Unspoken Love

Unspoken Love

Poster - Unspoken love 850x600

[Tidak ada yang menjawab. Karena memang tidak seorangpun dari mereka yang tahu]

Length: One-shot – Rating: G – Cast: Suho & Sooyoung – Genre: Romance ]

[Author: Genie]

Suho tidak pernah percaya kalo waktu bisa berhenti ketika seseorang jatuh cinta sampai dia sendiri lah yang mengalaminya…

Pagi ini dia baru menjejakkan satu langkah di lobby kampus waktu tanpa peringatan Chanyeol melemparinya dengan bola basket. Itu terjadi berkali-kali hingga Suho mundur beberapa langkah, menabrak seseorang di belakangnya.

Terdengar suara buku-buku berjatuhan.

Kejadian berikutnya hampir ada diseluruh drama , Suho berbalik, ikut berjongkok membantu korban tabrakannya untuk mengumpulkan buku yang jatuh.

“ah maaf, maafkan aku. Aku ti—“

Suho tidak mampu menyelesaikan kalimatnya. Waktu di sekitar berhenti ketika manik matanya bertemu dengan manik mata yang ternyata milik seorang gadis.

Bidadari! Bidadari!

Satu kata itu yang hatinya sedang teriaki berkali-kali. Dia tidak lagi mengumpulkan buku, yang di lakukannya disana hanya berjongkok dengan pandangan terkunci pada gadis dihadapannya yang masih terus memunguti buku dengan mulut terbuka setengah.

Dia juga tidak sadar kalo gadis itu sudah selesai mengumpulkan semua buku, kemudian berdiri dan meninggalkannya kalo bukan karena sebuah bola basket membentur kepalanya. Membuatnya meringis. Menatap tajam ke arah pelaku “sakit, bodoh”

“kau itu yang bodoh. Kenapa masih saja berjongkok di sana? Gadis itu sudah pergi” sebelah tangan Baekhyun menggantung di udara, berniat untuk membantu Suho berdiri.

Bukannya menjawab atau sekedar menyambut uluran tangan Baekhyun dia malah berdiri sendiri dalam diam, fokus pandangan  masih tertuju pada gadis yang perlahan menghilang diujung koridor.

Ah, ada rasa hangat menyelimuti hatinya..

***

Suho tidak pernah percaya kalo jatuh cinta itu bisa membuat seseorang berkelakuan layakanya orang gila sampai dia sendirilah yang mengalaminya…

Saat ini kelas terdengar  gaduh, dosen tidak ada. Tidak ada materi. Tidak ada tugas. Maka berarti kelas bebas.

Suho duduk sendiri memandang pemandangan kampusnya dari balik jendela, sementara Chanyeol dan Baekhyun sibuk membuat lelucon. Pikirannya menerawang, hingga tanpa dia sadari kedua sudut bibirnya sudah tertarik ke atas, sesekali suara tawa tedengar dari tenggorokannya.

“Suho?” dia menoleh, ada Baekhyun dan Chanyeol sedang menatapnya dengan pandangan yang dia sendiri tidak mengerti.

“Apa?”

“Kau baik-baik saja?” pertanyaan Baekhyun meninggalkan beberapa lipatan di dahi Suho.

“Maksudmu, Baaekhyun?” Baekhyun tidak langsung menjawab, dia bertukar pandang dulu dengan Chanyeol. Dan setelah mendapat sebuah anggukan mantap dari Chanyeol punggung tangan Baekhyun mendarat di dahi Suho.

“Tidak panas, Yeol”

“Yakin?” kali ini gantian punggung tangan Chanyeol menyentuh dahi Suho. Pria itu sendiri masih diam, bingung dengan kelakuan kedua sahabatnya.

“Ah iya tidak. lalu dia kenapa ya?” Chanyeol tampak berfikir, pandangannya menerawang ke langit-langit kelas sambil mengetukkan jari di dagu”

“Apa kita harus memerikasakannya kerumah sakit?”

Oke, cukup. Suho mungkin tidak mengerti apa yang sedang keduanya bicarakan tapi dia tahu satu hal. Objek pembicaraan mereka adalah dirinya. Dan apa tadi? Rumah sakit? hei! Dia sehat.

Sangat sehat malah. Dia tak pernah merasa sesehat ini sebelumnya.

“Baekhyun, Chanyeol” Kedua sahabatnya ini dari tadi berbicara seolah Suho tidak ada di sana.

“Kau yakin baik-baik saja?”

“Memangnya kenapa?”

