[Freelance] The Guardians

10

The Guardians

Title                 : the guardians

Author             : NinkNonk

Length             : oneshot

Rating                         : G

Genre              : AH, fantasy

Main Cast        : Taeyeon (GG)

Sehun (EXO)

Kai (EXO)

Kris (EXO)

Tao (EXO)

Other cast        : find out for yourself

Disclaimer       : semua cast milik Allah SWT.

 

 

            Story about Kai

 

Kai POV

Sejak aku kecil, sosok itu selalu hadir dalam mimpi-mimpiku. Yeoja berambut kuncir dua, tampak dari belakang. Siapa kau sebenarnya?

Sadarlah! Cepatlah sadar…… Hanya kata-kata itu yang terdengar.

HIAAAAH….. Praak…..

“disaat latihan penting menjadi seorang master, kau malah tidur!” teriak harabeoji.

“aku tidak tidur.” seruku sambil memegangi kepalaku yang dipukul oleh harabeoji.

“kalau begitu apa?” tanyanya lagi.

“seorang yeoja dari dunia ilusi datang menemuiku.” jawabku.

PABO! Itu sama saja tidur.” bentaknya jengkel.

“pembohong tak akan bisa menjadi seorang master, kau harus memperbaiki sikapmu dengan semedi di bawah air terjun.” lanjutnya sambil menarik bajuku.

“ada apa ribut-ribut? Sampai kedengaran di luar.” seru halmoni ketika berada diruangan kami.

“tolong aku, nek!” bujukku sambil memasang puppy eyes (kebayang gimana Kai masang puppy eyes, kekeke).

Dan untungnya itu berhasil pada halmoniku sedangkan hal itu tidak pernah berhasil pada harabeoji.

“kakek….. Kai baru 7 tahun, masih anak-anak yang suka bermain. Kalau dipaksa latihan, nenek takut hasilnya malah akan mengecewakan.” ucap halmoni.

“kalau begitu, kau harus membaca mantera selama satu jam di ruangan ini!” perintah harabeoji.

mwo? Satu jam?” teriakku.

“setelah satu jam, kau baru boleh keluar.” serunya sambil mengunci pintu dari luar.

Harabeojiku adalah keturunan seorang master, tapi dari ke 4 anaknya tidak ada seorangpun yang punya kekuatan sepertinya. Saat harabeoji putus asa… dia melihatku bermain bola bersama kertas yang telah aku rubah menjadi seorang anak seumuranku.

“Kim Jongin! Mulai hari ini kau akan menjadi seorang master penerus kakek.” Tiba-tiba harabeoji bilang begitu…

Harabeojiku sudah tua tapi penuh semangat, kudoakan dia panjang umur. Aku juga berharap halmoni selalu sehat dan panjang umur. Setelah itu aku pulang ke rumah,dan kembali ke kehidupanku yang biasa. Musim panas kelas dua SMA…

Sadarlah! Cepatlah sadar…..Sadarlah….. Lagi-lagi aku mendengar kata-kata itu.

Suatu hari, disaat aku sedang berkencan dengan yeojachinguku, Tiffany. Aku melihat seorang yeoja berkuncir dua. Ah… bukan dia. Karena dia sering datang dalam mimpiku, aku selalu penasaran pada semua yeoja berambut kuncir dua. Aku tidak pernah melihat wajahnya dalam mimpi, tapi aku bisa mengenalinya. Siapa kau sebenarnya? Aku ingin bertemu denganmu, perasaan ini kian hari kian kuat.

“KAI! Kau sedang kencan denganku tapi malah lihat yeoja lain.” Tiffany memasang tampang cemberutnya.

“mianhae… kebetulan yeoja tadi mirip dengan kenalanku.” jawabku.

“jangan-jangan cinta pertamamu?” tanyanya curiga.

“heh?”

“Chanyeol bilang, Kai selalu penasaran pada yeoja yang berkuncir dua. Pasti cinta pertama Kai tertambat pada yeoja berkuncir dua.” ucap Tiffany.

Cinta pertama? Yeoja itu… cinta pertamaku?

“konyol sekali! Cinta pertamaku kan Tiffany, aku tidak pernah melihat gadis manapun selain Tiffany.” ucapku sambil menggenggam tangannya.

