[Freelance] Reminiscene (Songfic)

Reminiscence

Title
Reminiscence

 

Author
L’Cloud

 

Length
SongFic / Drabble Oneshot

 

Rating
PG 15+

 

Genre
Romance, Angst

 

Main Cast
Xiumin a.k.a Kim Min Seok

Kim Taeyeon

 

Disclaimer
The storyline is made by my self. The casts are absolutely owned by God, their parents, and theirselves.

 

Author Note

Recomended: Silakan baca Songfic ini sembari mendengarkan lagu Super Junior K.R.Y Reminiscence. ^^

Thanks for read. Maaf kalo belepotan typo. Sekedar pemberitahuan Reminiscence artinya adalah kenangan. ^^

****

Can’t you see – she is behind me
Avoiding the wind and fast asleep
When the warm sunlight falls, she will wake, just wait a little bit

When winter came, we always went to the seaside
The cold wind and the white waves are the same as before but
Your bright and cheery nature that chattered next to me
Is now nowhere to be found

You said that the winter sea, that had no visitors, looked so sad
And said that we should stay with it and be the sea’s friend
When you hid behind me to avoid the wind, I heard your small prayer
Asking for us to always be together by your side

“Ah, oppa, dingin sekali di sini.”,keluh Kim Taeyeon sembari berdiri di belakang punggungku.

Aku tersenyum hangat padanya sembari berkata,”Tentu saja dear, ini adalah winter. Sepertinya kau lupa hal itu.”

Ia tersenyum menanggapi perketaanku dan bergelayut manja pada tubuhku yang memang lebih besar darinya. Ia mencari-cari kehangatan dari tubuhku dengan sangat manis.

“Apa kita tak sebaiknya duduk di sana? Kau tampak lelah.”,aku menunjuk sebuah bangku di tepi pantai itu. Ia mengangguk senang.

Kami berjalan beriringan sembari saling menghangatkan satu sama lain. Atau lebih tepatnya, aku yang menghangatkannya, namun, keberadaannya di sampingku sudah melebihi kehangatan perapian rumah kami di London.

“Oppa, mengapa pantai ini begitu sepi?”,tanyanya sembari meletakkan kepalanya di pundakku. Kini, kami telah duduk berimpitan di bangku panjang berwarna merah yang tadi kami tuju.

“Orang-orang waras tak akan pergi ke pantai di malam hari seperti ini chagi.. Hanya kita saja.”,ucapku.

“Ah, apa itu berarti kita tidak waras? Tapi aku cukup suka dengan suasana ini. Aku merasa.. damai.”,ia memejamkan matanya.

“Aku juga selalu merasa damai di sampingmu.”,ucapku sembari menatap wajahnya yang bersinar terang.

“Huh? Jeongmal? Aaah, aku senang mendengarnya. Uh, oppa, apa kau mendengarnya?”,ia masih memejamkan matanya.

“Mwo?”

“Suara bisikan laut. Aah, mereka berkata..”,ia berhenti sejenak seakan menajamkan pendengarannya,”mereka berkata, bahwa mereka kesepian.”

“Jeongmal?”,tanyakusembari tersenyum lembut ke arahnya.

“Ne, kau bisa merasakannya kan oppa? Pantai ini begitu sepi. Tentu saja mereka kesepian. Ah, Oppa, apakah kita bisa menjadi teman mereka?”

“Apa mereka baik padamu? Jika iya, aku mau berteman dengan mereka.”,ucapku asal.

“Hahahaha.. Ne, mereka benar-benar baik. Baiiiik sekali padaku. Mereka memberiku waktu yang lebih panjang untuk bersama denganmu oppa.”,ia tertawa geli.

“Oh, bintang jatuh!”,ucapku girang.

