The Desire Dream (Scene 4)

tdd-poster-copyThe Desire Dream

written by Summer

Main Cast: EXO-M’s Zhang Yixing and SNSD’s Kim Hyoyeon || Support Cast: Zhang Li Wei (OC) and EXO-M’s Huang Zhi Tao || Genre: Romance, Life, Friendship || Length: Chaptered || Rating: PG-13 || Disclaimer: Inspired by my own dream, Madre by Dewi Lestari, and short movie : The Day We Connect by Joko Anwar ||

[]

[]

Yixing hanya menggerakkan bahunya santai sebagai balasan. Dan kedua perempuan itu berlalu pergi meninggalkannya meski sesekali terdengar gumaman curiga dari teman gadis berambut pirang madu itu. “Siapa dia ? Kau mengenalnya ?”

Yixing berjalan menuju ke kasir setelah mendapatkan sekilo kerang hijaunya dengan kening berkerut. Hyoyeon ? Ia bergumam dengan dirinya sendiri sembari mengingat-ingat. Bukan nama yang lazim untuk orang China. Ia mengambil sekaleng susu segar dingin dan melemparkannya kedalam troli dengan asal. Sepertinya aku pernah mendengar nama itu di suatu tempat.

Tiba-tiba Yixing tersadar kalau hari ini ia terlihat aneh dan banyak berfikir hanya karena satu nama yang secara kebetulan masuk ke gendang telinganya. Ah sudahlah, toh aku tak akan bertemu dengannya lagi, jadi buat apa difikirkan ?

 

SCENE 4

Yixing membuka sebotol air putih dingin dari dalam kulkas dan menuangkan ke dalam gelas. Ia memiringkan kepala untuk mengapit ponselnya diantara telinga dan bahu. “Iya bu, aku pasti datang kesana.”

” . . . . . . . ”

“Mungkin aku akan berangkat tanggal dua puluh.” Ia berjalan menuju meja makan dan mendudukkan pantatnya di kursi. “Paman ?” ia terdiam sebentar, “nanti akan aku tanyakan.”

” . . . . . . ”

“Iya bu, aku baik-baik saja.” Ia memutar bola matanya ketika mendengar lagi omelan ibunya yang sedang kesal karena Yixing jarang pulang. “Aku kan sedang bekerja disini bu, lagipula tiket Beijing ke Changsha itu mahal.”

” . . . . . ”

“Jangan khawatir bu,” gumamnya dengan nada suara lembut untuk menenangkan ibunya disebrang sana. “Apa ? Pacar ?” Yixing mengerang dengan frustasi. “Bu, aku masih dua puluh dua tahun dan aku belum setua Yizhi jie-jie (panggilan kepada kakak perempuan).”

Terdengar celotehan panjang lebar dari sebrang sana. Sepertinya ibu Yixing sedang menceramahi anaknya panjang lebar. Yixing bisa merasakan bahwa perdebatan ini tak akan berhenti dalam waktu singkat bila ibunya sudah menyinggung tentang kekasih. Berpura-pura sibuk, ia berkata dengan cepat, “Bu, sudah dulu ya, aku harus kembali bekerja. Nanti aku akan menelpon ibu lagi.”

PIP

Yixing memutuskan sambungan telepon dengan satu kali tekan. Ia menghembuskan nafas panjang. Untung saja, batinnya dalam hati. Tidak, bukannya ia tidak suka ibunya menelpon. Hanya saja ia sudah malas jika ibunya itu menyinggung tentang umur Yixing yang sudah dua puluh dua tahun ini namun belum sekalipun punya pacar. Menyebalkan sekali bukan ?

“Siapa tadi yang menelpon ?”

Dengan cepat Yixing menolehkan suaranya dan mendapati Paman Zhang sudah ada di dalam dapur, lengkap dengan training olahraganya yang penuh dengan keringat. Pamannya itu pasti baru saja melakukan ritual hariannya, berlari-lari memutari komplek perumahan.

“Ibu.” Balas Yixing pendek. “Ibu bertanya, kapan aku akan pulang.”

Paman Zhang mengambil gelas dan mengisinya dengan air biasa yang ada di dalam dispenser. “Oh pernikahan Yizhi itu ya ?” Ia menenguknya sampai habis dan mengisi gelasnya lagi. Zhang Yizhi, kakak dari keponakannya, Zhang Yixing, akan menikah dengan seorang dokter (temannya sewaktu ia kuliah), seminggu lagi. “Jadi, kau bilang apa pada Lian Yi ?” tanya Paman Zhang sembari menyebut nama asli ibu Yixing, adik iparnya itu.

