The Desire Dream (Scene 5 + Epilog)

tdd-poster-copy

The Desire Dream

written by Summer

Main Cast: EXO-M’s Zhang Yixing and SNSD’s Kim Hyoyeon || Support Cast: Zhang Li Wei (OC) and EXO-M’s Huang Zhi Tao || Genre: Romance, Life, Friendship || Length: Chaptered || Rating: PG-13 || Disclaimer: Inspired by my own dream, Madre by Dewi Lestari, and short movie : The Day We Connect by Joko Anwar ||

[]

[]

Yixing menarik nafas panjang. “Benar. Tapi kali ini tidak hanya surat,” ucapnya hati-hati.

“Lalu ?”

.

.

.

Yixing mengambil sesuatu dari dalam kantong celananya. Ia menyerahkan benda putih persegi itu kepada Tao dan berpesan, “Tolong serahkan surat ini beserta roti yang kubuat.”

SCENE 5

“Paman juga belum membeli tiket ?”

“ . . . .”

                Yixing berjalan maju satu langkah di dalam antrian loket tiket. Sebelah tangannya menyangga ponsel yang sedang ia gunakan. “Astaga paman, kalau tahu begini aku akan membawa uang lebih,” serunya dengan nada kesal. Laki-laki berjas kantoran yang antri tepat di belakangnya hanya mengerutkan kening tak suka karena merasa terganggu.

                “Aku hanya membawa uang seribu yuan,” erang Yixing dengan merana. Ia mengangkat kepalanya tanpa sadar saat mendengar permintaan maaf dari pamannya. “Baiklah, baiklah, aku akan mencoba dulu. Siapa tahu uangku cukup.”

                “  . . . “

                “Tuan, ada yang bisa saya bantu ?”

                Yixing menyentakkan kepalanya dengan tiba-tiba. Suara penjual tiket menyadarkannya bahwa kini ia sudah ada di antrian paling depan. Cepat-cepat ia memutuskan panggilan telepon dengan pamannya itu dan memasukkan ponselnya ke dalam saku. “Ah, aku ingin memesan tiket dari Beijing ke Changsa untuk besok.”

                Wanita penjual tiket itu dengan cepat mengetikkan sesuatu diatas keyboard komputernya. Yixing menunggu sembari mengetuk-ketukkan ujung sepatunya pelan sementara matanya berputar ke seluruh area stasiun. Ia sedang mengamati penumpang kereta yang kerepotan dengan koper-kopernya ketika suara wanita penjual tiket menariknya kembali.

                “Bagaimana ?” tanya Yixing.

                Wanita penjual tiket itu menunjukkan senyum menyesalnya. Yixing bisa menebak kata-kata apa yang sebentar lagi akan dikeluarkan oleh penjual tiket itu.

                “Maaf tuan, tapi tiket dari Changsa ke Beijing untuk besok sudah habis dari satu jam yang lalu.”

                Yixing harusnya tak usah merasa terkejut, namun mau tak mau ia masih menunjukkan ekspresi wajah yang seharusnya ditunjukkan oleh calon pembeli yang merasa kaget sekaligus  kecewa.

                “Apa ?”

**********

                Dear temanku yang misterius . . .

                Hai, bagaimana kabarmu ? Apakah kau baik-baik saja ? Maaf aku baru bisa membalas suratmu sekarang. Ada beberapa hal yang perlu kupikirkan sebelum akhirnya menulis surat ini untukmu. Kuharap kau tidak marah 😀

                Terakhir kali aku menerima suratmu kalau tak salah kau bertanya mengapa aku ingin sekali menjadi seorang patissier, bukan ? O’ya apakah kau sedang bertanya-tanya mengapa aku mengirimkan surat ini bersamaan dengan roti dan bukannya sebuah jawaban ? Well, sebenarnya jawaban dari pertanyaan yang kau tanyakan ada di roti itu.

                Aku tak akan menjelaskan disini mengapa aku malah memberimu sebuah roti dan bukannya langsung menceritakan padamu alasannya.Kalau kau benar-benar ingin tahu, temui aku di Stasiun Beijing jam empat sore. Aku hanya punya waktu sampai jam lima dan setelah itu aku akan pergi. Aku akan menunggumu disana.

Sampai nanti . . .

                                                                                                                                Temanmu yang keren

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 Lay

PS : Cari laki-laki tampan dengan topi biru dan jaket abu-abu 😀

Gadis berambut pirang madu itu melipat suratnya tanpa sadar. Semua-semua kalimat yang ditulis oleh Lay terus membekas di hatinya. Kenapa Lay malah meninggalkan surat semacam ini ? Dan apakah benar sudah saatnya ia bertemu dengan Lay ?

Kenapa dia tak menceritakan sekarang saja ? Kenapa harus bertemu di stasiun ? Hal-hal semacam itulah yang kini berputar-putar di kepalanya. Biasanya jika berada di kedai roti ini, ia senang memperhatikan para patissier yang keluar masuk dari dalam dapur sembari membawa nampan berisi banyak roti diatasnya. Ia senang menghirup aroma manis roti yang baru matang. Tapi kali ini surat dari Lay membuat semuanya jadi tak terlihat menarik lagi.

“Dia akan pergi.”

Gadis itu mendongak dengan terkejut. Ia menatap laki-laki yang biasanya mengantarkan surat untuknya itu dengan kening berkerut. Sebetulnya ia tahu kalau laki-laki itu bernama Tao karena dia sempat memperkenalkan diri beberapa waktu yang lalu. Namun menurutnya, Tao lebih cocok kalau dipanggil dengan laki-laki-bermata-hitam-yang-menyeramkan.

PS : Cari laki-laki tampan dengan topi biru dan jaket abu-abu 😀

Catatan tambahan dari Lay seakan-akan membayangi matanya.

Yeah, harusnya dia tak perlu terkejut kan kalau Lay, teman surat-menyurat misteriusnya ternyata adalah seorang laki-laki ? Lagipula dia sudah pernah  mendengarnya dari Tao yang tak sengaja kelepasan bicara sebulan yang lalu. Laki-laki-bermata-hitam-menyeramkan yang bernama Tao itu sepertinya agak kesal karena harus mengantarkan surat terus menerus dan tanpa sengaja mengumpat marah sambil berkata kalau Lay adalah temannya yang paling menyebalkan. Tapi secara kebetulan juga, saat Tao tak sengaja kelepasan bicara kalau Lay adalah laki-laki, ia tak menyebut nama asli Lay.

“Apa maksudmu ?” tanyanya masih tak mengerti.

“Dia  bilang hari ini dia akan pulang kembali ke Changsa,” jawab Tao masih dengan nada yang sama.

