[Freelance] For God’s Sake

For God's Sake poster

Title
For God’s Sake

 

Author
L’Cloud

 

Length
Vignette

 

Rating
PG 13+

 

Genre
Romance

 

Main Cast
Im Yoon Ah

Suho

 

Other Cast

Seo Joo Hyun

 

Disclaimer
The storyline is made by my self. The casts are owned by God, their parents, and their selves.

 

Author Note

So many typos. Sorry for annoying story…

Thanks for read.

****

 

“For God’s Sake!!!! Ia akan menjemputku besok di Bandara!!!”,kira-kira itulah yang kuteriakkan kemarin.

 

Kalian tahu betapa bahagianya aku, seorang Im Yoon Ah, saat tahu bahwa mantan pacarku akan menjemputku di Incheon Airport nanti setibanya di Korea. Kalian tahu? Bumi ini rasanya begitu baik.

 

Karena kebahagiaan itulah kini aku tak bisa tidur. Berdiam diri menatap ke luar jendela pesawat yang sudah mulai gelap karna malam telah tiba. Semua pengunjung bahkan sudah tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Ya! Hanya aku yang sedari tadi tersenyum aneh sembari menatap album foto masa remajaku sembari sesekali menatap keluar jendela seolah Suho, mantan pacarku itu, berada di luar sana.

 

***

“Maukah kau menjadi pacarku?”,itulah kalimat terindah yang pernah kudengar hingga umurku 15 tahun. Meluncur dengan lancar dari bibir seorang Suho, selancar ia membuat pipiku merona saat itu juga.

 

Aku mengangguk cepat seolah lebih cepat dari kekuatan cahaya yang sudah didaulat sebagai hal tercepat di dunia ini. Ya, aku mencintainya, sama seperti ia mencintaiku. Jadi, bagaimana mungkin aku tak mengangguk secepat itu?

 

***

 

Kami memang saling mencintai. Tak akan ada yang bisa memisahkan kami. Kami adalah dua hal paling indah di bumi ini yang Tuhanpun bahkan tak rela kami berpisah. Kisah cinta kami berjalan mulus, karena kami tak harus menunggu setiap satu tahun sekali untuk bisa bertemu di jembatan milky ways. Kami tak setragis itu. Di mana ada dia, di situ aku dipastikan akan muncul. Semua orang iri pada kami.

 

Ya, kami memang tak akan terpisahkan oleh apapun.

Ya, Tuhan bahkan tak rela kami berpisah.

Tapi ayahku bukan Tuhan.

Ayahku adalah ayahku yang menginginkan pendidikan terbaik di dunia bagi putrinya. Pendidikan yang selalu berada dalam pengawasannya. Bukan sesuatu hal yang buruk bukan? Tidak, kecuali apabila berada di dalam pengawasannya itu berarti, aku harus terbang berjam-jam menuju Tokyo, Jepang. Sayang sekali, kenyataannnya begitu. Ayahku, adalah seorang Guru Besar di Universitas ternama Tokyo.

 

Senja sudah terbangun di ufuk barat saat aku harus memberitahukan keberangkatanku ke Tokyo pada Suho. Ia dan aku sama-sama terdiam membisu karena kami tak ingin berpisah. Ia menggenggam erat tanganku seolah melarangku pergi.

 

“Jangan pergi.”,ucapnya saat itu. Kami sama-sama baru lulus SMA, dan ingin melanjutkan kuliah ke Universitas.

“Aku ingin tinggal, tapi…”,aku tak kuasa melanjutkan ucapanku.

“Ya aku tahu, kau pasti juga ingin tetap di sini seperti aku yang ingin kau tetap tinggal bersamaku. Tapi pasti ayahmu.”,kali ini kudengar suara yang begitu berat keluar dari mulutnya.

“Maafkan aku, tapi pasti akan sangat sulit melepaskanku jika aku masih menjadi pacarmu. Begitupun aku. Jadi kurasa, lebih baik….”,airmataku tumpah.

“Jangan dilanjutkan ku mohon.. Jeball..”,tak kusangka pria yang biasanya bersikap dewasa ini juga ikut menumpahkan air matanya.

“Maafkan aku Suho yah, tapi bukankah lebih baik bila kita berpisah?’,tanyaku dengan nada tegar.

“Tapi kita bisa menjalaninya bukan? Ya sebuah Long Distance Relationship juga tidak buruk. Jika studimu sudah selesai, kau akan kembali bukan? Sambil menunggu kepulanganmu, kita bisa berhubungan jarak jauh menggunakan Social network, kita juga bisa melakukan video call lewat skype. Mengapa harus berpisah?”,ia menatapku penuh harap.

