P.U.T.U.S

PUTUS

P.U.T.U.S

Writing by Priskila (@priskilaaaa)

Kim Joonmyun [EXO K] – Tiffany Hwang [GG]

Ficlet | PG – 15 | Romance – Angst – Married Life

Disclaimer:

I don’t own the cast. But the storyline and the plot is mine. Everything here belongs to God and their family, their agency too. I just used their physical representation. 

P untuk Perpisahan

 

“Kau memang paling tidak pernah mengerti tentang aku! Kau selalu memusingkan hal lain! Kau tidak pernah memikirkanku, Kim Joonmyun! Egois!!!”

“Apanya yang tidak pernah mempedulikanmu?! Aku bekerja demi kau, Tiffany! Seenaknya saja kau bilang aku egois!”

“Ya! Kau memang egois! Selalu membuat diri sibuk, dan tidak menghiraukan aku! Sebenarnya aku ini siapamu!? Istrimu atau hanya angin saja untukmu, ha?!”

“Bodoh! Aku mencari nafkah sebagai kepala keluarga—“

“Tapi tidak dengan begitu caranya!!! Aku tidak harus hidup bergelimang harta, asal kau selalu berada disisiku saja aku cukup!”

“Oh, jadi kau mau menjadi orang miskin begitu? Aku tidak. Silahkan saja kau sendiri saja yang merasakannya. Aku tidak mau menjadi orang miskin yang harus hidup dijalanan.”

Teriakan demi teriakan terdengar dari kediaman keluarga kecil yang baru saja terbentuk setahun lalu itu. Kim Joonmyun dan istrinya tampak begitu saling mencurahkan emosi mereka satu sama lain. Tak ada pengertian. Tak ada yang mau mengalah. Semuanya hanya melampiaskan ego dan emosi mereka.

Hanya karena masalah sepele sebenarnya. Tiffany yang tidak tahan dengan Joonmyun yang lebih mementingkan pekerjaannya sebagai manajer perusahaan dibanding dirinya. Tiffany yang rindu dengan perhatian Joonmyun dengan tanpa pikir panjang mencurahkan semua amarahnya pada Joonmyun malam itu, dan tentu saja mengundang kemarahan dari Joonmyun yang tak terima.

Saling pihak yang mempertahankan ego mereka mengundang mereka dalam pertengkaran hebat. Pertengkaran yang sepertinya tidak akan berujung jika bermain dengan ego.

Hingga sebuah kata yang seharusnya tak diucapkan dalam pernikahan itu keluar pada malam yang dingin itu,

“Baiklah, kita cerai!”

“Terserah kalau itu maumu! Aku bisa hidup tanpamu! Aku juga takkan tahan hidup dengan wanita pemarah sepertimu! Wanita egois!”

“Kau kejam, Joonmyun. Kau berbeda dengan yang dulu—“

“Kau yang lebih berbeda! Dimana Tiffany manis yang dulu!? Aku benci Tiffany yang pemarah sepertimu!”

“Aku lebih membencimu! Pergi dari rumah ini!!!”

“Baik! Aku pergi!”

U untuk Ucapan selamat tinggal

Hari – hari selanjutnya terasa berbeda. Tiffany merasakannya. Namun tetap saja ego membuatnya gengsi untuk meminta maaf pada Suho. Kerap kali sahabat – sahabatnya berkata padanya untuk menyudahi segala pertengkaran ini. Terlalu kekanakkan, kata mereka. Tapi apa mau dikata, saling pihak sudah memutuskan untuk berpisah untuk beberapa saat.

Walaupun kata cerai telah terucap, tapi sepertinya sepasang sejoli itu masih enggan membawa masalah mereka ke meja hijau dan mengakhiri kata keluarga di antara mereka. Masih ada cinta yang tersisa di lubuk hati itu.

“Joonmyun-ah…”

Pikirannya bergelayut. Jujur saja, Tiffany merindukan suaminya itu. Suaminya yang sudah sebulan tak pulang. Jauh – jauh kata pulang, deringan telepon darinya saja tak terdengar.

“Pulanglah…” gumamnya penuh rindu saat menatap pigura pernikahan mereka yang pecah karena tragedi malam itu. Tiffany dengan tanpa pikir panjang membanting foto pernikahan mereka yang tergantung, membuat piguranya hancur berkeping – keping. “Jujur saja, aku merindukanmu” lirihnya lagi.

TOK TOK TOK

Wanita itu berpaling dan segera membuka pintu depan rumah. Dan tampak Joonmyun di hadapannya. Lelaki yang dirindukannya kembali. Namun lagi lagi gengsinya menguasai dirinya. Dengan sinis, Tiffany mendelik pada Suho dengan tangan bersedekap dada, “Buat apa kau kesini?” tanyanya dengan sinis.

Joonmyun memandang Tiffany tak suka, “Aku juga sebenarnya tak ingin datang lagi. Aku hanya ingin mengambil barang yang tertinggal saja” balasnya tak kalah sinis dan masuk ke dalam rumah – sebelumnya menabrak bahu Tiffany dengan keras.