Jawaban Tao jelas membuatnya terkejut. Rambut pirangnya bergetar karena ia bergerak tiba-tiba. “Pulang ?!” serunya dengan nada keras. Beberapa orang di dalam kedai memandanginya dengan bingung karena terkejut mendengar teriakannya. Tao hanya tertawa mengejek dan kembali bersikap menyeramkan lagi dalam waktu satu menit. Gadis itu tersenyum malu dan menundukkan kepalanya sedikit. “Apakah maksudmu, dia tak akan kembali lagi kesini ?” bisiknya pada Tao dengan suara serak. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa khawatir. Apakah ini surat terakhir yang akan ia terima dari Lay ?

Tao jelas tak bermaksud begitu. Ia hanya ingin berkata bahwa sebenarnya Yixing akan pulang ke Changsa selama satu minggu karena kakaknya akan menikah. Namun melihat ekspresi wajah gadis di depannya ini yang kentara sekali kelihatan benar-benar khawatir, membuat sebuah ide muncul di kepalanya.

“Aku tak tahu. Ia hanya berkata bahwa aku harus memberikan surat dan roti ini padamu.” Tao berdehem sebentar, “Lagipula sepertinya kau benar, mungkin ia tak akan kembali lagi kesini.”

Gadis itu terdiam kehilangan kata-kata. Kalimat Tao barusan entah karena alasan apa tiba-tiba membuat hatinya mencelos dan terasa sakit. Apakah ditinggal oleh teman tempat kau bisa mengirim surat rasanya seperih ini ? Berbagai asumsi berlompatan di kepalanya. Bagaimana kalau ia tak bisa bertemu dengan Lay lagi ? Bagaimana kalau ….

“Kalau aku jadi kau, aku akan menyusulnya.”

  Gadis itu tak menjawab. Tapi meski begitu ia mendengar kata-kata Tao dengan seksama. Mungkin benar kata laki-laki menyeramkan ini, aku harus bertemu dengan Lay. Mungkin ini sudah saatnya.  Ia menoleh cepat dan bertanya, “Jam berapa sekarang ?” tanyanya tiba-tiba.

Dengan gugup Tao menarik tangannya dan melihat angka yan tertera di jam digital hitam miliknya. “Jam 4 lebih lima belas menit,” balasnya tak kalah cepat.

 Semoga masih sempat ! Gadis itu dengan buru-buru meraup roti dan surat dari Lay dengan sebelah tangannya. “Aku pergi dulu.” Ia meletakkan tasnya di pundak dan berbalik pergi. “Terimakasih atas bantuannya !,” teriaknya sebelum benar-benar menutup pintu dan berlari keluar.

Tao mengeluarkan tangannya dari dalam kantung dan membersihkan meja bekas gadis itu dengan seringai lebar di bibir. “Well, tugasku sudah selesai.”

                                                **************

Rambut pirang madu gadis yang mengenakan kemeja warna coklat itu bergerak-gerak tak aturan karena gerakan sang empunya. Gadis sang pemilik rambut itu masih berlari kencang seolah ia sedang ia benar-benar sedang diburu waktu. Sesaat setelah keluar dari taksi yang baru saja ia tumpangi, ia tak membuang waktu sedikitpun dan segera berlari keluar. Untung saja ia tak lupa membayar ongkos taksinya.

Gadis itu berlari dan terus berlari hingga ia merasa paru-parunya serasa ingin meledak. Ia bahkan tak peduli dengan orang-orang yang sekarang mengamatinya dengan bingung. Yang ia pedulikan sekarang adalah bagaimana caranya agar ia bisa bertemu dengan Lay.

Hosh. Hosh. Hosh.

Setelah selama sepuluh menit ia terus berlari tanpa jeda, ternyata tubuhnya tak sekuat yang ia kira. Ia memutuskan untuk berhenti sejenak untuk mengistirahatkan paru-parunya. Ia menumpukan sebelah tangannya diatas lutut sementara tangannya yang satu lagi masih membawa roti dan surat dari Lay.

“Aku…tak…punya…waktu…lagi…”

Disaat seperti ini ia masih sempat-sempatnya berbicara dengan nafas yang terbatas. Ia tahu orang-orang sekaran memandanginya dengan bingung. Seolah mereka sedang bertanya, “Apa yang sedang dilakukan gadis ini ?” atau “Mengapa gadis ini berlari-larian di dalam stasiun ?” dan hal-hal lain semacamnya. Tapi meski begitu gadis itu tak peduli. Bahkan meski ia semua orang yang ada di stasiun ini membicarakannya, ia tak akan pernah ambil pusing. Baginya yan terpenting sekarang adalah, bagaimana caranya agar ia bisa bertemu dengan Lay.

“Bagi penumpang kereta dengan jurusan Beijing ke Changsa, diharap untuk segera memasuki kereta di peron tiga, karena sebentar lagi kereta akan berangkat.”

Suara khas wanita yang biasa memberikan pengumuman tentang jadwal kereta api, menyentakkan gadis itu dengan cepat. Hanya butuh sepersekian detik untuk membuat ekspresi  gadis itu dari kelelahan menjadi takut dan khawatir secara bersamaan. Kata-kata Tao di kedai tadi terngiang-ngiang di telinganya.

“Dia  bilang hari ini dia akan pulang kembali ke Changsa.”

Dan barusan tadi gadis itu mendengar bahwa kereta jurusan Beijing-Changsa akan berangkat sebentar lagi. Ia menarik pergelangan tangannya dan tak lama ia memekik tertahan. Ia hanya tinggal punya waktu lima menit !

Kali ini gadis itu berlari gila-gilaan. Ia berlari menuju peron tiga dengan harapan Lay mungkin sudah ada disana. Matanya terus saja menyisir bagian dalam stasiun untuk mencari orang yang mengenakan topi biru dan jaket abu-abu. Ia sedang berusaha mencari dimana Lay berada di waktu sesempit ini. Sesekali ia menerobos kerumunan orang dengan kedua tangannya dan terus berkata “Maaf” dan “Permisi.” Beberapa orang mengumpat kesal karena mungkin ia tak sengaja menginjak kaki mereka ketika ia lewat sembari berlari. Namun bagaimanapun juga gadis itu tak sempat untuk menoleh ke belakang dan meminta maaf.

Gadis itu sampai di peron tiga (masih dengan wajah merah karena kurang bernapas dan udara yang terputus-putus keluar dari mulutnya) ketika kereta cepat menuju Beijing ke Changsa sudah mulai berangkat. Besi besar panjang berwarna perak itu bergerak cepat dan meninggalkannya di belakang. Bahkan meski gadis itu berusaha untuk mengejar dengan sisa-sisa tenaganya, besi itu tetap bergerak seolah tak peduli dan terus melaju meninggalkan stasiun.

Gadis itu terdiam, wajahnya pucat nyaris tak bernyawa. Seolah tak ada darah yang mengaliri tubuhnya. Raut wajahnya antara sedih, tak percaya, dan kecewa secara bersamaan. Satu-satunya kesempatan yang ia punya untuk bertemu dengan Lay telah pergi. Ia sudah tak bisa lagi bertemu dengan Lay.

