[Freelance] Between Two Options (Chapter 3)

Chapter 3

Title : Between Two Options (Chapter 3)

Author : Selvy

Length : Chapter

Rating : PG15

Genre : romance, family, comedi

Main Cast : Taeyeon

Sehun

Luhan

Kris

Other Cast : Siwon, changmin, ryewook

Author Note : Mohon maaf yah kalau ff aku sering banyak kata2 yang salah. Maklum aku kan baru aja belajar nulis ff.

 

. . . . . . . . .

Luhan POV

Aku terus mencari taeyeon di kursi penonton. Tidak biasanya taeyeon melewatkan pertandingan basketku. Apalagi ini pertandingan penting antar sekolah. sepertinya aku mempunya Firasat yang buruk.

“Luhan-ssi sampai kapan kau akan menatap penonton seperti itu” Tanya chanyeol membuyarkan lamunanku.

“Mengapa kau masih bertanya, pasti dia sekarrang sedang menunggu ‘MY DARLING’ nya”  sambung kai, dia sedikit memberi penekanan pada kata ‘my darling’.

“Ne, tidak basanya dia seperti ini. Taeyeon bahkan tidak mengirimkan aku pesan selamat pagi” ucapku menunduk lesu.

“Manisnya, Kalian seperti pasangan kekasih, mengapa kau tidak menembaknya saja?” ucap chanyeol dengan smirk diwajahnya.

Aku menatap tajam chanyeol yang terkekeh bersama kai. Tentu saja mereka tahu persaanku kepada taeyeon, mereka bahkan tahu kalau taeyeon hanya menganggapku sebagai adik.

“Bahkan sekarang kau seolah ingin memakan chanyeol, hahaha” ucap kai tertawa keras.

Sudah cukup kesabaranku sudah diambang pintu sekarang (?), “Kalian . .. “

“Sudah, kalian berdua jangan mengganggunya”  Baekyeon tiba- tiba datang dan memegang bahuku.

“Kalau kau mau menemuinya pergilah, daripada nanti kau tidak focus bertanding. Lagi pula ada tao yang bisa menggantikanmu” ucap baekyeon tersenyum padaku.

“Mana bisa begitu” protes chanyeol yang langsung mendapat tatapan tajam dari baekyeon. Kai tertawa puas melihat chanyeol menunduk patuh. Dan tentunya itu membuat chanyeol naik darah (?).

“Apakah kau puas sekarang?” Tanya chanyeol  geram.

“Tentu” Jawab kai lalu berlalu kencang dan tentunya disusul oleh chanyeol yang mengejarnya. “AWAS KAU KAI” teriak chanyeol.

Baekyeon hanya memutar bola matanya melihat kejadian barusan yang menrutnya sangat kekanak- kanakan. Ia lalu menatapku kembali yang sekarang sedang terserang anemia (?).

“Luhan- ssi, bagaimana?”

Aku berfikir sejenak, kalau aku pulang dan meninggalkan pertandingan pasti aku akan langsung diterkam (?) oleh taeyeon . aku juga tidak mau mengecewakan semua orang dengan meninggalkan pertandingan penting ini. Jadi, dengan berat hati aku akan tetap bertanding meski tanpa my darlingku.

“Baiklah baekyeon, aku akan tetap bertanding”

Luhan POV end

 

. . . . . . . .  .

 

Taeyeon berjalan sendirian di bandara, ia tampak sangat kesal sekarang, terlihat sekali dari ekspresi wajahnya.

“Eomma sangat jahat bagaimana bisa dia meyuruh anaknya yang manis ini untuk berangkat ke seoul seorang diri” Omelnya. Orang – orang disekitarnya hanya menatapnya bingung karena taeyeon terus mengomel.

Brakk  . .  . .

“Aduhh” Ringis taeyeon. Ternyata ia sedang menabrak seseorang, tidak, lebih tepatnya bertabrakan.

“Mianhae” Ucap namja tinggi itu singkat lalu pergi meninggalkan taeyeon.

Taeyeon hanya terpaku, ia menyadari sesuatu. ‘Orang itu menggunakan bahasa korea, berarti dia orang korea’. Memang taeyeon tinggal di china, tetapi appanya orang korea. Bahkan ia sering menggunakan bahasa korea jika berbicara dengan eommanya yang juga pernah tinggal dikorea.

“Hei tunggu” Teriak taeyeon kepada namja itu. Ia bangkit dan memperbaiki kopernya yang kini berantakan. Tetapi, namja itu sudah terlanjur hilang dari penglihatannya.

“Aisss, padahal aku hanya  ingin meminta bantuan padanya” ucapnya kesal.

Taeyeon hanya berjalan lesu dibandara, padahal sebentar lagi pesawatnya akan berangkat. Ia  sangat bosan karena tidak ada orang yang dapat dia ajak berbicara. “Taeyeon semangat, ini demi oppa siwon, HWAITING!!!!” ia menggenggam kalungnya erat.

Setelah memasuki pesawat taeyeon bingung mencari tempat duduk, maklum ini pertama kalinya dia naik pesawat. Tetapi, ia melihat pemandangan yang tidak asing lagi dihadapannya. Yah, namja yang ia tabrak tadi kini telah duduk di pesawat yang sama dengan dirinya. Tanpa aba- aba (?) taeyeon langsung duduk disamping namja itu, karena kebetulan kursinya sedang kosong.

