Roommates – Shoot Two

room-mates

Roommates – Shoot Two

By wolveswifeu

Starring

Luhan | Sunny | Minseok

Genre

Romance-Comedy-School Life

Rating

T

Wolveswifeu’s New Fiction, Roommates

                Seorang namja memakai hoodie-nya lalu menaiki tangga yang berada di luar asrama perempuan ini dengan pelan-pelan dan hati-hati. Sebegitu sampainya dia depan pintu kamar di salah satu asrama ini yang ada dua gantungan kecil yang bertuliskan ‘Im Sunny’ dan ‘Xi Luna’. Tangan namja itu terangkat dan mengetuk daun pintu itu dengan pelan-pelan samil menengok ke kanan dan kiri untuk memastikan bahwa keadaan asrama sedang aman.

TOK TOK TOK

Pintu itu dengan cepat terbuka. Minseok langsung memamerkan senyum paling menawan yang ia miliki. Dia sangat berharap yang membuka itu Sunny namun.. salah. Siapa dia?

A-annyeong!” Sapa orang itu. Cantik, respon Minseok.

“Luna-ah, siapa it—“ Pertanyaan Sunny berhenti ketika melihat seorang Oh Minseok berdiri di depan pintu dengan hoodie yang menutupi kepalanya.

“Untuk apa kemari?” Tanya Sunny dengan dingin.

“Aku rindu padamu, Sun.” Jawab Minseok.

Menjijikan, batin Luhan.

Sunbae.. Silahkan masuk.” Ajak Luhan.

“O-oh, iya.” Balas Minseok dengan gugup.

“Luna, kau masuk dulu.” Ucap Sunny sambil melipatkan kedua tangannya di depan dadanya, Luhan—Luna menurut dan masuk ke dalam. Sunny langsung melemparkan death glare-nya ke Minseok.

“Kita baru saja putus,” Ucap Sunny menggantung. Minseok menaikkan salah satu alisnya. “Tapi, kau sudah menggoda wanita lain. Genit.” Lanjut Sunny. Minseok tercengang. Menggoda?

“Ma-maksudmu?” Tanya Minseok dengan gugup.

“Kau,” Sunny menunjuk Minseok tepat di depan wajahnya. “Menggoda Luna.” Lalu menunjuk pintu yang sudah tertutup di belakangnya.

“A-apa?!” Respon Minseok.

“Apa?! Kau menanyakan hal –“ Minseok langsung mendorong Sunny sehingga membentur pintu yang ada dibelakang Sunny.

“Aw!” Ringis Sunny.

“Aku tidak menggodanya, Sun.” Minseok menaikkan tangan kanan dan kirinya dan menyandarkannya di pintu.

“Bukankah kau tahu bahwa hanya kau yang aku cintai?” Tanya Minseok. Wajah Minseok mulai mendekati Sunny. Sebenarnya Sunny ingin teriak tapi konsekuensinya besar. Jika tertangkap ada seorang namja disini pasti akan bahaya, bukan hanya untuk Minseok. Tapi untuk Sunny dan Luna juga.

Wajah Minseok semakin mendekat-mendekat-mendekat-dan..

                Suara benturan yang lumayan keras itu membuat Luhan—Luna menjadi sedikit penasaran. Luna menempelkan telinganya di daun pintu tersebut.

Bukankah kau tahu bahwa hanya kau yang aku cintai?

                Mendengar pertanyaan itu Luna merasa khawatir. Sepertinya ada yang tidak beres di luar sana. Dengan yakin dia memegang gagang pintu lalu menurunkannya dan membukanya dengan cepat.

BRUK!

                Sunny menimpah Luna dengan Minseok yang tengah berlutut di depan pintu. Untung saja Minseok bisa menahan dan menopang tubuhnya sendiri. Jika tidak, bagaimana nasib Luna?

“Akk! Appo!” Keluh Luna. Sunny langsung bangkit berdiri.

“Luna-ya.. Kau baik-baik saja? Ayo aku bantu berdiri!” Ajak Sunny. Kedua tangan Luna dipegang oleh Sunny. Wajah Luna langsung memerah. Ada yang berbeda.

“Ayo!” Seru Sunny. Luna berusaha untuk berdiri namun dia terjatuh lagi, kakinya terkilir. Minseok berdiri dari posisinya dan berjalan mendekati dua orang tersebut. Dua wanita yang amat cantik.

“Perlu bantuan?” Tawar Minseok. Mata Luna melebar karena terlalu terkejut. Bukan hanya Luna, Sunny-pun begitu.

A-aniyooo..” Jawab Luna dengan cepat.

