[Freelance] Between Two Options (Chapter 4)

Chapter 4

Title : Between Two Options (Chapter 4)

Author : Selvy

Length : Chapter

Rating : PG17

Genre : romance, family, comedi

Main Cast : Taeyeon

Sehun

Luhan

Kris

Other Cast : Lihat sendiri yah J

Author Note : Annyeong readers, ketemu lagi denganku masih di ff yang sama. Sebenarnya aku buat ff baru lagi, Cuma aku milih selesain ff yang ini dulu. Soalnya takut konsentrasinya terganggu. Apalagi aku udah dapat endingnya. Jadi, jalan ceritanya aku buat sedemikian rupa agar bisa mengikuti ending yang akan aku buat nantinya.

 

. . . . . . .

Sehun POV

Aku masih belum bisa melupakan gadis aneh itu, bahkan aku sekarang juga jadi ikut aneh karenanya. Aku jadi sering tersenyum sendiri jika mengingat tingkah konyolnya, jantungku juga selalu berdegub kencang jika membayangkannya. Aku bahkan melupakan masalah- masalahku jika bersamanya. Tapi egoku terlalu tinggi untuk mengajaknya berbicara. Sepertinya aku benar- benar jatuh cinta padanya.’Dia bahkan belum mengetahui namaku’

Aku sekarang sedang berada di halaman samping rumahku, sedang memandang bintang- bintang dilangit. Wajahnya juga selalu terlukis dilangit, ‘sepertinya aku sudah benar- benar gila’

“Tolong, Tolong aku” suara siapa itu, sepertinya suaranya sangat tidak asing untukku. Aku bergegas mencari tahu asal suara itu.

Dan benar saja aku langsung kaget melihat siapa yang berteriak meminta tolong, ‘Taeyeon’. “aaaaa . . “ dia berteriak kencang saat anjing itu mendekatinya. Tentu saja aku langsung mengusir anjing itu cepat, anjing itu adalah peliharaanku, jadi dia sangat menurut padaku. Namanya adalah pam.

Jujur saja aku sangat membenci pam sekarang, karena dia telah membuat wanita yang kucintai ketakutan. Aku memandangnya, sebenarnya aku ingin sekali memeluknya. Tetapi, sekali lagi aku tegaskan egoku terlalu tinggi.

“Apakah aku sudah mati? Apakah malaikat pencabut nyawa” Dia masih saja bertingkah konyol di saat yang emergency sekalipun.

“Ternyata kau tidak berubah” ucapku spontan.

Ia berdiri dan menatapku, “Kau?”

Sehun POV END

Author POV

“Mengapa kau ada di sini?” Tanya taeyeon bingung.

“Aku yang harus bertanya padamu, mengapa kau ada disini? Karena ini adalah rumahku”

Taeyeon terlihat berbinar,” Jinjja? Wow berarti kita adalah tetangga. Rumahku yang itu” taeyeon sangat antusias menunjuk rumahnya.

Jujur saja sehun sangat senang, tetapi dia berusaha menutupinya, “owh” jawabya singkat.

“Oya aku tadi kesini karena melihat bunga yang sangat indah di halaman rumahmu” taeyeon tersenyum melihat kearah bunga itu.

“Tapi anjing itu merusak segalanya” taeyeon memajukan bibirnya.

‘Imut’ sehun tersenyum melihatnya tetapi lagi- lagi taeyeon tak melihatnya karena dia sedang tertunduk lesu.

Sumgyeo do twinkle eojjeona?
Nune hwahk ttwi janha
Beire ssayeo isseodo
naneun twinkle tiga na

HP taeyeon berbunyi, “Annyeong oppa”

“ . . . . “

“Aku hanya berjalan- jalan”

“ . . . . .”

“Baiklah aku kembali, saranghae” taeyeon menutup telponnya.

“Oppaku sudah mencariku, jadi aku pulang dulu yah. Sampai jumpa besok, by” taeyeon melambaikan tangannya.

Sehun sangat kesal pada HP taeyeon sudah dua kali HP itu menggangu kebesamaannya dengan taeyeon. Tanpa ia sadari taeyeon kembali lagi.

“Hei, aku lupa menanyakan namamu, dari bandara kau belum menyebutkan namamu” Tanya taeyeon membuyarkan lamunan sehun.

Sehun terdiam rasanya jantungnya sudah mau berhenti berdetak sekarang, “Sehun” jawabnya singkat lalu berpaling meninggalkan taeyeon.

“Kau tahu kau sangat jahat, mengapa kau selalu mengacuhkanku” taeyeon mengomel kesal, lalu pergi meninggalkan halaman rumah sehun.

Sehun berbalik, “Karena aku takut tidak bisa menahan rasa ini jika terus bersamamu” jawab sehun tentu saja taeyeon tidak mendengarnya.

 

. . . . . . . .

Siwon mengelus kepala taeyeon dengan penuh kasih sayang. Ia memandangi wajah adiknya yang sudah sepuluh tahun lebih tak melihatnya. ‘kau tidak banyak berubah sayang’. Taeyeon mulai banging dan melebarkan tangannya.

“Good morning oppa” sapa taeyeon ketika melihat oppanya.

“Morning taeyeon” siwon tersenyum masis kepada taeyeon.

“Kau hari ini mulai sekolah, jadi cepatlah mandi dan berganti baju” Lanjutnya

“Mwo? oppa kenapa kau tidak bilang padaku? Aku bahkan belum mempersiapkan segalanya” taeyeon buru- buru bangkit dari tidurnya.

