Oneshot : Shoot

Shoot YulTao

 Shoot

by  wolveswifeu

Starring

Tao | Yuri | Sooyoung | Hyoyeon

Genre

Thriller | Horror | Romance | Family | School Life

Rating

PG 17+

Disclaimer

The story is purely mine.

Wolveswifeu’s New Fiction, Shoot

                Kebisingan ruang kelas itu sudah merupakan sebuah kebiasaan bagi para pendengar di sekolah ternama di Korea Selatan ini, tepatnya di Seoul. Seorang guru yang berpenampilan sangat rapi masuk ke ruang kelas yang amat bising itu sambil mengulas senyumnya. Murid laki-laki berambut cokelat itu membuat senyuman guru tersebut menghilang ketika guru itu melihatnya. Guru tersebut meletakkan buku yang dia pegang ke atas meja guru sambil tersenyum lagi.

“Hari ini kita kedatangan murid baru.” Kalimat pembukaan guru itu disambut dengan keheningan oleh para murid.

“Bukankah itu hal biasa, guru? Setiap tahun juga ada murid baru.” Celetuk seorang murid. Sang guru hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika mendengar murid itu berkomentar.

“Masuklah!” Perintah sang guru sambil menengok ke arah pintu masuk.

Seorang murid laki-laki berpakaian rapi dengan tas ransel yang agak penuh dengan buku-buku masuk dari ambang pintu sampai berdiri di samping guru, tepatnya di depan kelas.

“Perkenalkan dirimu.” Suruh sang guru kepad amurid baru itu. Murid baru itu tersenyum dan menundukkan tubuhnya sebagai salam pembuka.

“Perkenalkan, namaku Huang Zi Tao. Pindahan dari China. Mohon bantuannya!” Ucapan perkenalan Tao itu direpon dengan dataran bibir oleh para murid. Tao langsung tersenyum kecut.

“Haha, mereka pasti akan senang mempunyai teman sepertimu!” Kata sang guru. Tao menundukkan tubuhnya lagi kepada guru tersebut.

“Terima kasih guru Lee.” Balas Tao. Tao menoleh ke seluruh isi kelas. Dia mencari bangku yang kosong.

“Guru, aku duduk dimana yah?” Tanya Tao sesopan mungkin.

“Tunggu seben—“ ucapan guru terhenti ketika matanya melihat sebuah bangku kosong, di sebelah sang siswi berambut cokelat. “Bagaimana kalau kau mengambil bangku tambahan dari gudang?” Tanya guru Lee. Tao langsung mengecek bangku seisi kelas. Matanya melebar saat itu juga ketika melihat sebuah bagku kosong. Bagaimana bisa guru Lee menyuruhnya mengambil bangku kosong dari gudang kalau ada bangku yang menganggur seperti itu?

“Sepertinya ada bangku kosong, guru.” Ucap Tao. Semua mata seisi kelas itu langsung menoleh ke arah siswi berambut cokela.

“Kau yakin?” Guru Lee berusaha meyakinkan Tao. Tao mengangguk dengan cepat sambil tersenyum.

“Ba..baiklah.”

                Istirahat kedua sudah berlalu, seluruh murid masuk lagi ke dalam kelas. Begitupun Tao. Well, Tao masih belum mendapati teman sampai sekarang. Sepertinya Tao harus mengutuk noona-nya yang memasukkan Tao ke sekolah sampah ini.

Tao duduk di bangku di sebelah murid berambut cokelat yang masih sibuk memetualangi dunia mimpinya sedari tadi pagi. Suara speaker di kelas Tao berbunyi, menandakan sebuah pengumuman akan segera diumumkan. Tao mencolek teman sebangkunya –murid yang berambut cokelat dengan niat membangunkannya agar bisa mendengar pengumuman bersama.

“Permisi, bangunlah.” Kata Tao. Semua mata murid di kelas itu langsung memerhatikan Tao dengan tatapan aneh, ketakutan, susah untuk dijelaskan. Tao merasa tengah diperhatikan, dia langsung menoleh ke belakang –murid yang memerhatikan Tao.

“Kenapa? Ada yang salah?” Tanya Tao dengan heran.