“Tak apa, tak masalah.” Respon Minseok. Dia berjongkok dan menggendung Luna ala bridal. Luna sangat teramat terkejut langsung memeluk tubuhnya sendiri.

“Yak!! Kau, Kim Minseok!! Dasar pria penggoda!” Sunny menendang bokong Minseok –pelan yang membuat Minseok agak terdorong ke depan dan langsung terjatuh. Untung saja ada sofa di depannya, jadi dia selamat.

Ya, Minseok selamat. Tapi tidak untuk Luna dan Sunny.

“KIM MINSEOK!!” Teriak Sunny.

“UMMAAAAA!!” Teriak Luna.

Dan mulai saat itulah kamar Sunny dan Luna menjadi sangat bising. Untung saja setiap kamar di asrama ini kedap suara.

                Luna dan Sunny sudah berbaring di atas kasur mereka. Dengan satu bed cover. Mereka sudah menyamakan diri satu sama lain dan mulai mengerti satu sama lain. Oleh sebab itu, mereka lebih akrab sekarang. Luna menatap langit kamar mereka dengan tatapan kosong. Tapi, gerakan yang muncul di sebelah kirinya itu mengundang Luna untuk menoleh ke arahnya.

“Sun, belum tidur?” Tanya Luna. Sunny menoleh.

“Belum, aku tidak bisa tidur.” Jawab Sunny.

“Oh..” Respon Luhan.

“Kau? Apa yang kau pikirkan sampai-sampai kau belum tidur?” Tanya Sunny.

“Tidak memikirkan apa-apa.” Jawab Luhan.

“Oh begitu,” Balas Sunny. Mereka diam sejenak. “Jadi langit-langit kosong itu menarik ya?” Tanya Sunny berusaha mencari alasan mengapa Luna belum tidur.

“Tidak kok.” Jawab Luna. Dia melipat tangannya dan meletakkannya di bawah kepalanya.

“Kau dan Oh Minseok, apakah masih saling mencintai?” Tanya Luna. Sunny langsung duduk ketika mendengar pertanyaan itu.

“Ma-maksudmu? Kau menyukainyakah?” Tebak Sunny. Luna yang mendengar itu langsung ikutan duduk.

“Tidak kok!” Jawab Luna.

“Serius?” Sunny memastikan sambil tersenyum misterius.

“I-iya, aku serius!”

                Seperti biasa, Sunny selalu bangun lebih pagi dari Luna. Sunny sudah berpakaian rapi dengan seragam. Hari ini dia memakai celana. Dia duduk di posisi tempat tidurnya sambil menyilangkan kakinya dan memerhatikan Luna.

“Dia cantik.” Puji Sunny. Dia memerhatikan Luna lebih lagi lalu memiringkan sedikit kepalanya layaknya ornag berpikir. “Tapi, juga tampan.” Lanjut Sunny. Dia langsung menggelengkan kepalanya. “Membingungkan!”

Baru saja Sunny ingin mengguncangkan tubuh Luna tapi dia baru ingat bahwa Luna masih cedera karena kecelakaan kecil kemarin.

“Lebih baik tidak usah kubangunkan ya?” Tanya Sunny apda diri dia sendiri. “Baiklah, sampai nanti!” Pamit Sunny.

                Sunny berjalan di lorong gedung sekolahnya. Dengan ransel yang dia pikul dia berjalan dengan semangat serta bersenandung pelan. Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dengan pelan.

“Pagi!” Sapa orang itu. Sunny sangat mengenali suara ini. Mirip dengan suara, Luna? Sunny menoleh dengan cepat.

“LUNA? Kenapa bisa disini?!” Tanya Sunny dengan khawatir.

“Kenapa? Kok bertanya? Aku mau ke sekolah.” Jawab Luna dengan semangat, tak kalah dengan Sunny.

“Kau, kau masih sakit!” Tegur Sunny. Luna tercengang. Sebegitu perhatiannyakah Sunny pada dirinya? Sayangnya yang Sunny ketahui adalah Luna adalah Xi Luna, bukan Xi Luhan.

“Luna-ya.. kau harus istirahat! Oleh sebab itu aku tidak membangunkan—“ Mulut Sunny ditutupi dengan telapak tangan Luna.

“Sssstt!” Luna menyuruh Sunny diam. “Tenang saja, aku bisa kok. Hanya belajar kan?” Tanya Luna. Wajah Sunny langsung memerah.

“I-iya.” Jawab Sunny. Sepertinya orang yang disekitar mereka berpikir bahwa mereka adalah penyuka sesama jenis, mungkin.

Seorang guru memasuki ruang kelas Sunny dan Luna. Guru olah raga.

