Roommates – Shoot Three

room-mates

Roommates – Shoot Three

By wolveswifeu

Starring

Luhan | Sunny

Genre

School Life | Comedy | Romance

Rating

T

Wolveswifeu’s New Fiction, Roommates

                “Temani aku tidur.” Ajaknya. Sunny menurut. Dia berjalan ke sisi ranjang tersebut dan duduk. Luna menarik tubuh Sunny sampai tertidur di atas tubuhnya.

“Disini saja.” Suruh Luna. Sunny mengangguk sambil mulai menutup matanya.

Tiga.

Dua.

Satu.

RATA?

                Sunny mengangkat kepalanya di atas tubuh Luna, lebih tepat di atas dadanya. Luna—Luhan yang masih belum sadar tiba-tiba merasa terkejut ketika melihat Sunny yang sedikit ketakutan.

“Ada apa?” Tanya Luna.

“Kau..” Sunny menunjuk Luna. Luna kebingungan malah membuat posisinya duduk dan bersandar sambil mengangkat kedua alisnya.

“Ya, kenapa?” Tanya Luna dengan santai. Sepertinya dia masih belum menyadari apa yang Sunny sadari.

“Kau, kau rata?” Tanya Sunny balik. Luna terkekeh pelan.

“Hahaha, tentu saja! Aku kan—APA????!!!” Teriak Luna. Gawat, bisa ketawan, batin Luna.

“Kau-kau mengakui bahwa kau itu namja dan rata? Tidak bisa! Aku harus melaporkan ini kepada kepala asrama!” Sunny bangkit berdiri dan memutar tempat tidur itu, hendak keluar dari kamarnya. Tapi, Luna—Luhan jauh lebih cepat. Dia bangkit berdiri dan menhana pergelangan tangan Sunny lalu mendorong dan menghimpitnya ke dinding yang dingin itu.

“Sebenarnya aku bersyukur bisa mengenalmu, Sunny.” Ucap Luhan dnegan nada yang senormal mungkin, tidak dibuat-buat seperti biasanya. Sunny terkejut. Dia mendorong dada Luhan pelan dan..

“Ka-kau namja kan?” Tanya Sunny dengan bergemetar.

“Jika aku katakan iya, apa kau percaya? Mana mungkin ada namja bisa masuk ke dalam asrama khusus yeoja seperti ini?” Tanya Luhan balik. Skakmat bagi Sunny, dia tidak bisa membalas perkataan Luhan lagi.

“Jika aku katakana tidak, apa kau percaya dengan fisik-ku yang sangat teramat menyerupai namja, huh?” Tanya Luhan lagi. Sunny menelan saliva-nya susah payah.

“Ka-kau..”

“Ssssttt!” Luhan meletakkan telunjuknya di depan bibir tipis dan kecil milik Sunny. “Kau tidak boleh marah-marah. Akan nampak aneh dan jelek. Lebih baik kau bersikap manis padaku.” Pinta Luhan. Sunny menepis tangan Luhan dengan kasar dan mendorongnya.

“Jangan permainkan aku!” Teriak Sunny. Dia berjalan ke sofa dan menyalakan TV-nya.

“Jangan berbuat macam-macam atau aku akan laporkan ini kepada kepala asrama!!” Ancam Sunny. Luhan pun bisa menghelakan nafasnya, akhirnya dia bisa aman juga.

                Malampun tiba, biasanya mereka akan menukar canda dan tawa. Tapi, tidak untuk mala mini dan mungkin tidak akan untuk malam-malam selanjutnya. Mereka akan canggung agi, seperti pertama kali mereka bertemu.

Sunny berjalan ke arah tempat tidur miliknya dan Luhan. Dia mengambil bantal dan gulingnya dan meletakkannya di sofa. Luhan yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung heran melihat tingkah Sunny.

“Kau kenapa meletakkan bantal dan guling di atas sofa?” Tanya Luhan. Sunny menoleh dan melototinya.

“Terserah padaku, aku juga tidak rela tidur di sebelah namja.” Jawab Sunny. Luhan berjalan ke arah tempat tidur sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.

“Tapi, kau sudah pernah tidur di sebelah aku bukan? Bersikap seperti biasa sajalah.” Kata Luhan.

“Tidak bisa untuk sekarang.” Balas Sunny dengan dingin.

                Luhan bangun dari tidurnya. Dia menatap jam yang ada di sebelah tempat tidur miliknya dan melihat arah jarum jam tersebut. Jam tujuh pagi sudah. Luhan menguap dan..

“AKU TELAT!” Teriaknya.

                “Maafkan aku guru, aku terlambat.” Ucap Luhan ketika masuk ke dalam ruang kelas. Seluruh isi kelas memerhatikan Luhan yang baru masuk kelas, termasuk Sunny.

