Roommates – Shoot One

room-mates

Roommates – Shoot One

By wolveswifeu

Starring

Lee Sunny | Luhan as himself and Luna

Genre

Romance | Comedy | School Life

Rating

PG 15+ (Bisa berubah)

Length

Twoshoot/Threeshoot

Disclaimer

Pass teaser disini cast-nya Luhan-Yoona. Kalau ada yang mau baca shoot 1-3 bisa baca di yoongexo.wordpress.com

Wolveswifeu’s New Fiction, Roommates

                Seorang namja berdiri di lapangan bersama namja lainnya. Seharusnya ini hari pertama dia masuk ke sekolah sekaligus asrama. Namja kelahiran di China yang mahir bahasa Korea sehingga di kirim ke Korea agar bisa bersekolah disini. Namja itu bermain dengan tali sepatunya yang terlepas dari ikatannya.

“Hei, mana akte kelahiranmu?” Tanya salah satu senior kepada namja itu.

“Aku?” Namja itu –Xi Luhan menoleh sambil menunjuk wajahnya sendiri.

“Ya, kamu!” Jawab sang senior. Luhan membuka ranselnya dan mencari sebelmbar kertas yang di laminating lalu berjalan ke arah senior tersebut dan memberikannya. Senior tersebut membaca akte kelahirnya tersebut.

“Xi Luna lahir di China pada tanggal 20 April 1996. Kau seorang yeoja?” Tanya sang senior. Mata Luhan melebar.

“MWO?!”

                “Ikuti saya.” Ajak salah satu senior –yeoja kepada Luhan untuk menelusuri koridor asrama yang berwangi wanita ini.

“Tidak mau! Aku ini namja!” Lawan Luhan.

“Bagaimana namja bisa mempunyai akte kelahiran yeoja?” Tanya sang senior.

“Akte itu tertukar dengan saudara kembarku.” Jawab Luhan.

“Oh yah? Tolong, jangan membuat drama!” Balas sang senior.

“Kalau begitu anda bisa ikut saya!” Ajak Luhan. Sang senior menyatukan alisnya kebingungan.

“Makusdmu?” Tanya sang senior –Taeyeon.

“Ikut aku ke Los Angeles!” Kata Luhan.

“Dasar anak kecil bisanya hanya membuat lelucon!” Taeyeon langsung merebut koper milik Luhan dan menarikanya paksa, Luhan hanya bisa berteriak-teriak minta tolong. Tapi, tidak ada satu responpun dari balik kamar-kamar yang dia lewati.

Luhan dan Taeyeon –seniornya berhenti di depan sebuah kamar. Jantung Luhan berdegup kencang. Kenapa tidak ada satupun orang yang mempercayai bahwa dia itu perempuan? Luhan menghela nafasnya dengan kasar. Taeyeon yang berada di sebelahnya saat ini langsung menatapnya dengan tajam.

“Ada apa?” Tanya Taeyeon.

“A..”

“Berisik! Sudah masuk saja!” Taeyeon mendorong Luhan pelan untuk mendekati pintu di hadapannya. “Masuk! Itu kamarmu dan teman sekamarmu adalah..” Ucap Taeyeon menggantung.

Nugu?” Tanya Luhan.

“Lee Sunny.” Jawab Taeyeon lalu pergi meninggalkan Luhan begitu saja. Luhanpun geram, dia menendang koper miliknya dengan keras.

“Kenapa semua orang disini sangat tidak waras?” Oceh Luhan. Dia mengepalkan kedua tangannya. “Aku ini namja!” Teriaknya lalu menggedor-gedor pintu yang berada di hadapannya.

“Hei, buka! Buka!” Suruh Luhan. Sesuai perkataannya, pintu itu terbuka.

“Bisakah lebih pelan sedikit? Aku sedang menonton dramaku.” Kata yeoja yang ada di hadapan Luhan sekarang. Luhan mendengus pelan lalu meraih koper yang tadi dia tending dan membuka pintu kamar itu lebih lebar lalu masuk ke dalamnya.

Luhan memerhatikan ruangan itu dengan seksama lalu mengalihkan pandangannya ke televisi yang tengah menyala dan di pause oleh sang penonton tadi. Matanya melebar dan koper yang dia genggam langsung terjatuh. Aku satu kamar dengan pervert girl?, tanya Luhan pada diri dia sendiri setelah melihat adegan kissing dari drama Korea yang sedang ter-pause itu.

“Hei, kau lihat apa?” Tanya yeoja itu. Luhan langsung menatapnya dengan jijik. Masa seorang yeoja menonton drama seperti itu?

“Jangan berlebihan! Setiap drama pasti ada adegan kissing seperti ini,” Ucap sang yeoja lalu mengambil snack yang terletak di samping televisi. “Kau belum pernah nonton drama ya? Mau menonton bersama?” Ajak Sunny. Perasaan jijik Luhan pun sedikit menghilang. Dia melangkahkan satu kakinya.

