Oneshot : 100

100 XiuSun

100

By wolveswifeu

Starring

Kimumin (Minseok) | Sunny | Jessica

Genre

Romance | Fluff | Friendship | School Life

Rating

PG 13+

Disclaimer

Already published with Minseok and Sunny ad the casts

Wolveswifeu’s New Fiction, 100

Kini aku tengah bermain dengan Sooyoung, teman sebangku di kelas yang memuakkan ini. Terkadang aku menoleh ke Park sonsaengnim yang tengah melotot atau membentak ea rah kami berdua. Haha! Ekspresi wajahnya sangat lucu jika sedang marah.

“Permisi, Lee Sunny dipanggil oleh Song sonsaengnim.”

Aku langsung menoleh ke sumber suara, ah, Taeyeon disana. Taeyeon sedang berada di depan pintu sekarang. Aku tersenyum kepadanya. Sebenarnya aku tidak tahu sedang apa dia sekarang, aku menoleh ke arahnya refleks ketika mendengar namaku dipanggil.

“Ya! Lee Sunny! Kau dipanggil oleh Song sonsaengnim!” Bentakkan Park sonsaengnim itu mampu membuatku terkejut. Mending ya kalau hanya bentakkan, nah ini ada suara pukulan dari tangannya ke meja guru yang ada didepan. Dengan malas aku bangkit dari tempat dudukku lalu jalan melewati Park sonsaengnim.

“Hati-hati sonsaengnim, nanti mejanya patah.” Ledekku tanpa menghiraukan teriakkan dia dari dalam yang sedang mengomeliku.

Kini aku sudah berjalan di koridor sekolah bersama Taeyeon. Aku yakin beribu persen bahwa Park sonsaengnim pasti sedang membahasku di kelas. Masa bodoh, siapa suruh dia bertingkah sok galak itu? Murid juga bisa di nasehati dengan baik-baik, bukan dengan bentakkan.

“Sunny-ah, seharusnya kau tidak boleh menyahuti Park sonsaengnim seperti tadi.” Nasehat Taeyeon.

“Dia nya sok galak.”Jawabku asal.“Ngomong-ngomong, kenapa aku dipanggil oleh guru nan cerewet itu? Ish..” Lanjutku kepada Taeyeon.

Molla, sepertinya kau membuat kasus lagi dengannya.”

Aigoo, aku sudah berusaha bersikap baik belakangan ini. Aish!” Ambekku sambil menghentakkan kaki kencang-kencang di koridor sekolah ini.

“Ya! Sunny kau mengganggu jam pelajaranku!!” Teriak Shim sonsaengnim dari dalam kelas salah satu koridor ini. Dengan cepat aku berlari hingga ke ruang guru, tempat Song sonsaengnim berada.

Aku memasuki ruang guru ini, untung saja masih jam pelajaran jadi ruang guru tidak seramai saat istirahat dan aku tidak perlu malu jika diocehi oleh Song sonsaengnim. Aku berjalan ke meja Song sonsaengnim, baru saja aku mau memamerkan senyum indahku ini tapi dia sudah menyambutku dengan tatapan maut dia.

Annyeong sonsaengnim, ada apa ya memanggil saya?” dengan suara yang kubuat-buat lebih lembut dan halus aku bertanya padanya. Walaupun anak bandel sepertiku pasti juga harus sedikit bermuka dua dong?

“Duduk Lee Sunny.” Suruhnya. Aish, rasanya aku akan diceramahi olehnya lagi. Aku menurutinya, aku duduk di salah satu bangku di hadapannya sekarang.

“Nilaimu menurun lagi Lee Sunny! Kau ini benar-benar! Sudah berprilaku buruk tapi nilaimu tidak kalah buruknya! Saya tidak mau tahu! Ulanganku yang selanjutnya kau harus dapat nilai 100!”Kata Song sonsaengnim. Aish benar-benar! Bagaimana aku bisa mendapatkan nilai 100 di pelajaran matematika yang nyaris membuatku mati karena keracunan oleh rumus-rumusnya? Jinjja!!

“Akan aku usahakan sonsaengnim.” Lagi-lagi apa yang ada dipikiranku berbeda 180 derajat dengan apa yang ku keluarkan dari mulutku.

“Jangan bicara saja! Saya butuh bukti!” Katanya. Benar-benar guru ini, aku sudah tidak tahan lagi!

“Baiklah Song sonsaengnim.”Lagi-lagi kata-kata itu dengan nada manisku yang keluar. Aku berjanji aku akan mencuci lidahku dengan sabun setelah keluar dari ruang guru ini!

“Okay. You can go now.” Suruhnya, rasanya aku ingin membentaknya sekarang juga, bisa-bisanya mengatakan seperti itu, seperti mengusir kucing saja. Tapi, aduh, kakiku kenapa melangkah menjauhi mejanya dan keluar dari ruang guru ini? Jinjja!

Baru saja aku keluar dari ruang guru tapi aku sudah menutup telingaku dengan kedua tanganku. Aku rasa bell di sekolah ini terlalu keras! Telingaku nyaris berdarah mendengar suara nyaring bell itu! Aku khawatir mendengar anak-anak yang lain ketika berada di posisiku sekarang. Ck!

Aku baru sadar jika ini bell tanda jam pelajaran hari ini telah usai. Dengan cepat aku berlari ke kelas ku dan meraih ea ra. Aku berlari lagi meninggalkan kelas lalu berlari ke depan gerbang. Ah, itu dia Sooyoung dan motornya. Saatnya bersandiwara.

“Ah..aigoo! perutku!” Keluhku sambil memegang perutku erat-erat lalu berjongkok.Semoga saja Sooyoung berhenti dan mengajakku pulang bersama.Aku benar-benar malas jalan kaki ke rumah yang sangat jauh itu.

Mian Sunny, aku tidak bisa dibodohi. Bye!” Teriak Sooyoung sambil melewatiku dengan motornya. Aku memerhatikan sambil mengembungkan kedua pipiku dalam posisi yang sama, berjongkok dan memegang perutku erat-erat. Benar-benar! Apa aktingku semakin jelek jadi dia sudah mengetahui kalau aku berbohong?

“Mau sampai kapan kau berjongkok seperti itu?” Ah, suara ini. Aku mengenalnya, suara namja yang selama ini aku kagumi, Kim Minseok.Dengan cepat aku berdiri, merapikan seragamku.

“Ck! Siapa sih yang bicara?”Tanyaku sendiri.Ya, aku memang menyukainya tapi selalu bersikap seperti itu padanya. Mengapa? Agar tidak ada yang tahu jika aku menyukainya, aku selalu bersikap sama dengan yang lain, sikap jutekku ini memang tidak pernah hilang.

Aku berjalan meninggalkannya. Meninggalkannya?Belum tentu juga bisa disebut seperti itu. Rumahku dan rumahnya searah. Kemungkinan besar dia sedang berjalan di belakangku sekarang. Bosan, tiba-tiba bosan menghampiriku. Aku menatap jalan yang berada di hadapanku sekarang. Aigoo, masih jauh dari rumahku! Ck! Rasanya aku akan mati bosan sekarang. Aku berjalan sambil menendang-nendang batu dijalanan ini.

“Ya! Sunny!!” Ah, aku mengenal suara ini. Suara melengking ini seperti suara.. Jessica? Ah, yeoja ini sungguh! Sebenarnya aku menyukainya tapi anehnya aku dan dia selalu menyukai orang yang sama. Takdirku memang jelek.

“Ada apa, sica?”Tanyaku sambil tersenyum cepat sekali dia. Tangannya sudah melingkar di lenganku.

“Lihat Minseok mengikutiku.” Kata Jessica. Rasanya mulut yeoja ini ingin sekali aku sobek-sobek. Dia terlalu percaya diri.

“Mengikutimu atau mengikutiku?”Tanyaku yang berhasil membuat wajahnya menjadi seram. Ah, serba salah mempunyai teman seperti ini. Jika bersikap manja, aku yang ea r. Bersikap seram, aku yang merasa ingin dibunuh olehnya.

Aniyo, aku bercanda. Kenapa kau tidak menghampirinya? Sepertinya dia sendirian.”Tanyaku.

“Benar juga.Tapi, bagaimana caranya?”