“Annyeonghaseyo, taeyeon immida” ucap taeyeon yang sudah duduk disamping namja tinggi itu.

Namja itu hanya menatap taeyeon sebentar lalu kembali focus menatap jendela disampingnya.

“Hello, apakah kau mempunyai penyakit gangguan pendengaran, aku bisa mengenalkanmu kepada dokter teman eommaku. Dia adalah dokter spesialis pendengaran, jadi kau mau kau bisa konsultasi padanya” Ucap taeyeon, sepertinya penyakit polosnya mulai kambuh.

Sehun POV

“Hello, apakah kau mempunyai penyakit gangguan pendengaran, aku bisa mengenalkanmu dengan dokter teman eommaku. Dia adalah dokter spesialis pendengaran, jadi kau bisa konsultasi padanya” ucap gadis aneh disampingku yang katanya bernama taeyeon.

Aku hanya menatapnya bingung, apakah dia sakit jiwa? Kenapa pertanyaannya sangat konyol ?

“Hei, apakah kau juga mempunyai penyakit rabun pada matamu? Apakah kau tidak bisa melihatku dengan jelas” ucapnya, dia melambaikan tangannya didepan mataku. Ya tuhan mengapa pertanyaannya sangat aneh.

“Hmmm, sepertinya kau mempunyai masalah yang sangat serius. Kau bahkan tak bisa berbicara”

Apa yang dia katakana? Apakah dia kira aku seorang anak berkebutuhan khusus yang begitu banyak kekurangan? Tetapi sepertinya aku mulai terhibur dengan kehadirannya. Dia sangat lucu, setidaknya dia bisa membuatku sedikit melupan kesedihanku akibat kematian eomma.

“Ini pertama kalinya aku ke korea kukira aku bisa meminta bantuan darimu, tetapi sepertinya aku yang harus membentumu” Dia memanyunkan bibirnya, ya tuhan apa yang terjadi padaku ?. Mengapa sekarang detak jantungku tak bisa terkontrol hanya dengan melihat bibirnya?

“Sepertinya bukan aku yang berpenyakitan tapi kau” ucapku kembali mengendalikan diriku untuk tidak menatapnya.

“Ya tuhan apakah penyakitmu sudah sembuh? Wow hebat sekali bisa sembuh tanpa harus ke dokter” Ucapnya dengan meta berbinar jujur saja aku bahkan tak sanggup menatap matanya.

Sehun POV end

Author POV

“Ya tuhan apakah penyakitmu sudah sembuh? Wow hebat sekali bisa sembuh tanpa harus ke dokter” ucap taeyeon dengan polosnya.

Sepanjang perjalanan taeyeon terus bercerita tanpa ada jeda (?). Sehun hanya melihat jendela seolah- olah mengabaikannya. Padahal sebenarnya dia mendengarkannya dengan sangat saksama. Ia sesekali tersenyum kalau taeyeon mulai berkata aneh, tetapi taeyeon tentunya tidak melihatnya. Taeyeon banyak bercerita tentang siwon oppanya kepada sehun.

Karena terlalu banyak berbicara taeyeon menjadi ngantuk. Ia menguap tanpa menutup mulutnya, padahal ada seorang namja tampan disampingnya. Semua wanita pasti menjaga image-nya didepan namja, tetapi sepertinya itu tidak berlalu bagi taeyeon.

Sehun yang melihatnya hanya tersenyum, dan lagi- lagi taeyeon tak melihatnya. “Aku mengantuk, tapi aku tidak bisa tidur tanpa sesuatu yang harus kupeluk. Jadi aku memimjam lenganmu yah ?” ucap taeyeon sambil menunjukkan aegyo andalannya.

Sehun agak kaget mendengarnya, tetapi ia berusaha untuk tetap bersikap dingin demi menjaga image-nya. Tanpa memerhatikan pendapat sehun setuju atau tidak, taeyeon lagsung menarik lengan sehun. Ia memeluk lengan sehun dan menyandarkan kepalanya di bahu sehun.

Deg . . ..

Jantung sehun semakin cepat berdetak, ia sekarang mulai khawatir taeyeon akan mendengarnya.

“Apakah kau sangat takut naik pesawat sehingga jantungmu berdetak sangat cepat ?” Tanya taeyeon polos, sehun bisa bernafas lega sekarang. Karana gadis yang dihadapinya benar- benar polos.

“Jangan takut aku mempunyai kalung pelindung dari oppaku. Kalung ini akan terus melindungi kita” sambung taeyeon.

Hening, itulah yang terjadi saat diantara mereka. Sehun tidak mengubris perkataan taeyeon, sedangkan taeyeon tengah terbawa dalam alam mimpi.

Sehun menatap lembut taeyeon yang sudah tertidur, ‘kau sangat lucu, sepertinya aku menyukaimu’ batin sehun. Ia menyingkirkan rambut diwajah taeyeon, dan perlahan menyandarkan kepalanya di kepala taeyeon. Beberapa saat ia sudah menyusul (?) taeyeon ke alam mimpi.

 

. . . . . . . . .

Luhan sangat bersemangat pulang dari perlombaan basket. Seutas senyum tak pernah tersingkir dari wajah manisnya. Tentu saja bukan karena dia menang pertandingan basket, ia memang senang karena di pertandingan tadi club dari sekolahnya menang dan mendapat medali emas. Tetapi lebih dari itu, ia jauh lebih senang karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan taeyeon yang sudah sangat dirindukannya. Padahal belum saja sehari mereka tidak bertemu, luhan sudah setengah mati (?) merindukan taeyeon.