Dikarenakan hari ini hari pertama kalian masuk sekolah, jadi ada pendataan ulang untuk klub. Seperti biasa ada klub untuk basket, futsal, design graphics, dan—

                “Kau ikut yang mana?” Terdengar suara dari sebelah Tao. Dia langsung menoleh ke arah kirinya.

“Oh, kau sudah bangun?” Tanya Tao. Murid berambut cokelat itu mendecakkan lidahnya.

“Kwon Yuri.” Murid berambut cokelat itu malah memperkenalkan dirinya sendiri. Tao menggaruk tengkuknya sambil kebingungan.

“Aku Huang Zi Tao.” Balas Tao. Yuri berdiri sambil membenarkan seragamnya yang agak kusut itu.

“Bersedia untuk satu klub denganku?” Tanya Yuri. Tao terdiam. Kenapa perempuan berambut cokelat ini agak aneh.

Untuk klub basket bisa berkumpul di lapangan basket indoor setelah pulang sekolah—

                “Kau dengar? Kami menunggumu.” Lanjut Yuri lalu pergi meninggalkan Tao. Dia tercengang, apakah ini sebuah undangan untuknya?

                Dengan ransel yang sedikit berat Tao berjalan menelusuri koridor sekolah barunya ini. Kepalanya terdeongkak ke atas, melihat papan kayu yang menyantol di uKim pintu dengan nama Sport Indoor. Tao bingung, ntah karena sekolah ini terlalu besar atau dia sedang dijebak oleh hantu sehingga tidak sampai tempat tujuannya sedari tadi.

Tao melihat seorang siswi di uKim koridor. Dia langsung berlari menghampiri siswi itu dengan niat menanyakan dimana tempat dia bisa menemukan lapangan basket indoor tersebut. Dengan hati-hati Tao mencolek punngung siswi tersebut.

“Permisi, bisakah aku berta—“

“Bertanya apa?” Siswi itu menoleh sehingga pertanyaan Tao terhenti oleh kecantikannya.

“A..a..” Taopun terbata-bata. “Aku ingin bertanya diama lapangan basket indoor.” Siswi itu tersenyum lalu mengulurkan tangan kanannya.

“Kim Hyoyeon.” Tao kebingungan. Lagi-lagi ada orang yang mengajak berkenalan –setelah Yuri. Dia masih diam, tidak membalas uluran tangan itu sampai…

“Namamu?” Tanya siswi yang bernama Kim Hyoyeon itu.

“Huang Zi Tao.” Jawab Tao sambil menyambut uluran tangan Hyoyeon itu.

“Kau anak baru?” Tanya Hyoyeon sambil memulai langkahnya, Tao mengikuti Hyoyeon dari belakang sambil memegang punggung lehernya.

“Iya, hehe.” Tawa canggung Tao itu langsung memenuhi koridor sekolah tersebut.

“Sampai.” Ucap Hyoyeon sambil berdiri di depan pintu berwarna coklat dengan tempelan karakter anime disana. Sedikit kekanak-kanakkan, batin Tao.

“Jadi disini tempatnya?” Tanya Tao. Hyoyeon mengangguk mantap. Seharusnya aku jalan sedikit lagi, sial, oceh Tao dalam hati.

“Baiklah, aku masuk dulu ya?” Pamit Tao.

“Baiklah.” Setelah mendengar balasan Hyoyeon, Tao langsung membuka pintu tersebut dan…

“Tempat apa ini?” Respon Tao ketika melihat isi dari ruangan itu. Gelap, berantakan, pebuh debu dan tak berpenghuni. “Sial!!” Gerutu Tao lalu keluar dan membanting pintu tersebut dengan keras.

“Hei! Siapa itu?” Terdengar suara teriakkan dari salah satu ruangan, kemudia terdengar suara pintu terbuka, Tao menoleh ke asal suara dan murid berambut cokelat yang muncul.

“Yuri?” Panggil Tao untuk memastikan.

“Oh, anak baru? Sedang apa kau? Cepat kemari!” Suruh Yuri sambil mengajak Tao masuk ke dalam dan Tao pun mengikutinya.

Sesampai di dalam, Tao duduk tepat di sebelah Yuri. Sebelumnya Tao juga mendengar instruksi dan arahan dari sang pelatih dengan seksama sampai Yuri memecahkan konsentrasinya.

