[Chap. 3] HE’S MY GUARDIAN

 He's-My-Guardian-2T

He’s My Guardian [Part 3 :: Sweet Day, Bitter Day]

Writing by Priskila (@priskilaaaa)

Tiffany Hwang [GG] – Kim Joonmyun [EXO K] | Other casts will appear soon

Chapter 3 Of ??? | Teen | Romance – Comedy – Angst – Life Story

Disclaimer:

I don’t own the cast. But the storyline and the plot is mine. Everything here belongs to God and their family, their agency too. I just used their physical representation.

Note:

Annyeong~ Udah lama gak ngelanjutin FF SuFany ini :’) Maaf ya, soalnya disamping karena tugas sekolah, aku malah jadi lebih fokus untuk jalan cerita Barbie Girl dan OS buatanku yang lainnya. So sorry ><

En, disini aku sedikit merubah gaya bahasanya. Soalnya kemarin ada yang meminta agar bahasanya dirapiin, dan yup.. semoga saja bisa memuaskan dengan gaya bahasa yang tidak sealay part – part kemarin~

Happy reading guys!

Tiffany tetap saja tertegun melihat penampilan bodyguardnya itu yang tampak kebingungan karena ekspresinya. Tiba – tiba jantungnya terasa melakukan perang. Berdegup kencang dengan wajah memanas. Suho ganteng… beneran.

 

Dan Tiffany rasa dia… tidak! Tidak mungkin dia jatuh cinta! Tidak! Walaupun memang cukup sulit melalui 2 bulan dengan perasaan tertahan, tapi Tiffany memang tidak boleh menyukai bodyguardnya. Udah tau alasannya kan?

 

Gak elit, banget.

Udara yang taman yang sejuk. Cerah matahari yang mewarnai hari. Rasanya akan sangat nikmat jika melalui hari itu dengan sebuah cone es krim di tangan dan sambil menggandeng sang kekasih.

 

Tiffany merasakan kenikmatan itu sekarang. Tapi sayang, bukan kekasih yang digandengnya. Tapi bodyguard. Bukan cuma bodyguard biasa coy, bodyguard ganteng ini.

 

Kata – katanya dulu mengenai penampilan bodyguard gantengnya itu yang gak keren dan basic banget berubah sedemikian rupa, seiring dengan penampilan Suho yang kini beralih bak seorang model catwalk. Kemana – mana sekarang dia selalu membawa kacamata hitam yang dibelikan Tiffany untuknya, serta jaket kulit hitam yang selalu digunakannya jika menjemput Tiffany dari kampus. Persis banget kayak mahasiswa – mahasiswa keren yang selalu jadi idola kampus.

 

Sikap Suho padanya hari kian hari pun bertambah manis dan… err, romantis? Kerap kali lelaki itu selalu mengajaknya jalan berdua dan bisa dibilang mereka sering kencan bersama. Tapi baik Tiffany maupun Suho, tidak pernah meluruskan hubungan apa sebenarnya yang mereka jalani sekarang.

 

Sering banget Taeyeon dan Yuri heboh kalau Tiffany datang ke kampus dengan perlakuan Suho yang ketimbang romantis. Contohnya tadi, seperti biasa, Suho akan turun dari mobil lalu membukakan Tiffany pintu. Itu hal biasa, namun tadi, Suho menaruh sedikit bumbu di  sikap ’manner’nya tadi, yaitu, mengelus dan mencubit kedua pipi majikan cantiknya itu. Wow. Asal tau saja, Taeyeon langsung bersikap autis saat itu juga. Loncat – loncat di tanah sambil teriak – teriak gak jelas. Ngenes.

 

“Nona…”

 

Tiffany menengok sambil menjilat es krimnya yang hampir habis itu, “Apa?”