“tapi ucapanmu itu, kau ucapkan pada semua yeoja. Hyoyeon, Yuri, Sooyoung! Pasti Kai tidak serius!” ucap Tiffany yang terus memasang wajah cemburutnya.

“kata siapa aku tidak serius, Tiffany?” tanyaku.

“kalau begitu, beri aku kisseu. Perlihatkan buktinya kalau kau serius.” pintanya sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku lalu kami mulai memejamkan mata. Lalu…..

mianhae…. ciuman pertamaku, Cuma kan kuberikan pada yeoja yang benar-benar aku cintai.” jawabku dengan santai.

GLEGAAAAR……

“kau…. namja jahat berhati licik, mati saja kau.”

Tampak aura gelap sedang merasuki tubuh Tiffany sambil melayangkan pukulannya yang tepat mengenai wajahku dan untung saja itu tidak berakibat fatal pada wajahku. Setelah puas melampiaskan kekesalannya, Tiffanypun pergi sambil menangis terisak-isak.

Plok… tiba-tiba seseorang menepuk pundakku.

“kau nggak apa-apa, Kai? Pukulan tadi lumayan juga, ya?” terdengar nada ejekan dari pertanyaannya.

“Chanyeol!”

“siswa-siswi Kirin High School kan kaya-kaya, jangan main-main dengan mereka.” seru Chanyeol yang merupakan sahabatku sejak SMP.

“aku tidak pernah bermain dengan perasaan mereka, lagipula mereka juga tidak pernah serius. Mereka cuma ingin berkencan dengan namja ganteng sepertiku saja, itu merupakan bagian dari kesenangan mereka.” jelasku sambil membela diri.

“tapi aku nggak menyangka, orang seperti Kai belum pernah ciuman. Memangnya ada yeoja yang kau sukai?” tanyanya sambil menaiki tangga menuju tempat yang sering kami kunjungi.

“sebenarnya, ada seseorang yang membuatku penasaran sejak bertahun-tahun yang lalu. Meski aku sama sekali tidak tahu siapa namanya, seperti apa wajah….”

Tiba-tiba ucapanku terputus ketika seorang yeoja berkuncir dua sedang berjalan menuju kearah kami, dia sedang memakan kue dadar sambil berbicara dengan temannya.

Bruk…. Kya….Prak….

Untung saja aku dengan sigap berhasil menangkapnya sedangkan kue dadar yang dipegangnya terjatuh karena seseorang secara tidak sengaja menabraknya. Secara tidak sengaja mata kami bertemu, spontan saja mataku langsung terbelalak ketika melihat matanya. Gadis ini! Tidak salah lagi, dialah yang selalu muncul dalam mimpiku. Pertemuan ini, apakah sudah ditakdirkan?

“kyaaa… mianhaegamsa hamnida karena sudah menolongku! Aku nyaris jatuh dari tangga.” ucapnya sambil membungkukkan badannya.

“tidak apa-apa.” ucapku sambil menggaruk punggung leherku yang tidak gatal.

“aduh, kue dadarku jatuh! Seohyun juga menghilang kemana sih?” paniknya ketika temannya tadi tiba-tiba menghilang.

“Taeyeon! Sini, sini! Ada pemotretan, ayo cepat!” teriak temannya tadi yang ternyata sudah berada dikerumunan.

“Seohyun, jangan tinggalkan aku.” yeoja itu berlari mengejar temannya.

chakkaman….. hey, tunggu! Tunggu sebentar!” seruku sambil berusaha mengejar yeoja tadi, namun aku sudah kehilangan jejaknya.

Kenapa jadi begini? Tidak pernah terbayang olehku, aku akan mengejar-ngejar seorang yeoja. Aku beristirahat sebentar sambil mengatur nafasku yang tersengal-sengal.

“Kai, kau kenal yeoja tadi? Dia pakai seragam SM High School sekolah dari luar kota.” tanya Chanyeol.

SM High School?” tanyanya.

neh, yang ada di Seoul.” jawab Chanyeol meyakinkan.

Seoul? Tempat kuil harabeoji berada.

Sudah lama aku tidak ke sini, 5 tahun yabg lalu harabeoji meninggal. Kuil ini sudah tidak terurus, akhirnya tidak ada yang mewarisi kuil ini. Aku merasa bersalah pada harabeoji, tapi aku ingin hidup dengan caraku sendiri. Aku tidak ingin menjadi seorang master.