“Tentu saja aku bilang akan datang. Aku tak mau dibunuh dengan brutal oleh jie-jie secara langsung di tempat tidur,” ujarnya dengan nyengir kuda. “Aku bilang akan berangkat tanggal dua puluh, bagaimana dengan paman ? Apa paman akan datang juga ?”

“Kau tidak ingin melihat kebrutalan sang pengantin dengan ibunya di saat pernikahan karena salah satu kerabatnya tak ada kan ?” goda Paman Zhang mencoba berkelakar. Dan dibalas Yixing dengan gerakan alis keatas-kebawah sebagai tanda setuju. “Mungkin aku akan berangkat tanggal dua puluh dua,” imbuh Paman Zhang sembari menaruh gelas ke dalam cekungan wastafel.

Yixing mengerutkan keningnya. “Kenapa tidak berangkat denganku sekalian ? Kan bisa lebih hemat.”

Paman Zhang mendengus keras.”Bilang saja kau tak ingin mengeluarkan uang 649 yuan untuk membeli tiket kereta,” tebaknya sembari menggerutu pendek.

Kata-kata pamannya itu membuat Yixing hanya tertawa dan menyeringai lebar. “Wow, paman keren ! Padahal aku belum bilang.”

Paman Zhang hanya memutar bola matanya mendengar ucapan Yixing. “Aku masih harus bertemu dengan kawan lamaku,” tukasnya menjawab pertanyaan ponakannya tadi yang belum sempat ia jawab.

Yixing menaikkan alisnya. “Kawan lama ?”

“He-em. Kawan lamaku dari Korea,” balas Paman Zhang. “Aku sudah pernah menceritakan padamu bukan ?”

Kening Yixing berkerut-kerut mencoba untuk mengingat. Tiba-tiba sebuah kenangan berisi percakapannya dengan sang paman beberapa tahun yang lalu, muncul lagi di dalam kepalanya. “Ah … yang jauh-jauh dari Korea hanya untuk mencicipi roti paman itu ya ?”

Paman Zhang mengangguk. “Ya, seminggu yang lalu dia menghubungiku dan berkata ingin mengadakan reuni setelah beberapa tahun tak bertemu.”

Yixing menghela nafas panjang. “Oh oke. Berarti aku akan sendirian di dalam kereta selama dua puluh jam dari Beijing ke Changsha,” ucapnya berpura-pura sedih. Ia mengangkat tubuhnya dan berencana untuk menonton televisi di ruang tamu.

“Yixing, jangan pergi dulu !”

Yixing menghentikan langkahnya dan berbalik dengan ekspresi bingung “Apa ?” tanyanya tak mengerti. Ia melihat tangan pamannya membuka tudung saji warna merah diatas meja makan. “Kau belum mencoba kerang panggang spesial buatanku kan ?” Paman Zhang menunjukkan sepiring penuh berisi kerang hijau gelap.

Ekspresi Yixing langsung berubah antara tak percaya dan merana. Kerang panggang spesial katanya ? Astaga, ya kau bisa langsung masuk ke rumah sakit saking spesialnya. Yixing tak mau menceburkan lagi dirinya ke dalam eksperimen-eksperimen pamannya yang tak cukup selamat untuk dimakan. “Ehm paman, aku . . . . aku sudah kenyang. Ya, sudah kenyang. Lagipula masih ada hal yang perlu ku urus.” Cepat-cepat ia berlari naik ke lantai atas dan menimbulkan suara berdebam yang keras.

Paman Zhang yang melihat itu mendengus kesal. “ZHANG YIXING, CEPAT KEMBALI !”

****************

Yixing berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya sembari sesekali ia bergumam sendiri. Di tangannya ada selembar kertas yang masih kosong dan belum tersentuh sama sekali. Di dalam hatinya sedang muncul perdebatan sengit yang membuat kepalanya semakin terasa sakit.

TENG. TENG. TENG.

Lonceng gereja yang selalu dibunyikan tiap jam empat sore sebagai penanda waktu membangunkan Yixing dari fikirannya. Laki-laki itu menghela nafas, kenapa kali ini rasanya sulit sekali untuk membalas surat gadis itu ? desisnya frustasi. Ia berjalan menuju sudut kamarnya yang berisi sebuah lemari kayu kecil. Di sekelilingnya ada sarung tangan baseball yang tergeletak sembarangan, bola basket yang sudah kempis, dan sebuah sandal tua berdebu karena terlalu lama tersimpan di bawah lemari.