“Tadi kenapa masuk ke ruangan itu?” Tanya Yuri setengah berbisik.

“Eoh?” Respon Tao. “Oh, tadi ada seorang siswi yang mengantarku kesana.” Lanjut Tao.

“Siswi? Jangan membuat lelucon aneh, ini sekolah khusus laki-laki!” Oceh Yuri. Tao tersentak. Jadi, Kim Hyoyeon itu siapa?

“Kalau sekolah ini khusus laki-laki kenapa kau bisa disini? Bukankah kau perempuan?” Tanya Tao.

“Orang tuaku yang memiliki sekolah ini, bisa kau maklumi tidak?”

                Tangan Tao bergemetar hebat. Ditambah lagi dia sendirian di rumahnya –sedang menunggu noona-nya pulang sambil memikirkan kejadian aneh bin ajaib tadi siang dengan yeoja yang mengaku dengan nama Kim Hyoyeon atau memang Kim Hyoyeon?

Pintu rumah Tao terbuka. Secara otomatis Tao langsung menoleh ke pintu rumahnya da nada Choi Sooyoung –noona-nya disana. Well, Tao memang bukan anak kandung dari keluarga Choi melainkan anak angkat.

Noona!!” Panggil Tao. Sooyoung langsung menoleh sambil menukar sepatu kerjanya dengan sandal rumahnya.

Wae?” Respon Sooyoung.

“Kau sudah tidak gila kan? Kau masih waras kan?” Tanya Tao bertubi-tubi.

“Hei, hei, hei, kau kenapa Tao-ah?” Tanya Sooyoung balik.

“Kau tidak memasukkanku ke sekolah aneh dan berhantu kan? Kau tahu tidak? Seluruh murid di kelas memerhatikan dan menatapku dengan tajam, ditambah lagi tadi aku menemukan seorang siswi di sekolah! Kau kan tahu kalau sekolah aku sekarang khusus untuk laki-laki! Aku saja tidak sadar bahwa dia itu seorang perempuan.” Oceh Tao panjang lebar, dia benar-benar tidak berhenti untuk menunggu respon noona-nya.

“Heeeei, pasti hantu perempuan itu sangat cantik kan sampai-sampai kau tidak sadar? Ayo mengaku saja!” Kata Sooyoung sambil meletakkan tas kerjanya di atas meja di tengah ruangt amu tersebut.

“Hei! Aku sedang tidak bercanda, noona!” Balas Tao.

“Kau pikir aku bercanda? Benarkan kalau hantu itu cantik?” Pertanyaan Sooyoung itu langsung membuat pipi Tao bersemu merah. “Kau tahu? Keluarga kita pasti keluarga terunik, salah satu anggota keluarganya ada yang jatuh cinta sama hantu.” Lanjut Sooyoung.

                Tao sedang berjalan ke sekolahnya sekarang. Udara pagi dan sejuk ini memang sangat bersahabat baik dengan Tao. Dia menatapi langkah kakinya sendiri yang bergerak maju melangkah ke depan. Matanya melebar ketika dia sadar bahwa di sebelah kirinya juga ada sepasang sepatu berwarna pink muda yang berjalan. Secara refleks Tao menoleh ke pemilik sepatu tersebut.

“Ki..Kim..Kim Hyoyeon?” Respon Tao terbata-bata.

“Wah, kau masih mengingatku!” Kata Hyoyeon sambil menyatukan kedua tangannya di depan dada. Sepertinya Hyoyeon sangat senang. Karena melihat respon Hyoyeon, Taopun kebingungan. Hyoyeon itu benar-benar nampak seperti manusia, bukan hantu.

“Hei, apa yang sedang kau pikirkan?” Tanya Hyoyeon pada Tao. Tao pun tersadar dari acara melamunnya itu.

“Ah, aku—“

“Hei, sedang bicara dengan siapa anak baru?” Tao langsung menoleh ke sumber suara. Tao bisa melihat Yuri di atas motor besarnya dengan tampilan yang sangat berantakan untuk ke sekolah.

“Yuri?” Respon Tao.

