Unexpected Butler (Chapter 1)

unexpected-butler

Written by taenylatte (was; shellynaaa)

Length: Multichapter

Main Cast(s): Choi Sooyoung — Huang Zi Tao — Oh Sehun

Other Cast(s): Kim Hyoyeon — Kim Jongin — Xi Luhan

Genre: Action, Fantasy, Mystery, Romance, Supranatural

Rating: PG-15

Credit Poster: PhoenixFromBusan

Disclaimer: The casts aren’t belong to me, I just borrow their names for this fiction. Plot of story is mine, don’t plagiarize & don’t claim as yours!

A/N: Inspired by Black Butler (Kuroshitsuji) a manga who written and illustrated by Yana Toboso, and some action movies.

Hai! aku balik lagi, akhirnya setelah sekian lama teaser ff ini keluar, chapter 1 out juga;; ceritanya bakalan beda dengan teasernya, karena aku ubah hehe. Kalo di teasernya keluarganya Sooyoung punya perusahaan design, disini keluarga Sooyoung punya perusahaan mainan. Perusahaan mainan punya keluarganya Sooyoung disini buat nutupin pekerjaan Ayahnya Sooyoung yang sebenarnya. Dan pekerjaan ini berpengaruh besar sama penyebab kematian orang tuanya Sooyoung. Mau tau apa dan gimana? Baca chapter ini dulu terus tunggu lanjutannya ehe;; /ditabok readers.

Penjelasan diatas aja udah kayak little teaser ya;;;

By the way, it also has posted on my personal blog too.

Okedeh tanpa banyak omong lagi, check this out! /tsah

Last, enjoy and don’t forget to leave a comment!

-Unexpected Butler-

Hari ini adalah hari ketiga sebelum menjelang hari raya Natal, kebanyakan orang-orang berkumpul di rumah mereka masing-masing bersama keluarga untuk merayakan hari Natal bersama. Sementara itu, disebuah perumahan elit di kawasan London, seorang gadis sedang duduk di sebuah kursi dekat jendela rumahnya di ruang tengah sambil memegang secangkir cokelat panas di tangannya. Choi Sooyoung—nama gadis itu, dia adalah gadis kelahiran Seoul yang menetap di kota London sejak berumur 10 tahun.

Perlahan dia menyeruput cokelat panas yang berada di genggamannya, dan sesekali tersenyum melihat ribuan salju yang turun dengan lebatnya—serta melihat segerombolan anak kecil yang dengan riangnya bermain salju.

“Aku bosan.” gumamnya.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat—merasa penasaran, Sooyoung mengalihkan pandangannya ke sumber suara tersebut. Dia mendapati seorang lelaki berpostur tubuh tegap sudah lengkap dengan pakaian tebalnya—sedang membenarkan letak syal tebal berwarna hitam yang melingkar sempurna di lehernya.

Lelaki itu adalah Huang Zitao, kepala pelayan yang bekerja untuk keluarga bangsawan Choi–keluarga Sooyoung–sejak berumur 6 tahun. Zitao sudah lama tinggal bersama keluarga Sooyoung karena mendiang Ayahnya sendiri juga bekerja sebagai kepala pelayan sewaktu dirinya masih kecil.

“Zitao?” panggil Sooyoung, Zitao hanya membalasnya dengan dehaman kecil dan beranjak menuju pintu rumah bermaksud untuk pergi keluar.

Sebelum Zitao berhasil meraih gagang pintu, Sooyoung sudah berdiri didepannya bermaksud menghalanginya pergi.

Zitao mendecak kesal, “Ada apa?” tanya nya sambil memasukkan kedua tangannya di kedua kantong celana yang dipakainya.

“Kau mau pergi kemana?” kata Sooyoung berbalik tanya.

Zitao mendesah pelan setelah mendengar pertanyaan–yang menurutnya–tidak penting untuk dijawabnya.

“Jawab aku.” kata Sooyoung sambil menatap lelaki yang sedang berhadapan dengannya dengan tatapan penasaran.

“Memeriksa sesuatu.” jawab Zitao singkat.

“Sesuatu?”

“Ya, sesuatu.”

Sooyoung mengangguk mengerti, “Bolehkah aku ikut? Aku bosan seharian berada di rumah.”