 

Suho tersenyum geli melihat wajah Tiffany yang terlihat begitu kekanakkan dengan es krim di tangannya. Lucu banget. “Hari ini Nona senang?” tanyanya basa – basi. Tapi sukses membuat Tiffany salah tingkah. Selalu gini deh. Apapun yang dibuat Suho, selalu dianggap Tiffany sebagai suatu rayuan atau tingkah manis. Suho terlalu romantis, baginya.

 

Dengan malu – malu, Tiffany mengangguk pelan dan tersenyum kecil. “Senang. Sangat senang. Terima kasih ya…” katanya dengan eye smilenya. Bermaksud memberi rasa terima kasih yang amat besar, karena seumur – umur, Tiffany tidak pernah diajak ‘kencan’ seperti sekarang ini. Memang mereka tidak melakukan banyak hal. Suho hanya mengajaknya duduk – duduk di taman, lalu membelikannya es krim, kemudian bersama – sama berjalan mengitari taman sembari melayangkan pandangan pada anak – anak kecil yang sedang bermain di sana. Simpel, tapi mampu membuat kupu – kupu di perut Tiffany terbang tak karuan.

 

Suho mengangguk, kemudian tangannya bergerak mengacak pelan rambut Nonanya itu. Halus surai hitam Tiffany membuatnya ketagihan untuk selalu menyentuh surai lembut itu. Bagaikan candu yang membuat tangannya gatal untuk sehari saja tidak memainkan rambut itu. “Akh! Jangan berantakin rambutku!” pekikan Tiffany spontan membuatnya tertawa terbahak – bahak. Tiffany memang sangat menggemaskan baginya.

 

“Aish! Hentikan!” Tiffany semakin meronta ketika kedua tangan Suho malah memegang kepalanya dan semakin membuat hebat acak rambutnya. Beruntung sekali es krimnya sudah habis, jika tidak mungkin wajah Suho sekarang sudah dihiasi dengan benda dingin berwarna putih lembut itu.

 

“Suho-yaa!”

 

CUP

 

Tiba – tiba, gadis itu berhenti meronta kala itu juga. Pinter banget Suho. Lelaki itu dengan iseng – atau memang dengan tujuan? – mengecup cepat dahi mulus Tiffany. Spontan saja semburat merah muda menghiasi wajah gadis itu. Sementara Suho tampak tertawa kecil dan tersenyum malu – malu.

 

“Kau ini—issh”  Tiffany memukul lengan Suho pelan, berusaha untuk terlihat normal (?). Memasang wajah sebalnya, walau malah terlihat sangat canggung.

 

“Hehe..” Suho hanya terkekeh seperti dirinya tidak melakukan kesalahan yang besar.

 

“Sembarangan banget cium – ciumnya…” ujar Tiffany mencibir lalu tertawa hambar. Malah pada akhirnya dia menggigit bibir bawahnya dan melirik Suho malu. “Memalukan” bisiknya pelan sembari menunduk. Namun entah memang karena suaranya yang masih terlalu besar atau pendengaran Suho yang tajam banget, lelaki di sebelahnya itu masih sanggup mendengar bisikannya.

 

“Mian Nona…” ucap Suho sembari menghadapkan dirinya dengan Tiffany. “Habisnya, wajahnya Nona itu buat nggak nahan banget untuk dicium” sambungnya sambil menyamakan tinggi badannya dengan Tiffany, lalu mencubit pelan hidung gadis itu.

 

Lagi – lagi, wajah Tiffany memerah. Lebih merah daripada sebelumnya. “Y—ya! Me—mesum!”

 

“Jinjja?” Suho memasang wajah menyebalkannya.

 

Tiffany mencibir. Suho terlihat begitu menyebalkan sekarang. “Ya! Kau ini…!” teriaknya sembari mengangkat tinjunya, berniat untuk – jika bisa –  memperbaiki sedikit letak otak Suho dengan kepalan tangannya itu.

 

Namun, … CUUUUPPP~

 

Kali ini,…. di bibir. “Mianhae Nona-ya!” Dan bodyguard ganteng – yang menjalar ke bodyguard mesum – itu segera berlari kabur sambil tertawa terbahak – bahak.