“Tenanglah oppa sudah mengurus semuanya. Bajumu sudah siap bahkan sudah disetrika sama pelayan. Sepatu, buku, tas semuanya juga sudah oppa siapkan. Oppa juga sudah izin untuk tidak kuliah hari ini. Jadi, sekarang cepatlah mandi” siwon menjelaskan semuanya.

Taeyeon tersenyum dan memeluk oppanya, “Terima kasih oppa aku menyayangimu”

“Cepatlah mandi nanti kau terlambat, kalau tidak aku yang memandikanmu” Ancam siwon.

“Oppa kau bahkan sudah besar” taeyeon melepas pelukannya kesal.

“Hmm, baiklah aku akan mandi sekarang” Lanjutnya, lalu berjalan lesu ke kamar mandi. Siwon yang melihatnya hanya terkekeh pelan.

Setelah menunggu beberapa saat di meja makan, akhirnya taeyeon muncul juga. Ia begitu manis menggunakan seragam itu. Ia mengikat rambutnya menjadi dua, sangat cute.

“Ayo, kamu harus sarapan dulu” Ajak siwon.

“Oppa ini sudah tidak sempat lagi, cepatlah aku tidak mau terlambat pada hari pertama masuk sekolah” sepertinya taeyeon sudah lupa bahwa dari tadi siwon yang mengajaknya bergegas tapi dia malah malas- malasan. Dan sekarang malah siwon yang ia salahkan, taeyeon memang benar- benar aneh.

Siwon melajukan mobil dengan kecepatan penuh menuju sekolah baru taeyeon. Taeyeon bukannya ketakutan malah mengingat sesuatu, ‘Baby, bagaimana kabarmu? Apakah kau marah padaku? Aku merindukanmu’.

“Adikku, apakah kau akan belajar di atas mobil” sapa siwon.

Taeyeon tersadar, “Oh, kita sudah sampai?”

“Apa yang kau fikirkan? Apakah kau sakit?” Tanya siwon khawatir.

“Tidak oppa, aku hanya sedang mengingat luhan”

“Mengapa kau tidak menelponnya”

“Aku sudah mencoba menelponnya, tapi dia tidak mengangkatnya”

“Hmmm, nanti oppa akan membantumu. Tapi, sekarang yang paling penting adalah kita harus turun dari mobil dan pergi menemui kepala sekolah barumu. Kajja” ajak siwon.

Taeyeon turun dari mobil mewahnya, ia melihat ke pintu gerbang ‘SMent International high school’. Sekolahnya tidak terlalu berbeda dengan sekolah taeyeon sebelumnya. sekolahnya sangat besar dan rapi, ‘sepertinya aku akan nyaman disini’.

Taeyeon dan siwon memasuki sekolah taeyeon. Semua mata sekarang memandang mereka. Ada yang terpesona dengan ketampanan siwon sedangkan ada juga yang terpesona dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibir tayeon.

Taeyeon telah sampai ke ruang kepala sekolah, dengan sopan siwon mengetuk pintu dan mereka dipersilahkan masuk.

“Annyeong hasseyo, siwon immida”

“Taeyeon immida” siwon dan taeyeon menunduk hormat.

“Silahkan duduk” ucap kepala sekolah mempersilahkan.

“Kamsahamnida Mr, lee” siwon membungkuk sopan, tentu saja siwon mengetahui nama kepala sekolah itu dari papan yang terletak dimejanya.

“Nona kim, sebaiknya anda pergi ke kelas anda, saya akan berbicara dengan saudara anda” Sambung Mr. lee.

“Baik, Mr. lee” taeyeon membungkuk dan segera meninggalkan ruang kepala sekolah.

Taeyeon berjalan mencari kelasnya, rasanya dia sangat putus asa saat ini ‘mengapa aku sangat ceroboh’ gerutu taeyeon. Bagaimana mungkin dia lupa menanyakan dimana kelasnya kepada Mr. lee. Dia juga tidak mungkin kembali, karena pasti dia akan digoda habis- habisan oleh siwon.

“Ya tuhan bagaimana ini?” taeyeon menunduk lesu, ia sekarang tidak tahu harus berbuat apa. Bahkan sekarang sekolah ini sangat sepi karena semua orang sibuk belajar di kelasnya masing- masing.

Taeyeon cukup lama memutari sekolah yang besar itu, sekarang sepertinya ia mulali lelah. Ia duduk di bangku yang tersedia di setiap depan ruangan kelas.

“Ya tuhan, sepertinya tidak ada jalan lain selain kembali ke ruang kepsek” ucapnya lesu.

Taeyeon mulai bangkit dari kursinya tetapi belum saja taeyeon berdiri tegak ia harus kembali duduk, bukan karena ia ingin duduk kembali tetapi karena dia ditabrak seseorang.

“Awww” ringis taeyeon, sekarang ia memegangi bokongnya yang sakit.

Ia melihat orang yang menjadi tersangka (?) atas kejadian ini, dan seketika ia terpesona melihatnya. Bukan karena jatuh cinta melainkan kagum akan kecantikan wanita dihadapannya ini. “Mianhae, aku tidak sengaja” taeyeon berdiri dan segera membungkuk sopan. Yah tentu saja ini bukan kesalahannya, tetapi itulah taeyeon mau dia salah atau tidak pasti dia akan meminta maaf terlebih dahulu.