“Di kedai sana, aku akan membeli sebotol air mineral untukku. Gunakanlah waktu itu untuk menghampirinya, aku akan berjalan di belakang kalian dan memperlambat langkahku.” Saranku, sebenarnya sakit untuk membantu teman yang dekat dengan kita itu mendekati orang yang kita sukai. Tapi, aku ingin bersikap normal agar tidak ada yang mengetahui aku menyukainya, Minseok.

“Oh, baiklah. Maafkan aku ya sudah merepotkanmu.” Kata Jessica.

Gwaenchanayo.”Balasku lalu melangkah lebih cepat ke kedai itu.

“Permisi, aku mau satu botol air mineral yang dingin.” Mintaku. Aku melihat seorang nenek-nenek mengambil botol air mineral itu di lemari pendingin. Kasihan sekali sudah tua tapi harus menjaga kedai seperti ini.

“Ini, 2000 won.”Kata nenek itu. Aku meraih botol mineral itu dan tersenyum sambil mengeluarkan uang di saku jasku lalu memberikannya ke nenek itu.

Annyeong, Minseok-ah.” Itu..suara Jessica.

Annyeong.” Balas Minseok, ck! Kenapa sikapnya begitu dingin? Yang lebih tepat, kenapa aku bisa menyukai namja dingin seperti itu?

Gamshahamnida. Apakah mereka temanmu?” Tanya sang nenek ketika melihat Minseok dan Jessica. Aku tersenyum kepadanya.

                “Ya, mereka temanku.”

Kini aku sedang bermalas-malasan di atas kasurku. Ntah mengapa semakin aku bertumbuh dewasa aku semakin malas. Perutku, ah! Perutku berbunyi. Mau makan tapi rasanya malas untuk turun dari ranjang ini. Ya, dari pada aku sakit lebih baik aku makan sekarang.Aku turun ke bawah dan masuk ke dapur lalu mengambil piring dan beberapa lauk-pauk yang sudah disediakan oleh ummaku.

“Lee Sunny! Kalau mau makan buang dulu sampah-sampah ini dulu!” Teriak umma yang sekarang sudah berada di sampingku sambil memegang satu kantong ea rah yang berisi sampah.

“Tapi umma..”

“Tidak ada tapi-tapian! Sudah tidur sedari tadi disuruh buang sampah saja tidak mau?”

Arraseo. Sudah jangan marah-marah umma, nanti Kai appa bisa shock melihat keriput di wajahmu itu.” Ledekku kepada ummaku, ya, ummaku bernama Yuri dan appaku Jongin, tapi appaku masih mau dipanggil dengan panggilan masa mudanya dulu, yaitu Kai.

Aku berjalan keluar sambil menenteng kantong palstik yang penuh sampah ini dan membuangnya di sebuah bak sampah besar yang tidak jauh dari rumah. Aku menepuk-nepuk dan mengibas-ngibaskan tanganku agar tidak kotor seusai membuang sampah itu.

“Sunny?”Panggil seseorang, aku tahu betul suara itu, Kim Minseok.Baiklah, sepertinya aku harus memasanga wajah jutekku lagi. Aku memutar tubuhku ke belakang untuk menghadapnya.

Waeyo, Minseok-ssi?” Tanyaku malas.

Gwaencaha, aku hanya memastikan jika itu dirimu.” Aigoo, memastikan? Sebegitu perhatiankah dia kepadaku? Atau otak cerdasnya itu yang membuat dia mengingat semua orang dengan mudah?

“Sunny-ssi?”Panggilnya, ah, dengan cepat aku menggelengkan kepalaku untuk membuyarkan lamunanku.

Wae?”Tanyaku setengah berteriak.

“Sekarang sudah malam. Mau sampai kapan kau berdiri disini?”

“Kau yang mengajakku bicara, jadi aku disini.” Aku langsung berjalan meninggalkannya.Ya, seperti biasa, aku yakin dia sedang berjalan di belakangku sekarang. Maklumlah rumahku dan dia hanya berbeda beberapa rumah. Ah, ntah mengapa tiba-tiba aku mengingat perkataan Song Sonsaengnim yang mengancamku untuk mendapatkan nilai 100 di ujiannya, aku saja tidak tahu kapan ujiannya mulai. Sepertinya aku harus bertanya kepadanya sekarang, Minseok.

Aku menghentikan langkahku.Saat itu juga aku mendengar langkah yang mengikutiku sedari tadi menghilang juga. Aku berusaha tersenyum manis dan menengok ke arahnya.

“Minseok-ssi, bisa aku Tanya sesuatu?”Tanyaku dengan nada yang bisa dibilang sangat lembut untuk seorang wanita.

“A..ada apa?”

“Kapan ya ulangan matematikannya Song Sonsaengnim?

“Jumat ini. Waeyo? Mau belajar bersama?” DEG! Tawaran seorang Kim Minseok itu berhasil membuat jantungku berdegup kencang sekarang. Aku bingung harus menjawab apa, rasanya mulutku seperti terjahit dan tidak bisa dibuka untuk menjawab pertanyaannya itu. Dengan cepat aku mengangguk.

“Baiklah. Mau belajar dimana? Dirumahku? Atau rumahmu?” Tanya Minseok lagi. Oh my, aku rasa aku terbang sekarang. Aku hanya tersenyum dan menunjuk diriku sendiri, semoga saja dia mengerti apa yang aku maksud.

“Baiklah. Besok jam 5 sore di rumahmu. Bagaimana?” Tanya Minseok lagi. Aigoo, mengapa namja ini selalu bertanya sih? Membuatku harus menjawab semua pertanyaanya itu.

                “Ne.”Jawabku singkat lalu berlari ke rumahku.

Hah, hari ini ada pelajaran olahraga. Sungguh aku sedang malas untuk mengeluarkan keringat. Kini aku dan teman-teman yang lain sedang berada di tempat ganti pakaian di sekolahku,

“Sunny!!”Panggil seseorang. Ya, seperti biasa aku sudah bisa menebak siapa ini, Jessica.

“Kenapa sica?” Tanyaku yang sedang merapikan pakaianku untuk dimasukkan ke dalam paper bag ku.

Gwaenchana. Dengar-dengar lusa ada lomba pekan olahraga. Apakah kau ikut?” Tanya Jessica. Aku menghela nafas. Sebenarnya, aku sangat menyukai olahraga, apalagi berlari. Tapi, entah mengapa moodku untuk berolahraga belakangan ini sedang jelek.

Aniyo. Tunggu saja aku ditunjuk, baru aku ikut.”Jawabku.

“Tidak biasanya kamu tidak ikut acara itu, Sun.” Muncul lagi suara yang lain dari sebelah kananku, aku langsung menoleh ke arahnya, oh, Taeyeon.

“Moodku sedang tidak baik dalam olahraga belakangan ini. Mian, aku duluan ya. Bye.” Aku langsung pergi meninggalkan teman-temanku dan kembali ke ruang kelas. Aku benar-benar tidak ingin ikut jam pelajaran olahraga hari ini!

Sekarang aku sedang berada di kelas, sendiri. Aku meletakkan kepalaku di atas meja yang dihalangi oleh dua buah buku. Apakah bolos pelajaran olahraga sekarang bagus? Pasti Jung sonsaengnim sedang mencariku sebagai kandidat perlari untuk mengikuti lomba pekan olahraga itu.

Tunggu, aku mendengar sesuatu, suara langkah kaki  dari luar kelas. Pasti Jung sonsaengnim! Lebih baik aku pura-pura tidur saja.Tapi, suara langkah kaki itu semakin mendekat dan tiba-tiba hilang. Sepertinya, Jung sonsaengnim sedang berada di depanku sekarang.Untung saja aku sedang tidak mengangkat kepalaku. Tiba-tiba aku merasa ada hembusan nafas yang sedikit tergesa-gesa di hadapanku, aigoo, siapa ini? Haruskah aku membuka mataku sekarang? Ah, jangan! Nanti aku bisa disuruh ikut jam pelajaran olahraga.

Yeppeo..”Gumam orang itu.Aigoo, suara ini, KYAAA, ini suara Minseok.Dia sedang berbicara dengan siapa? Atau sedang memuji kecantikan ku ini? Ah, semoga saja wajahku tidak memerah sekarang.

“Sun?” Panggilnya.Apa? Sun? Panggilan apa ini? Aku pertama kali mendengarnya, apakah panggilan khusus?