“Tapi Suho yah, aku.. Aku hanya takut tak bisa terlalu lama mempercayaimu. Kau pasti juga akan merasakannya suatu hari nanti. Akan terlalu banyak kecurigaan di antara kita. Lagipula, aku tak tahu apakah aku akan kembali ke Korea atau tidak.”

“Yoong..”,ia menggumamkan namaku dengan nada sedih.

“Mianhae Suho yah. Mianhae.”,aku berdiri bersiap untuk meninggalkannya.

“Baiklah bila begitu. Mungkin, mungkin ini memang jalan terbaik.”,ia juga berdiri dan menggenggam tanganku erat.

“Suho yah!!”,aku berteriak dan memeluknya seerat mungkin.

 

Malam itu, kami berpelukan erat sekali. Kami menangisi perpisahan itu. Kami saling mencintai satu sama lain bukan? Ahya, tapi dalam ingatanku yang tak mungkin salah, saat itu, Suho menangis lebih deras dari yang mungkin kalian bayangkan.

 

***

 

Seminggu sebelum aku pulang ke Korea hari ini, aku yang sekitar lima tahun di Tokyo kehilangan kontak dengan Suho, kembali menemukan nomor yang bisa kugunakan untuk menghubungi Suho.

 

Aku tidak tahu apa yang membuatku dulu memilih benar-benar memutuskan hubungan dengannya, tapi yang jelas, saat aku mendapatkan nomor handphone Suho dari kawan SMA ku, hatiku benar berdebar-debar seolah tak ada yang lebih membahagiakanku dibanding nomor itu.

 

“Yeoboseyo..?”,ucapku memulai percakapan di telepon.

“Ne, yeoboseyo?”,suara itu masih sama seperti dulu, jantungku kembali berdesir seolah baru jatuh cinta pertama kali kepadanya.

“Annyeong haseyo Suho ssi. I..ini.. Yoon.. Yoona.”,ucapku terbata-bata.

 

“……”

 

Tak ada suara dari seberang. Aku menggigit bibirku khawatir bila ia marah karena keputusanku dulu, atau mungkin ia masih cukup terluka karena erpisahan itu.

 

“Maaf, apa? Bisa kau ulang sekali lagi? Suara di sini kurang begitu jernih.”,ucapnya membuatku bisa menghembuskan nafas lega.

“Suho ssi, choneun, Yoona. Im Yoon Ah.”,

“Ah! Yoona! Bagaimana kabarmu??!”,kau tahu, suaranya begitu bersemangat!

“Aku, baik. Bagaimana denganmu?”,tanyaku.

“Aku, aku juga baik. Lama sekali tak mendengar suaramu. Jadi, apakah kau memutuskan untuk tinggal di sana? Karena kurasa kau seharusnya sudah lulus dari setahun atau mungkin justru dua tahun yang lalu.”

“Ah tidak. Aku justru ingin mengabarimu bahwa seminggu lagi aku akan pulang ke Korea.”

“J..Jinjjayo??! Aaah, aku senang mendengarnya. Kalau begitu, aku akan menjemputmu. Bagaimana?”

“Ah? Kau, mau menjemputku? Benarkah? Baiklah, kalau begitu aku akan mengabarimu jadwal keberangkatanku nanti! Gamsahamnida Suho ssi.”

“Baiklah saat kau tiba di airport nanti, kupastikan aku sudah menunggumu di sana.”

“Ah, ne gamsahamnida! Ohya Suho ssi..”

“Ne?”

 

Aku menarik nafasku dalam-dalam.

 

“Ss..ss..ssaranghaeyo..”,ucapku gugup.

 

“….”

“….”

“….”

 

Tak ada jawaban dari seberang. Aku membayangkan apa yang kini tengah ia pikirkan. Apa yang terjadi hingga ia tak bersuara apapun? Apakah suaraku tidak terdengar? Apakah ia tak suka aku mengucapkannya? Apa ia marah? Sedih? Atau bahagia hingga tak mampu berkata apapun?

 

“Ahh, hahaha.. Ne, Yoona ssi, gamsahamnida.”,dan kemudian suara itu membuatku bisa bernafas lega.

***

Kini, aku telah kembali menjejakkan kakiku di Korea Selatan. Ya, kira-kira sudah sejak beberapa menit yang lalu pesawatku mendarat di daratan Korea. Jantungku kini berdetak semakin kencang. Ia pasti sudah menungguku.