“No, absloutely not.” jawab Zitao sambil menggelengkan kepalanya pelan.

“Kenapa?” tanya Sooyoung, lagi.

“Tch, kau ini terlalu banyak bertanya,” “Sekali tidak, tetap tidak Nona—lagipula kau tidak lihat cuaca hari ini bagaimana? Bagaimana kalau nanti kau sakit? Aku lagi yang repot.” jawab Zitao panjang lebar lalu beranjak pergi meninggalkan Sooyoung.

“Ish, menyebalkan!” gerutu Sooyoung.

Zitao’s POV:

“Bolehkah aku ikut? Aku bosan seharian berada di rumah.” katanya sambil memasang tatapan memohon.

“No, absloutely not.”

“Kenapa?”

Kenapa? Karena para werewolf sedang mencari dimana keberadaanmu, Nona. Nyawamu bisa menjadi taruhannya, dan hal itu tidak akan kubiarkan.

“Tch, kau ini terlalu banyak bertanya,” “Sekali tidak, tetap tidak Nona—lagipula kau tidak lihat cuaca hari ini bagaimana? Bagaimana kalau nanti kau sakit? Aku lagi yang repot.” jawabku dan langsung pergi meninggalkannya.

Aku berjalan menuju pagar rumah melewati garasi depan yang cukup besar dan luas, dan kebetulan Jongin sedang membersihkan salju di garasi. Dia menggunakan alat pembersih salju yang di dorong seperti kereta bayi.

Sedikit informasi, Jongin sama sepertiku dan Ayahku. Tetapi Jongin dan diriku harus berpisah bertahun-tahun karena sudah peraturan kaumku yang mengharuskan tinggal berpisah dengan orang tuanya masing-masing. Aku tidak mengerti mengapa peraturan itu begitu konyol dan sangat kejam—Bayangkan saja jika kau harus tinggal berpisah dengan kedua orang tuamu sejak berumur 2 tahun, menyedihkan bukan? Ya begitulah kehidupanku sebelum bertemu Nona Sooyoung, tetapi kami semua –kaumku–di besarkan dan di didik dengan baik di exoplanet.

Sama dengan diriku, Jongin juga mempunyai superpower-nya sendiri—yaitu teleportasi. Tidak hanya itu, Jongin mempunyai otak yang cerdas. Tetapi perasaannya terlalu sensitif dan emosional.

Aku segera menghampirinya dan menepuk bahu sebelah kanannya dengan satu tanganku.

Jongin segera mematikan mesin yang berada dihadapannya, berbalik badan dan mengalihkan pandangannya kepadaku.

“Zitao, ada apa?” tanya Jongin.

“Tinggalkan pekerjaanmu, dan ikutlah bersamaku.” perintahku kepadanya.

“Kemana?” tanya nya, lagi.

“Wolverise Forest.” jawabku singkat.

“Apakah kau sudah gila? Itu adalah tempat persembunyian para werewolf! Jika kau memang berniat untuk bunuh diri, lebih baik jangan mengajakku.” katanya lalu beranjak pergi meninggalkanku.

“Tunggu.”

Jongin menghentikan langkahnya dan menatapku dengan tatapan malas.

“Kita harus kesana malam ini juga, ini penting.”

“Alasannya?”

Aku mendesah pelan lalu menatapnya dengan serius, “Alasannya? Pertama, ini adalah musim dingin—dan menurutku, para makhluk menjijikan itu akan menjadi sangat kuat,” “Dan percayalah, kau tidak menginginkan hal itu terjadi.”

“Jadi maksudmu—kita akan membunuh mereka semua malam ini?”

“Tentu saja tidak, kita hanya berdua—dan mungkin hanya cukup melawan 4 sampai 5 werewolf saja,” “Kita akan mengintai mereka malam ini untuk mengetahui apa yang akan mereka lakukan.”

“Okay, tetapi apakah hanya itu alasannya? Karena musim dingin?”

Kau konyol? Untuk apa aku mempertaruhkan nyawaku pergi ke Wolverise Forest untuk mengintai mereka hanya karena ini adalah musim dingin? 