Gadis itu membuka matanya dengan tatapan berbinar-binar. Ya, aku tahu, ia memang selalu menyukai bintang jatuh. Tak peduli seberapa sering aku mencemoohnya karna percaya takhayul semacam itu. Ia bilang, ia hanya ingin agar do’anya dikabulkan. Setelah itu aku pasti akan langsung mengejeknya untuk lebih sering pergi ke gereja. Dan ia akan merajuk dengan sangat lucu. Ah, hidupku sepertinya sangat lengkap bersamanya.

“Uh, dingin!”,ia mengusap-usap lengannya dan semakin menghimpit tubuhku.

Aku merangkulnya dengan kedua tanganku. Ia menyandarkan kepalanya tepat di dadaku dan menutup matanya sembari tersenyum.

“Ya Tuhan, bolehkah aku dan Xiumin oppa bersama selamanya? Ya Tuhan, kabulkanlah kali ini. Sekali saja. Biarkan kami bersama selamanya. Amin.”,bisiknya pelan, sangat pelan namun aku tetap bisa mendengarnya.

Aku tersenyum.

Ya Tuhan, bisakah kau tidak memisahkan kami apapun yang terjadi? Ya Tuhan, kau boleh membuat kami menderita seperti yang lalu-lalu. Tapi biarkanlah kami selalu bersama. Seperti hari ini. Saat ini. Amin.

***

Aku duduk di sebuah bangku merah tepat di pinggir sebuah pantai yang begitu sepi. Tatapanku kosong ke arah lautan yang dipeluk oleh es. Winter Season.

“Taeyeon ah, apa kau kedinginan?”,tanyaku.

Tak ada jawaban.

“Ah, kau pasti sudah tertidur.”,aku tersenyum sembari menatap ke arah samping kananku.

Tapi tak ada apa-apa di sana. Hanya bagian kosong dari bangku.

“Taeyeon ah, apa kau mau pulang sekarang?”,tanyaku masih menatap ke arah yang sama.

Tentu saja ruang kosong tak akan menjawab pertanyaanku. Tanganku mengepal. Air mata yang selama bertahun-tahun tertahan dipelupuk mataku keluar sudah.

“Taeyeon ahh…”,aku berucap lirih.

Mendadak fikiranku gelap. Aku merasa kelam memeluk tubuhku. Menutupi segala kewarasanku. Putaran-putaran kenangan itu bagaikan gelombang yang menghempasku tanpa ampun.

“Taeyeon ah.. Taeyeon aahh!! TAEYEON AAAH!!!!!!! Di mana kau?? Dimana Taeyeon aahh??  DI MANA KAU???!!! TAEYEON AAH!!! Jawab aku! Jawaabb.. Jeball.. Deulliji anni??! Taeyeon ah!”,teriakanku memecah senyap. Hatiku begitu terluka.

Ia tak ada. Ia tak ada di sampingku lagi. Ia tak bergelayut manja lagi padaku. Ia tak ada. Ia tak ada di sampingku lagi. Ia tak beregelayut manja padaku lagi. Ia tak ada. Ia tak ada di sampingku lagi. Ia tak bergelayut manja padaku lagi.

“TAEYEON AAAAAAAAAAAAAAHHHH!!!!! KEMBALILAHHH!!!”,aku berteriak perih.

Aku berteriak-teriak kesetanan. Aku sudah kehilangan arah. Dengan bertelanjang kaki, aku berlari tercepuk-cepuk di kendi lautan di hadapanku. Aku mati rasa. Aku tak bisa merasakan apapun meskipun suhu di luar sini sudah mencapai minus 5 derajat. Aku adalah orang gila!

Kau tak akan pernah menemukannya.”,sesuatu seperti tengah berbisik padaku.

“Taeyeon? Kaukah itu? Taeyeon!”,teriakku.

Ia sudah tak ada.”

“Tak mungkin!! Apa kau tak lihat, ia ada di sampingku! Apa kau buta?!!”

“KIM TAEYEON AHHH!! TINGGALAH DI SINI? TAK TAHUKAH KAU BETAPA BODOHNYA AKU TANPAMU?!”,teriakanku termakan lautan.