 

Kupercepat langkahku. Kuseret koperku dengan terburu-buru. Aku tak sabar menunggu lebih lama untuk bertemu dengannya. Yea, Suho maksudku. Aku harap aku bisa memulai cinta lama kami yang sempat terhenti dulu. Aku masih mencintainya, dan kupikir, dia pasti juga sama. Tentu saja dengan airmata perpisahan itu, mana mungkin kami saling melupakan bukan?

 

Di depan mataku kini sudah penuh orang-orang yang menanti kedatangan sanak saudaranya sembari melambaikan papan bertuliskan nama-nama orang yang mereka tunggu. Dan di antara kerumunan orang itulah aku melihatnya. Seseorang yang masih bersinar seperti dulu. Bahkan kini sinarnya semakin gemilang. Dia bertambah tampan. Dia melambaikan papan bertuliskan namaku.

 

Aku melambaikan tanganku tanda aku sudah menyadari keberadaanya. Kuhampiri ia dengan langkah besar-besar karna aku tak mau membuang waktuku lebih lama.

 

“Bagaimana perjalananmu?”,itulah ucapan pertama yang ia katakan ketika aku sudah berdiri di hadapannya.

“Membosankan karna aku benar-benar tak sabar ingin bertemu lagi dengamu.”,jawabku dengan senyum dan wajah yang berseri-seri.

 

Kami berdua melangkahkan kaki-kaki kami menuju pelataran parkir.

 

“Kau tampak sangat berbeda Yoong.”,ucapnya.

“Benarkah? Kau juga. Tapi wajah bayimu masih sama.”

“Hahahaha, apakah kau masih ceroboh seperti dulu?”

“Iya, seperti itulah.”

 

Entah kenapa aku merasa muda kembali. Ya, aku memang masih muda. Tapi, maksudku kali ini benar-benar muda. Ya, seperti seorang remaja.

 

“Ah, di mana tadi aku memarkir mobilku?”,ia memutar-mutar pandangannya.

 

Ia memutar-mutar tubuhnya mencari letak mobilnya.

 

“Ah itu di sana!”,ucapnya bersemangat.

 

Ia melangkah cepat diikuti oleh langkahku di belakangnya. Kami berhenti di depan sebuah mobil ferrari berwarna merah yang terparkir rapi di antara mobil-mobil lainnya.

 

“Yoong!”,seseorang memanggil namaku dan aku membalikkan badanku menuju asal suara itu.

“Ah! Ke mana saja kau ini? Bukankah ku minta kau tunggu di sini. Yoona kau masih ingat dia?”,tanya Suho padaku.

“Tentu saja! Seobaby bukan? Jadi, kalian datang berdua menjemputku?!”,jawabku penuh semangat.

“Berdua? Bertiga! Lihatlah Yoong, ini anak kami, panggil dia Joon. Joon, lihatlah, itu kawan Eomma dan Appa. Yoong, diia lucu bukan? Chagiya, cepat bukakan pintu, sepertinya Joon kecil kita tidak sanggup berlama-lama di bawah terik matahari.”,Seohyun menimang-nimang bayi di pelukannya.

 

Tubuhku membeku. Rahangku mengeras. Senyumku hilang seperti tersapu badai. Chagi? Anak? Eomma? Jadi..

 

Jadi Suho sudah menikah? Tidak, aku tidak sedang sakit hati. Tidak juga patah hati dan sebagainya. Satu-satunya yang kupikirkan kini adalah.

 

Seminggu yang lalu apa yang kukatakan padanya? Saranghaeyo? Lalu apa yang kuharapkan darinya? Memulai cinta lama kami? Astaga!

 

FOR GOD’S SAKE! YA TUHAN, AKU BENAR-BENAR MALU! I’M GONNA GO CRAZY!!! AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKK~!

 

Hari itu, jam itu, menit itu, detik itu, rasanya aku ingin terbang lagi ke Jepang.

 

****

END~

Advertisements

33 thoughts on “[Freelance] For God’s Sake

  1. For god sake ! Malang sekali nasib mu Yoong.. Udah nyatain cinta dan ngarepin balikan tapi ternyata Suho nya udah nikah .. /poor/
    Salah mu sendiri Yoong yg mutusin Suho duluan tanpa pikir panjang..
    Nice ff thor, daebak .. Keep writing 😀

  2. Sumpah thor baca ini nyesek banget, diawal awal aku udah senyum senyum thor.. yoonho shipper disini (?) Berikan yoona unn kebahagiaan (?) Sequel ya thor

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s