“Awas kau, aku akan memarahimu habis habisan bagaimana mungkin kau tak datang ke pertandinganku” ucapnya ketika sudah berada di depan rumah taeyeon.

Ia membunyikan klakson mobilnya, dan dengan cepat pintu gebang rumah taeyeon sudah dibuka oleh salah satu keamanan (?) dirumah taeyeon. Ia masuk dan memarkir mobilnya di halaman rumah taeyeon yang sangat luas. Jika orang lain melihatnya mungkin ia akan mengira bahwa itu rumah luhan. Karena luhan berperilaku rumah itu seperti rumahnya sendiri.

Luhan turun dari mobilnya dan langsung menuju pintu rumah taeyeon sambil membunyikan bel. Setelah menunggu beberapa saat pintupun terbuka.

“Hai bibi Soo, apakah taeyeon ada” Tanya luhan to the point.

Bibi soo tampak bingung, bagaimana mungkin luhan tidak tahu kalau taeyeon sudah berangkat ke korea.

“Bibi, kenapa menatapku seperti itu?’ luhan terlihat bingung melihat bibi soo, yang bebeda dari biasanya.

“Sebentar ya tuan” bibi soo membungkukkan badannya dan segera memasuki kediaman taeyeon.

Luhan masih bingung, tetapi ia hanya bisa menunggu bibi soo sekarang. Beberapa menit kemudian bibi soo kembali.

“Maaf tuan sudah menunggu lama” ucap bibi seo tampak menyesal.

“Tidak apa- apa” jawab luhan dengan senyum diwajahnya.

“Ini tuan, titipan dari nyonya muda” bibi seo menyerahkan sebuah amplop berwana pink.

“Apa ini ?” Tanya luhan bingung tetapi ia tetap mengambol amplop itu dengan sopa.

“Saya tidak berhak memberi tahu tuan, lebih baik tuan membacanya sendiri. dan saya mohon undur diri (?)” bibi soo membungkuk sopan lalu berlalu dari hadapan luhan.

Luhan membuka surat itu dengan sedikit hati- hati. Entah kenapa perasaannya tidak enak ketika melihat surat itu. Apalagi taeyeon yang tidak biasanya mengirim surat padanya.

Dear my baby

Baby, maafkan aku . .. .

Karena mungkin kalau kau sudah membaca surat ini pasti aku sudah pergi . . .
Maaf aku tidak memberitahumu tentang kepergianku yang mendadak ini . . . . .
Aku takut aku akan merepotkanmu dan pasti kau akan membatalkan pertandingan basketmu ketika mengetahui ini . . . . .
Kau ingat ceritaku tentang siwon oppa ?
Yah, hari ini adalah ulang tahunku yang ke- 16 . . . .
Dan kau tahu hadiahnya apa ?
Aku bisa bertemu dengan siwon oppa, aku sekarang di seoul . . . .
Kau tahu betapa senangnya aku . . . . .
Ya tuhan akhirnya semua do’aku terkabul juga . . . .
Kau harus jaga diri yah ? . . . .
Aku pasti akan merindukanmu . . . . .
Saranghae baby . . . .

Your sister

Teyeon

Luhan hanya terdiam, kini tangannya mulai gemetaran memegang surat itu. Rasanya nafasnya benar benar berhenti saat itu, jantungnya berdegub sangat kencang. Hatinya sakit bagaikan disayat- sayat pisau yang bahkan ia tak melihatnya. Bibirnya hanya bisa menganga (?), sedangkan wajah mulusnya kini penuh dengan air mata. Lututnya tak bisa bertahan Manahan berat badannya lagi, rasanya ia sudah tidak memiliki tenaga. Ia jatuh tersungkur dilantai depan pintu taeyeon. Bibirnya tak mampu berkata apa- apa lagi.

‘Aku tidak yakin bisa hidup tanpamu taeyeon’

. . . . . . . .

Taeyeon masih asik berurusan dengan mimpinya (?), sementara sehun hanya memandanginya dan sesekali terkekeh melihat cara tidur taeyeon yang menurutnya sangat menghibur. Pesawat yang mereka tumpangi telah mendarat dengan selamat, tetapi taeyeon belum juga bangun, dan tentu saja sehun tak tega membangunkannya.

“Oppa saranghae” igau taeyeon dalam tidurnya.

‘Kau pasti sangat menyayangi oppamu, aku jadi iri padanya’, sehun mengelus singkat kepala taeyeon.

Taeyeon sepertinya agak terganggu dengan elusan itu, dengan perlahan dia membuka mata indahnya. Sehun agak kaget melihatnya, dan segera mengalihkan pandangannya ke jendela.

“Hei” sapa taeyeon melambaikan tangannya.

Sehun hanya menatap taeyeon singkat lalu kembali menatap jendela. Sikapnya sangat berbeda ketika taeyeon tadi sedang tidur.

“Kau masih saja, bersikap cuek padaku. Apakah kau adalah jelmaan dari es?” Tanya taeyeon kesal. Ia sekarang menatap ke seluruh ruang pesawat. “Kemana semua orang”

“Kita telah mendarat” Jawab sehun singkat tanpa melihat taeyeon.

