[Freelance] Story of EXOTaeng : All My Love is For U (Chapter 10)

allmy

All my love is for U chapter 10

 

Author : RYN

Length : multichapter

Rating : PG 17 (sewaktu-waktu bisa berubah)

Main cast :

@ Baekhyun Exo K

@ Taeyeon SNSD

Other cast : silahkan temukan sendiri

Genre : drama,romance,Fluff

 

Don’t plagiat, don’t copy paste without my permission!!

Aku tidak pernah memberikan izin pada siapapun untuk membuat cerita berdasarkan fanfic ini!!!

Warning! Typo bertebaran -_-

 

***

Minggu pagi yang cerah. Taeyeon baru saja selesai menjenguk ibunya. Dia harus buru-buru masuk kerja sebelum pemilik café tempatnya bekerja memarahinya karena terlambat. Miyoung dan Kiseop mengantarnya sampai ke pintu keluar. Taeyeon menyadari sikap Miyoung yang tidak seperti biasanya. Gadis eye smile itu lebih banyak diam sejak dia datang sampai sekarang. meski Kiseop terkadang menggodanya atau mengajaknya bercanda, dia hanya menanggapinya dengan senyum.

“ada apa? kau terlihat tidak seperti biasanya.” Taeyeon bertanya padanya. dia curiga, Miyoung menyembunyikan sesuatu darinya.

Melihat situasinya, Kiseop langsung mengerti. dia pun pamit pada mereka untuk membeli minuman.

“jangan khawatir, aku akan menemanimu lagi disini.” Ucap Kiseop sambil mengedipkan sebelah matanya lalu berlalu pergi.

Miyoung hanya mencibir membuat Taeyeon harus menyikutnya.

“apa?” tanyanya ketus.

“jangan terlalu kasar padanya. kau tahu dia pria yang baik. sudah bagus dia mau menemanimu menjaga eomma.”

Miyoung mengangkat bahunya dengan santai. “aku tidak pernah menyuruhnya datang kemari.”

Taeyeon menggelengkan-gelengkan kepalanya, tak mengerti dengan jalan pikirannya. Miyoung jelas-jelas menyukai Kiseop tapi dia selalu menutupinya dengan bersikap acuh tak acuh pada sahabatnya itu.

“aku tahu kau juga mengharapkan kedatangannya Miyoung-sshi.” Godanya. Miyoung otomatis mendelik kesal padanya. Taeyeon hanya tertawa geli melihatnya.

“kau tidak ingin pergi sekarang?”

Tawa Taeyeon seketika hilang. Dia balik menatap Miyoung dengan tatapan-tajam-tidak-seram khasnya. Miyoung kini yang gantian tertawa. Dia puas sudah membalas Taeyeon.

“mengenai yang tadi..” nada suara Taeyeon kembali serius. Miyoung hanya diam menunggunya melanjutkan kalimatnya. “apa terjadi sesuatu? bukankah kita bertiga telah berjanji untuk tidak menyembunyikan apapun?”

Miyoung sedikit menegang, gadis itu mengabaikan tatapannya. Saat itulah Taeyeon langsung tahu kalau memang ada sesuatu yang ia sembunyikan.

“ada apa Miyoung? aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dariku.” Desak Taeyeon.

Miyoung menatapnya, ada kesedihan disana. “ini mengenai biaya pengobatan eomma.”

“bukankah kita sudah membayarnya minggu lalu?”

Miyoung menggeleng lemah, “itu masih belum cukup. Meski kita menggabung gaji kita bertiga, masih belum bisa menutupi kekurangannya. Bagian administrasi menghubungiku lagi tadi, mereka memperingatkan kita..” dia menundukkan kepalanya, “jika kita tidak membayar pada waktu yang di tentukan, mereka tidak bisa menempatkan eomma di kamar itu lagi.” jelasnya.

“oh my god..” bisik Taeyeon terkejut. kedua tangannya sudah berada di atas mulutnya, mendadak tubuhnya melemas. Dia tak bisa membayangkan bagaimana jika ibunya tidak di beri perawatan lagi. bagi penderita penyakit jantung seperti ibunya, dia harus terus di berikan pengobatan yang tentu saja membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Miyoung tersenyum lirih. “maafkan aku karena baru memberitahumu. Aku tahu kau sudah cukup bekerja keras. aku tidak ingin terlalu membebanimu.” Sesalnya. Kedua matanya berkaca-kaca dan sebelum air mata itu jatuh membasahi pipinya, Taeyeon segera memeluknya.

“Miyoung-ah..”

“aku takut Taeyeon..bagaimana kalau kita tidak bisa membayar kekurangan itu?”

Taeyeon melepaskan pelukannya dan menggeleng pelan. “kita pasti bisa membayarnya. Eomma akan baik-baik saja, semuanya akan baik-baik saja.” ujarnya. dia meyakinkan Miyoung tapi, dia sendiri tidak yakin. Darimana ia mendapat uang sebanyak itu? ini berarti dia harus menambah pekerjaan lagi. tapi dimana dia bisa menemukan pekerjaan lain? memikirkannya saja, sudah membuatnya pusing.

“apa Seo sudah tahu?” tanyanya penuh harap.

Miyoung menggeleng sambil menghapus air matanya. Taeyeon menghela nafas lega.

“aku tidak ingin membuatnya semakin sedih, jadi aku tidak memberitahunya.”

Taeyeon mengangguk setuju. “jangan memberitahunya dulu. Setelah menemukan solusinya, kita baru memberitahunya.”

Taeyeon dan Miyoung sadar, mereka harus lebih kuat dari Seohyun karena mereka lebih tua darinya. mereka tidak ingin Seohyun terlalu bekerja keras. cukup lah mereka yang berusaha menemukan cara untuk menutupi kekurangan biaya pengobatan itu.

“aku akan mencari pekerjaan lain.”

“aku juga akan mencari pekerjaan lain. tentunya dengan gaji yang cukup besar.” Ucapnya.

“hei, apa kalian sudah selesai berbicara?”

Taeyeon dan Miyoung menoleh ke belakang. Kiseop melambai ke arah mereka lalu berjalan mendekat.

“aku harus pergi sekarang.” Taeyeon melirik jam tangannya. “hubungi aku jika terjadi sesuatu.”

“kau akan pulang terlambat hari ini?”

Taeyeon mengangguk dengan wajah yang bersemu merah. Miyoung tersenyum geli, tidak perlu bertanya alasannya, dia sudah tahu rencana Taeyeon dan Baekhyun yang akan menghabiskan waktu bersama malam ini sebelum Baekhyun berangkat ke Jeju.

“o’ kau sudah mau pergi?”

“yup. Tolong jaga Miyoung untukku.” Bisiknya. Wajah Kiseop dan Miyoung mendadak bersemu merah.

“yaa!”

Taeyeon hanya tertawa lalu memberinya tatapan penuh arti sebelum melengos pergi meninggalkan Miyoung dan Kiseop yang tiba-tiba menjadi canggung satu sama lain.

“k-kita seharusnya masuk sekarang.” Kiseop berusaha mencairkan suasana canggung di antara mereka.

Miyoung hanya mengangguk salah tingkah lalu berjalan lebih dulu. Langkahnya tiba-tiba terhenti dan Kiseop yang mengikutinya dari belakang, ikut berhenti.

“Miyoung ada apa?” tanyanya heran.

Miyoung tak menjawabnya. Kiseop semakin heran, wajah Miyoung nampak pucat. Dia kelihatan seperti orang yang ketakutan.

“w-wajahmu kenapa? a-apa kau sakit?” tanya Kiseop cemas.

