[Freelance] Story of EXOTaeng : My Someone Special (Chapter 1)

mss

Author : RYN

Length : multichapter

Rating : PG 17            +

Main Cast :

@ Taeyeon SNSD

@ Kris EXO

Other Cast :

Find it by yourself

Genre : fantasy, romance, fluff,

 

Disclaimer : seluruh plot berasal dari imajinasiku. Insprirasi datang dari berbagai hal. Cast milik tuhan, orang tua dan diri mereka sendiri.

 

Annyeong!!

Seperti janjiku, aku membuat story of exotaeng dengan pairing KRISTAE ( Kris – Taeyeon ).

Pertama-tama, aku mau ngucapin terima kasih yang banyak buat reader yang udah setia membaca ff2 buatanku. Sungguh, aku bangga sekaligus tersentuh oleh kalian yang sudah memberi dukungan dan semangat untukku.

Adapun penjelasan singkat tentang ff ini, aku sudah menulisnya di bawah tbc. Untuk saat ini, silahkan enjoy kisah mereka~

Don’t plagiat, don’t copy paste without my permission!!

Aku tidak pernah memberikan izin pada siapapun untuk membuat cerita berdasarkan fanfic ini!!!

 

***

Sebuah café yang terletak di sudut kota nampak ramai oleh pengunjung yang datang. Musim dingin sedang berlangsung tapi tak mengurangi jumlah pengunjung café, bahkan semakin bertambah. Kondisi ini membuat para pelayan sedikit kerepotan melayani pesanan pelanggan.

“pelayan!”

Salah seorang pria berpakaian rapi dengan kemeja coklat polos dan mantel tebal lengkap dengan syal yang terlilit di lehernya, duduk di sudut ruangan dekat dengan jendela kaca tengah mengangkat tangannya sebagai tanda ia ingin memesan.

Tidak lama setelah ia memanggil, seorang gadis berperawakan mungil dengan rambut yang di gelung sekenanya ke atas, menghampiri mejanya.

“anda mau pesan apa tuan?” tanya gadis itu sambil mengeluarkan buku kecil dari dalam sakunya, bersiap mencatat pesanannya.

“coffee americano 2” pria itu menjawab dengan singkat tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponsel di tangannya. kelihatannya menunggu ponselnya berdering dan tak berapa lama, ponselnya pun berdering.

Gadis pelayan itu dengan lancar menulis seluruh pesanannya di buku kecilnya, mengabaikan pria di dekatnya yang sedang sibuk berbicara di telponnya. Tadinya, gadis itu sempat heran mendengar pesanan yang seharusnya untuk dua orang padahal pria itu hanya seorang diri. Tapi begitu melihat seorang wanita muda menghampiri meja yang sama dengan pria itu, diapun langsung mengerti. pria itu juga sudah menutup telponnya begitu wanita muda itu tiba. Setelah membaca ulang pesanannya, gadis pelayan itu pun segera pergi meninggalkan mereka setelah sebelumnya membungkuk dengan sopan.

“hari ini café kita sangat ramai” komentar Sunny, tampak lelah. ia tersenyum melirik sahabatnya.

Taeyeon melayangkan pandangannya ke seluruh ruangan lalu ikut tersenyum. memang benar, café hari ini lebih ramai dari hari biasanya.

Café sweety tempat mereka bekerja cukup terkenal di kota kecil itu. berbagai macam cake serta kue-kue manis dan lezat tersedia. Selain itu harganya pun terjangkau hingga banyak pelanggan yang sering mampir kemari meskipun letaknya cukup jauh dari jalan raya. Taeyeon bersama sahabatnya Sunny berkerja paruh waktu di café ini. jika sedang tidak ramai, Taeyeon biasanya membantu membuat cake untuk pelanggan.

“aku rasa juga begitu” gumam Taeyeon. perhatiannya beralih pada dua orang pelanggan yang baru saja datang. sepasang suami istri dan dua anak perempuan yang mengambil posisi dekat dengan jendela kaca. Keningnya mendadak berkerut begitu melihat bagaimana ekspresi pria dan wanita muda yang dilayaninya tadi pada keluarga yang baru saja duduk di dekat mereka. keduanya terlihat tegang dan tatapan mereka terlihat tidak suka. Taeyeon merasa ada aneh dengan mereka berdua, mengapa mereka bereaksi seperti itu pada keluarga yang mereka tidak kenal? Atau mungkin mereka mengenalnya? Taeyeon yakin, mereka tidak saling mengenal. Tapi kenapa mereka begitu tidak suka melihat keluarga itu?

Semakin di perhatikan, Taeyeon makin merasa kedua orang itu memang bersikap sangat aneh. Ini perasaannya saja atau memang cara mereka berdua berbincang-bincang berbeda dengan pelanggan yang lain? sementara pelanggan yang lain sibuk bercanda dan sangat menikmati waktu mereka, keduanya malah terlihat serius. ini memang bukan urusannya atau sesuatu yang perlu ia lihat sampai sedetail itu, tapi kedua orang itu membuatnya tertarik. keduanya seperti sudah saling mengerti hanya dengan saling menatap. Seperti pembicaraan rahasia yang hanya mereka berdua saja yang tahu. Bukan hanya itu yang membuatnya tak bisa melepaskan matanya dari pria dan wanita itu, warna kulit keduanya begitu pucat hingga dia sempat berpikir mungkin karena cuaca atau keduanya memang sedang dalam kondisi yang tidak fit. Rata-rata orang di kota ini berkulit putih tapi dia yakin, tidak ada kulit putih sepucat mereka dan itu membuatnya penasaran.

Tiba-tiba pria yang di pandanginya melihat ke arahnya di susul wanita itu yang juga menoleh ke arahnya, seolah tahu kalau mereka sedang di perhatikan.  Taeyeon tersentak, cepat-cepat memalingkan mukanya. Dia mengakui kesalahannya, memperhatikan orang merupakan perbuatan yang sangat tidak sopan. Tatapan tajam kedua orang itu membuat perasaannya tidak enak. Dia langsung membalikkan tubuhnya dan segera kembali bekerja, berusaha untuk tidak menatap ke arah mereka lagi.

“ada apa? kau kelihatan pucat.” Sunny di sampingnya mendadak menghentikan pekerjaannya dan melihatnya dengan heran.

Taeyeon gelagapan. “ah. Aku hanya lelah saja”

“mungkin sebaiknya kau istrahat.” saran Sunny, kini mencemaskannya.

“aku baik-baik saja” Taeyeon memaksakan senyumnya. Matanya melirik ke tempat pria dan wanita tadi, tapi tempat itu kini telah di isi oleh pelanggan yang baru. *waw cepat sekali perginya*

Tak terasa waktu berlalu dengan cepat dan jam telah menunjukkan pukul 22.00 dimana café telah sepi. Taeyeon melirik jam tangannya lalu menghela nafas lega.

“akhirnya” gumamnya. Tanpa membuang-buang waktu diapun mulai mengerjakan kegiatan rutin yang selalu di lakukannya sebelum pulang. Membersihkan seluruh ruangan café.

“Taeyeon”

“hm” Taeyeon hanya menyahut singkat sambil tetap menyapu.

Sunny telah berada di belakangnya, rupanya dia telah selesai membersihkan kursi-kursi di sudut sana dan sekarang membersihkan meja di belakangnya, walaupun sebenarnya meja itu tidak perlu di bersihkan karena dia baru saja selesai membersihkannya.

Dari sudut matanya, Taeyeon bisa merasakan kalau Sunny ingin mengatakan sesuatu padanya tapi ragu untuk memulainya.

“ada apa? kenapa kau selalu melirik padaku? apa kau mulai menyukaiku?” Taeyeon berbalik lalu mengedipkan matanya untuk menggoda Sunny. Seperti yang biasa di lakukannya.

Sunny mencibir. “aku ini masih normal, mana mungkin aku menyukai gadis sepertimu. Hiyyy mengerikan!” ujarnya pura-pura bergidik ngeri.

Taeyeon hanya mengangkat bahunya dan tersenyum lalu melanjutkan kembali kegiatannya.