Gadis berambut pirang madu itu hampir saja terjatuh, namun tangannya sedikit lebih sigap untuk menahan beban tubuhnya dengan memegang pilar gedung yang dicat hitam. Ia menangis tanpa suara dan tanpa air mata di depan peron. Ia memang terlihat tak menangis, namun meski begitu hatinya sakit dan ia tak tahu kenapa.

“Bodoh. Dasar Bodoh !”

Gumamannya bercampur antara umpatan sedih dan frustasi terhadap dirinya sendiri. Ia menarik nafas panjang berusaha untuk menguatkan dirinya. Mungkin memang belum saatnya untuk ia bertemu dengan Lay. Ia terus saja memikirkan hal itu sambil berjalan. Ia memandangi lantai stasiun yang berwarna putih tulang dengan pola yang sama. Ia melupakan bahwa sekarang ia ada di tempat umum dan berjalan seperti itu bisa membuatnya menabrak sesuatu atau . . .

BRUK

“Ouch !”

. . . seseorang.

                Gadis itu mendengar desis kesakitan dari orang yang ia tabrak. Hah, sepertinya hari ini benar-benar hari yang sial untuknya. Sudah tak bisa bertemu dengan Lay dan sekarang ia malah menabrak seseorang hingga terjatuh. Benar-benar payah.

                Ia mencoba berdiri meski pantatnya terasa benar-benar nyeri. Dari sudut matapun ia bisa melihat kantong kertas berisi roti dari Lay dan surat yang tadi ia pegang, kini sudah tergeletak di lantai. Tangannya mencoba mengambil, namun pergerakan orang yang ia tabrak lebih cepat. Tiba-tiba ia bisa melihat kantong kertas itu sudah berpindah tangan. Ia mengangkat kepalanya mencoba memohon maaf dan meminta agar orang yang ia tabrak tadi mengembalikan barangnya.

                Namun ketika matanya bergerak keatas dan menangkap sesosok orang yang tak asing untuknya, suaranya tertahan di tengah tenggorokan.

                “KAU ?”

                                                                                ***************

                Yixing akhirnya tak jadi pulang ke Changsa karena tiket keberangkatan dari Beijing ke Changsa untuk hari ini sudah habis. Jadi dia akan pulang besok bersama pamannya. Sebenarnya ia tak merasa dirugikan karena ia tak perlu mengeluarkan uang untuk membeli tiket, tapi masalahnya di surat yang ia tulis untuk teman misteriusnya itu, ia berkata bahwa ia akan pergi hari ini. Alhasil mau tak mau ia harus pergi ke stasiun hari ini agar ia bisa bertemu dengan teman misteriusnya itu.

                “Yixing, paman pergi dulu !”

                Yixing yang sedang mencoba menutup pintu rumah mengerutkan keningnya heran. Ia bisa melihat pamannya berteriak-teriak untuk pamit pergi sementara ia yang dipamiti malah ada di luar dan juga berniat untuk pergi.

                “Paman mau pergi kemana ?” seru Yixing dengan tangan tertahan diatas engsel pintu.

                Tentu saja pertanyaan Yixing mengagetkan pamannya karena sedari tadi lelaki tua itu tak menemukan Yixing dimanapun. “Astaga Yixing !” teriak pamannya ketakutan. “Kau hampir membuatku jantungan, anak bodoh !”

                Yixing memutar bola matanya, lelah melihat perilaku pamannya yang berlebihan. Ia menarik keatas tas punggung yang ia pakai. “Omong-omong, paman mau pergi kemana ?” ucapnya mengulangi pertanyaan.

                Pamannya yang tadi sempat terkejut dengan tangan diatas dada, mulai terlihat tenang. Dia mengenakan sandal kulit coklat miliknya dengan terburu-buru. “Ke kedai minum dekat perempatan jalan.”

                “Sendirian ?”

                Zhang Li Wei menggeleng cepat-cepat. “Tentu saja tidak.” Ia menghentakkan kakinya untuk membersihkan sandalnya dari debu dan menambahkan, “Paman akan minum bersama Hyeon Joon.”

                Mulut Yixing membulat dan ia mengangguk-anggukan kepalanya. “Oooh, teman paman yang dari Korea itu ya ?”

                Zhang Li Wei hanya mengibaskan tangannya cepat-cepat membenarkan. Ia baru saja memutuskan untuk segera berangkat ketika secara tak sengaja ia baru sadar kalau Yixing sedang mengenakan pakaian favoritnya. Kaos dan jaket.

                “Lalu, kau sendiri mau pergi kemana ?” tanya Zhang Li Wei bingung.

                Yixing yang sedang mengunci pintu, mengangkat kepalanya sekilas. “Aku akan pergi ke stasiun sebentar.”

                “Stasiun ?” seru pamannya dengan alis terangkat. “Bukankah kau akan pulang besok bersamaku ?” imbuhnya lagi.

                “Ada orang penting yang harus kutemui,” balas Yixing lugas. Ia mencabut kunci rumah dan berlari keluar. “Paman, aku pergi !” serunya keras-keras. Yixing terus berlari meninggalkan pamannya -yang masih berdiri di teras rumah dengan ekspresi bingung. Ia harus mengejar bus sekarang atau ia akan terlambat untuk sampai di stasiun.

                                                                                **********************

                Yixing berdiri di sebelah tiang di bagian timur stasiun dengan sebelah tangan di dalam saku. Beberapa kali ia melongokkan kepalanya untuk mencari-cari dimana teman misteriusnya itu berada. Meski sebenarnya ia sendiri tak punya bayangan bagaimanakah rupa dari temannya itu. Ciri-cirinya saja ia tak tahu. Jadi yang ia lakukan sebenarnya agak bodoh juga. Ia menunggu sesuatu yang ia sendiri tak tahu.

Sudah hampir setengah jam sejak Yixing sampai di stasiun ini dan menunggu. Dan sampai sekarang ia masih belum ditemukan oleh temannya itu. Apakah aku kurang menampakkan diri ? batinnya dalam hati. Sebenarnya ia sempat memutuskan untuk pergi dari situ dan berkeliling untuk mencari. Namun perasaannya masih ragu untuk pergi. Ia takut bila ia pergi nanti, temannya malah datang kesitu. Jujur saja, ia jadi merasa seperti orang bodoh karena mencari orang yang ia sendiri tak tahu bagaimana rupanya. Benar-benar tak lucu.

 “Bagi penumpang kereta dengan jurusan Beijing ke Changsa, diharap untuk segera memasuki kereta di peron tiga, karena sebentar lagi kereta akan berangkat.”

Tiga puluh detik pertama Yixing masih tak bereaksi apapun dengan pengumuman yang baru saja ia dengar. Ia sedang berputar putar membuat kotak persegi kecil (hal aneh yang biasa ia lakukan saat sedang berfikir) ketika tiba-tiba percakapannya dengan Tao kemarin terangkat kembali di kepalanya.

