak berbicara malah memainkan jemarinya dan memutar bola matanya malas.

“Lalu?” balasnya segan.

“Ia bilang, semalam ia telah berunding dengan namjachingunya dan telah memutuskan agar menggunakan jasa kita untuk membantunya dalam persiapan pernikahannya nanti.” Jelasku dengan bertambah antusias.

“Mwo?? Benarkah?? Aku turut senang kalau begitu. Jadi kapan kita bisa bertemu dengan teman pena-mu itu??” tanyanya yang kali ini menjadi bergairah_jauh lebih bergairah daripadaku sebelumnya.

“Huh, kau ini. Tadi bertingkah malas-malasan. Sekarang malah menjadi seperti ini.“ sindirku.

“Tadi itu ‘kan, kau belum bercerita tentang bagian ini. Sekarang aku menjadi ikut bersemangat. Apa ada orang yang menolak jika diberikan pekerjaan seperti ini?” katanya membela diri.

“Selalu saja, berusaha mengelak-mengelak-dan-mengelak. Ia bilang, ia baru bisa bertemu lusa, yang itu berarti kita harus membatalkan rencana berlibur kita.” Kataku dengan suara yang semakin lama semakin mengecil.

“Kau benar juga. Tetapi tak apalah. Jauh lebih menyenangkan melayani klien daripada berjalan-jalan. Masih ada hari lain ‘kan?” hiburnya.

That’s right! Aku benar-benar tak sabar untuk bertemu dengan sahabat pena-ku itu selama ini. Kira-kira bagaimana wujud dan sifat aslinya ya?” kataku sambil berusaha membayangkan pertemuan kami nanti. Mencoba menerka-nerka, apakah ia memiliki sifat yang sama dengan seseorang yang selama ini berhubungan denganku melalui social media atau justru sebaliknya.

*Author POV

2 Days later~

Hari yang telah ditentukanpun akhirnya tiba. Tiba saatnya pertemuan yang sangat menegangkan bagi Yoona.

Bagaimana tidak? Bayangkan saja, biasanya mereka hanya berhubungan satu sama lain melalui jejaring sosial dan sekarang mereka harus dipertemukan dalam urusan pekerjaan.

Tepat setelah ‘Keroro’_sahabat pena Yoona memutuskan untuk menggunakan jasa Yoona, mereka saling bertukar nomor ponsel. Sejak kemarin pula mereka telah saling bercakap-cakap melalui ponsel satu sama lain. Sekilas membahas beberapa konsep yang ditawarkan oleh Yoona.

Beberapa perasaan janggal cukup sering menghinggapi perasaan Yoona. Acap kali ia merasa bahwa orang yang akhir-akhir ini berkomunikasi dengannya adalah orang yang cukup ia kenal. Suaranya terdengar tak asing baginya, tetapi ia masih tak bisa mengenal siapa gerangan orang yang baru-baru ini mengaku bernama asli ‘Xi Joo Hyun’ itu sebenarnya.

“Yoona, kau yakin di tempat ini kita akan bertemu dengannya?” pertanyaan Yuri berhasil menyadarkan sahabat karibnya sekaligus rekan bekerjanya dari lamunan singkatnya.

“Ya, tentu saja.” Jawab Yoona, sambil membolak-balik buku catatan kecil miliknya yang menjadi pedoman mereka untuk menuju tempat ini.

Di depan sebuah gedung yang cukup megah inilah, tempat dimana mobil sedan milik Yuri terparkirkan dengan baik.

“Tetapi kita sudah menunggu sejak 30 menit yang lalu dan orang yang kita tunggu sama sekali belum menunjukkan batang hidungnya.” Ucap Yuri, sembari melipat kedua tangannya didepan dadanya, menandakan bahwa kebosanan telah melanda dirinya.

“Bersabarlah sebentar. Mungkin sebentar lagi ia akan datang.” Dan benar saja baru saja Yoona mengatakan hal itu, seseorang datang dari belakangnya dan menepuk pelan bahunya, yang membuatnya sedikit terkejut.

“Annyeong-“

—TBC—

Author’s note_again:

Bagaimana? Mian, aku sudah berusaha sebisa mungkin, ditengah-tengah kesibukan sebagai siswa kelas 9. FF ini sengaja aku buat cukup banyak, karena saat aku buat ini FF, entah kenapa ide dengan cepat merasuki(?) diriku.

Jika ada kekurangan-itu sudah pasti ada-, cantumkan saja di kolom komentar di bawah ini.

GOMAWO!

Advertisements

33 thoughts on “[Freelance] Just Wait! (Sequel of ‘Because of You’) (Chapter 1)

  1. Yoonhun disini romantis banget sih. Enak kali ya punya hubungan seperti mereka. Tapi bukan ldrnya tapi rasa saling pengertiannya>< Next yah thor. Fighting!

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s