“mmm..Taeyeon..” Taeyeon menoleh, menunggu kelanjutan kalimatnya, “maaf, aku tidak bisa pulang bersamamu malam ini. Minhyuk oppa mengajakku makan malam di rumahnya.” Sunny menundukkan kepalanya usai mengatakan itu, dia merasa bersalah karena ini sudah yang ketiga kalinya.

“aku mengerti. tidak apa-apa”

Sunny sontak mengangkat kepalanya, kaget mendengar ucapannya. “apa kau benar-benar tidak apa-apa?” tanyanya hampir tak percaya. terakhir kali, gadis di depannya itu langsung pucat begitu ia memberitahunya beberapa hari yang lalu. Tapi sekarang, dia tampak tenang-tenang saja.

“Yuri unni akan pulang bersamaku.” Taeyeon menjawabnya dengan yakin. “dia bilang akan singgah di rumah pamannya jadi sekalian saja kami jalan bersama.” jelasnya.

Sunny hanya manggut-manggut. Dalam hati dia sedikit lega karena dia tidak perlu lagi merasa cemas meninggalkan Taeyeon sendirian.

Bersamaan dengan itu, Yuri, manager sekaligus pemilik café keluar dari ruangannya. Dia berjalan menghampiri Taeyeon dan Sunny.

“Taeyeon maaf aku tidak bisa pulang bersamamu. Seorang teman sudah menjemputku di luar, kami akan menghadiri reuni.” Yuri menjelaskan panjang lebar. dia tampak merasa bersalah karena membatalkan janjinya. “aku harus segera pergi sekarang.” sambil melirik sekilas jam tangannya, dia kembali menatap Taeyeon. “apa kau ingin ikut bersamaku? Aku bisa langsung mengantarmu ke rumah.” Tawarnya.

Taeyeon dan Sunny saling bertukar pandang. Melihat tatapan Sunny padanya, Taeyeon tahu kalau sahabatnya itu pasti mengkhawatirkannya. Terutama setelah mengetahui kalau ia harus pulang sendiri tanpa Yuri.

“gwenchana unni. Aku bisa pulang sendiri”

Jawabannya sontak membuat Sunny menganga tapi Taeyeon tak perduli. Dia tidak ingin merepotkan siapapun. Tidak mungkin dia pergi bersama Yuri sementara tidak ada siapapun yang ia kenal disana. itu pasti akan membuatnya canggung.

“apa kau yakin? Bukankah kau takut pulang sendiri?” tanya Yuri memastikan. Sunny hanya diam.

Taeyeon menggeleng singkat dan tersenyum. “sudah saatnya aku belajar pulang sendiri unni. Lagipula, aku harus ke suatu tempat dulu setelah pulang dari café.”

Alasan terakhir itu seratus persen kebohongan. Sunny tahu itu. dia sangat mengenal Taeyeon, gadis itu tak akan kemana-mana lagi setelah pulang dari café.

“oh jadi begitu. Aku mengerti. kalau begitu, aku pergi dulu. Temanku sudah sejak tadi menungguku” ucap Yuri yang disambut anggukan oleh Taeyeon dan Sunny.

“jadi..” Sunny sambil melipat tangannya menghadap lurus ke Taeyeon yang kini tersenyum kaku padanya. “kau tidak pernah mengatakan padaku akan ke suatu tempat dulu. Bisa kau jelaskan maksudnya?” tanyanya sembari menaikkan alisnya.

“hehehe..” Taeyeon nyengir. Sunny masih menatapnya dengan curiga membuatnya berubah cemberut. “kau tahu aku tidak suka merepotkan orang. aku tidak mungkin ikut bersama Yuri dan teman-temannya. Apa kau ingin aku mati karena canggung huh?”

Sunny menarik nafas dalam-dalam. inilah yang paling tidak disukanya dari Taeyeon. Taeyeon selalu berpura-pura kuat meski dalam hatinya sekarat karena ketakutan. Dari pertama mereka bekerja di café ini, dia selalu mengantar Taeyeon meski rumah mereka berlawanan. Tapi sejak ia mulai berpacaran dengan Minhyuk sekitar seminggu yang lalu, dia sudah jarang pulang bersamanya. sudah berapa kali ia ingin mengajak Taeyeon untuk pulang bersama tapi Taeyeon selalu menolak dengan alasan tidak ingin mengganggu waktunya bersama Minhyuk padahal baik dia ataupun Minhyuk tidak keberatan dengan hal itu. Benar-benar gadis yang keras kepala.

“hei, kau tidak perlu memandangku seperti itu. aku bukan anak kecil lagi. kalau hanya pulang sendiri, aku juga bisa.” Ujar Taeyeon dengan nada yakin lalu tertawa kecil. tidak ada yang tahu kalau sebenarnya dia hanya menutupi rasa cemasnya. Taeyeon tidak ingin membuat Sunny mencemaskannya, juga tidak mungkin menyuruhnya membatalkan kencannya dengan Minhyuk hanya karena dia takut pulang sendirian.

“oh ayolah Sunny..aku tidak sepenakut itu. percayalah padaku” Taeyeon berujar lagi ketika melihat ekspresi Sunny yang mencemaskannya.

Sunny memutar bola matanya dan mendengus kesal. “ini semua salahmu. Kalau saja kau mau ikut dengan kami, aku pasti tidak akan secemas ini” gerutunya.

Taeyeon tersentuh mendengarnya. Sunny sahabatnya selalu memperhatikannya dan mencemaskannya. Dia sudah seperti saudara baginya.

“kau tidak perlu mencemaskanku. Tenang saja, aku bisa menjaga diriku dengan baik.” katanya mantap. Sunny tahu, Taeyeon hanya berpura-pura berani di depannya.

“kau ini..makanya cepat cari pacar supaya ada yang bisa mengantar dan melindungimu!”

“kenapa kau jadi mengungkit masalah pacar?! Yaa mentang-mentang sekarang sudah ada yang mengantarmu, kau jadi bebas meledekku.”

“ah sudahlah. Lebih baik aku membatalkannya saja daripada harus membiarkanmu pulang sendirian.” Taeyeon mengerjap kaget. “melihat wajahmu membuatku semakin tidak tega meninggalkanmu.” Sunny mengambil ponsel dari dalam sakunya untuk menghubungi Minhyuk. Tapi sebelum dia sempat menekan tombol speed dial diponselnya, Taeyeon segera merampasnya.

“hei!!” teriak Sunny begitu ponselnya telah berpindah tangan.

Taeyeon langsung melotot padanya. “apa kau sudah gila?! Aku tidak akan membiarkanmu membatalkan kencanmu hanya karena aku.”

“kau benar-benar gadis keras kepala.” Sunny mendengus kesal tapi detik kemudian dia tersenyum. “tapi ingat, kau harus hati-hati.” ujarnya kembali mengingatkan.

“tentu saja.” Taeyeon menyahut dengan senyum lebarnya.

– – –

“kau tidak bisa pergi begitu saja.”

Di sebuah ruangan bernuansa klasik namun tetap terlihat elegan, tampak beberapa pria tengah duduk berhadapan membicarakan sesuatu. mereka memakai jubah panjang berwarna hitam di padu dengan warna merah di beberapa bagian. mereka terlibat percakapan yang ringan hingga akhirnya salah satu dari pria itu berdiri dari kursinya.

“kau mau kemana?” tanya pria berambut coklat gelap. “kau tahu, kita tidak bisa melanggar perintah ayah.” Ujarnya lagi ketika pria itu tak perduli.

“aku tidak akan mematuhi perintah ayah untuk yang satu ini hyung.” pria berambut pirang itu berucap dingin. Hanya sekejap mata, ia sudah tak berada di ruangan itu lagi.

“keras kepala seperti biasanya.”

Pria berambut coklat gelap itu hanya tersenyum lalu menoleh sekilas pada pria di belakangnya.

“kau tahu dia Kyo.”

– – –

Taeyeon merapikan mantel tebalnya yang kadang tersingkap karena hembusan angin. Cuaca yang dingin dengan sebuah mantel yang menyelimuti tubuh mungilnya tidak begitu membantunya mendapat kehangatan yang lebih. Setelah selesai membuang kantung sampah di ujung jalan-yang mana sudah menjadi tugasnya, dia mulai berjalan menuju rumahnya.