“Apakah kau tertidur?” Setelah mendengar pertanyaanmu itu aku semakin bingung. Aku memang tidak tertidur, tapi jika dilihat aku ini tertidur. Kau ini terlalu pintar atau mudah dibodohi?

“Baiklah. Aku bingung kau ini tertidur atau tidak.Tapi, aku merasa kau menjawab semua pertanyaanku.” DEG! Apa Minseok punya indra ke enam?

“Sun, maafkan aku jika sudah mengataimu ‘Yeppeo’ tadi. Itu hanya refleks.”Katanya. Mwo?! Refleks? Maaf? Apa kau tidak rela sudah memujiku?

“Ntahlah, aku bingung. Ah ya, Sunny, aku tidak tahu kau mendengar ini atau tidak tapi aku sudah memilihmu sebagai pasanganku ketika berlari pasangan pada acara pekan olahraga yang diselenggarakan lusa. Ta..tapi, kau jangan salah paham. Aku tidak ingin jika Jessica memilihku lebih dulu, larinya lamban.”Jelasnya panjang lebar.

“Mengapa aku merasa aku seperti bicara sendiri ya?” Bingungnya, aigoo, rasanya aku ingin meledakkan tawaku sekarang.Tak lama kemudian aku mendengar langkah kaki menjauh, aku masih tetap pada posisiku sekarang sampai suara langkah kaki itu menghilang.

Aku langsung bangkit dari acara pura-pura tidurku itu. Aku langsung memegang kedua pipiku yang bisa kutebak sudah memerah dan memenas.

                “Yeppeo?” Gumamku sambil tersenyum malu.

Untung saja Jung Sonsaengnim tidak mencariku, mungkin Taeyeon atau Jessica mengijinkanku yang sedang pura-pura sakit ini, atau mungkin Minseok? Hah, jangan terlalu percaya diri, Sunny.

“Sunny-ah, apakah kamu sudah baikkan?” Tanya teman sebangkuku ini, Sooyoung. Yeoja ini terkadang menyebalkan terkadang baik.

Aniyo. Aku sudah membaik. Wae Sooyoungie?” Tanyaku sok lemas.

“Bisa temani aku ke kantin? Aku ingin minum jus strawberry.” Ajak Sooyoung. Dia mengajakku ke kantin? Baiklah ini kesempatan bagus!

“Okay. Tapi aku sedang tidak enak badan. Jadi nanti kita pulang bersama, ne?” Tanyaku.

“Bailah. Aku juga tidak tega kepadamu. Kajja!” Ajak Sooyoung sambil menarik lenganku dan keluar kelas.

Selama perjalanan ke kantin, sesekali aku berpura-pura memegang dahiku agar masih terlihat oleh Sooyoung yang mengetahuiku sedang tidak enak badan. PLUK! Terdengar suara tepukan dan sentuhan di bahu kananku. Aigoo, baru saja keluar kelas tapi sudah dicari orang lagi.

“Sunny?” Panggil orang itu, Kim Minseok. Mengapa aku mudah sekali menebak dia? Aku memutar badanku dengan mata yang sedikit ku buat sayu.

“Ada apa?” Tanyaku dengan lemas. Sekarang aku sedang berpura-pura sakit, jadi harus lemas sedikit.

“Tentang acara pekan olahraga.” Jawab Minseok, aku paham maksudnya, pasti tentang lomba lari itu. Aku tersenyum kepadanya, ku lihat matanya sedikit terbelalak karena melihat, eh? Senyumanku?!

“Iya, nanti saja ya bicaranya. Aku sedang ingin ke kantin dengan Sooyoung. Mianhae.” Ucapku.

                “O..oh begitu. Ba..baiklah.” Jawabnya terbata-bata. Aku langsung memutar badanku lagi lalu memeluk lengan Sooyoung.

“Iya, jadi x nya di pindahkan ke sini, lalu di kalikan seperti ini dan di bagi. Mudah bukan?” Suara berat itu benar-benar sudah membuat otakku nyaris hangus. Rasanya aku ingin mengocehinya.

“Sunny, apakah kau mengerti?” Tanya Minseok, ya, namja itu menepati janjinya untuk mengajariku hari ini, di rumahku, di ruang tamu rumahku.

“Tidak. Bagaimana ini?” Ucapku frustasi. Aku benar-benar mau menepatkan janjiku pada Song sonsaengnim.

“Baiklah. Aku akan mengajarimu sekali lagi. Tapi, kau sudah capek ya?” Tanya Minseok. Dia menatapku dari atas hingga bawah. Dia seperti memikirkan sesuatu. Tiba-tiba dia menatap ke dinding rumahku, seperti mencari sesuatu.

“Baru jam 7. Mau makan bersama?” Tawar Minseok. Ck! Tawarannya itu sukses membuat wajahku memerah, pasti! Aku hanya mengangguk pelan.

“Baiklah. Eh, bukankah kamu sedang tidak enak badan? Apa mau delivery saja?” Tanya Minseok lagi.

                “Gwaenchana. Aku sudah membaik kok.” Jawabku sambil membereskan buku-buku yang digunakan untuk belajar tadi. “Minseok-ssi, tunggu sebentar ya, aku mau ambil jaketku.” Kataku.

“Apakah enak?” Tanya Minseok. Aku menatapnya dengan makanan yang penuh di dalam mulutku ini. Aku mengangguk dan tersenyum.

“Baguslah. Aku ini bodoh sekali bukan? Tidak membawa dompet.” Katanya. Aku langsung meneguk minuman yang sedari tadi ada di sisi kiri piringku ini lalu terkekeh pelan.

“Kenapa? Kau tersedak?” Tanya Minseok lagi.

                “Aniyo, aku baik-baik saja. Hanya lucu melihatmu yang sedari tadi mengeluh karena lupa bawa dompet.” Kataku. Aku mengambil makananku dengan sendok. “ Anggap saja ini aku yang traktir karena kau sudah mengajariku. Okay?” Lanjutku sebelum memasukkan makanan itu ke mulutku.

Sekarang aku sedang berjalan kaki menelusuri jalan menuju rumahku bersama Minseok sekarang. Ah, sudah jam setengah Sembilan. Pasti tidak akan belajar lagi.

“Sun?” Panggil Minseok. Akhirnya dia memanggilku dengan panggilan khas itu, ‘Sun’, aku suka itu. Aku menoleh seakan-akan heran dengan panggilannya.

“Sun?” Balasku sambil menaikkan salah satu alisku.

“Ne, bisakah aku memanggilmu dengan sebutan Sun?” Tanya Minseok. Aku tersenyum, memasukkan kedua tanganku ke saku jaket, dan menatap langit yang sudah berubah menjadi biru gelap ini.

                “Ya, kau boleh memanggilku seperti itu.” Balasku.

“Bagaimana? Sudah mengerti?” Tanya Minseok. Kini aku tersenyum penuh dengan kemenangan, Song sonsaengnim, aku yang akan menang.

“Ne, gomawo Minseok-ah.” Kataku sambil membereskan buku yang kugunakan untuk belajar tadi. Aku menatap jam dinding yang betah menempel di dinding rumahku ini, pukul 10.

“Baiklah. Aku pulang dulu ya.” Kata Minseok sambil berdiri dan membereskan baju nya yang agak sedikit lecak karena sedari tadi tertekan untuk menunduk ke mja kecil di ruang tamu ini.

Ne, jeongmal gomawo.” Kataku lagi.

“Yap, lain kali kau bisa memintaku mengajarimu lagi. Dengan senang hati.” Minseok tersenyum kepadaku. Sudah berapa kali dia tersenyum padaku hari ini?

“Ne, ah ya Minseok-ah, acara pekan olahraga?” Kelakku ketika melihat kakinya mulai berjalan ke pintu rumahku.

“Ah ya, aku lupa, kau dan aku berpasangan untuk lomba berlari nanti, hehe. Aku yang mengajukan namamu. ea rah kan?” Kata Minseok sambil tertawa garing dan menggaruk kepalanya itu. Aigoo, lucu sekali wajahnya! Rasanya aku ingin meledakkan tawaku sekarang juga.

Gwaenchana. ea rah.” Kataku sambil menyusul langkah Minseok dari belakang. Aku membukakannya pintu gerbang rumahku.