“YAA, apa yang kau lakukan, apakah kau tidak mempunyai mata? Coba lihat make-upku jatuh dan berantakan” teriak wanita itu.

Taeyeon sedikit kaget karena dia belum pernah diperlakukan seperti itu, tetapi bukannya marah ia malah tersenyum lembut. “Mian, nanti aku akan bertanggung jawab. Oya aku taeyeon aku murid baru disekolah ini” taeyeon menjulurkan tangannya.

Yeoja itu menatap seolah merendahkan, “kau pikir segampang itu bebas dari seorang Im yoona”

“wow nama yang bagus, aku harap kita bisa berteman baik” jawab taeyeon berbinar.

Yoona hanya menatap aneh taeyeon, ‘mengapa aku harus meladeni orang yang tidak penting’ batin yoona. Ia kemudian meninggalkan taeyeon dan make-upnya yang sudah berantakan di lantai sekolah.

“Hei tunggu” teriak taeyeon.

Yoona berhenti dan segera berbalik menatap tajam taeyeon, “Apakah kau ingin mati hah?” Tanya yoona statistik.

Taeyeon berlari mendekati yoona, “Aku hanya ingin bertanya, kelas IX dimana? Dan lagi pula aku belum mau mati sebelum . . . . . “ kata- katanya terhenti saat melihat ekspresi wajah yoona yang seolah ingin memakannya hidup- hidup.

Taeyeon menatap yoona bingung, “Apakah kau punya masalah”

“Iya aku punya masalah, DAN ITU KARENA KAU” teriak yoona kesal.

“Kenapa kau marah padaku, dari tadi aku tidak melakukan apapun padamu. Lagipula kita kan teman” ucap taeyeon tersenyum imut dan melingkarkan tangannya di lengan yoona.

Yoona hanya memutar bola matanya, ia hendak menghempaskan tangan taeyeon tetapi ia teringat sesuatu, ‘aku bisa memanfaatkan yeoja bodah ini’ smirk kini muncul di wajah yoona, tetapi malang bagi taeyeon, karena ia terlalu polos sehingga ia tidak menyadarinya.

“Baiklah aku akan mengantarmu ke kelasmu” Yoona tersenyum penuh arti.

“Gomawo yoona-ssi” taeyeon lagi- lagi tersenyum manis kepada yoona yang hanya dibalas oleh ekspresi seolah jijik dari yoona.

“Kajja, jangan membuang waktuku yang berharga” yoona menarik tangan taeyeon kasar.

. . . . . . . .

Sekarang yoona dan taeyeon telah sampai didepan kelas mereka. Yoona sibuk merapikan rambutnya sebelum memasuki kelas, sedangkan taeyeon memperhatikan sekelilingnya.

Tok  Tok  Tok . . . .

“Annyeong songsaenim” ucap yoona lalu masuk kedalam kelas yang diikuti oleh taeyeon.

Semua orang dikelas itu memerhatikan taeyeon kecuali Mr. kangta karena ia tidak bisa melihat jelas taeyeon karena terlindungi oleh yoona.

“Apakah kau terlambat lagi?” Tanya Mr. kangta menatap tajam yoona.

“Tidak songsaenim, saya tadi dari mengantar murid baru untuk berkeliling sekolah” ucap yoona berbohong.

Dia menarik tangan taeyeon lembut kesampingnya, ia merangkul taeyeon. “Namanya taeyeon dia murid baru disini, tadi aku melihatnya kebingungan jadi aku membantunya, kami adalah teman”. Jawab yoona munafik. Seluruh siswi di kelas itu mau muntah mendengar perkataan yoona, terkecuali bagi siswa namja yang menatap yoona kagum.

Yoona memang selalu caper kepada songsaenim dan siswa namja di sekolah, tidak separti kepada para siswi ia selalu bersifat kasar, bahkan terkadang mempermalukan siswi yang meurutnya dibawah rata- rata.

Taeyeon menatap yoona dengan mata berbinar, “wow apakah kita sekarang berteman, kau tahu aku kira kau membenciku karena tadi kau selalu membentakku auuuu . . . ”  sebuah cubitan mendarat dengan mulus di lengan taeyeon.

Semua siswa hampir saja tertawa terbahak- bahak mendengar ucapan polos taeyeon, tetapi mereka menahannya kerana melihat wajah Mr. Kangta yang mulai berapi- api.

“Yoona sekarang kau pergi keruanganku dan tunggu saya disana” ucap Mr. Kangta dengan wajah yang mulai memerah, ia tidak ingin marah didepan siswa baru yang sepertinya ia menyukai kepolosan dan keluguannya.

“Tapi . . “ yoona tidak melanjutkan ucapannya setelah mendapat tatapan mematikan dari Mr. kangta. “Baik songsaenim” jawab yoona lesu dan segera meninggalkan kelas itu.

Setelah yoona pergi songasenim menatap taeyeon dan itu agak membuat taeyeon ketakutan. Tetapi saongsanim tersenyum tipis kepada taeyeon dan taeyeon membalasnya ragu, “Kau jangan menatapku seperti itu, aku tidak akan memakanmu.” Ucap songsaenim tiba- tiba dan taeyeon agak sedikit kaget mendengarnya.

