[Freelance] Taeyeon, EXO & Their Kids Team 1 (Drabble)

taetae copy

Author : RYN

Length : oneshoot

Rating : PG 17

Cast :

Taeyeon & half member Exo

Genre : romance, fluff

 

Disclaimer : seluruh plot murni hasil pemikiranku. Insprisi datang dari berbagai hal namun semuanya tetap dengan imajinasiku sendiri. of course, seluruh cast milik tuhan dan orang tua mereka.

 

Annyeong!!

Ryn bawa ff baru lagi dari Ryn special collection’s

Untuk ff yang satu ini, aku coba buat scenario ff drabble dan berharap, kalian semua menyukainya. maaf kalau seumpama ini kurang memuaskan, soalnya ini pertama kalinya aku membuat ff drabble kayak gini. Entah karena emang aku lebih cocok nulis oneshoot, atau emang ga’ cocok nulis drabble, ff drabble buatanku sedikit agak panjang.

Oh ya, ff ini kubagi jadi dua. Team 1 and team 2. Mv growl jadi inspirasi buat bikin ff ini. disitu juga kalian bisa tahu, apa maksud dari team 1 n team 2. ~kekeke

Don’t plagiat, don’t copy paste without my permission!!

Aku tidak pernah memberikan izin pada siapapun untuk membuat cerita berdasarkan fanfic ini!!!

 

Untuk lebih menyentuh *jiahhhbahasanyaaa.. silahkan dengar lagunya EXO –> XOXO karena aku membuatnya sambil dengerin lagu itu.

Enjoy readers!!

 

***

** Taeyeon – Xiumin – 3 twins **

 

“Hyeon, appa bilang tidak boleh!” Xiumin langsung mengambil mainan bebek plastik dari tangan bayi perempuannya sebelum ia sempat memasukkannya ke dalam mulutnya. ini sudah ketiga kalinya ia melarangnya. Alhasil, bayinya yang tengah berusia kurang lebih 1 tahun itu menangis karena mainannya terampas dari tangannya. tentu saja bayi sekecil itu belum mengerti apa-apa tentang kuman dan sebagainya. Xiumin menjadi panik. dia menggendong dan berusaha menghentikan tangisnya.

Prang!

Suara yang terdengar di belakangnya membuatnya terlonjak kaget. dia berbalik, seketika tatapannya berubah horor, wajahnya menjadi pucat pasi. Apa yang dilihatnya hampir membuatnya pingsan. Disana, bayi perempuannya yang lain duduk di depan gelas yang telah pecah berkeping-keping di lantai. dia langsung menyesal telah meletakkan gelas di tempat yang mudah terjangkau oleh putrinya yang begitu aktif. Hyora putrinya, merangkak ke arah gelas yang berserakan di lantai. Tanpa meletakkan Hyeon, Xiumin berlari ke arah putrinya dan segera mengangkatnya menjauhi pecahan gelas itu. Hyomi yang tidak jauh di dekatnya tiba-tiba ikut menangis.

Xiumin dalam masalah sekarang. ketiga putri kembarnya tidak berhenti menangis. segala cara telah ia lakukan untuk menenangkan mereka, tapi tidak ada satupun yang berhasil.

“Hyeon, Hyora, Hyomi..cup.cup.cup..appa mohon, tolong berhentilah menangis.” suara memelasnya berusaha membujuk mereka.

“appa janji akan membelikan mainan yang banyak untuk kalian. tapi kalian harus berhenti menangis eo’” lagi-lagi dia membujuk mereka tapi bukannya berhenti, tangis ketiganya malah semakin keras.

Xiumin putus asa dan hampir menangis. Melihat air mata ketiga putrinya membuat hatinya terluka. dia membenci dirinya karena tidak bisa melakukan apapun untuk mendiamkan mereka.

Seorang wanita berpostur mungil membuka pintu rumahnya. dia terkejut begitu melihat pemandangan di depannya yang sangat berantakan dengan mainan yang berserakan dimana-mana. Taeyeon lebih terkejut begitu matanya beralih pada pecahan gelas di lantai. *oh my god* suara bayi yang terdengar dari lantai atas membuat perhatiannya teralih. Tanpa menunggu lagi, dia segera berlari menaiki tangga di depannya. sampai di atas, kakinya sontak berhenti ketika matanya terpaku pada satu titik di depannya.

Apa yang dilihatnya membuat pandangannya meneduh, perasaannya seketika luluh ketika melihat Xiumin tengah menghapus air matanya sambil memandangi ketiga bayinya yang menangis di depannya. pria itu terlihat sangat menyedihkan dan putus asa karena telah kehilangan akal untuk membuat ketiga bayinya berhenti menangis. dia menjadi merasa bersalah, tidak seharusnya ia meninggalkan suaminya itu dengan ketiga bayinya tanpa pengasuh. Xiumin yang masih berstatus sebagai ayah baru pastilah sangat kesulitan mengurus ketiganya sekaligus sendirian.

“oppa..” panggilnya.

Xiumin tersentak dan segera menoleh karena mengenali suara itu.

“sweety~” dia beranjak dari tempatnya lalu berlari menghambur ke pelukan Taeyeon dimana wanita itu langsung membalasnya. “maafkan aku sweety..aku tidak bisa menjaga ketiga bayi kita..mereka tidak mau berhenti…aku..aku sudah melakukan semuanya tapi mereka tetap menangis…aku bukan ayah yang baik..” suaranya yang parau berusaha menjelaskan semuanya membuat Taeyeon tidak tega mendengarnya.

“oppa jangan bilang seperti itu.”

Xiumin kemudian melepaskan pelukannya lalu menyandarkan kedua tangannya di pinggangnya. kedua mata sayunya menatapnya. “berjanjilah sweety, kau tidak akan meninggalkanku sendirian lagi.”

Taeyeon memberinya senyuman yang lembut lalu mengangguk. Kedua tangannya menyeka air mata suaminya lalu menangkup wajahnya dan memberikan kecupan singkat di bibirnya membuat pria itu langsung tersenyum cerah.

“maafkan aku juga oppa..sekarang, biar aku yang mengurus mereka. oppa istrahat saja.” ucapnya.

Xiumin menggeleng tegas. “kita akan mengurusnya bersama-sama.” Ujarnya.

“tapi oppa pasti kelelahan karena mengurus mereka bertiga.”

Xiumin lagi-lagi menggeleng kemudian memasang tampang cemberutnya. “kalau bersamamu dan bayi kita, aku tidak akan kelelahan.” Jawabnya jujur.

Taeyeon hanya bisa tertawa. Dalam hati dia sangat beruntung mendapat suami sepertinya. meskipun ada hal-hal yang tak bisa dilakukannya, suaminya tetap sempurna di matanya.

Setelah berhasil mendiamkan ketiga putri kecilnya yang tentu saja dengan bantuan istrinya, Xiumin tertidur di kasur khusus yang berada di ruang keluarga. Tidak jauh darinya, ketiga putrinya itu sibuk bermain dengan mainan mereka ditemani ibunya. Taeyeon menoleh ke belakang dan pandangannya berubah teduh. sebaris senyum lembut terukir di bibirnya kala memandangi suaminya yang nampak tertidur disana. suaminya tampak sangat lelah. siapa yang tidak? mengurusi ketiga buah hati kecilnya, tentu membutuhkan energi yang tidak sedikit.

Taeyeon beranjak dari tempatnya menghampiri suaminya. segera setelah dia duduk di pinggir kasur itu, Xiumin seketika menggeser tubuhnya ke arahnya dan menenggelamkan kepalanya di pangkuan istrinya sambil memeluk pinggang kecilnya. Taeyeon tertawa pelan, dia mengira suaminya benar-benar telah tertidur tadi tapi setelah melihat tindakannya, dia jadi berpikir Xiumin pasti sudah menunggunya sejak tadi agar menghampirinya. dengan lembut ia membelai rambut suaminya. untuk beberapa saat mereka diam menikmati kebersamaan mereka sampai akhirnya, Xiumin tiba-tiba membalik posisinya hingga bisa menatapnya. Taeyeon hanya tersenyum tanpa menghentikan belaiannya. Wajahnya yang mendadak bersemu merah karena tatapan Xiumin membuatnya memalingkan mukanya karena malu.

Xiumin cemberut, dia menaikkan kedua tangannya dan memegang wajah istrinya, membuatnya agar menatapnya kembali. Baru saja dia ingin menurunkan sedikit kepala istrinya agar ia bisa menciumnya, ketiga putrinya kembali menangis yang otomatis menghancurkan momen romantis mereka. Xiumin merenggut kesal dan bangkit dari pangkuan Taeyeon. Taeyeon hanya tertawa kecil sebelum mengecup kening suaminya lalu menghampiri ketiga putrinya.

– – –

“mereka sudah tidur?” tanya Xiumin begitu Taeyeon kembali ke tempatnya setelah menidurkan ketiga putrinya.

Taeyeon mengangguk dan tersenyum. dia berbalik hendak ke dapur tapi Xiumin langsung menahan tangannya.

“kau mau kemana?”

“aku ingin menyiapkan makan malam. apa lagi?” jawab Taeyeon masih tersenyum.

Xiumin menggeleng tegas. “kemari.” Ucapnya sembari menepuk kasur di sebelahnya. Taeyeon sempat mengerutkan keningnya tapi kemudian menurutinya.

Sesaat setelah ia berdiri di tepi kasur itu, Xiumin menariknya kebawah hingga tubuhnya jatuh di atasnya. Wajah Taeyeon seketika merona merah.

“oppa..”

“ssh..jangan katakan apapun.” Xiumin mengeratkan pelukannya. “sepertinya sudah lama sekali sejak kita tidak memiliki waktu bersama seperti ini.”

“oppa, kita sering melakukannya setiap detik setiap menit.” Ujar Taeyeon menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.

“tapi bagiku itu masih belum cukup. Aku selalu merasa kurang jika tak merasakanmu di pelukanku seperti ini setiap hari. ketiga malaikat kecil kita mengambil seluruh perhatianmu.”

Taeyeon bisa merasakan nada cemburu di dalam kalimatnya dan dia hanya bisa tersenyum geli dengan sifat kekanakan suaminya yang kembali timbul.

Taeyeon mengangkat kepalanya menatap suaminya. “oppa, aku mencintaimu. Tidak akan ada yang bisa menggantikanmu, kau tahu itu bukan?”

Xiumin menggangguk pelan. “tapi tetap saja, ketiga bayi kita itu pemenangnya.” Ujarnya sedikit cemberut.