 

“Su—suho… Arrggh!!! AWAS KAU YA KIM JOONMYEON! KUBUNUH KAU!!!!”

 

Oh God.

 

Mereka ini pacaran atau apa sih?

 

Mungkin itu yang ada di pikiran setiap orang yang melihat tingkah mereka sekarang. Persis kayak dua remaja yang baru aja jadian, kedua anak manusia itu malah asyik kejar – kejaran di permukaan rumput yang tampak sangat hijau.

 

“Ya! Kim Joonmyun! Kau menyebalkan!” teriakan Tiffany masih saja terdengar nyaring. Sementara Suho terlihat berlari menjauhi ‘Nona tersayang’nya itu sambil tertawa. Entah tawa mengejek atau apa.

 

“Ya! Tunggu aku! Awas ya kau!!!”

 

“Nona! Kejar aku kalau bisa! Haha, dasar pendek!”

 

“Mwo?! Pendek?! Ya! Kau!”

 

“Ne! Nona itu pendek! Kalah pendek dari Yuri-ssi! Kalah jauh!”

 

“Apa kau bilang?!! Kurang ajar! Mati kau, Kim Joonmyeon!!!!”

 

“Hahaha—akkhh!! Aww!” Tiffany tertawa puas sembari menghentikan larinya. Tawa penuh kemenangan keluar dari mulutnya ketika melihat sosok bodyguardnya itu sudah terkapar di tanah akibat kerikil kecil yang dilemparkannya barusan. Sukses!

 

“Makanya… Tiffany dilawan..” bangga Tiffany menyombongkan diri pada Suho yang masih meringis kesakitan karena punggungnya yang sukses mencium tanah. Beberapa kali dia memeletkan lidah merahnya itu Suho. Mengejek lelaki yang sudah mengatainya pendek itu – yeah, walaupun itu memang fakta.

 

Suho meringis. Celana jeansnya sudah kotor penuh tanah dan berita bagusnya… dia jatuh tepat di tanah becek, hingga kemeja yang digunakannya basah karena lumpur. Beruntung dia menggunakan kaos lain di dalamnya. Picik banget Tiffany, pikirnya, gadis itu pinter perhitungin jarak lemparannya hingga akhirnya dia sukses jatuh di becek seperti ini. “Nona, bantu aku berdiri…” pinta Suho memelas sembari mengulurkan tangannya pada Tiffany yang masih tertawa.

 

“Ahahaha… Ani!” tolak Tiffany cepat.

 

“Nona-ya, masa kau tega padaku sekarang? Ayolah Nona. Kotor banget nih…” Suho berusaha merayu. Di otaknya sudah terancang suatu rencana balas dendam untuk Tiffany. Haha, lihat saja nanti Nona Hwang Miyoung, batinnya iblis (?).

 

Tiffany mencibir sembari bersedekap dada, “Kau yang memulai, Kim Joonmyeon!”

 

“Aish, ne ne. Saya minta maaf, ne? Tapi ayolah Nona, bantu saya berdiri~” rajuk Suho sambil tetap mengulurkan satu tangannya. Berharap Tiffany akan meraih tangannya dan pada saat itu dia akan menarik gadis itu, lalu hap! Rencana balas dendamnya akan sukses dalam sekejap.

 

Tiffany memutar kedua bola matanya malas. Namun pada akhirnya dia juga tidak tega melihat penampilan Suho yang sudah kotor karena lumpur yang menempel pada kemejanya. Suho yang pertamanya terlihat ganteng, malah berubah menjadi lelaki kampung yang baru saja habis karapan kerbau di sawah.

 

“Ne ne… sini!”

 

Tangan gadis itu akhirnya terulur membantu Suho. Tanpa disadari oleh Tiffany, Suho menyeringai licik. Sesuai rencana, ketika tangan Tiffany sudah menggenggam tangan Suho, lelaki itu segera menarik Tiffany cepat. Merubah posisi mereka dalam sekejap mata – dan dengan teriakan kilat Tiffany – hingga akhirnya Tiffany berada di bawah sedang Suho di atasnya. Rambutnya sukses terendam becek dan lumpur.