*dingin sekali* Taeyeon membatin sembari menggosok-gosok kedua tangannya yang mulai dingin lalu meniupnya, mencoba terus membuatnya hangat dengan nafasnya. Langkahnya sengaja sedikit di percepat, membayangkan kamarnya yang hangat membuatnya semakin ingin cepat segera sampai dirumah. Jarak rumah dan café tidak begitu jauh jika di tempuh dengan naik bus, tapi Taeyeon terlalu malas untuk berlama-lama di halte. Tubuhnya sudah bergetar setiap kali angin menyentuh kulitnya, bagaimana dia bisa lebih lama berdiri di halte dengan kondisi seperti itu? lagipula, di jam begini, bus sudah jarang di temukan, jika ia harus menunggu, mungkin dia akan menjadi patung es di halte.

Jalanan kecil di depannya sudah sangat sepi. beberapa lampu yang masih berfungsi di pinggir jalan tidak membantu banyak dan malah membuat suasana semakin tidak mengenakkan. Taeyeon memperhatikan setiap sudut jalan di sekitarnya, cahaya lampu yang remang-remang membuat pikiran negatif mendadak muncul dalam otaknya, tidak ketinggalan pula rasa was-was dalam hatinya. Tapi seupaya mungkin dia berusaha untuk menepisnya. Dia sadar, di tempat sesunyi ini, tidak akan mungkin ada yang bisa menolongnya pabila terjadi masalah. Jika dia ketakutan sekarang, dia tidak akan bisa berpikir atau bahkan menolong dirinya sendiri.

*tidak apa-apa, aku pasti bisa!* Taeyeon mengangkat kepalan tangannya-memberi semangat pada dirinya sendiri. baru saja dia selesai mengucapkan kalimat itu, suara kucing yang muncul entah dari mana membuatnya terkejut dan tersenyum getir. Sudah berulang kali dia mensugesti dirinya agar tidak perlu takut tapi sepertinya semua usahanya sia-sia.

Taeyeon menghela nafas lalu melotot tajam pada lampu-lampu jalan di dekatnya. *harusnya mereka memasang lampu yang paling terang, harusnya mereka memperbaiki lampunya terlebih dulu dari pada membiarkannya begitu saja* rutuknya menyalahkan lampu-lampu malang itu. sebagian dari lampu-lampu yang tergantung itu memang tidak berfungsi sehingga membuat jalan yang di laluinya menjadi sedikit gelap. Sepanjang jalan dia menggerutu tidak karuan hingga tak menyadari kalau di depan sana, 4 pria sedang berdiri seolah menunggunya.

Taeyeon baru sadar begitu mendengar suara salah satu dari mereka. langkahnya terhenti, matanya membulat lebar, jarak mereka dengannya kurang lebih 10 meter hingga dia bisa melihat wajah ke 4 pria itu dengan sangat jelas. mendadak perasaan takut muncul dalam dirinya, ke 4 pria itu bertampang menakutkan, bukan karena mereka berwajah seperti monster atau semacamnya, tapi dari yang dilihatnya mereka adalah para berandalan dan ini tidak bagus untuknya.

*aku tidak pernah tahu kalau tempat ini ada juga berandalan seperti mereka* Taeyeon bergumam dalam hati. dia baru pertama kali melihat mereka di daerah ini. mungkin karena kemarin-kemarin adalah hari keberuntungannya tidak bertemu dengan mereka, tapi sekarang, dia harus mempersiapkan dirinya jika keadaannya menjadi lebih buruk. Tapi dilihat dari tampang mereka, Taeyeon sudah berasumsi, jika ia tidak pergi dari tempat ini secepatnya, mereka pasti akan melakukan sesuatu yang buruk padanya. dia mulai merasa tidak enak ketika salah satu dari empat pria itu berjalan mendekatinya. Karena takut, kakinya otomatis mundur ke belakang sambil bersiap untuk lari. Namun belum sempat ia menjalankan rencananya, dua orang tiba-tiba mencegatnya dari belakang saat dia hendak melarikan diri.

Taeyeon terkejut, salah seorang dari mereka langsung mencengkeram lengannya dengan paksa. Bagus, sekarang dia sudah di kelilingi oleh 6 pria menyeramkan dengan tingkah laku yang kasar. Tubuhnya bergetar, dia ingin berteriak tapi mulutnya seperti terkunci. Melihat reaksinya, bukannya kasihan, ke enam pria itu malah menertawainya. Mereka terlihat seperti kumpulan hyena yang siap memangsa korbannya.

“hei jangan menyakitinya.” Salah satu pria dengan mantel berwarna abu-abu berbicara.

Pria yang mencengkeram lengannya langsung melepaskan tangannya dan mendorongnya hingga tubuhnya terjatuh ke bawah. Taeyeon hanya meringis sambil mengusap-usap lengannya bekas cengkeraman tadi. baru saja dia ingin berterima kasih pada pria yang membuat temannya melepaskan cengkeramannya, pria itu sudah berjongkok di depannya dengan senyum mencurigakan.

“aku tidak tahu kalau di daerah ini ada gadis secantik dirimu. Malam-malam begini mau kemana manis?” pertanyaan menggoda yang terkesan sinis.

Taeyeon memandang pria itu takut-takut. jika mengingat posisinya yang makin terdesak, tidak ada yang bisa dilakukannya. dia bisa menebak dari cara mereka melihatnya, mereka pasti telah merencanakan sesuatu terhadap dirinya. bukan tidak mungkin jika mereka berbuat hal-hal yang negatif padanya. tubuhnya masih bergetar sementara keringat kini membasahi tengkuknya membuat kerah bajunya basah. Dia ingin berteriak tapi tenggorokannya seperti tercekat dan secara perlahan, matanya yang tadinya berkaca-kaca kini menjatuhkan air mata yang sejak tadi di tahannya.

“tidak usah malu-malu manis. kami tidak akan berbuat kasar padamu.” kata pria yang bertubuh kurus sambil menaikkan tangannya ingin menyentuh wajahnya tapi Taeyeon langsung memalingkan wajahnya. pria itu sepertinya tidak begitu memaksanya, diluar dugaan dia hanya tertawa.

“kami akan membuatmu senang malam ini manis. kau tidak perlu takut.”

Taeyeon merasa jijik. Berada di tengah-tengah enam pria mabuk yang mengelilingnya membuatnya jijik. Tapi dia tak punya kekuatan untuk melawan. Yang bisa ia lakukan hanya menunduk dengan kedua tangan meremas mantelnya sambil berdoa dalam hati, seseorang akan datang menolongnya.

*siapa saja.. tolong aku* Matanya terpejam kuat dengan air matanya yang terus membasahi pipinya. dia hampir putus asa ketika tiba-tiba merasakan angin berhembus di sekitarnya. suara-suara pria itu sudah tidak terdengar lagi.

Taeyeon mengerutkan keningnya, sekelilingnya mendadak menjadi hening. perlahan, dia membuka matanya. dia menghapus air matanya kemudian mendongakkan kepalanya memandang sekitarnya. nihil. Tidak ada satu orang pun di dekatnya. Ke enam pria itu seperti menghilang seketika.  Yang ada, tempat itu menjadi gelap dari sebelumnya tapi tetap, dia masih bisa melihat dengan jelas keadaan sekitarnya.

Samar-samar, Taeyeon melihat enam pria yang tadi mengganggunya sudah tergeletak tidak berdaya tidak jauh di depannya. dia memicingkan matanya kemudian bangkit berdiri dan kembali mengucek-ucek matanya untuk memastikan penglihatannya. Dia mengira mungkin karena pengaruh air mata hingga penglihatannya menjadi sedikit mengabur, tapi nyatanya sama saja. apa yang dilihatnya memang kenyataan, ke enam pria itu sudah roboh disana. matanya membulat lebar ketika melihat seseorang dengan pakaian serba hitam berdiri di antara tubuh ke enam pria itu.