Miyoung tetap membungkam. Pandangannya lurus kedepan tanpa berkedip. Tanpa sadar, tubuhnya bergetar hebat dan jantungnya berdebar kencang. Sudah sekian tahun berlalu, akhirnya dia bisa melihat orang itu lagi.

Penasaran, Kiseop mengalihkan pandangannya ke depan. Keningnya berkerut, apa pria di depan sana adalah penyebab Miyoung tiba-tiba bersikap aneh seperti ini?

“bagaimana keadaan istriku dokter? Apa yang terjadi padanya? apa penyakitnya semakin parah?” tanya seorang pria paruh baya pada seseorang berseragam putih di depannya.

“kami sudah melakukan yang terbaik untuk istri anda, tapi kondisinya semakin lama semakin menurun. Syukurlah serangan jantung tadi tidak separah sebelumnya, jadi kita masih punya harapan untuk kesembuhannya.” Dokter berseragam putih itu menjelaskan sembari memberinya senyum simpatik.

Pria paruh baya itu menghela nafas lega. Bisa dilihat betapa ia sangat mencintai istrinya.

“Miyoung-ah.” Panggil Kiseop lagi.

Miyoung tersentak tapi masih diam terpaku di tempatnya. Tiba-tiba, Pria paruh baya itu menoleh ke arahnya membuat tubuhnya kaku. Pria itu menatapnya dengan tatapan sulit di artikan. Wajahnya masih tetap sama seperti saat terakhir kali Miyoung melihatnya. hanya saja, usia dan waktu yang membuatnya tampak berbeda. Seperti disadarkan oleh sesuatu, kedua mata pria itu sontak membulat. Ada sesuatu yang mendorong Miyoung untuk segera pergi dari tempat itu. dia tidak ingin pria itu mengenalnya, tapi ada sebagian kecil hatinya yang juga begitu merindukan pria itu. acuh tak acuh, Miyoung berjalan melewati pria itu. dia sengaja menundukkan kepalanya menghindari tatapan pria itu padanya.

“Tiffany..”

Panggilan pelan pria itu membuat Miyoung membeku di tempatnya. Nama itu, sudah sejak lama ia tidak mendengarnya. nama yang berusaha di lupakannya tapi tak bisa. Kiseop yang berada di sampingnya semakin bingung. ada hubungan apa antara Miyoung dengan pria paruh baya itu? mengapa pria itu memanggil Miyoung dengan nama Tiffany?

“k-kau..apa kau Tiffany?” tanya pria itu. masih dengan suara yang pelan, tapi siapapun bisa merasakan nada penuh harap dalam pertanyaan itu. Kiseop terkejut melihat kedua mata pria itu berkaca-kaca. Dari cara pria itu melihat Miyoung, dia melihat seseorang yang penuh kerinduan bercampur kebahagiaan karena baru bertemu dengan seseorang yang sangat berarti untuknya. Apakah Miyoung dan pria itu…

Kiseop melirik Miyoung yang masih diam menundukkan kepalanya. ketika pria itu mendekatinya, gadis itu kelihatan gugup. dia bahkan menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari pria itu.

“aku tahu..kau pasti Tiffany. Aku bisa mengenal putriku sendiri meskipun sudah sekian tahun berlalu.”

Kiseop melongo kaget. pria yang berdiri di depan mereka adalah ayah Miyoung?! bagaimana itu bisa terjadi? Maksudnya, dia tahu Miyoung adalah anak yatim piatu, tapi dia tak pernah menyangka kalau ayah Miyoung masih hidup dan akan bertemu mereka disini.

Miyoung menggeleng tegas. Kepalanya terangkat dan tatapannya pada pria itu tajam dan penuh kebencian. Air matanya yang jatuh membasahi pipinya, tidak di pedulikannya lagi.

“aku bukan putrimu tuan. Aku tidak pernah menjadi putrimu.” Tegasnya lalu berlari meninggalkan pria itu.

“Miyoung tunggu!” seru Kiseop mengejarnya. tapi dia kembali berhenti dan berbalik pada pria itu untuk membungkuk hormat lalu kembali mengejar Miyoung.

– – –

Turun dari Bus, Taeyeon berlari menuju café yang terletak di seberang jalan. Dia terus melirik jam tangannya hingga tak melihat jalan di depannya. hampir saja ia terserempet sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi kalau saja seseorang tidak menolongnya dengan menariknya.

“hei kau tidak apa-apa? apa kau terluka?”

Taeyeon perlahan-lahan membuka matanya.

“kau baik-baik saja? apa ada yang sakit?” tanya pemilik suara yang sama.

Taeyeon baru sadar kalau kedua lengan pria itu telah melingkar di tubuhnya. cepat-cepat ia melepaskannya dan berdiri merubah sikapnya.

“maafkan aku. Aku hanya bermaksud menolongmu.” Ucap pria itu tersenyum malu sembari mengusap punggung lehernya.

Wajah Taeyeon bersemu merah. Pria itu tampan dan memiliki senyum seperti malaikat. Setelan jas hitam yang di pakainya kelihatan sangat pas di tubuhnya. kacamata bening yang di pakainya semakin menambah kharismanya.

“t-terima kasih sudah menolongku tuan.” Ujar Taeyeon setengah membungkuk.

Pria itu terkekeh pelan. “kau tidak perlu memanggilku dengan sebutan tuan.” Dia lalu mengulurkan tangannya, “namaku Suho. Siapa namamu?”

Taeyeon ragu-ragu menyambut tangannya. “Taeyeon. tu-maksudku Suho.” Jawabnya tersipu malu.

Lagi, Suho tersenyum. *gadis yang cute*

Seorang pria tiba-tiba menghampiri mereka. raut wajahnya kelihatan khawatir. “apa anda baik-baik saja tuan Kim?” tanyanya pada pria yang bernama Suho.

*marganya sama denganku* Taeyeon membatin.

“tidak apa-apa hyung, aku baik-baik saja.” jawab Suho.

Pria yang di panggil hyung itu beralih pada Taeyeon. “anda baik-baik saja nona?”

Taeyeon mengangguk. Dia melirik jam tangannya dan seketika panik. *gawat!*

“maafkan aku, aku harus pergi sekarang. sekali lagi, terima kasih telah menolongku tuan Kim.”

Suho mengerjapkan matanya mendengar panggilan untuknya tapi kemudian tersenyum. Sejujurnya, dia ingin menawarkan diri untuk mengantarnya tapi Taeyeon sudah lebih dulu pergi.

“gadis yang menarik.”

Suho yang sejak tadi tak pernah melepaskan pandangannya dari sosok Taeyeon, menoleh begitu mendengar komentar pria di sampingnya. ia tersenyum. “bagaimana menurutmu hyung?”

Pria itu tampak berpikir sejenak kemudian tersenyum, “kurasa dia akan cocok denganmu tuan Kim.”

“begitukah?” Suho kembali melihat ke arah jalan yang di lalui Taeyeon. senyum di bibirnya semakin lebar. dia menatap pria yang di panggilnya hyung itu dengan senyum cerah.

Pria di sampingnya itu langsung tahu, apa yang ada dalam pikirannya.

“baiklah, aku akan mencari tahu tentangnya.” ucapnya.

“bagus!” Suho bersorak girang. “kau memang yang terbaik hyung.” pujinya.

“tentu saja. jika aku bukan yang terbaik, aku tidak mungkin menjadi asistenmu.” Sahut pria itu sambil tertawa.