Taeyeon tertawa kecil. Xiumin perlahan tersenyum. dia menyadari tidak seharusnya ia bersikap seperti ini jika menyangkut ketiga putrinya. dengan sekejap, dia membalik tubuhnya hingga Taeyeon berada di bawahnya.

“maafkan aku sweety..aku terlalu cemburu pada bayi kita.” Ucapnya merasa bersalah.

Taeyeon menggeleng lalu menangkup wajah suaminya. “aku suka sifat pencemburumu ini oppa.” ujarnya jujur. Xiumin mengerjapkan matanya mendengarnya. “mm..kedengaran sangat sexy.” tambahnya lagi. tapi kemudian dia sontak menutup mulutnya dengan kedua tangannya, wajahnya memerah menahan malu, sadar atas apa yang baru saja ia ucapkan.

Xiumin menatapnya dengan tatapan misterius sebelum akhirnya bibirnya melengkung membentuk smirk. Tanpa aba-aba, dia segera mengecup bibir Taeyeon. Tak perlu diminta, Taeyeon segera membalasnya. Xiumin memberinya lumatan-lumatan yang lembut sebelum membawanya pada ciuman yang penuh tuntutan hingga mengeluarkan desahan yang mampu membuat suaminya itu semakin menginginkannya lebih dari sekedar ciuman.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

** Taeyeon – Baekhyun – a son & a daughter **

 

Suara tangisan bayi terdengar dari dalam kamar yang bernuansa pink dengan banyak ornamen-ornamen lucu dan imut. Baekhyun meringis karena waktunya bersama Taeyeon menjadi terganggu. Taeyeon menarik selimut menutupi tubuhnya sembari tersenyum geli menyaksikan suaminya beranjak dari sampingnya dengan wajah masam sambil memakai celana panjangnya dan membiarkan tubuh bagian atasnya tanpa penutup. Setelah memberinya kecupan lembut di keningnya, dia pun berjalan menuju kamar asal suara tangisan itu.

Segera setelah melihat bayinya yang tengah menangis dalam box tempat tidurnya, hatinya seketika melunak. hati-hati dia meraih bayi perempuannya lalu mengecup pipinya dengan penuh kasih sayang sebelum menggendongnya di lengannya. Baekhyun menaruh bayinya di kasur kecil lalu mulai mengganti popoknya yang basah dengan penuh perhatian. Bayi mungil berusia dua bulan itu pun akhirnya berhenti menangis. Tugas selanjutnya, ia harus menidurkan kembali bayinya. Dia mulai bersenandung sambil mengayunkan gendongannya dengan pelan. suaranya yang lembut membuat bayi itu tertidur pulas di gendongannya. Tersenyum, dia memandangi putri kecilnya. Dari pertama lahir hingga berusia dua bulan, Baekhyun tak pernah bosan memandangi dan mengagumi makhluk mungil yang tertidur di lengannya itu.

“daddy.”

Baekhyun menoleh ketika sebuah suara kecil memanggilnya. Dia segera tersenyum begitu mendapati putranya yang berusia 3 tahun tengah berdiri di ambang pintu sambil mengucek-ucek kedua matanya. putranya berjalan mendekatinya dan duduk di sampingnya. kedua mata bulatnya yang masih mengantuk, ikut memandangi adiknya.

“kau terbangun karena Ahyun?” tanya Baekhyun pada putranya.

Putranya hanya mengangguk pelan. dia menguap dan Baekhyun tertawa kecil melihatnya. sebelah tangannya terangkat membelai kepala putranya.

“daddy, kenapa tangan Ahyun sangat kecil?” tanya putranya dengan bahasa khas anak-anak.

Baekhyun mengejapkan matanya. dia tak menyangka putranya akan menanyakan pertanyaan seperti itu. tapi menjadi orang tua yang selalu bisa untuk anak-anaknya, dia menjawab pertanyaan itu. tentunya dengan jawaban yang bisa di pahami putranya.

“itu karena Ahyun masih kecil. kalau Ahyun besar nanti, tangannya juga akan seperti daddy dan mommy.”

Putranya kini gantian mengerjapkan matanya. ekspresi kagetnya membuatnya terlihat lebih cute.

*persis seperti ibunya* Baekhyun membatin.

“lebih besar dariku?”

Baekhyun lagi-lagi tertawa. “tentu saja tidak. Tanganmu pasti akan lebih besar dari Ahyun.”

Putranya tersenyum sumringah. Kelihatan sangat senang mengetahui bahwa adiknya tidak akan mengalahkannya.

“daddy.”

“hm?” Baekhyun mengalihkan pandangannya dari putri kecilnya lalu menatap putranya.

“kapan Ahyun tumbuh besar sepertiku?” wajahnya yang innocent itu nampak heran namun sedetik kemudian, wajahnya berubah cemberut. “aku ingin bermain bersamanya, tapi dia masih terlalu kecil untuk di ajak bermain. Dia hanya tahu menangis.”

Baekhyun hanya tersenyum. “jadi..kau tidak suka mendengar Ahyun menangis?”

Putranya menggeleng cepat. “Ahyun yang menangis membuatku sedih. kalau ia tumbuh besar sepertiku, dia tidak perlu menangis terus karena aku akan mengajaknya bermain bersamaku.” Jawabnya jujur.

Baekhyun melunak mendengar pernyataan putranya. dia sangat senang mendengar putranya begitu menyayangi adiknya.

“Taehyun-ah..anak bayi memang seperti itu, selalu menangis. mereka belum tahu apa-apa karena mereka belum bisa berbicara.” Baekhyun berusaha menjelaskan dengan bahasa yang bisa dimengerti oleh putranya. “kau bisa mengajaknya bermain tanpa perlu menunggunya sampai besar nanti. Bukankah kau sangat menyayangi Ahyun?”

Putranya langsung mengangguk.

“bagus, karena daddy dan mommy juga sangat menyayangi kalian berdua.”

“aku juga sangat menyayangi daddy dan mommy dan juga Ahyun.”

Baekhyun terkekeh pelan. dia kemudian bangkit menuju box tempat tidur putrinya. hati-hati dia menidurkan bayi mungilnya itu di sana. Putranya yang ikut berada di sampingnya, sesekali menguap melihat adiknya yang sudah tertidur pulas. Setelah menurunkan kelambunya, Baekhyun menggendong putranya.

“karena Ahyun sudah tidur, sekarang saatnya kau juga harus tidur.”

Anak laki-laki itu hanya mengangguk malas lalu merebahkan kepalanya di pundak ayahnya. Baekhyun tersenyum mengusap punggungnya kemudian berjalan keluar dari kamar itu. setelah menutup pintunya, dia menuju kamar putranya.

“daddy.”

“hm?” Baekhyun selesai menyelimutinya kemudian duduk di pinggir ranjangnya.

Putranya menguap lagi kemudian menatap ayahnya dengan mata setengah tertidur. “apa mommy sedang sakit?”

Baekhyun mengerutkan keningnya. mengapa putranya tiba-tiba bertanya seperti itu padanya. “mommy sama sekali tidak sakit. Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“aku mendengar tadi mommy berteriak. Kupikir dia sedang sakit.”

Wajah Baekhyun berubah merah padam. Untuk yang satu ini, dia benar-benar tidak bisa memberi penjelasan pada putranya. Tidak mungkin ia mengatakan kalau ayah dan ibunya sedang melakukan hubungan suami istri. Itu akan menghancurkan pikiran polos anaknya.

“apa karena suara mommy membuatmu terbangun?” Baekhyun mulai panik.

Anak laki-laki itu menggeleng cepat. “suara tangisan Ahyun lebih besar.” Ujarnya dengan bibir mengerucut.

Diam-diam Baekhyun menghela nafas lega.

“tapi daddy, apa mommy benar-benar sakit?” tanya putranya lagi. wajahnya kelihatan cemas.

“t-tentu saja t-tidak.” jawab Baekhyun gelagapan.

Putranya yang kini memandanginya dengan heran membuatnya merutuki dirinya sendiri karena tidak bisa bersikap seperti biasanya.

Baekhyun tersenyum kaku dan beranjak. “tidurlah. Mommy tidak sakit, dia hanya…” dia mencoba mencari kata yang tepat dan akhirnya menemukannya. “hanya sedikit kelelahan. Kau tidak perlu khawatir.” Ucapnya.

Beruntung, putranya itu mengerti dan tidak bertanya lagi padanya. setelah mengecup kening putranya, Baekhyun segera keluar dan kembali ke kamarnya. sebelum ia menutup pintunya, dia memandangi putranya untuk yang terakhir kali. Dia sungguh bahagia, istrinya memberikannya dua malaikat mungil sebagai pelengkap rumah tangga mereka.

Ketika membuka pintu kamarnya, senyumnya mengembang. Taeyeon sudah tertidur dengan selimut menyelimutinya. setelah mengunci pintunya, pelan-pelan Baekhyun berjalan menghampiri ranjang dan naik ke atasnya. Menyadari sesuatu bergerak di belakangnya, Taeyeon tersenyum dan berbalik hingga berhadapan dengan suaminya.

Baekhyun tersenyum lalu mencium bibirnya sebelum membawanya ke pelukannya. kulit mereka yang bergesekan menimbulkan rasa hangat dan nyaman dari keduanya.

“kukira kau sudah tidur.”

Taeyeon tersenyum. “aku menunggumu.”

Tidak ada jawaban dari Baekhyun. Taeyeon mendongakkan kepalanya dan wajahnya tampak heran melihat suaminya terdiam seolah sedang memikirkan sesuatu. “ada apa?”

Baekhyun menyadari sikapnya yang mengacuhkan Taeyeon. dia segera tersenyum dan menatap mata istrinya. “sepertinya kamar kita perlu di pasangi kedap suara.”

Taeyeon sedikit menarik wajahnya kebelakang agar melihat dengan jelas wajah suaminya.

“kenapa?” tanyanya polos.

Baekhyun tersenyum penuh arti. “Taehyun bisa mendengarnya.” bisiknya seduktif.

“maksudmu mendengar..”

Seketika wajah Taeyeon bersemu merah. dia baru menyadari maksud ucapan Baekhyun. kini ia tidak tahu harus mengalihkan wajahnya kemana agar suaminya tidak melihatnya.

Tawa Baekhyun yang terdengar menggodanya membuatnya semakin malu.

“bagaimana bisa dia..”

“itu tidak penting. Sekarang, bagaimana kalau kita lanjutkan yang tadi?”