“Mwo ?” taeyeon sangat kaget hampir saja matanya keluar (?) saat itu. Sehun yang melihatnya hanya menahan senyum, karena takut image- cool nya akan tercoreng.

“Kajja, aku tidak sabar bertemu dengan oppa” taeyeon menarik tangan sehun, lebih tepatnya sih menyeret sehun.

Sehun hanya pasrah dengan sifat taeyeon, sepertinya ia mulai terbiasa dengan yeoja aneh dihadapanya ini. Sehun tersenyum pahit ‘Apakah kau tidak menyadari kalau aku masih ingin terus bersamamu?’

Taeyeon tidak pernah melepaskan tangan sehun. Sehun sebenarnya agak sedikit kewalahan,, karena selain dia harus menarik kopernya. Ia juga harus sedikit membungkukkan badannya karena tinggi badannya yang tidak sebanding dengan taeyeon. Tetapi, tidak ada sedikitpun ekspresi kesal diwajahnya, ia malah senang dengan perlakuan taeyeon itu.

“Hei, kenapa orang- orang menatap kita seperti itu” Tanya taeyeon bingung. Betapa polosnya taeyeon, tentu saja semua orang sekarang iri pada mereka. Dimata orang- orang mereka adalah pasangan muda yang romantic, dan seperti baru pulang dari bulan madu. Apalagi taeyeon terus memegang tangan sehun.

Sehun hanya menatapnya dalam memerhatikan setiap inci ekspresi  yang ditunjukkan taeyeon. ‘Apakah ia benar- benar sepolos itu?’

“Aku hanya bertanya, mengapa kau menatapku seperti itu” taeyeon kesal dengan tatapan yang diberikan sehun tadi.

“Sekarang sebenarnya kau mau kemana?” Tanya sehun mengalihkan topic pembicaraan.

“Aku mau ketemu oppa siwon” jawab taeyeon antusias.

“Memang rumah oppamu dimana?” Tanya sehun lagi.

Taeyeon terdiam, dia baru ingat eommanya belum memberi tahu teyeon alamat siwon. “Aku tidak tahu” jawab taeyeon putus asa.

Sehun yang melihatnya hanya menggelengkan kepala, bagaimana mungkin ada orang yang seceroboh taeyeon.

Sehun sebenarnya ingin membantu taeyeon, tetapi sepertinya egonya terlalu tinggi untuk menawarkanbantuannya ‘Ayo minta tolonglah padaku.’

Sumgyeo do twinkle eojjeona?
Nune hwahk ttwi janha
Beire ssayeo isseodo
naneun twinkle tiga na

Suara nada dering taeyeon membuyarkan kesunyian antara sehun dan taeyeon. Taeyeon dengan segera melepaskan genggamannya dari sehun. Nampak dari wajah sehun ekspresi kekecewaan. Taeyeon mengambil HPnya di tas.

“Eomma, mengapa aku tidak pernah berfikir untuk menelpon eomma tadi” gerucunya kesal lau mengangkat telponnya. “Annyeong eomma”

“ . . ..  “

“Aku baik- baik saja”

“. . . .  “

“Mobil berwarna merah” taeyeon menatap  semua mobil berwarna merah yang terparkir dihalaman depan bandara. Beruntung bagi taeyeon karena hanya ada satu mobil yang berwarna merah disitu.

“. . . . . “

“Ne, oemma”

“ . . . . .”

“Aku juga sangat merindukan eomma”

“. . . . . “

“saranghae eomma” taeyeon menutup telponnya.

“Ternyata aku dijemput oleh sopir, jadi aku duluan yah, kau tahu aku pasti merindukanmu” ucap taeyeon sambil pergi meninggalkan sehun.

Sehun hanya diam terpaku ditempatnya. Mengapa hatinya sangat perih melihat taeyeon pergi?, rasanya sama ketika ia ditinggalkan eommanya sewaktu eommanya pergi ke china.

Taeyeon terlihat sedang berbicara dengan seorang ajusshi, beberapa menit kemudian taeyeon berlari kembali menuju sehun yang masih menatapnya. “Apakah aku hanya berhayal?”sehun mengucek matanya. Dan ternyata benar taeyeon makin dekat, makin dekat dan . .. .

Deg

“Aku pasti akan sangat merindukanmu” Ucap taeyeon setelah memeluk sehun.

Sehun masih diam tak membalas pelukan taeyeon, taeyeon perlahan melepas pelukannya. Dan menatap sehun lembut sambil tersenyum singkat.

Taeyeon kembali ke mobilnya, ia melambaikan tangannya ke arah sehun yang masih diam ditempatnya. Mobil taeyeon sudah pergi, sedangkan sehun meraba dadanya yang berdegub kencang. Ia sekarang benar- benar yakin pada perasaannya ke taeyeon.

“SARANGHAE” teriak sehhun tanpa mempedulikan orang- orang yang menatapnya aneh. Tetap saja mobil taeyeon telah berlalu tanpa mendengar teriakan sehun.

 

. . . . . . .

 

“Ajusshi, apakah oppa yang menyuruh ajusshi menjemputku?, mengapa bukan oppa saja yang langsung menjemputku ke bandara?, apakah oppa tidak merindukanku?.” Seperti biasa, taeyeon kembali kepada penyakitnya (?).

Supir yang membawa taeyeon hanya terkekeh singkat. “Nyonya muda saya bukan utusan dari oppa anda. Saya menjemput anda di bandara atas perintah nyonya Kim” jelas supir yang kira- kira berusia empat puluh tahun tersebut.