– – –

Ddrt..ddrrt…

Taeyeon menghentikan sejenak pekerjaannya. Dia meletakkan nampan di atas meja dan merogoh ponsel dalam saku bajunya. Miyoung menelponnya. segera saja ia menggeser layarnya untuk menjawabnya. begitu ponsel itu berada di telinganya, suara pertama yang di dengarnya adalah suara isak Miyoung.

“Miyoung..a-ada apa..? kau..apa kau menangis?” tanya Taeyeon bingung sekaligus khawatir.

Miyoung masih terisak membuat Taeyeon semakin khawatir. “ada apa Miyoung? apa terjadi sesuatu? katakan padaku..”

“Taeyeon..” suara Miyoung serak. Taeyeon menunggu dengan sabar kelanjutannya dan berharap tidak terjadi apa-apa padanya. “a-aku…dia…akhirnya..akhirnya aku bertemu dengannya..setelah sekian lama akhirnya aku melihatnya lagi..” jelasnya dengan suara terputus-putus.

Taeyeon bingung. “Miyoung-ah, aku tidak tahu apa yang kau bicarakan. Dia siapa? Aku sama sekali tak mengerti.”

“ayahku.”

Taeyeon terkejut, kedua matanya membulat lebar. “m-maksudmu ayahmu? Kau bertemu ayahmu?!” serunya hampir tak percaya.

Miyoung menarik nafas dalam-dalam sebelum menceritakan semuanya pada Taeyeon. sepanjang penjelasan itu, Taeyeon tidak pernah memotongnya. Dia mendengarkannya dengan penuh perhatian.

“kau ingin aku menemanimu sekarang?” Taeyeon menawarkan diri. Dia bisa saja cuti dan menghibur Miyoung sekarang.

Tawa kecil Miyoung terdengar di seberang ponselnya. “kau ingin Baekhyun marah padaku karena merebut waktumu?” candanya membuat Taeyeon bersemu merah.

“yaa bukan saatnya memikirkan itu sekarang. aku ingin menghiburmu.” Taeyeon bersungut kesal.

“ck, kau yakin tidak ingin menikmati waktu terakhir bersama kekasihmu sebelum ia berangkat ke Jeju?”

Taeyeon bungkam.

“sudah kuduga.” ujar Miyoung lalu tertawa. Wajah Taeyeon cemberut, tahu Miyoung sengaja menggodanya.

“lalu bagaimana denganmu? Kau pasti sedang sedih sekarang.”

“memangnya butuh berapa lama menghilangkan kesedihanku? Satu jam? Satu hari? Pssh..detik ini juga, kesedihanku hilang.”

“kau yakin?”

“kau terlalu khawatir Taeyeon. aku lebih kuat dari yang terlihat.”

“ya.ya.ya. katakan itu pada gadis yang baru saja menangis tadi.”

“yaa!”

Taeyeon tertawa pelan. ia senang, Miyoung tidak sedih lagi.

“aku tutup sekarang. ini sudah waktunya masuk kerja.”

“baiklah.”

“selamat menikmati kencanmu bersama Baekhyun! aku harap kali ini kalian berciuman!”

“yaa Miy-“

Sambungan telpon terputus sebelum ia sempat memarahi Miyoung. Taeyeon menyentuh wajahnya yang telah memanas usai mendengar kalimat Miyoung. sekarang, bagaimana dia bisa bertemu dengan Baekhyun jika kalimat Miyoung terlintas terus di pikirannya?

– – –

Setiap jam berlalu dengan cepat dan tak terasa hari telah menjelang malam. Taeyeon masih sibuk dengan pekerjaannya. Pelanggan yang datang ke café tak pernah berkurang.

“menyebalkan sekali.”

Taeyeon menoleh, Yurim salah satu pelayan baru, nampak bersungut-sungut.

“kau kenapa?” tanyanya.

Yurim semakin cemberut. “sial sekali. baru hari pertama kerja sudah bertemu dengan pelanggan seperti mereka.”

Kening Taeyeon berkerut. “mereka?” tanyanya seraya mengalihkan pandangannya ke seluruh ruangan. Matanya berhenti pada salah satu meja yang di isi oleh tiga orang gadis dan tiga orang pria. *Hyorin!* tubuhnya mendadak menegang, dari sekian banyak tempat di Korea, mengapa ia harus bertemu dengan gadis itu disini? Di café ini?

“Taeyeon!”
Taeyeon tersentak lalu menoleh. “huh? Kau memanggilku?”

Yurim menggeleng-gelengkan kepalanya. “tentu saja. disini hanya kita berdua yang menunggu pesanan para pelanggan.” Dia menegaskan-sedikit kesal.

Taeyeon nyengir. “oh ya, yang kau mau maksud menyebalkan itu…” kedua matanya kembali memandang Hyorin dan teman-temannya. “mereka?” tanyanya memastikan.

Yurim mengangguk cepat. “mereka memarahiku karena tidak menulis dengan cepat pesanan mereka. padahal aku sudah menulisnya dengan cepat tapi mereka terus mempermainkanku dengan mengubah-ubah pesanan.” Jelasnya.

*ciri khas Hyorin.* Taeyeon menarik nafas dalam-dalam. dia merasa kasihan pada Yurim yang sudah mendapat perlakuan tidak menyenangkan seperti itu.

“itu pesanan mereka.” Yurim melirik sebuah nampan yang berisi beberapa minuman dan makanan ringan di atas meja. Raut wajahnya semakin cemberut, dia tidak ingin kembali melayani orang-orang menyebalkan itu.

“biar aku yang membawanya. Kau bawa saja pesanan untuk pasangan di sudut sana.”  Taeyeon menawarkan seraya mengangkat nampan pesanan Hyorin.

Yurim tersenyum cerah. “terima kasih Taeyeon.”

Taeyeon hanya mengangguk kemudian berjalan menuju meja Hyorin. Hyorin cukup terkejut melihatnya, begitupun dengan kedua sahabatnya, Gayoon dan Eunjung. Taeyeon melirik ketiga pria yang bersama mereka dan menyadari kalau ketiganya juga berasal dari sekolah mereka.

“Taeyeon?” Eunjung mengerutkan keningnya begitu melihatnya.

“waw aku tidak menyangka kau bekerja disini Kim Taeyeon.” Hyorin melihatnya dengan sinis. kelihatan sekali dari cara bicaranya, dia sengaja mengejeknya.

“aku bekerja dimana, kurasa itu bukan urusanmu Hyorin.” Taeyeon membalasnya lalu meletakkan pesanan mereka di atas meja.

Hyorin menggertakkan giginya. Tidak senang Taeyeon berbicara dengan nada seperti itu padanya.

“ah aku lupa. Bukankah kau membutuhkan uang? Aku bisa memberimu uang tapi syaratnya, kau harus bekerja dirumahku. Bagaimana?” Hyorin memasang tampang simpatiknya dimana kedua sahabatnya tersenyum seperti merendahkannya.

“tidak, terima kasih. Sebaiknya urus urusan kalian sendiri. aku sudah cukup tenang bekerja disini, untuk apa aku harus bekerja di rumahmu? Itu sangat membuang-buang waktu dan tenagaku.”

“Kau..” Hyorin menatapnya dengan geram. Kalau saja kedua sahabatnya itu tidak menenangkannya, dia pasti sudah berteriak seperti biasanya. ketiga pria yang bersama mereka hanya diam-tidak ingin terlibat.

Taeyeon melenggang pergi meninggalkan Hyorin yang kelihatannya siap meledak kapan saja. dia tidak ingin kena masalah karena Hyorin.

– – –

“tuan mau pergi sekarang?” tanya Leo ketika melihat Baekhyun sudah bersiap-siap.