*apa dia membunuh mereka?* Taeyeon shock sekaligus bergidik ngeri melihat pemandangan yang tersuguh di depannya. jika benar yang ia pikirkan berarti keselamatannya juga ikut terancam dan dia tidak ingin hal yang ia pikirkan itu terjadi. Sudah diputuskan, dia harus melarikan diri dari tempat itu, tapi, ada sebagian dari dirinya yang juga penasaran terhadap orang itu. orang itu berdiri membelakanginya hingga tidak mudah baginya untuk melihat wajahnya.

Meskipun tidak begitu jelas, Taeyeon samar-samar bisa melihat rambutnya yang berwarna kuning ke emasan. Yah, pria berambut pirang, begitu dia menamakannya. Sesaat dia lupa dengan idenya untuk kabur dari situ.

Tiba-tiba pria itu membalikkan tubuhnya, menatap lurus ke arah Taeyeon. Taeyeon lagi-lagi membulatkan matanya saking terkejutnya dan sontak menjadi salah tingkah. dia memperhatikan setiap langkah pria itu ketika berjalan mendekatinya. Terperangah, itulah reaksi yang di tampakkan di wajahnya ketika pertama kali melihat wajah pria itu dari jarak yang dekat. Bagaimana tidak, pria yang berdiri di hadapannya ternyata adalah pria yang sangat tampan bahkan bisa dikatakan sangat sempurna. Dengan postur tubuh yang sangat tinggi, pria itu tampak seperti model. Atau mungkin dia memang model?

Taeyeon mengerutkan keningnya, sedikit mengangkat kepalanya agar lebih jelas melihat wajahnya. lehernya mulai terasa pegal karena tinggi badannya yang hanya sampai batas dada pria asing itu. tapi ini belum membuatnya sadar kalau dia seharusnya lari darinya sesuai rencana semula. Gadis itu tertegun begitu menatap mata pria itu. warna mata yang sangat indah, icy blue seperti warna langit yang cerah. Untuk sesaat, Taeyeon berpikir dia mungkin telah bertemu dengan seorang malaikat. Pakaian serba hitam milik pria itu begitu pas di tubuhnya. tidak ada kata lagi yang bisa mendeskpripsikan wajah dan tubuh sempurna itu, melihatnya pun tidak akan membuat siapapun bosan. Dia bertaruh, gadis manapun pasti akan melakukan apapun untuk menjadi kekasihnya.

Taeyeon tidak sadar kalau dia sudah terlalu lama memperhatikan lekuk wajah pria itu dan sepertinya pria itu pun tak keberatan dengan hal itu. keningnya lagi-lagi mengeryit, semakin lama di perhatikan, pria itu semakin terlihat familiar.

*mata itu..sepertinya aku pernah melihat mata itu. tapi dimana?* dia tidak tahu mengapa ia tiba-tiba merasakan perasaan aneh ini dalam hatinya. ada sesuatu yang membuatnya terusik dari tatapannya, membuatnya penasaran. Sibuk mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri, dia tidak sadar kalau pria itu semakin mendekatinya.

“bagaimana bisa dia memiliki warna mata seperti itu?” gumamnya pelan. tapi kemudian dia sontak menutup mulutnya dan mendongak ke atas, pria itu tersenyum padanya.

Taeyeon langsung salah tingkah. senyuman pria itu membuat hatinya luluh seketika.

*sebenarnya apa yang kupikirkan?!* pekiknya.

Dia cepat-cepat merubah sikapnya dan kembali pada realita. Pikirannya tentang akan di bunuh oleh pria asing itu kini tiba-tiba saja menyelimuti isi kepalanya. jika ia tidak segera pergi dari tempat ini, pria itu mungkin saja juga akan membunuhnya. Begitulah kesimpulannya.

Pria itu memandang Taeyeon tanpa ekspresi. smirk halus nampak tersamar di wajahnya, gadis yang cute dan cantik persis seperti dalam bayangannya.

“kau tidak..” sebelah tangannya terangkat ingin menyentuh gadis itu tapi terhenti begitu mendengar teriakan ketakutannya.

“kyaaa!! J-jangan bunuh aku! K-kumohon.” Pintanya memelas. Tanpa pikir panjang, Taeyeon segera melarikan diri meninggalkan pria itu.

Kris tercengang kemudian beberapa saat tersenyum geli. dia tak menyangka Taeyeon akan melarikan diri darinya secepat itu, setelah ia menolongnya.

*ini pasti akan sangat menyenangkan* dia membatin bersamaan dengan smirk yang tersungging di bibirnya.

Taeyeon berlari sekencang mungkin, dia bahkan tidak berani menoleh kebelakang dan terus berlari. Merasa cukup jauh dari tempat itu, langkah kakinya pun memelan lalu berhenti sejenak sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. sesekali dia menoleh ke belakang dan melihat sekitarnya, berharap pria itu tidak mengejarnya.

“tidak mungkin ‘kan dia bisa mengejarku sampai disini? Aku sudah mengerahkan seluruh tenagaku tadi.” ucapnya pada dirinya dengan senyum bangga. Dia menghela nafas lega lalu merelaksasikan otot-ototnya yang sedikit kelelahan akibat perjuangannya sampai ke tempat ini.

Dia mendadak merasa ngeri sekaligus kasihan begitu teringat kembali dengan nasib ke enam berandalan yang ia pikir sudah mati di tangan pria berambut pirang itu. Taeyeon cepat-cepat menepis pikiran itu lalu kembali berjalan dengan santai. rumahnya hampir dekat jadi tidak ada alasan lagi baginya untuk takut. namun, baru seperempat jalan, dia tiba-tiba mendengar sebuah suara berat seperti memanggilnya. Nama itu bukanlah namanya tapi mengapa dia merasa terusik dengan suara itu? Diapun melayangkan pandangannya ke segala arah tapi tak menemukan apa-apa. perasaannya mulai tidak enak membuatnya semakin mempercepat jalannya.

“cherry..”

Suara itu lagi. Taeyeon kembali menoleh ke belakang tapi lagi-lagi tidak menemukan siapapun disitu, padahal suara itu terdengar sangat jelas di dekatnya.

*mungkin aku hanya salah dengar* Taeyeon membatin sambil terus berjalan.

“cherry.”

Taeyeon menghentikan langkahnya. dia memandang sekelilingnya dan keningnya berkerut karena lagi-lagi sekitarnya masih tampak sepi.

“s-siapa d-di s-situ?” Taeyeon memberanikan diri bertanya.

“cherry..akhirnya aku menemukanmu.” Ucap suara itu.

Taeyeon terkejut. sepertinya orang yang tak tampak itu sudah salah orang. Ragu-ragu, dia menoleh ke kiri dan ke kanannya sambil mengira-ngira dimana orang yang telah memanggilnya itu. bulu kuduknya mulai meremang atas pikiran negatif yang tiba-tiba menginvasi otaknya.

“namaku bukan cherry tapi Taeyeon. Kau sudah salah orang!” sahut Taeyeon setengah berteriak. Karena tidak tahu dimana tepatnya orang yang sedang berbicara dengannya itu, dia hanya asal melihat ke kanan dan kekirinya.

Suasana kembali hening. Taeyeon berpikir sejenak, apakah dia harus menunggu orang itu berbicara atau langsung pergi saja dari tempat itu.

“sama saja bagiku.” Kali ini suara tawa ringan orang itu terdengar.

Taeyeon sempat kesal karena suara itu terdengar mempermainkannya karena terus saja memanggilnya dengan nama yang bukan namanya. Dan yang membuatnya makin kesal, dia masih tidak tahu darimana asal suara itu. Namun, tiba-tiba kepalanya mendongak ke atas. kedua matanya membulat lebar begitu menangkap sesuatu yang bergerak dari atas pohon yang berada tepat disampingnya. Keadaan sekitar sangat gelap ditambah lagi pohon itu cukup tinggi membuat penglihatannya kurang jelas. dia kemudian mengucek-ucek kedua matanya serta maju beberapa langkah untuk sekedar mempertegas apa yang dilihatnya.