“Tapi, kau duduk di lantai tanpa alas, bagaimana?” Shit, batin Luhan lalu yeoja itu tertawa terbahak-bahak.

“Lee Sunny namaku, senang berkenalan denganmu.” Kata Sunny sambil memasukkan snack-nya. “Ah yah, namamu?” Tanya Sunny.

“Namaku Xi Luh…Luna. Ya, namaku Xi Luna.” Jawab Luhan dengan gugup.

“Ha? Suaramu berat sekali! Seperti Amber F(x) saja. Kau fangirl-nya, huh?” Tanya Sunny. Luhan mendecakkan lidahnya. Kenapa ada yeoja seperti dia? Membawa kesan pertama yang buruk saja.

“Hei, aku sedang berbicara padamu!” Bentakkan Sunny itu berhasil membuat Luhan bergeming dari pikirannya yang sedikit melayang-layang.

“Ah, ne, aku fangirl-nya.” Kini suara Luhan sedikit lebih halus. Tidak sekasar tadi.

“Dasar aneh!”

“Loh? Kok?”

“Masa perempuan menggemari perempuan? Namja dong!” Ucap Sunny. “Kau tahu? Aku ELF! Awas saja kalau kau bash salah satu dari mereka! Terutama Donghae oppa, dia favorite-ku.” Ancam Sunny. Luhan menghelakan nafasnya lagi. Jadi ini sifat perempuan jika tidak ada pria dihadapannya? Aku bisa gila, batin Luhan.

“Amber itu tampan. Dasar buta!”

                Sepertinya Luhan harus menerima keadaan sekarang. Tinggal di sebuah asrama yang dipenuhi oleh yeoja, menyamar sebagai saudara kembarnya, memakai rok, dan.. Tidak! Luhan tetap harus mencari jalan keluar dari sarang neraka ini.

“Hei, Luna, kau mau mandi tidak?” Tanya Sunny yang berhasil memecahkan lamunan Luhan.

“Eh?” Respon Luhan.

“Mau mandi tidak? Air panasnya sudah aku nyalakan sedari tadi. Aish, jinjja!” Kata Sunny.

“Oh..Oh.. Baiklah.” Ucap Luhan lalu berjalan ke kopernya dan mencari baju. Gawat, baju yang aku bawa tidak ada baju perempuan, bisa ketawan!, ucap Luhan dalam hati. Luhan semakin mengacak-acak isi kopernya yang mengundang perhatian Sunny ke Luhan.

“Kenapa? Ada yang tertinggal?” Luhan tersadar lalu berdiri tegap dan menghadap Sunny.

A..aniyo!” Jawabnya dengan gugup.

“Kau lupa membawa itu?” Tanya Sunny.

Itu? Apa?” Tanya Luhan dengan polos.

Aigoo, masalah wanita. Kau tidak tahu?” Tanya Sunny lalu berjalan ke arah Luhan. “Memangnya kau tidak itu?” Bisik Sunny tepat di telinga Luhan.

“Itu apa?” Tanya Luhan.

“Datang bulan.” Jawab Sunny dengan santai sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“O..oh, tentu saja. Biasanya aku awal, hehe.” Balas Luhan dengan canggung. “Aku mandi dulu, permisi.” Lanjutnya.

“Dasar aneh!” Respon Sunny.

                Sunny membuka pintu asramanya dengan dua kotak makan malam di tangan kirinya. Dia mengeluarkan suara melalui siulannya yang merdu itu lalu dia meletakkan makanan itu di atas meja yang berada di depan televisi.

Dia duduk di atas sofa empuk itu dan mengeluarkan kotak makan itu dari plastic. Dia membukanya dan menghirup wangi makanan tersebut. Perutnya pun menggedor-gedor meminta jatah seakan-akan makanan itu milik perutnya bukan hidungnya.

Sunny mengambil sendok kecil yang berada di tepi kotak makan itu dan mendaratkan suapan pertama di mulutnya dengan sempurna. “Hmm, mashita!” Ucap Sunny.

Tak lama kemudian muncul seseorang dari kamar mandi yang mulai sedikit menganggu acara makan Sunny yang sangat tenang itu. Dengan rambut yang basah dan handuk yang tengah mengeringkan rambut itu, Xi Luhan menatap Sunny.

“Apa ada satu untukku?” Tanya Luhan.

“Ada, tuh.” Tunjuk Sunny ke kotak makan yang sedang menganggur di hadapannya.

“Oh, baiklah.” Luhan melempar handuknya ke atas ranjang besar lalu berjalan dan duduk di sebelah Sunny sambil membuka kotak makan itu. Dia membukanya dan tersenyum. Setidaknya perutnya itu bisa berhenti meraung-raung meminta makanan.