Baekhyun hanya mengangguk datar. Dia telah selesai merapikan rambutnya di cermin saat Leo menghampirinya.

“tuan Lee tunggu!”

Baekhyun yang bersiap untuk keluar dari apartemennya, berhenti lalu berbalik. Leo tersenyum menghampirinya. di tangannya memegang sebuah kotak kecil yang di ulurkan kepadanya.

“selamat ulang tahun tuan Lee.” Ucapnya.

Baekhyun tersenyum lalu mengambilnya. “terima kasih Leo.”

“anda ingin merayakan ulang tahun anda bersama nona Kim?” tanyanya hati-hati. karena dia tahu Baekhyun menjalin hubungan dengan Taeyeon, dia telah terbiasa memanggil Taeyeon dengan sebutan nona Kim meski mereka belum pernah bertemu. Sebagai jawaban atas pertanyaan Leo, Baekhyun hanya mengangguk singkat.

“berapa sisa waktu kita?” tanyanya kemudian.

Leo melirik jam tangannya lalu tersenyum. “tuan masih punya banyak waktu. Penerbangan kita sekitar jam 23.00.”

Baekhyun ikut melihat jam tangannya. Sekarang masih pukul 20.00 yang berarti dia masih punya waktu 3 jam bersama Taeyeon sebelum berangkat ke Jeju.

Seperti janjinya, Baekhyun menjemput Taeyeon di café tempatnya bekerja. karena waktu kerja gadis itu belum selesai, dia akhirnya menunggunya di dalam café. Baekhyun tersenyum memperhatikan setiap gerak Taeyeon dari mejanya. Bagaimana gadis itu melayani pelanggan tanpa lelah.

“maaf membuatmu harus menungguku. Aku masih punya waktu 30 menit lagi sebelum pekerjaanku selesai.” ujar Taeyeon merasa bersalah saat menghampiri Baekhyun lagi di mejanya. Dia baru saja selesai mengantarkan pesanan pada pelanggan yang duduk di sudut jendela.

Baekhyun meletakkan majalah yang di berikan Taeyeon di atas meja lalu meraih tangan gadis itu. “tidak masalah, aku akan tetap menunggumu.”

Taeyeon tidak dapat menyembunyikan pipinya yang merona merah karena perlakuannya apalagi saat ini para pelanggan sebagian melihat ke arah mereka.

“Baekhyun..semua melihat ke arah kita.” Taeyeon menundukkan kepalanya, malu dengan semua tatapan itu.

Baekhyun tertawa pelan kemudian melepaskan tangannya. “honey, aku tidak peduli tanggapan orang-orang pada kita. Aku menyukai skinship denganmu.” Ucapnya sembari mengedipkan sebelah matanya lalu kembali mengambil majalah di depannya dan mulai membacanya seperti tidak terjadi apa-apa.

Muka Taeyeon semakin merah padam membuatnya salah tingkah. belum lagi orang-orang di dekatnya tersenyum seperti menggodanya.

“j-jika kau merasa bosan, kita bisa menunda makan malam ini lain waktu.” Taeyeon tahu, tidak seharusnya dia membatalkan kencan pertama mereka sekaligus kencan terakhir sebelum Baekhyun ke Jeju, tapi melihat pria itu menunggunya terlalu lama membuatnya semakin merasa bersalah. mereka hanya punya waktu dua jam sebelum Baekhyun meninggalkannya. Di sisi lain, dia juga mengkhawatirkannya karena jam makan malam telah lewat dan Baekhyun masih berada di café ini tanpa memesan apapun. Pria itu bahkan tetap bersikeras tidak ingin makan apapun dan memilih untuk menunggunya.

Baekhyun menghentikan kegiatannya dan menatapnya. “aku akan baik-baik saja. kau tidak perlu khawatir.” Ujarnya tersenyum. seperti dugaan Taeyeon, Baekhyun sepertinya bisa membaca apa yang di pikirkannya. “malam ini adalah malam spesial untukku, aku sangat berharap kau bisa menghabiskan waktumu denganku.”

“malam spesial?”

“selain ini malam terakhir sebelum berangkat ke Jeju, selebihnya masih rahasia.” Jawab Baekhyun. “aku tidak berniat untuk memberitahumu secepatnya.” Tambahnya.

Taeyeon akhirnya tersenyum.

“aku sudah menyiapkan tempat untuk kita. Hanya kita berdua.” ucap Baekhyun lagi.

Taeyeon tersipu malu. entah mengapa dia merasa kalimat itu menjadi begitu berarti untuknya hingga membuat wajahnya kian memanas sembari membayangkan apa yang kira-kira telah di persiapkan oleh Baekhyun.

Akhirnya, setelah lama menunggu, pekerjaan Taeyeon pun selesai. Mereka berdua keluar dari café itu menuju tempat dimana Baekhyun memarkir motornya.

“Taeyeon! hei Taeyeon!”

Taeyeon sontak menoleh ke asal suara yang memanggil namanya. Senyumnya mengembang begitu tahu orang itu adalah Kiseop. kening Baekhyun berkerut melihat reaksi Taeyeon yang terlihat begitu senang melihat pria yang tengah berjalan ke arah mereka.

“apa yang kau lakukan disini?” tanya Taeyeon heran begitu mereka berhadapan.

Kiseop tidak langsung menjawabnya, kedua matanya beralih ke arah Baekhyun yang berdiri di samping Taeyeon. alisnya menaut heran, mengapa pria itu kelihatan tidak senang melihatnya? Taeyeon yang langsung sadar melihat ekspresi Baekhyun saat menatap Kiseop, berubah gugup. dia teringat dengan sikap possesif kekasihnya itu serta percakapan mereka saat di telpon waktu itu. dia berharap, Baekhyun tidak salah paham. Tapi mengingat kembali sifat Baekhyun, sungguh tidak mungkin kalau pria itu tidak salah paham pada Kiseop.

“Taeyeon..dia..siapa?” Kiseop masih dengan tampang herannya, bertanya pada Taeyeon. entah mengapa, Kiseop merasa seharusnya dia tidak perlu menanyakan hal itu pada gadis itu. dari cara pria di depannya itu menatapnya, sudah menjelaskan semuanya kalau dia adalah seseorang yang memiliki hak untuk menatapnya seperti itu karena berbicara dengan Taeyeon.

Taeyeon kemudian tersenyum, masih sedikit gugup, dia memperkenalkan mereka berdua.

“Kiseop, ini Baekhyun. Baekhyun, ini Kiseop.”

Kiseop tersenyum ramah lalu mengulurkan tangannya. “hai, senang berjumpa denganmu. Aku Kiseop.”

Ekspresi Baekhyun masih tetap sama. Tetap datar dan hanya mengangguk singkat tanpa menyambut uluran tangan Kiseop. Kiseop menarik kembali tangannya dan tersenyum kecut. melihat hal ini, Taeyeon menghela nafas. Kiseop yang bingung karena tidak tahu apa-apa dan Baekhyun yang melayangkan tatapan tidak suka pada sahabatnya, membuatnya harus bertindak sebelum kekasihnya itu semakin salah paham.

“Kiseop, Baekhyun adalah pacarku.”

Kedua mata Kiseop langsung membulat sempurna sementara Baekhyun yang mendengar kalimat itu dari Taeyeon seketika luluh. Dia tersenyum kemudian menggenggam tangan gadis itu dengan protektif seolah ingin mengatakan kalau gadis itu adalah miliknya.

“pacarmu?!” seru Kiseop kaget.

Taeyeon hanya mengangguk sembari tersipu malu.

“sejak kapan?”

“mm..sejak beberapa minggu yang lalu.”