“Ada apa anak baru?” Tanya Yuri. Tao sedikit kesal mendengarnya. Sebutan anak baru itu seakan-akan sebagai julukan tertolaknya Tao di sekolah tersebut.

“Aku mempunyai nama.” Kata Tao.

“Aku tahu itu.” Balas Yuri dengan santai.

“Lalu kenapa kau memanggilku dengan sebutan anak baru? Apakah kau mau jika aku memanggilmu dengan sebutan bajingan?” Tanya Tao.

Calm down. Jangan marah-marah! Selagi kau masih baru disini—“ Yuri menekankan nadanya di kata baru. “Kau harus melewati beberapa test dari kami.” Lanjut Yuri.

“Kami? Siapa?” Tanya Tao.

“Tunggu saja nanti.”

                Bukan sebuah keheranan bagi sekolah khusus ini. Tidak jarang guru absent di kelas. Kelaspun amburadul, banyak murid yang berdiri di atas meja, makan di kantin, bermain di luar kelas, hanya Tao yang masih tenang sambil membuat sketsa dari wajah Kim Hyoyeon di atas kertas putih itu.

PUK!

                Terdengar suara lemparan gumpalan kertas yang mendarat di kepala Tao. Tao langsung menoleh –mencari siapa pelaku yang melempar gumpalan kertas itu. Nihil, Tao melihat seluruh murid sedang asik dengan permainannya sendiri. Tao meraih gumpalan kertas itu dan membukanya.

Kami menunggumu di taman kecil di belakang sekolah.

                -The First

                Bulu kuduk Tao berdiri ketika selesai membaca isi dari gumpalan kertas itu. The First? Berarti ini yang pertama? Jadi, ada yang kedua, ketiga, dan selanjutnya? Ck! Ini sudah menjadi perkara besar bagi seorang Huang Tao yang mau masuk ke sekolah freak ini.

Tao langsung berdiri dan berjalan keluar kelas dengan gumpana kertas itu di tangan kanannya. Dengan sedikit geram dia berjalan dan mencari taman kecil di belakang sekolah yang dimaksud.

                “Akhirnya!” Tao memasuki sebuah spot yang agak terpencil di belakang sekolah. Kakinya melangkah dan tiba-tiba kakinya tersangkut pada sebuah tali yang kecil. Tao terjatuh, dia menahan tubuhnya dengan lutut dan lengannya.

Terdengar suara yang aneh, ketika dia menengok ke atas –asal suara tersebut dan dia menemukan sebuah ember yang penuh dengan.. “Terigu?!” Teriak Tao. Baru saja dia mau merangkak untuk menghindar dan –DUK!

Sebuah tendangan mendarat tepat di wajah Tao. Dia meringis kesakitan. Akhirnya terigu itupun jatuh dan meleburi tubuh Tao. Tiba-tiba ada yang menyikut perut Tao dengan keras sampai darah segar keluar dari mulut Tao. “Akh!!” Erang Tao.

Tiba-tiba ada kain yang jatuh tepat di atas wajah Tao. Tao mengambil kain tersebut. Dengan wajah yang masih putih pucat karena terigu dia membaca tulisan di atas kain tersebut.

Ini baru pertama, tunggu saja yang selanjutnya.

-Kwon Yuri

                “Sial! Jadi ini semua ugh.. perbuatan Yuri?”

                Tao benar-benar baru sampai di ambang pintu rumahnya. Dia jalan agak terseok sambil menahan sakit perutnya yang disikut oleh Yuri tadi. Sial! Kenapa Yuri sangat aneh seperti ini?

Tao duduk di atas sofa rumahnya. Melepas lelah dan merenggangkan otot-ototnya. Dia memejamkan matanya dengan paksa untuk menahan sakitnya. Tapi tetap saja hasilnya nihil. Rasa sakit yang menusuk perutnya itu tak kian hilang. Tao merebahkan tubuhnya di atas sofa. Terdengar erangan dari mulutnya walaupun samar-samar.

Lama kelamaan yang samar-samar bukan hanya erangan dari Tao. Tapi penglihatannya juga samar-samar dan akhirnya dia tertidur di atas sofa dengan seragam dan rambut yang penuh terigu dengan sedikit bercak darah dari mulutnya di seragam bagian bahu sebelah kanan. Darah tersebut juga sudah mengering.