 

Oke, kini mereka terlihat seperti pasangan romeo juliet yang sedang kencan di lumpur.

 

Tiffany mengerjapkan matanya tak percaya ketika menyadari kini dia berubah kotor. Kotor banget. Lebih kotor dari Suho yang sudah tersenyum penuh kemenangan di atasnya. “Y—ya! Kau menyebal—” Tiffany nyaris saja ngamuk jika saja mulutnya tidak dibekap oleh tangan Suho – yang kotor.

 

“Mmmphh! Mmmmpphh!!!!” Tetap saja dia ngamuk dalam bekapan Suho.

 

“Ssst.. Nona, sssttt..”

 

“Mmmphh!!! Mmmphh…!!!”

 

CUPPP

 

Oh hell… don’t again-___-

 

Beberapa kali gadis itu berusaha membersihkan lumpur – lumpur yang menempel pada rambutnya. Sumpah serapah tak henti – hentinya keluar dari mulutnya itu. Merutuk mimpi apa yang kira – kira telah dia mimpikan hingga mendapatkan hari tersial seperti hari ini. Dijebak oleh bodyguard sendiri hingga akhirnya dia berubah menjadi gadis lumpur. Kotor banget.

 

“Argh! Kenapa sih gak mau hilang?! Arggh!!!” Tiffany berteriak tak sabaran. Entah sudah lembar tisu keberapa yang digunakannya untuk membersihkan rambutnya yang sudah lepek karena lumpur. “Argghh!!!”

 

Sementara itu, disampingnya Suho malah tertawa. Penampilannya tida terlalu buruk. Kemejanya yang kotor sudah dilepas, menyisakan kaos hitam bertuliskan I Love MH – yang katanya pas ditanya oleh Tiffany apa itu MH, MancHester United– . Berbeda jauh dengan Tiffany yang sangat sangat kotor…

 

“Aish! Berhenti tertawa! Ini semua karenamu!” bentak Tiffany kesal – karena melihat Suho yang terus saja tertawa mengejek dirinya. “Kau menyebalkan!”

 

“HAHAHAHA!!!” Tawa Suho semakin membesar.

 

“Aish! Sudah sudah! Kim Joonmyeon!!!”

 

“HAHAHA!”

 

Tiffany merengut sebal. Hari ini Suho menyebalkan banget. Beneran deh. Gadis itu hanya tetap melanjutkan kegiatannya untuk membersihkan lumpur dari rambut hitamnya. Namun tiba – tiba deru suara gas mobil membuatnya mendongak. Mulutnya membulat ketika sebuah mobil sedan hitam melaju kencang dari arah berlawanan, ke arah mereka.

 

Ke arah mereka…

 

APA?!!!

 

Ke arah mereka!!?

 

“Suho! Mobil itu!” Pekikannya memenuhi mobil. Spontan saja Suho memutar setir ke arah kiri, membuat mobil menukik dengan cepat ke pinggir jalan. Beruntung tidak ada pembatas di sana sehingga mobil mereka hanya menabrak trotoar. Beruntung banget. Mobil sedan misterius itu juga segera lenyap, menyisakan kepulan asap tebal di belakangnya.

 

Tiffany membuka matanya yang tadi dipejamkannya rapat – rapat. Fiuh, nyaris saja malaikat maut menjemputnya tadi. Kepalanya menengok ke belakang, penasaran dengan sedan misterius tadi. “Ada apa sih dengan mobil itu..” bisiknya sedikit takut.

 

“Nona baik – baik saja kan?” Suara Suho terdengar. Tiffany segera memperbaiki posisi duduknya dan melihat ke arah bodyguardnya itu. Tampak cairan merah kental mengalir di dahi lelaki itu. Astaga! Itu kan darah!