“Jadi berapa lama kau akan cuti ?”

Kedua sumpit yang digunakan Yixing terangkat di udara. “Mungkin seminggu atau lebih,” ia menjepit sepotong sayuran pedas dan memakannya sembari bicara, “tergantung dengan paman,” imbuhnya lagi.

Tao terdiam. Laki-laki berambut hitam legam itu berpura-pura bermain dengan ponselnya meski matanya sama sekali tak terfokus. “Kau…” ia menggantungkan kalimatnya cukup lama, “akan berangkat besok ?”

Yixing mengangguk meski masih dengan raut wajah tak mengerti. Ia menelan makanannya dengan susah payah. “Memangnya kenapa ?” erangnya dengan tenggorokan nyeri. Ia mengamati Tao yang sedang menepuk-nepuk seragam kerjanya dan tak kunjung jua menjawab. Ia hampir saja berteriak dan bertanya mengapa laki-laki itu malah memilih diam sok misterius, sebelum akhirnya suara serak itu keluar juga.

 

“Sampaikan salamku untuk Yizhi jie-jie.”

 

Hanya satu detik dan setelah itu Yixing mendadak paham. Tao telah benar-benar siap melepaskan Yizhi jie-jie meski rasa sukanya tak pernah hilang.

 Entah kenapa percakapan kecil itu tiba-tiba membuat Yixing berasumsi sesuatu. Jangan-jangan Tao berkata pada teman suratnya itu bahwa hari ini ia akan pulang ke Changsa (Ia belum sempat memberi tahu bahwa jadwal keberangkatannya ditunda), lalu temannya itu sekarang sedang menunggunya di peron untuk jurusan Beijing-Changsa ?

Dua detik yang Yixing untuk menimbang-nimbang (sembari berjalan kesana kemari membentuk garis lurus seperti orang bodoh) sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mempercayai asumsi briliannya barusan.

Ia harus mencari peron untuk keberangkatan Beijing-Changsa.

Ia harus mencari peron tiga !

                                                                ************

Yixing berlari menerobos kerumunan orang-orang yang banyaknya seperti kerumunan kumbang di kebun. Ia sudah bertanya kepada salah satu petugas keamanan (pertugas keamanan sempat bingung karena Yixing mencerocos begitu cepat) dimana letak peron tiga berada. Peron tiga adalah salah satu peron dengan tingkat frekuensi penumpang yang tinggi. Yixing bahkan tak habis pikir kenapa tiba-tiba semua orang jadi ingin pulang ke Changsa di saat seperti ini.

Ia berlari memutari peron tiga bahkan sempat mampir ke peron empat. Tapi ia tetap tak menemukan teman misteriusnya itu. Ia mengumpat marah-marah kepada tembok peron yang terbuat dari bata merah tua yang tak berdosa. Tapi tak lama kemudian ia tertawa dan menyadari kebodohannya. Ia sendiri kan tak tahu bagaimana wajah ataupun ciri-ciri teman misteriusnya, jadi sedari tadi sebenarnya apa yang ia cari ?

Dan entah untuk keberapa kalinya, Yixing benar-benar ceroboh.

Yixing menunggu selama tiga menit sampai akhirnya kereta besi perak itu bergerak. Kereta itu menembus ujung stasiun dan meninggalkan Yixing yang masih seperti orang bodoh di tepi rel. Bersamaan dengan kereta yang meninggalkan stasiun, sebuah perasaan kecewa dengan aneh memenuhi dada Yixing. Ia sendiri tak tahu mengapa tiba-tiba ia merasa kecewa dan bodoh dengan dirinya sendiri. Apakah karena ia melihat kereta yang harusnya ia tumpangi hari ini telah pergi ? Tapi harusnya kan ia tak merasa dirugikan ? Lagipula ia masih bisa pulang besok kan ? Ataukah … mungkin ia kecewa karena tak bisa bertemu dengan teman misteriusnya ?

                Yixing tak tahu.

                Yixing memutuskan untuk meninggalkan peron dengan muka tertunduk (bekas dari efek kecewa yang baru saja ia rasakan). Ia berjalan tanpa melihat apakah jalan yang ia lewati benar adanya, ataukan ada sesuatu di depannya ? Ia tak peduli.

                Angin sore berhembus kencang dan membawa aroma-aroma khas senja hari seperti aroma rerumputan dan aroma bunga yang manis. Jaket abu-abu yang Yixing pakai hari ini berkibar-kibar karena ujung-ujungnya tak dikancingkan pemiliknya (Yixing lebih suka membiarkannya seperti itu karena ia menganggapnya keren).

                Kakinya berjalan menapaki lantai-lantai stasiun yang berkeramik dengan warna-warna kusam dan tua. Benar-benar suram dan tak menarik. Mungkin agak sama dengan suasana hatinya kini. Ia membiarkan kakinya bergerak membawanya pergi tanpa sedikitpun menggunakan matanya. Sampai akhirnya . . .

                BRUK

                Yixing jatuh terduduk dan membuat topi biru yang ia gunakan jatuh entah kemana. Ia bisa mendengar suara desisan dari orang yang ia tabrak. Dari penglihatannya yang masih setengah terpejam karena reflek dari tubuhnya yang masih nyeri, ia bisa melihat bahwa barang dari orang yang ia tabrak, jatuh berhamburan di tanah. Cepat-cepat ia berdiri dan membantu mengambil barang-barang yang jatuh. Hitung-hitung sebagai bentuk rasa penyesalannya karena ia tak hati-hati saat berjalan tadi. Ia mengambil kantung kertas coklat dan sepucuk surat milik orang yang ia tabrak tadi. Ia mengamati kedua barang itu sejenak dengan kening berkerut. Tunggu, rasa-rasanya ia mengenal kedua benda ini. Yixing masih berusaha mengenali kedua benda itu ketika tiba-tiba ia merasa seperti ada sesuatu yang hilang. Ia berpikir sebentar dan salah satu tangannya yang masih bebas bergerak-gerak keatas kepala untuk memastikan sesuatu.

Astaga, topi biruku hilang !

Tanpa sadar, kepalanya bergerak-gerak panik untuk mencari. Matanya menyusuri lantai keramik berwarna putih tulang itu dan menemukan topinya tak jauh dari sebuah kaki berbalut celana denim yang sedang berdiri. Tangannya berusaha untuk mengambil topi itu, tapi sebuah tangan lain yang tak kalah putih dengan kulitnya, mengambilnya lebih cepat. Sontak, Yixing segera mengangkat kepalanya dan tak lama matanya membulat tanpa sadar.

.

.

“KAU ?!”

                                                                                ***************

                Yixing merasa seakan waktu tiba-tiba berhenti berputar. Seolah-olah semua orang sedang dibuat diam dengan mode mute dan pause yang biasa ada televisi. Yixing bisa melihat bahwa orang yang ia tabrak barusan juga melihatnya dengan raut wajah yang sama bingungnya.