“Kau  itu, dari tadi senyum-senyum dan tertawa sendiri”

“oh ya?”

“aku contohkan” Chanyeol mengambil posisi duduk di bangku sebelah Suho, satu tangan menjadi tumpuan di dagu. Dia tersenyum kemudian tertawa keras-keras di tambah dengan gerakkan menepuk tangan.

“Tidak sampai seperti itu, idiot” Baekhyun meninju lengan Chanyeol, mau tak mau Suho yang menyaksikan adegan tersebut menyemburkan tawa.

“hey, kalian kenal gadis tadi pagi?” Suho tiba-tiba ingat apa yang sedari tadi mengisi pikirannya.

“gadis tadi pagi?” Baekhyun memiringkan kepalanya.

“iya, yang tadi pagi aku tabrak”

Ada jeda cukup lama di antara ketiganya. Baekhyun, Chanyeol saling bertukar pandang mencerna pertanyaan Suho dan Suho berharap kedua sahabatnya tau sesuatu tentang gadis yang dia tanyakan. Tapi alih-alih menjawab, Chanyeol malah balik bertanya.

“kau suka gadis itu ya?”

“eh?” ekspresi terkejut tampak jelas di wajah Suho.

“iya kan?” Chanyeol mendekatkan diri, mencari jawaban atas pertanyaannya di dalam sepasang bola mata Suho.

“Astaga, cinta pada pandangan pertama rupanya” Baekhyun menambahi sambil tertawa. Suho kelabakan, tidak menyangka akan mendapat respon seperti itu, apalagi Baekhyun dan Chanyeol terus menggodanya, menjadikan mereka tontonan satu kelas.

Ah, dia memang tidak seharusnya bertanya pada mereka berdua..

YA! Berhenti!” Suho mengacak rambutnya kesal, Baekhyun dan Chanyeol masih saja tertawa. Memang salah kalo dia jatuh cinta? Jatuh cinta pada pandangan pertama? Melihat wajah Suho semakin merah padam, tawa Baekhyun mulai surut.

“kau tidak tahu siapa dia?”

“memangnya kau tahu?” nada suara Suho terdengar menantang, dia memang penasaran akan identitas gadis itu, hanya saja berjaga-jaga kalo pertanyaan ini juga salah satu keusilan Baekhyun.

“Choi Sooyoung, kan?” Chanyeol menimpali, dia memandang ke arah Baekhyun seperti meminta persetujuan yang langsung dijawab dengan anggukan Baekhyun.

“Choi Sooyoung anak kelas seni. Dia satu angkatan dengan kita, selebihnya aku tidak tahu. Walaupun cantik dan kaya dia terkenal sombong karena tidak pernah terlihat berinteraksi bersama mahasiswa lainnya”

***

Suho tidak pernah tau kalo mengajak seorang gadis berkenalan bisa sangat sulit sampai dia sendirilah yang mengalami…

Sore itu, tidak sengaja dia melihat Sooyoung lagi. Sedang berjalan keluar pintu Lobby. Tanpa persetujuan otak, langkah kakinya berderap cepat berusaha menghentikan Sooyoung meninggalkan Chanyeol dibelakang seorang diri.

Saat dia tiba dipintu lobby, Sooyoung sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil jemputannya dan langsung melaju pergi.

Well, kau baru mencoba sekali. Masih ada besok, besok dan banyak besok, Suho” suara Chanyeol yang biasanya terdengar menyebalkan kali ini malah terdengar menenangkan. Chanyeol benar, dia tidak boleh menyerah hanya dalam sekali coba.

***

Selalu ada alasan kenapa orang bersikap menyebalkan dan terkadang mereka tidak tahu cara untuk menjelaskannya….

Suasana kelas Sooyoung terasa hening. Sang dosen tampak asik menulis dipapan tulis, tidak menyadari para mahasiswa dibalik punggungnya asik dengan kegiatan masing-masing; tidur dan bermain game.

Hanya segelintir mahasiswa yang benar-benar larut pada materinya dan gadis bernama Choi Sooyoung salah satunya. Gadis bersurai coklat panjang itu duduk sendiri dibagian paling depan ruangan. Bola matanya bergulir bergantian pada buku catatan dan papan tulis

Tidak lama kemudian, bunyi lonceng terdengar nyaring memenuhi ruang kelas, dosen berhenti menulis diiringi teriakan para mahasiswa yang langsung berhamburan keluar menuju kantin.

Sooyoung juga langsung membereskan barang-barangnya dan keluar begitu saja. Tanpa dia sadari, banyak pasang bola mata menatap kesal ke arahnya.