Ah, payah. Buat apa aku pulang ke sini? Tidak mungkin aku bertemu dengan yeoja itu. Loh! Aliran aura apa ini?

Wuuush…….

Tiba-tiba ada kabut disertai dengan angin yang mengitariku yang berbentuk seekor naga. A…apa ini?

Dengarlah…. Wahai keturunan master, kau harus melindungi Heart. Itulah tugasmu. Itulah takdirmu.

Heart?

Ketika naga tersebut telah mengatakan kalimat terakhirnya, naga itupun menghilang. Yang ada didalam pikiranku, terlintas wajah yeoja itu. Takdir? Oh…. itu sebabnya aku bertemu denganmu. Aku pasti terlahir untuk melindungimu. Baiklah, Kim Jongin akan menjadi seorang master untuk bertemu lagi denganmu.

“Kai….Kai….” terdengar teriakan dari seorang yeoja yang sedang membangunkanku dari tidur nyenyakku, Taeyeon.

Yah! Demi melindungi Heart, aku memutuskan untuk pindah ke Seoul dan tentu saja bersekolah di sekolah yang sama dengannya.

“cepat serahkan buku piket ke ruang guru! Nanti Park songsaenim keburu pulang.” perintahnya sambil memasang tampang seriusnya.

“tugasku sudah selesai. Jendela sudah dikunci, papan tulis sudah dibersihkan. Kai, kajja kita pulang!” serunya sambil merangkul lenganku.

Semenjak pindah ke sini, aku dan Taeyeon selalu pulang bersama. Diperjalanan pulang, aku tidak henti-hentinya memandangi wajahnya yang sedang sibuk bercerita sambil sesekali tersenyum manis.

Taeyeon, ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu. Kalau kau mendengarnya, entah apa reaksimu. KAU ADALAH CINTA PERTAMAKU….

……………………………………………………………………………………………………………………………………

            Story about Tao

 

Sunny POV

Hiaaaaah…… Yiaaaaaah……..

Tao… keren, yah….

Aku ingin sekali berlatih dengan Tao suatu hari nanti dan aku akan berkata…

Aku suka kamu, Tao. Kita jadian, yuk!

Itu sebabnya aku harus berjuang dari sekarang…..

“hei, anak sabuk putih! Kau harus lebih tekun latihan!” teriak pelatihku ketika aku kedapatan sedang melamun.

Aku masih karateka pemula, masih sabuk putih. Sedangkan Tao sudah sangat senior, sepertinya aku butuh waktu yang sangat lama agar bisa mengejarnya. Tao juga tidak pernah latihan dengan seorang yeoja.

Tiga bulan yang lalu, saat itu aku sedang mengantar adikku untuk mendaftar di tempat latihan karate. Diperjalanan, tiba-tiba ada seseorang yang hendak mengganggu kami. Namun beruntung, ada seorang namja yang menolong kami dengan keahlian karatenya dia mengalahkan orang tersebut. Aku langsung menyukainya sejak pertama kali bertemu.

“kalian tidak apa-apa?” tanyanya.

“i….iya! gamsa hamnida….. Lee Sunny imnida dan ini adikku! Kami ingin bergabung di tempat latihan karate ini! Mohon bimbingannya.” ucapku.

Tiga bulan sudah berlalu, tapi obrolan kami hanya sebatas “selamat siang! Aku pulang dulu!” Cuma itu-itu saja, aku ingin punya keberanian. Keberanian untuk bicara dengan Tao, bicara dengan bebas tanpa beban. Aku ingin keberanian seperti itu….

Di rumahnya, Tao sudah bersiap-siap untuk berangkat ke tempat pelatihan karate.

“Tao, sudah mau latihan karate?” tanya Xiumin.

“sekarang aku sedang tekun berlatih agar jadi lebih kuat, kekuatan yang tidak akan luruh di saat apapun. Kekuatan untuk melindungi orang tercinta dalam situasi apapun. Aku ingin menjadi namja yang punya kekuatan untuk melindungi Heart.” ucap Tao.

“Tao….” seru Xiumin.

“wah, gawat! Sudah saatnya latihan, aku pergi dulu yah!” ucapnya sambil berlalu pergi.