“Lima belas menit? Lain kali tidak boleh begitu, silahkan duduk!” Perintah sang guru. Luhan menunduk sebentar dan berjalan ke tempat duduknya yang berada di sebelah Sunny. Mata mereka bertemu. Sunny langsung membuang pandangannya, tapi Luhan tidak.

Beberapa siswi yang melihat mereka langsung terkejut.

“Apa mereka bertengkar?” Terdengar bisikkan dari belakang sana. Luhan menoleh ke asal suara tersebut. Ntah Luhan mengeluarkan tatapan ‘apa’ miliknya sampai-sampai orang yang berbisik itu langsung diam terpaku ketakutan.

Sunny yang sedari tadi tidak mau melihat Luhan, hanya menulis dan hanya melihat buku serta pen yang ada di hadapannya. Sudah berkali-kali Luhan mengundang perhatiannya seperti; meminjam pen, penggaris, bahkan menjatuhkan pennya ke lantai. Tapi, tetap saja. Responnya tidak ada.

                Sunny sedang duduk di kantin sendirian. Ya, sendirian bagi seorang Im Sunny tapi tidak bagi Luhan dan ornag sekitarnya. Yang mereka lihat adalah Sunny sedang duduk di sebelah Luna. Ya, hanya Sunny yang mengetahui siapa Luna sebenarnya walaupun masih belum tau tentang nama aslinya.

Sunny meminum jus yang ada di hadapannya sampai habis tanpa sisa. Bahkan terdengar suara sedotan yang dari menyedot sisaan jus dan udara sampai terdengar suara bising.

“Sudah habis, Sunny.” Kata Luhan. Sunny menoleh ke arah Luhan lalu meminumnya lagi.

Tiba-tiba banyak siswi yang berdatangan sambil menghampiri seorang yeoja yang tidak kalah cantik dari Sunny, Kwon Yuri. Kakak kelas Sunny ini sangat teramat disukai banyak orang, apalagi pribadi dia yang sangat baik.

“Yuri unnie, chukkaeyoo!” Ucap salah seorang siswi.

Sunbae, selamat ya!” Sambung siswi lain.

“Hwaaa, unnie-ya! Chukkaeyo sudah jadian dengan Oh Sehun!” Sunny tersedak ketika mendegar perkataan itu.

“Ohok! Ohok!” Sunny batuk-batuk. Dengan cepat Luhan mengambil tissue yang tak jauh dari dirinya dan memberikannya pada Sunny. Sunny menerimanya dan menutup mulutnya lalu bangkit berdiri meninggalkan kantin. Mungkin semua siswi masih sibuk memberikan Yuri selamat jadi taka da yang sadar, kecuali Luhan.

                Sunny duduk di atas bangku panjang di belakang asrama ini. Dia bolos jam pelajaran keempat pada hari ini. Sebuah aliran air mengalir di pipi indah milik Sunny. Dia menangis. Dengan tissue yang diberikan oleh Luhan tadi, dia menutup sebagian wajahnya.

“Jangan menangis!” Minta seseorang dari belakang Sunny. Orang itu memeluk Sunny. Memeluknya dnegan erat.

“Jangan menangis! Bukankah kau sudah putus dengannya? Kau tidak menyukainyakan?” Tanya orang itu. Sunny menghapus air matanya sampai tidak ada sama sekali. tapi tetap saja. Matanya yang sembab dan hidungnya yang memerah belum hilang. Sunny menoleh ke arah orang tersebut.

“Aku tidak menangis, Luna-ya.” Kata Sunny. Luhan—Luna berjalan lalu duduk di sebelah Sunny.

“Namaku bukan Luna.” Ucap Luhan. Sunny mengangguk.

“Aku tahu, Luna itu nama yeoja.” Balas Sunny. Sebuah uluran tangan muncul di hadapan Sunny. Sunny bingung lalu menatap Luhan –pemilik tangan tersebut.

“Huh?” Respon Sunny.

“Namaku Luhan, namamu?” Luhan memperkenalkan dirinya seolah ini sebagai pertama kalinya mereka bertemu.

Sunny menyambut tangan Luhan lalu tersenyum. “Namaku Sunny, Im Sunny. Salam kenal, Luhan!” Balas Sunny. Luhan tersenyum membalas perkataan Sunny tersebut.

                Sunny dan Luhan sudah keluar dari gedung sekolah mereka. Mereka tengah berjalan ke gedung asrama mereka. Keduanya tersenyum tidak jelas dan terlihat agak salah tingkah. Luhan mellihat kanan dan kiri, melihat keadaan sedang sepi atau tidak. Aman, ucap Luhan dalam hati.

Dengan yakin Luhan menyentuh dan mengenggam tangan kiri Sunny dengan tangan kanannya. Sunny menoleh ke arah Luhan dan tersenyum malu tersipu. Sunny menutup setengah wajahnya dengan tangan kananya dengan malu-malu.