“Oh liat sang tuan putri lagi-lagi keluar begitu saja. Sudah hampir setahun kita sekelas bersamanya, tapi tidak sekalipun dia mau tersenyum apalagi berbicara pada mahasiswa kelas ini”

“apa tidak ada yang pernah mengajaknya bicara?”

“aku pernah, tapi dia hanya tersenyum singkat lalu pergi. Sangat menyebalkan”

***

Suho tidak pernah mengikuti lomba lari, dia payah dalam hal ini. Tapi demi Choi Sooyoung, dia berlari seperti seorang pelari profesional…

Kantin adalah tujuan utama para mahasiswa di tengah hari seperti ini. mereka betah berlama-lama disana untuk sekedar mengobrol atau sambil menyantap makan siang.

Suho ada ditengah lautan para mahasiwa sekarang bersama Baekhyun dan Chanyeol. Sebenarnya, dia sengaja menghabiskan waktu disana untuk menunggu kelas Sooyoung berakhir, namun ketika Kyungsoo datang dengan menu masakan barunya seketika dia lupa dengan tujuan awalnya. Baekhyun sampai harus mengingatkan.

“Suho, jam kuliah sudah berakhir”

“lalu?” dia terlalu sibuk menguyah untuk sekedar memikirkan makna dibalik kalimat Baekhyun.

“lalu? Hei, katanya kau ingin menemui Sooyoung?” mendengar satu nama yang disebut Chanyeol membuat suho berhenti mengunyah, bola matanya membulat lebar seakan mau keluar dari rongganya.

“KENAPA TIDAK MENGINGATKANKU DARI TADI?!!” dia berteriak, bangkit dan segera berlari.  Mengabaikan bahwa makanan yang belum selesai dia kunyah berhamburan keluar mengotori wajah Chanyeol dan Kyungsoo dihadapannya.

YA! Kau ini, jangan mengotori wajah tampanku!” Chanyeol segera membersihkan wajahnya sementara Kyungsoo seperti masih belum sadar apa yang baru saja terjadi.

“wah, dia cepat sekali. Kau pernah melihatnya berlari secepat itu, Chanyeol?” Baekhyun terlihat takjub sebelum menoleh pada Chanyeol yang masih sibuk membersihkan wajahnya, kemudian beralih pada Kyungsoo.

“Kyungsoo-ah, kenapa kau tidak membersihkan wajahmu juga?”

“Wajahku? Memang ada apa dengan wajahku?”

***

Suho tidak pernah tau elevator bisa sangat menyebalkan ketika sedang dibutuhkan sampai dia sendiri lah yang mengalaminya…

Dia terpaksa berlari menaiki anak tangga karena elevator lama. Dia terus saja berlari hingga lantai dua, terima kasih pada Baekhyun  sudah  memberinya informasi tentang letak kelas Sooyoung hari ini.  Dilantai dua dia berlari menuju lorong timur dan tiba-tiba berhenti ketika melewati seorang gadis.

Choi Sooyoung.

Dengan senyum mengembang dia berbalik, menyamai langkah dengan Sooyoung dan mulai berbicara.

“Halo, Sooyoung” Sooyoung menoleh, ada ekspresi terkejut tampak dibalik manik matanya sesaat sebelum melangkah lebih cepat. Hei, Suho hanya menyapanya, kenapa dia harus mempercepat langkah? Suho mengikuti langkah Sooyoung menuruni tangga, dia terus berbicara tetapi tetap saja diabaikan.

Langkah  keduanya berhenti tepat didepan pintu lobby  ketika Suho menahan lengan Sooyoung “Sooyoung, tunggu. Kenapa kau tidak mau bicara? Apa aku menakutkan? Aku hanya ingin mengajakmu berkenalan. Namaku Suho, Kim Suho” dia tersenyum lagi, sebelah tangan terulur ke depan.  Sayang, uluran tangannya hanya di sambut oleh angin, Sooyoung lebih memilih melangkah pergi masuk ke dalam mobilnya.

Mengabaikan Suho, lagi.

***

Ketika kau menyukai seseorang dan orang itu menyukaimu juga, apa yang akan kau lakukan?

Sooyoung benar-benar bingung harus apa dengan perlakuan Suho saat ini, jantungnya dibuat berdetak abnormal sementara rasa panas mulai naik ke wajahnya. Beruntunglah, supirnya datang tepat waktu. Sooyoung langsung melangkah cepat masuk ke dalam mobil tanpa menoleh kebelakang.