 

“Suho! Kepalamu…” tunjuk Tiffany panik. Tangannya segera mengambil tisu banyak – banyak dan melap cairan berwarna merah itu. Tampaknya tadi kepalanya terbentur dengan setir mobil hingga menyebabkan kepalanya terluka seperti itu.

 

“Aku tak apa, Nona” Suho dengan perlahan menyingkirkan tangan Tiffany dari kepalanya. Lalu menatap mata Tiffany dengan teduh, “Aku tidak apa – apa, Nona. Tapi Nona sendiri? Nona terluka?”

 

Tiffany tertegun sejenak. Dalam kondisi terluka seperti itu Suho masih memikirkannya? Gadis itu menelan ludahnya ketika jantungnya sudah mulai berdetak tak karuan, “A—aku tidak papa” balasnya terbata. “Tapi kepalamu, Ho…”

 

“Gwenchana, Nona. Jinjja”

 

“O. Arraseo..” Tiffany menyerahkan tisunya pada Suho. Membiarkan lelaki itu membersihkan sendiri darah yang mengalir di sisi wajahnya. Tapi tetap saja rasa khawatir menggerayangi hatinya. Bagaimana kalau misalnya Suho kekurangan darah? Atau bagaimana kalau misalnya benturan itu menyebabkan otak Suho bergeser dari tempatnya? Kalau kemungkinan kedua ini benar, Tiffany sedikit bersyukur karena memang sedari tadi Suho sangatlah menyebalkan,… tapi manis.

 

Tingkah Suho hari ini benar – benar membuatnya melayang dimabuk… errr, cinta? Yang benar saja, hari ini Suho sudah tiga kali menciumnya. Pertama di dahi, dan kedua ketiga di… bibir. Ouch! Mereka belum berpacaran, ‘kan? Tapi sikap dan perlakuan Suho bisa – bisa membuatnya salah paham. Lelaki itu terlalu membuatnya mabuk asmara.

 

Mobil kembali berjalan seperti biasa. Beruntung tabrakan kecil tadi tidak menyebabkan ringsek yang parah pada mobil. Mungkin hanya beberapa peyot pada sisi mobil. Itu bukan masalah besar. Setidaknya mereka masih bisa pulang ke rumah.

 —

Matahari sudah beranjak masuk ke peraduannya ketika mobil Audi R8 silver milik Tiffany masuk ke dalam parkiran rumah mereka. Ketika mesin telah mati, Tiffany segera turun dengan raut wajah penuh tanya. Aneh banget, pikirnya. Biasanya saat mereka akan masuk ke dalam rumah, Park ahjussi yang merupakan satpam rumahnya akan segera keluar dan membuka pagar. Namun kali ini, pagar terbuka begitu saja. Ini aneh, tidak seperti biasanya Park ahjussi lalai dalam hal menutup pagar.

 

“Park ahjussi…” panggilnya sambil mengecek pos kecil yang merupakan tempat Park ahjussi berjaga. Kosong, batinnya bergejolak penuh tanya. Tidak seperti biasanya.

 

“Ada apa, Nona?” Rupanya kekhawatiran Tiffany dapat terbaca oleh Suho. Bodyguard ganteng itu masih menempelkan tisu pada dahinya karena sepertinya darah masih belum berhenti mengalir. Tiffany berbalik dan menatap Suho dengan sedikit khawatir, “Tidak apa – apa. Hanya,… tumben saja Park ahjussi tidak berjaga di posnya. Padahal tadi pagi dia masih ada, ‘kan?”

 

Suho mengangguk kecil dan ikut menengokkan kepalanya ke arah pos. Pos itu memang kosong seperti tidak ada penghuni. Alisnya berkerut tak mengerti. Dia tau betul sosok gembul satpam rumah Tiffany yang selalu setia berjaga di posnya itu. Pandangan mata Suho berhenti bergerak pada sebuah pintu cokelat yang dia ketahui ruang di belakangnya adalah ruang istirahat siang Park ahjussi. Pintu kayu bercat cokelat itu tidak terbuka lebar namun ada sedikit celah di antaranya.