“kenapa kau tidak pernah menceritakannya padaku?” wajah Kiseop cemberut, kecewa karena Taeyeon baru memberitahunya sekarang.

“itu..ceritanya sangat panjang. Nanti saja aku menceritakannya padamu.” Taeyeon menoleh pada Baekhyun, “Kiseop adalah sahabatku, dia adalah orang yang ku ceritakan waktu itu di telpon.” Bisiknya menjelaskan.

Baekhyun tersenyum mengerti, dia menyadari kebodohannya yang tidak bisa mengendalikan rasa cemburunya. “maafkan aku.” Bisiknya kembali. Taeyeon menanggapinya dengan tawa kecilnya. *Baekhyun..kau benar-benar pacar yang sangat pencemburu*

“hei kalian sedang membicarakanku?” tanya Kiseop membuat Taeyeon menoleh kembali padanya. “aku tersinggung disini.” Ujarnya sembari menunjuk dirinya yang cemberut.

Taeyeon memutar bola matanya. “Kiseop, kau berlebihan.” Ujarnya lalu tertawa membuat Kiseop semakin cemberut. “sudah kubilang aku akan menceritakannya padamu nanti, babo.” Candanya.

Baekhyun yang melihat interaksi mereka hanya tersenyum. meski dalam hatinya sedikit kurang nyaman, dia berusaha mengendalikannya demi Taeyeon.

“tapi kenapa kau tiba-tiba berada disini?” Taeyeon bertanya lagi. keningnya berkerut, dia belum mendengar jawaban Kiseop tadi.

“oh mengenai itu..” Kiseop tidak melanjutkan kalimatnya dan langsung menarik tangan Taeyeon, menyeretnya menjauh dari Baekhyun. Taeyeon cukup kaget dengan tindakannya, tapi dia membiarkannya karena Kiseop adalah sahabatnya.

Lain halnya dengan Baekhyun, senyumnya seketika menghilang dari wajahnya. dia terpaku di tempatnya dengan ekspresi yang sulit di artikan. Kedua tangannya mengepal kuat karena genggaman tangannya terlepas dari Taeyeon. Taeyeon tahu, betapa marahnya Baekhyun sekarang. tapi, dia tidak punya pilihan lain selain mengikuti Kiseop yang sama sekali tidak menyadari tatapan tajam menusuk Baekhyun padanya sesaat setelah ia menariknya tadi.

“Kiseop kau kenapa? kenapa tiba-tiba menarikku?!” protes Taeyeon setelah mereka cukup jauh dari Baekhyun.

“ish, aku hanya ingin berbicara sebentar denganmu.” Kiseop melepaskan tangannya. “ini hanya sebentar, okay?”

Taeyeon akhirnya mengangguk. Dia melihat ke arah Baekhyun yang kini memberinya tatapan dingin. Kiseop juga menoleh dan akhirnya menyadari tindakannya.

“sepertinya aku harus cepat mengembalikanmu padanya. kau lihat tatapannya padaku? ugh, tubuhku bisa mati membeku hanya dengan melihatnya.” Bisiknya sambil bergidik ngeri.

Baekhyun semakin mengepalkan tangannya melihat adegan di depan matanya. Kiseop yang terlalu dekat dengan Taeyeon seperti membisikkan sesuatu dan Taeyeon yang tertawa setelah Kiseop tersenyum padanya. perasaannya berkecamuk karena dia tidak tahu apa yang sebenarnya mereka bicarakan.

“jangan bercanda lagi. cepat katakan apa yang ingin kau katakan.” Tegas Taeyeon melipat kedua tangannya.

Wajah Kiseop langsung cemberut, “kau bahkan lebih memilih pacarmu itu dibandingkan denganku, sahabatmu sendiri. kau melukaiku.” Ujarnya sambil memasang tampang pura-pura terluka.

“Kiseop!”

“baiklah. Baiklah. Shess…kenapa kau sensitif sekali? apa karena si bacon itu huh?” ledeknya dan bersamaan dengan itu, sebuah smack mendarat di lengannya. “yaa kau menyakitiku!”

“itu salahmu!” balas Taeyeon. dia kesal karena Kiseop tidak langsung pada intinya dan malah mengejeknya, sementara disana Baekhyun menunggunya dengan tatapan yang menakutkan. Dia tak tahu, sampai dimana batas kesabaran Baekhyun dan sebelum pria itu melakukan sesuatu yang tidak sanggup di bayangkannya, dia harus menyudahi pembicaraan ini secepatnya.

“baiklah, kali ini aku akan serius.” Kiseop menyerah. Dia bisa merasakan ketidaknyamanan Taeyeon. untuk suatu alasan yang tidak di ketahui, dia juga sedikit takut pada Baekhyun. kelihatan sekali, Baekhyun adalah tipe pria yang tidak takut apapun. Taeyeon menunggu dengan sabar, Kiseop kini menatapnya dengan serius. “ini tentang Miyoung.” ucapnya.

Kening Taeyeon berkerut namun dia tetap diam mendengarkan.

“kau sudah tahu tentang ia bertemu dengan ayah kandungnya?”

Taeyeon mengangguk pelan. “dia menelponku tadi siang dan menceritakan semuanya.”

“apa dia menangis?”

“huh?”

Kiseop tersenyum kecut, “dia sama sekali tidak menangis di hadapanku.” Akunya.

Taeyeon mengangguk mengerti. dia sangat tahu sifat Miyoung, gadis itu tidak suka memperlihatkan kelemahannya pada orang lain selain padanya dan Seohyun.

“dia menolak menceritakannya padaku, tapi aku tahu apa yang ia rasakan saat itu. aku ingin menghiburnya tapi tidak bisa karena dia menghindariku.”

“maafkan dia Kiseop. kau tahu seperti apa Miyoung. dia tidak akan semudah itu menceritakan kesedihannya pada orang lain.” Taeyeon menghiburnya.

“oleh karena itu, aku membutuhkan bantuanmu.” Kiseop tersenyum malu sembari mengusap punggung lehernya.

“bantuanku?”

“mengenai perasaanku pada Miyoung..aku ingin memberitahunya sekarang.”

Taeyeon mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum berseru senang. “kau serius?!”

Kiseop mengangguk, “aku datang kemari untuk menanyakan alamat tempat kerjanya.”

“kenapa kau tidak menelponku saja?”

“kau tahu, berbicara langsung lebih baik daripada di telpon.” Ujar Kiseop yakin.

Taeyeon manggut-manggut mengerti, “so, kau ingin sekalian menjemputnya?”

Kiseop hanya mengangguk dan kembali tersenyum malu.

“aigoo..kau manis sekali.” Taeyeon tertawa sambil memencet pipi sahabatnya itu. dia tak sadar kalau Baekhyun masih memperhatikan mereka dan saat ini, wajahnya di penuhi aura gelap yang membuat siapapun yang melihatnya merasa takut.

“err..Taeyeon..”

“hm?”

“baconmu melihat kita.” Kiseop mengangguk ke arah Baekhyun dan tersenyum kaku.

Senyum Taeyeon seketika memudar dan segera menarik tangannya seperti habis memegang sesuatu yang panas. dia menjadi gugup melihat ekspresi Baekhyun.

“aku harus pergi sekarang.” ucap Taeyeon. dia memberitahu alamat tempat kerja Miyoung pada Kiseop serta tak lupa memberinya dukungan ‘semangat’ sebelum berlari ke tempat Baekhyun.

“Baekhyun..” Taeyeon menggigit bibir bawahnya berusaha menutupi kegugupannya, tidak tahu harus berkata apa. dia ingin menjelaskan, tapi sadar tidak ada yang mesti di jelaskan.