“Hari ini, guru Lee tidak datang karena ada acara keluarga yang sangat penting. Oleh sebab itu, kalian bisa ke loker milik kalian masing-masing, mengambil seragam olah raga kalian dan kita akan memulai pelajaran kita, olah raga.” Jelas sang guru.

“Guru Shim, apa yang akan kita lakukan hari ini?” Tanya salah satu murid.

“Berenang!” Jawab Guru Shim dengan semangat. Berbeda dengan Luna. Matanya melebar bahakn mulutnya juga. Luna—Luhan dalam masalah sekarang.

                Semua murid sedang berada di ruang ganti. Kecuali Luna, dia duduk di salah satu bangku sambil memeluk seragam miliknya. Dia menggunakan obat maag miliknya yang selalu dia bawa kemana-mana –Luna memiliki penyakit maag yang parah– lalu mengolesinya di permukaan bibirnya yang menbuat bibir Luna nampak putih pucat.

Sunny baru saja keluar dari kamar ganti dan melihat Luna yang memeluk tas gantinya seakan-akan terlihat memeluk perutnya sendiri dengan bibir yang pucat serta keringat yang keluar dari pori-pori kulitnya.

“Luna!” Panggil Sunny dengan panik. Sunny memegang dahi Luna, lehernya, dan kedua tangannya.

“Luna! Kau sakit?! Ayo, kita kembali ke asrama!” Ajak Sunny dengan cepat. Luna yang masih menunduk sangat dalam itu bisa menyunggingkan senyumannya.

                “Guru, ayolah, kasihani Luna. Dia sedang tidak enak badan. Ayolah kali ini saja aku menemaninya.” Luna mendengar Sunny memohon-mohon kepada Guru Shim. Sebenarnya sandiwara Luna itu tergolong akut dan berbahaya. Namun, mau apa lagi? lebih bahaya jika dia tertangkap basah dengan dada yang rata.

“Guru, kumohon!” Mohon Sunny. Tidak ada jawaban. Sunny menyatukan kedua tangannya di depan wajah guru itu sebagai tanda memohon.

“Guru..” Mohon Sunny.

“Baiklah—“

“YEAAAAY! Ayo Luna! Kita harus cepat!” Sunny langsung menarik Luna pergi dari sana.

“Dasar Sunny!” Celoteh Guru Shim sambil terkekeh pelan.

                “Luna, kau tidur sekarang ya?” Suruh Sunny. Luna mengangguk. Sunny baru saja ingin bangkit berdiri dari tepi ranjangnya, berniat membuatkan Luna semangkuk bubur hangat tapi pergelangan tangan Sunny di tahan.

“Jangan tinggalkan aku, Sunny.” Minta Luna. Dahi Sunny mengerut, jantungnya berdetak lebih kencang, kenapa jika mereka melakukan kontak secara langsung seperti ini pasti selalu hal ini yang terjadi? Jantung berdetak kencang, wajah mereka bersemu merah, apakah mereka mulai jatuh cinta?

“Luna?”

“Jangan Sun.” Kata Luna. Dia menepuk-nepuk ranjang yang masih memiliki ruang di sebelahnya.

“Temani aku tidur.” Ajaknya. Sunny menurut. Dia berjalan ke sisi ranjang tersebut dan duduk. Luna menarik tubuh Sunny sampai tertidur di atas tubuhnya.

“Disini saja.” Suruh Luna. Sunny mengangguk sambil mulai menutup matanya.

Tiga.

Dua.

Satu.

RATA?

TO BE CONTINUED!

NYEHEHEHE

10 thoughts on “Roommates – Shoot Two

  1. uwaa:3 ffnya bikin deg-degan🙂 sumpah gabisa bayangin luhan pake rok :’)) cepet lanjut thor:3 aku suka pairingnya😀 daebak!!

  2. q ngakaka bacanya. .hahaha. .
    .kyknya kai atau chen lbh cocok meranin minseok. . Pa lg wkt bca bgian minseok gnd0ng luhan ala bridal. .rada gimana gt ngebayanginnya. .soalnya kalu minseok kan gak tinggi2 bngt . .jd rada gimana gt. .maaf gk maksd nyingung. .
    .
    .part selnjtnya di tnggu. .

  3. uwaaah……sunny tidur di dadanya luhan???pasti…sunny ngerasa deg-degan bgt deh,.hihihihi
    ngebayangin luhan masuk asrama ce + sekamar m ce yg cerewet n tomboy macem sunny???ugghhhh…..kayanya bakalan jadi benci jadi cinta neh….hihihiihihi
    kalo sunny tau luna itu luhan gmna ya reaksinya sunny???

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s