Sebenarnya dia tidak bermaksud seperti itu, hanya saja dia tidak tahu harus melakukan apa. Jadi dari balik kaca mobil, dia terus menatap lekat sosok Suho, berharap Suho mengerti dia tidak sungguh-sungguh mengabaikannya.

Dia hanya tidak bisa….

***

Suho tidak pernah tau seperti apa susahnya mengerti cinta pertama sampai dia sendirilah yang mengalaminya…

Baekhyun adalah orang pertama tau tentang kejadian tadi. Suho memberitahunya dengan wajah kosong seperti habis dirampok. Maka atas usulan Chanyeol mereka bertiga keluar menikmati malam untuk makan direstoran kesukaan ketiganya.

Suho membiarkan Chanyeol dan Baekhyun memperebutkan menu makanan apa yang akan mereka pesan. Dia lebih memilih untuk mengamati keadaan disekitar, sampai pandangannya jatuh pada sosok gadis kurus tinggi tengah duduk di restoran sebrang.

Choi Sooyoung

Dia membenarkan posisi duduk, menajamkan indera penglihatannnya. Sooyoung disana tidak sendiri, dia ditemani seorang pria dengan seragam yang sering dipakai oleh supir pribadi. Apa dia sedang makan dengan supir pribadinya? Kenapa harus supir? Dia tidak punya teman untuk menemaninya? Lalu, kenapa dia menolak Suho tadi?

“Oh bukankah itu Sooyoung?” Baekhyun ikut mendekatkan diri ke Suho sebelum Chanyeol juga menyusul di samping Baekhyun.

“siapa pria itu?” kali ini Chanyeol yang bertanya.

“dari pakaiannya, seperti supir”

“supir? Kenapa dia harus makan dengan supir? Dia tidak punya teman?” dan Chanyoel menyeruakkan pertanyaan dalam benak Suho.

Tidak ada yang menjawab. Karena memang tidak seorangpun dari mereka yang tahu. Sooyoung seakan tidak ingin dekat-dekat dengan orang lain, gadis itu membangun dinding pembatas. Membiarkan orang-orang berspekualisasi buruk mengenai dirinya.

Namun tidak bagi Suho, dia ingin tau alasan dibalik Sooyoung menarik diri dari lingkungan sekitar.

***

Suho tidak pernah tau seperti apa rasanya diabaikan cinta pertama sampai dia sendirilah yang mengalaminya…

Sooyoung sudah seperti virus bagi Suho. Kejadian semalam mengakibatkan dia tidak bisa tidur hingga harus terlambat masuk kelas dan berakhir dengan mengerjakan tugas diperpustakaan seorang diri.

Dia sudah mau mengutuki diri sendiri kalo bukan karena sosok Sooyoung ada di dalam perpustakaan. Setidaknya keberuntungan masih berpihak padanya sekarang.

Dengan langkah yakin dia segera mendudukan diri didepan Sooyoung, walaupun ada sebuah buku mengahalangi Suho untuk melihat langsung wajah sang gadis idaman tetap saja kupu-kupu berputar memenuhi perutnya.

Dia tidak memulai pembicaraan. Asik duduk disana menatapi buku yang menghalangi pandangannya dengan senyum terkulum. Kalo Chanyeol sampai melihat ini, laki-laki seperti tower itu sudah pasti mengatainya gila sambil tertawa terpingakal-pingkal.

Untungnya, Chanyeol tidak ada di sini. Jadi, Suho bebas melakukan apa yang dia inginkan termasuk yang satu ini. Entah sudah berapa lama Suho mengamati Sooyoung dalam diam sampai gadis itu mulai bereaksi, menurunkan buku.

Melihat Suho mengulum senyum dihadapannya, seketika ekspresi terkejut tercetak jelas diwajah Sooyoung. Siapa juga yang tidak terkejut bila di ada di posisi Sooyoung?

“Sooyoung! Kita bertemu lagi. Apa yang kau lakukan sepagi ini di perpustakaan? Tidak ada kelas?” Suho memulai pembicaraan, menunggu jawaban yang sepertinya tidak akan pernah dia dapatkan.

“Sooyoung?”

Dia memanggil lagi, ketika manik matanya merekam Sooyoung mulai menegakkan tubuh, mengumpulkan barang-barang miliknya diatas meja lalu melangkah pergi cepat, Suho sadar kalo dia gagal lagi. Diabaikan lagi.