Baekhyun menatapnya dengan ekspresi datar, tanpa mengatakan apapun dia menarik tangannya menuju motornya. Bahkan saat memakaikan helm pada Taeyeon, dia sama sekali tak berbicara begitupun saat menyuruhnya naik ke motornya. Dia hanya memberinya isyarat yang langsung di patuhinya. Sikapnya yang dingin seperti ini, membuat Taeyeon merasa tidak enak.

*Baekhyun..please jangan marah padaku. maaf, sudah membuatmu kecewa.* Taeyeon membatin. Tanpa sadar, matanya sudah berkaca-kaca dan tidak sampai hitungan detik, air matanya sudah membasahi pipinya. cepat-cepat dia menghapusnya sebelum kembali memeluk pinggang Baekhyun. sekarang dia baru sadar, betapa berartinya Baekhyun untuk dirinya. dia tidak ingin kehilangan Baekhyun.

Setelah menempuh perjalanan kurang dari 20 menit, mereka berdua akhirnya sampai di sebuah restoran bergaya klasik.  Pertama kali menginjakkan kaki, Taeyeon langsung terpesona dengan tempat itu. sejenak dia lupa dengan kesedihannya karena sikap dingin Baekhyun. Baekhyun yang melihat reaksinya hanya tersenyum, namun senyum itu segera memudar ketika menyadari mata Taeyeon sedikit merah. Ini seperti pukulan terberat baginya, Taeyeon yang menangis karena sikapnya membuatnya terluka. tidak seharusnya dia bersikap egois pada gadis itu, tapi berapa kalipun ia mengingtkan dirinya, selalu saja rasa cemburu mengalahkannya.

Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Baekhyun menggenggam tangan Taeyeon masuk ke dalam. Taeyeon tentu saja sangat senang. Dia melirik ke bawah dimana tangan mereka bertaut dan tersenyum. di dalam restoran ternyata jauh lebih indah, suasananya begitu tenang, bau aroma terapi segera tercium menyelimuti ruangan ketika mereka memasukinya. Mungkin karena jaraknya jauh dari keramaian membuat suasana di dalamnya sangat nyaman. Ini pertama kalinya Taeyeon masuk ke restoran seperti ini. dekorasi restoran yang terlihat mewah dan unik serta isi di dalamnya yang begitu sukar dilukiskan oleh kata-kata mendadak membuatnya tidak percaya diri. Bisikan-bisikan yang mengatakan ia tak pantas berada disini selalu terngiang di dalam kepalanya membuatnya tidak nyaman.

Salah satu pelayan mengantarkan mereka berdua ke meja khusus yang sepertinya telah mereka sediakan sejak awal. Baekhyun menggenggam kuat tangan Taeyeon membuat gadis itu melihatnya. “tenanglah. Tidak apa-apa.” bisiknya lalu mengecup tangannya berusaha menenangkan. Taeyeon hanya mengangguk pelan dengan wajah yang bersemu merah.

Taeyeon melihat daftar makanan pada buku menu yang di pegangnya sembari menggigit bibir bawahnya. dia tidak tahu harus memesan apa terlebih lagi ketika melihat harga dari setiap porsi makanan yang hampir membuat matanya meloncat keluar. Baekhyun tersenyum memakluminya, dia kemudian memesan makanan untuknya dan untuk Taeyeon. Taeyeon hanya tersenyum kaku menyerahkan buku menu itu kembali pada pelayan.

“Baekhyun.” panggil Taeyeon setelah pelayan itu pergi.

Baekhyun yang sejak tadi terus menatapnya, mengangguk memberinya isyarat untuk melanjutkan apa yang ingin di bicarakannya.

“kau..masih marah padaku?” tanyanya ragu sambil memainkan jari-jari tangannya di pangkuannya.

“aku tidak ingin membicarakan hal ini disini.” Jawab Baekhyun dengan datar. Dia bisa melihat kesedihan di mata Taeyeon saat mendengarnya.

Taeyeon mengangguk pelan. “aku mengerti.”

Hening menyelimuti keduanya. Taeyeon mencoba mengalihkan perhatiannya dengan memandang sekelilingnya. Baekhyun yang terus memandanginya membuatnya gugup dan salah tingkah. terkadang, tatapan Baekhyun membuatnya terintimidasi. Sungguh, dia tak tahu apa yang di pikirkan pria itu saat ini. mungkinkah dia masih marah padanya? Taeyeon menautkan alisnya, dia memandang ke kiri kanannya dan sadar kalau sejak tadi hanya mereka berdua di dalam restoran itu. tidak mungkin restoran sebagus ini sepi pelanggan. Atau mungkin karena jam berkunjung telah selesai? Pertanyaan demi pertanyaan membuatnya semakin bingung dan heran.

“aku sudah memesan seluruh tempat di restoran ini, oleh sebab itu tidak akan ada yang datang.” Baekhyun yang seolah bisa membaca pikirannya, berujar dengan tenang.

Taeyeon tersentak, dia menatap Baekhyun begitupun dengan Baekhyun. kening Taeyeon berkerut, dia tak mendapati tatapan kebencian atau kemarahan Baekhyun padanya. dia malah terlihat..terluka? Baekhyun yang berbicara seperlunya saja, tidak seperti biasanya. sebenarnya apa yang di pikirkan pria itu? beruntung saat itu, makanan yang telah mereka pesan akhirnya datang hingga dia punya alasan untuk mengalihkan perhatiannya sementara.

– – –

“apa yang kita lakukan disini?” tanya Taeyeon heran begitu turun dari motor.

Baekhyun tidak langsung membawanya pulang ke rumah, melainkan membawanya ke sebuah tempat dimana mereka bisa melihat kota Seoul secara keseluruhan.

Wajah gadis itu langsung cemberu karena lagi-lagi Baekhyun mengacuhkannya. karena kesal, dia kemudian berjalan cepat menghampiri pagar pembatas tanpa menunggu Baekhyun. dari sudut ini, dia bisa melihat pemandangan kota yang di penuhi oleh lampu-lampu warna warni dari dekat. Untuk sejenak, dia melupakan kalau Baekhyun masih bersamanya. Taeyeon tak henti-hentinya berdecak kagum menikmati pemandangan indah di depannya. seperti taburan bintang yang menyelimuti seluruh kota.

“indah sekali.” bisik Taeyeon kagum, dia menyempatkan diri melirik ke kiri dan ke kanan kalau-kalau ada orang yang juga menikmatinya seperti dirinya, tapi ternyata tempat itu kosong.

Tiba-tiba sebuah mantel menyelimutinya bersamaan dengan sepasang lengan yang melingkar di tubuh mungilnya. Taeyeon tersentak sekaligus membatu di tempat. Baekhyun memeluknya.

“kau bisa kedinginan.” Suara lembut Baekhyun membuat jantungnya berdebar kencang. hembusan nafas pria itu di tengkuknya menimbulkan getaran-getaran kecil di seluruh tubuhnya. rasa dingin yang sempat menerpanya kini berangsur-angsur menghilang tergantikan oleh rasa hangat karena pelukan Baekhyun.

Taeyeon gugup, wajahnya bersemu merah, dia merasa malu karena Baekhyun pasti sudah mendengar bunyi detak jantungnya mengingat jarak mereka yang merapat. Baekhyun tersenyum kemudian membenamkan kepalanya di antara tengkuknya sambil mengeratkan pelukannya tanpa menyakiti tubuhnya. detik berikutnya, Taeyeon mulai merasa nyaman. kedua matanya perlahan memejam, menikmati pelukan Baekhyun seraya membiarkan punggungnya dan dada pria itu saling menekan. Bahkan dia bisa mencium aroma parfum yang dipakai Baekhyun. entah sejak kapan, aroma parfum itu telah menjadi aroma favoritnya.