Taeyeon membulatkan matanya. baru saja dia ingin berbicara, Baekhyun sudah menciumnya. Menghujaninya dengan seluruh perasaan cintanya hingga membuatnya tak berdaya dan akhirnya membiarkan Baekhyun mengendalikannya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

** Taeyeon – Chen – a daughter & a son **

 

Jongdae melirik jam dinding di ruangannya dengan gelisah. Rapat sedang berlangsung dan dia tidak bisa membatalkan atau meninggalkannya karena dia adalah presdir perusahaan itu.

Beberapa menit berlalu dan sejak tadi pula, ponselnya itu terus berdering karena Taeyeon menelponnya. dia baru menghela nafas lega karena 20 menit kemudian, rapat akhirnya selesai.

“tuan Jang, laporkan hasil rapat hari ini padaku besok.” Ujarnya pada pria setengah baya di dekatnya.

“baik tuan Kim.”

Jongdae hanya mengangguk singkat lalu tergesa-gesa keluar dari ruangan sambil menekan tombol panggilan cepat Taeyeon.

“mianne jagi. Rapat baru saja selesai. Aku akan segera kesana sekarang.” ucapnya kemudian menutup telponnya.

– – –

Ruangan di dalam sebuah auditorium mini, kini sesak dengan banyaknya penonton. Para orang tua yang ingin menyaksikan putra putri mereka tampil di atas panggung, tampak berdiri berjejer di kursi bagian belakang. Jongdae langsung melongokkan kepalanya mencari sosok yang dikenalnya begitu memasuki ruang auditorium.  Senyumnya seketika mengembang, disudut sana seorang wanita tengah berdiri samibl menggendong seorang bayi laki-laki. Wanita itu serius memperhatikan panggung di depannya sambil sesekali tersenyum jika mendapat sesuatu yang lucu.

“aku datang jagi.” Bisiknya ketika sudah berada disamping wanita itu. wanita yang tak lain adalah istrinya, menoleh dan tersenyum.

“akhirnya kau datang juga.”

“aku tidak mungkin melewatkan penampilan pertama putriku.” Jongdae mengecup puncak kepalanya lalu mengambil bayi laki-laki yang berada di gendongannya.

Bayi laki-laki itu terlihat sangat senang. Dia langsung menggerakkan tubuhnya dengan lincah di pelukan ayahnya sambil menepuk-nepukkan kedua tangan kecilnya. Taeyeon tersenyum, hatinya tersentuh melihat interaksi suami dan putranya. Jongdae terlihat sangat bahagia. Pria itu tertawa ketika kedua tangan mungil putranya menepuk-nepuk wajahnya. sesekali putranya yang 8 bulan itu tertawa ketika ayahnya menggelitik perutnya.

“kau sudah terlambat selama hampir 45 menit. Dia menunggumu sejak tadi.”

Jongdae berhenti begitu mendengar kata istrinya. Dia beralih menatapnya, wajahnya tampak merasa bersalah. “aku minta maaf jagi. Apa Byul marah padaku?” tanyanya khawatir. Dia tidak pernah ingin putrinya membencinya.

Hari ini adalah pertunjukan opera putrinya yang berusia 4 tahun. Tapi, karena rapat berlangsung cukup lama, dia tidak bisa datang lebih cepat dari waktu yang telah ia janjikan pada putrinya.

Taeyeon tersenyum sembari mengusap lengan suaminya. “tidak apa-apa jagi. Kurasa Byul pasti akan mengerti jika kau menjelaskan padanya.”

Jongdae hanya tersenyum tipis. dia tidak tahu bagaimana caranya membujuk putrinya lagi kali ini.

“dia ingin berfoto denganmu sebelum pertunjukan, oleh sebab itu dia kesal saat kau tidak datang lebih cepat.” Taeyeon menambahkan.

Jongdae semakin merasa bersalah. dia mengalihkan perhatiannya kembali ke atas panggung. Disana banyak anak-anak memakai kostum yang berbeda-beda hingga dia tak bisa mengenali yang mana putrinya.

“jagi.” Jongdae mengerutkan keningnya, masih sibuk mencari dimana putrinya di antara anak-anak yang berada di pentas itu. “aku..tidak menemukan Byul disana. kau tahu dia pakai kostum apa?” tanyanya.

Taeyeon menggeleng-gelengkan kepalanya. “bukankah dia sudah memberitahumu semalam?”

Jongdae hanya nyengir. “hehehe, aku lupa.” Jawabnya sembari mengusap punggung lehernya.

“beruntung ia tidak mendengarnya.” ujar Taeyeon setengah mengejeknya. Jongdae semakin nyengir. Dia sadar kesalahannya. “Byul memakai kostum peri.” Tambahnya.

Jongdae kembali fokus di atas pentas. Di samping anak yang memakai kostum bunga dan apel, putrinya berada di sana dengan kostum perinya. Dia tersenyum memandanginya. Putri kecilnya tampak hebat di atas sana. Ada perasaan bangga dalam hatinya ketika melihat Byul memainkan perannya sebagai seorang peri. Putrinya sangat mirip dengan ibunya. Sama-sama cute.

– – –

“mianne baby..appa terlambat karena sedang ada rapat di perusahaan.”

Jongdae berusaha membujuk putrinya tapi sepertinya putrinya sedikit keras kepala darinya. Byul mengacuhkannya dan pergi ke sisi ibunya. Putrinya sama sekali tidak ingin melihatnya.

“ayolah baby..maafkan appa. Appa janji tidak akan mengulanginya lagi.”

Taeyeon tidak tega melihat suaminya yang sedih karena di penuhi rasa bersalah sementara putrinya tidak mau berbicara dengannya. dia berjongkok di hadapan putrinya lalu membelai rambutnya dengan sayang.

“Byul, appa sudah minta maaf. Apa Byul tidak kasihan melihat appa sedih?”

Putrinya hanya diam. dia melirik sekilas pada ayahnya sebelum kembali memandangi ibunya.

“bukankah appa dan eomma sudah pernah mengajarkan padamu, kalau kita harus segera memaafkan orang yang meminta maaf pada kita? Apa Byul lupa?”

Putrinya menggeleng.

“lalu kenapa Byul tidak ingin bicara dengan appa? Apa Byul membenci appa?”

Putrinya mengerjapkan matanya kemudian sontak menggeleng cepat.

“lalu?”

Jongdae yang mendengarkan pembicaraan mereka, berharap putrinya itu segera memaafkannya.

Putrinya menoleh ke belakang melihat ayahnya. “appa jahat. Seharusnya appa datang lebih cepat. aku juga ingin berfoto bersama appa sama seperti anak-anak yang lain.”

Jongdae terenyuh. Perlahan dia mendekat lalu memutar putrinya hingga menghadap ke arahnya.

“maafkan appa karena tidak bisa datang lebih cepat. appa memang jahat karena tidak mengerti perasaan Byul.”

Putrinya hanya diam menatapnya. Jongdae bisa merasakan kesedihan putrinya karena ketidak hadirannya tadi.

“bagaimana kalau kita berfoto bersama sekarang?” tawarnya.

Putrinya menggeleng singkat lalu berpaling kembali pada ibunya. Taeyeon hanya menatap suaminya dan memberinya senyuman kecil.

“jadi kau tidak ingin berfoto bersama appa?” tanya Jongdae. Putrinya tetap diam. “kalau begitu, appa terpaksa mencari putri orang lain untuk berfoto bersama appa.”

Putrinya tersentak dengan mata membulat. Jongdae bertukar pandang dengan Taeyeon lalu tersenyum penuh arti. Taeyeon hanya mengangguk seolah mengerti maksudnya.

“hm, jagi menurutmu putri mana yang cocok berfoto denganku? bagaimana kalau yang sana saja?” tunjuknya pada anak perempuan yang tidak jauh darinya. Byul, putrinya juga ikut melihatnya. “aku akan menghampirinya sekarang dan memintanya untuk berfoto bersama denganku.”

Jongdae tersenyum melihat reaksi Byul. Sebelum dia sempat berdiri menghampiri anak perempuan yang tadi ditunjuknya, Byul segera berlari memeluk pinggangnya.

“appa tidak boleh berfoto bersama anak itu!” serunya tidak setuju.

Jongdae cukup terkejut, begitu pun Taeyeon. dia tersenyum memandang ke bawah. Mata putrinya yang berkaca-kaca membuatnya merasa bersalah.

“apa ini berarti Byul memaafkan appa?” tanya Jongdae lembut sembari mengusap kepala putrinya.

Putrinya mengangguk lalu memeluknya. “appa tidak boleh berfoto dengan putri orang lain. appa hanya boleh berfoto bersamaku.” Ujarnya terisak.

Jongdae terkekeh pelan. “tentu saja. karena Byul putri appa, appa hanya boleh berfoto denganmu.”

“dengan eomma dan Jyong juga.” Byul menambahkan.

Jongdae hanya mengangguk kemudian menggendongnya.

“kau berhasil membujuknya. Aku bangga padamu.” bisik Taeyeon disampingnya.

Jongdae tersenyum mengusap kepala istrinya. “ini berkat bantuanmu.”

Taeyeon hanya tertawa lalu bercanda kembali dengan putranya.

– – –

“appa, nyanyikan sebuah lagu untukku.” Pinta Byul ketika ayahnya tengah menyelimutinya.

Jongdae hanya tersenyum. diapun duduk di pinggir ranjang putrinya. setelah mempersiapkan suaranya, dia mulai menyanyi. Lagu yang di pilihnya tentu saja lagu yang bisa membuat putrinya tertidur. Suaranya yang indah membuat Byul memejamkan matanya. senyum terukir di bibir kecilnya pertanda dia sangat menikmati nyanyian ayahnya. setelah beberapa saat kemudian, gadis kecil itupun tertidur dengan lelap.

Jongdae tidak langsung beranjak dari tempatnya. Dia memandang sendu putrinya, perasaan bahagia karena kehadiran putra putrinya membuatnya tak bisa menggambarkannya dengan kata-kata. Jongdae masih ingat masa itu. masa dimana Byul pertama kali menanyakan suaranya. dan ia hanya tersenyum mendengar betapa polosnya putrinya waktu itu.

“appa, mengapa tidak menjadi penyanyi saja?” tanya putrinya saat itu. “suara appa sangat indah, pasti banyak yang menyukainya.”

“suara appa hanya khusus untuk orang teristimewa.”

Byul mengerutkan keningnya, tak mengerti.

“appa hanya menyanyi khusus untuk eomma dan Byul. Kalau eomma dan Byul senang, appa juga ikut senang.”