Satu suapan hampir masuk ke dalam mulutnya dan tiba-tiba mata Luhan melebar, dia sadar akan sesuatu. Dia meletakkan makanan itu di atas meja dan abngkit berdiri. Menatapi sebuah ranjang besar dengan dua bantal, dua guling, satu bed cover, dan handuk yang masih basah di atasnya.

Dia harus satu ranjang dengan Sunny? Bagaimana bisa? Luhan mengacak-acak rambutnya dan menghentak-hentakkan kakinya lalu berteriak, “TIDAK!!!”

                Sunny sudah tertidu pulas di sebelah Luhan. Sedangkan Luhan masih diam menatapi langit-langit asramanya dengan keringat dingin yang mengalir di dahinya itu. Dia menggigit bibir bawahnya. Ini benar-benar sebuah pengalaman pertaa baginya. Luhan duduk dan melepaskan bed cover-nya. Dia menurunkan salah satu kakinya ke atas bumi dan satunya lagi.

Baru saja dia mau berdiri tapi sebuah tendangan sudah mendarat di punggungnya. Luhan tersungkur jatuh ke atas lantai dingin itu lalu bangkit berdiri sambil memegangi punggungnya yang agak kesakitan itu.

“Aw!” Erang Luhan. Dia meregangkan otot-ototnya yang menimbulkan suara-suara aneh. Dia mengambil bantal serta gulingnya lalu berjalan ke sofa yang berada di depan televisi.

“Lebih baik aku tidur disini dari pada di sebelah monster nan ajaib itu.” Kata Luhan lalu berbaring di atas sofa dan menjelajahi dunia mimpinya.

                “YAAAAK! BANGUN! KITA BISA TELAT!” Teriakkan Sunny itu sudah berkali-kali dia keluarkan dari mulutnya. Namun hasil tetap nihil, Luhan yang lebih dikenal oleh Sunny itu Luna masih saja belum bangun.

“YAAAAK! XI LUNA! BANGUN!” Teriak Sunny, masih tidak ada respon. Sunny-pun geram dan menendang tulang kering milik Luhan dan –“AW!” Pekik Luhan.

“Ada apa?” Tanya Luhan dengan mata yang masih setengah sadar.

“LIHAT! 20 MENIT LAGI PELAJARAN DIMULAI! CEPAT MANDI!” Suruh Sunny, amarahnya sudah memuncak. Luhan-pun terkejut, dia langsung duduk dan melupakan sakit di tulang keringnya itu lalu berlari dengan handuk ke kamar mandi.

                “Hahahaha!” Tawa Sunny itu tidak berhenti-henti sekitar dari dua menit yang lalu. Dia menertawai Luhan atau Luna yang memakai rok dan kaus kaki super panjang hingga lututnya.

“Yak! Kau seperti wanita jadi-jadian tahu!” Kata Sunny. Seharusnya Luhan marah tapi kali ini tidak, dia malah ketakutan jika dia tertangkap sebagai pria penguntit yang masuk ke asrama khusus wanita.

Luhan memerhatikan Sunny dari atas hingga bawah dan Luhan tersentak. Sunny memakai celana?

“Lee Sunny, kau memakai celana?” Tanya Luhan. Tawa Sunny-pun berhenti dan menatap ke bawah, ah iyah, benar, Sunny memakai celana.

“Kau tidak tahu? Sebenarnya sekolah disini tidak diharuskan untuk memakai rok.” Ucap Sunny. “Tapi aku anjurkan untukmu agar selalu memakai rok, kau tahu? Kau nampak lucu dan itu bisa haha! Itu bisa menghiburku!” Lanjut Sunny. Luhan pun menghelakan nafasnya. Seharusnya dia membaca peraturan sekolah ini sebelum memakai rok ini. Setidaknya Luhan harus bertahan selama satu hari.

                “Perkenalkan, namaku Xi Luna.” Luhan memperkenalkan diri di hadapan seluruh murid perempuan yang berada di kelas itu. Jujur, Luhan itu bergemetar hebat. Bukan karena dia satu-satunya pria, tetapi jika dia tertangkap maka dia dalam bahaya yang sangat besar.

“Lihat! Dia lebih cantik dari Yuri unnie!” Ucap salah stau murid.

“Ah yah, benar!” Kata murid yang lain menyetujuinya.

“Jangan sampai Kim Minseok jatuh cinta padanya!” Kata murid yang lain.

“Kim Minseok? Kim Minseok murid dari asrama khusus namja yang disebelah?” Tanya murid yang lain. Luhan hanya bisa mendengarkannya.

“Iya, Kim Minseok mantan kekasihnya Lee Sunny.”

TBC

7 thoughts on “Roommates – Shoot One

  1. ommoooo..omoooo luhan pake rok???pasti jadi cantik n lucu bgt deh,.xiumin mantannya sunny???aigoooo…..pasti bakalan seru nih….

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s