Pintu lemari itu terbuka sedikit dan memperlihatkan isinya. Ada foto keluarga Yixing di Changsha, foto teman SMA nya dulu, buku-buku novel tua milik kakaknya yang sempat ia ambil sebelum pindah ke Beijing, dan barang-barang lain yang menurutnya pantas untuk disimpan.

Tapi bukan itu yang Yixing cari. Masih ada satu barang lagi yang seharusnya ada disana. Tangannya mengobrak-abrik isi lemari dengan asal. Sapu tangan sulaman ibunya ? Bukan. Figuran tokoh Goku di komik Dragon Ball ? Bukan ! Ia melemparkan semua barang, lagi dan lagi sampai akhirnya, di ia menemukan itu di sudut lemari.

Ini dia !

Yixing mengibas-ngibaskan apron putih tua yang ia cari itu dengan sentakan keras. Debunya berputar-putar di sekitar wajahnya dan membuat Yixing harus batuk-batuk karena kaget. Ia membentangkan apron putih dengan sayang. Ini bukan apron biasa. Bahkan hanya satu-satunya di dunia. Ini apron milik Bibi Margareth. Ya, apron ini diberikan pada Yixing, sehari sebelum wanita peranakan China-Belanda itu meninggal di umurnya yang enam puluh tahun.

Apron ini satu-satunya peninggalan Bibi Margareth selain kenangan dan pesan di dalam roti jagung untuk Yixing.

Yixing melangkah keluar kamar. Tidak, ia tak perlu menulis surat panjang lebar untuk menjelaskan kepada gadis itu mengapa ia ingin menjadi patissier. Dengan ini ia bisa menunjukkanya kepada gadis itu. Ia punya cara lain yang lebih hebat, dan mungkin lebih sederhana.

Dengan satu kali gerakan, apron putih itu terpasang di pinggang Yixing dengan sempurna.

******

“Apa kemarin gadis itu datang ?”

Tao yang sedang membersihkan meja-meja dengan lap basahnya menaikkan alis sekilas. “Ya, sepertinya dia menunggu suratmu.” Ia menyemprotkan cairan pembersih meja dan berkata, “Katanya dia akan datang lagi besok.”

Jawaban itu membuat Yixing mau tak mau mengulas senyum gembira. Ia berjalan mendekati Tao dan menepuk bahu sahabatnya itu pelan. “Tao…” panggilnya dengan suara semanis gula. Lesung pipit terlihat jelas di kedua pipinya.

Tao yang merasa aneh dengan nada suara Yixing, mendongakkan kepalanya dengan bingung. “Apa ?” tanyanya hati-hati.

“Kau pernah berkata kalau kau adalah sahabat terbaikku kan ?” sahut Yixing sembari memijit-mijit bahu Tao dengan kedua tangannya.

Tao bergidik jengah dengan kegiatan Yixing dan mulai merasa ketakutan. “A-apa yang kau lakukan bodoh ?” Ia menyingkirkan tangan Yixing dari bahunya dan bergumam, “Aku masih normal, kau tahu.”

Melihat ekspresi Tao yang ketakutan membuat Yixing nyaris ingin meledakkan tawa saking gelinya. Hahahaha anak ini salah mengira ternyata. “Tentu saja aku tahu kau masih normal, adikku !” gerutu Yixing setengah geli. Namun, kembali ia merubah suaranya menjadi selembut beledu. “Tao-ku yang baik,” ia menghentikan ucapannya sejenak untuk melihat reaksi Tao yang bercampur antara penasaran namun juga ketakutan, “boleh aku minta tolong sesuatu padamu ?”

Dahi Tao berkerut selama tiga detik sebelum akhirnya ia berseru dengan suara keras. “Ha !” Ia menolehkan wajahnya dan melempar tatapan seolah berkata –aku-sudah-tau-rencanamu. “Aku tidak mau lagi membantumu. Aku tidak mau tercebur lagi dalam urusan absurdmu yang tak ada habisnya.” Ia bisa melihat Yixing hendak membantah, namun cepat-cepat ia menyela. “Tidak, Yixing. Tidak ak-”

“HUANG ZHITAO !”