Taeyeon tengah menemani putranya bermain ketika Jongdae menghampirinya dan duduk disampingnya. Jyong, putranya merangkak kesana kemari mengejar bola kecilnya yang menggelinding karena ulahnya. Pasangan suami istri itu tertawa melihat tingkah lucu putranya. terkadang putranya mengerucutkan bibirnya jika bola yang di pegangnya kembali jatuh dari tangannya, dan ia akan mulai kembali merangkak untuk mengambilnya.

Jongdae menarik Taeyeon hingga duduk di pangkuannya lalu segera melingkarkan kedua lengannya di pinggangnya. Taeyeon tak menolak, dia bahkan tidak begitu peduli karena ini adalah hal yang biasa dilakukan oleh suaminya. Jongdae menghirup aroma tubuh Taeyeon di bahunya lalu menyandarkan dagunya di atasnya. Taeyeon tersenyum sembari menaikkan sebelah tangannya menyentuh wajah suaminya.

“lelah?”

Jongdae hanya mengangguk pelan kemudian memejamkan matanya, menikmati sentuhan tangan Taeyeon.

Untuk beberapa saat mereka hanya terdiam seperti itu. Taeyeon memandangi putranya yang sedang bermain sementara Jongdae, suaminya beristrahat di pundaknya.

Tiba-tiba, Jongdae membuka matanya. dia menautkan tangannya dengan tangan Taeyeon dan membawanya ke pinggang kecilnya. Taeyeon tersenyum membiarkannya, tapi kemudian dia tersentak kaget ketika merasakan sesuatu yang lembut menyentuh lehernya.

Jongdae mengecupnya, sesekali hidungnya ikut menelusuri kulit putihnya dan perlahan naik ke atas. bibirnya mengecup garis rahangnya tanpa jeda dan lidahnya ikut menjalar mendekati telinganya. Taeyeon meremas tangan suaminya, apa yang ia rasakan sudah cukup membuatnya kehilangan kendali. Jongdae selalu bisa membuatnya merasakan perasaan itu. perasaan yang selalu berakhir dengan keintiman yang dirasakan oleh keduanya.

“s-stop.”

Jongdae tak menurutinya. Bukannya berhenti, dia malah semakin agresif. Dia menyukai ketidak berdayaan Taeyeon karena sentuhannya. dia menikmati wajah memerah istrinya karena perlakuannya.

“wae~? Kau tidak menyukainya?” bisiknya seduktif di telinga Taeyeon.

Taeyeon tergagap. Dia tidak bodoh untuk tahu apa yang di inginkan suaminya sekarang.

“p-pervert!” serunya nyaris terdengar seperti bisikan.

Jongdae terkekeh pelan. dia memberikan kecupan singkat di pipi istrinya sebelum kembali menyandarkan dagunya di bahunya. jarak tubuh mereka yang merapat membuat Taeyeon bisa merasakan debaran jantung suaminya yang berpacu kencang di punggungnya.

Mereka berdua kembali memperhatikan putranya yang masih bermain. Kali ini, Jyong berhasil mengambil bola kecil itu dan menggenggamnya di kedua tangannya. saking senangnya, ia menggoyangkan bola itu seolah ingin menunjukkannya pada kedua orang tuanya. Sayangnya, bolanya kembali jatuh. Tangis Jyongpun meledak. Dia tidak lagi tertarik untuk mengambil bolanya tapi lebih memilih merangkak ke arah kedua orang tuanya.

“kemari baby~”

Taeyeon menjulurkan kedua tangannya, menunggu putranya tiba. Segera setelah kedua tangannya menyentuh tubuh mungilnya, Taeyeon menyeka air matanya kemudian membaringkannya di lengannya. tanpa ragu, dia membuka kancing baju atasnya dan mulai menyusui putranya.

Jongdae memandanginya sambil tersenyum. dia tersentuh melihat Taeyeon yang begitu penuh kasih sayang memberikan asi untuk buah hati mereka. pemandangan yang sering di lihatnya itu adalah salah satu momen favoritnya. istrinya selalu terlihat sempurna di matanya. ia terlalu memujanya dan perasaan bahagia saat bersamanya, tidak bisa diganti oleh apapun juga. Betapa beruntungnya ia memiliki istri yang cantik dan kedua anak yang lucu dan imut.

Jyong memejamkan matanya, perlahan-lahan ia mulai terlelap namun tangannya yang mungil tidak ingin melepaskan jari telunjuk ayahnya. Jongdae mengerjapkan matanya sesaat, sebelum akhirnya tersenyum lembut pada istrinya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

** Taeyeon – Kai – a baby **

 

Kai beringsut dari ranjangnya. Sinar mentari pagi dari tirai jendela membuat tubuhnya menggeliat pelan. dengan malas, dia berbalik ke sampingnya. matanya seketika membuka lebar ketika menyadari tangannya tidak merasakan apapun di sampingnya. dia mulai panik dan segera bangkit dari ranjangnya. *dimana dia?!*

Tidak mendapati istrinya di sampingnya saat ia bangun selalu membuatnya panik dan ketakutan.  Apalagi, kini istrinya tengah mengandung bayi pertama mereka. dia takut terjadi sesuatu pada istrinya. Dia memeriksa kamar mandi tapi tidak ada tanda-tanda istrinya berada di dalam. terburu-buru dia keluar kamarnya menuruni tangga. Dia sudah tidak peduli apakah kakinya akan terpeleset atau tidak. satu-satunya yang ada di pikirannya sekarang adalah istrinya, Taeyeon.

Langkahnya terhenti ketika melihat sosok istrinya yang berdiri di dapur tengah menyiapkan sarapan. Rasa takut dan paniknya karena tidak menemukannya, berangsur-angsur menghilang hanya dengan melihatnya. Merasa seseorang sedang melihatnya, Taeyeon mengangkat kepalanya dan tersenyum cerah.

Kai masih diam terpaku di tempatnya ketika Taeyeon berjalan mendekatinya. Dia ingin menikmati pemandangan yang tersuguh di depannya. tubuh istrinya yang mungil dengan perut yang membesar tetap terlihat sangat cantik dan sexy di matanya. Sungguh pemandangan yang sangat indah baginya dan dia rela betah berlama-lama berdiri hanya untuk memandanginya. Saking asyiknya memperhatikan, dia tak menyadari kalau wanita itu telah berada di depannya.

“apa aku membuatmu panik lagi?” Taeyeon menatap matanya-wajahnya terlihat merasa bersalah. Kai hanya mengangguk pelan. “maafkan aku.” Ucapnya lagi.

Kai terenyuh. Hatinya langsung luluh hanya dengan merasakan tangan Taeyeon mengelus pipinya. diapun meletakkan tangannya di atas tangan istrinya dan memejamkan matanya menikmati sentuhan itu.

“aku bosan di kamar terus. Kau tidak membiarkanku keluar dan melakukan semuanya hanya karena aku sedang hamil.”

Kai membuka matanya dan bertemu dengan wajah cemberut istrinya.

“itu demi kebaikanmu.” Jawabnya tegas.

Taeyeon mendengus kesal lalu menarik tangannya membuat Kai sedikit kecewa dengan kontak yang tiba-tiba terputus.

“aku wanita dewasa. Aku bisa menjaga diriku sendiri.”

Kai tertawa pelan lalu memeluknya. “tapi aku sangat mengkhawatirkanmu. Jika terjadi sesuatu padamu, aku tidak punya alasan untuk hidup lagi. kau terlalu berharga bagiku dan akan kulakukan apapun untuk melindungimu meskipun itu harus membuatmu terus kesal karena sifat protektifku.”

Taeyeon mau tidak mau luluh juga mendengarnya. biar bagaimanapun, memiliki suami protektif seperti Kai, membuatnya begitu terlindungi meskipun terkadang sikap protektifnya terlalu berlebihan.

“sekarang..” Kai mengendorkan pelukannya hingga mereka bisa saling bertatapan. “mana morning kissku? Seharusnya kau memberikannya lima menit yang lalu.” Ujarnya dengan bibir mengerucut.

Taeyeon memutar bola matanya kemudian tertawa lepas. Bagaimana bisa dia kesal pada pria yang menjadi suaminya ini jika tingkahnya begitu menggemaskan. Tanpa menunggu lagi, Kai langsung mencium bibirnya. membuatnya cukup terkejut tapi akhirnya ikut membalasnya.

– – –

“Kai..”

“5 menit lagi honey.”

“Kai, ini tidak bisa menunggu.”

“beri aku waktu 3 menit lagi.” Kai membalik tubuhnya membelakangi asal suara.

Taeyeon menggertakkan giginya dengan geram. “yaa! Air ketubanku sudah pecah dan kau masih ingin aku menunggumu hingga bayi ini lahir disini?!”

Kai sontak membuka matanya dan berbalik. Matanya semakin membulat lebar ketika melihat istrinya yang melotot padanya sambil menahan rasa sakit di perutnya.

“b-bagaimana..a-apa..” dia meloncat dari tempat tidur dan mulai panik, tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Pikirannya tiba-tiba kosong. Alhasil dia hanya mondar mandir dengan wajah pucat di samping tempat tidur.

“apa yang kau lakukan?! Bawa aku ke rumah sakit sekarang!!” teriak Taeyeon semakin kesal.

Rasa sakit semakin menyerangnya dan dia hanya bisa menggigit bibir bawahnya menahannya.

Kai segera menggendongnya dan setengah berlari menuju mobilnya. “bertahanlah honey. Kita akan segera sampai.” Ucapnya sambil berusaha tetap tenang. pikirannya benar-benar kacau, Taeyeon yang meringis kesakitan di gendongannya membuatnya hampir menitikkan air mata. Dia tidak tahan melihat istrinya seperti itu. setelah memasangkan sabuk pengamannya, dia kembali ke kursinya.

“Kai, dimana tasku?” tanya Taeyeon ketika suaminya hendak menjalankan mobilnya.

merasa tidak penting, Kai mengacuhkan pertanyaannya. yang terpenting baginya, membawa Taeyeon ke rumah sakit secepatnya. Dia mulai menjalankan mobilnya tapi tangan Taeyeon menarik lengan bajunya. “aku tanya..dimana tasku?” tanyanya lagi-masih menahan rasa sakitnya.

“honey bukan itu yang terpenting sekarang. aku akan-“

“tas itu penting!” bentak Taeyeon langsung memotongnya. “di dalam tas itu, semua perlengkapan bayiku ada disana. kau harus membawanya!”

Kai tercengang. Taeyeon yang berteriak padanya sambil menahan sakit membuatnya tidak bisa berkata apa-apa selain menuruti keinginannya. Dia membuka pintu mobil dan berlari ke dalam rumah. Tak lama kemudian, dia keluar membawa tas yang dimaksud lalu meletakkannya di kursi belakang.