Taeyeon mendengus kesal, “Apakah oppa sangat tidak peduli padaku? Mengapa dia sangat tega membiarkan adiknya yang manis ini di bandara sendirian”

Taeyeon masih kesal karena siwon tidak menjemputnya di bandara. Ia tidak tahu kalau siwon sebenarnya tidak tahu kedatangannya karena ini murni rencana dari eommanya. Begitu banyak rahasia yang ia tidak ketahui tentang keluarganya.

“Ajusshi kita belum berkenalan, taeyeon immida” ucap taeyeon agak sedikit membungkuk.

Supirnya melihatnya dari kaca spion, “Leeteuk immida”

 

. . . . . . .

Cukup lama diperjalanan akhirnya taeyeon sampai di depan rumah yang sangat megah, tidak jauh berbeda dengan rumahnya yang ada di china.

“Ajusshi, apakah kita sudah sampai” Tanya taeyeon antusias.

“Sudah nyonya” Jawab Leeteuk sopan.

“Ahhhhh, oppaaaa iam coming” Teriak taeyeon sambil membuka pintu. Hampir saja gendang telinga leeteuk pecah karenanya.

Taeyeon turun dari mobil dan memencet bel dari pintu gerbang dengan sangat cepat saking bersemangatnya. Setelah beberapa detik seorang ajusshi keluar dari pintu gerbang.

“Apakah kau tidak pernah diajari sopan santun oleh orang tuamu” Bentak ajusshi itu.

Taeyeon terdiam, ia bahkan tidak pernah dibentak seperti itu. Hampir saja air matanya jatuh membasahi wajah mulusnya.

“Mian” ucapnya pelan.

“Apa yang kau lakukan, apakah kau sudah malas bekerja” Ucap leeteuk yang berada di samping taeyeon.

“Apa maksudmu? Siapa kau ?” Ucap pemuda itu.

“Dia adalah pemilik dari rumah ini. Anak dari presdir choi” ucap leeteuk dengan pandangan meremehkan.

“Jangan asal bicara . . “

Belum saja ajusshi itu menuntaskan omongannya leeteuk sudah memberinya sebuah kartu yang taeyeon juga tidak mengetahui itu kartu apa. Yang jelas setelah melihat kartu itu ajusshi itu langsung menatap taeyeon dengan pandangan sangat menyesal.

“Mian nyonya muda, saya sudah sangat keterlaluan. Saya pantas dihukum yang seberat- beratnya” ucap ajusshi itu sambil menunduk.

“Ajusshi apa yang kau lakkukan? Aku lebih muda darimu jadi jangan seperti ini” ucap taeyeon menegakkan badan ajusshi itu.

“Baiklah sekarang boleh saya masuk” Taeyeon tersenyum manis.

“Tentu nyonya” Jawab ajusshi itu membungkuk 90 derajat.

Taeyeon langsung saja berlari memasuki halaman rumah. Air matanya kini membasahi pipinya, akhirnya kerinduan yang selama ini ia pendam sendiri bisa ia keluarkan. Rasanya ia sudah tidak sabar bertemu dengan orang yang paling berharga untuknya di dunia ini.

Dengan tangan gemetar taeyeon memencet bel di pintu rumah megah itu. Ia menunggu sebentar, dan pintu sudah mulai terbuka. Air matanya kini benar- benar mengalir sangat deras.

“Cari siapa?” Tanya seorang namja kepada taeyeon tampaknya ia kebingungan melihat taeyeon yang sedang menangis. Namja itu sangat tinggi, kulitnya putih bersih, dan sangat tampan.

“Oppa” taeyeon langsung memelukanya dengan erat.

“Apa yang kau lakukan, lepaskan” Namja itu melepaskan pelukan taeyeon dengan sedikit kasar.

“Oppa, apakah kau tidak merindukanku” Tanya taeyeon dengan air mata yang sangat deras. Ia benar- benar tidak menyangka akan mendapat perlakuan seperti itu dari oppanya sendiri.

“Apa yang kau katakana? Aku bahkan tidak mempunya adik” Namja iru melipat kedua tangannya.

Hati taeyeon hancur, bagaimana mungkin oppa yang sangat disayanginya tidak mengenalinya. Ia duduk dilantai dan mulai menangis meraung- raung (?).

“Oppa jahat aaaaaa. . . . . “ Taeyeon menangis sejadi- jadinya. Namja itu terlihat khawatir sekaligus heran melihat taeyeon.

“Apa yang kau lakukan? Sudahlah jangan menangis” Namja itu berusaha menenangkan taeyeon.

“aaaa . . . “ bukannya berhenti, taeyeon malah berteriak lebih kencang.

“Kris- ssi apa yang kau lakukan kepada yeoja itu?” tiba- tiba seorang namja yang tidak beda jauh tingginya dengan kris datang.

Taeyeon terdiam, ‘Kris?’ batinnya. Ia menatap namja yang baru datang itu hingga mata mereka bertemu.

“Hyung Aku juga tidak tahu, yeoja aneh ini tiba- tiba datang dan memanggilku oppa” Sangkal kris.

Namja itu tidak mendengarkan kris, ia juga menatap taeyeon dalam. Ia merasakan ikatan batin yang kuat dengan yeoja didepannya itu.

“Oppa” panggil taeyeon pelan.