Suara sentakan Yixing yang keras dan tajam membuat Tao langsung mengkerut ketakutan. Untung saja belum ada pegawai yang datang sepagi ini kecuali Tao yang bertugas piket dan Yixing yang notabene-nya adalah keponakan Si Bos.

“Dengarkan aku !” Perintah Yixing masih dengan nada tinggi meski tak sekeras tadi. Melihat Tao yang hendak membuka mulutnya, Yixing kembali menambahkan, “Dan jangan menyela dulu !”

Tao mengangguk ketakutan.

Yixing menarik nafas panjang. “Aku hanya ingin kau menggantikan aku menghitung persediaan barang di gudang selama aku pergi –hanya sebentar saja- setelah itu aku akan kembali lagi. Dan ini adalah permintaanku yang terakhir, besok tidak akan lagi surat sialan yang harus kau antar.”

Yixing terdiam. Ia memberikan waktu bagi Tao untuk memahami kata-katanya tadi. “Bagaimana ?”

.

.

.

Tao menjilat bibirnya dengan gugup. Sebenarnya bukan apa-apa kenapa ia tak mau membantu Yixing. Tapi beberapa bulan yang lalu, Yixing sudah mangkir dari kewajibannya untuk menghitung bahan persediaan di gudang. Alhasil, ia yang kena semprot oleh Si Bos, padahal ia sendiri tak tahu apa-apa. Apalagi kalau ia tahu apa-apa, bukannya itu malah akan lebih parah ? “Ehm Yixing… ”

“-aku berjanji Tao, ini yang terakhir,” sela Yixing cepat-cepat. “Tidak ada lagi tukang pos dadakan, tidak ada lagi surat
sialan, dan tidak ada lagi si gadis misterius.” Ia menunjukkan ekspresinya yang paling menyedihkan dan merana. “Sungguh Tao, hanya kau satu-satunya yang bisa membantuku.” Ucapannya lirih dengan nada paling menyayat yang pernah ia keluarkan.

Tao yang melihat Yixing sebegitu merananya langsung berubah gelagapan. Ia jadi ragu, harus menuruti fikirannya atau kesetiannya sebagai sahabat. Hanya sekali ini saja. Lagipula Yixing bilang, ini yang terakhir, ucapnya dalam hati berusaha menguatkan diri. Ia menghela nafas dengan mantap. “Baiklah, aku akan membantumu.”

Yixing yang masih dalam pose memohon-bantuan langsung bersorak dan berteriak gembira. “Tao, kau memang yang terbaik !”

“Tapi hanya kali ini saja, besok-besok aku tak mau membantumu lagi,” imbuh Tao mengingatkan.

Yixing tersenyum, menunjukkan sederet giginya yang lesung pipitnya yang khas. Tangannya terangkat keatas membentuk sikap hormat. “Yes, sir !” Sebelum Tao sempat berkata lagi, dengan cepat ia berlari keluar dan melepaskan apronnya dengan satu kali sentakan.

“Hey, kau mau kemana ?!” seru Tao, bingung dengan Yixing yang tiba-tiba lari keluar.

Yixing berbalik tanpa menghentikan larinya. “MEMBELI JAGUNG ! !”

**********

Zhang Li Wei sedang berada di dalam ruangannya yang terletak di sebelah dapur sembari menghitung pengeluaran hari ini. Malam sudah turun dan angin dingin sudah hampir menyentuh jalanan. Hari ini ia sendirian di dalam kedai karena semua orang sudah kembali pulang ke rumah masing-masing. Bahkan Yixing, keponakannya tadi izin pulang cepat-cepat karena dia bilang ingin melakukan hal penting.

Jadi disinilah Zhang Li Wei, sendirian, bersama tumpukan kertas-kertas dari pembelian barang dan beberapa lembar uang diatas meja. Di ujung mejanya ada secangkir kopi panas yang rasanya luar biasa pahit. Orang tua itu tak suka menambahkan apapun selain air panas ke dalam bubuk kopi hitamnya.

“Seribu yuan untuk dua ratus kilogram tepung.”

Mulutnya bergumam menyebutkan angka-angka dengan tangan tetap bergerak untuk menulis tanpa ia sadari. Sesekali ia menyesap kopi hitamnya dengan desahan nikmat. Konsentrasinya terpecah ketika telinganya menangkap dering suara dari ponsel tuanya yang terselip di kantong di ikat pinggang. Tangannya yang berkeriput bergerak untuk mengambil. Ia menjauhkan ponselnya agar bisa membaca nama yang terpampang di layar.