Sebenarnya dia punya dua pilihan untuk ikut berdiri, menahan Sooyoung pergi, menanyakan semua pertanyaan yang mengusiknya atau tetap duduk diam di sana.

Dan dia memilih pilihan kedua…

***

Suho tidak tau kalo cinta pertama bisa melekat begitu erat kalo bukan dia sendirilah yang mengalaminya…

Bila sahabatnya mengira Suho akan menyerah setelah berkali-kali penolakan dia terima, maka mereka salah besar. Kata menyerah seakan tidak pernah diajarkan padanya. Baekhyun dan Chanyeol sudah mencoba mengenalkannya pada gadis lain, Kyungsoo bahkan sampai berjanji mau membuatkannya makan siang dengan berbagai macam menu selama setahun penuh asalkan dia mau berpaling pada gadis lain, tapi tetap saja.

Yang Suho mau cuma Choi Sooyoung..

Hal ini cukup membuat para sahabatnya khawatir, takut kalo Suho akan merasakan sakit hati lebih dalam mengingat selama ini Suho belum pernah sekalipun menjalani hubungan dengan lawan jenis.

Dia terlalu fokus pada pendidikan. Menilik dari profesi Ayahnya seorang profesor dan ibunya seorang guru mau tak mau dia harus menjaga nama baik keluarga. Dia dituntut untuk selalu menjadi nomor satu semenjak bangku sekolah dasar hingga sekarang.

Satu kampus mengenal Suho. Siapa pula yang tidak tahu Kim Suho. Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa, kesayangannya dosen-dosen, incaran para wanita. sahabatnya kira dia mempunyai penyakit kelainan seksual karena tidak pernah terlihat mendekati lawan jenis.

Hingga dihari pada waktunya mereka mengenakan toga, yang berarti juga saat terakhir menjadi mahasiswa Suho masih saja mencoba mengajak Sooyoung bicara. Dan semakin keras Suho berusaha, semakin keras juga Sooyoung menolak.

Acara kelulusan sudah selesai, dia menyatu dalam lautan manusia untuk mencari sosok Sooyoung, dengan sedikit percikan keberuntungan, karena tubuh Sooyoung bisa di katakan cukup menjulang Suho mendapati gadis itu berdiri tidak jauh dari pintu masuk bersama orang tuanya.

Dia sedang memandangi sekitar dengan tatapan sendu, sebelum bola matanya melebar mendapati Suho berjalan ke arahnya. Laki-laki itu sendiri masih mengalami kesulitan menghampiri Sooyoung, beberapa kali dia harus berhenti melayani pelukan, ucapan selamat dan ucapan perpisahan dari teman-temannya. Dan ketika Suho sudah berhasil membebaskan diri dari para sahabatnya dia berdiri dalam diam.

Iris matanya tidak lagi mendapati sosok Sooyoung, di manapun….

***

Satu tahun hampir berlalu sejak mereka menyandang gelar sarjana. Suho dan sahabat-sahabatnya memulai fase baru dalam kehidupan mereka. Kyungsoo memilih untuk membuka sebuah restoran mungil di pinggir kota bersama kekasihnya, Tiffany. Restoran mereka selalu penuh seseak ketika jam sarapan, makan siang dan makan malam karena pilihan menu yang di sediakan sesuai dengan jam makan.

Kyungsoo juga telaten mengganti menu-menu yang disajikan secara rutin setiap lima bulan sekali. Tak jarang juga dia memenuhi permintaan pelanggan untuk menyediakan suatu makanan atau minuman tertentu. Menambah daya tarik restorannya.

Suho, Baekhyun dan Chanyeol juga kerap terlihat menghabiskan waktu makan mereka di sana. Menomorduakan ornamen dalam restoran yang di penuhi warna pink (Tiffany benar-benar maniak warna pink!).

Beda lagi Baekhyun dan Chanyeol, keduanya memilih menjadi duo grup. Mengingat suara Baekhyun begitu merdu dan kemahiran Chanyeol dalam memetik sinar gitar, Suho dan Kyungsoo sependapat bahwa pekerjaan itu cocok untuk keduanya.

Suho setidaknya bisa melihat sedikit perubahan dari diri Kyungsoo, laki-laki bermata bulat itu sekarang terlihat seperti pria dewasa, bertanggung jawab dengan usaha dan cinta. Tapi Baekhyun dan Chanyeol?

Dia tidak melihat perubahan apapun.