                “Sampai besok!” Seruku kepadanya. Dia tersenyum lagi. Aku rasa aku akan gila sebentar lagi.

“Sunny! Cepat turun! Sarapan sudah jadi!” Teriak ummaku, Yuri. Aku langsung membuka pintu kamarku dengan seragam lengkap yang sudah ku kenakan. Aku menuruni tangga dan melihat appaku, Kai sudah duduk di ruang makan sambil meneguk secangkir kopinya. Aku tersenyum kepadanya.

“Yuri-ah, apakah hari ini teman Sunny menginap?” Tanya appa kepada umma yang sedang menghampiri meja makan dengan selembar roti dengan sslai strawberry di atasnya.

“Tidak ada. Memangnya kena…AIGOO, ini Sunny kan?” Teriak umma yang bisa membuat semua pemilik telinga disini tuli.

Ne. ini aku, wae appa, umma?” Tanyaku keheranan. Apa yang salah denganku ini?

“Rambutmu digerai..” Kata appa.

“Seragammu lebih rapi..” Lanjut umma.

                “Lihat! Tasnya penuh! Berarti Sunny kita membawa buku!” Seru appaku dengan semangat. Dengan malas aku duduk di salah satu bangku di ruang makan ini.

“Apa aku salah bersikap layaknya perempuan?” keluhku, terkadang pasangan aneh alias kedua orang tuaku ini sangat aneh. Anaknya bersikap seperti perempuan sedikit saja dikomentarin seperti itu.

“Tidak! Lebih baik kau seperti ini.” Kata appa.

                “Iya, umma lebih menyukainya. Tapi.. YA! Kai! Jangan sampai kau suka dengan anakmu sendiri!” Teriak umma tiba-tiba. Sepertinya kecantikan umma sudah muali tersaingi, HAHA!

                “Ya! Yul! Neo michyesseo! Segila-gilanya aku, aku tidak akan menyukai anakku sendiri, baboya!” Kini appa menjitak kepala umma. Sedangkan umma hanya meringis kesakitan. Mereka seperti remaja yang tengah kasmaran saja.

Song sonsaengnim sedang menjelaskan materi baru sekarang. Padahal test untuk materi sebelumnya saja belum tapi sudah mengajar materi baru. Dengan konsen aku memerhatikan dia menjelaskan, sepertinya tidak terlalu susah. Kurang lebih hamper sama yang diajarkan lehMinseok kemarin malam.

“Baiklah, ada yang bisa menjawab pertanyaan di depan sini?” Pertanyaan Song sonsaengnim langsung membuyarkan konsentrasiku. Aku membaca soalnya sekilas dan AHA! Aku yakin aku bisa menyelesaikan soal itu.

“Apa tidak ada yang bisa? Minseok, kau tidak bisa?” Tanya Song sonsaengnim. Aku langsung menoleh ke Minseok.

Aniyo. Aku bisa. Hanya saja..aku ingin memberi kesempatan ini ke orang lain. Aku yakin dia bisa.” Jawabn Minseok itu langsung membuatku terpaku, kini matanya sudah menatapku. Aku yakin orang yang dia maksud itu aku. ‘Hwaiting’ kira-kira itu gerakan di mulutnya itu yang tidak mengeluarkan suara.

“Siapa yak kau maksud? Lee Sunny? Dia bisa?” Suarah Song sonsaengnim itu benar-benar menganggu. Seperti meremehkanku saja! Dengan cepat aku bangkit dari tempat dudukku, melangkahkan kakiku ke depan kelas, meraih spidol yang berada di meja guru dan mengisi jawaban itu.

Benar dugaanku, aku memang bisa mengejarkan soal ini. Aku memutar tubuhku agar dapat menghadap Song sonsaengnim itu. Aku tersenyum padanya.

“Bagaimana songsaengnim? Apakah jawabanku betul?” Tanyaku kepada Song sonsaengnim.

Daebak! Lee Sunny, baru pertama kali kau membuatku tercengang seperti ini!” Puji Song sonsaengnim. Aku tersenyum dan membungkukkan tubuhku sebagai tanda hormat.

                “Gamshahamnida sonsaengnim.”  Ucapku untuk membalas pujian Song sonsaengnim, sungguh! Aku sangat senang kali ini!

“Taeyeon-ah, ­Sica-ah!” Panggilku kepada dua teman terdekatku ini selain Sooyoung. Taeyeon menoleh ke arahku dengan senyumannya.

“Ada apa, Sunny?” Tanya Taeyeon. Aku berjalan lebih cepat dari sebelumnya untuk menghampiri tempat duduknya yang tidak jauh dari tempat dudukku.

Gwaenchaha. Aku hanya ingin mengajak kalian ke…..”

“Menjijikan!!” Oceh Jessica yang membuatku menghentikkan ajakanku untuk makan malam bersama hari ini di rumahku. Hitung-hitung merayakan keberhasilanku di mata Song sonsaengnim.

“Sica…” Panggilku kepada Jessica yang sekarang sudah menjauh dari tempat duduknya. Aku membeku, tidak bisa bergerak dari posisi berdiriku ini. Apa salahku sehingga Jessica bersikap itu kepadaku? Benar-benar tidak terpikirkan olehku.

“Sunny, gwaenchanayo?” Suara Taeyeon memecahkan pikiranku. Aku langsung menoleh ea rah Taeyeon yang sekarang sudah berdiri di hadapanku, berbeda dari sbeleumnya ktika dia masih duduk.

“Jessica.. dia kenapa?” Tanyaku. Taeyeon mengedikkan bahunya, sepertinya dia juga tidak tahu.

                “Mollaseyo.” Jawabnya singkat. Dia menepuk bahu kananku dengan salah satu tangannya. “abar ya.” Lanjut Taeyeon sebelum menghilang dari hadapanku.

Suara yang sangat nyaring khas bell itu murdering lama yang menandakan jam pulang sekolah. Aku merapikan buku-bukuku dan alat tulis lainnya untuk dimasukkan ke dalam tas lalu memikulnya ke punggungku, lumayan berat dari sebelum-sebelumnya berat tas ini yang hampir kosong.

“Sunny, mau pulang bersama?” Tawar teman sebangkuku, Sooyoung.

Aniyo. Aku ingin singgah ke toko buku dulu sebentar. Aku tidak mau merepotkanmu.”

“Kau ini bagaimana sih? Aku sedang ingin direpotkan olehmu.”

“Tapi, aku sedang tidak mau merepotkanmu…”

“Sudahlah, jangan paksa dia Soo!” Suara dingin Jessica itu benar-benar membuat hatiku berubah menjadi es saat itu juga. Aku menatap Soyoung yang sedang keheranan atas sikap Jessica yang bisa dibilang sedikit ‘aneh’.

“Jess..” Panggil seorang namja yang suaranya sangat familiar di pendengaranku, Minseok. Jessica memutar tubuhnya untuk melihat Minseok yang sekarang tepat dibelakangnya.

“Kenapa?” Tanya Jessica.

“Kau.. kenapa bersikap seperti itu dengan Sunny?” Tanya Minseok.

“Kenapa? Kau tidak suka?” Tanya Jessica balik. Minseok mengerutkan keningnya dan mendecakkan lidahnya.

“Kenapa kau seperti ini sih? Berbeda sekali.” Keluh Minseok. Aku bingung apa yang terjadi di antara mereka berdua, kenapa seperti ada rahasia diantara mereka?

“Ttarawa.” Perintah Minseok kepada Jessica sambil menarik tangannya ke luar kelas. Aku benar-benar tidak tahu apa yang mereka bicarakan disana. Apakah mereka sudah mempunyai hubungan khusus? Apa mereka sudah resmi sebagai sepasang kekasih? Ya! Lee Sunny! Kenapa pikiranmu kacau seperti ini?! Babo! Babo!

“Sunny?” Panggilan Sooyoung itu membuyarkan keMinseokku yang ku simpan di otakku. Aku menoleh ke arahnya.

“Ada apa?” Tanyaku.

“Kau yakin?”

                “Ne. Aku yakin. Maaf merepotkanmu.”

Aku berjalan menelusuri jalanan Seoul ini, mengapa sepi sekali? Biasanya ramai. Perjalan ke rumah masih jauh dan aku sudah mendapatkan buku rumus matematika dan kamus bahasa inggris di toko buku persimpangan jalan tadi.