Taeyeon tersenyum tipis, ternyata songsaenimnya tak sejahat yang ia kira. ‘Mungkin yoona melakukan pelanggaran besar sehingga ia dibentak oleh songsaenims sebaik ini’ batin taeyeon, masih saja dia tidak sadar kalau yoona dihukum karena dia.

“Baiklah sekarang perkenalkan dirimu” pinta songsaenim masih dengan senyuman yang sama.

Taeyeon menghadap teman- temannya, lalu memberikan senyuman tulus kepada mereka, “Annyeong haseyo, taeyeon immida” taeyeon melambaikan tangannya semangat. Dari ekspresi siswa(i) didepannya, sepertinya mereka semua senang pada teyeon. Kecuali, dua yeoja yang cantik yang sepertinya adalah teman yoona.

“Saya pindahan dari china, saya harap kalian akan menerimaku, mohon bantuannya.” Taeyeon menunduk sopan.

“Kau dari china? Wow bahasa koreamu sangat baik” puji songsaenim dengan senyuman manisnya yang membuat seluruh siswa kaget. Bagaimana tidak Mr. kangta  tidak pernah memuji seorang siswa pun, jangankan memuji tersenyum saja sangat jarang. Bahkan tiffany siswi paling pintar di kelas itupun jarang ia puji.

“Kamsahamnida” ucap taeyeon tersipu malu.

“Bailah sekarang kamu duduk di . . . “ songsaenim melihat seluruh ruangan kelas.

“Di samping tiffany” songsaenim menunjuk kearah salah satu bangku kosong, taeyeon segera menuju kesana.

Belum saja taeyeon sempat sampai dibangkunya ia sudah terjatuh ke lantai, dan itu sukses membuat satu kelas tertawa karenanya. “awwww “ ringis taeyeon.

“Siapa yang melakukan ini” ucap songsaenim murka (?), seluruh kelas seketika diam.

Taeyeon ingin berdiri, tetapi sebuah tangan kini terjulur ke arahnya, “kamsahamnida” ucap taeyeon setelah meraih tangan yeoja itu.

“Yuri dan Jessica yang melakukannya songsaenim” tunjuk yeoja itu ke arah dua orang disamping taeyeon.

Yuri dan Jessica agak kaget mendengarnya dan mereka berusaha membela diri, “tidak songsaenim, yeoja pendek ini terjatuh karena kecerobohannya sendiri” kata yuri melihat kea rah taeyeon dengan kesal.

“Ia, mengapa kami yang disalahkan? Matanya mungkin sudah rabun jadi dia tidak bisa melihat jalan” sambung Jessica tak kalah tajam.

“Mataku masih sehat, aku memeriksakannya seminggu sekali ke dokter” jawab taeyeon polos yang berhasil membuat orang- orang dikelas itu terkekeh pelan. Tetapi, setelah melihat wajah songsaenim yang memerah karena menahan marah akhirnya semuanya menunduk takut.

“Sudah cukup, yuri dan Jessica berdiri” songsaenim menatap yuri dan Jessica tajam.

Yuri dan Jessica berdiri dan tertunduk takut, songsaenim beralih menatap taeyeon dengan lembut, “Tiffany sekarang kau ajak taeyeon duduk”

“Baik songsaenim” jawab tiffany sopan, lalu menarik tangan taeyeon lembut.

Mr. kangta kembali menatap tajam yuri dan Jessica, “Kalian berdua sekarang pergi keruangan saya”

Yuri dan Jessica hanya mengangguk lemah, mereka tidak ingin menolak karena takut dibentak seperti yoona.

“Baiklah, anak- anak saya akan pergi ke ruangan saya sebentar. Jangan ada yang keluar dari kelas ini atau kalian akan menyusul mereka bertiga” ucap Mr. kangta menatap seluruh siswa dengan tatapan penuh arti. Tetapi, setelah melihat taeyeon ia sedikit menarik bibirnya kesamping dan segera pergi meninggalkan ruang kelas.

“Annyeong, tiffany immida” tiffany tersenyum manis, hingga matanya tak terlihat (?).

“Taeyeon immida, gomawo tadi sudah menolong aku tadi” ucap taeyeon membalas senyum tiffany.

“Aniya, oya maafkan atas kelakuan yoona dan kawan- kawan (?) mereka memang selalu seperti itu kepada setiap siswi perempuan” tiffany tersenyum lagi.

Taeyeon tampak bingung, dan dengan polosnya ia berkata, “Kau sedang sakit mata?”

“Tidak” tiffany memegang matanya, “Memang mataku kenapa?”

“Kalau kau tertawa matamu menghilang” ucap tayeon tanpa dosa.

Tiffany terkekeh pelan, “aigoo taeyeon kau sangat lucu” tiffanny mencubit pipi taeyeon pelan, “Ini namanya eye smile”

“Owh, aku baru mendengarnya” ucap taeyeon menganggukkan kepalanya.

“Hei, apakah kalian akan terus mengobrol berdua?” seseorang berlambut pirang pendek menghamiri mereka.

“sunny-ah maaf sudah mengabaikanmu, oya taeyeon ini sunny sahabatku”

“Hai, taeyeon immida” taeyeon menjulurkan tangannya.

Dengan senyum sunny meraih tangan taeyeon, “sunny immida”

Mereka terus berbincang- bincang menunggu sampai songsaenim tiba, tetapi sepertinya songsaenim sedang sibuk. Buktinya dari tadi ia tidak pernah kembali ke kelas. Taeyeon sudah berkenalan dengan hampir seluruh siswa di kelas, mereka semua senang dengan kehadiran taeyeon yang dapat membuat kelas ramai hanya dengan dia bercerita sendiri.