“kau puas sekarang?”

Taeyeon hanya melotot tajam. Dia tahu Kai pasti kesal padanya karena sifat keras kepalanya. tapi dia juga tidak menyalahkan suaminya, Kai bersikap seperti itu karena dia sangat mengkhawatirkannya.

– – –

Diruang persalinan..

“terus ny Kim. Anda harus mendorongnya lebih kuat!”

Taeyeon mengumpulkan seluruh kekuatannya dan mengedan. Kai yang berada di sampingnya terus menyemangatinya.

“sedikit lagi honey. Kau pasti berhasil.” Bujuk Kai.

Taeyeon menggenggam erat tangan suaminya sambil menggeleng lemah. “aku tidak tahan lagi..aku tidak sanggup..”

Kai merasa iba melihatnya. dia menyeka air mata yang jatuh di sudut mata Taeyeon lalu mengecup keningnya dengan sayang. “aku tidak akan meninggalkanmu. Kita bisa melakukannya. aku yakin kau pasti bisa.”

Taeyeon menggeleng. “aku tidak bisa.. ini sakit sekali..”

“kita harus segera mengeluarkan bayinya tuan Kim jika anda ingin ibu dan bayinya selamat.” Dokter memberitahunya.

Kai merasa jantungnya berpacu dengan kencang usai mendengarnya. dia tidak ingin kehilangan Taeyeon juga bayinya. dia berbalik menatap Taeyeon.

“honey..dengarkan aku baik-baik. lakukan ini demi bayi kita. Bukankah kau ingin melihat wajahnya? aku yakin kau pasti bisa melakukannya. please honey..berjuanglah sedikit lagi.” ujar Kai kembali membujuknya. Air matanya yang tanpa sadar membasahi pipinya sudah tak di pedulikannya lagi.

Taeyeon mengangguk. Dia berusaha mengumpulkan seluruh tenaganya kemudian kembali mengedan sesuai perintah dokter.

Kai melihat perjuangan istrinya sambil berdoa dalam hati. *kumohon..biarkan istri dan bayiku selamat. Aku tidak ingin kehilangan mereka* dia mengecup kening istrinya dan hampir seluruh wajahnya memberinya semangat dan mengatakan dia akan selalu berada disampingnya.

“terus ny Kim! Kepalanya sudah kelihatan. Anda harus mendorongnya lebih kuat lagi!” dokter memberinya semangat.

Taeyeon menurutinya. Tenaganya hampir habis tapi semangat ingin melihat bayinya dan juga keberadaan suaminnya di dekatnya membuatnya tidak menyerah.

“sedikit lagi ny Kim! Dorong sekali lagi!”

Dengan sisa-sisa tenaganya, Taeyeon mengedan sekuat mungkin sebelum akhirnya kekuatannya melemah bersamaan dengan suara tangisan bayi yang mengisi ruangan.

“kau melakukannya dengan baik honey. Aku bangga padamu.” Kai mengecup keningnya lalu turun mengecup bibirnya.

Taeyeon tersenyum lemah sebelum jatuh tertidur karena kelelahan. Beberapa saat kemudian, ia dipindahkan ke ruangan sementara bayinya masih berada di ruangan khusus bayi. Kai dengan setia berada disamping istrinya. Dia tidak pernah sekalipun meninggalkannya.

“honey..please..buka matamu..” Kai memohon sembari menggenggam tangan Taeyeon. dia sangat khawatir karena sejak beberapa jam yang lalu istrinya itu belum juga membuka matanya. dokter sudah mengatakan kalau itu adalah efek dari obat dan rasa lelah, tapi itu tidak cukup mengurangi rasa khawatirnya. dia terlalu takut kehilangannya.

“honey..”

Kai mengangkat kepalanya dan tersenyum cerah begitu melihat Taeyeon membuka matanya. dia sangat bahagia dan bersyukur hingga tanpa sadar matanya berkaca-kaca. Segera saja ia memeluk istrinya dan Taeyeon tersenyum membalasnya.

“bayi kita..dimana?” tanya Taeyeon meregangkan pelukannya.

Bersamaan dengan itu, pintu kamar terbuka. Seorang perawat masuk ke dalam kamar sambil menggendong bayi yang telah terbungkus rapi di lengannya. perawat itu menghampiri mereka berdua.

“dia bayi laki-laki yang tampan.” Ujarnya seraya menyerahkan bayi itu pada mereka berdua.

Kai menggendongnya dan memberikannya pada Taeyeon. tidak terlukiskan betapa bahagianya mereka melihat bayi mungil itu. Taeyeon tanpa sadar menitikkan air mata ketika memandanginya. Dia sangat bahagia sekaligus terharu, setelah perjuangan yang berat, akhirnya dia bisa melihat wajah bayinya. bayi yang benar-benar sangat tampan. Perawat itu kemudian pamit untuk membiarkan pasangan suami istri itu menikmati waktunya bersama bayi mereka.

Kai mengusap air mata istrinya lalu mengecup puncak kepalanya sebelum akhirnya duduk sambil melingkarkan lengannya di pinggangnya.

“terima kasih honey. Kau sudah memberikan hadiah terindah dalam hidupku.” Bisiknya.

Taeyeon hanya tersenyum memandangi putra kecilnya lalu beralih menatap suaminya. “terima kasih karena kau selalu berada di sampingku. Dan..aku ingin meminta maaf karena sudah membentakmu.”

“ssh..aku yang seharusnya meminta maaf karena tidak mengerti keadaannmu. Seharusnya aku menjadi suami yang lebih bertanggung jawab untukmu. Please..maafkan aku.”

Taeyeon mengangguk dan mengecup pipinya. Kai otomatis tersenyum kemudian menyandarkan kepalanya pada bahu istrinya, memandangi putra kecilnya tertidur dengan nyaman di pelukan ibunya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

** Taeyaon – Tao – A son **

 

Canda dan tawa memenuhi ruangan. Taeyeon tersenyum melihat pemandangan di depannya. suami dan putranya yang berusia 5 tahun duduk berdampingan di depan Tv. Dia menahan tawa gelinya saat putranya langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangannya begitu mendengar cerita seram dari ayahnya.

“..dan ketika serigalanya datang, binatang itu mengendap-endap menghampiri mangsanya..” Tao membuat mimik wajahnya semenakutkan mungkin sambil mengangkat kedua tangannya dan menggerakkan jari-jari tangannya berpura-pura sebagai serigala yang hendak memangsa korbannya. putranya semakin ketakutan, wajahnya memucat dan Taeyeon jadi tidak tega melihatnya.

“..ketika mangsanya lengah, serigala itu..”

“aaarhhhh!!” putranya langsung memekik ketakutan. Dia tidak sanggup lagi mendengar kelanjutan ceritanya dan berlari ke sisi ibunya.

“hahahahaha.” Tao langsung tertawa lepas sambil memegangi perutnya.

Taeyeon hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat suaminya yang tidak berhenti tertawa sementara dibawahnya, putranya dengan wajah cemberut memeluk pinggangnya.

“eomma..appa jahat!”

“Tao kau menakutinya!” Taeyeon memberinya tatapan kesal yang hanya di tanggapi senyum jahil dari suaminya.

“oh ayolah baby, itu tidak nyata. Aku hanya bercanda.” Sahut Tao membela diri.

Taeyeon hanya memutar bola matanya lalu fokus menenangkan putranya. Tao kembali menonton tv seolah tak terjadi apa-apa.

“eomma, malam ini boleh aku tidur denganmu?” pinta putranya tiba-tiba.

Senyum Tao otomatis langsung terhapus dari wajahnya mendengarnya. dia menoleh, menunggu jawaban istrinya. Tak perlu mengatakannya pun, Taeyeon sudah tahu kalau suaminya itu tak akan setuju dengan ide itu. sangat tidak setuju. lihat saja tatapan matanya yang begitu menusuk ke arahnya.

“eomma boleh ‘kan? aku takut, bagaimana kalau serigala itu datang ke kamarku? Aku tidak ingin binatang itu memangsaku.”

Taeyeon seketika luluh. Wajah memelas putranya membuatnya tak bisa menolak.

“Ryong-ah, serigala itu tidak nyata. Binatang itu hanya ada dalam dongeng. Tidak akan ada binatang yang akan memangsamu.” Jelasnya pada putranya.

Diam-diam Tao sangat senang mendengar penjelasan istrinya. Dengan begini, putranya tidak akan menganggu mereka. jika putranya sampai tidur di kamar mereka, dia pasti tidak akan punya waktu bersama istrinya lagi.  tapi, wajahnya berubah datar ketika mendengar ucapan putranya setelahnya.

“shireo! Aku mau tidur bersama eomma. Aku tidak mau tidur sendirian di kamarku!” seru putranya.

“tidak boleh!” Tao menghampiri mereka. Taeyeon mengangkat kepalanya dan bertemu dengan tatapan tidak setuju suaminya.

Ryong menekuk wajahnya, sedetik kemudian suara tangisan keluar dari mulutnya. “appa jahat! Aku mau tidur dengan eomma!”

Taeyeon langsung menggendong putranya kemudian mengusap punggungnya untuk mendiamkannya. “ssh..jangan menangis. Ryong boleh tidur bersama eomma malam ini.”

“mwo?!” Tao setengah berteriak. “k-kenapa..baby?”

Taeyeon mendelik kesal padanya. “ini salahmu. Jika saja kau tidak menceritakan kisah serigala itu, dia pasti tidak akan ketakutan seperti ini.”

“tapi baby, kalau Ryong tidur bersama kita, aku pasti tidak akan bisa menyentuhmu dan memelukmu. Apa yang harus kulakukan?” Tao merajuk. Wajahnya yang memelas persis seperti ekspresi putranya beberapa menit yang lalu.

“itu urusanmu. Kau sudah membuat putra kita ketakutan dan menangis, kurasa itu hukuman yang pantas.” Ujar Taeyeon acuh sembari berlalu meninggalkan Tao yang tercengang di tempatnya.

Dalam hati, Taeyeon tertawa geli. hampir saja dia terpengaruh dengan wajah memelas suaminya. sungguh mengherankan, suaminya yang memiliki tampang begitu mengintimidasi, bisa sangat kekanakan jika sudah merajuk seperti itu.