“Tentu saja bukan hanya karena alasan itu, Jongin—sekarang dengarkan aku baik-baik,” “Tadi aku mengatakan bahwa karena musim dingin saja mereka bisa menjadi sangat kuat, mengapa? Karena di musim dingin mereka akan keluar dari tempat persembunyian mereka dan berburu mangsa.”

“Dan sudah pasti dari bulan-bulan sebelumnya mereka sudah mempersiapkan diri, itulah alasannya mengapa pada bulan Desember—dan tepatnya pada musim dingin ini mereka bisa menjadi sangat kuat,” “Mereka akan pergi berkelompok, dan sebagian besar dari mereka mengincar Nona Sooyoung—bahkan mereka rela jika harus saling membunuh sekalipun mereka bersaudara—hanya untuk membunuh Nona Sooyoung dan memakan jantungnya, mengapa? Karena Nona Sooyoung bukanlah manusia biasa.”

“Bukan manusia biasa? Maksudmu?” tanya Jongin, lagi.

“Ayahku pernah memberitahuku bahwa mendiang istri dari Tuan Choi adalah seorang peri yang melarikan diri dari tempat asalnya karena sedang terjadi perang saat itu,” “Dengan werewolf, tentunya—nama asli Nyonya Choi adalah Roxane Park, dia mempunyai 5 saudara perempuan—tujuan para werewolf menyerang kaumnya adalah tentu saja untuk membunuhnya dan memakan jantungnya,” “Tetapi untungnya Nyonya Choi berhasil menyelamatkan dirinya dan bertemu dengan Ayahku serta Tuan Choi tentunya.”

“Tetapi mengapa harus jantung? Menjijikan.” kata Jongin memotong pembicaraanku. Benar-benar anak ini.

“Tunggu Jongin, aku belum selesai berbicara,” “Mengapa jantung? Pertanyaan yang bagus—kau pasti tahu bahwa segala sesuatu yang dimiliki peri itu murni, termasuk organ tubuh mereka,” “Dengan memakan jantung kaum peri tersebut, khususnya milik Nyonya Choi dan ke-5 saudara perempuannya, mereka akan abadi dan kekuatannya menjadi sangat sangat kuat.”

“Dan itu adalah malapetaka bagi seluruh umat manusia, maupun makhluk lain yang berada di dunia ini.” katanya menyela pembicaraanku.

“Benar sekali, dan sayangnya kaum peri ini sudah punah—tetapi tidak semua peri mati karena dimangsa oleh werewolf,” “Dan yang tersisa hanyalah Nona Sooyoung sendiri, karena dia adalah keturunan langsung dari Nyonya Choi yang adalah peri—tetapi Nona Sooyoung berdarah campuran manusia dan peri.” jelasku panjang lebar.

“Itu berarti segala sesuatu yang dimiliki oleh Nona Sooyoung tidak murni ‘kan? Dia tidak berdarah peri asli, tetapi berdarah campuran manusia dan peri.”

“Exactly, tetapi tidak dengan jantungnya,” “Dan para werewolf ini akan mencari Nona Sooyoung dengan wujud manusia, dan bersikap seolah-olah mereka adalah manusia biasa.
Dan trik dari para makhluk menjijikan dan licik ini adalah, mereka memanfaatkan orang terdekat mangsanya untuk menjadikan umpan atau bahkan mungkin akan membunuhnya sebagai bentuk ancaman, intinya kita harus berhati-hati dan waspada terhadap orang asing yang baru saja kita kenal.”

Jongin menatapku dengan tatapan tidak percaya, dia hanya terpaku dan tidak mengatakan apapun. Beberapa detik kemudian dia mengerjapkan kedua matanya dan mengangguk mengerti.

“Kalau begitu kita harus pergi ke Wolverise Forest sekarang juga.” ajaknya.

“Tsk, akhirnya setelah aku berbicara panjang lebar kau mengerti juga.” ledekku.

“Diamlah dan pegang ini.” perintahnya kepadaku sambil mengangkat tangan kanannya ke arahku.

Aku hanya merotasikan kedua bola mataku dan memegang tangannya, aku tahu apa maksud dari ini semua—berteleportasi.

Beberapa menit kemudian, aku dan Jongin sudah berada di tempat yang kami tuju, Wolverise Forest.