Bahkan sekarang sepertinya namja- namja di kelas itu sudah menaruh perhatian kepada taeyeon. Para yeoja juga menyukai taeyeon, karena taeyeon sangat pandai bergaul. Bahkan mulai dari anak yang paling pendiam, aneh, kutu buku, anak yang jail, sampai anak yang popular semua ia dekati. Sepertinya ia mulai popular dikelasnya hanya dalam hitungan menit.

. . . . . . .

Setelah jam istirahat sangat banyak yang mengajak taeyeon makan siang, mulai dari para namja hingga para yeoja. Tapi, karena taeyeon lebih dulu berkenalan dengan tiffany dan sunny, maka ia memilih untuk makan dengan mereka berdua.

“Wah, kau baru masuk ke sekolah ini tapi kau sudah sangat populer” ucap sunny menatap taeyeon berbinar ketika kami telah duduk di kursi kantin.

“Bahkan kami saja, yang sudah hampir 2 tahun disini belum bisa sepopuler kamu” ucap tiffany pura- pura cemberut.

Taeyeon tersenyum geli melihatnya, “Apa yang kalian katakana? Kalian sangat berlebihan”

Belum saja tiffany dan sunny menyangkal pernyataan taeyeon, sebuah suara keras sudah mengganggu pendengaran mereka.

“YAA, apa yang kau lakukan? Apakah kau tidak tahu baju ini sangat mahal” bentak yeoja itu. Sepertinya bajunya sudah basah karena terkena minuman yang tidak sengaja ditumpahkan oleh salah satu pelayan kantin.

“Maaf ahjumma tidak sengaja” ucap wanita parubaya itu.

“Apa ? apakah aku tidak salah dengar? Ahjumma ? hello kau hanya pelayan disini, kau tidak pantas dipanggil ahjuma” ucap yeoja yang tidal lain dan tidak bukan adalah yoona dan juga ditemani dua sahabatnya yoona dan Jessica.

“Yoona- ssi berikan dia pelajaran” ucap yuri memandang remeh ahjumma itu.

“Benar dia benar- benar tidak tahu diri” tambah Jessica tidak mau kalah.

“Baiklah’’ yoona mengambil minumnya dan mengangkatnya seperti ingin menyiram ahjumma itu. Ahjumma itu hanya menunduk pasrah, ini adalah kejadian yang sering ia rasakan. Siswa yang berada disitu hanya menatap kejadian itu, ada yang tidak peduli, tetapi ada juga yang kasian melihatnya.

Yoona hampir menumpahkan minuman itu di kepala ahjumma tersebut, “Tunggu” teriak taeyeon lalu mendekati yoona.

“Yoona- ssi apa yang kau lakukan? Kasian ahjumma ini” taeyeon mengambil minuman di tangan yoona dan menaruhnya di meja. Kini taeyeon menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung kantin.

“Berani sekali kau, siapa kau berani berkata seperti itu padaku?” Yoona mulai kehabisan kesabarannya.

“Apakah kau belum puas membuat kami dihukum songsaemin?” tambah yuri dengan tatapan yang tak kalah menakutkan dari yoona.

“Sepertinya kau ingin bunuh diri” sambung Jessica.

Taeyeon lagi- lagi tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan, “Mengapa kalian sangat aneh ? yoona- ssi kenapa kau bertanya siapa aku ? bukankah kita sudah berkenala?” taeyeon menatap yoona bingung.

“Dan yuri- ssi kenapa kalian dihukum gara- gara aku? Setahuku aku tidak melakukan kesalahan. Jessica- ssi aku belum mau mati, lagipula untuk apa aku bunuh diri” taeyeon menatap ketiganya dengan bingung. Sementara yoona, Jessica, dan yuri hanya mendengus kesal dengan kepolosan taeyeon yang sudah melampaui batas (?).

Siswa yang berada disitu juga tidak habis fikir dengan cara berfikir taeyeon yang lelet. Tetapi itu menjadi hiburan tersendiri bagi mereka, dengan sosok taeyeon yang lucu dan selalu sukses membuat orang- orang tertawa.

“Ayo kita pergi, tidak ada gunanya kina membuang waktu kita hanya untuk meladeni makhluk aneh seperti dia” yoona menunjuk kearah taeyeon dan segera meninggalkan kantin.

Taeyeon menatap mereka masih dengan ekspresi bingung, lalu ia mengalihkan pandangannya kearah ahjumma tadi “Ahjumma tidak apa- apa”

“Tidak apa- apa gomawo” ahjumma itu menunduk sopan.

“ne” taeyeon tersenyum singkat.

“Baiklah saya harus melanjutkan pekerjaan saya” Ahjumma itu pamit dan segera pergi melayani siswa di kanti lagi.

Suasana di kantin saat ini sangat sunyi, semua orang memandangi taeyeon. Taeyeon yang menyadarinya langsung melihat seluruh tubuhnya dari atas sampai bawah, “Apa ada yang salah?. Siswa yang melihatnya hanya tersenyum melihat kelakuan konyolnya.

Tiffany dan sunny menghampiri taeyeon, “Taeyeon- ssi ayo kita duduk, kau sudah menjadi pusat perhatian” sunny mengangguk membenarkan perkataan tiffany. Tiffany menarik tangan taeyeon untuk duduk.