Tiffany merasa tertohok dengan perkataan suaminya itu. Sungguh, lelaki itu masih membencinya? Rasanya air mata hampir mengalir jika saja suara Joonmyun tak terdengar kembali, “Dan sekalian, aku hendak memberikan ini” Joonmyun melemparkan sebuah amplop cokelat ke meja ruang tamu.

Wanita itu mengernyit, namun dengan pongah berjalan meraih amplop itu lalu membukanya. Matanya membaca setiap deretan kalimat di kertas putih itu dan kemudian menatap Joonmyun dengan pandangan sulit dimengerti, “Surat… cerai?”

“Ne, kau ingin kita cerai kan? Aku sudah mengurusnya. Dan tinggal kau tanda tangani saja. Mudah” jawab Joonmyun tetapi tidak memandang Tiffany. Lelaki itu merasa terlalu gengsi untuk kembali menatap istri—atau yang akan sebentar lagi disebut mantan istri.

Tidak, jangan, jangan bercerai. Rasanya itu yang ingin dikatanya, namun “Baiklah,” Tiffany mengambil bolpoint dan membubuhkan tanda tangannya di kertas, “Kita resmi… bercerai” katanya lalu memberikan kertas itu pada Joonmyun.

Joonmyun menatap kertas itu sejenak, lalu kemudian mendongak menatap Tiffany, “Selamat tinggal,… Tiffany Hwang” lalu berjalan keluar pergi dari rumah itu. Untuk selamanya.

T untuk Tangisan

“Selamat tinggal,… Tiffany Hwang”

Kata itu adalah kata terakhir dari Joonmyun sebelum akhirnya lelaki itu pergi. Benar – benar pergi dari kehidupannya. Setahun lebih. Bayangkan setahun lebih Tiffany merasakan kesendirian itu lagi setelah dua tahun sebelumnya mereka telah berjanji untuk hidup bersama. Rumah besar itu ditinggalinya seorang diri. Tentu membawa kesepian yang mendalam bagi Tiffany.

Namanya bukan lagi Kim Tiffany seperti yang dibanggakannya dulu – setelah dirinya menikah. Namun kembali menjadi seorang Hwang Tiffany. Nama yang sempat ditinggalkannya karena telah menyandang marga Kim di depannya.

Berbeda. Tentu saja. Malam dingin yang biasanya dihangatkan dengan pelukan suaminya itu berubah menjadi malam penuh pilu juga tangisan. Tiffany merindukannya, dia rindu sosok yang selalu memeluk hangat dirinya.

Hari demi hari hanya dilaluinya dengan sepi. Rasa sepi itu seperti menusuk setiap inci tubuhnya, membawa tangisan yang tak henti. Tiffany menyesal. Menyesal. Seharusnya dia tidak sepenuhnya mementingkan egonya saat itu. Seharusnya dia tidak…

Sudahlah, semua sudah terlambat.

“Joonmyun-ah…” Lagi – lagi wanita itu hanya meringkuk di dalam selimut malam itu. Tak ada yang dapat menghangatkannya. Selimut tebal itu tak mampu membuat dinginnya malam menghangatkannya. Dirinya hanya dapat mengalirkan air mata perih.

“Kembalilah. Aku membutuhkanmu…”

Dan impian itu hanyalah angan tak tersampaikan. Joonmyun,… dia takkan kembali kan?

U untuk Undangan

 

Undangan. Atau lebih tepatnya, sebuah undangan pernikahan.

Pagi ini Tiffany mendapatkan undangan di depan rumahnya. Entah siapa yang meletakkan undangan dengan nuansa emas itu, tapi yang pasti Tiffany yakin undangan itu untuknya.

Kepada Yth,

Tiffany Hwang

Namanya tercetak dengan jelas disana. Dengan penuh rasa penasaran, Tiffany membuka undangan itu. Siapa kira – kira yang akan menikah? Matanya membaca dengan teliti setiap kata yang tertulis, hingga akhirnya terasa sekali jika jantungnya terdegup keras. Deg, mungkin begitulah yang terdengar ketika matanya menangkap nama sang pengantin.

Kim Joonmyun &

Seo Joo Hyun

Joonmyun? Joonmyun akan menikah setelah satu setengah tahun berpisah dengannya? Ini serius? Mimpikah ini?

Tiffany merasa matanya berair, memaksa untuk keluar saat itu juga. Tidak, ini bohong. Pasti bohong. Joonmyun bercanda kan? Lelaki itu tidak mungkin menikah. Tidak. Lelaki itu hanya mencintainya. Lelaki itu berkata dia mencintai Tiffany… tapi dulu. Dulu sekali, ketika kata cerai itu belum keluar dari mulut mereka berdua.

Wanita itu jatuh terduduk ke lantai. Melampiaskan semua kepedihan. Hidupnya berakhir. Berakhirlah sudah. Joonmyun benar – benar meninggalkannya.

S untuk Sesal

Menyesal. Menyesal. Menyesal. Tiffany sangat sangat menyesal.