“Here we are, Wolverise Forest.” kata Jongin sambil melihat-lihat sekitar hutan ini.

Gelap, menyeramkan, terlihat seperti tidak ada kehidupan. Ya, itulah keadaan Wolverise Forest saat ini–menurutku.

SREKK

“Zitao, apa itu?”

SREKK

Aku mengalihkan pandanganku ke sumber suara, terlihat beberapa werewolf sedang berjalan menuju ke arahku dan Jongin sekarang, jarak kami dengan para makhluk itu tidak terlalu jauh jadi aku bisa melihat jelas bagaiman rupa mereka.

Seperti serigala lainnya—berukuran besar, tatapan mata yang tajam, mempunyai cakar yang agak panjang dan kuat untuk melumpuhkan mangsa atau musuhnya, serta taring-taringnya yang berjejer rapi dan terlihat kokoh sebagai senjata pamungkas mereka.

“They are coming.” jawabku seraya menarik tangan Jongin dan bersembunyi di semak-semak yang berada tepat dibelakang kami.

Author’s POV:

“They are coming.” kata Zitao kepada Jongin dan langsung menarik tangan Jongin untuk bersembunyi.

Beberapa menit kemudian para werewolf itu sudah berada tepat di depan semak-semak yang menjadi tempat persembunyian Zitao dan Jongin sekarang, jaraknya tidak terlalu jauh—mungkin hanya beberapa meter.

Dan pada saat itu juga ada beberapa werewolf yang mengubah wujudnya menjadi manusia, sebagian dari mereka terlihat sangat tampan.

Zitao mengintip dari balik semak-semak tempatnya dan Jongin bersembunyi, dia melihat beberapa werewolf berubah wujud menjadi manusia. Begitu pula dengan Jongin, dia juga mengikuti apa yang dilakukan oleh Zitao.

“Jumlah mereka lumayan banyak.” kata Jongin pelan sambil menatap para makhluk itu dengan tatapan tidak percaya.

Zitao hanya menjawab perkataan Jongin dengan mengangguk dan melanjutkan kesibukannya memperhatikan para werewolf itu dengan hati-hati.

Pandangan Zitao teralihkan kearah 2 werewolf dibarisan paling belakang, gerak-gerik mereka terlihat mencurigakan dan wajah mereka terlihat seperti orang yang tidak ingin diikuti.

“So, what’s the plan?” tiba-tiba salah satu dari werewolf itu berbicara, dia sudah berwujud manusia. Seorang lelaki berwajah cantik seperti wanita, tetapi sikapnya terlihat sangat dingin.

“Find her, and kill then her.”  jawab werewolf lainnya, sama seperti werewolf sebelumnya—dia juga sudah berwujud manusia, wajahnya tampan dan hampir mirip dengan werewolf sebelumnya.

Zitao dan Jongin tersentak mendengar perkataan werewolf tersebut dan langsung melempar pandangan mereka ke satu sama lain.

“Her?” tanya Jongin tanpa bersuara. Zitao dan Jongin terlihat sangat panik sekarang.

“Tidak secepat itu, Sehun.”

“Lalu apa rencanamu, Luhan?”

Ya, kedua werewolf itu bernama Sehun dan Luhan. Wajah mereka memang hampir mirip, karena mereka adalah saudara tiri.

“Kita akan mencari gadis bernama Sooyoung itu dengan wujud manusia, dan kau harus mendekatinya—bersikaplah seolah-olah kau menyukainya, dan ketika waktunya tiba kita akan membunuhnya.” jelas Luhan

“Tch, rencana yang sangat konyol dan terlalu pasaran, apakah tidak ada yang lain? Dan bagaimana aku akan mendekatinya?” kata Sehun dengan tatapan sinisnya.

“Kau pura-pura bodoh atau memang bodoh? Wajahmu saat berwujud manusia cukup tampan, dan itu sangat menguntungkan—dan soal bagaimana caramu mendekatinya, biar aku yang urus,” “Sekarang lebih baik kita mencari gadis itu, sebelum yang lain menemukannya.” jawab Luhan lalu pergi meninggalkan adiknya, Sehun.