Unnie.. Unnie..” Panggil seseorang. Aku celingak-celinguk kanan-kiri-depan-belakang mencari asal suara itu dan gotcha! Aku melihat seorang anak kecil yang tengah duduk di sebuah taman tak jauh dari tempat yang berdiri dan rumahku.

Unnie!!” Teriak sang yeoja kecil itu. Aku menoleh kanan-kiri lagi dan melihat ea rah yeoja kecil itu.

“Aku?” Tanyaku memastikan sambil menunjuk diriku sendiri.

Ne. aku memanggilmu unnie yang cantik.” Katanya sambil membetulkan topi bundar berwarna kuning yang menutupi kepalanya dari sinar matahari sore ini. Aku tersenyum kepadanya sambil berjalan mendekat kepadanya lalu berjongkok tepat di depannya.

Waeyo adik kecil?” Tanyaku sambil mencubit pipinya yang tembem itu.

Unnie, wajahmu itu tidak asing di mataku. Makanya aku memanggilmu.” Aku menatapnya bingung ketika dia berbicaya seperti itu.

“Tidak asing?” Tanyaku memastikan.

Ne. sepertinya aku sering melihatmu di kamar oppaku.” Kata yeoja kecil itu. Dia mengetuk-ngetuk dagunya seperti orang dewasa yang sedang berpikir. “Ya, benar! Di kamar oppaku.” Lanjutnya.

“Sia…..”

“Iya, bedanya hanya penampilanmu. Di kamar oppaku, tepatnya di bingkai fotonya rambutmu dikuncir dan kamu sedang tertawa lebar.” Kata yeoja kecil itu yang memotong pertanyaanku. Padahal aku baru saja mau menanyakan siapa oppa yang dia maksud.

“Sulli-ah!” Panggil seseorang yang tepat berada di belakangku. Suara ini…Minseok?

Oppa!” Baru saja aku mau menoleh ke belakang untuk memastikan apakah Minseok yang berada di belakangku tapi yeoja kecil ini berteriak menyebutkan ‘oppa’ yang membuatku terkejut dan jatuh di atas tanah ini.

Appo!” Keluhku. Menyempatkan diri untuk bangkit saja belum tapi sudah ada dua tangan dari belakang yang membangunkanku dari tanah ini. Aku berdiri dengan posisi membelakanginya sekarang. Aku memutar tubuhku untuk berhadapan ke namja yang menolongku barusan.

“Sun, gwaenchana?” Baru saja aku menatap matanya dan kini dia sudah bertanya, benar dugaanku, Minseok. Aku menatapnya tanpa menjawab pertanyaanya. Masih sibuk dengan pikiranku sendiri. Bagaimana bisa Seoul sekecil ini? Bertemu dengan adiknya Minseok disini? Aneh.

“A..aku baik-baik saja.” Ntah mengapa aku menjawab pertanyaanya itu dengan terbata-bata. Mungkinkah aku gugup?

“Baiklah. Hmm, kok bisa bersama Sulli?” Tanya Minseok yang membuatku terdiam seribu bahasa. Bagaimana bisa bahwa yeoja kecil ini yang bernama Sulli memanggilku karena tidak asing melihat wajahku yang ada di kamarmu, Minseok-ah?

“Sulli, nuguya?” Tanyaku pura-pura tidak tahu.

“Sulli itu adikku. Sini, sayang!” Suruh Minseok pada Sulli yang berada di sampingku sedari tadi.

“Oh, dia adikmu.” Kataku.

Oppa, unnie ini cantikkan?” Tanya Sulli kepada Minseok.

“Sangat cantik.” Jawab Minseok yang berhasil membuat jantungku berdetak diatas kecepatan rata-rata.

Oppa, gendong aku. Aku ngantuk.” Suruh Sulli, Minseok mengangguk dan meraih Sulli ke punggungnya. Tapi, ah tasnya…

“Biar aku saja.” Aku langsung melepaskan tas Minseok sebelum Sulli naik ke punggungnya. Aku memeluk tasnya erat-erat. Benar-benar kesempatan berharga.

Kini kami sedang berjalan ke rumah kami masing-masing. Perkiraanku sih sebentar lagi sampai karena letak taman tadi dan rumah kami tidak jauh. Aku menengok ea rah Sulli yang sekarang tertidur pulas di punggung Minseok. Aku juga mau seperti itu.

“Kenapa Sun?” Pertanyaan Minseok itu membuat acara berkhayalku yang sedang digendong oleh Minseok seperti Sulli ini terganggu.

“Tidak. Tidak apa-apa.” Jawabku.

“Yakin?”

“Ne.” Setelah kata itu keluar dari mulutku tidak ada suara lagi. Kami hanya berjalan dan ditemani suara langkah kompak kami di sepanjang jalan ini sampai di rumah Minseok.

Gomawoyo, Sun. Mian merepotkanmu.” Kata Minseok yang baru kluar dari rumahnya tanpa Sulli dipunggungnya dan menraih tasnya yang sedari tadi aku pegangi.

“Tidak apa-apa.” Balasku. Aku tersenyum ke Minseok sebelum meninggalkan kalimat yang ingin aku ucapkan sebagai penutup hari ini dengannya.

Annyeong.” Kataku sambil mebalikkan badanku dan mau melangkahkan kakiku ini ke rumahku.

“Sun.” Panggil Minseok lagi. Aku menoleh ke arahnya. Wajahnya yang tampan itu terhalang oleh matahari sore yang berwarna oranye itu. Terang sekali.

Ne?

“Besok. Semangat untuk besok. Jangan tidur malam. Besok pagi sarapan. Aku tidak mau rekanku kenapa-napa besok.” Katanya. Setelah mendengar kalimat itu aku langsung berpikir, peduli. Apa dia peduli akan aku?

                “Ah, yah. Okay.” Balasku lalu segera berlari dan memasuki rumahku.

Sepatu. Sepatuku. KYAAAAAAA! Sepatuku dimana? Sepatu kesayanganku pemberian dari Sooyoung ketika aku ulang tahun beberapa bulan yang lalu tiba-tiba lenyap di rak sepatu rumahku. Aigoo, itu sepatu keberuntunganku. Aku harus memakainya untuk perlombaan hari ini agar aku bisa menang. Dimana?!!

Umma!” Teriakku.

“Kenapa Sunny?” Umma muncul dengan celemek yang biasa dipakai ketika orang memasak.

“Kau lihat sepatuku? Berwarna putih, ah, seharusnya kamu sering melihatnya. Aku baru memakainya sekitar seminggu yang lalu ketika jogging.”

“Sepatu? Sepertinya ada di luar deh. Eh maksud umma di teras depan. Bukan di luar rumah yah.” Jelas Umma. Aku mengangguk sebagai tanda aku mengerti lalu segera ke teras rumah dan melihat apakah sepatuku disana atau tidak dan ya! Selamatlah riwayatku!

                Aku langsung memakai sepatuku dan menguncir rambutku dengan karet gelang yang sedari tadi melingkar di lengan kiriku lalu membuka pintu dan melesat langsung ke sekolah. Tidak teringat lagi di benakku untuk sarapan. Sarapan saja di sekolah.

Aku memasuki kelasku ini ditemani suara iringan bell sekolah yang mengganggu itu. Dengan cepat aku menghampiri tempat dudukku dan mengatur nafasku yang tak beraturan lalu membenarkan kunciran rambutku.

“Sun.” Panggil seseorang yang tak jauh dariku, Minseok. Karena hanya dia yang memanggilku seperti itu. Aku menoleh ke arahnya sambil memberikan ekspresi ‘kenapa?’. Bukannya cuek, tapi aku benar-benar lelah karena berlari dari rumah ke sekolah.

“Kau terlambatkan? Pasti tidak sarapankan?” Tanya Minseok memastikan sambil berjalan ke arahku. Aku menyunggingkan senyumku.

Ne. aku mencari sepatu ini sedari tadi. Jadi terlambat. Mianhae.” Jawabku sambil menghentak-hentakkan kakiku ini.

Aigoo. Sudah kutebak.” Kata Minseok. Setelah dia mengatakan itu dia langsung menarik lenganku ke luar kelas. Aku tidak protes sama sekali. Kalau aku protes pasti aku bisa diocehi lagi. Jelas-jelas aku yang salah sampai terlambat dan tidak sarapan. Padahal dia sudah mengingatkanku.