Seharusnya ini semua tak terjadi. Mata dan hatinya terasa pedih melihat Joonmyun memasukkan sebuah cincin ke jemari manis wanita itu, pengantinnya. Melihat Joonmyun tersenyum dan mencium penuh kasih wanita bernama Seo Joo Hyun itu. Tidak, seharusnya bukan wanita itu yang berada disana. Itu tempatnya beberapa tahun yang lalu. Hanya miliknya…. lagi – lagi, dulu.

“Wah, mereka tampak serasi sekali ya.”

“Kudengar Joonmyun dulu pernah menikah sebelum dengan Joohyun.”

“Iya, tapi baru setahun menikah mereka sudah bercerai. Dengar – dengar istrinya sangat pemarah dan egois, makanya mereka bercerai. Wah, tipikal istrinya mengerikan sekali.”

Tiffany hanya menggigit bibir bawahnya, seiring air matanya yang sudah membasahi pipi. Berusaha menahan isakan yang nyaris keluar dari bibirnya. Andaikan saja waktu itu dia lebih bersabar, pasti semua ini takkan terjadi. Andai saja dia tidak egois, pasti Joonmyun masih bersamanya. Andai saja saat itu dia tidak termakan emosi, pasti masih setiap malam Joonmyun memeluknya. Pasti… tapi semua itu hanya dapat sebuah andaian.

Rasanya sakit sekali.

Dan Tiffany tau semua ini karena apa, karena dirinya masih mencintai lelaki itu. Sungguh, sedikitpun cinta tak terhapus dari hatinya untuk Joonmyun. Masih… masih ada tempat jika Joonmyun ingin kembali padanya. Masih, dia masih mencintai lelaki itu.

Namun apa daya, dia hanya dapat menangis pedih dalam kesendirian. Sesal sudah dirasakannya karena semua ini. Matanya tampak memerah karena terus menangis, sedang tangannya membekap mulutnya sendiri. Berharap tak sedikitpun suara keluar karena tangisannya. Tiffany kuat kok. Dia kuat.

Wanita itu dengan cepat merogoh tisu dari dalam tasnya dan membersihkan air mata di sekitar matanya. Walau tetap saja air matanya mengalir. Tiffany mendongak, melihat sekali lagi ke altar. Dan betapa rasanya hatinya berguncang ketika tatapan Joonmyun jatuh padanya. Lelaki itu menatapnya kali ini.

Pandangan Joonmyun itu… pandangan yang paling dirindukannya. Mata yang paling dicintainya. Tapi Tiffany merasakan sesuatu yang berbeda saat iris itu menatapnya. Tatapan yang berbeda dari tatapan yang sering diperlihatkan Joonmyun padanya.

Tak ada lagi rasa tulus seperti dulu.

Tiffany lagi – lagi merasa perih. Joonmyun sudah tak mencintainya. Dan semua itu karenanya. Karena salahanya sendiri. Karena Tiffany.

Tidak, wanita itu sudah tak kuat. Air mata kembali mengalir di wajahnya. Sekonyong – konyong, dia segera berdiri dari bangku gereja dan berjalan keluar. Tindakannya mengundang seluruh mata melihatnya, tapi dia tak peduli. Yang dia perlukan hanya melangkah keluar dari tempat itu sekarang. Sebelum tangisnya pecah dan dia akan terlihat sangat menyedihkan.

Semuanya telah berlalu, hanya itu yang dapat dikatakan Tiffany untuk menguatkan dirinya.

Hubungannya dan Joonmyun telah berakhir. Tak ada jalan lagi bagi mereka untuk bersatu. Jembatan agar mereka dapat bersatu telah putus. Ya, putus. Putus. Mereka telah putus. Tak ada lagi cinta, tak ada lagi kasih, dan tak ada lagi sayang. Semuanya telah berakhir.

Seiring langkahnya menjauh, Tiffany hanya dapat menghela penuh sesal. Semuanya… benar – benar telah berakhir.

Cintanya… telah berakhir. Putus.

END

Note:

Hualoooooo~~

Pertama – tama, aku mau berterima kasih banget untuk yang sudah memberi respon positif di fanficku yang Into The Darkness. Senang banget kalau FF misteri pertamaku penuh dengan respon yang baik. Makasiiiiih /bow/

Yang kedua, entah ada ide apa aku buat fanfic ini. Err, gaje ya? Ya aku saja gak ngerti kenapa. Jangka waktu buat fanfic ini hanya dua jam dan err… sepertinya gagal banget feelingnya-.-

Ketiga, terima kasih untuk waktu yang telah kalian luangkan untuk membaca fanfic abal ini >< makasih banget.

Thanks a lot!

Pai paiii~ sampai jumpa di fanfic selanjutnyaa~

Upcoming Fanfic:

C.I.N.T.A

60 thoughts on “P.U.T.U.S

  1. Nyesek bgt😥
    kasian fany eonni
    bkin sequel dong thor, exoshidae uda lamaaaa bgt gak update exofany couple
    jadi cast slanjutny fany eonni lg y :&

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s