– – –

Ini sudah tiga hari sejak insiden cerita serigala itu. Ryong masih  tetap tidur bersama Taeyeon dan Tao. karena hal itu, Tao hampir tak bisa tidur karena dia harus berbagi tempat tidur dengan putranya. ini bukan karena dia membenci putranya, tapi karena dia tak bisa lagi memeluk istrinya atau lebih tepatnya menyentuhnya karena putranya menjadi penghalang di tengah mereka. karena hal itu pula, dia menjadi lebih pendiam dan dingin terhadap Taeyeon.

Taeyeon pun merasakan hal itu. dia sudah menghafal betul tabiat suaminya jika sedang kesal seperti ini. pria itu akan mendiamkannya dan bersikap dingin padanya. tapi sikap yang seperti ini membuatnya harus lebih hati-hati karena Tao biasanya akan memberikan kejutan yang tak pernah ia bayangkan.

“apa kau akan pulang terlambat?” tanya Taeyeon setelah memakaikan dasi pada suaminya.

Tao hanya diam menatapnya dan entah mengapa, Taeyeon merasa dibalik tatapannya itu, ada sesuatu yang membuatnya jantungnya mendadak berdebar-debar.

Tiba-tiba, seulas senyum misterius membentuk di bibirnya. “aku akan pulang lebih cepat dari biasanya.” Jawabnya. Tatapannya yang sulit di artikan membuat Taeyeon mendadak gugup hingga wajahnya ikut bersemu merah. Belum sempat ia mengembalikan debaran jantungnya yang kini berpacu dengan cepat, bibir Tao sudah menciumnya.

Taeyeon dengan senang hati langsung membalasnya sembari mengalungkan lengannya di leher Tao sementara Tao menarik pinggangnya hingga jarak mereka semakin merapat. Baik Taeyeon maupun Tao, keduanya tak pernah merasa bosan dengan ciuman mereka. semuanya masih sama seperti saat pertama kali mereka berbagi ciuman pertama mereka.

Tao yang pertama melepaskan tautan bibir mereka, dia sedikit memiringkan kepalanya ke samping lalu berbisik pelan. “kesabaranku selama 3 hari telah habis. Malam ini, aku tidak akan melepaskanmu.”

Wajah Taeyeon sontak merah padam. Dia sangat tahu, apa maksud kalimat Tao. Tao tersenyum lembut lalu mengecup keningnya. “aku mencintaimu baby.”

Taeyeon tersenyum membalasnya. “aku juga mencintaimu.”

– – –

Taeyeon mondar mandir di kamar. pikirannya berkecamuk. Ucapan Tao tadi pagi menyita perhatiannya. Sambil menunggu Tao mandi, dia merapikan tempat tidur mereka. tak lupa, menambahkan satu bantal kecil di tengah sebagai bantal Ryong.

Tak berapa lama, Tao pun keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk yang terlilit di pinggangnya. Taeyeon bersemu merah dan langsung pura-pura memalingkan mukanya ke tempat lain. dia sudah sering melihat tubuh suaminya, tapi entah mengapa kali ini matanya sepertinya selalu membawanya untuk terus memandangi suaminya.

“eomma!” Ryong berlari menuju kamarnya sambil menggenggam boneka kesayangannya. Namun belum sempat ia memasuki kamar, Tao menutup pintu tepat di depannya dan langsung menguncinya.

“Tao apa yang kau lakukan?! Ryong masih ada diluar!” Taeyeon berjalan hendak membukanya tapi Tao tidak membiarkannya. dia menarik tangan Taeyeon dan menggendongnya membawanya ke atas ranjang mereka. Sebelum Taeyeon sempat mengeluarkan kata protesnya, dia langsung menindihnya dan mencium bibirnya membuat apa yang di ucapkan Taeyeon hanya keluar sebagai suara-suara yang tidak jelas.

“eomma, appa, buka pintunya!” suara Ryong yang memukul-mukul pintu membuat Taeyeon mendorong Tao. tapi, dia tidak cukup kuat untuk bangkit dari ranjang karena Tao yang duduk di atasnya dengan kedua kakinya di samping kiri kanannya-menjaganya agar tidak melarikan diri.

“Tao..” Taeyeon memelas.

Tao menggeleng tegas lalu memamerkan smirknya. “sudah kubilang kesabaranku ada batasnya. Malam ini, tidak ada yang boleh mengganggu kita.”

“mwo?!”

“hm, mungkin kita bisa melakukannya tiga sampai empat kali baby. Aku tidak masalah dengan jumlahnya.” Tao tersenyum menggodanya.

“Tao!!”

Tao mendekatkan wajahnya dan smirknya semakin lebar. “kau tahu baby, suaramu itu terdengar sangat sexy. Padahal aku belum melakukan apapun. Kau yakin, kau tidak sengaja ingin memancingku?” tanyanya kembali menggodanya.

“Yaa!!”

“sekali protes, aku akan menambahkannya dua kali lipat.” Ancam Tao.

Taeyeon tercengang, mulutnya otomatis membungkam. Dia sangat tahu, ancaman Tao itu bukan sekedar ancaman biasa.

“eomma..appa..” suara Ryong membuat kesadaran Taeyeon kembali.

“Tao, Ryong masih ada diluar.” Taeyeon berusaha membujuknya. “kita seharusnya membuka pintu untuknya.”

“lalu apa? membiarkan dia masuk dan mengganggu waktuku bersama istriku? Aku tidak mau.” Tao tetap bersikukuh.

“apa kau tidak kasihan padanya?”

Tatapan Tao padanya meneduh. Dia mengelus pipi Taeyeon dengan lembut lalu tersenyum. “aku kasihan padanya, tapi aku tidak bisa menunggu lebih lama dari ini.”

“tapi ini tidak adil baginya! Dia masih anak-anak!”

Taeyeon tidak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya. Tao memang menyayangi Ryong, tapi jika ini menyangkut dengannya, suaminya tak pernah memberinya pilihan.

“tidak adil?” Tao menaikkan sebelah alisnya lalu melipat tangannya. “jadi kau ingin berbicara tentang ketidak adilan sekarang?”

Taeyeon terperangah. Dia sudah menduga hal ini, Tao pasti sudah menyiapkan sejuta alasan untuk tidak mendengarkannya.

“kau menyetujui Ryong tidur di kamar kita dimana aku sangat TIDAK setuju. itu yang pertama.” Tao memulai. “kedua, kau sudah mengetahui hormon suamimu ini sangat tinggi tapi kau malah membuatku menderita selama tiga hari karena Ryong merebut semua waktumu.”

Atas pernyataan yang kedua itu, wajah Taeyeon seketika merah padam. Apa yang harus ia lakukan jika suaminya begitu terus terang mengenai masalah ini? bukankah bagus karena setidaknya ia tahu apa yang membuatnya diam dan bersikap dingin padanya selama beberapa hari ini?

“dia masih anak-anak dan dia putramu. Kau tidak mungkin cemburu hanya karena dia ingin bermanja-manja denganku.” jelas Taeyeon. entah sudah yang keberapa kali selama Ryong lahir, dia selalu menjelaskan pada Tao tentang ini.

“aku juga ingin bermanja-manja denganmu. Dengan istriku!” Tao memprotesnya.

Perasaan Taeyeon akhirnya melunak. biar bagaimanapun, wajah Tao yang memelas dan memohon padanya selalu bisa memenangkan hatinya. dia kemudian menghela nafas dalam-dalam, tidak ada gunanya menjelaskan panjang lebar padanya. Tao tetap akan seperti itu hingga dia menyerah.

“eomma, appa..buka pintunya. Aku takut disini sendirian.” Suara Ryong terdengar lagi.

Taeyeon menatap suaminya, “kita tidak mungkin membiarkan Ryong disana. dia pasti masih ketakutan.”

“aku sudah menemukan solusinya agar dia tak lagi tidur di kamar kita.”

Taeyeon menatapnya hampir tak percaya. untuk masalah kecil seperti ini, Tao sampai memikirkan jalan keluarnya? Mendadak, Tao turun dari ranjang lalu menuju pintu dan membukanya. Ryong seketika tersenyum cerah mendapati ayahnya sudah membukakan pintu untuknya.

Tao berjongkok di hadapan putranya yang memandanginya dengan tatapan polos miliknya.

“Ryong-ah, kau tidak boleh lagi tidur bersama eomma malam ini.”

Ryong mengerjapkan matanya. ekspresi heran tampak jelas di wajahnya. “wae?”

Tao terkekeh pelan. dia sebenarnya tidak tega tapi dia harus mengambil kembali posisinya.

“bukankah Ryong sudah berumur 5 tahun?” Ryong hanya mengangguk. Taeyeon yang memperhatikan interaksi mereka dari ranjangnya, hanya tersenyum. Tao dan Ryong benar-benar sangat mirip satu sama lain. keduanya memiliki ekspresi yang sama.

“itu berarti Ryong sudah tidak bisa lagi tidur dengan eomma karena Ryong sudah besar.”

“tapi appa tidur dengan eomma padahal appa kan sudah besar.” Ujar Ryong polos. Taeyeon hampir tertawa melihat ekspresi Tao yang tersentak mendengar ucapan putranya sendiri.

“itu karena appa harus menjaga eomma. Eomma takut tidur sendiri, itulah mengapa appa harus menemaninya.”

Taeyeon langsung memutar bola matanya mendengar penjelasan Tao.

“tapi Ryong juga takut appa. Bagaimana kalau serigala itu datang ke kamar Ryong?”

“tidak ada yang namanya serigala. Seperti eomma bilang padamu, serigala itu hanya dongeng.”

Ryong menggeleng tidak setuju. “aku ingin tidur dengan eomma.” Pintanya memelas.

Tao tidak punya pilihan lain selain mengeluarkan senjata terakhir. “baiklah. Kalau kau ingin tidur dengan eomma, appa tidak akan melarang.”

“yay!” Ryong bersorak girang. Taeyeon mengerutkan keningnya. Tao membiarkan Ryong tidur di kamar mereka? waw, suatu kemajuan yang pesat.

“tapi..” Ryong kembali menatapnya. “kalau kau tidur dengan eomma, appa tidak bisa memberimu adik baru.” Tao mengakhiri pernyataannya.

Mulut Taeyeon langsung menganga kaget.

“appa akan memberikanku adik baru?!” tanya Ryong yang tiba-tiba antusias. Tao menyunggingkan smirknya, rencananya hampir berhasil. Dia kemudian mengangguk dengan wajah di buat sesedih mungkin.

“tapi karena kau ingin tidur dengan eomma, appa tidak bisa memberimu adik baru.”

“tidak appa!” bantah Ryong cepat. “Aku tidak akan tidur dengan eomma lagi. aku akan tidur di kamarku sekarang asal appa memberiku adik baru, bagaimana?”