                Tiga minggu lalu. Yixing hanya bertemu dengannya sebentar saja. Mungkin hanya sepuluh menit. Tapi sepuluh menit itu ternyata kembali membawanya bertemu dengan gadis itu. Gadis yang kebingungan untuk memilih keju parmesan di swalayan. Gadis berambut panjang dicat pirang madu. Gadis yang belum sempat menyebutkan namanya namun Yixing mendengar teman gadis itu memanggilnya dengan nama …

… Hyoyeon.

                “Apa yang kau lakukan disini ?!”

                Yixing dan gadis itu bertanya dalam waktu yang sama dan menanyakan hal yang sama pula. Mereka menyadari tentang hal itu dan cepat-cepat menutup mulut masing-masing.

                “Kau duluan.”

                “Ladies first.”

                Lagi-lagi mereka mengucapkannya bersamaan. Mereka terdiam dan tak lama tertawa keras karena kebodohan mereka masing-masing. Satu sama lain saling melirik lawan bicaranya meski masih setengah tertawa.

                “Jadi . . . apa yang sedang kau lakukan disini ?” tanya Yixing berusaha membuat mereka tak lagi canggung. Sesekali ia menggaruk-garuk lehernya yang tak gatal.

                Gadis berambut pirang madu itu tersenyum lembut. “Aku sedang menunggu temanku untuk bertemu.” Yixing mengangguk-angguk paham dan berniat untuk bertanya lagi tapi gadis itu menyelanya lebih cepat. “Tapi sepertinya dia sudah pergi,” jelasnya dengan nada biasa. Tapi mau tak mau Yixing bisa mendengar nada sedih dan kecewa disana.

                Ucapannya membuat Yixing ikut merasa seperti berduka. Dia menampakkan ekspresi khidmat yang selayaknya ditunjukkan kepada orang yang sedang sakit. “Aku turut menyesal,” ucapnya lirih.

                Gadis itu menggerakkan bahunya sambil lalu. “Mungkin memang belum saatnya aku bertemu dengan temanku.” Ia menatap Yixing dengan pandangan menenangkan. “O’ya, kalau kau sendiri, apa yang sedang kau lakukan disini ?” tanyanya berusaha mengalihkan pembicaraan.

                Yixing terkesiap dengan pertanyaan gadis itu yang tiba-tiba. “Oh, sama sepertimu aku juga sedang menunggu temanku.”

                Gadis itu melongokkan kepalanya dan tak mendapati orang lagi selain mereka berdua. “Lalu ?” Alisnya terangkat bingung.

                Yixing tak segera menjawab. Ia menunjukkan seringai malu-malunya terlebih dulu. “Aku tak dapat menemukannya,” gumamnya lirih.

                Ekspresi gadis itu masih kabur karena bingung dengan ucapan Yixing. “Aku tak mengerti,” cetusnya dengan kening berkerut.

                “Well . . .” Yixing menjilat bibirnya sekilas, “ceritanya panjang.”

                Gadis berambut pirang madu itu masih setengah bingung namun tampaknya dia sadar dengan keengganan Yixing untuk bercerita. “Oh . . . oke.”

Dan setelah itu mereka berdua sama sama terdiam. Mereka bergerak-gerak gelisah seperti cacing kepanasan. Gadis berambut pirang itu masih berdiri dengan posisi yang sama dan hanya bisa mengintip Yixing lewat sudut matanya. Yixing sama gugup dan canggung seperti dirinya. Hal itu tanpa sadar membuatnya memutar-mutarkan tangan. Dan setelah itu ia baru menyadari dengan benda asing yang ia bawa. Ia menghentikkan gerakan tangannya dan mengamati benda itu dengan bingung. Oh ya, topi !

Gadis itu berdehem sebentar untuk membuat Yixing -yang sedang sibuk bergumul dengan pikirannya sendiri- kembali memperhatikannya. “Apakah ini milikmu ?” Ia menyerahkan topi berwarna biru tua dengan bordiran NY di depannya.

Yixing yang sedang melamun, terkesiap dengan keras karena mendengar pertanyaan gadis itu. Ia mengerjab-ngerjabkan matanya bingung karena tak mengerti. Tapi saat melihat gadis itu sedang mengulurkan sebuah topi padanya, ia langsung paham. “Ah ya, ini topiku,” desahnya kentara sekali senang. “Dimana kau menemukannya ?”

Gadis itu menunjuk sebuah arah dengan jari telunjuknya. “Disekitar sana.” Ia berbalik menghadap Yixing, “Kurasa kau tak sengaja menjatuhkannya ketika kita bertabrakan tadi.”

Yixing membulatkan mulutnya. Sepertinya memang benar kata gadis itu. Ia juga sempat merasakan topinya menghilang sesaat setelah ia terjatuh. Omong-omong tentang barang yang jatuh, Yixing tiba-tiba menyadari sesuatu. Ia melirik kedua tangannya yang sekarang membawa kantong kertas berwarna coklat dan sepucuk surat yang tutupnya sudah terbuka.

Tunggu, rasa-rasanya ia tak asing dengan kedua benda ini.

“Apakah ini milikmu ?” tanya Yixing perlahan.

Gadis itu menolehkan kepalanya. Bola matanya langsung membulat tak percaya. “Astaga, aku pasti tak sengaja menjatuhkannya tadi !” Ia menerima kedua benda yang disodorkan oleh Yixing dengan perasaan lega. “Well, terimakasih,” ucapnya tulus.

Yixing tak berusaha membalas ucapan terimakasih gadis itu dengan kata-kata. Ada hal lain yang mengganjal hatinya. Hal aneh yang sedari tak hilang-hilang. Tentang perasaan familiarnya denga kedua benda itu. “Ka. . .kalau aku boleh tahu,” nada suaranya terdengar ragu dan tak yakin, “apakah isi kantong kertas itu ?”

Yixing bisa melihat bahwa gadis itu sekarang memandanginya dengan tatapan mengapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu ? Yixing tahu pertanyaan itu benar-benar tidak sopan. Tapi ia tak peduli. Ia lebih peduli dengan rasa penasarannya tentang kedua benda itu.

Gadis itu terdiam, lama sekali, sebelum akhirnya menjawab. “Sebenarnya kantong ini berisi roti buatan temanku,” akunya takut-takut sekaligus bingung. “Memangnya kenapa ?”

Jawaban gadis itu bagai sebuah petir yang mengenai kepala Yixing. Rasa-rasanya Yixing seperti dihantam oleh palu raksasa yang kasat mata. “A-apakah kau mendapatkannya dari White Bakery di dekat Jianhua ?”

Nada suara Yixing terbata-bata dan itu membuat gadis di depannya semakin tak mengerti. “Da-darimana kau tahu ?” serunya kagum sekaligus bingung. Awalnya ia sempat menduga bahwa mungkin orang di depannya adalah cenayang. Namun tiba-tiba ia merasa bodoh dengan dugaannya itu. Di jaman sekarang memang masih ada cenayang ?