“Ta . . taeyeon” panggil namja itu lirih.

Taeyeon bangkit, mata namja itu langsung tertuju kepada kalung yang dipakai taeyeon. Lebih tepatnya kalung pemberiannya. Kris menatap mereka bingung, “Apakah kalian saling mengenal?”

Tidak ada yang merespon ucapan kris. Mereka tetap saling memandang, mereka berjalan saling mendekat air mata tayeon seolah tidak ada habisnya untuk tetap mengalir. Sementara namja itu wajah tampannya juga kini penuh dengan air mata.

Terpancar dari keduanya rasa rindu yang mendalam. Kerinduan yang sudah berpuluh tahun dipendam. Inilah saat yang mereka tunggu- tunggu. Mereka sudah sangat dekat, taeyeon mengangkat kepalanya menatap namja itu lebih dalam lagi.

“Oppa” ucap taeyeon lirih.

Namja itu tersenyum lembut lalu memeluk taeyeon dengan erat, taeyeon juga membalasnya. Rasanya sekarang dunia milik mereka berdua, mereka seolah tidak mau melepas pelukannya.

Kris yang melihatnya sekarang mulai mengeti. Ia baru sadar kalau ia berada di rumah siwon, jadi wajar saja kalau yeoja itu mengira dirinya siwon. Ia juga merasa bersalah pada taeyeon karena sudah bersikap kasar kepada taeyeon.

Cukup lama mereka berpelukan dengan penuh air mati. Dari dalam rumah keluar lagi dua namja tampan. “Ada apa ini ?”

Kris hanya memberikan isyarat kepada mereka untuk tetap diam, dan tentu saja mereka terdiam dan memandangi taeyeon dan siwon yang sedang berpelukan.

 

. . . . . . .

“Taeyeon maafkan oppa, oppa belum mempersiapkan kamar untukmu” ucap siwon kepada taeyeon.

“Tidak apa- apa oppa, kamar ini sudah sangat bagus” taeyeon tersenyum manis.

Siwon mengelus puncak kepala taeyeon dan menciumnya singkat, “Kau masih semanis dulu”

Taeyeon tersipu malu mendengarnya, sudah sangat lama ia merindukan moment- moment ini. “Oppa bisa saja”

Siwon hanya terkekeh melihat tingkah adiknya itu, ‘Kau masih belum berubah’ batinnya. “yah sudah, taeyeon sayang sekarang kamu mandi, ganti baju lalu kita makan bersama”

Siwon hendak pergi tetapi taeyeon menarik tangannya. Dari pandangan mata taeyeon siwon mengerti maksudnya. Ia menarik taeyeon kedalam pelukannya, “Tenanglah oppa tidak akan meninggalkanmu lagi, kamu jagan takut”

Taeyeon melepas pelukannya, “Janji?” tayeon menjulurkan jari kelingkingnya.

“Janji”

Akhirnya taeyeon mau dibujuk juga, siwon meninggalkan kamar taeyeon. Taeyeon melihat- lihat isi kamarnya dan mulai membereskan pakaian lalu kemudian mandi.

Di lantai satu siwon sedang menunggu taeyeon selesai berbenah.

“Siwon- ssi apakah dia adikmu yang sering kamu ceritakan?” Tanya ryeowook, salah satu sahabat siwon.

“Ia” Jawab siwon singkat, tetapi dari matanya memancarkan aura kegembiraan yang sangat dahsyat.

“Dia sangat cantik” tambah changmin sahabat siwon juga selain ryeowook. Siwon hanya tersenyum mendengarnya. “Tetapi dia tidak sama sepertimu, dia sangat pendek, auuu “ sebuah jitakan keras kini mendarat di kepala changmin.

“Changmin, sekali lagi kau mengatakan adikku seperti itu kau kan mati ditanganku” siwon menatap tajam chngmin yang meringis kesakitan.

Ryeowook hanya terkekeh melihatnya, sedangkan kris masih melamun sepertinya ia masih merasa bersalah terhadap taeyeon.

“Kris-ssi, sudahlah jangan merasa bersalah lagi. Tenanglah taeyeon sangat manis ia tak akan marah padamu” ucap siwon seolah bisa membaca pikiran kris.

“Tidak, aku hanya tidak enak saja”

“Kau ini terlalu perasa”

Kini tatapan tajam terarah ke changmin lagi, “apakah kau sungguh tidak bisa menjaga kata- katamu” ucap siwon singkat.

Changmin kembali terdiam, “Kenapa selalu aku yang kena?” ucapnya sangat pelan tetapi masih dapat didengar oleh tiga temannya.

“Itu karena mulutmu” ucap siwon, kris, dan ryeowook bersamaan, changmin hanya bisa pasrah sekarang.

“Oppa . .. “ Taeyeon menghampiri mereka berempat. Taeyeon menuruni anak tangga, seperti biasa ia berlari. Seandainya saja eommnya ada disini pasti taeyeon sudah diomeli habis- habisan.

“Kau sudah selesai” Tanya siwon lembut menghampiri adiknya.

“Sudah” Jawabnya tesenyum. Sekarang ia sudah memakai baju santai, ia memakai baju kaos dan rok yang sederhana. Tetapi akan menjadi istimewah jika taeyeon yang memakainya.

“Sebelum makan, kau berkenalan dulu dengan teman- teman oppa” siwon menggandeng taeyeon untuk duduk di sofa bergabung dengan mereka.