Seketika, kedua matanya yang tadinya sudah membesar kini hampir meloncat keluar dari tempatnya, dua telapak tangannya sudah berada di atas mulutnya untuk menahannya dari teriakan yang akan keluar. Di atas sana, di batang pohon yang melintang panjang, pria berambut pirang yang tadi bertemu dengannya beberapa menit lalu, duduk dengan santai sambil melihat ke bawah. Pria itu tersenyum padanya.

“pria berambut pirang!!” pekik Taeyeon. mulutnya yang refleks di tutupnya, sekarang sudah tidak bisa di ajak kompromi lagi. dia terkejut sekaligus shock mengetahui pria itu mengejarnya hingga kemari dalam waktu yang kecepatannya sungguh diluar dugaan.

Kris menaikkan sebelah alisnya mendengar nama panggilan untuknya. Tubuhnya kemudian meluncur ke bawah dan berdiri tepat di hadapan Taeyeon. mata icy bluenya menatap lurus ke dalam bola mata gadis itu. Taeyeon tak berkedip, tatapan pria di depannya begitu intens seolah menembus jiwanya. Jarak mereka yang sangat dekat bahkan lebih dekat dari pertemuan pertama mereka beberapa menit yang lalu, sama sekali tak membantunya. Di bawah tatapan pria itu, dia merasa tak berdaya.

“pria berambut pirang? Siapa itu?” Kris menatapnya. Taeyeon tercengang-memberanikan diri balas menatapnya. “namaku Kris.”

“aku tidak ingin mengetahuinya!” Taeyeon sedikit menaikkan suaranya, melotot tajam padanya. Kris hanya mengerjapkan matanya sekilas mendengarnya. “k-kau?! Ba-bagaimana mungkin kau bisa ada di atas pohon itu?! sejak kapan..?” pertanyannya yang terakhir keluar berupa bisikan lirih atas pemikirannya yang ganjil terhadap pria itu.

“sejak tadi.” Kris hanya menjawabnya dengan singkat. ekspresinya yang tenang membuat Taeyeon kesulitan dalam mereka-reka apakah pria itu sedang bercanda atau tidak.

Taeyeon hampir tak percaya, pria yang tadinya ingin di hindarinya, tanpa sepengetahuannya ternyata telah mengikutinya sejak tadi. bagaimana itu bisa terjadi?

“tapi bukannya..kau tadi ada..” Taeyeon tidak sanggup melanjutkan kalimatnya yang terbata-bata karena perasaan takut yang mendadak menyergapinya. Potongan ingatan tentang bagaimana ke enam pria tergeletak tak berdaya di hadapannya dalam waktu kurang lebih semenit, membuatnya berubah pucat. Keringatnya tanpa sadar keluar dari pori-pori kulitnya dan mengucur di tengkuknya. Rasa dingin yang tiba-tiba merasuk karena ketakutannya membuat bulu kuduknya meremang. “b-bagaimana mungkin k-kau bisa sampai secepat ini?” tanyanya masih dengan suara terputus-putus.

Kris tersenyum hangat membuat Taeyeon tertegun. Senyuman Kris benar-benar sangat menarik, begitulah yang di pikirkannya. Dia tak memungkiri, Kris sungguh sangat tampan. Baru kali ini dia melihat pria yang hampir mendekati sempurna sepertinya. sadar telah memuji pria itu, Taeyeon menundukkan kepalanya menyembunyikan wajahnya yang merona merah setelah memikirkan ketampanan Kris.

Kris menatap Taeyeon. dia sudah lama menunggu saat ini tiba. Bertemu kembali dengan Taeyeon adalah saat yang paling membahagiakan dalam hidupnya. Tidak terhitung berapa banyak dia merindukan gadis itu hingga keinginannya untuk bertemu dengannya menjadi semakin besar setiap harinya. Dan disinilah ia sekarang. berhadapan langsung dengan gadis idamannya. Gadis yang telah menarik perhatiannya sampai membuatnya tak bisa memandang gadis lain. Pandangannya berubah teduh begitu merasakan ketakutan Taeyeon terhadapnya. Tapi dia tak menyalahkannya. Menurutnya itu adalah reaksi yang wajar. Meski demikian, dia yakin, perlahan-lahan Taeyeon akan bisa menerima kehadirannya.

“aku sangat istimewa. Sangat spesial.” Kembali, Kris menjawab dengan singkat.

“apa kau membunuh mereka semua?” Tanya Taeyeon hati-hati. disamping ketakutannya, dia juga ingin tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.

Kris menyadari langkah Taeyeon yang perlahan mundur ke belakang. dia tersenyum geli. bisa di tebak kalau Taeyeon pasti ingin melarikan diri lagi. itu tergantung dari jawabannya nanti.

“kau ingin melarikan diri lagi?”

Taeyeon tersentak. dia menggigit bibir bawahnya, merasa malu karena sudah ketahuan.

“aku tidak membunuh mereka.” Kris yang masih tersenyum padanya membuat jantungnya berdebar-debar. “aku hanya membuat mereka pingsan.” Tambahnya.

Diam-diam Taeyeon menghela nafas lega. Meski begitu, dia masih penasaran bagaimana cara Kris membuat ke enam orang tadi pingsan dalam beberapa detik? Saat ia memejamkan matanya tadi, tahu-tahu mereka semua sudah terkapar di jalan tanpa tahu penyebabnya.

“bagaimana caramu membuat mereka pingsan secepat itu?” Taeyeon bertanya lagi. mendadak dia ingin tahu. kegugupan dan rasa takutnya perlahan mulai berkurang. Dia sepertinya mulai sedikit terbiasa dengan Kris. pandangan negatifnya terhadap pria itu berangsur menghilang. Kris bukan pria yang jahat, itulah kesimpulannya sampai detik ini.

“aku sudah mengatakannya padamu. aku ini spesial.” Kris mengulang jawabannya.

Taeyeon tersenyum remeh. *lagi-lagi menganggap dirinya spesial padahal biasa-biasa saja* gerutunya. Tapi, melihat perawakan Kris, dia mulai meragukan pendapatnya beberapa detik yang lalu. Kris memang berbeda dari kebanyakan pria yang dilihatnya. Pria itu memiliki sepasang mata yang indah dengan wajah yang tampan. bisa dikatakan pria itu memang sangat spesial. Spesies yang istimewa.

Taeyeon menghela nafas dalam-dalam, dia sadar yang terpenting saat ini adalah mengucapkan terima kasih pada Kris karena telah menolongnya dari ke enam pria tadi. “terima kasih telah menolongku. Tapi, kenapa kau mengikutiku sampai disini?”

Raut wajah Kris seketika berubah serius. entah mengapa, perubahannya itu membuat perasaan Taeyeon merasa tidak enak.

“karena aku sudah menolongmu, kau harus menjadi istriku.”

Rahang Taeyeon menurun, mulutnya melongo kaget. pernyataan Kris membuatnya terkejut. apalagi, saat mengatakan kalimat itu, ekspresi Kris tetap tenang.

*m-mwo?! Menjadi istrinya? Dasar pria aneh! Baru pertama kali bertemu sudah meminta orang untuk menjadi istrinya.* rutuk Taeyeon.

“ok, kalau jawabanmu tadi aku bisa memakluminya karena kau memang orang yang SPESIAL.” Sindirnya. Dia sengaja menekan kata spesial untuk memperjelas maksudnya.

Taeyeon menganggap pernyataan Kris tadi hanyalah candaan. apa yang di harapkan pria itu? terkejut? dia berhasil membuatnya hampir kena serangan jantung. Dan sebelum Kris semakin aneh, dia harus segera meninggalkannya. Maka tanpa menunggu lebih lama, dia berbalik hendak meninggalkannya. Tapi, sebelum ia sempat melangkah lebih jauh, Kris mengatakan sesuatu yang membuat tubuhnya seketika membeku di tempat.

“aku serius dengan perkataanku. Kau harus menjadi istriku karena aku sudah menolongmu.” Kris mempertegas kalimatnya.