“Hyeon Joon ?” sapanya sesaat setelah ia menerima panggilan dan menempelkan layar ponselnya ke dekat telinga.

Terdengar desah kelegaan dari sebrang sana. “Kukira kau sudah tidur,” gumam orang yang dipanggil Hyeon Joon oleh Zhang Li Wei tadi.

Suara kekehan Zhang Li Wei memantul-mantul mengenai dinding ruangan. Ia menyenderkan tubuhnya ke punggung kursi agar lebih nyaman. “Seperti kau tak tahu kebiasaanku saja,” balasnya masih setengah tertawa.

Hyeon Joon ikut tertawa dan menimpali. “Biar kutebak …,” ia memberikan jeda sebelum melanjutkan, “kau pasti sedang menghitung uang ditemani secangkir kopi kesukaanmu, kan ?” Nada suaranya terdengar jenaka dan riang. Meski ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa orang yang sedang menelpon Zhang Li Wei ini tak lagi muda.

Zhang Li Wei hanya mengangguk-anggukan kepala seolah Hyeon Joon bisa melihatnya. “O’ya, omong-omong ada apa kau menelponku malam-malam seperti ini ?” tanyanya penasaran.

Kim Hyeon Joon yang dipanggil oleh Hyeon Joon oleh Zhang Li Wei tadi tak segera menjawab. Dia berdehem sebentar seolah tenggorokannya tiba-tiba mengering. “Ehm . . . mengenai acara reuni kita,” ujarnya susah payah.

Mendengar nada suara Hyeon Joon yang berubah, membuat Zhang Li Wei bingung dan tanpa sadar menegakkan tubuhnya. “Apa ada sesuatu yang terjadi ? Apa kau berniat membatalkan acara kita ?” tanyanya masih tak mengerti.

“Tidak, tentu saja tidak !” buru-buru Hyeon Joon menyanggah. Itu membuat Zhang Li Wei agak merasa kaget. “Lalu tentang apa ?” imbuh Zhang Li Wei.

Hyeon Joon terdiam sebentar. “Ini . . . tentang putriku.”

Zhang Li Wei terdiam selama sepersekian detik. “Putrimu ?”

**********

Yixing mengaduk campuran tepung, air,garam, dan gula dengan semangkuk penuh butiran jagung yang berwarna kuning keemasan dengan ekspresi wajah serius. Tao yang mengamatinya dari luar dapur mengerutkan keningnya heran. Pagi-pagi sekali (bahkan para pegawai yang lain belum datang kecuali Tao yang bertugas piket hari itu) setelah Yixing meminta Tao untuk menggantikan dirinya piket di dalam gudang, ia pergi selama sekitar setengah jam dan kembali dengan satu kantung plastik besar berisi jagung yang belum dikupas. Yixing diam saja ketika Tao dengan wajah bingung bertanya mengapa ia sampai rela memohon kepadanya hanya untuk pergi ke pasar dan membeli jagung.

“Nanti kau akan tahu sendiri.” Begitu jawaban Yixing setelah selama lima kali Tao bertanya tanpa jawaban.

Tao hanya mendengus kesal mendengar jawaban Yixing dan memilih keluar untuk melanjutkan kegiatannya menata dan membersihkan meja. Suara dengusannya yang kelewat keras mau tak mau membuat Yixing geli dan menerbangkan sedikit tepung yang ia taruh diatas mangkok.

Gege,” Tao mengambil nafas sekilas, “aku tahu mungkin kau tak mau menjawab pertanyaanku, tapi aku hanya ingin tahu apa yang sedang kau buat apakah kau juga tak mau menjawab ?”

Yixing yang sedang mengelurkan senampan roti dari dalam oven tertawa keras. Uap panas dari dalam oven mengepul di pinggir meja besar. “Astaga Tao, aku tak menyangka kau akan sepenasaran itu,” celetuk Yixing masih tertawa.

Tao berjalan mendekat dan menampakkan ekspresi wajahnya yang cemberut, pertanda kalau ia sedang kesal. “Kau membuatku terlihat tak tahu apa-apa, bodoh !” umpatnya masih kesal. Ia bisa melihat Yixing terkekeh namun ia tak peduli. Masa bodoh kalau Yixing mau terkekeh untuk mengejeknya !