Eit… eit…. eit…..Hiah……

Hari ini, apa aku bisa bicara dengan Tao. Aku gelisah, tapi semuanya pasti baik-baik saja. Kruyuuuuukkk…. ups….. aku membuka bekal yang sudah kupersiapkan dari rumah tadi.

“kayaknya enak…” tiba-tiba seseorang dari belakangku mendekat.

Ta…… Tao……

“kamu…. mau….?” ucapku menawarkan.

“boleh nih? Gomawo…” ucapnya sambil menerima kue pemberianku tadi.

Ini kesempatan untuk bicara dengan Tao. Sunny, Fighting!!!

“wah, kue kering pisang ini enak sekali, Sunny yang bikin?” tanyanya sambil terus mengunyah kue tersebut.

Eh… Tao, ingat namaku?

“i…. iya. Aku mudah gugup, tidak bisa apa-apa kalau bertemu namja yang aku sukai.” ujarku secara spontan.

“tenang saja, Sunny kan selalu berjuang lebih gigih dari siapapun.” ucapnya sambil tersenyum padaku.

Tao…. selama ini dia memperhatikanku.

“duluan, yah. Aku harus mulai latihan.” serunya.

Kumohon…. berikan aku kekuatan….

“Ta…Tao….A…Aku akan berjuang segigih mungkin, saat aku berhasil menyandang sabuk hitam. Aku ingin berlatih denganmu.” ucapku sambil menjulurkan tanganku.

“eh! Tapi aku tidak pernah berlatih dengan yeoja.” ucapnya.

Kumohon, Tao! Aku akan berusaha sebaik-baiknya, aku akan berjuang.

“iya, aku bersedia. Makanya kau harus berjuang, supaya bisa cepat-cepat dapat sabuk hitam.” ucapnya sambil menjabat tanganku.

“iya!” ucapku dengan penuh keyakinan.

……………………………………………………………………………………………………………………………………

            Story about Kris

 

Kris POV

Di cafe.

“dari dulu aku ingin bertanya. Kenapa Kris paling tidak berdaya jika bertemu yeoja cantik?” tanya Tao sambil menyeruput bubble teanya.

“waktu banyak yeoja cantik datang membeli bubble tea padamu, kau malah kewalahan sekali, kan?” tanyanya lagi.

“dia memang selalu begitu. Apa boleh buat, Kris memang keren sih! Matanya indah sekali, sebiru samudera. Warna rambutnya juga cantik, berkilauan kalau kena sinar matahari.” Kai ikut menambahkan.

Braaak……

“aku sangat benci yeoja cantik , mata ini dan rambut ini!” bentakku.

“Kris?” ucap Kai dan Tao khawatir.

Aku benci sekali warna rambut yang sama dengan ibu yang telah mencampakkanku, mata sedingin es yang mengingatkanku pada ibu setiap kali bercermin. Kemudian, warna mata yang sama dengan mata ibuku mengingatkanku pada gadis itu. Delapan tahun yang lalu, di Kanada….

Flashback

“hei, Kris! Apa betul kau menolak seorang gadis lagi?” tanya Lay.

“iya… bukan tipe idealku sih!”ucapku sambil menggaruk punggung leherku yang sebenarnya tidak gatal.

“sudah berapa banyak gadis cantik yang kau tolak dengan alasan bukan tipe idealmu? Kalau kau begitu terus, siapa yang berani dekat-dekat denganmu?” tanyanya lagi.

“ya, ya aku mengerti. Ada yang lebih penting! Lihat nih!” ucapku sambil memamerkan sebuah kaset.

“video pelawak Korea?” tanya Lay bingung.

“ya, dikirimkan kakekku yang tinggal di Korea. Aku tidak mengerti bahasanya, tapi lucu sekali!” jelasku.

“wah, Kris lucu sekali…” terlihat seorang gadis yang sedang tersenyum lebar padaku.

“Jessica! Kau sudah sembuh?” tanya Lay penasaran.

“ya, sudah lumayan kan banyak istirahat.” ucap Jessica.

“ah, tunggu Kris!” seru Lay ketika Kris tiba-tiba meninggakan mereka berdua tanpa mempedulikan Jessica.

“jangan cuek begitu, Jessica ketawa tuh!” ucap Lay sambil terus mengejarku.

“aku malas bicara dengannya.” seruku.