Kedua laki-laki itu tidak berubah sama sekali apalagi sifat jahilnya. Suho sampai berfikir apa jiwa mereka tersesat di tubuh orang dewasa?  Mereka juga masih tinggal bersama di satu apartemen (untuk masalah ini, hanya Tuhan yang tahu ada hubungan apa sebenarnya diantara mereka berdua)

Terakhir diri Suho sendiri, sahabatnya dulu pernah bilang kalo dia akan sukses sebagai pengusaha dan mereka memang benar. Dia sekarang masuk ke deretan pengusaha muda paling berpengaruh di Korea.

Dia mungkin memulainya di perusahaan sang ayah, tapi Suho jelas membuktikan bahwa dia bisa berhasil dengan caranya sendiri, bukan karena nama besar sang ayah.

Malam ini keempatnya berkumpul di restoran Kyungsoo, si pemilik restoran menyerahkan pekerjaannya sejenak kepada Tiffany setelah gadis itu menyapa para sahabat baik kekasihnya. Pertemuan mereka kali ini bukan hanya sekedar untuk berbincang-bincang tetapi juga untuk merayakan keberhasilan Baekhyun dan Chanyeol membuat album perdana mereka.

Setelah enam bulan tampil dari kafe ke kafe, panggung ke panggung akhirnya ada label musik yang mau mendanai mereka membuat album. Jadi, pertemuan kali ini tentu saja di sponsori sepenuhnya oleh Bakehyun dan Chanyeol.

“pesan apapun yang kalian inginkan, aku dan Baekhyun yang bayar” dia mengukir senyum lebar di wajahnya, menampakkan seluruh jajaran gigi putih rapinya seperti sudah mau merobek mulutnya saja.

“Kalian? Sepertinya hanya ada Suho, karena aku pemilik restoran ini tentu saja aku bebas memesan apapun yang aku mau” Kyungsoo menimpali dengan wajah datar, membuat senyum di wajah Chanyeol meredup dan tawa Suho hampir meledak.

“Kyungsoo, jangan merusak suasana, bisa?” Kyungsoo mengangkat bahu santai mendengar pertanyaan Chanyeol serta mengabaikan tatapannya seperti berkata aku bisa memuntahkan api dan menghanguskan seluruh restoranmu!

“Oh ngomong-ngomong aku punya sebuah berita untuk kalian” Kyungsoo memulai pembicaraan di tengah acara menyantap makanan.

“baik atau buruk” Suho bertanya sambil menyendokkan sepenuh sup ke mulutnya.

“bagiku, baik”

“katakan” kali ini Baekhyun yang bicara.

“aku dan Tiffany akan menikah bulan depan” Kyungsoo cukup yakin kalo dia tidak berteriak, dia mengatakan kalimatnya dengan nada normal tapi kenapa ketiga laki-laki di hadapannya malah tersedak?

“ka-kau mau apa? “ Suho jadi yang pertama kali bertanya setelah tersedak sup.

“menikah dengan Tiffany. Hei, apa ini berita buruk bagi kalian?” air mukanya mulai berubah khawatir, dia seperti siap menangis kapan saja. Melihat itu, Baekhyun, Chanyeol dan Suho cepat-cepat menggelengkan kepala mereka.

“oh tidak! tentu saja tidak! ini berita baik Kyungsoo” Baekhyun menambahi.

“tapi, kenapa ekspresi kalian seperti itu?”

“hanya kaget, Kyungsoo. Tidak menyangka kau akan mengambil keputusan besar di usia muda”

“ah, itu karena hubunganku dan Tiff sudah terjalin cukup lama, restoran kami juga semakin berkembang. Orang tua kami sendiri sering melontarkan pertanyaan ini. dengan penghasilanku sekarang aku yakin cukup membiayai kami berdua dan tentu saja anak kami kelak. Jadi, untuk apa di tunda lebih  lama lagi kan?”

“hei, bicara soal penghasilan, bukankah ada satu orang di sini dengan penghasilan paling besar?” pertanyaan Chanyeol barusan berhasil menjadikan Suho pusat perhatian dari sahabat lainnya. Ekspresi wajah Suho menyuratkan dia tidak paham kemana arah pembicaraan ini.

“Maksud Chanyeol, kalo Kyungsoo saja sudah mau menikah kenapa kau tidak, Suho? Apa lagi yang kau tunggu?”

“Oh…”

“Oh? Itu bukan jawaban, Suho. Kapan terakhir kali kau mendekati wanita?”

“Sooyoung?”

“itu pertama kali, bodoh”

“serius Suho, apa kau tidak pernah mendekati wanita lain? Jangan bilang kau masih menyimpan perasaan pada Sooyoung?”