Tao tersenyum penuh kemenangan lalu menoleh ke arah Taeyeon yang masih tercengang di tempatnya. “tentu saja. appa akan memberimu satu adik baru. Tapi kau harus janji untuk tidak tidur dengan eomma lagi.”

“aku berjanji appa!” Ryong berseru senang. “aku akan ke kamarku sekarang.” dia lalu berlari ke dalam kamar untuk mencium pipi Taeyeon lalu mencium pipi ayahnya. “bye appa, bye eomma!”

Tao menatap kepergian putranya dengan senyum puas. Sekarang dia tidak perlu mengkhawatirkan Ryong lagi.

“a-apa yang baru saja kau katakan pada Ryong? M-maksudmu..”

Tao hanya tersenyum sebelum menciumnya. “aku sudah bilang padamu. aku punya cara tersendiri.”

Taeyeon mengerjapkan matanya, masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. “tapi bukankah kau ingin menundanya?” tanyanya heran.

Sejak Ryong lahir, Tao selalu merasa cemburu padanya. perhatiannya pada Ryong membuat suaminya itu merasa terabaikan. Oleh sebab itu, Tao memintanya untuk menunda kehamilannya dengan alasan dia masih ingin menghabiskan waktu berdua dengannya.

“kurasa satu anak lagi, tidak masalah.” Tao tersenyum menatapnya.

“kau yakin?” tanya Taeyeon memastikan. Dia tidak ingin lagi melihat wajah suaminya yang cemburu jika bayi kedua mereka lahir nanti.

“sangat yakin.” Tao menjawabnya dengan tegas.

Taeyeon tersenyum kemudian mengalungkan kedua lengannya di leher suaminya. “so, rencana pembuatan adik baru untuk Ryong di mulai dari sekarang huh?” candanya.

Tao hanya tertawa ringan kemudian langsung mencium bibir istrinya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

** Taeyeon – Sehun – 2 son **

 

Sehun membuka kelopak matanya perlahan-lahan. Kedua matanya mengerjap berulang kali untuk menyesuaikan dengan ruangan yang sudah terang benderang. kesadarannya belum sepenuhnya pulih ketika ia merasakan sesuatu yang hangat bergerak di sampingnya. seketika senyumnyapun mengembang, Taeyeon dengan balutan selimut tebal, masih tertidur sambil melingkarkan lengannya di pinggangnya. senyumnya makin lebar ketika menyadari dirinya dan wanita di sampingnya itu tidak memakai apapun selain selimut tebal, karena aktifitas mereka semalam. Dengan lembut, dia menarik wanita yang sudah menjadi istrinya itu, semakin dalam ke pelukannya, membiarkan kulit mereka yang bersentuhan makin merapat. Sehun sangat menyukai kehangatan tubuh Taeyeon sebagaimana istrinya itu juga menyukainya.

Wajah Taeyeon yang masih terlelap tampak seperti bayi. Sehun kembali tersenyum seraya mengelus halus pipi istrinya. Ia bukanlah pria yang pandai merangkai kalimat-kalimat manis, namun rasa cinta dan sayangnya pada Taeyeon lebih besar dari apapun. Taeyeon pun tahu, Sehun lebih memilih menunjukkan perasaannya dibandingkan dengan mengatakannya secara langsung.

Memandangi wajah istrinya seperti ini, selalu menciptakan kepuasan tersendiri bagi Sehun. dia sangat beruntung, dari banyaknya pria yang menyukai Taeyeon, wanita itu memilihnya menjadi pasangan hidup. Tidak terbilang berapa kali ia bersyukur pada tuhan karena telah mengabulkan doanya. Bersama wanita yang ia cintai membuatnya merasa menjadi pria yang paling bahagia.

Sehun menatap kedua mata istrinya yang masih terpejam kemudian perlahan turun ke bawah. Ketika tatapannya jatuh pada bibirnya, matanya berhenti disana. dia menatapnya tak berkedip, seolah ada magnet kuat yan membuatnya tak bisa berpaling. Bibir mungil yang sedikit membengkak karena ulahnya semalam, seolah menggodanya. Tak butuh waktu lama untuk berpikir, dia segera mengecup bibir berwarna pink itu. hanya sebuah kecupan saja tidak memuaskan hasratnya. Bibir istrinya seperti candu baginya membuatnya ingin mengecupnya lagi dan lagi.

Merasa terusik dengan sentuhan di bibirnya, Taeyeon akhirnya membuka matanya. wajah Sehun yang hanya beberapa inci dari wajahnya, seketika membuat wajahnya bersemu merah.

“morning my love.” Sapa Sehun dengan memberikan senyuman hangatnya.

Taeyeon tersipu malu, “sudah jam berapa sekarang?” tanyanya.

“mungkin jam 8.” Jawab Sehun santai.

“mwo?!” kedua mata Taeyeon langsung membulat lebar. tanpa sadar, dia sontak bangun dari tempatnya membuat selimut tebal yang menutupi dadanya melorot ke bawah.

Sehun mengerjapkan matanya, Taeyeon pun begitu. Tanpa menunggu, dia langsung menjatuhkan tubuhnya kembali lalu menarik selimut menutup hingga kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang telah merah padam karena malu. Tawa ringan Sehun membuatnya semakin mengeratkan selimutnya.

“hei..kau tidak perlu malu padaku my love. Lagipula aku sudah sering melihat semuanya.” Sehun menggodanya.

Taeyeon hanya diam. dia terlalu malu untuk menanggapinya. Sehun tersenyum geli, dia sudah bisa membayangkan bagaimana rona merah itu nampak di wajah istrinya. Pelan-pelan, dia menarik selimut ke bawah agar bisa melihat wajah Taeyeon. Taeyeon tak punya pilihan lain selain membiarkannya. dia ingin memalingkan mukanya tapi kedua telapak tangan Sehun sudah berada di samping kiri kanan pipinya, membuatnya tak bisa berpaling.

Perlahan, Sehun menurunkan wajahnya hingga bibir mereka hampir menyentuh satu sama lain. Taeyeon menggigit bibirnya, dia bisa merasakan kulit mereka yang tanpa penghalang saling bergesekan dengan jarak seperti ini.

“S-Sehun..b-bukannya kau harus berangkat ke perusahaan?” tanyanya sambil berusaha menutupi kegugupannya.

Sehun hanya tersenyum lalu mencium bibirnya. Taeyeon otomatis memejamkan matanya dan ikut membalasnya.

“hari ini adalah hari minggu.” Jawab Sehun usai melepaskan ciumannya. Taeyeon tersenyum malu. karena gugup, ia jadi melupakan kalau suaminya itu tidak bekerja jika hari libur.

“daddy!”

“mommy!”

Taeyeon dan Sehun menoleh ke arah pintu yang masih tertutup lalu saling berpandangan dan tersenyum. siapa lagi pengganggu mereka pagi-pagi begini kalau bukan kedua putranya. Shion yang berusia 4 tahun dan Yoshin yang berusia 3 tahun.

Sementara Taeyeon beranjak ke kamar mandi, Sehun membukakan pintu untuk kedua putranya. Shion dan adiknya tersenyum sumringah begitu mendapati ayah mereka berdiri di hadapan mereka. kedua kakak beradik itu benar-benar mirip seperti orang tuanya. Shion yang sangat mirip dengan ayahnya dan Yoshin yang sangat mirip dengan ibunya, meskipun ia laki-laki. Selain memiliki wajah yang cute seperti kedua orang tuanya, keduanya juga mewarisi kulit putih halus ayah dan ibunya.

“daddy!!” seru mereka serentak dan langsung memeluk Sehun. Sehun tentu saja tidak menolak. Dia hanya tertawa sambil membalas pelukan keduanya.

Shion yang pertama melepaskan pelukannya, lalu menatap ayahnya dengan mata berbinar-binar. “daddy, hari ini kita jadi ke super market ‘kan?” tanyanya antusias.

“iyya daddy. Yoshin ingin membeli es krim.” Sambung Yoshin dengan logat khas anak-anak.

Sehun mengangguk. “tentu saja. tapi, daddy harus mandi dulu.”

Kedua putranya mengangguk mengerti.

“sekarang, sambil menunggu daddy, bagaimana kalau kalian berdua menonton tv?” tawarnya.

“aku mau nonton angry bird!”

“aku juga! Aku juga!!”

Sehun lagi-lagi tertawa dengan tingkah kedua putranya. dia mengantar kedua putranya menuju ruang keluarga. Setelah menyalakan tv untuk mereka berdua dan menyuruh mereka untuk menonton dengan tenang, dia pun segera kembali ke kamarnya.

– – –

“hmpf..”

Taeyeon sontak menutup mulutnya dan berlari ke kamar mandi. dia yang baru baru saja terbangun dari tidurnya, tiba-tiba merasa mual. Anehnya, tak ada satupun yang keluar dari dalam perutnya. mendadak, dia merasa kepalanya pusing dan tubuhnya seolah tak bertenaga.

Sehun yang ikut terbangun karena mendengarnya, segera menyusul ke kamar mandi. Dia terkejut melihat wajah istrinya yang begitu pucat.

“my love, apa yang terjadi padamu? k-kau baik-baik saja?” Sehun tiba-tiba menjadi gugup. melihat kondisi istrinya membuatnya sangat cemas.

Taeyeon menggeleng lemah. “kepalaku sangat pusing.”

Tanpa bertanya lagi, Sehun segera menggendong Taeyeon keluar dari kamar mandi, kemudian membaringkannya di ranjang mereka.

“tunggu disini. Aku akan menyiapkan mobil lalu kita ke rumah sakit.” Ujarnya lembut.

Taeyeon tidak membantah. Dia hanya mengangguk pelan. Sehun kembali menoleh sekilas ke belakang, memandangi istrinya sebelum keluar dari kamarnya.

– – –

“selamat ny Oh, anda telah hamil 2 minggu.” Ucap wanita yang berseragam putih pada mereka berdua.

Taeyeon tersentak kaget, begitupun Sehun yang berada di sampingnya.

“h-hamil?” Taeyeon belum sepenuhnya percaya apa yang baru di dengarnya.

Wanita di depannya itu tersenyum lalu mengangguk yakin. “apa ini anak pertama anda?”

Taeyeon menggeleng. “ini anak ketiga dokter.” Jawabnya.

Wanita yang di panggilnya dokter itu mengerutkan keningnya. Taeyeon yang seolah mengerti arti tatapan dokter itu padanya, tersenyum malu.

“aku tidak begitu yakin dengan gejalanya dokter. Kupikir ini gejala masuk angin biasa.” Jawabnya jujur.