Taeyeon perlahan memutar tubuhnya dan dia tampak shock begitu melihat sebuah cincin berlian yang sangat indah di atas telapak tangan Kris. Taeyeon tak bisa lagi mengatakan kalau yang di dengarnya tadi adalah candaan karena cara Kris menatapnya, terlihat sangat serius dengan apa yang di ucapkannya. Untuk sesaat, Taeyeon bersyukur tidak mengidap penyakit jantung hingga dia tak perlu masuk rumah sakit atau mati di tempat karena serangan jantung setelah mendengar hal-hal mengejutkan seperti ini.

“hei apa kau sudah gila?!” Taeyeon menatap Kris dengan pandangan marah. “kita baru bertemu dan kau sudah memintaku untuk menjadi istrimu? Dasar pria aneh!” dia menumpahkan uneg-unegnya. Kekesalan dan kemarahannya bercampur jadi satu, namun kebingungan dan keheranannya juga terselip disana.

*mimpi apa aku semalam hingga bertemu dengan orang aneh sepertinya* Taeyeon mendengus kasar.

“ralat.” Tatapan Kris berubah tajam sontak membuatnya gugup. “aku tidak memintamu menjadi istriku tapi aku sudah mengklaimmu sebagai calon istriku. Itu berarti pada akhirnya, kau tetap akan menjadi istriku.”

“itu sama saja! ini pemaksaan!” protes Taeyeon.

“aku tidak peduli. lagipula kau juga sudah menyetujuinya.” Ujar Kris tetap tenang.

“m-mwo?!” Taeyeon memekik tapi ekspresi Kris tetap tak berubah. “s-sejak kapan aku menyetujuinya? Aku tidak ingat pernah berjanji akan menjadi istrimu!” serunya menolak.

“kau tidak perlu mengingatnya sekarang.”

Taeyeon terdiam dengan mulut menganga. Dia kehabisan kata-kata. *bukan pria yang jahat? Kau terlalu berimajinasi berlebihan Taeyeon. lihat buktinya sekarang.* dalam hatinya tertawa miris menertawakan kebodohannya sendiri.

“3 kali menolongmu, kau harus menjadi istriku.” Kris tiba-tiba memutuskan.

Pandangan Taeyeon berubah horor. Itu keputusan sepihak yang tidak mungkin di setujuinya. Sebelum Kris menodongnya dengan segelintir kalimat tidak masuk akal lainnya, Taeyeon berlari meninggalkannya sambil menutup kedua telinganya dan berharap pertemuan mereka tadi hanyalah mimpi. senyum Kris mengembang, melihat Taeyeon yang lari darinya tidak membuatnya marah atau kecewa. cepat atau lambat gadis itu pasti akan menerimanya. Suka atau tidak suka, Taeyeon harus menjadi miliknya.

– – –

Taeyeon sampai di rumah dengan selamat meskipun nafasnya tersengal-sengal akibat berlari dengan kencang. Ayahnya sampai heran melihatnya ketika membukakan pintu untuknya.

“ada apa? apa kau baik-baik saja?” ayahnya terlihat cemas.

*aku tidak baik-baik saja appa!* ingin rasanya ia mengatakan itu pada ayahnya, tapi dia hanya menggeleng. “aku baik-baik saja appa.” jawabnya sambil berlalu naik ke kamarnya sebelum ayahnya menanyakan hal lainnya lagi padanya.

Sepanjang malam Taeyeon tak bisa tidur dengan tenang. kata-kata Kris terus terngiang-ngiang di telinganya.

*3 kali menolongmu, kau harus menjadi istriku*

Taeyeon dengan cepat menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba membuang pikiran itu dari kepalanya. *aku pasti hanya bermimpi.* batinnya yakin.

Dia menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya lalu memejamkan matanya. tidak berapa lama kemudian, dia telah berada di alam mimpi. Taeyeon tak mengetahui kalau Kris sudah sejak tadi berada di depan rumahnya dan terus memandangi kamarnya dari atas pohon. Senyum misterius tersungging di bibirnya, lalu sekejap mata sosoknya sudah tidak ada lagi di sana.

 

***

Dua hari telah berlalu sejak kejadian malam itu dan semuanya berjalan seperti biasanya. Kris yang di jumpainya malam itu tidak pernah menampakkan dirinya, membuat Taeyeon semakin yakin kalau pria itu hanyalah halusinasinya.

Minggu siang, Taeyeon melakukan pekerjaan paruh waktu seperti biasanya di café. sejak pagi ia sudah di sibukkan dengan pelanggan yang datang dan pergi. hari ini Sunny tidak datang karena sakit membuat café kekurangan tenaga hingga pekerjaan semakin berat. Taeyeon terlihat berulang kali mondar mandir dari meja yang satu ke meja yang lain. dia benar-benar sibuk bahkan pemilik café, Yuri juga ikut membantunya. Tiap kali bayangan Kris terlintas dalam kepalanya, dia segera menepisnya. dia berharap tidak bertemu dengan pria itu lagi seandainya yang di alaminya itu bukan mimpi.

“Taeyeon.” panggil Yuri.

Taeyeon yang tengah merapikan mantelnya, menoleh. pemilik café yang berusia 3 tahun di atasnya itu, berjalan menghampirinya.

“ada seseorang diluar yang menunggumu.”

Kening Taeyeon berkerut. “seseorang menungguku? Siapa unni?” tanyanya bingung.

Yuri mendadak tersenyum lebar menggodanya, “ah, tidak perlu malu begitu.  Apa dia kekasihmu? Orangnya tinggi dan sangat tampan.” Jelasnya panjang lebar. “ini pertama kalinya aku melihat pria setampan dia.”

Taeyeon masih tidak mengerti siapa pria yang dimaksud Yuri. Sementara dia menerka-nerka, Yuri mulai menggodanya lagi dengan mengatakan bahwa dia sangat beruntung karena pria setampan itu mencarinya dan sebagainya.

*tinggi dan sangat tampan?* kerutan kening Taeyeon semakin dalam, tanda ia berusaha mengingat ciri-ciri pria yang sama dengan yang pernah di temuinya. Kedua mata hazelnya seketika membulat lebar *jangan-jangan..*

Jantungnya berpacu dengan kencang begitu wajah Kris terlintas di pikirannya.

“tidak mungkin!” pekiknya lalu menghambur keluar dari ruang ganti.

Yuri yang sempat terkejut dengan reaksinya, memanggil-manggil namanya untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, tapi Taeyeon sudah berlari meninggalkannya. Yuri melongo lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.

Taeyeon mendongakkan kepalanya memandang keluar kaca cafe. Tidak ada siapapun diluar seperti kata Yuri. *mungkin Yuri unni hanya salah lihat saja.* pikirnya. Hati-hati dia membuka pintu café lalu mengendap-endap keluar. dia berharap tidak ada yang melihatnya termasuk orang yang sempat dalam pikirannya tadi. tapi, suara yang begitu familiar tiba-tiba mengejutkannya.

“selamat malam cherry.” Suara lembut yang di kenalnya. Bagaimana tidak, pemiliknya adalah orang yang memberinya lamaran paksaan beberapa malam yang lalu.

Kris sudah berdiri di hadapannya sambil tersenyum hangat padanya. Taeyeon mendelik kesal padanya. Kris lagi-lagi memakai pakaian hitamnya. *apa dia tidak memiliki baju yang lain? dan kenapa dia selalu memakai warna hitam. Ugh, itu membuatnya semakin tampan. menyebalkan!* gerutunya.

“sudah kubilang namaku bukan Cherry tapi Taeyeon!” protesnya. Tapi Kris, seperti biasa mengabaikannya.

“apa dia kekasihmu Taeyeon?” Yuri tahu-tahu sudah berada di belakang mereka. dia baru saja keluar dari café dan berniat untuk menguncinya, tapi begitu melihat Taeyeon dan Kris membuatnya ingin menggoda mereka.

Taeyeon sontak gelegapan dengan pertanyaan itu. Kris tersenyum sopan padanya lalu menjawab pertanyaannya.

“sebentar lagi kami akan me-hmph.” Suaranya tertahan karena Taeyeon langsung berjingjit membungkam mulutnya dengan sebelah tangannya.

Taeyeon melihat ke arah Yuri dengan senyum lebar yang di paksakan. “kami pergi dulu unni. Hati-hati dijalan.” Ucapnya lalu menyeret tangan Kris pergi dari tempat itu.