Mereka terdiam sejenak menikmati suasana tenang kebersamaan mereka, sampai akhirnya Taeyeon mengeluarkan suara.

“Baekhyun..” pangginya yang kemudian di tanggapi dengan jawaban ‘hm’ dari Baekhyun. “apa kau..masih marah padaku?” tanyanya gugup. untuk kedua kalinya, dia menanyakan hal itu. Taeyeon benar-benar ingin tahu.

Baekhyun memberikan kecupan lembut di lehernya lalu sedikit mengangkat kepalanya untuk mengecup keningnya. kedua tangannya yang sejak tadi memeluk pinggang gadis itu, kini naik melingkar di bahunya. “kenapa kau berpikir seperti itu?” tanyanya. Tetap dengan intonasi yang halus. Pandangannya lurus kedepan seraya menyandarkan dagunya di atas kepala gadis itu.

“tentang Kiseop..kukira kau marah padaku.” Baekhyun terdiam. “itukah sebabnya kau mengacuhkanku sejak tadi?”

Taeyeon merasakan Baekhyun menggeleng sebagai jawabannya. “aku tidak akan pernah marah padamu.” ucapnya.

“lalu kenapa kau mengacuhkanku dan bersikap dingin padaku?” pertanyaannya terdengar seperti berbisik. “itu..menyakitkan..” ujarnya lirih.

Baekhyun tersentak kaget. dia memutar Taeyeon agar berhadapan dengannya. gadis itu sama sekali tidak menatapnya. seperti sengaja memalingkan wajahnya. Baekhyun mengangkat dagu Taeyeon agar menatap matanya. gadis itu terluka, dia bisa melihatnya dari tatapan matanya. tanpa berkata apapun, dia menarik tubuhnya ke dalam pelukannya.

“maafkan aku honey..aku tidak bermaksud menyakitimu.” Ucap Baekhyun merasa bersalah. dalam hati dia membenci dirinya karena telah membuat Taeyeon terluka karena sikapnya. Dia bahagia ketika Taeyeon membalas pelukannya.

“aku hanya sedang berpikir dan berusaha menenangkan hatiku..” ucapnya lagi. Taeyeon sempat heran, tapi dia tetap diam menunggu kelanjutan kalimatnya. Baekhyun menghela nafas dalam-dalam untuk meredam perasaannya yang tengah berkecamuk dalam hatinya.  “melihatmu akrab dengannya membuatku nyaris tak bisa mengendalikan diriku. Aku marah pada diriku sendiri karena memiliki sifat pencemburu dan akhirnya, malah menyakitimu. Aku sungguh tak bisa melihatmu bersama pria lain, terlebih lagi melihatmu tertawa lepas dengannya sementara padaku tidak.” tambahnya mengakhiri pengakuan singkatnya.

Kalimat itu membuat Taeyeon luluh. Dia bisa mengerti betapa terlukanya Baekhyun ketika mengucapkan semua itu padanya. melihat kesedihan di mata Baekhyun membuatnya merasa bersalah. pria itu benar-benar terluka. Selama ini, dia tak pernah bebas berbicara dengan Baekhyun karena ketidak nyamanannya. Bersama Baekhyun selalu membuatnya canggung, bukan karena tidak menyukai pria itu tapi karena perasaannya yang selalu berdebar-debar hingga membuatnya sedikit menjaga jarak dengannya. setiap kali bertemu pun, hanya Baekhyun yang selalu berinisiatif menyentuhnya. Karena dia pria yang menyukai skinship, itu tidaklah sulit baginya. Tapi bagi dirinya sendiri, dia masih terlalu malu untuk melakukannya. mungkin itulah yang membuat Baekhyun merasa cemburu pada pria yang selalu berada dekat dengannya.

Taeyeon ingin menjelaskan kalau Kiseop hanyalah sahabatnya dan mengatakan untuk tidak cemburu padanya, tapi dia sadar, bagaimana mungkin dia mengatakan hal yang seperti itu sementara dia sendiri yang menyentuh Kiseop di depan Baekhyun. pada dasarnya, Baekhyun sudah mengetahui hubungan persahabatan mereka, sama halnya dengan hubungannya dengan Chanyeol dan lainnya, tapi berhubung sifat posesif, protektif dan pencemburunya lebih kuat, dia tak bisa berkata apa-apa lagi selain memakluminya dan membiasakan diri dengannya.

Taeyeon akhirnya tersenyum. dia lalu mengangkat kedua tangannya menyentuh wajah Baekhyun membuat pria itu sedikit tersentak dengan tindakannya.

“maafkan aku karena aku sudah membuatmu merasa seperti itu.” ucapnya dengan lembut.

Baekhyun meletakkan telapak tangannya di atas tangan Taeyeon kemudian tersenyum menatapnya. “aku hanya ingin memanfaatkan waktuku yang masih tersisa bersamamu.” Ujarnya sungguh-sungguh. Taeyeon menatapnya heran. “segera setelah pulang dari Jeju, waktu sebulan itu akan hilang.” Tambahnya lagi. memikirkan Taeyeon akan pergi darinya setelah waktu sebulan itu berakhir membuatnya tersiksa. Dia selalu ingin bersamanya dan menikmati kebersamaan mereka lebih lama untuk selamanya. Mungkin karena itu pula yang membuatnya sedikit lebih egois dan protektif terhadap gadis itu.

Taeyeon tak tahu apa yang harus ia katakan. Mulutnya membungkam dengan segala pemikiran di dalam kepalanya. itu memang benar, setelah Baekhyun kembali ke Jeju, hubungan percobaan itu berakhir.

“apa kau tahu, ini adalah hari spesial untukku?” tanya Baekhyun kembali memeluknya. Taeyeon hanya menggeleng. “hari ini adalah ulang tahunku.”

Taeyeon terkejut, dia sontak melepaskan pelukan Baekhyun dan menatapnya dengan pandangan tak percaya.

“kau berulang tahun hari ini?!”

Baekhyun hanya mengangguk dan tersenyum mengusap punggung lehernya. mulut Taeyeon menganga, rasa bersalah menyelimutinya. mendadak dia merasa gagal menjadi seorang pacar karena tidak mengetahui kalau pacarnya hari ini berulang tahun. Bagaimana bisa dia begitu bodoh, bahkan ia tak menyiapkan kado apapun untuk Baekhyun.

“aduh bagaimana ini..” Taeyeon panik. “aku minta maaf..aku bahkan tidak menyiapkan kado untukmu..maafkan aku..” tidak terhitung berapa kali ia merutuki dirinya karena terlalu bodoh. Seharusnya dia tahu saat Baekhyun menyebutkan ‘malam spesial’ itu bukan hanya malam perpisahan mereka tapi juga malam ulang tahunnya.

Baekhyun yang sejak tadi memperhatikan setiap ekspresinya, hanya tersenyum geli. dia sebenarnya tidak begitu peduli dengan hadiah, baginya selama gadis itu bersamanya, itu sudah lebih dari cukup.

“tidak apa-apa, ak-“

“mana boleh begitu!”

Baekhyun cukup tersentak mendengarnya. dia tak menyangka Taeyeon akan menanggapinya seserius ini. tapi dia senang, paling tidak dia tahu kalau gadis itu memperhatikannya.

“aku benar-benar pacar yang buruk sampai-sampai tidak tahu kalau hari ini kau berulang tahun.” Keluh Taeyeon dengan wajah cemberut.