“Kamu tidak bingung aku akan membawamu kemana?” Tanya Minseok tiba-tiba. Aku menggelengkan kepalaku.

                “Sarapan.” Kata Minseok singkat.

“Makanlah. Aku sudah makan tadi.” Kata Minseok sambil memberikan semangkuk bubur ayam kepadaku yang sedari tadi duduk menunggu kedatangannya di kedai kecil ini.

“Tapi aku tidak membawa uang.” Kataku. Memang benar, uangku di dalam dompet dan dompetku di dalam tasku.

Gwaenchana. Bukankah waktu itu kau menraktirku? Sekarang giliranku. Cepat habiskan buburnya agar kita bisa mengikuti acara nanti.” Jelasnya panjang lebar. Aku memasukkan sesendok bubur itu ke mulutku. Ah, mashita.

“Lu, aku senang.” Kataku tiba-tiba. Kening Minseok berkerut yang sepertinya tidak mengerti apa yang aku katakana. Akutersenyum ke arahnya.

“Aku senang. Ternyata kau peduli akan aku.” Lanjutku. Tiba-tiba aku merasa rambutku diacak-acak oleh tangan kanannya itu. Rambutku berantakan. Bagaimana ini? Pasti penampilanku jelek!

                “Ne. Aku peduli dengan gadis yang baik dan cantik. hm, dan juga pintar.” Katanya. Tiba-tiba otakku terasa dipukul oleh palu. Aku baru ingat bahwa besok adalah hari ujian dari Song sonsaengnim. Matilah riwayatku!!

“Apakah semua pengarahan tadi sudah jelas? Jika sudah jelas acara akan segera dimulai.” Tanya pemandu perlombaan yang berada di depan lapangan sekolahku ini. Semua murid serempak menjawab iya dengan kompak seperti choir yang akan menyanyi di acara natal. Mungkin sebentar lagi perlombaan ini akan resmi dimulai dan aku dengan Minseok harus memenangkan perlombaan ini.

Aku berjalan ke bangku di lapangan ini. Bangku panjang yang berwarna coklat. Aku duduk di atasnya dan memejamkan mataku sejenak. Menenangkan pikiran dan hatiku sebelum perlombaan ini dimulai.

“Sunny!” Teriak seseorang yang menganggu acara menenangkan diriku ini. Aku menoleh ke asal suara tersebut dan Jessica?! Bukannya dia sedang marah denganku?

“Sunny! Bogoshipo.” Katanya seraya memelukku dari belakang. Aku bangkit dari tempat dudukku dan menghadap ke Jessica sekarang.

“Sica, kau kenapa?” Tanyaku heran. Tiba-tiba dia tersenyum kepadaku. Dia kenapa? Aneh sekali.

Gwaenchana. Kau harus memenangi  perlombaan itu ya, hwaiting!” Semangatnya. Aku memegang kedua pundaknya.

“Kau kena….”

“Sekali lagi kau tanyakan itu padaku, aku akan bersikap dingin lagi terhadapmu. Bagaimana?” Tanya Jessica sambil memberikanku death glarenya yang berhasil membuatku bergidik ngeri.

                “Baiklah. Gomawoyo.” Ucapku sambil memeluknya. Walaupun aku tidak tahu kenapa dia marah dan tiba-tiba sebaik ini itu ea rah.

Kini kakiku dan kaki Minseok sedang diikat dengan tali olehnya. Lalu Minseok bangkit berdiri dari acara mengikat tali yang sekarang sudah mengikat salah satu kakiku dan kakinya.

“Kita harus menang!” Ucap Minseok semangat. Aku tersenyum dan mengangguk. Tiba-tiba Minseok menggenggam tanganku. Rasanya jantungku sudah copot dari tempatnya.

“Menang!” Ucapnya sekali lagi. Aku hanya mengangguk kikuk. Sejak kapan seorang Minseok yang hidupnya hanya dengan buku itu bisa melakukan hal seperti ini? Benar-benar hal yang mengherankan.

“Kalian harus menang, ne?” Tiba-tiba aku mendengar suara kompak dari Taeyeon, Jessica, dan Sooyoung dari belakang aku dan Minseok. Dengan refleks kami menoleh ke belakang kami untuk membalas pertanyaan mereka itu.

“Kami pasti menang!” Ucap kami bersamaan sambil mengangkat tangan kami yang dikepalkan yang biasanya dilakukan orang untuk menyemangati orang lain atau diri sendiri.

“Baiklah, semua peserta lomba lari pasangan sudah harus berada di posisi masing-masing!” Kata pemimpin perlombaan menggunakan alat pengeras suara. Aku dan Minseok langsung berjalan dan mengambil posisi kami.

Sekarang kami sudah berada diposisi kami. Kami berlutut untuk mengambil posisi pelari. Minseok menoleh ke arahku dan tersenyum, senyuman yang berhasil membuatku jatuh cinta dengannya. Akupun membalas senyumannya. Tiba-tiba terdengar suara keras dari pistol yang menandakan perlombaan lari pasangan ini sudah mulai. Aku dan Minseok berlari, berlari sekompak dan secepat mungkin dengan hati-hati. Aku sempat menoleh kepada tangan yang tengah melingkar di pinggangku ini. Aku tahu ini tangan Minseok, senang sekali rasanya.

“Ah!” Tiba-tiba kakiku terasa sakit, rasanya seperti terkilir. Karena aku melihat tangan Minseok yang sedang memeluk setengah pinggangku, aku jadi salah langkah. Ceroboh, Sunny ceroboh! Spontan Minseok yang mendengar itu langsung berhenti, kami berhenti di tengah jalur perlombaan sekarang.

“Sun!” Panggilnya.

“Kita harus menang!” Ucapku sambil menarik tangannya. Dengan kaki yang sedikit terseok kami berlari. Lagi-lagi dia memeluk setengah pinggangku, tapi aku tidak boleh melihat tangan Minseok yang indah itu lagi! Bisa-bisa kami jatuh bersamaan. Tapi, aku merasa tanganku ditarik untuk memegang pundak Minseok. Omo, apakah ini secara tidak langsung kami berpelukkan?

“Pemenangnya adalah Minseok dan Sunny!!” Aku tersentak ketika mendengar suara itu. Aku dan Minseok menang? Berarti aku dan Minseok sudah di?

“Sun! Kita menang!” Kata Minseok sembari memelukku. Bahkan dia menggendong tubuhku dan dibawanya memutar bersamanya.

CHUKKAE!!” Lagi-lagi terdengar suara dari Taeyeon, Jessica, dan Sooyoung. Minseok langsung menurunkanku dan membungkukkan badannya kepada mereka.

Gomawo. Jeongmal gomawo!” Katanya. Aku benar-benar bingung. Jadi aku dan Minseok sudah menang? Kita sudah melewati garis finish? Tapi kenapa aku tidak menyadarinya sama sekali? Ah, Sunny babo!

“Sunny, kau kenapa?” Tanya Sooyoung khawatir. Aku mengernyitkan keningku. Aku, kenapa?

“Sunny! Gwaenchanayo?” Kini Jessica dan Taeyeon yang khawatir. Mereka menghampiriku dan memegang kedua bahuku.

“Aku kena…? Ah, kakiku!” Keluhku ketika mengingat kakiku tadi terkilir.

Aigoo, saat seperti ini saja kau bisa lupa kalau kau cedera?” Tanya Taeyeon.

“Sunny tidak pernah berubah.” Lanjut Jessica.

“Butuh tumpangan?” Tawar Sooyoung. Ah, mereka ini terlalu mengkhawatirkan aku. Tapi, eh, Minseok mana?

“Kau pulang dengan Sooyoung saja, okay? Kau sedang cedera, Sun.” Tiba-tiba Minseok yang sedari tadi diam dan ditutupi oleh tiga yeoja ini akhirnya mengeluarkan suaranya juga.

“Tapi, kau? Bagaimana?” Tanyaku kepada Minseok.

Gwaenchana. Aku bisa sendiri. Besok ada test dari Song sonsaengnim. Perlu belajar bersama lagi?” Tanya Minseok.

“Tidak usah, gomawo Minseok-ah.” Balasku.