***

“kau pasti bercanda”

“apa ini menunjukkan aku bercanda?” Suho mengeluarkan sebuah kotak berbentuk persegi berukuran kecil dari saku jasnya, kemudian dia letakkan di atas meja di iringi dengan enam bola mata membulat lebar.

“kau belum pernah bertemu langsung tapi kau sudah mau melamarnya” Baekhyun menambahi sambil menatap Suho dengan tatapan kau benar-benar gila.

“kami akan bertemu hari ini, Baekhyun”

“Kau bahkan tidak tau seperti apa rupanya, Suho. Kau sendiri yang bilang dia menggunakan lukisan untuk avatarnya”

“lalu?”

“lalu?! Astaga Suho” Baekhyun menggeleng-gelengkkan kepala sambil menabrakkakn bagian belakang tubuh ke senderan kursi.

“Kau pasti sudah gila”

“terakhir kali aku periksa, aku tidak Chanyeol” dia mengulum senyum menyimpan lagi kotak itu ke dalam saku jas baru kemudian berdiri.

“Sekang izinkan aku pergi untuk melamar calon istriku” beberapa detik  berdiri menunggu jawaban tapi sepertinya tidak kunjung ada. Ketiga sahabatnya seakan masih mencerna apa yang barusan dia katakan dan Suho mengerti.

Memberitahu ketiga sahabat baikkmu tentang rencana melamar gadis yang kau kenal melalui dunia maya, belum pernah bertemu sama sekali, apalagi tidak tahu rupa aslinya seperti apa, sahabat mana yang tidak khawatir?

Walaupun mendapati respon seperti itu, keputusannya sudah bulat. Hari ini sudah sejak lama dia persiapakan. Memikirkannya saja bisa membuat hatinya berdebar tak karuan.

“Suho” langkahnya berhenti. Suho menoleh ke arah Kyungsoo yang menatapnya seperti tidak yakin dengan kalimat selanjutnya.

“apa ada hal menarik dari gadis ini?” Kyungsoo mungkin tidak mendapat jawaban dengan kata-kata melainkan sebuah senyuman dan itu sudah cukup baginya.

“ah, aku mengerti. Semoga berhasil” sebelah tangan Kyungsoo terkepal di udara, ikut tersenyum menyemangati sahabat baikknya itu.

Di lain sisi Suho ikut mengepalkan sebelah tangan ke udara, senyumnya semakin merekah lebar.

“ Terima kasih, Kyungsoo” Suho berbalik lagi, melanjutkkan langkahnya. Samar-samar dari belakang punggungnya dia bisa mendengar suara Baekhyun.

“apanya yang menarik?”

***

Seumur hidupnya, Suho tidak pernah merasa gugup. Tidak sekalipun waktu dia harus berbicara di depan orang banyak. Kim Suho terlahir dengan kepercayaan diri tinggi dan dia percaya hal itu berlaku kecuali sekarang.

Untuk pertama kali seumur hidupnya dia merasa gugup. Seperti hendak pidato, dia terus saja mengulangi kata-kata yang sudah dia persiapakan untuk melamar sang gadis dengan kedua mata tetutup rapat dan meremas erat buket bukat di genggamannya (dia bahkan menulisnya di selembar kertas, takut kalo tiba-tiba otaknya kosong).

Ah, Chanyeol benar. Dia memang payah masalah seperti ini…

apa ada hal menarik dari gadis ini?

Tiba-tiba saja pertanyaan Kyungsoo tadi memenuhi benaknya. Kyungsoo benar dan hal menarik dari gadis itu adalah lukisan yang dia gunakan sebagai avatar. Suho tidak tahu seperti apa rupa si gadis, karena lukisan itu hanya menggambarkan seorang gadis tengah duduk dengan latar belakang perpustakaan. Wajahnya tersembunyi di balik buku, kendati seperti itu warna coklat surai sang gadis membawa naik kembali ingatannya sewaktu kuliah.

Mengingatkannya akan kejadian di mana dia bertemu Sooyoung di perpustakaan dengan visual sama seperti dalam lukisan. Maka, tidak salahkan kalo Suho berharap itu Sooyoung? Gadis yang masih saja melekat bagaikan perekat di benaknya?

Suara hentakan sepatu menyadarkan Suho, dengan gerakkan cepat dia berdiri dari duduk, menghadap langsung ke arah sumber suara. Dia sudah menyiapkan kaliamat apa untuk di katakan namun ketika mendapati seorang gadis bersurai coklat dengan  tinggi menjulang berdiri tidak jauh dari tempatnya, semua kalimatnya menguap.