“Jessica kan baik, kasihan dia, cantik tapi sakit-sakitan.” Lay masih terus mengejarku.

Aku…. semua gadis cantik yang kukenal berhati dingin, tidak punya perasaan dan mementingkan dirinya sendiri. Semuanya sangat jahat, tidak mungkin Jessica berbeda dibanding mereka semua.

“Kris…. Kris…. ini kupinjamkan untukmu, video pelawak Korea. Aku juga suka nonton, makanya aku juga senang sekali waktu tahu ternyata Kris juga suka video pelawak Korea.” ucap Jessica sambil menyodorkan sebuah kaset.

Sejak saat itu, aku mulai berteman dengan Jessica. Aku sering bercanda dan tertawa bersama, dia polos dan menyenangkan. Dia berbeda dengan para perempuan yang kukenal sebelumnya, tapi hatiku tetap ngilu setiuap kali melihat warna matanya yang sama dengan ibuku.

“hei, impian Kris apa?” tanyanya tiba-tiba.

“impianku? Aku mau pergi ke Korea dan nonton lawakan Korea.” ucapku sambil membayangkannya.

“hebat! Kalau kau mau pergi, ajak aku juga yah?” pintanya sambil menyilangkan jari kelingkingnya dengan jari kelingkingku.

“eh! Hah? Memangnya impian Jessica apa?” tanyaku sambil melepaskan jariku tadi.

“a.. aku mau jadi artis, sejak kecil aku mengagumi seorang artis. Saat aku pertama kali melihat film yang ia bintangi, aku merasa sangat tersentuh seakan-akan ia memang hidup dalam layar kaca. Aku juga ingin meninggalkan kenangan semacam itu dalam hidupku. Begitulah, hehehe…” tawanya walaupun sedikit dipaksakan.

“wah, hebat! Aku yakin Jessica bisa jadi artis yang luar biasa, iyakan Kris?” puji Lay.

“yah, pasti bisa! Karena Jessica sangat cantik.” ucapku sambil berlalu meninggalkan mereka.

“hei, Kris! Kenapa ucapanmu sinis begitu?” tanya Lay.

sorry…. aku mau pulang duluan.” lanjutku.

“maaf ya, Jessica. Kris memang sensitif, soalnya ibu yang meninggalkannya adalah seorang artis. Makanya kalau bicara soal artis, dia langsung jengkel.” jelas Lay.

“tidak… akulah yang salah, tidak peka pada perasaannya.” ucap Jessica sambil memegang dadanya.

“Jessica? Wajahmu pucat sekali, kau kenapa?” Lay mulai khawatir melihat kondisi Jessica.

“tidak apa-apa. Yang paling aku takutkan, aku telah membuat Kris…..” belum sempat Jessica menyelesaikan kata-katanya, dia tiba-tiba ambruk.

“Jessica! Jessica!” teriak Lay, mau tidak mau Kris pun terpaksa berbalik untuk menolong Jessica.

Di rumah Jessica.

“sepertinya dia sudah tenang, kubuatkan teh untukmu.” ucap ibunya Jessica sambil keluar dari kamar tersebut.

Disekeliling kamar Jessica banyak poster seorang artis terkenal yang ternyata adalah ibunya Kris.

“kau terkejut? Aku adalah penggemar berat Julia Wu, ibumu.” ucap Jessica.

“jangan bangun dulu, kau harus tidur!” seruku.

“tidak apa-apa, aku sudah merasa lebih baik.” ucapnya.

“maaf ya, Jessica. Tadi aku sudah bicara kasar padamu.” ucapku merasa bersalah.

“tidak, seharusnya aku yang minta maaf. Sebetulnya aku mendekati Kris karena aku tahu kau adalah putranya Julia Wu. Kalau aku akrab denganmu, mungkin aku bisa bertemu Julia Wu. Lalu aku bisa mewujudkan impianku sejak kecil, main di film yang sama dengannya. Sungguh harapan yang naif, tapi kudekap erat-erat dalam diriku karena aku sudah tidak punya waktu. Aku memikirkan cara pintar untuk mewujudkannya, tapi saat mendekati Kris dan mengobrol soal lawakan Korea setiap hari, aku merasa sangat senang dan gembira. Aku selalu berpikir, suatu saat ingin pergi ke Korea bersama Kris.” ucapnya panjang lebar.