“Yasudah, Sunny, ayo kita pulang!” Ajak Sooyoung sambil menarik tanganku. Jessica dan Taeyeon juga membantuku berjalan.

                “Bye Minseok!” Kata kami bersamaan sedangkan Minseok hanya melambaikan tangannya kepada kami lalu berlari memasuki lapangan lagi. Sepertinya dia harus mewakili aku untuk mendapatkan piala karena perlombaan tadi.

“Sunny! Kau kenapa?” Suara melengking milik umma itu membuat pendengaranku berdenging hebat. Baru saja masuk pintu rumah tapi sudah mendapat sambutan seperti itu.

“Terkilir. Aku baik-baik saja. Hanya perlu di kompras.” Jawabku. Umma langsung menghampiriku dan membantuku berjalan hingga ke kamar dan membantu membaringkan tubuhku di atas kasurku.

Umma ambilkan air panas dan handuk dulu yah. Tunggu sebentar.” Perintah umma lalu langsung keluar dari kamarku. Tiba-tiba aku teringat kejadian tadi, kejadian ketika Jessica menyemangatiku dan Minseok yang menggendongku. Benar-benar diluar akal sehat. Mengapa mereka bersikap aneh? Apa Jessica salah paham dan akhirnya sadar?  Dan Minseok? Dia kenapa? Aneh sekali tiba-tiba menggendongku seperti itu. Well, kita memang menang. Tapi, apakah harus dia bersikap seperti itu?

PYURURU! FIVE! SIX! SEVEN! EIGHT!

                PARARA PARARA

                Nada dering panggilan masuk di ponselku berbunyi, aku langsung mengeluarkannya dari saku celanaku dan mengangkat panggilan tersebut.

“Yeobosseyo?”

“Sun?”

“Minseok?”

“Kau bisa menebakku? Hahaha, hebat sekali.”

“Yang memanggilku dengan sebutan itu hanya kau, Lu. Haha, ada apa?”

“Bagaimana? Kau baik-baik saja?”

“Ya, aku sudah mulai membaik. Ada apa?”

“Tidak. Jaga dirimu baik-baik, ne?”

“Okay, ada lagi?”

“Besok ea rah test, aku mau kita bertaruh.” Suara Minseok tiba-tiba terdengar dingin yang langsung mengubah telingaku menjadi es seketika.

“Bertaruh? Aku pasti kalah, kau jauh lebih pintar dari padaku.”

“Kalau ada niat pasti bisa.”

“Tapi..”

“Hadiahnya lumayan loh.”

“Apa maksudmu?”

“100 permintaan.”

“Se..seratus?!!” Aku benar-benar tersentak ketika dia mengatakan 100 permintaan. Mau sampai kapan permintaan itu habis? Sampai aku jadi bau tanah, eoh?

“Ne, seratus. Sudah dulu ya, aku mau belajar supaya bisa menang. Jangan sampai tidak masuk besok! Jangan coba-coba kabur!” TUT!  Itu suara yang menyusul suara Minseok tadi. Keterlaluan! Dia yang membuat semua taruhannya dan langsung mematikan sambungan seperti itu?!

“Aku bisa gi……”

“Sunny? Kau kenapa berteriak seperti itu?” Tiba-tiba umma masuk ke kamarku dengan sebuah wadah yang menampung air panas yang masih menguap dan sebuah handuk di tangannya sambil memotong perkataanku.

                “Gwaencaha umma.

Buku paket dengan judu depannya ‘MATEMATIKA’ sudah berada di depan mataku sekarang. Langkah yang harus aku pilih setelah ini adalah membukanya atau menruhnya ke dalam tasku? Matematika sudah membuatku gila! Lebih tepatnya Minseoklah yang membuatku gila! Kalau dia tidak membuat taruhan sampah seperti itu aku tidak akan sepanik sekarang!

Belajar! Ya, aku harus belajar agar bisa mendapatkan 100 permintaan itu! Ya, harus!!

“Huaaa! Umma, kakiku sakit! Aku tidak bisa jalan ke sekolah.” Keluhku yang sekarang berada di ruang tamu rumahku. Aku tidak bisa belajar sama sekali kemarin! Pasti aku bisa kalah! Karena Minseok pikiranku jadi bercabang, ah! Minseok! Aku membencimu!

“Ada appa yang bisa mengantarmu dengan mobil, sayang.” Kata umma. Memang benar, tapi aku tidak mau masuk!

“Aku tidak bisa berjalan ke mobil appa, umma.” Balasku.

“Ya!! Kau bisa turun tangga tapi tidak bisa berjalan ke mobil appamu?!!” Tanya umma dengan suara yang sangat amat keras. Tanpa menyahut aku langsung berjalan ke mobil appa yang sudah menunggu di depan rumah. Tentu saja dengan kaki yang terkilir, menyedihkan.

“Sunny, kenapa masuk” Suara khas milik Jessica masuk ke dalam pendengaranku. Aku yang sedari tadi duduk di tempat dudukku langsung menengok ea rah btempat duduknya.

“Sudah membaik kok. Hm, apa kau sudah belajar?” Tanya aku balik.

“Sudah kok. Kenapa?” Tanya Jessica lagi.

“Tidak apa-apa.” Jawabku lalu memfokuskan pikiranku kepada buku matematika yang ada didepanku sekarang.

“Kau mau kabur kan?” Tiba-tiba ada suara di depanku, pasti Minseok! Aku menengok ke arahnya, benar! Orang itu Minseok.

“Tidak kok.” Jawabku dengan yakin.

“Yakin? Aku mendengar teriakkan ummamu tadi pagi.” Kini dia tersenyum penuh  kemenangan. Ah, bodoh Sunny! Sunny bodoh!!

“Baiklah. Benar aku mau kabur dari taruhan kita yang menurutku tidak penting itu. Tapi sekarang aku sudah disini kan? Aku tidak akan kabur!” Balasku.

“Hahaha! Ekspresimu lucu sekali Sun!” Suara tawa itu benar-benar garing.

“Ya! Kau sengaja ya?! Kau mengangguku agar aku kalah kan? Aku mau belajar! Jangan ganggu aku dulu!” Teriakku sambil memukul-mukul buku yang ada di depanku. Minseok bukannya takut karena teriakkanku malah kembali ke tempatnya sambil tertawa. Benar-benar keterlaluan.

“Sunny?” Kini suara Sooyoung yang kudengar. Kenapa hari ini semua orang benar-benar menganggu?

“Ada apa Sooyoung?” Tanyaku malas.

“Kau tahu kenapa Minseok tertawa?”

“Kenapa?”

“Hi..hidungmu kembang kempis selama kau meneriakkinya tadi. Haha!” Kini Sooyoung juga mengeluarkan tawanya. Apa yang dikatakan Sooyoung tadi benar? Ah, hidungku!

“Baiklah anak-anak. Semua lembar soal dan jawaban sudah dibagikan. Kerjakan baik-baik dan jangan mencontek!!” Perintah Song sonsaengnim yang berada di depan kelas kami. Tanpa menyahut seluruh murid sudah memburu lembar kertas yang berada di depan mereka. Aku menoleh kanan-kiri. Bisa kulihat Minseok yang sedang serius dan ea ra menjawab seluruh soal dari Song sonsaengnim, Jessica yang sangat jelas sudah paham dan mengerjakannya seperti tidak mengedip, Taeyeon yang sedang memainkan pensil dan pennya, danb Sooyoung yang sedang tidur sekarang. Ah, sedangkan aku? Masa bodoh, aku harus mengerjakannya dan harus menang dari taruhanku bersama Minseok!

Semua lembar jawaban sudah ditangan Song sonsaengnim. Kini dia tengah memeriksa semua jawabannya. Maklum, dia guru yang hebat, aku akui itu. Aku memerhatikan murid satu persatu. Ada yang cemas, tenang, takut, dan masih banyak lagi. Berbeda dengan namja itu, Minseok. Dia malah memberiku smirk yang sangat aneh.

“Jessica 100.” Tiba-tiba terdengar suara khas guru hebat itu dari depan. Aku langsung bergidik ngeri. Pemberitahuan nilai sudah dimulai, aku dapat berapa?