“Ini teman oppa yang paling rajin dan pandai memasak ryeowook”

“Annyeong, ryeowook immida” ryeowook tersenyum singkat.

“Annyeong, taeyeon immmida. Lain kali aku ingin belajar memasak dengan oppa, oppa maukan mengajariku?” Pinta taeyeon.

Ryeowook mengangguk, dan tentu saja taeyeon sangat senang, “Kamsamida oppa”

“Kalau yang ini namanya changmin, kau jangan sakit hati kalau dia terlalu jujur hingga menyakiti hatimu” ucap siwon yang langsung mendapat tatapan tajam dari changmin.

Taeyeon hanya tersenyum, “Annyeong, taeyeon immida, oppa tahu aku suka orang jujur. Jadi berkata jujurlah padaku aku tidak akan sakit hati. Lain kali aku ingin berbicara banyak dengan oppa” jelas taeyeon panjang kali lebar (?).

“Pasti, kita akan membicarakan banyak hal” Jawab changmin. Sepertinya ryeowook dan changmin senang dengan kepribadian taeyeon yang selalu gembira dan sedikit cerewet.

“Ini yang terakhir, namanya kris dia adalah adik dari ryeowook”

Kris hanya diam menatap taeyeon, dia sedikit takut kalau taeyeon marah padanya. Dan tentu saja dugaannya salah, karena mana mungkin taeyeon bisa marah kepada orang.

“Annyeong taeyeon immida. Aku sangat meminta maaf karena tadi salah paham padamu. Aku sangat ceroboh sampai tidak mengenali oppaku sendiri. sekali lagi aku minta maaf” taeyeon membungkukkan badannya.

“Tidak, seharusnya kau yang meminta maaf karena bersikap kasar kepadamu”

“Kalau soal itu bukan salahmu, kalau aku jadi kamu aku juga pasti melakukan hal yang sama denganmu” selah taeyeon.

Kris tersenyum, ternyata gadis didepannya ini benar- benar menyenangkan.

“Taeyeon, jangan terlalu bersikap sopan pada kris. Kau tahu kau bahkan tua satu tahu dari kris”

“MWO?” ucap  ryeowook, changmin dan kris bersamaan menatap siwon seolah meminta penjelasan, . Meraka benar- benar tidak menyangka kalau taeyeon lebih tua dari kris. Kalau taeyeon tentu saja sudah menduganya karena banyak sekali adik kelasnya dulu yang juga seperti kris.

“Sepertinya aku harus meminum susu yang banyak agar bisa tumbuh tinggi” Ucap taeyeon puru – pura memajukan bibirnya imut.

“Mian” ucap changmin merasa bersalah.

Taeyeon terkekeh pelah, “Oppa apakah kau mengira aku benar- benar marah? Aku hanya bercanda” ucap taeyon tersenyum tulus.

“Sudah ku bilang adikku ini benar- benar manis” siwon merangkul taeyeon. “Kajja kita makan malam bersama.”

“Kajja aku juga sudah sangat lapar” ucap taeyeon memegang perutnya.

Meraka makan malam bersama di rumah keluarga Choi. Lebih tepatnya taeyeon saja yang makan, sementara yang lainnya Cuma memandangnya. Bagaimana tidak heran, dengan badan seimut taeyeon, perut yang kecil, bagaimana mungkin ia makan sangat banyak.

Tanpa ragu- ragu ia sudah menambah sebanyak tiga kali, padahal ia sedang makan bersama namja- namja tampan, mengapa ia tidak malu? Di dalam kamus kehidupan taeyeon tidak ada kata malu selama ia berada di jalan yang benar.

“Mengapa kalian tidak makan ?” Tanya taeyeon bingung.

“Kami sudah kenyang melihatmu makan” Jawab changmin spontan dan tentu saja mendapat jitakan yang keras dari ryeowook.

“Yaaa”

“Itu pantas kau dapatkan”

Changmin hanya menggerutu kesal, “Mengapa selalu aku yang teraniaya” jawabnya dramatis.

Taeyeon terkekeh, “Mengapa ryeowook oppa selau menjitak changmin oppa ketika changmin oppa berbicara” Tanya taeyeon polos.

Mata ryeowook dan changmin membulat sempurna, sedangkan siwon hanya terkekeh tentu saja dia sudah tahu kalau adiknya yang satu ini memang sangat polos.

“Kau benar- benar tidak mengerti” Tanya ryeowook memastikan yang hanya dibahas anggukan tanpa dosa oleh taeyeon. “Sudahlah kita tidak usah membahas ini lagi” Ucapnya prustasi.

Kris yang menyaksikan semua kejadian itu hanya tersenyum sembunyi- sembunyi tanpa diketahu yang lainnya. Ia benar- benar terpukau dengan kepribadian taeyeon. Taeyeon benar- benar apa adanya, ia tidak berusaha menutupi kelakuan yang bagi sebagian orang memalukan. ‘kau sangat lucu, apakah aku mulai menukaimu?’

. . . . . . . .

Changmin, ryeowook, dan kris telah pulang setelah makan malam. Kini tinggal taeyeon dan siwon yang masih ingin berdua melepas kerinduan mereka.

“Adikku sayang tidur yang nyenyak yah?” siwon menyelimuti dan menyecup puncak kepala taeyeon.

“Oppa maukah kau tidur bersamaku” ucap taeyeon penuh harap.