                “Tao?” Panggil Sooyoung sambil mengguncangkan tubuh Tao yang masih tertidur di atas sofa. “Tao, bangunlah!” Lanjut Sooyoung sambil mengguncangkan tubuh Tao lagi. tapi hasil masih sama, Tao tidak memberi respon.

“TAO!” Teriakkan Sooyoung itu membuat tubuh Tao sedikit bergerak. Ya, sedikit.

“Bisa gila aku mempunyai adik seperti ini,” Keluh Sooyoung. “Hei bangun!!” Sooyoung membangunkan Tao paksa dengan cara menendang tulang kering Tao yang agak bergelantung dari sofa.

“Aw!!” Taopun terbangun. “Ada apa, noona?” Tanya Tao sambil mengambil posisi duduk.

“Dasar jorok! Seharusnya kau mandi dulu, baru tidur!” Oceh Sooyoung. Tao mengacuhkan Sooyoung lalu memegang tulang kering yang tadi menjadi sasaran oleh Sooyoung.

Noona! Ini sakit!!” Protes Tao. Sooyoung menggeleng dan tiba-tiba kedua matanya melebar. Sepertinya matanya hampir saja keluar dari habitatnya karena Sooyoung melebarkan matanya terlalu lebar.

“Da..darah?” Tao mengikuti arah mata Sooyoung.

Wae? Seorang namja mempunyai darah adalah hal biasa bukan?” Tanya Tao dengan santai.

“Tao-ah!”

“Jangan memarahiku! Seharusnya kau mengobatiku. Aish, jinjja!”

“Baiklah, tunggu sebentar, ne?” Tawar Sooyoung.

“Iya, noona.”

                Cahaya matahari menembus salah satu jendela yang tembus pandang di kamar Tao. Tao terbangun sambil mengucak matanya yang diusik ketenangannya oleh cahaya matahari. Terkadang Tao sangat benci dengan matahari. Sayangnya jika tanpa mata hari maka tidak ada hari saat itu.

Tao meraih ponsel layar sentuh miliknya yang dia letakkan di meja samping kasurnya. Dia mengecek ponselnya. Tidak ada panggilan. Tidak ada pesan. Beginilah hidup tanpa teman. Dia melempar ponselnya sembarang lalu beranjak dari kasurnya. Tao bersiap untuk mandi dan ke sekolah.

                Lagi. Tao berjalan ke sekolahnya sambil menatap langkah kakinya sendiri. Semoga saja Hyoyeon datang lagi, batin Tao. Sepertinya jarang ada manusia aneh seperti dia yang mau saja bertemu dengan hantu.

TAP-TAP-TAP

                Terdengar suara langkah kaki dari belakang Tao. Mana mungkin itu Hyoyeon? Jelas-jelas Hyoyeon itu hantu. Tao mendengar suara langkah kaki lagi dan diakhiri sebuah tepukkan di pundak kiri Tao. Bulu kuduk Tao berdiri dan dia mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk menoleh.

Tiga.

Dua.

Satu.

Annyeong, Tao!” Tao tersentak. Yuri? Kwon Yuri yang kemarin membuat dirinya babak belur? Berani sekali dia muncul di hadapannya dengan senyuman selebar itu. Bagaimana bisa dia tidak merasa bersalah sama sekali?

“Bagaimana? Kau melewati test pertama dengan baik bukan?” Tao diam. Dia tidak meladeni pertanyaan Yuri. “Masih ada dua lagi, semoga kau berhasil!” Lanjut Yuri lalu berlari ke sekolah yang sudah muncul di depan mata.

“Kenapa aku tidak berani melawan?” Tanya Tao pada diri dia sendiri. “Ashhh—jinjjayo!” Lanjutnya lalu berjalan memasuki ke dalam area sekolah.

                Tao sedang menyantap makan siangnya di kantin sekolahnya. Dia sedang makan terburu-buru karena sehabis ini club basket akan mengadakan latihan. Maklumi saja sekolah aneh dan agak abal-abal ini. Disaat jam pelajaran bisa mengadakan latihan basket mendadak.