“ki…kita pasti bisa kesana, suatu saat kita pasti bisa kesana, Jessica!” seruku.

“akhirnya kau mau menatap mataku, Kris! Syukurlah, ku kira Kris akan membenciku selama…” kemudian Jessica kembali ambruk.

Sore itu hujan, aku pulang ke rumah ibuku dengan maksud untuk membujuknya untuk mau menemui Jessica untuk yang terakhir kalinya.

“kumohon! Nyawa temanku dalam keadaan kritis, tolonglah temui dia sebentar saja! Sejak kecil, Jessica adalah penggemarmu. Ini adalah permohonanku yang pertama sekaligus yang terakhir, kumohon temuilah dia mama!” teriakku sambil terus memohon padanya.

“mama….” namun dia tidak menggubrisku sedikitpun dan malah berlalu.

Teng…. Teng…. Teng….

Gadis yang malang, hanya sanggup bertahan hidup selam 13 tahun. Dia dilahirkan dengan jantung yang lemah dan diperkirakan dokter cuma bisa hidup sampai usia 5 tahun tapi dia bisa terus hidup selama ini dan menjadi gadis yang sangat cantik. Ternyata benar, gadis cantik tidak berumur panjang. Benar…. perempuan cantik hanya membawa kesialan padaku, kalau hanya memberi kenangan pahit padaku seharusnya aku tidak bertemu dengannya.

Sejak saat itu, setiap kali melihat cermin aku teringat pada matanya membuat perasaanku kian pedih. Tiga tahun kemudian, Korea….

“akhirnya aku ke Korea. Sekarang aku bisa bahasa Korea dan paham lawakan mereka!” ujarku merasa bangga.

Buugh…. tiba-tiba ada seseorang menabrakku dari belakang.

“mi…. mianhae… aku tidak sengaja.” gugupnya.

Dia ketakutan, baiklah! Akan aku coba membuatnya tertawa. Lalu aku memperagakan beberapa lawakan yang sring aku tonton.

“hihihi… aku tidak mengerti maksud oppa, tapi oppa lucu sekali! Oppa pelawak yah?” tanyanya sambil tersenyum yang kelihatan sangat cute.

“hehehe… dia tertawa.” ujarku.

“Taeyeon…. kau dimana?” teriak seseorang dari kejauhan.

“ah, aku dicari appa! Aku harus cepat-cepat kembali! Rambut oppa bagus sekali, terlihat berkilauan kalau dipanjangkan sedikit persis dengan salah seorang ksatria keren yang ada dimimpiku!” ucapnya sambil berlalu meninggalkanku.

Seorang ksatria? Heart…. Taeyeon pasti tidak ingat lagi.

Flashback end

“cuma Taeyeon yang ada dihatiku.” ucapku sambil menggenggam tangan Taeyeon yang baru saja tiba dengan Sehun.

“hei…. jangan pegang-pegang tangan Taeyeon!” teriak Kai, Tao dan Sehun serempak.

……………………………………………………………………………………………………………………………………

            Story about Sehun

Seohyun POV

Bunga sakura bermekaran saat aku duduk di bangku kelas satu SM High School, waktu aku jatuh cinta padanya.

“Seohyun, bisa bantu ambilkan palang di gudang alat olahraga?” pinta sang ketua kelas.

“ah… neh…” ucapku mengiyakan lalu berlari menuju gudang alat olahraga.

“loh? Kenapa pintunya tidak mau dibuka, yah?” sambil menarik sekuat tenaga pintu gudang tersebut.

Greeeeek…… Braaak….

“pintu ini sudah rusak, kalau tidak ditendang paksa tidak akan bisa terbuka.” ucap seorang namja yang menendang pintu tadi yang ternyata adalah sunbaeku di sekolah ini.

“Sehun, ayo cepat, pengawas sudah datang!” teriak salah seorang temannya yang bernama Luhan.

“iya…” sahutnya lalu berlalu meninggalkanku.

Bodohnya aku ini, tidak sempat mengucapkan terima kasih. Sejak hari itu, aku selalu memikirkan dia. Murid kelas 2, anggota klub sepak bola, Sehun oppa…. Tiap kali teringat dia, dadaku terasa sesak sekali. Tolong aku, aku tidak punya keberanian bicara dengan orang yang aku sukai. Hanya melihatnya saja sudah membuatku bahagia, tapi aku ingin dia menyukaiku.