Awalnya taeyeon menuruti perintah tiffany dan sunny, tetapi ia menghentikan langkahnya ketika melihat sosok yang tidak asing lagi baginya. Orang itu juga kini tengah menatapnya.

“Sehun- ah . . . . . “ Teriak taeyeon yang sukses membuat semua orang kaget.

Sehun terlihat kaget dengan perilaku taeyeon, apalagi sekarang taeyeon berlari kearahnya. “Sehu- ah tak kusangka kita satu sekolah” ucap taeyeon sambil memeluk leher sehun yang masih duduk terpaku.

Semua orang terpaku melihat kejadian itu, bahkan ini lebih mengejutkan daripada kejadian yoona tadi. Apalagi sehun yang notabenenya adalah siswa populer yang banyak memiliki fangirl, taeyeon bisa saja dibunuh oleh mereka.

Tiffany dan sunny segera menyusul taeyeon. “Taeyeon- ssi apa yang kau lakukan”ucap sunny menarik tangan taeyeon.

“Memang apa yang telah aku lakukan?” Tanya taeyeon bingung.

“Aduh taeyeon kau telah memeluk seorang namja di depan umum, dan itu sangat memalukan” jelas tiffany.

“Apa yang salah? Sehun adalah sahabat baikku. Ia kah?” taeyeon menaikkan satu alisnya menatap sehun.

Sehun tidak menjawab, betapa sakitnya hatinya mendengar perkataan orang yang dicintainya hanya menganggapnya sahabat. Sehun beranjak dari kursinya hendak pergi meninggalkan taeyeon.

“Kau mengabaikanku lagi” taeyeon mengerucutkan bibirnya kesal.

Sehun hanya berjalan, bukan bermaksud mengabaikan taeyeon. Tetapi detak jantungnya sepertinya perlu waktu istirahat untuk tidak berdenyut cepat.

Siswa- siswa disekitar situ masih memperhatikan taeyeon, mungkin mereka masih sedikit aneh dengan perilaku taeyeon. Taeyeon yang melihat mereka segera memperkenalkan dirinya, “Annyeong haseyo, taeyeon immida” taeyeon tersenyum masis kepada semua orang- orang yang melihatnya.

Mereka juga membalas senyuman taeyeon, “Hai taeyeon” sapa mereka.

 

. . . . . . . .

“Awass kau oppa, nanti aku akan menggigitmu” omel taeyeon. Ia sudah menunggu selama satu jam, tapi sepertinya siwon belum berniat datang menjemputnya.

Sehun yang melihatnya sedari tadi di balik pohon merasa tidak tega gadis yang dicintainya berpanas- panasan di depan pintu gerbang, ‘Baikalh sehun kali ini kau harus sedikit menurukan egomu’

Belum saja sehun menghamri taeyeon, sebuah tangan mulus sudah menghentikannya, “Sehun- ssi kita pulang bersama, kajja” yoona menarik tangan sehun lembut.

“Yoona- ssi apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganku” sehun berusaha melepaskan tangannya.

“Tidak, kalau aku melepaskannya pasti kau akan lari lagi dariku” yoona semakin mempererat tangannya melingkar di lengan sehun.

Sehun hanya bisa pasrah dan mengikuti arah langkah yoona. Ia melewati taeyeon, sebenarnya sehun tidak tega meninggalkan taeyeon sendiri disini. Tetapi mau bagaimana lagi? Tidak mungkin kan dia bilang sama yoona kalau ia ingin pulang berasama taeyeon ?

Taeyeon yang melihatnya sedikit kesal pada sehun, entah kenapa ia tidak senang melihat yoona yang menggandeng tangan sehun. ‘mengapa dia selalu mengabaikaku ? sedangkan pada yoona tidak’ teyeon mengerucutkan bibirnya.

Sehun yang mellihat kespresi taeyeon merasa bersalah sekaligus senang, ‘Apakah dia membalas perasaanku?’

Taeyeon masih belum mengalihkan pandangannya, tetapi motor besar kini menghalangi pandangannya dari sehun dan yoona. “Aiss apa yang kau lakukan? Ini bukan tempat parkir” ucap taeyeon kepada seseorang di atas motor itu. Pemilik motor besar merah itu turun dari motornya, ia memakai helm, jadi taeyeon tak melihat wajahnya. Dan sepertinya dia anak SMA seperti taeyeon, terlihat dari seragam yang ia gunakan.

“Aku ingin menjemputmu, ucap orang itu” taeyeon masih bingung dengan ucapan namja itu. Tetapi ia mengingat suara itu.

“Kris” ucap taeyeon berteriak dan mampu menarik perhatian sehun dan yoona yang belum jauh dari tempat itu.

“Sepertinya kau sudah benar- benar mengenaliku” kris tersenyum setelah membuka helmnya.

“Kris . . .” ucap taeyeon lembut lalu memeluk tiang listrik (?) di depannya itu.

Kris agak terkejut, tetapi kalau mengingat sikap taeyeon yang selalu bersikap seperti itu kepada setiap orang, jadi dia sedikit menurunkan tingkat kepedeannya yang sudah mencapai langit ke tujuh #lebay

Sehun dan yoona melihatnya, sehun terlihat sangat marah dan geram. Ia mengepal tangannya kuat, tetapi toona tidak menyadarinya karena ia sibuk melihat taeyeon dengan tatapan cemburu. “Taeyeon sangat beruntung, apakah namja itu pacarnya ? aku akui bahwa namja itu sangat tampan. Dia sungguh tidak serasi dengan taeyeon “ ucap yoona yang sekses membuat sehun bertambah marah.