Yixing terdiam selama beberapa menit berusaha untuk menenangkan. Ia punya asumsi dan semoga saja asumsinya salah. Asumsi gila yang ia dapatkan setelah ia melihat kedua benda yang dibawa gadis itu. “Apakah temanmu yang membuat roti itu bernama . . .” Ia tak berani untuk melanjutkan. Yixing terlalu takut untuk melihar reaksi gadis itu.

“. . .bernama ?” gadis itu memiringkan kepalanya dan mengulangi ucapan Yixing.

Yixing menarik nafas panjang seolah ia benar-benar kehabisan nafas. “Apakah temanmu bernama Lay ?” Pengucapannya pelan, jelas, dan tak mungkin gadis di depannya ini tak mendengar.

.

.

.

Satu menit terasa seperti satu jam bagi mereka berdua. Mereka hanya terdiam saling berusaha untuk mencerna keadaan yang sedang terjadi di hadapan mereka berdua. Yixing masih menunggu gadis itu bicara, sementara sepertinya gadis itu seperti komputer yang sedang hang. Diam, tanpa kata, tak bergerak, dengan bola mata yang membulat sempurna.

Sesaat kemudian gadis itu seperti tersadar dari tidur panjangnya. Ia menatap Yixing seakan tak percaya dengan orang di hadapannya kini. Sebuah suara lirih yang aneh keluar dari mulutnya,

“Apakah kau adalah ….

…. Lay ?”

                                                                ***********************

Bagi gadis itu tak ada yang lebih membingungkan daripada kejadian yang sedang ia alami saat ini. Ia sedang berusaha mencari teman misteriusnya dan tanpa sengaja menabrak orang yang membantunya di swalayan tempo hari. Dan yang lebih mengagetkan adalah, orang yang ia tabrak itu ternyata adalah . . .

. . . Lay ?

Beberapa kali ia mengerjabkan mata, berharap bahwa yang di depannya kini hanyalah mimpi atau khayalannya dan ia akan bangun dalam lima detik kedepan. Namun sebanyak apapun ia mengerjabkan mata dan meminta tubuhnya untuk bangun, ia tahu itu tak berguna. Karena sebenarnya hal yang ada di depannya kini . . . nyata.

Ia kembali menatap laki-laki yang bernama Yixing atau sekarang bernama Lay itu dengan bola matanya yang masih bingung. Ketika matanya menyusuri jaket abu-abu yang dipakai Yixing, ia kembali tersentak pelan. Cepat-cepat ia mengalihkan matanya ke arah topi dengan bordiran NY yang tadi ia temuka dan sekarang sudah berada di tangan Yixing.

Biru !

Jaket abu-abu. Topi Biru.

Sebuah ingatan menghantam otaknya.

Petunjuk di dalam surat dari Lay !

Tiba-tiba semuanya jadi terlihat terang dan begitu jelas bagi gadis itu. Topi yang tadi ia temukan, jaket yang sedang dipakai laki-laki di depannya ini, surat dari Lay, roti aneh buatan Lay, membuatnya mendadak paham dengan apa yang sedang terjadi.

Laki-laki di depannya ini adalah Lay.

Yixing adalah penulis surat dan pembuat roti misteriusnya itu.

Yixing adalah Lay dan Lay adalah Yixing.

Satu kesimpulan dan jawaban dari segala pertanyaan yang selama beberapa bulan terakhir ini menghantui pikirannya,

Yixing dan Lay adalah orang yang sama.

 

Dan gadis itu tak tahu harus bersikap bagaimana.

                                                                **********************

                Yixing tak tahu bagaimana semua ini bisa terjadi. Ia tak mengerti bagaimana bisa gadis yang tak sengaja bertemu dengannya saat di swalayan beberapa minggu yang lalu, adalah orang yang sama dengan gadis penulis surat misterius itu.

                Yixing seperti terbangun dari tidurnya ketika suara gadis itu mendadak masuk ke dalam gendang telinganya. Ia tersentak dan mengerjabkan matanya sekilas. “Ya ?”

                Gadis itu menghela dan menarik nafas berulang-ulang seperti sebuah terapi. Mungkin ia masih terkejut dengan kenyataan di depannya kini. “Apa . . . apakah benar kau adalah Lay ?” Suaranya mencicit seperti tikus.

                Yixing terdiam. Ia tak tahu harus memberikan jawaban seperti apa untuk gadis di depannya kini. Ia sendiri tak tahu seperti apakah jawaban apa yang diinginkan gadis itu. Jadi, sembari berdehem pelan ia menjawab, “Boleh aku membuka isi surat dan kantong kertas berisi roti milikmu ?” Ekspresi kaget yang ditunjukkan gadis itu membuatnya buru-buru menambahkan, “Hanya untuk memastikan saja.”

                Yixing menunggu selama satu menit untuk memberikan waktu bagi gadis itu berfikir. “Bagaimana ?” pintanya lagi.

                Gadis itu mengangguk tertahan. Ia menyerahkan surat dan kantong kertas berisi roti itu kepada Yixing dengan tangan bergetar. Mungkin ia terlalu gugup atau mungkin juga ia terlalu takut. Beberapa kali matanya terlihat penasaran dan lapar dengan kebenaran yang ia inginkan dari dulu.

                Mungkin gadis itu tak tahu, tapi bagi Yixing, perasaannya kali ini sama gugup dan takutnya dengan tangan gadis itu yang bergetar ketika menyerahkan surat dan kantongnya. Bahkan mungkin lebih parah. Dari amplop suratnya saja, Yixing sudah tahu kalau surat ini adalah surat yang sama dengan yang ia tulis beberapa hari lalu. Ia sendiri yang memilih warna amplopnya. Tapi entah mengapa hal itu masih terasa tak cukup baginya. Ia ingin memastikan sendiri sehingga ia benar-benar yakin.

                Tangannya bergetar hebat ketika ia membuka amplop itu dan membuka lipatan kertas di dalamnya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana ekspresinya saat ini. Mungkinkah seperti orang yang baru saja terkena lemparan baseball ? Ketika matanya menangkap huruf pertama di surat itu, mendadak Yixing seperti ingin berjengit.

                Itu suratnya.

                Tapi hal itu masih belum cukup (sesaat setelah ia membuka surat itu dan memastikan tulisannya) cepat-cepat ia membuka kantong kertas coklat yang kata gadis itu berisi roti buatan temannya. Dan mendadak Yixing merasa seperti ingin pingsan. Roti itu, roti yang ia bentuk seperti keong laut, roti yang kata Tao rasanya keren dan enak.

                Itu roti jagungnya.