Dokter itu kembali tersenyum. “aku bisa mengerti. kebanyakan para ibu tidak menyadari kehamilan mereka sebelum memeriksakannya sendiri. tapi jika kalian berdua memang tidak merencanakan kehamilan ini, kurasa itu adalah reaksi yang wajar.”

Taeyeon tersenyum. Mereka bukannya tidak merencanakan kehamilan tapi Taeyeon tidak cukup yakin mengetahui dirinya sedang mengandung. Dia menoleh pada suaminya yang masih setia menggenggam tangannya seperti memberinya kekuatan. Suaminya itu terlihat sangat bahagia. Tentu saja, Sehun lah yang paling menginginkan kehamilannya. Pria itu sangat menyukai anak-anak. Dan mendengar perkataan dokter tentang kehamilannya, wajahnya terus tersenyum cerah sejak tadi.

– – –

Awal kehamilan di lalui Taeyeon dengan buruk. Dia bukan saja tidak ingin mencium bau makanan tapi dia juga tidak ingin Sehun atau kedua putranya mendekatinya. Setiap kali salah satu dari mereka mendekat, Taeyeon pasti akan langsung mual. Kedua putranya itu tentu saja sangat sedih tapi yang lebih terluka adalah suaminya. mereka bahkan harus pisah kamar karena Taeyeon tidak tahan jika mencium aroma suaminya.

Taeyeon diam-diam selalu menitikkan air matanya jika mengingat betapa menjengkelkannya masa ngidamnya. Dia sangat merindukan suaminya dan kedua putranya tapi dia tak bisa menyentuh mereka. beruntung, Sehun adalah tipe suami yang sabar. Meskipun emosinya kadang tak terkendali, Sehun selalu mengalah untuknya.

Pintu kamar itu berderit. Sehun berdiri di ambang pintu sambil memandangi Taeyeon yang tertidur dengan lelap di ranjangnya. Sudah beberapa minggu berlalu, tapi Taeyeon masih merasa mual dengan kehadirannya. tidur terpisah dari istrinya membuatnya merasa sangat kesepian. Dia tidak bisa lagi menyentuhnya, memeluknya dan menciumnnya. Satu-satunya cara membuatnya tetap bisa mendekati istrinya adalah dengan menunggunya hingga tertidur. Setiap hari, dia selalu mengunjungi kamar istrinya diam-diam, berbaring sebentar di sampingnya sambil memeluknya seperti saat ini.

Sehun menatap wajah istrinya dalam-dalam. dia begitu merindukan Taeyeon hingga tak bisa menahan dirinya. dia sadar, Taeyeon juga merasakan hal yang sama sepertinya. tapi demi menjaga kesehatannya, Sehun mengalah. dia tak bisa membiarkan istrinya selalu mual hanya karena ke egoisannya. Meskipun kedua putra mereka juga sangat merindukan ibunya, tugasnyalah yang memberi pengertian pada mereka.

Sehun mengecup kening Taeyeon dengan penuh kelembutan. Dia tak bisa berlama-lama disini. Dia takut jika Taeyeon bangun, istrinya itu akan mulai mual lagi. matanya kemudian tertuju pada perut Taeyeon. membayangkan didalam sana ada benih cinta mereka, seyumnya langsung mengembang. Hati-hati dia meletakkan tangannya di atas perut Taeyeon. pelan-pelan, dia menurunkan tubuhnya hingga kepalanya sejajar dengan perutnya. dia mengecup perut istrinya dengan penuh kasih sayang lalu memejamkan matanya seraya memeluk pinggangnya.

*sebentar saja baby..biarkan daddy sebentar disini.* Sehun membatin. Tanpa sadar, dia tertidur sambil memeluk pinggang kecil itu.

Kelopak mata Taeyeon bergerak perlahan. Dia merasakan sesuatu yang aneh di dekatnya. Kedua matanya kemudian bergerak ke bawah. Senyum langsung terukir di bibirnya. Disana, Sehun tertidur pulas sambil melingkarkan lengannya di pinggangnya. Taeyeon terenyuh, wajah suaminya kelihatan sangat lelah. selama beberapa hari ini dia menyadari suaminya itu terlihat sedih setiap dia melihatnya.

Taeyeon membelai rambut suaminya dengan penuh kasih sayang. Dia merindukan saat ia menyentuhnya. Tiba-tiba, gerakannya terhenti. biasanya, dia akan mual dan berlari ke kamar mandi hanya dengan Sehun mendekatinya, tapi sekarang..

Matanya membulat lebar ketika menyadarinya. Penciumannya kembali normal. Itu berarti, dia dan Sehun bisa bersama lagi.

“Sehun..” panggilnya pelan.

Sehun membuka matanya perlahan dan ia sontak bangkit dari tempatnya begitu menyadari dimana ia berada sekarang. dia harus cepat-cepat keluar dari kamar itu sebelum Taeyeon mual karena dirinya.

Tapi, sebelum ia sempat berdiri, Taeyeon menarik lengannya.

“kau mau kemana?”

Sehun mengerjapkan matanya. realita sontak menyadarkannya. Taeyeon tidak lagi mual ketika bersamanya.

“my love..” bisiknya pelan. perasaan di dalam dadanya berkecamuk. Bahagia dan terharu bercampur jadi satu. Taeyeon hanya mengangguk dan menjulurkan kedua tangannya. Tanpa menunggu lagi, Sehun langsung memeluk istrinya. Menghujaninya dengan kecupan di hampir seluruh wajahnya dan terakhir, ia memberi ciuman di bibirnya. ciuman yang sedikit agresif karena frustasi dan depresi yang bercampur dengan rasa rindunya.

“aku sangat merindukanmu..” suaranya yang lembut membuat Taeyeon luluh.

“aku juga sangat merindukanmu..”

“daddy! Mommy!!” kedua putranya yang telah berdiri di ambang pintu, menghambur ke ranjang mereka.

Taeyeon dan Sehun segera bangun dan memeluk kedua putra mereka .

“apa mommy tidak membenci kami lagi?” Shion bertanya pada Taeyeon.

Taeyeon menggeleng dan tersenyum menarik hidung putra pertamanya. “tentu saja tidak. mommy tidak akan pernah membenci kalian.”

“apa itu berarti mommy tidak sakit lagi?!”

Taeyeon tertawa kecil lalu mengangguk. Sehun tersenyum geli mendengar pembicaraan putra pertamanya.

“mommy, apa kita bisa pergi jalan-jalan sekarang? daddy berjanji, jika mommy sembuh, kita semua akan pergi piknik.” Ujar Yoshin.

Taeyeon melirik Sehun lalu tersenyum menatap putra keduanya. “mommy setuju. Yoshin ingin piknik kemana?”

“em..mm…”

“bagaimana kalau pantai?” Shion langsung menjawabnya membuat Yoshin adiknya, cemberut.

“aku belum mengatakan keinginanku.” Dengusnya kesal.

Shion hanya menjulurkan lidahnya pada adiknya.

“hyung jahat!” Yoshin lalu memeluk Taeyeon. kedua puppy eyes-nya seolah meminta pembelaan dari ibunya.

Seketika kamar itu di penuhi dengan canda dan tawa. Bahkan Yoshin yang tadinya cemberut kini tertawa karena Taeyeon menggelitik perutnya.

“sepertinya kita harus menunda piknik kita anak-anak.” Sehun tiba-tiba berbicara. kedua putranya serius menatapnya. Taeyeon mengerutkan keningnya. “mommy baru saja sembuh, kurasa kita harus membiarkan mommy sehat dulu baru merencanakan piknik.”

“tapi daddy sudah janji. Lagipula mommy juga setuju.” protes Yoshin.

Taeyeon menyentuh lengan suaminya. “aku tidak apa-apa.”

Sehun menggeleng tegas lalu menatap putranya satu persatu. “adik yang ada di dalam perut mommy juga butuh istrahat. Apa kalian tidak kasihan padanya?”

Kedua putranya itu langsung terdiam.

“kita akan menunggu mommy sembuh total lalu pergi piknik. Bagaimana?”

Kedua putranya saling berpandangan. Senyum mengembang di wajah keduanya membuat Sehun dan Taeyeon ikut tersenyum.

“setuju!!!” seru mereka serempak.

 

End

Gimana menurut kalian? siapa yang paling pervert di antara mereka? ~kekeke

Team 2-nya, mm…kira-kira lebih pervert ga ya? Gahhh…aku suka banget menggoda readers^^ ckckck

 

Sebelumnya, aku mau minta maaf dulu pada kalian readers yang selalu setia membaca semua ff karyaku. Sehubungan dengan kesibukanku yang semakin padat di tambah lagi ada urusan penting yang membutuhkan seluruh perhatianku, dengan sangat menyesal aku memutuskan untuk HIATUS SEMENTARA.

Menulis adalah hobi dan aku senang banget mendapat banyak tanggapan positif dari kalian. prediksi lama hiatus sekitar 1 bulan atau 2 bulan. Tapi, aku berharap itu tidak sampai 2 bulan. (seumpama aku berubah pikiran, aku pasti akan segera mengirim kelanjutan ffku yang lain).

Ff ini adalah persembahan terakhir sebelum hiatus. Untuk team ke 2-nya, aku akan kirim setelah hiatus bersama yang lainnya.

Ps : jika ada di antara kalian yang pengen membantu membuat poster FULL MOON and The Legend’s and The Goddess, silahkan kirim di alamat emailku Rynfamutmainnah@yahoo.com

Yang kemarin udah kirim, makasih banget ya. Di tunggu aja ff full moon chap 1 rilis n kelanjutan TLTG-nya.

38 thoughts on “[Freelance] Taeyeon, EXO & Their Kids Team 1 (Drabble)

  1. lucuuu thor😀
    so tao yg palinh pervert, aku suka semuaaaaa . .
    tp paling suka xiumin sama baekhyunn, jd ngebayangin klo punya suami kyk gtu hahaha

  2. Keren bngt thoooorr xD

    Seriously, the most pervert husband is Tao! Muahahahaha?

    Suka bngt part Xiumin Baekhyun Sehun! Aaaaa~~ enak kali ya punya suami kayak mereka :3

    Tp semuanya bagus kok thor! Aku sukaaaa?? keep fighting author! I’ll wait for the next chapter of team 2 xD

  3. Baekyeon kereen kyaa~~~5 Jempol dh buat Authorx (?)…
    Ditunggu ff baekyeonnya lagi y thor ^^Buat yg genre family gituu,,biar nggreget O.o

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s