Sehun menghempaskan tangan yoona dan segera pergi meninggalkan yoona. Yoona hanya mampu mengejar sehun, “YA sehun tunggu aku”

Taeyeon masih memeluk kris, entah kenapa air matanya menetes saat ini. Kris yang menyadari seragamnya mulai basah merasa khawatir dengan taeyeon, “Kau kenapa” kris melepas pelukannnya dan menghapus air mata taeyeon.

Taeyeon menatap kris, “Sepertinya aku menyukai sehun,  kata luhan kalau kita menyukai seseorang pasti kita akan merasa cemburu melihatnya bersama orang lain” Taeyeon terdiam sebentar, “Tadi aku cemburu melihat sehun dan yoona bersama” taeyeon menunduk lesu.

Sakit, itulah yang dirasakan kris saat ini. Walaupun ia tidak mengenal orang- orang yang disebutkan namanya oleh tayeon, tetapi ia cukup mengerti dengan arah pembicaraan taeyeon.

“Apa yang kau lakukan ? kau bukan taeyeon yang kemarin aku kenal. Taeyeon yang aku kenal tidak pernah sedih seperti ini” kris mencoba menghibur taeyeon, meskipun sebenarnya ia yang harus dihibur saat ini.

“Kris- ssi . . . “ taeyeon memanggil kris manja.

“Aku mau ice cream” sambung taeyeon dengan nada yang tak kalah imut dari sebelumnya.

Kris hanya terkekeh melihat tingkah taeyeon. Baru saja beberapa menit yang lalu ia menangis, dan sekarang di wajahnya sudah tidak ada tanda- tanda bahwa ia sedang sedih.

“Baiklah kajja” Kris melihat rok taeyeon terlalu pendek. Ia membuka jaketnya dan mengikatnya di pinggang kecil taeyeon.

Taeyeon hanya tersenyum mendapat perlakuan manis dari kris, ia segera mengambil helm yang kris berikan. Taeyeon agak susah menaiki motor yang kris bawah karena dengan postur tubuhnya yang tidak mendukung membuatnya sedikit kewalahan. “Kris motormu sangat tinggi”

Kris hanya tersenyum mendengar omelan taeyeon. Sepanjang perjalanan taeyeon memeluk kris sangat erat, kris mengerti dengan arti pelukan itu. ‘peluklah taeyeon, keluarkan semua kesedihanmu. Aku berjanji aku akan selalu ada dikala kau sedih, walaupun itu membuatku sakit tetapi demi kau gadis yang sangat aku cintai aku akan melakukan apapun’

 

. . . . . . . .

Taeyeon memasuki halaman rumahnya dengan wajah jengkel menurutnya tetapi kalau menurut orang orang yang melihatnya dia sangat imut. Terbukti para keamanan dirumah taeyeon yang melihatnya seperti ingin mencubit pipi taeyeon, tetapi tentu saja mereka tidak berani.

Taeyeon membuka pintu rumahnya, “Oppa kenapa kau tidak menjemputku” teriak taeyeon kesal.

Lelaki di kursi itu berbalik menghadap taeyeon, ‘Dia bukan oppa siwon’

“Mian ahjussi, aku kira kau oppaku” taeyeon menunduk hormat.

Ahjussi itu mendekati taeyeon, “Apakah kau adiknya ryeowook atau Changmin?” Tanya ahjussi itu.

“Aniya, aku adiknya siwon oppa” jawab taeyeon yang sukses membuat Koran yang berada di tangan ahjussi itu terjatuh.

“T ta . . taeyeon” Ucapnya terbatah.

Taeyeon sedikit bingung, namun sedetik kemudian ia tersenyum manis, “Ahjussi, pasti siwon oppa sudah bercerita banyak pada ahjussi tentangku”

Ahjussi itu tidak menjawab, ia memeluk taeyeon erat bahkan sangat erat, “Ahjussi apakah anda mempunyai masalah” Tanya taeyeon mengelus pundah ahjussi itu, entah kenapa ia sangat nyaman di dalam pelukan ahjussi itu.

“Anakku” ucap ahjussi itu yang notabenenya adalah tuan choi.

Taeyeon terdiam, mulutnya dan matanya terbuka lebar. Ia tidak sanggup lagi menahan tangisnya, ia membalas pelukan tuan choi sangat erat, “Appa” Ucapnya lirih.

 

. . . . . . .

Siwon pulang dari universitasnya, ia berniat meminta maaf pada taeyeon, mungkin taeyeon akan ngmbek saat ini. Tetapi dia sudah membawa penawar untuk amarah taeyeon, apalagi kalau bukan ice cream, “Aku yakin dia tidak akan marah”

Siwon  membuka pintu rumahnya, dan betapa terkejutnya dia saat melihat pemandangan di depannya.

“Oppa kau sudah pulang? “ taeyen berlari kearah siwon sambil menarik tangan appanya.

“Wah, apa itu? Pasti untukku” Taeyeon mengambil ice cream yang dibawa siwon. Siwon masih terdiam, dia menatap appanya dan begitu juga sebaliknya.