“Aku akan turuti semua permainanmu, tetapi gadis itu adalah milikku.” kata Sehun pelan.

“Aku tidak akan membiarkan makhluk menjijikan sepertimu menyentuh Nona Sooyoung.” pekik Zitao dalam hati, kedua tangannya mengepal dan tatapannya penuh amarah setelah mendengar perkataan Sehun barusan lalu mengikuti Luhan pergi.

“Jongin, kita harus pergi.” bisik Zitao dan mengalihkan pandangannya kearah Jongin.

“Tetapi kau dengar sendiri apa yang dibicarakan oleh 2 makhluk menjijikan itu bukan? Mereka akan mencari Nona Sooyoung, kita harus mencegahnya sekarang.” jawab Jongin tegas seraya beranjak dari tempat persembunyiannya, bermaksud ingin menyerang Sehun dan Luhan.

“Tunggu!” kata Zitao sambil menarik tangan Jongin bermaksud menahannya. “Menyerangnya sekarang adalah tindakan yang sangat bodoh, lebih baik kita pulang dan memikirkan apa rencana kita untuk menghadapi mereka.”

“Ucapanmu ada benarnya juga.” jawab Jongin sambil mengangkat tangan kanannya kearah Zitao, lagi. Tanpa berpikir panjang Zitao memegang tangan Jongin.

Dan ya, beberapa menit kemudian mereka sudah berada di depan gerbang kediaman keluarga bangsawan Choi. Zitao segera merogoh sakunya celananya dan mengambil kunci gembok gerbang tersebut lalu membukanya.

“Lebih baik sekarang kita beristirahat.” kata Zitao lalu menuju pintu rumah dan masuk ke ruang tengah rumah tersebut.

“Ya.” jawab Jongin singkat.

“Jangan sampai ada yang mengetahui tentang malam ini, apalagi Nona Sooyoung.” kata Zitao yang disusul oleh anggukan dari Jongin.

“Soal apa?” tanya Sooyoung tiba-tiba.

Zitao dan Jongin terkejut dan melempar pandangannya ke satu sama lain, mereka tidak tahu apa yang harus dikatakan.

Setelah beberapa menit kemudian, Zitao mulai angkat bicara untuk menjawab pertanyaan dari Sooyoung, “Bukan urusanmu, nona.” jawab Zitao datar.

“Baiklah jika kalian tidak ingin memberitahuku, tetapi setidaknya jelaskan mengapa kalian bisa pulang selarut ini? Apakah kalian baru saja pergi dari suatu tempat?” tanya Sooyoung penasaran.

“Wolvery Forest.” jawab Jongin.

Setelah menjawab pertanyan Sooyoung, beberapa detik kemudian dia menyadari apa yang baru saja dikatakannya lalu menepuk jidatnya dan menggelengkan kepalanya pelan. “How can I be so stupid?” katanya menyesal.

Sementara Jongin sibuk menyesali perkataannya, Zitao hanya mendesah pelan dan mengalihkan pandangannya kearah Jongin dengan tatapan malas.

Sooyoung hanya menatap kedua lelaki tampan yang sedang berhadapannya dengan tatapan bingung.

“Tempat macam apa itu?” tanya Sooyoung dengan polosnya.

“Bukan urusanmu juga—Jongin, lebih baik kau beristirahat sekarang.” “Kau juga harus beristirahat nona, besok kau akan pergi bekerja bukan?” kata Zitao seraya meninggalkan Sooyoung.

Jongin mengangguk dan ikut pergi meninggalkan ruang tengah, tetapi sebelumnya dia menundukkan kepalanya kepada Sooyoung dan tersenyum sebelum meninggalkan majikannya itu.

“Tch, pernahkah dia tidak bersikap dingin terhadap wanita?” gerutu Sooyoung sambil melipat kedua tangannya lalu pergi menuju kamarnya.

Sementara itu, di tempat lain Sehun dan Luhan sedang sibuk berbincang-bincang tentang rencana jahat mereka untuk membunuh nona Sooyoung. Disebuah rumah yang cukup mewah di dekat Wolverise Forest.

“Luhan, tadi secara tidak sengaja aku mengintai kita saat di Wolverise Forest,” “Ada dua orang, dan salah satu dari mereka ada yang berniat menyerang kita saat itu.”