“Hei, cepatlah makannya! Kami menunggumu di lapangan!” Seru salah seorang yang tengah dalam kerumunan –kerumunan Yuri dan yang lainnya. Seruan itu di arahkan kepada Tao. Tao mengacuhkan seruan tadi. Dia tidak ingin menjadi bahan bully-an oleh mereka, terutama Yuri.

                Dengan baju dan perlengkapan basket, Tao berjalan menuju lapangan basket. Tao desikit bergemetar. Dia sangat takut jika dijadikan bahan bercandaan oleh Yuri dan lainnya. Tao membuka pintu ruangan –lapangan basket indoor–. Seketika itu juga lampu yang tadi mati menjadi nyala menderang sehinggaTao menahan cahaya dari lampu itu menggunakan telapak tangannya.

Tao memasuki ruangan itu. Walaupun matanya masih menahan silau dia masih tetap berjalan. Ada sesuatu yang aneh. Ruangan ini hening. Tao membuka kedua matanya dan melihat ke sekelilingnya. Raut wajahnya berubah menjadi kecewa, taka da seorangpun disini. Dia memutar badannya berniat untuk kembali. Tapi, ada sesuatu di dinding yang menarik perhatiannya.

Secarik kertas berwarna merah dengan tinta berwarna hitam tercetak di atas sana. Tulisan hangul yang agak berantakan dan lagi-lagi ada nama Im Yuri dipojok kanan bawah.

Bersihkan lapangan dan kita baru memulai latihan.

-Kwon Yuri

                “Menyebalkan!” Gerutu Tao lalu menghadap ke area yang dimaksud oleh Yuri. Sampah berserakkan di atas lapangan tersebut. “Demi test ini, aku akan melakukannya!” Tao berjalan kea rah gudang penyimpanan yang berada di ruang ganti yang terletak di bawah lapangan ini.

Tao mengambil sapu dan alat pembersih lantai lainnya lalu menaiki anak tangga satu persatu agar bisa tiba di lapangan yang harus dia bersihkan dahulu. Mata Tao melebar ketika melihat seorang perempuan duduk di antara bangku penonton. Lapangan ini memang bisa dibilang seperti stadium basket yang kecil layaknya sekolah lainnya.

Tao merinding. Dia tahu perempuan itu bukan manusia. Sekolah ini ada penjagaan ketat untuk seorang perempuan yang menyeludup masuk ke dalam. Sebuah keajaiban jika seorang perempuan bisa masuk ke sekolah ini.

“Hyo..Hyoyeon?” Bibir Tao bergemetar. Perempuan itu menoleh lalu tersenyum dengan bibir yang putih menandakan dia pucat. Tao bergemetar. Dia ketakutan.

“Tao-ssi?” Panggil Hyoyeon berusaha memastikan siapa yang berada dihadapan dia sekarang.

“I..iya.” Jawab Tao, Tao langsung berjalan ke tengah lapangan dan membersihkan sampah. Tao menyapu seluruh sampah satu persatu sampai sapu yang dia gunakan mendarat di sebuah sepatu pink muda. Tao ingat sang pemilik sepatu itu.

Tao menoleh. “Hyo..Hyoyeon?” Panggil Tao.

“Tidak usah gugup seperti itu,” Kata Hyoyeon sembari tersenyum. Ntah mengapa gemetar Tao terkadang lenyap jika melihat senyuman itu. “Perlu bantuan?” Tawar Hyoyeon.

Aniyo, gomawo.” Respon Tao. Hyoyeon menghela nafasnya –dia kecewa.

“Aku ingin sekali membantumu.” Balas Hyoyeon. Sayangnya tidak bisa, balas Tao dalam hati.

“Mungkin kau sudah mengetahui yang sebenarnya,” Ucap Krystal menggantung.

“Apa?” Tanya Tao.

“Aku adalah hantu.”

                “Sampai besok, Hyoyeon-ah!” Pamit Tao.

“Haha, jangan bertingkah seperti itu! Kau membuatku nampak seperti manusia.” Balas Hyoyeon.