Siwon tersenyum singkat, “Sayang kau sudah besar, masa masih mau tidur bersama”

“Untuk malam ini saja oppa. Aku masih merindukanmu” Taeyeon agak sedikit memohon.

Siwon tidak tega melihat taeyeon yang seperti itu ia langsung naik ke kasur bersama taeyeon. Taeyeon bersandar di dada siwon persis saat mereka masih kecil dulu.

“Kau kesini dengan siapa?” Tanya siwon memecah kesunyian.

“Sendiri, eomma sedang sibuk jadi dia tidak ikut”

“Apakah kau tidak takut sendirian”

“Tidak, aku bertemu dengan seseorang dipesawat”

“siapa?”

Taeyeon terdiam, benar saja ia belum menanyakan nama namja itu sewaktu di bandara.

“Taeyeon, kau sudah tidur” Tanya siwon membuyarkan lamunan taeyeon.

“Belum oppa, tapi oppa aku lupa menanyakan namanya” jawabnya jujurku.

Siwon hanya menggeleng, “Adikku ini memang sangat ceroboh” ucapnya mengacak- acak ambut taeyeon.

“Oppa, appa kemana?”

“Appa sedang sibuk” jawab siwon singkat. “Oya, bagaimana kabarmu sewaktu oppa ke seoul” Tanya taeyeon mengalihkan pembicaraan.

Taeyeon mulai bercerita tentang kehidupannya sepeninggal siwon ke seoul. Ia juga banyak bercerita tentang luhan. Belum banyak yang bisa ia ceritakan, HP siwon sudah berdering.

“Hallo”

“ . .. . “

“Apa? Rumah sakit mana?”

“ . . .. “

“Baiklah aku akan menjenguknya besok”

“. . . . . “

“Adikku sekarang sedang dirumah, aku tidak mungkin meninggalkannya sendiri”

“ . . . .. “

Sambungannya terputus saat itu juga. “Oppa kenapa?” Tanya taeyeon penasaan.

“Teman oppa kecelakaan dan sekarang ada di rumah sakit”

“Cepat pergi jenguk dia oppa”

“Terus bagaimana dengan mu” Tanya siwon khawatir.

“Aku baik- baik saja, bergilah” bujuk taeyeon.

Tentu saja siwon mengalah mana mungkin dia berhadapan dengan adiknya yang sangat keras kepala ini. “Baiklah”

 

. . . . . . . . .

Taeyeon sebenarnya masih mau menghabiskan waktu bersama siwon, tapi mau bagaimana lagi ia juga tidak mau menjadi orang yang egois. Ia sekarang membeli ice cream di dekat rumah. Memang sangat sulit keluar dari rumah yang penjagaannya sangat ketat. Tapi, dengan bakat sedikit bujukan dan aegyo taeyeon bisa keluar sebentar.

“Aku kira malam ini aku akan menghabiskan malam untuk bercerita dengan oppa” ucapnya prustasi. Ia kemudian berjalan hendak kembali ke rumahnya.

Di perjalanan ada sedikit yang menarik perhatiannya, sebuah rumah disamping rumahnya. tentu saja itu rumah tetangga barunya sekarang. Ia melihat bunga yang sangat indah, ia memasuki pintu gerbang yang tidak dikunci itu. Memang saat itu pikirannya sangat dangkal sampai ia tidak memikirkan bagaimana kalau ia ketahuan? Tentu saja ia akan dikira pencuri.

Belum saja taeyeon sempat mengambil bunga itu tiba- tiba ada suara yang sudah familiar di telinganya. ‘Au . .  au . .au . .. ‘ yah itu suara anjing. Taeyeon menengok ke belakang, benar saja anjing besar hitam kini tengah berlari kearahnya.

Taeyeon berlari kencang, dan tanpa ia sadari ia sudah lebih masuk lagi ke halaman rumah itu.

“Tolong, tolong aku” teriak taeyeon ketakutan. Kini didepannya hanya ada dinding, ia tidak bisa kemana- mana lagi sekarang. Ia melihat anjingnya sudah makin mendekat, dan ia hanya bisa meutup matanya. “aaaaa . . “

Satu detik, dua detik, tiga detik taeyeon membuka matanya pelan. Tidak ada lagi anjing yang mengejarnya. Ia hanya melihat seseorang yang tidak Nampak jelas, karena dia bediri melindungi cahaya lampu.

“Apakah aku sudah mati? Apakah malaikat pencabut nyawa?” tanyanya polos.

Orang itu hanya terkekeh, dari suaranya ia seorang namja. “Ternyata kau tidak berubah”

Taeyeon berdiri dan kini bisa melihat jelas namja itu, “Kau?”

 

^^TBC^^

Akhirnya chap 3nya selesai juga. Aku sampai begadang nulis ini soalnya memang agak panjang kalau dibandingkan chapter2 sebelumnya . . . . .

Semoga kalian puas yah dengan karyaku . . . .

Dan bantu do’a semoga nilai UTSku tuntas semua . . .

Amien . . . .

61 thoughts on “[Freelance] Between Two Options (Chapter 3)

  1. yoona yuri sama jessica..keluarga kwon di snsd..disini jadi gadis menyebalkan haha..taeyeon dia benar – benar lucu, polosnya minta ampun.
    Kenapa harus sehun yang disukai…aku lebih suka kristae couple🙂

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s