Aku ingin menjadi yeoja mempesona yang bisa membuatnya menoleh padaku. Kemudian, saat kuncup bunga persik mekar psona dirimu juga akan mekar. Itulah kata-kata dari fengshui yang aku baca tentang diriku. Dan terbukti, ramalan tersebut berhasil beberapa hari ini ada beberapa namja yang terus memperhatikanku.

“akhir-akhir ini Seohyun jadi terkenal yah?” ujar salah seorang temanku.

“ma…masa sih?” tanyaku balik.

Jangan-jangan, ini kekuatan fengshui bunga persik. Kalau begitu, pesonaku sudah mulai meningkat jadi sebentar lagi Sehun oppa pasti….

Bruuuk…. saat aku sedang menuju kantin bersama teman-temanku, tanpa sengaja aku menabrak Sehun oppa yang sedang membaca sambil berbicara dengan beberapa temannya.

“eit… bahaya!” ucapnya.

mi… mianhae…” gugupku.

“kalau jalan, pasang mata. Bahayakan, kalau sampai jatuh dari tangga.” ucapnya sambil menepukkan buku tersebut ke kepalaku lalu pergi dengan teman-temannya.

Aku hanya bisa terdiam memandanginya dari belakang. Pagi berikutnya, seluruh kuncup bunga persik. Apakah aku sudah jadi cantik?

Priiiit….. terlihat beberapa temanku sudah berlari lebih dahulu dan aku segera menyusulnya.

“hei, Sehun lihat tuh. Anak kelas satu yang manis itu sedang lari cute yah?” tanya Luhan namun yang orang yang disebut namanya itu hanya memasang wajah datarnya.

Praaak…. beberapa kursi yang aku angkat ternyata sangat berat sehingga aku memutuskan untuk istirahat sebentar.

Crooot…. tiba-tiba ada air mencipratku.

“ah, mianhae… aku tidak sengaja, airnya muncrat kesana.”

Sehun oppa…. Sret… kemudian dia memberikan handuknya padaku lalu mengeringkan rambutku.

“mianhae…. handukku kotor, tapi kalau tidak dikeringkan nanti kamu masuk angin.” ucapnya.

Aku yang mendapat perlakuan seperti itu terutama dari namja yang aku suka merasa kan semburat merah dikedua pipiku.

Dheg… Dheg….

sunbae, aku…. aku…. aku….” belum sempat aku melanjutkan kalimatku tiba-tiba terdengar teriakan seorang yeoja yang sedang terjatuh.

“bahaya Taeyeon!” teriak salah seorang temannya.

“kalau jalan lihat ke depan, jangan malah celingak-celinguk cari Sehun!” bentaknya lagi.

“hehehe… tahu saja!” ucapnya sambil menggaruk punggung lehernya yang tidak gatal.

“si pabo itu…” ucap Sehun sambil matanya terus tertuju pada yeoja tersebut.

“kau bisa berdiri Taeyeon?” tanya teman yeoja tersebut.

“aduh….” terdengar rintihan yeoja itu lagi.

“sudah ya! Sekali lagi, mianhae….” seru Sehun sambil berlalu pergi meninggalkanku untuk menolong yeoja tersebut.

Drap…. Drap…..

Aku harus beres-beres, tapi perhatianku hanya tertuju dengan kelakuan Sehun tadi lalu aku berlari menuju belakang gudang olahraga sambil menangis terisak. Sehun oppa, sudah punya yeojachingu… dia memandangnya dengan tatapan yang begitu lembut. Aku juga, kalau aku jatuh cinta lagi aku ingin orang yang kucintai menatapku dengan pandangan selembut itu tatapannya hanya untukku.

 

THE END/ FIN…………

 

Ha….. mianhae kalau ceritanya kurang memuaskan tapi cerita ini ingin aq buat karena hari ini juga bertepatan dengan tanggal 23 September yaitu birthdayku yang ke-23 (tua juga ternyata, ups… bukan tua tapi makin dewasa). Semoga aq diberi kesehatan supaya bisa buat FF terus buat para readers. Sekian dulu cuap-cuapnya…. See U guys in my next fanfiction.

Happy reading….

19 thoughts on “[Freelance] The Guardians

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s