“Haha, masa bodoh. Bye!” Tao meninggalkan Hyoyeon sendirian. Sesuai tebakkan Hyoyeon tadi. Tidak ada latihan hari ini. Ini hanyalah bahan bualan lain dari Im Yuri. Tao menyesal sudah membersihkan seluruhnya.

Tao berhenti di depan loker miliknya. Lagi-lagi Tao terkejut dengan sebuah kertas merah yang bertinta warna hitam. Seperti biasa, di pojok kanan bawah ada nama Im Yuri yang terpampang dengan jelas.

Chukkaeyo! Kau sudah melewati test 2 dengan mulus. Sekarang kau harus ke test 3. Malam ini di lapangan basket dekat sekolah. Jam 9.

-Im Yuri

                “Apa dia tidak bosan ya? Huh.”

                Tao sedang dalam perjalanan menuju lapangan basket yang dimaksud oleh Yuri. Dengan jaket yang tebal itu menyelimuti tubuhnya dari angina malam dia berjalan sambil mengunya pisang.

“Apa mungkin dia mau mengajak damai?” Tanya Tao.

“Atau mau mengatakan bahwa aku lulus dari test-test yang abnormal itu?”

“Atau dia mau mengajakku bertanding basket? Haha, aku sudah pro, Yuri.” Tao berbicara pada dirinya sendiri. Dia sudah memasuki arena lapangan basket.

Dengan lampu yang remang-remang dia melihat Yuri disana berdiri sendirian. Di bawah ring basket dengan senyuman yang menyeringai. Yuri berjalan mendekati Tao. Agak aneh ketika Yuri melewati tengah lapangan dengan menunduk. Apa ada sesuatu disana?

Tao membuang kulit pisangnya sembarang. Yuri mendekatinya dengan bola basket di tangan kirinya. Kurang lebih jarak Tao dan Yuri sekarang adalah dua meter.

“Ayo bertanding!” Ajak Yuri. Tao tersenyum.

Lady first.” Suruh Tao.

“Beraninya.” Respon Yuri.

“Jangan menganggap wanita lemah!” Yuri langsung berlari sambil memantulkan bola basket itu. Dia berlari sedangkan Tao hanya mengejarnya dengan tidak niat. Langkah Tao terhenti di depan sehelai benang panjang yang menyilakuan. Tao tahu itu benang apa.

Shit!

“Hei! Apa yang kau lih—“ Yuri terpeleset kulit pisang yang tadi dimakan oleh Tao buahnya. Yuri terpeleset ketika dia berlari hendak menghampiri Tao.

Senjata makan tuan.

Yuri terjatuh dan lehernya nyaris putus oleh benang tersebut. Yuri kesakitan. Darah segar keluar dari lehernya.

“To…” Bahkan dia sudah tidak sanggup untuk meminta tolong seklaipun. Bola basket yang dipegang oleh Yuri bergelinding ke kaki Tao.

“Sebenarnya aku bisa menolongmu,” Tao mengambil bola basket tersebut. “Tapi, kaulah yang memulai perkara kepadaku.” Lanjut Tao sambil memutarkan bola basket itu di atas telunjuknya.

“Bagaimana jika kau rasakan apa yang aku rasakan?” Tawar Tao sedangkan Yuri masih memegang lehernya yang mengeluarkan darah yang banyak. Darah Yuri mengalir sampai ke alas sepatu Tao.

“Rasakan ini!!” Tao melempar bola basket itu tepat ke wajah Yuri yang mengakibatkan leher Yuri putus sempurna. Tao berjalan mendekati Yuri. Dia menginjak dada Yuri dan menjambak rambut cokelat milik Yuri yang mengakibatkan kepala itu benar-benar lepas dari sarangnya.

Tao berjalan lagi ke titik threepoint dan tersenyum kepada Yuri –mayatnya. “Aku puas, Yuri.” Kata Tao sambil tersenyum menyeringai. Tao mengenggam kepala Yuri dan melemparnya kepada ring.

Kepala Yuri masuk ke dalam ring dengan mulus dan terjatuh ke atas lapangan basket yang agak keras. Kepalanya terbentur keras sehingga bagian dahinya agak hancur. Tao tertawa, akhirnya dia bisa merasakan bagaimana mem-bully orang.

Nice shoot!

END

22 thoughts on “Oneshot : Shoot

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s