Yuri memandang kepergian mereka dengan heran. tak lama kemudian, dia tersenyum geli mengingat tingkah keduanya yang menurutnya lucu sebelum kembali mengunci pintu café.

“apa maksudnya itu tadi?! apa kau ingin memberitahu Yuri unni kalau kita akan menikah, begitu?!” seru Taeyeon kesal saat mereka sudah berada jauh dari café dan Yuri. Dia menatap kesal Kris dan melimpahkan semua kekesalannya yang sejak tadi di tahannya di depan Yuri. Dia benar-benar tidak suka pada Kris yang selalu suka seenaknya berbicara yang bukan-bukan tanpa persetujuannya.

“kita memang akan menikah, jadi untuk apa kau menyembunyikannya?” Kris yang awalnya hanya diam ketika di seret paksa oleh Taeyeon, akhirnya mulai kesal juga.

“siapa bilang aku akan menikah denganmu?!” Taeyeon dengan cepat membantahnya. Sekalipun tatapan tajam Kris membuat nyalinya sedikit menciut, dia tidak mungkin membiarkan pria itu memutuskan seenaknya. Menikah dengan orang asing? Lucu sekali. dia bersumpah, dia tidak akan pernah menyetujuinya.

“dua hari aku memberimu waktu untuk memikirkannya, kau menjadi lupa dengan syarat yang kuberikan?”

Taeyeon tersentak kaget. senyum misterius Kris tak pernah gagap membuatnya merinding. Menakutkan sekali, kedua mata icy blue-nya sepintas lalu berubah menjadi dark blue yang berkilat tajam menatapnya seolah siap menerkamnya. Pandangan Kris berubah teduh, sepertinya ia menyadari dia telah menakuti Taeyeon.

“sudahlah. Lagipula aku memberimu waktu bukan untuk mendengar jawaban ya atau tidak darimu.”

Taeyeon melongo heran. Kris tersenyum, “aku memberikanmu waktu untuk mempersiapkan diri dan setelah dua hari berlalu, mulai saat ini, kau akan melewati hari-harimu denganku.” ujarnya santai.

“wah betapa beruntungnya aku.” Taeyeon berujar sinis. “siapa kau berani mengatur-atur hidupku? ini kehidupanku, kau tidak berhak mencampurinya.”

“terlambat. Aku sudah memberimu 2 hari kesempatan menikmati kehidupanmu sendiri tanpaku.”

Taeyeon semakin kesal. dia ingin sekali meneriakkan penolakannya pada pria itu tapi dia sadar itu tak akan pernah berhasil. Percayalah, dia sudah berapa kali mencobanya. Tapi Kris selalu punya membuatnya kehilangan kata-kata.

“apa aku perlu mengingatkanmu? Kau telah menyetujui syarat yang kuberikan.” Kris tersenyum penuh arti.

“s-syarat yang mana?” tanyanya bingung. namun kemudian, dia mengingatnya. “seingatku, aku tidak pernah mengatakan kalau aku menyetujuinya.” Dalam hatinya sangat kesal. Kris melakukannya lagi, memutuskan seenaknya. Apa pria itu selalu seperti ini? penuh pemaksaan?

“menurutmu begitu?” Kris menyunggingkan smirknya. dia hampir saja tertawa melihat wajah speechless Taeyeon. kenapa gadis itu begitu cute? apa dia selalu cute seperti ini? jika saja dia tak memikirkan perasaan gadis itu, dia mungkin saja sudah menjadikannya sebagai miliknya seutuhnya tanpa minta persetujuannya.

“kau akan menikah denganku setelah menolongmu sebanyak 3 kali. Itu adalah syarat yang sudah kau setujui.” Kris mengakhiri kalimatnya.

Taeyeon terkejut. seingatnya dia tak pernah menyetujui atau mengatakan ‘ya’ pada Kris.

*apa pria ini delusional?* gumamnya heran. “aku tidak ingat pernah mengatakan ‘ya’ padamu.” ujarnya jujur.

Kris mengangkat bahunya dengan cuek. “waktu itu kau langsung pergi begitu saja tanpa menjawabnya jadi kuanggap kau sudah setuju.”

“jangan seenaknya memutuskan sendiri!” Taeyeon tidak tahan lagi. pria ini benar-benar menguji kesabarannya. Dia ingin berteriak dan memarahinya tapi pertahanannya goyah karena Kris lagi-lagi menatapnya seolah akan menelannya hidup-hidup.

“3 kali menolongmu, kau harus menjadi istriku.” Kris kembali mempertegas kalimatnya. tak ada ekspresi yang di tunjukkannya hanya senyum dingin yang nampak usai mengucapkan kalimat itu.

“jika waktu itu kau tidak menolongku, apakah itu akan berbeda?” tanyanya-masih berharap. Matanya mulai berkaca-kaca.

“tidak.” Kris dengan dingin menjawabnya. “kau tetap akan menikah denganku.”

“tidak mungkin..” Taeyeon menggeleng tak percaya. dia tak tahu harus berkata apa lagi, tubuhnya mendadak lemas dan akhirnya melongsor ke bawah. “bagaimana ini bisa terjadi padaku?” tanyanya lirih pada dirinya sendiri. hanya hitungan detik, dia mulai menangis dalam diam.

Kris berjongkok di depannya. melihat Taeyeon menangis membuatnya ikut terluka tapi Taeyeon tidak tahu akan hal itu. emotionless yang di tunjukkan Kris membuatnya ragu berpikir kalau pria itu iba padanya. Kris hanya diam memperhatikannya. dia bukannya tidak tahu cara menenangkannya, hanya khawatir, jika ia menyentuhnya, gadis itu akan semakin membencinya lebih dari ini.

*maafkan aku my love..aku sudah menyakitimu. Maafkan aku juga karena tidak bisa melepaskanmu.* Kris membatin.

Taeyeon semakin terisak dan itu membuat Kris tidak tahan lagi. dia mengulurkan tangannya mengusap air mata di pipinya membuat gadis itu mengangkat kepala menatapnya. Taeyeon cukup terkejut melihat pandangan hangat Kris padanya.

“jangan menangis. kau tahu, betapa sakitnya melihatmu menangis seperti ini.” Kris berucap lembut, tersenyum mengusap pipi Taeyeon.

“k-kenapa kau seperti ini? aku sama sekali tidak mengenalmu..bagaimana mungkin aku bisa menjadi istrimu?” suara Taeyeon terputus-putus.

Kris menangkup wajah Taeyeon. secara otomatis, pipi Taeyeon seketika bersemu merah.

“kau sudah mengenalku. Kita pernah bertemu sebelumnya hanya saja kau belum mengingatnya.” Kris menjawabnya dengan suara yang halus.

Raut bingung nampak di wajah Taeyeon usai mendengarnya. “..kita benar-benar pernah bertemu sebelumnya? dimana? Kapan itu terjadi?”

Kris terkekeh pelan melihat ekspresi polos Taeyeon ketika menanyakan pertanyaan itu. “suatu saat kau pasti akan mengingatnya.”

Taeyeon terdiam. pikirannya kini di penuhi rasa keingintahuan tentang Kris. jika memang mereka pernah bertemu sebelumnya, kenapa dia sama sekali tidak mengingatnya?

Kris menghela nafas berat seraya menengadahkan kepalanya memandang langit di atas mereka. wajahnya terlihat serius seperti sedang memikirkan sesuatu lalu kemudian kembali menatap Taeyeon. dia bimbang, apakah ia harus memberitahu Taeyeon sekarang atau tidak tentang dirinya. Melihat tatapan heran Taeyeon, akhirnya ia memutuskan untuk memberitahu gadis itu.

“kau pernah bertanya padaku, waktu malam itu kenapa aku bisa dengan cepat bisa mengejarmu…” dia menggantung kalimatnya sejenak untuk melihat reaksi Taeyeon yang semakin heran padanya. Taeyeon tidak mengatakan apapun, tapi hatinya berdebar-debar menunggu kelanjutan kalimat Kris. mungkin ini hanya perasaannya saja atau memang firasatnya yang mengatakan kalau ia akan mendengar sesuatu yang buruk. Perasaannya menjadi tidak enak, tatapan Kris yang sulit di artikan membuatnya semakin gugup.