“Siapa?”

“Entahlah.”

“Oh ya Sehun, barusan aku diberi tahu oleh temanku bahwa perusahaan milik gadis itu sedang membuka lowongan pekerjaan untuk staff dan karyawan baru,” “Besok kau pergi kesana dan ikut melamar pekerjaan di perusahaan itu—dengan cara itulah kau bisa mendekati gadis itu.”

Esok paginya, di kediaman Sooyoung semua orang yang berada di rumah itu ramai dengan kegiatan mereka masing-masing. Ada yang memasak untuk sarapan, membersihkan rumah, dan sebagainya. Sementara itu, Sooyoung masih terlelap dengan pulasnya diatas kasur king size-nya. Wajahnya terlihat sangat damai jika sedang tidur.

Sementara Sooyoung masih menikmati keindahan alam mimpi, seorang gadis cantik berambut blonde sudah berdiri dikamarnya sejak tadi dan memperhatikannya sambil tersenyum. Kemudian gadis tersebut menghampiri Sooyoung dan perlahan menarik selimut yang dikenakan Sooyoung—bermaksud untuk membangunkan Sooyoung.

“It’s time to wake up, Mrs. Sooyoung.” katanya.

“Five—no, twenty minutes more, please.” jawab Sooyoung sambil membetulkan letak selimutnya menjadi seperti semula.

“Tetapi sekarang sudah menunjukkan pukul 06.30, bukankah Nona ada rapat penting di kantor pada pukul 07.30 nanti? Dan sekarang adalah hari Senin, hari sibuk bagi kota London—nona mengerti bukan maksudku?” katanya lagi mencoba membangunkan Sooyoung.

Sooyoung mendecak kesal dan membuka kedua matanya, lalu meregangkan kedua matanya guna memperjelas pengelihatannya–lalu bangun dan duduk dikasurnya.

“Okay, I’m awake now—thank you Hyoyeon.” kata Sooyoung berterimakasih sambil tersenyum kepada gadis yang bernama Hyoyeon tersebut. Hyoyeon adalah salah satu pelayan yang bekerja untuk keluarga Sooyoung sampai saat ini—Hyoyeon selalu sabar mengurus Sooyoung, dia menganggap Sooyoung sudah seperti adiknya sendiri. Begitu juga dengan Sooyoung, dia menganggap Hyoyeon seperti kakak kandungnya sendiri.

“Anytime.” jawab Hyoyeon dan membalas senyuman Sooyoung lalu pergi meninggalkan kamar Sooyoung.

Kemudian Sooyoung pergi menuju kamar mandi yang berada di kamarnya untuk membersihkan dirinya. Butuh sekitar 20 menit Sooyoung membersihkan dirinya, setelah itu Sooyoung berpakaian dan segera turun dan menuju ruang makan untuk menikmati sarapannya. Tidak lupa dia membawa tas yang berisi peralatan make up-nya, handphone, dan barang yang tidak penting lainnya.

“Good morning everyone.” sapa Sooyoung kepada para pelayan yang berada di ruang makan tersebut sambil tersenyum.

“Morning.” jawab para pelayan tersebut.

Sooyoung mengambil tempat untuk duduk di kursi meja makan dan segera menyantap sarapannya, setelah selesai sarapan dia segera keluar menuju garasi untuk menemui orang yang akan mengantarnya.

Ketika Sooyoung sudah melewati pintu rumahnya, dia mendengar suara klakson mobil dari garasi. Sooyoung mengalihkan pandangannya kearah suara tersebut. Dan, ya, dia mendapati Zitao yang sedang duduk di kursi mobil sambil menatap Sooyoung dan satu tangannya menunjuk jam tangan yang dipakainya di tangan sebelahnya.

Tanpa pikir panjang, Sooyoung segera pergi menghampiri mobil tersebut lalu masuk kedalamnya. Zitao segera menekan kopling dan memasukkan gigi lalu pergi keluar melewati gerbang rumah.

Suasana di dalam mobil sedikit canggung, tidak ada yang berbicara. Mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing.