                Cepat-cepat Yixing menatap gadis di depannya itu masih dengan ekspresi terkejut yang terpampang di wajahnya. Dan dari bola matanya Yixing tahu kalau gadis di depannya itu paham. Gadis itu paham bahwa semuanya adalah benar. Surat ini memang surat yang ia tulis, roti ini memang roti yang ia buat, dan dari semuanya hal yang paling penting adalah,

                Ia adalah Lay dan ia terhubung dengan gadis itu oleh sebuah surat.

                                                                                **********************

                “Jadi . . . “

                Mereka berdua mengucapkan kata yang sama dalam waktu yang bersamaan pula. Mereka terdiam sejenak dan mendadak tertawa karena menertawai kebodohan mereka masing-masing. Satu sama lain saling membuang senyum sembari menggaruk salah satu bagian dari tubuh mereka yang bisa menyembunyikan hal memalukan yang baru saja mereka lakukan.

                “Jadi kau adalah Lay ?” Gadis itu memulai dulu percakapannya. Senyum lebar menghiasi bibirnya yang merekah.

                Yixing mengangguk mendengar gadis itu menyebut nama samarannya. “Jadi kau adalah HY ?” tanyanya dengan pertanyaan yang mirip dengan  gadis itu. Dan gadis itu hanya mengangguk mengiyakan.

                Mereka terdiam dan sekali lagi mereka tertawa untuk menertawakan diri mereka sendiri dan kenyataan yang mengagetkan ini. “Bagaimana bisa ?” gadis itu bertanya di sela-sela tawanya yang terdengar.

                Yixing mengangkat bahunya dengan geli. “Entahlah.” Ia berusaha mengehentikan tawanya dengan menarik nafas panjang. “Mungkin jawabannya sama dengan pertanyaan lebih dulu telur atau ayam.”

                Gadis itu semakin tak dapat menghentikan tawanya mendengar penuturan Yixing yang membandingkan hal ini dengan pernyataan seperti itu. Beberapa kali ia mengusap matanya yang mengeluarkan air karena terlalu banyak tertawa.

                “Jadi, kita mulai dari awal lagi ?”

                Yixing setengah mendengus-setengah tersenyum. “Boleh.” Ia mengulurkan tangannya yang panjang dan berkata, “Aku Zhang Yixing dan aku adalah pembuat roti di White Bakery.”

                Gadis itu menerima uluran tangan Yixing dan tersenyum. “Aku Kim Hyoyeon dan aku adalah penggemar berat kue buatanmu.”

                Bagi mereka berdua, hal aneh yang terjadi di antara mereka mungkin hanyalah sebuah kebetulan yang tanpa sengaja mempertemukan mereka dengan cara yang unik. Namun yang tak mereka tahu adalah, mungkin ini semua adalah cara takdir untuk membuat mereka mengenal satu sama lain dan berada dalam sebuah hubungan khusus.

                Entah itu sahabat atau . . .

                . . . mungkin juga pasangan.

 

EPILOG

                “Jadi apa rencanamu selanjutnya ?”

                Kim Hyeon Joon meminum segelas kecil tuaknya dengan sekali teguk. “Aku berencana untuk mengambil pensiun dan pindah kesini.”

                Zhang Li Wei menaikkan alisnya tak mengerti. “Kenapa tiba-tiba kau ingin pindah kesini ? Apakah ada masalah di Korea ?”

                Hyeon Joon menggeleng cepat-cepat. “Aku merindukan negara ini,” balasnya lugas. “Lagipula putriku juga mengambil pendidikan disini. Jadi kupikir akan lebih baik kalau aku disini juga.”

                Jawaban itu rupanya cukup memuaskan Zhang Li Wei. Laki-laki tua itu mengikuti temannya untuk meminum tuak. Namun tiba-tiba sebuah hal menggelitik kepalanya. “O’ya omong-omong tentang putrimu . . .” ia memberikan jeda sebelum melanjutkan, “apa kau yakin dengan permintaanmu kemarin ? Mengenalkan keponakanku dengan putrimu.”

                Hyeon Joon mengganguk mantap, namun buru-buru ia menambahkan, “Tapi kau jangan salah paham.”

                “Maksudnya ?”

                “Seandainya putriku dan keponakanmu memang tak berjodoh, persahabatan kita tidak akan putus kan ?” ujar Hyeon Joon menjelaskan maksud ucapannya.

                “Hey, tentu saja tidak ! Kita sudah bersahabat lebih dari tiga puluh lima tahun dan apakah waktu selama itu akan hancur hanya karena masalah seperti ini ?”

                Hyeon Joon menghela napas lega. “Syukurlah, kupikir jika rencana ini tak berhasil, persahabatan kita juga akan ikut terganggu.” Laki-laki hampir semua rambutnya sudah memutih itu memakan sepotong roti buatan Zhang Li Wei. “O’ya, apakah kau sudah memberi tahu keponakanmu tentang hal ini ?”

                Zhang Li Wei menjilat bibirnya. “Belum. Kupikir akan lebih baik kalau dia tahu setelah ia bertemu dengan putrimu.” Ia menatap Hyeon Joon, “Kalau kau sendiri.”

                Hyeon Joon menggerakkan sedikit bahunya. “Sama, aku juga belum.” Kepalanya menoleh untuk memanggil salah seorang pelayan mendekat. “Tolong, ambilkan lagi satu botol tuak.” Setelah itu ia kembali menatap Zhang Li Wei, “Omong-omong, aku penasaran dengan keponakanmu. Dia seperti apa ?”

                Zhang Li Wei mengulas senyum kecil. “Dia orangnya punya semangat yang tinggi dan mau berusaha. Ia juga cepat belajar,” tukasnya menjelaskan. Tanpa sadar ia tersenyum saat mengingat Yixing yang selalu berkeinginan menjadi patissier.

                “Dari caramu menjelaskan, sepertinya kau sayang sekali pada keponakanmu itu,” tebak Hyeon Joon setengah tersenyum. “Sepertinya aku akan menyukai keponakanmu.”

                Zhang Li Wei mengangkat bahunya sembari tersenyum lebar. “Aku sudah menganggapnya seperti anakku sendiri.”

                “Kalau begitu ini akan lebih mudah.” Tiba-tiba ponsel milik Kim Hyeon Joon yang diatas meja bergetar dan menimbulkan suara gesekan yang keras. Ia mengambil ponselnya cepat-cepat. “Yobseyo (Halo dalam bahasa korea) ?”

                “ . . . .”

                “Tidak masalah. Kau langsung saja datang kesini. Appa (Panggilan ayah dalam bahasa korea) akan menunggu disini.”

                “ . . . “

                “Hati-hati di jalan.”

                PIP

                “Putrimu ya ?” tebak Zhang Li Wei. Ia mengambil segelas tuak dan meminumnya cepat. “Biasanya kau hanya menggunakan bahasa korea jika menelpon keluarga atau rekan kerjamu,” jelasnya tanpa perlu diminta. Ia sudah terlalu hapal.

                Hyeon Joon hanya tertawa kecil. “Lalu bagaimana dengan keponakanmu ?” tanyanya tiba-tiba teringat.