Air mataku mengalir deras menambah debit air lautan yang kupijak kini. Sama asinnya, sama perihnya saat terkena mata. Setiap tetes air mataku semakin melukaiku lebih dalam.

Ia tak di sini. Ia tlah meninggalkanku. Ia membiarkanku kesepian di sini. Aku gila. Aku gila tanpanya. Ke mana ia pergi? Ke mana?

“Kim Taeyeon.. Kim Taeyeon.. Kim Taeyeon..”,aku terus menerus memanggil namanya sembari menangis seperti anak kecil.

Kim Min Seok.. Di mana gadis itu? Di mana?”,bisikan aneh itu muncul lagi.

“Ia di sini. Di sampingku! Aaa..apa kau tak melihatnya!”

Di mana gadis itu? Mengapa ia tak datang bersamamu?

“Ia di sini.. Ku mohon, Ia di sini. Lihatlah dengan benar! Lihatlah!! Ia di sini tengah memelukku!!”,suaraku berubah parau.

Pergilah! Bawa ia kemari. Kemana gadis itu?

Ke mana gadis itu?

Mengapa ia tak bersamamu?

Bawa ia ke mari seperti dahulu..

Apa kau menyembunyikannya dari kami?

 

Bisikan-bisikan aneh itu terus muncul memenuhi telingaku. Aku menutup telingaku dnegan kedua tanganku, berharap suara itu berlalu pergi. Namun suara itu bagaikan teror di syaraf-syaraf otakku.

Matahari yang seharusnya berpendar tak tampak, membuatku semakin larut dalam kepanikan. Tapi nun jauh di sana, aku melihatnya. Ia berjalan ke arahku.

“Kim Taeyeon?”,aku tersenyum sembari berjalan ke arahnya. Semakin ke tengah, ke arah dalamnya lautan.

“Kim Taeyeon.”,ucapku lagi.

Tapi yang kuhampiri hanyalah buih ombak yang bergulung-gulung. Aku tertawa.

“Hahaha! Kim Taeyeon! Hahahaha! Aku tahu kau di sini! Hahahaha!!”,aku menari-nari bersama buih itu.

“HAHAHAHA.. KIM TAEYEOOONNN!!!! HAHAHAHAHA!!!”,aku berteriak kegirangan sembari terus bermain buih.

Kim Taeyeonku. Kim Taeyeonku tlah menjadi buih. Abunya telah bersatu dengan buih ini. Kim Taeyeonku tlah menjadi buih.

Hari itu, hempasan ombak menyapa dan menyapuku.

Aku menyusulmu, Kim Taeyeonku. Bukankah kita tlah berdo’a pada Tuhan agar selalu bersama? Gidaryo naui sarang, aku segera menyusulmu, Kim Taeyeonku.

Tubuhku menghilang seiring deburan ombak. Semakin ke tengah. Semakin memeluk lautan. Menuju peristirahatan yang lebih damai. Dalam pelukannya. Kim Taeyeon.

The rough waves asked me
Why did I come alone and where you were

Can’t you see – she is behind me
Avoiding the wind and fast asleep
When the warm sunlight falls, she will wake, just wait a little bit
I couldn’t bear to say that I can’t ever see you again
But without knowing, my shedding tears have been caught

I guess the passing wind told me that I can’t ever find her again
No matter where I go, I can’t find her
I guess the ocean spoke to me and asked me where she went
The ocean kept asking and eventually, it became tears like me

With the white tears that the ocean sent, I made your image
I lay by it and called out your name, in case you see

I guess the clouds were worried that it would melt –
The clouds covering the sun aren’t leaving

An ocean without you will live just as tears
The rough waves, also despising me
Telling me not to come without you, tell me to bring you there

Even if I say I can’t see you, I know
The white snowflakes on my cheek,
Are actually your wet kiss and tears

****

-END-

Maaf ada beberapa part yang menurutku nggak pas. Maaf juga kalo ceritanya aneh. J

25 thoughts on “[Freelance] Reminiscene (Songfic)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s