“Aku lelah, aku akan mandi” siwon melangkahkan kakinya, tetapi tangannya ditahan oleh taeyeon.

“Oppa . . . “ ucap taeyeon sambil menangis, siwon menhadap taeyeon dan menghapus air matanya.

Taeyeon meraih tangan appanya dan menyatukannya dengan tangan siwon. Siwon hanya pasrah karena ia tidak ingin melihat air mata adiknya lagi.

Taeyeon memeluk oppa dan appanya, “Aku hanya ingin seperti dulu, apakah itu salah? “

Tangis taeyeon pecah kembali, siwon dan tuan choi membalas pelukannya. Mereka bertiga terus berpelukan. Pelayan dan satpam di rumah itu melihat mereka dengan air mata di wajah mereka. Mereka terharu melihat keluarga yang dulu penuh dengan kegelapan kini kembali bersinar.

Taeyeon, siwon dan tuan choi kini berjalan- jalan di taman, sungguh memalukan bagi tuan choi dengan pakaian formal ia harus berjalan- jalan seperti anak kecil. Tetapi mau bagaimana lagi daripada ia harus berurusan dengan aegyo taeyeon yang mematikan (?)

Taeyeon berada di tengah- tengah mereka, “Oppa aku haus, oppa harus pergi membelikan kami minuman” rengek taeyeon.

“Oke kau mau minum apa?” Tanya siwon pasrah.

“Aku air mineral”

Siwon berganti menatap tuan choi, “Kalau . . . . Appa?” Tanya siwon gugup ini pertama kalinya siwon memanggil tuan choi dengan sebutan appa selama ia pindah ke seoul.

“Sama saja dengan taeyeon” tuan choi tersenyum yang juga dibalas oleh siwon.

Siwon pergi membeli minuman untuk mereka, tuan choi menatap taeyeon lalu memeluknya, “Terima kasih anakku, kau sudah mengembalikan keluarga kita.”

Taeyeon mengangguk pelan, ‘Belum appa, aku akan menjadikan keluarga kita kembali utuh. Ada aku, oppa, appa, dan juga eomma’

 

. . . . . . . . .

“Taeyeon apakah kau mau terlambat ke sekolah?” Teriak siwon menggedor kamar taeyeon.

“Oppa apakah kau ingin membuat kamarku runtuh” taeyeon mengerucutkan bibirnya kesal.

“Aigoo adikku ini lucu sekali, aku kira kau belum siap” siwon mengelus puncak kepala taeyeon.

“Sudahlah oppa aku sudah lapar, ayo kita sarapan” Taeyeon menarik tangan siwon menuruni tangga,

“Appa” taeyeon tersenyum menghampiri appanya di meja makan.

Siwon masih kaget melihat pemandangan ini, tidak biasanya appanya sarapan dirumah. “Oppa apakah kau akan terus berdiri” Tanya taeyeon.

Siwon tersadar dan segera duduk disamping taeyeon, “tidak Biasanya appa belum berangkat kerja jam segini?” Tanya siwon dengan muka pura- pura cuek.

Tuan choi tersenyum, “Appa hanya ingin menemani kalian sarapan.”

Siwon tersenyum diam- diam, tetapi gagal karena appanya melihatnya. Mereka banyak bercerita ketika makan, lebih tepatnya bukan mereka tetapi taeyeon.

“Maaf tuan diluar sudah ada tuan ryeowook dan changmin menunggu tuan” ucap seorang pelayang.

“Bilang pada mereka aku harus mengantar taeyeon ke sekolahnya dulu” jawab siwon santai.

“Aww” ringis siwon ketika mendapat cubitan singkat dari taeyeon.

“Oppa aku bisa berangkat sendiri, pergilah . . kau tahu kau sangat tidak punya hati” taeyeon cemberut.

“Aku tahu, tapi kau akan berangkat dengan siapa”

“Aku akan berangkat sendiri, kau kira aku anak kecil?”

Tuan choi hanya tersenyum melihatnya, “Nanti appa yang akan mengantarnya”

“Tidak usah appa, aku bisa berangkat sendiri” tolak taeyeon.

Akhirnya mereka berdua mengalah, taeyeon terlalu keras kepala untuk mereka bujuk, “Baiklah”

Siwon dan tuan choi sudah berangkat duluan meninggalkan taeyeon, taeyeon keluar dari gerbang rumahnya. “Aku akan berjalan ke sekolah, sepertinya akan menyenangkan”

Ia berjalan dengan dengan senyum di wajahnya, “Oh kota seoul sangat indah”

“Apakah kau baru menyadarinya?” suara seorang namja disamping taeyeon.

“Sehun- ah . . . “ Teriak taeyeon, ia meraih lengan sehun kedalam pelukannya.

Sehun sebenarnya senang, tetapi dia berusaha mengendalikan perasaannya, “Mengapa kau selalu bersikap seperti ini padaku” Tanya sehun pura- pura jengkel.

“Karena aku menyukaimu”

 

^^TBC^^

 

Aku tidak menepati perkataanku sendriri. Sebelumnya aku pernah bilang kalau aku mau UTS dan harus focus ke pelajaran. tetapi, aku tidak sanggup kalau tidak melanjutkan mengarang ff ini #dramatis

Oke para readers semoga kalian suka sama ff aku yah . . . . .

71 thoughts on “[Freelance] Between Two Options (Chapter 4)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s