                “Oh, katanya dia akan sedikit terlambat. Dia sedang mengantar temannya di suatu tempat.” Zhang Li Wei mengelap mulutnya dengan sapu tangan. “Ah, aku sudah penasaran sekali dengan putrimu. Sudah sebesar apa dia sekarang ? Terakhir kali aku bertemu dia masih berumur dua belas tahun.”

                “Kau harus melihatnya sendiri nanti,” tukas Hyeon Joon misterius. Lima menit setelah itu tiba-tiba ada suara teriakan dari pintu kedai. “Appa (Ayah) !”

                Sontak kedua lelaki setengah baya itu membalikkan tubuh dan mendapati seorang gadis dengan tinggi sedang dan rambut dicat pirang madu berdiri tak jauh dari mereka. Gadis itu berlari dan memeluk ayahnya erat-erat.

                “Ayo beri salam dulu kepada paman Zhang !” seru Hyeon Joon kepada putrinya.

                Gadis berambut pirang madu itu mengangguk dan membungkukkan badannya malu-malu. Zhang Li Wei tertawa keras melihat tingkahnya. “Ah, Hyoyeon sudah besar ternyata. Dulu seingat paman kau masih setinggi ini,” ujarnya sembari menunjuk pinggangnya.

                Kim Hyoyeon, putri Kim Hyeon Joon itu hanya tertawa kecil. Ia masih ingat dulu ia pernah bertemu dengan paman Zhang saat acara reuni ayahnya di sebuah restoran.

                Zhang Li Wei tiba-tiba berdiri sembari memegangi perutnya. “Hyeon Joon, aku ke toilet sebentar, oke ?” seru Zhang Li Wei sembari setengah berlari tanpa menunggu persetujuan temannya itu.

                Hyeon Joon hanya tertawa geli melihat tingkah temannya. Kemudian ia menolehkan kepalanya ke arah Hyoyeon. “O’ya dimana temanmu ? Apakah dia masih di luar ?” tanya Hyeon Joon kepada putrinya yang sekarang mengambil duduk di kursi sebelahnya.

                Hyoyeon meminta untuk dibawakan air putih dingin kepada seorang pelayan sebelum menjawab. “Dia sedang mengambil barangnya yang tertinggal di dalam mobil,” jelasnya. Hyeon Joon hanya mengangguk-anggukkan kepala mengerti.

                Tak lama teman Hyoyeon muncul di balik pintu. Seorang laki-laki yang tak begitu tinggi dengan topi biru dan jaket abu-abunya. “Yixing, disini !” teriak Hyoyeon sembari melambaikan tangannya.

                Yixing, laki-laki yang dipanggil Hyoyeon barusan, berjalan mendekat dengan gugup. Jujur saja sebenarnya ia agak merasa tak enak hati karena harus ikut dalam acara keluarga temannya itu. Lagipula ia agak kaget karena tiba-tiba sekarang ia bertemu dengan ayah Hyoyeon.

                Ada seorang laki-laki setengah baya duduk disana selain Hyoyeon. Yixing menebak, mungkin laki-laki setengah baya yang duduk di samping kiri Hyoyeon adalah ayah gadis itu. Dilihat dari cara mereka berdua berbicara dan kemiripan-kemiripan diantara mereka berdua, tak salah lagi, itu pasti ayah Hyoyeon.

                Hyoyeon tersenyum cerah. “Yixing, kenalkan ini ayahku.”

                Yixing tersenyum sopan dan membungkukkan badannya. “Selamat sore paman. Saya Zhang Yixing, senang bertemu dengan anda.”

                “Ah, jadi ini teman Hyoyeon ?” seru Hyeon Joon berusaha terlihat akrab. “Se-“

                “Hyeon Joon, apakah keponakanku sudah datang ?” Suara Zhang Li Wei yang berat dan khas secara langsung menarik perhatian mereka semua. Laki-laki setengah baya dengan perut yang gembul itu sudah menyelesaikan urusannya di toilet ternyata.

                “Oh ya Li Wei, kenalkan ini teman putriku, namanya . . .”

                “Yixing ?”

                “Paman ?”

                Yixing dan Li Wei mengabaikan Hyeon Joon yang sedang berbicara dan mereka saling berteriak tak percaya.

                “Apa yang paman lakukan disini ?!”

                “Apa yang kau lakukan disini ?!”

                Lagi-lagi mereka berkata dengan waktu yang bersamaan. Itu membuat semua yang ada disitu menjadi bingung.

                “Li Wei, kau kenal dia ?”

                 “Yixing, kau kenal paman Zhang ?”

“Tentu saja ! Dia keponakanku yang kuceritakan tadi,” ujar Zhang Li Wei menjelaskan kepada sahabatnya itu.

“Paman Zhang adalah pamanku,” aku Yixing masih setengah bingung.

“HAAA ?!!”

                                                                THE END

Wow, akhirnya udah The End juga hehehehe 😀

Well, maaf banget buat part terakhir yang mungkin mengecewakan dan ga surprising banget. Maaf juga kalau alur sama endingnya yang mungkin ga sesuai harapan kalian. Dan maaf kalau ketemunya mereka klise banget kayak gini T.T

Komplain tentang cerita, pemeran, ataupun hal-hal lain bisa dituliskan di kolom komentar. Oya pemeran utama wanita sudah bisa diliat di poster. Meski sebenernya dari awal namanya udah ditulis di depan u.u

So, makasih buat kesedian dan kesabaran kalian buat baca FF ini. O’ya seperti biasa, Behind The Scene dari FF ini mungkin akan dipost hari rabu atau kamis di Summer’s Note. Jadi kalau kalian punya unek-unek atau masih bingung dengan jalan ceritanya, silahkan tunggu BTS dari FF ini.

At last, Papoy ! ^ ^

With love,

Summer

Advertisements

13 thoughts on “The Desire Dream (Scene 5 + Epilog)

  1. ya ampun thor, udah selese aja ‘-‘ aku baru mau ngasih komentar di part 4 nya ‘-‘

    hebat! terlalu banyak keajaiban yg terjadi diantara Hyoyeon dan Lay, kkk~~
    Daebak thor ^^ bikin lagi dong FF about Hyo /puppy eyes/
    aku masih cinta ff ini loh thorm sampe disimpen di hp malah kkk~
    LOVE IT !!! ^^

    • ya maap deh kalau udah selesai u.u
      sana kasih komen dulu di part 4 wkwkwkw

      hahaha namanya juga fiksi, ya gitu deh pasti banyak keajaiban yg absurd kekekeke

      siap siap ! ^ ^

      makasih udah memberikan cinta pada ff ini, tetap cintai ff dan author ini ya :’)

  2. Bisa dimaklumi thor kalo endingnya kayak gitu, aku juga kalo lagi ‘mengkhayal’ bingung endingnya gimana 😀
    bikin ff hyoyeon yg banyak thor! #KeepWriting^^

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s