“Taeyeon 50.” Kini Taeyeon mengelus-elus dadanya. Terlihat sekali kalau dia lega sekarang. 50? Nilai 50 dia dapatkan dengan cara bermain pensil dan pen. Mantra mana yang kau pinjam dengan Harry Potter, Taeyeon-ah?

“Minseok 95.” Aku langsung menoleh ea rah Minseok, dia pun begitu. Matanya penuh dengan harapan, akupun begitu. Harapan kami sama. Harapannya adalah kau yang kalah.

“Mungkin ini sebuah keajaiban. Sunny 100.” Apa? Itu yang dikatakan oleh guru itu benar?

“Maaf Song sonsaengnim, apakah anda tidak keliru dengan angka atau namanya?” Ntah mengapa dan darimana keberanian dari mulutku untuk berbicara seperti itu.

“Tidak ada Lee Sunny. Selamat atas nilai seratusmu.” Kata Song sonsaengnim. Aku langsung menengok ke Minseok dengan senyum penuh kemeangan.

“Aku menang.” Kataku tanopa mengeluarkan suara.

“Baiklah. Apa permintaan pertama dari seratus permintaanmu itu?” Tanya Minseok yang kini duduk di bangku Sooyoung. Jam sekolah sudah usai, tapi aku dan Minseok maish duduk disini berdua.

“Pertama, kau harus menggendongku sampai ke rumah.” Kataku dengan penuh keyakinan.

“Menggendongmu?” Tanya Minseok tak percaya.

“Iya, menggendongku. Aku sedang terkilir.” Balasku.

“Baiklah..” Kini dia melepas ranselnya lalu memakai ransel itu dari depan. Setelah itu dia berjongkok di depanku.

“Naiklah.” Suruhnya. Aku tersenyum, masa-masa seperti ini yang sering ku tonton di drama dank u baca di novel. Akhirnya, aku dapat merasakannya. Tanpa basa-basi, tanpa rasa ragu, dan tanpa rasa malu aku langsung menaruh semua beban tubuhku dan ranselku di punggungnya.

“ARGH!” Erangnya. Ish, apakah segendutkan itu aku?

“Tubuhmu tulang semua ya? Punggungku sakit! Tulangmu menusuk, babo!” Lanjutnya. Aku mengetuk kepalanya.

“Ya! Kau mengatai manusia yang mendapatkan nilai 100 dengan babo?” Balasku.

“Maaf! Sudahlah, ayo pulang!” Ajaknya. Aigoo, benar-benar kenangan indah. Terima kasih Tuhan sudah membuat kakiku terkilir.

“Sudah sampai.” Minseok menurunkanku dari punggungnya. Kenapa dia berjalan secepat itu sih? Aku masih ingin berada di punggungnya! Minseok meluruskan punggungnya. Terdengar suara tulang yang terdengar seperti ‘kretek-kretek’ dan memutar ranselnya ke punggungnya lalu bersiap ke rumahnya.

“Lu!” Panggilku. Aku masih mau bersamanya.

“Ada apa?” Dia memutar badannya dan akhirnya berhadapan denganku.

“Permintaanku kedua adalah kau harus mendengar semua permintaanku.”

“Baiklah, aku akan mendengarkannya.”

“Permintaan ketigaku adalah kau harus menggendongku lagi besok ketika pergi ke sekolah.”

“A..apa? bukankah appamu bersedia mengantarmu dengan mobilnya? Kenapa menyuruhku?”

“Ini permintaanku Kim Minseok.”

“Okay.” Kini Minseok terlihat pasrah. Apa dia tidak senang menggendongku? Aku.. aku ingin sekali digendong dia.

“Permintaan keempatku adalah…” Aku menggantungkan perkataanku. Dia langsung menatapku dengan tatapan penasarannya. Apakah sebegitukah mau taunya dia?

“Aku ingin Sembilan puluh lima permintaanku dihanguskan. Berarti sisa 1 permintaan.”

M..MWO? Dihanguskan? Sayang sekali. Kenapa tidak membaginya bersamaku, huh?” Protes Minseok dengan raut wajah yang sangat lucu! Rasanya aku ingin meledakkan tawaku sekarang.

“Lebih baik aku hanguskan daripada ku bagi bersamamu.” Balasku dan kini Minseok menatapku dengan sangat erhh.aneh. Aku merasa ingin diterkam olehnya.

“Baiklah. Jadi apa permintaan terakhirmu?” Tanya Minseok.

“Permintaan terakhirku adalah..”

“Apa?”

“Tapi.. Jangan marah padaku,ne?

“Iya, apa permintaan terakhirmu itu?” Baiklah. Aku harus mengatakannya. Resiko terbesarnya adalah dia tidak akan nyaman bersamaku. Tapi, ini semua untuk kebahagiaanku sendiri. Maafkan aku, aku adalah Sunny. Yeoja yang egois.

“Mungkin ini egois. Tapi, permintaan terakhirku adalah kau menjadi milikku, seutuhnya.”

Aku langsung membeku di tempat. Minseok pun begitu. Suara guntur dari langit menjadi backsound kami. Sepertinya, hujan sebentar lagi turun. Kini aku tengah menatapnya. Well, pandangannya terarah kepada sebuah jalanan kosong yang tepat di sebelahnya. Ah, rasanya menyesal sudah berkata seperti itu. Sunny itu bodoh. Sunny selalu bodoh. Sunny tidak pantas untukmu, Kim Lu…..

“Itu bukan keegoisan.” Tiba-tiba Minseok mengeluarkan suaranya lalu menatapku.

“Aku juga menginginkan itu. Jadi itu bukanlah sebuah keegoisan.” Lanjutnya. Aigoo, apakah tandanya Minseok juga menyukaiku? Tanpa sadar aku menaikkan pipiku yang didorong oleh kedua ujung bibirku. Aku tersenyum mendengar jawabannya.

“Jadi kau…” Sebelum aku menyelesaikan ucapanku hujan sudah turun membasahi kami. Ntah apa yang dipikiran Minseok, dia langsung meneduhi kepalaku dan kepalanya menggunakan ransel sekolahnya. Sekarang wajahku dan wajahnya…. hanya berjarak beberapa centi. Minseok, dia nekad juga.

“Sun, aku mau menjadi milikmu seutuhnya, selamanya. Saranghae..

***

OTHER STORY

“Jess, ayolah kali ini saja.” Mohon Minseok kepada teman sekelasnya sekaligus saudaranya itu. Memang tidak ada yang mengetahui bahwa dua insan ini adalah saudara jauh.

“NO! BIG NO! Resikonya besar! Bisa-bisa Sunny marah dan tidak mau bicara denganku!” Tolak Jessica mentah-mentah.

“Tidak mau menolongku? Baiklah, aku bisa telepon Kris sekarang untuk membatalkan acara menonton kalian nanti malam.” Ancam Minseok yang membuat Jessica melebarkan kedua matanya.

“Ya! Kau tau dari mana?” Tanya Jessica. Sedangkan Minseok malah mengeluarkan ponselnya dan bersedia untuk menelepon Kris.

“Baiklah.. apa maumu?” Akhirnya Jessica mengalah demi acara menontonnya dengan Kris, teman Minseok yang baru datang dari China itu telah membuat Jessica jatuh hati pada pandangan pertama.

“Berpura-puralah kau menyukaiku. Dengan itu aku bisa tahu jika Sunny mencintaiku atau tidak.”

SHIREO! Kalau aku menyukaimu sungguhan bagaiamana?” Tanya Jessica yang membuat Minseok menjitak kepalanya dengan cepat.

“Bodoh! Tidak mungkin! Pesona Kris lebih hebat dibanding diriku. Pasti kau akan memilih Kris.”

“Kau.. akhirnya menyadarinya juga! Hahaha.”

“Well, setelah itu kita lihat respon Sunny. Jika Sunny tidak merespon kita sudahi saja. Kalau hal sebaliknya terjadi, kita lanjutkan. Kita lanjutkan sandiwara aneh ini yang akan membuatku menyadari perasaan Sunny sesungguhnya. Okay?”

“Okay, Kim Minseok.”

THE END

13 thoughts on “Oneshot : 100

  1. keren thor ff’y…..awal’y cinta memang karena selalu bertemu…hihihihi
    seru juga ya kaya pacaran’y sunny eonni m xiumin oppa….bias ketemu tiap hari karena rumah’y deket2n…hihihihihi ^^

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s