 

Apa Park ahjussi tidur?

 

Tidak mungkin. Biasanya jam segini bapak setengah tua yang telah mengabdi pada keluarga Hwang untuk 15 tahun terakhir itu sedang berada di pos untuk menunggu Tuan Hwang pulang, lagipula dia jam tidurnya adalah jam setengah 3 sampai jam 4 sore. Itu yang diketahui Suho.

 

“Huk? Appa sudah pulang?”

 

Suara Tiffany memecah konsenstrasinya tadi. Kepalanya menoleh dan mendapati pintu rumah utama yang terbuka, dengan Tiffany yang berada di depan pintu. “Suho-ya! Sedang apa disitu? Ayo masuk! Aku harus segera membersihkan badaku yang kotor ini, euuww…” seru Tiffany dan segera berlari memasuki rumah.

 

Suho mengangguk, kemudian kembali memastikan tidak ada keanehan lain di pos kecil itu. Setelah meyakinkan diri tak ada apa – apa, barulah dia mengikuti Tiffany masuk ke rumahnya. Baru saja dia melangkahkan kakinya memasuki rumah keluarga Hwang, tiba – tiba –

 

“KYAAAAAAAA~~~!!!”

 

Teriakan nyaris seseorang yang diyakini Suho adalah milik Nonanya itu segera membuatnya berlari. Entah dimana Tiffany sekarang, Suho bagaikan orang kebingungan mencari keberadaan gadis itu sekarang. Gadis itu menjerit tak henti – hentinya, membuat Suho semakin panik.

 

“ANIYAAA!! APPA!!! EOMMA!!! ANIYAAAA!!! AAAAAA”

 

Ada sesuatu yang tidak beres disini.

 

Suho dapat menyimpulkan itu dalam sekali pikir. Sesuatu yang ganas dan liar. Lelaki itu segera mengambil langkah lebar ke lantai dua. Dirinya yakin seratus persen kalau sekarang Tiffany berada di kamar orang tuanya. Pasti.

 

“A—ani.. Aniya! ANIYAA!! Eomma, wake up! Appa, wake up, please… PLEASE!!” Jantung Suho terasa berhenti saat itu juga ketika melihat sosok Tuan dan Nyonya Hwang yang tergeletak di permukaan lantai begitu saja. Dengan lubang bekas peluru di tubuh mereka, kondisi mereka tampak mengenaskan. Apa ini…

 

Suho hanya dapat memandang tak percaya semuanya. Ketika dengan penuh air mata, Tiffany menggerak – gerakkan tubuh kedua orang tuanya. Menjerit tak henti, dan meminta mereka untuk bangun dan menganggap ini hanyalah candaan. Gadis itu tampak lebih mengenaskan dari semuanya. Perlahan tangan Suho mulai mengepal. Tak terima dengan tindakan kejam yang telah dilakukan orang tak dikenal. Merasakan amarah yang begitu besar pada orang yang telah membuat Tiffany menangis seperti ini.

 

Dia takkan tinggal diam.

 

Permainan…

 

 

 

telah dimulai

 

END

Bercanda, TBC maksudnya xD /dihajar readers/

P.s:

Mian ya semuaaa~

Kalian semua sekarang lagi pada mikirin bagaimana caranya untuk ngehajar aku kan sekarang? xD Udah ngeposting lama pake banget, malah sekarang main TBC doang.

Sengaja, beneran deh. Soalnya kalau dilanjut gak bakal seru untuk part selanjutnya.

Dengan kata lain, aku pengen kalian penasaran yang daleeeeeeeem banget /digebukin/

Huahahahaa… /ketawa kejem/

Sampai jumpa di part selanjutnya all~ Muaach :*

21 thoughts on “[Chap. 3] HE’S MY GUARDIAN

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s