Sooyoung sibuk melihat keluar jendela dimana terdapat suasana pagi kota London. Sementara itu, Zitao sibuk mengemudi dan memikirkan apa yang akan direncanakan para werewolf itu selanjutnya.

Sekitar 30 menit perjalanan dari rumah Sooyoung ke kantornya—maksudku, perusahaan miliknya. Sekarang mereka sudah berada di depn pintu masuk utama perusaahaan tersebut, Sooyoung keluar dari mobil. Sedikit informasi, gedung perusahaan milik Sooyoung besar layaknya kastil Hogwarts di film Harry Potter. Wicked.

“Have a nice day, Mrs. Sooyoung.” kata Zitao berbasa-basi.

“Thanks, you too—and don’t forget to pick me up here at 7 p.m.” kata Sooyoung sambil tersenyum.

Sebelum Zitao meninggalkan Sooyoung, dia menjawab perkataan Sooyoung dengan sebuah anggukan dan senyuman.

“Work, again.” keluh Sooyoung lalu berjalan memasuki gedung yang besar tersebut.

Sooyoung berjalan menuju ruangannya, semua staff dan karyawan menyapa Sooyoung dengan ramah dan senyuman.

“Good morning, Mrs. Sooyoung.” itulah yang didengar oleh Sooyoung berulang kali.

Saat hampir sampai di ruangannya, Sooyoung tidak mengetahui bahwa ada seorang lelaki yang berjalan kearahnya karena Sooyoung sibuk menjawab sapaan-sapaan para karyawan dan staff yang bekerja di perusahaan tersebut. Lelaki itu adalah Sehun, dia sengaja datang ke perusahaan milik Sooyoung untuk menjalankan rencana pertamanya—melamar pekerjaan di perusahaan tersebut.

BRUKK

Keduanya terjatuh sampai terduduk di lantai.

“I’m sorry.” kata Sooyoung meminta maaf sambil mengambil peralatan riasnya yang jatuh dan berantakan di lantai.

No, it’s my mistake—sorry.” kata Sehun sambil membantu Sooyoung mengambil peralatan riasnya dan membantu Sooyoung untuk berdiri.

“Kau baik-baik saja?” tanya Sehun.

“Ya, terimakasih sudah membantu dan menanyakan keadaanku,” “Maaf karena kecerobohanku karena tidak memperhatikan jalan.” jawab Sooyoung.

“Sudah seharusnya kita saling membantu, bukan?” “Tidak, kau tidak perlu meminta maaf kepadaku—jelas ini salahku yang terlalu asyik bermain ponselku dan tidak memperhatikan jalan.” kata lelaki itu sambil tersenyum.

Entah mengapa Sooyoung merasa salah tingkah melihat Sehun tersenyum kepadanya, dia merasa ada ribuan kupu-kupu berterbangan di perutnya.

“Sudah tampan, baik pula–ah lelaki idaman.” pekiknya dalam hati.

“Oh ya, kalo boleh tahu siapa namamu?”

“Sooyoung. Choi Sooyoung.” jawab Sooyoung sambil memamerkan senyuman manisnya.

Sehun tersentak mendengar nama itu, dia merasa bahwa keberuntungan sedang berpihak padanya. Rencana pertamanya untuk melamar pekerjaan di perusahaan milik Sooyoung telah berjalan mulus, dan sekarang dia bertemu dengan targetnya.

“Ah, kau pemilik perusahaan ini ternyata—maaf karena kelakuanku yang kurang sopan dan seenaknya saja menanyakan siapa dirimu,” “Pleasure to meet you, Mrs. Choi.” kata Sehun sambil tersenyum—senyuman yang licik.

“Tidak perlu seperti itu, kau bisa memanggilku dengan Sooyoung saja.”

“Oh, baiklah, Sooyoung,” “Namaku Oh Sehun, biasa dipanggil Sehun.”

“Gotcha!”

to be continued…

Akhirnya kelar juga chapter ini;;; sorry banget karena keterlambatan updatenya yaa;; karena selain aku disibukkan oleh tugas-tugas yang menumpuk dari sekolah, aku agak males buat ngetik hehe /slapped.

okedeh, comment ya supaya aku tau pendapat kalian😀

26 thoughts on “Unexpected Butler (Chapter 1)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s