Genggaman pada buket bungapun ikut melonggar, kupu-kupu berterbangan di perut dan jantungnya mulai berdetak lebih cepat.  Suho mengerjapkan mata, meyakini kalo dirinya sedang tidak berhalusinasi. Kalo gadis yang tengah berdiri di hadapannya memang nyata.

“Sooyoung?” setelah sekian lama akhirnya dia menyebut nama itu lagi. Dengan senyum terkulum, Sooyoung melangkah mendekati Suho, menyebabkan lelaki tampan tersebut lupa bagaimana caranya bernafas ketika Sooyoung menyentuh lengannya, dia menuntun Suho untuk duduk lagi.

***

Sore itu, keadaan taman tempat mereka bertemu tidak terlalu ramai. Bisa di bilang hanya ada mereka berdua, tidak ada suara lain kecuali kicauan burung dan suara debar jantung tak beraturan milik Suho.  Kedua iris matanya seakan enggan beralih dari Sooyoung, takut kalo sekali saja dia melakukan, sosok Sooyoung akan menghilang.

“Kalo selama ini kau, kenapa dulu selama mengabaikanku? Ingatkan dulu aku selalu berusaha mendekatimu waktu kita masih di bangku kuliah?” Senyum Sooyoung perlahan pudar mendengar pertanyaan Suho.

Membuat Suho membodohi diri sendiri, dia baru mau berbicara lagi ketika melihat Sooyoung merogoh sesuatu dari dalam tasnya, mengeluarkan sebuah buku berkuran sedang bersampul coklat tulang yang kemudian dia sodorkan ke arah Suho.

“untukku?” dia bertanya sambil meraih buku tersebut ragu-ragu. Sooyoung hanya mengangguk sebagai jawaban. Awalnya dia tidak benar-benar yakin mengapa Sooyoung memberikannya buku itu, namun perlahan dia mulai mengerti. Seiring tiap halaman yang dia baca.

Buku itu menjadi jawaban atas semua pertanyaannya. Pertanyaan mengapa Sooyoung tak pernah bicara, pertanyaan mengapa Sooyoung tidak memiliki sahabat sama sekali, pertanyaan mengapa Sooyoung selalu di temani supirnya.

Dia memang terlahir begitu, tanpa suara.

Membaca buku itu seperti membaca isi hati Sooyoung, karena dia menulis semuanya di sana. Lewat buku itu juga akhirnya Suho tahu kalo Sooyoung tidak sepenuh hati mengabaikannya, gadis itu malah ingin melakukan sebaliknya. Hanya saja, kekurangannya membuat Sooyoung merasa tidak pantas.

Setelah acara kelulusan, Sooyoung merasa hidupnya berubah, seperti sebagian dari dirinya hilang. Sang supir yang menyadari perubahan Sooyoung dan tahu betul alasannya menyarankan agar Sooyoung mau mencoba kali ini. Menurut supirnya juga, Suho serius. Mengingat banyakknya penolakan Sooyoung berikan padanya, toh Suho tidak pernah berhenti, maka sekarang giliran Sooyoung.

“Kau tahu, Sooyoung” kata Suho sambil menutup buku kemudia meraih kedua yangan Sooyoung kedalam genggamannya.

“bicara ataupun tidak bicara, disini akan selalu ada tempat untukmu” sepasang tangan Sooyoung naik ketempat hati Suho berada.

“selamanya” suara Suho terdengar pelan namun penuh penekanan. Ada janji yang tak terbantahkan dari nada suaranya.

Kau tahu? Sesuatu yang sudah ditadirkan menjadi milikmu akan selalu menjadi milikmu. Meskipun dalam perjalanannya harus tersesat, dia akan selalu tahu jalan menuju tempatmu.

Seperti itulah kisah Suho, sejak awal dia sudah yakin kalo Sooyoung memang ada untuknya. Cepat atau lambat cinta akan datang kepemilik sesungguhnya.

.

.

.

.

.

Hatimu…

—END—

A/N: what de hell iz wrong with meeeeeh?!!! Sekalinya nongol bawa fic cheesy begini, maafkan aku semuanya ;-; Cuma aku uda ngerasa dosa banget ga ngepost fic hampir satu bulaaaaan!!! Dan by the way, besok malam jumat ya? aku uda nyiapin sesuatu loh hihihihi semoga aku besok dapet wifi gratis yah! And last, happy idul adha semuanyaaah – Genie.

20 thoughts on “Unspoken Love

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s