Namun kekesalan Tao tak bertahan lama, sesaat setelah Yixing meletakkan nampan besar berisi roti-roti diatas meja, rasa penasaran kembali melanda dirinya. Di hadapannya kini ada sekitar sepuluh roti yang bentuknya mirip dengan keong laut yang runcing di kedua ujungnya. Ada hiasan gula putih di atas kerak roti yang merekah. Tao bisa mencium aroma roti yang manis dan hangat menggelitik hidungnya.

Wow,” desahnya setelah menghirup napas dalam-dalam untuk memenuhi rongga dadanya dengan aroma roti. “Ini keren.”

Yixing tersenyum. Ia mengambil satu buah roti yang mulai menghangat dan menawarkannya pada Tao, “Kau mau mencoba satu ?”

Bola mata Tao berbinar gembira, “Bolehkah ?” serunya memastikan. Untuk sepersekian detik, ia berubah menjadi anak kecil yang baru pertama kali melihat roti dan itu membuat Yixing tertawa.

“Tentu boleh.”

Tao mengambil roti yang ada di tangan Yixing dengan sekali gerakan. Ia merobek bagian tengah roti untuk mencicipi bagian dalamnya yang lembut. Mulutnya bergerak-gerak untuk merasakan dan ia terdiam cukup lama.

“Bagaimana ?” tanya Yixing hati-hati.

Tao masih terdiam, enggan untuk menghentikan gerakan mulutnya yang masih mengunyah. Ia mengambil segelas air dari sudut ruangan baru ia menjawab, “Jujur saja …” ucapannya terhenti di tengah jalan, “ini pertama kalinya aku merasakan ada sesuatu yang berbeda dari dalam rotimu.”

Yixing masih tak berani bernafas. Baginya dari semua roti yang ada, roti inilah satu-satunya roti paling istimewa di dalam hidupnya. “Berbeda dalam hal yang baik atau …buruk ?”

“Kurasa dalam hal yang baik,” balas Tao setelah satu menit berpikir. “Aku seperti merasa kau memasukkan pesan ke dalam rotinya.” Ia menatap Yixing dengan kening berkerut, “Apakah tebakanku benar ?”

Senyuman kepuasan tergambar di raut wajah Yixing yang keningnya berhias peluh. Ada perasaan bangga di dalam hatinya kalau mengetahui kalau usahanya tak gagal. “Benar,” balasnya masih dengan senyum terpampang di wajahnya, “aku memberikan sesuatu yang berbeda, khusus untuk roti ini.”

Well, kalau begitu kau berhasil, dude,” komentar Tao dengan seringai lebar.

Yixing hanya tersenyum tipis dan tak menjawab. Keningnya berkerut dalam, pertanda kalau ada sesuatu yang sedang ia pikirkan masak-masak. Tangannya bergerak untuk mencuci peralatan dapur yang baru saja ia gunakan meski matanya menatap kosong.

“Kau terlihat bimbang,” celetuk Tao setelah ia merasakan keheningan aneh yang diciptakan Yixing. “Apa kau sedang memikirkan sesuatu ?”

Yixing tersentak, kaget karena Tao menyadari maksud diamnya. Ia mencuci tangan dan mengibaskannya sekilas. “Sebenarnya ada sesuatu …” ia terdiam sebentar terlihat ragu, kepalanya menoleh ke arah Tao, “tapi aku tak mau merepotkanmu lagi.”

Kini ganti Tao yang terdiam. Ia bisa merasakan kalau nada suara Yixing benar-benar terlihat menyesal. Ia mengangkat bahunya, “Wow, aneh sekali mendengar Zhang Yixing takut merepotkan seorang Huang Zhitao yang payah ini,” sindirnya jenaka.

Yixing meninju pelan bahu Tao dan menyeringai kesal, “Sialan kau !”

Tao tertawa keras dan menepuk punggung Yixing, “Jadi apa lagi hal sialan yang harus kubantu untukmu ?” tanyanya masih dengan tangan menempel di punggung Yixing.

Yixing mendesah setengah tersenyum. Ia mengulum bibirnya dan berkata, “Apa kau tahu kalau aku besok akan mengambil cuti selama seminggu ?”

Bola mata Tao membulat lebar dan tanpa sadar ia menurunkan matanya. “Besok ? Cuti seminggu ?” serunya tak percaya. “Apa terjadi sesuatu ?”