“Tidak apa kan?” Tanya Luhan. Sunny mengangguk. Melihat Sunny yang mengangguk, Luhan mempererat genggaman mereka. Sunny juag memperdekat jarak mereka dan menyembunyikan tangan mereka di balik badan Sunny.

“Biar tidak ada yang melihat! Hehe.” Kata Sunny.

                Baru saja mereka tiba di kamar mereka tapi Sunny sudah bergegas untuk keluar dari kama rlagi. Luhan yang melihatnya langsung bingung.

“Kau mau kemana, Sunny?” Tanya Luhan. Sunny menoleh dan tersenyum.

“Kau lapar bukan? Aku mau membeli makan siang.” Jawab Sunny.

“Aku saja!” Luhan mengajukan dirinya dan berdiri lalu menghampiri Sunny. Sunny tersenyum, nampaknya sebuah ide menghampiri benak Sunny.

“Makan siang bersama di luar, bagaimana?”

                Mereka berjalan di tengah jalanan Seoul yang ramai. Luhan memakai jaket dan hoodie-nya terpasang di kepalanya. Sedangkan Sunny hanya memakai baju kuning dengan lengan panjang dan rok putih. Tangan mereka saling mengenggam satu sama lain. Ntah, hubungan mereka seperti apa sekarang.

“Makan apa?” Tanya Sunny.

“Bagaimana dengan—“

“Aku tahu!” Seru Sunny dengan semangat.

“Kalau tahu, kenapa bertanya? Babo!” Luhan menjitak kepala Sunny pelan.

“Aw! Sakit!” Ringis Sunny.

“Hah? Apa terlalu keras?” Tanya Luhan dengan khawatir. Sunny Langsung menonjok perut Luhan pelan.

“Ugh! Ini lebih sakit, Sunny!” Tegur Luhan.

“Tapi, kau yang memukulku duluan. Mana ada seorang namja memukul yeoja?” Tanya Sunny. Luhan diam lalu memeluk pinggang Sunny dengan erat. Mereka hampir berpelukkan sekarang di tengah kerumunan orang-orang ini.

“Sebagai gantinya, aku akan mentraktirmu, bagaimana?”

                Luhan dan Sunny sudah selesai dengan acara makan siang mereka. Merek juga sempat berjalan-jalan ke tempat lain berdua, hanya berdua. Akhirnya mereka pun menyelesaikan aktivitas mereka hari ini. Mereka berjalan dan sekarang sudah berada di depan kamar asrama mereka.

“Hehe, terima kasih atas hari ini.” Ucap Sunny sambil membuka pintu kamar mereka.

“Aku juga.” Sahut Luhan. Pintu pun terbuka dan mereka masuk ke dalam kamar mereka. Tiba-tiba Luhan memeluk Sunny dari belakang dan menutup pintu kamar mereka dengan kakinya. Sunny terkejut, dia berusaha melepaskan pelukkan Luhan.

“Jangan Sun! Biarkan saja seperti ini.” Kata Luhan. Sunny diam. Apa maunya Luhan yang sebenarnya?

“Malam ini kau harus tidur di tempat tidur. Jika kau tak nyaman, aku bisa tidur di atas sofa.” Kata Luhan. Sunny memutar tubuhnya dan berhadapan dengan Luhan sekarang.

“Aku bisa tidur di atas sofa kok. Tenang saja, Luhan.” Ucap Sunny. Luhan tersenyum. Ah, jantung Sunny berdegup lebih kencang.

“Kau, apakah kau merasakan hal yang sama denganku?” Tanya Luhan.

“Merasakan? Mak-maksudmu?” Tanya Sunny balik.

“Jantungmu berdegup tidak karuan, hawa di sekitarmu menjadi panas, tubuhmu bergemetar, keringat keluar dari pori-pori kulitmu, apakah kau merasakan itu ketika aku menatap matamu? Atau ketika aku senyum padamu?” Tanya Luhan.

Sunny terdiam.

“Sunny..” Luhan memanggil Sunny yang masih terdiam. “Sun?” Panggilnya sekali lagi.

“Uh, ya??” Tanya Sunny.

“Kau merasakan hal yang sama?” Tanya Luhan. Sunny menggigit bibir bawahnya.

“A-aku,” Sunny mengepal kedua tangannya. Dia gugup. “Aku juga merasakan hal yang sama.” Lanjutnya.

CUP!

                Luhan mencium bibir Sunny sekilas dan tersenyum.

“Kita resmi mulai hari ini.” Kata Luhan.

“Res-resmi apa?”

“Sebagai sepasang kekasih!”

TBC

15 thoughts on “Roommates – Shoot Three

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s