“…aku pernah mengatakan padamu kalau aku ini istimewa, sangat spesial..” dia menatap Taeyeon lekat-lekat, “itu karena aku seorang vampir.” Ujarnya mengakhiri kalimatnya. sedikit rasa lega dalam hatinya karena telah memberitahu Taeyeon tentang identitasnya yang sebenarnya, dan sekarang, dia tinggal menunggu bagaimana reaksi gadis itu.

Seperti dugaannya, Taeyeon menertawainya. “hahaha..kau pasti bercanda ‘kan?  itu tidak mungkin.” katanya yakin. “bagaimana mungkin ada vampir di dunia modern? Kau pikir aku akan percaya semua kata-katamu?”

Kris menatap Taeyeon, dia sudah menduga kalau gadis itu tak akan mempercayai ucapannya. Mana ada orang yang akan percaya kalau di zaman modern ini ternyata masih banyak vampir yang berkeliaran sepertinya.

“aku adalah vampir.”

Tawa Taeyeon langsung terhenti. Kris menatapnya dengan tatapan serius menandakan ia tidak mungkin berbohong. jantungnya mendadak berdetak lebih kencang hingga ia berpikir jantungnya itu mungkin akan meledak, wajahnya pucat pasi, tenggorokannya kering, tak ada satupun suara yang keluar dari mulutnya meskipun mulutnya sudah membentuk huruf O. Kris sejujurnya tidak tega melihatnya, tapi dia tidak punya pilihan lain selain jujur pada gadis itu.

Dengan mengumpulkan sedikit keberanian yang dimilikinya, Taeyeon berdiri pelan-pelan. lututnya yang bergetar hampir tak bisa menahan beban tubuhnya. dia hampir jatuh kembali, Kris yang ingin membantunya langsung di tepisnya. Dengan susah payah, Taeyeon mundur kebelakang, sengaja menjauh dari Kris. bagaimana ia bisa tenang berdekatan dengan vampir itu sementara ia tahu apa makanan utama makhluk itu. setiap Kris berusaha mendekatinya, Taeyeon akan selalu menghindarinya.

Taeyeon memberanikan diri menatap Kris. dia tak percaya pria di hadapannya ini benar-benar seorang vampir. “b-bagaimana mungkin aku menikah dengan seorang vampir? I-itu ti-tidak mungkin terjadi..a-aku m-manusia.” suaranya yang gugup keluar sebagai kalimat yang terputus-putus. Air matanya tanpa sadar membasahi pipinya. dia ketakutan. Sangat.

Kris melihatnya dengan iba. Gadis yang disukainya kembali menangis, membuatnya terluka apalagi mengetahui air mata itu karenanya. Kris kembali mendekat dan kali ini Taeyeon seakan tidak punya kekuatan untuk menolaknya seperti tadi.

“ssh..aku tahu.” ucapnya mengusap air mata Taeyeon lagi. dia menarik gadis mungil itu ke pelukannya. Taeyeon lagi-lagi tidak menolak, yang ia butuhkan saat ini adalah sebuah sandaran dan Kris sepertinya memahaminya. Entahlah, Taeyeon mendadak merasa sangat lelah. dua kali menangis dengan psikis yang lemah membuat kekuatannya serasa terkuras. Dia biasanya bukanlah gadis yang lemah seperti ini tapi menerima info yang tak disangkanya..itu pengecualian.

“aku sungguh tidak bisa melepaskanmu my love. Percayalah padaku, tidak akan terjadi apapun padamu karena aku akan selalu melindungimu.” Tatap Kris dalam-dalam. pandangannya yang teduh membuat Taeyeon perlahan-lahan luluh. Mata icy blue itu begitu menenangkannya dan pelukan Kris membuatnya merasa nyaman dan aman. Bisakah ia mempercayai ucapannya?

“k-kau tidak akan meminum darahku?” tanyanya takut-takut.

Pertanyaan polos Taeyeon lagi-lagi membuat Kris terkekeh. Tentu saja dia sudah menduganya, Taeyeon pasti akan memikirkan hal itu.

“tenang saja, aku vampir yang tidak minum darah manusia.” jawabnya kembali mengusap sisa-sisa air mata di pipi Taeyeon. “kau terlalu banyak nonton film tentang vampir penghisap darah manusia.” godanya.

Taeyeon mau tidak mau tersenyum juga. Saking malunya, dia langsung memasang tampang cemberut untuk menutupinya. Jelas, Kris tidak akan mudah tertipu dengan ekspresi itu. dia menyukai kepolosan Taeyeon termasuk seluruh ekspresi yang di tunjukkan padanya.

“aku kan hanya bertanya.” Gumam gadis itu kesal.

Kris kembali memeluknya. Dia tidak tahan melihat wajah cute Taeyeon jika sedang mengerucutkan bibirnya. bagaimana mungkin dia melepaskan gadis itu sementara hatinya sudah memilihnya.

“mulai sekarang, kau adalah milikku.” Tegas Kris.

Taeyeon mendorongnya pelan. “kau salah. masih ada syarat untuk menjadi istrimu.”

Kris mengerjapkan matanya. Taeyeon tersenyum mecibir. “menolongku sampai 3 kali lalu aku menjadi istrimu. Bukankah itu syaratnya?” tanyanya dengan senyum kemenangan. Dengan mengingatkan Kris tentang syarat itu, untuk sementara waktu ia tak perlu cepat-cepat menikah dengannya sebelum pria itu menolongnya tiga kali. waw, sangat menyenangkan.

Namun, baru saja ia ingin menikmatinya ketenangannya, senyumnya seketika hilang dari wajahnya melihat Kris menatapnya dengan datar.

“apa aku harus mengingatkanmu lagi my love?” tanyanya penuh kesan sinis. “Sekarang bukan 3 kali tapi tersisa 2 kali aku menolongmu.”

 

To be continued…

 

Fyi, ini adalah ff yang kutulis ulang. Dua tahun yang lalu, kalau ga salah tahun 2011, aku pernah ngepost ff ini di salah satu page komunitas di fb dengan main cast Kevin Ukiss & oc dengan judul yang hampir sama. Plotnya hampir sama tapi banyak yang sudah ku ubah. Waktu itu, inspirasiku adalah film Twilight. Tapi seiring waktu, plot dan isi mulai berubah. aku membuat versi Kevin dalam 2 shoot (mungkin ada di antara kalian yang pernah membacanya), disitu aku mempostnya dengan memakai nama fb juga tidak memakai nama author Ryn. Jika kalian pernah membaca salah satu ffku disini, aku pernah menyebut nama ‘lain’ itu sebelum memakai nama Ryn.

Dikarenakan imajinasiku semakin bertambah dan ini ff lama, aku memutuskan untuk membuatnya menjadi multichapter. Tidak ada yang berubah, hanya confliknya saja mungkin yang lebih panjang. Kuharap kalian semua suka.

Other cast : Sunny (snsd), Minhyuk (btob) dan Yuri (snsd).

Kalau seumpama ini kurang memuaskan, aku menghela nafas dalam-dalam aja deh ~kekeke

Nb : all my love is for u, crush dan the legend’s and the goddess adalah ff utamaq. Jadi ketiganya lebih di utamakan di banding yang lain ..^,^..

Aq ga janji bakal post next chapnya lebih cepat, jadi di harap kesabarannya saja.

–> RYN

73 thoughts on “[Freelance] Story of EXOTaeng : My Someone Special (Chapter 1)

  1. wah beberapa udah g buka blog ini sudah bertebaran ff baru apalagi author.a Ryn lagi author favoritku.setuju ama author ff tiga di atas itu wajib di selesaikan(hehehe).tapi yang ini jga jangan lama” ngelanjutinya ne.
    jeongmal khamsahamnida

  2. waaaahhh ff nya daebak, bikin senyum senyum sendiri bacanya, ngebayangin kriss disitu betapa gantengnyaa,, sangat ditunggu kelanjutannya😀

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s