Baekhyun terkekeh pelan tapi langsung terdiam begitu mendapat tatapan tajam dari Taeyeon.

“ini tidak lucu!”

“lalu kau ingin aku melakukan apa? lagipula ini bukan salahmu.” Baekhyun berusaha menghiburnya.

Taeyeon menarik nafas panjang sebelum kembali menatapnya.

“apa ada sesuatu yang kau inginkan?” tanyanya kemudian. Baekhyun mengerjapkan matanya mendengarnya. “apapun yang kau inginkan, aku akan memberikannya untukmu.” Ujarnya lagi.

Baekhyun terdiam sejenak sembari mencari kesungguhan di mata Taeyeon.

“kau yakin?”

“tentu saja. tapi, aku tidak bisa membelikanmu barang-barang yang mahal sebagai hadiah.”

“baiklah.”

Taeyeon mengerutkan keningnya dan dia menjadi gugup ketika Baekhyun tiba-tiba mendekatkan wajahnya.

“a-apa yang kau lakukan?”

Baekhyun menyunggingkan smirknya. “aku ingin mengambil hadiahku, bukankah kau ingin memberikannya padaku?”

“t-tapi kau tidak pernah memberitahuku apa hadiah yang kau inginkan.”

Baekhyun tidak mempedulikan ucapannya. Dia menarik pinggang Taeyeon ke arahnya hingga jarak diantara mereka lenyap. Taeyeon merasakan tubuhnya bergetar bersamaan dengan jantungnya yang berdegup kencang. dia sontak menutup matanya saat wajah Baekhyun semakin dekat. Sedetik kemudian, bibir Baekhyun menyentuh keningnya. dia baru membukanya setelah Baekhyun menarik wajahnya.

Baekhyun menatapnya dengan pandangan teduh yang hangat. Senyumannya yang lembut membuat jantungnya serasa meledak di dalam sana. Mereka saling menatap, sampai akhirnya insting Taeyeon memberitahu apa yang di inginkan Baekhyun saat ini. helaan nafas terdengar dari mulutnya, tanda kalau ia sedang berusaha mengurangi kegugupannya dan bersiap dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Taeyeon mengangguk pelan bersamaan dengan itu, kedua mata hazelnya menutup rapat. Di dalam sana, jantungnya berdebar-debar tak karuan. Seluruh perasaannya berkecamuk ketika merasakan wajah Baekhyun semakin mendekat.

Seperti ribuan kupu-kupu yang beterbangan dalam perutnya ketika bibir lembut Baekhyun menyentuh bibirnya. Baekhyun menciumnya dengan sangat lembut dan sangat hati-hati, membiarkan dirinya tenang dan menikmati ciuman itu. tidak perlu menunggu lama, Taeyeon akhirnya membalasnya. Lambat laun, ciuman itu berubah menjadi ciuman penuh hasrat dan tuntutan. Kesan mendominasi yang di tunjukkan Baekhyun membuat Taeyeon tak berdaya. Baekhyun berhasil menunjukkan kekuasaan atas dirinya, membuatnya menjadi miliknya yang hanya boleh di sentuh olehnya. Baekhyun membawa tangan Taeyeon melingkar di lehernya lalu mengeratkan dekapannya di pinggang gadis itu. Taeyeon nyaris kewalahan, Baekhyun hanya memberinya sedikit waktu untuk mengambil udara sebelum kembali menciumnya. Ini ciuman pertamanya dan dia merasa seperti melayang.

Dan akhirnya, Baekhyun melepaskan ciumannya lalu memeluk Taeyeon sembari mengatur nafas mereka dalam diam. Dia tersenyum merasakan detak jantung Taeyeon yang berdegup kencang sama sepertinya. setelah nafasnya kembali normal, Baekhyun melepaskan pelukannya dan menatap Taeyeon dalam-dalam. dia bisa melihat Taeyeon tersipu malu berusaha menyembunyikan wajahnya merah padam dengan menundukkan wajahnya.

Baekhyun tersenyum mengangkat dagunya. Taeyeon tidak menolak selain menatapnya.

“aku ingin kau menjadi milikku, hanya milikku.” Baekhyun menggenggam kedua tangan Taeyeon lalu kembali menatapnya lekat-lekat. “aku ingin..hubungan kita resmi, bukan sekedar satu bulan tapi selamanya.”

Taeyeon diam. dia menatap kedua mata Baekhyun, mencari kesungguhan di dalamnya. Satu-satunya pria yang memberinya perasaan aneh itu hanya Baekhyun. walaupun hubungan mereka masih sedikit canggung, tapi setidaknya mereka masih punya banyak waktu untuk berusaha menciptakan rasa nyaman di antara mereka.

Baekhyun menatapnya dengan penuh harap. Taeyeon kemudian tersenyum mengangguk membuat wajah Baekhyun cerah. Pria itu sangat bahagia.

“aku mencintaimu.” Ucapnya kembali mengecup bibir Taeyeon lalu memeluknya.

Taeyeon yang masih terkejut dengan tindakannya beberapa menit lalu, akhirnya ikut tersenyum dan membalas pelukannya. *kurasa aku juga telah jatuh cinta padamu Baekhyun* batinnya. hatinya telah memilih, dia hanya ingin jatuh cinta pada pria itu, hanya pada pria itu.

“selamat ulang tahun Baekhyun.” bisiknya pelan.

Baekhyun mendekap tubuhnya dengan erat. Taeyeon bahagia sekaligus lega karena akhirnya dia tak ragu lagi menyampaikan perasaannya. Detik ini, hubungan resmi mereka pun dimulai. Kelak, dia akan berusaha sebaik mungkin menunjukkan perasaannya terhadap pria itu tanpa rasa canggung.

 

To be continued…

 

Aku sudah berusaha membuat ceritanya agar tidak terlalu membosankan, jadi seumpama ada yang masih kurang ‘cetar’ silahkan komentarnya di bawah. Oh ya, aku ingin tahu pendapat kalian tentang ff all my love is for u sejauh ini. apa kalian punya ide agar ceritanya lebih bagus? Silahkan beri jawaban di bawah yah. Aku juga ingin mendengar pendapat kalian. siapa tahu, ide kalian bisa ku masukkan ke dalam sini.

Nb : untuk yang kemarin mengira Chanyeol memiliki perasaan terhadap Taeyeon, aku ga bisa memberitahukan itu pada kalian. silahkan berimajinasi sendiri. ^^

Karena ini genre drama, jadi bukan hanya kisah Taeyeon dan Baekhyun yang ku ceritakan. ini juga tentang kisah Tiffany dan Seohyun. tapi tetap, couple utama kita lebih banyak ceritanya.

—> RYN

 

79 thoughts on “[Freelance] Story of EXOTaeng : All My Love is For U (Chapter 10)

  1. author sebelumnya aq minta maaf aq udah baca ff author yang ini udah dari part awal tapi aq baru comen hehehheheh
    jujur ya tor, aq suka bgt ff yang author tulis apa lagi pairingnya exotaeng. rasanya klo baca ff author itu feelnya dapet bgt, aq juga suka ff author yang baby don’t cry hehehehehhe
    wah jadi curhat nieh.
    aq tunggu kelanjutan ff ini+ ff author yang lain
    author semangat terus ya🙂
    aq tunggu karya author selanjutnya

  2. sukaaaaa banget sama ff yg satu inii jalan ceritanyaaa daebak banget aku sukaaa

    ternyata aku cari chapter 11 belm ada yaaa????
    thor kapan di lanjutnya???
    please klo bisa mereka sampe nikah yaaaaa

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s