Well, Yizhi jie-jie akan menikah lusa, jadi aku harus datang kalau masih ingin dianggap sebagai seorang adik,” ucapnya pura-pura cemberut.

Bola mata Tao membulat semakin lebar hingga membuat matanya yang sipit agak terlihat besar. “Yizihi jie-jie akan menikah ?” sergahnya tekejut. “Secepat itukah ?” imbuhnya lagi, merasa tak percaya.

Yixing mengerutkan keningnya. Ia menyadari sesuatu. “Hei, hei, jangan bilang kau masih menyukai jie-jieku ?”

Tao langsung menutup mulutnya seketika. Ia tak bisa menahan bola matanya yang bergerak-gerak gelisah karena ketahuan kalau apa yang dikatak Yixing tadi benar adanya. “T-tidak !” ucapnya dengan nada lebih tinggi. “Aku hanya … hanya kaget saja,” imbuhnya cepat.

Yixing hampir-hampir tak dapat menyembunyikan tawanya saat melihat eskpresi Tao yang takut dan gugup bukan kepalang. Astaga, anak ini ternyata … Ia jadi teringat, setahun yang lalu, jie-jienya pernah datang kesini untuk menjenguknya –meski kakaknya tak mau mengaku secara terang-terangan. Secara kebetulan ada Tao juga disana, jadi pastinya ia mengenalkan Tao dengan kakaknya itu.

Yixing tak menyadari apa yang sedang terjadi sampai pada akhirnya di suatu sore, Tao mengaku padanya kalau ia menyukai Yizihi jie-jie. Yixing jelas terkejut setengah mati, ia tak bisa mengerti bagaimana seorang Huang Zhitao bisa-bisanya menyukai Zhang Yizhi yang menyebalkan dan cerewet. Apalagi Yizhi jie-jie sudah bertunangan dengan kekasihnya. Ia mengatakan itu pada Tao dengan harapan agar laki-laki itu berhenti menyukai kakaknya. Yixing masih ingat saat itu Tao hanya terdiam dan kemudian berbalik pergi dengan langkah lesu. Namun esoknya saat Yixing bertanya dengan hati-hati bagaimana perasaan Tao, laki-laki itu hanya menjawab bahwa ia tak lagi menyukai Yizhi jie-jie dengan lagak biasa.

Tapi sepertinya Yixing salah besar, agaknya sampai sekarang Tao masih menyukai jie-jienya itu.

Well, aku tak mau mendebat tentang itu,” ucap Yixing berusaha kembali ke topik utama. “Jadi kembali ke permasalah yang sedang kita bicarakan.”

Tao langsung memasang raut wajah serius seperti sedang mendengarkan pendeta sedang berkhotbah. “Lalu jika kau mengambil cuti seminggu, apa hubungannya denganku ?” sahutnya tak mengerti. “Apa kau ingin aku mengantarkan surat sialanmu lagi untuk gadis itu ?”

Yixing menarik nafas panjang. “Benar. Tapi kali ini tidak hanya surat,” ucapnya hati-hati.

“Lalu ?”

.

.

.

Yixing mengambil sesuatu dari dalam kantong celananya. Ia menyerahkan benda putih persegi itu kepada Tao dan berpesan, “Tolong serahkan surat ini beserta roti yang kubuat.”

TBC

Well, hai semuanyaaaa !😀

Gimana FF nya ? Apakah udah mulai menjawab rasa penasaran kalian ? Well, FF ini udah dijadwalin cuma sampai part 5. So, siap-siap buat bye-bye sama FF ini hehehehe :3 Oh ya, maaf banget baru bisa ngepost sekarang. Aku pengen banget bilang kalau tugas, rapat, dan mid semester bener-bener menyita waktu, tapi aku tahu itu bukan alasan. Jadi aku cuman mau minta maaf dan minta kesabaran kalian buat nungguin FF ini dan FF yang lain.

Oh ya maaf banget kalau buat part 4 nya garing dan datar banget. Tapi santai aja, kejenuhan kelian bakal berakhir di part selanjutnya. So, makasih masih mau nungguin dan baca FF ini *BIG HUG*

Papoy … :3

13 thoughts on “The Desire Dream (Scene 4)

  1. suka suka sama chapter ini
    tapi kok hyo nya gak ada ya ?
    hyo where are you #abaikan
    jangan” yang di maksud putriku itu hyo, bikin penasaran
    ditunggu chap 5 nya
    happy ending ya thor

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s