[Freelance] My Little Peterpan (Chapter 7)

My Little Peterpan

My Little Peterpan (Chapter 7)

Author             :  _agrn

Main Cast        : Taeyeon and Tao

Other Cast       : Sehun, Yoona, Luhan, Seohyun, Baekhyun, Kyungsoo, Tiffany, Sooyoung

Genre              : Romance, Friendship, Family, Comedy

Rate                 : PG 14

Length             : Multichapter

A/N                 : Annyeong readers~ udah chapter 7 ajah nih, wkwk. Nah, FF ini udah mau tamat ‘-‘)~ mungkin satu atau dua chapter lagi tamat’-‘ wkwk makasih banyak yang udah menyempatkan waktu buat baca ff ini dan makasih juga buat yang ninggalin komen atau yang masih jadi siders’-‘

Gak banyak bacot, DON’T LIKE DON’T READ dan Happy Reading yah~

oOoOoOo

“Beijing?”ucap Taeyeon dengan nada dan pandangan tak percayanya. “Anda serius?”

Ahjumma itu menganggukkan kepalanya. “Ya, sekarang aku yakin sendiri. Kemarin baru saja ada orang kepercayaan Tuan yang datang membawakan hal-hal yang diperlukan Tuan Tao seperti passport dan lain-lain”

Taeyeon menghela nafasnya. Ia mengigit bibir bawahnya. Ia tidak mengerti. Kenapa Tao melakukan ini? Apa ia masih ingin menjauh dari Taeyeon? Tapi… bukankah tadi mereka sudah berbaikan? Bukannya Tao sudah mendengarkan perkataannya? Dan Tao sendiri yang tadi bilang bahwa mereka sudah menjadi pasangan secara tidak langsung.

“S…Selain ingin belajar menjadi pebisnis… apa ia punya alasan lain? Apa mungkin… ia menghindari sesuatu..?”

Yeoja paruh baya itu terlihat berpikir sejenak. “Ini… perkataan pelayan pelayan lain. Mereka bilang Tuan pernah bicara pada temannya bahwa dia sedang ingin pergi sebentar untuk menghindari seorang yeoja. Tuan bilang percuma dia berada disini kalau tujuannya tidak akan tercapai lagi”

Setelah mengatakan itu, Ahjumma dan Seohyun pergi dari sana. Meninggalkan Taeyeon yang mematung dan tak lama kemudian terduduk. Pandangannya masihlah pandangan kaget dan tidak percaya.

“Thonthaengnim? Thonthaengnim tidak apa-apa?”tanya Sehun polos seraya mengenggam jemari Taeyeon. Wajahnya terlihat khawatir, begitu juga dengan Baekhyun, Luhan dan Yoona yang segera mengerubungi Taeyeon.

Namun rasa sakit dan rasa sesak itu membuat air mata Taeyeon jatuh sedikit demi sedikit. Taeyeon menutupi wajahnya. Rasanya sesak sekali… ia baru saja berharap kalau setelah ini dia dan Tao tidak akan memiliki masalah lagi. tapi sekarang… Tao justru pergi.

“Sonsaengnim… Sonsaengnim kenapa?”tanya Yoona dengan air mata yang telah keluar dari pelupuk matanya. Ia tak tahan melihat ada orang yang menangis. Ia pasti akan ikut menangis. Apalagi jika orang itu adalah orang yang dekat dengannya. Bahkan Luhan, Baekhyun dan Sehun yang ada disana juga menitikan air mata.

“Sonsaeng.. Sonsaeng ada masalah??”tanya Luhan seraya duduk dihadapan Taeyeon.

“Sonsaengnim… j..jangan menangis…”ujar Baekhyun sesegukan.

Sadar bahwa ia telah menangis dihadapan murid-muridnya, Taeyeon segera menyeka air matanya dan tersenyum. “Tidak, Sonsaengnim tidak apa-apa kok. Mata Sonsaengnim kemasukan debu…”ucap Taeyeon. Dia tidak boleh menunjukkan raut sedihnya pada anak-anak itu.

“Sonsaengnim tidak bohong?”tanya Yoona sekali lagi seraya menggenggan tangan Taeyeon. “Taeyeon Sonsaengnim… tangan sonsaengnim bergetar..”

Taeyeon sadar kalau tubuhnya tidak bisa menahan air matanya lagi, maka dari itu tubuhnya bergetar. Dan dia juga sadar kalau air matanya akan kembali tumpah. Maka dari itu ia segera berdiri dan mengambil ponselnya. Ia menghubungi Tiffany. “Fany-a… jemput aku di playgroup. Tolong”

oOoOoOo

Tiffany tidak habis pikir. Ia tadi sedang bermesraan dengan Joonmyun dan tiba-tiba saja Taeyeon meneleponnya. Sahabat baiknya itu menghancurkan momen dimana Joonmyun akan memberinya kecupan manis itu… lagi.

Tapi, mendengar nada tertekan dan suara Taeyeon yang sedikit aneh tadi, Tiffany sedikit khawatir. Maka dari itu ia sekarang sudah ada didalam mobilnya dan mengemudikannya kearah playgroup tempat Taeyeon mengajar. Ia yakin Taeyeon akan menangis ketika sudah berada bersamanya. Mungkin Taeyeon tidak ingin menangis didepan muridnya, makanya dia ingin segera pergi.

Tiffany menghela nafasnya. Terkadang Tiffany merasa lebih mengerti Taeyeon dibanding Taeyeon sendiri. Entah kenapa sekarang Tiffany merasa Taeyeon sedang sakit hati atau semacamnya. Yang jelas penyebab dia menjadi seperti pemikiran Tiffany tadi adalah seorang namja.

Namja bermata panda.

Tao.

Apa mungkin Taeyeon memang benar? Namja yang lebih muda dari umurnya tidak akan baik. Apa mungkin ini yang dimaksud Taeyeon? Tiffany merasa sedikit bersalah karena pernah memaksa Taeyeon untuk menyingkirkan pendapatnya itu.

Tapi… memang tidak semua namja yang lebih muda itu buruk. Contohnya Joonmyun. Dia sangat dewasa, walau perbedaan umurnya dengan Tiffany adalah 2 tahun. Well… Si Mata Panda itu berbeda 4 tahun dengan Taeyeon. Dan… ah sudahlah. Tiffany harus fokus ke jalanan.

Tak lama kemudian, Tiffany sudah memakirkan mobilnya didepan pintu gerbang playgroup. Taeyeon sudah menunggu didepan dan yeoja itu langsung masuk ke mobil Tiffany. Begitu masuk, Taeyeon segera menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dan terisak pelan. Benar pemikiran Tiffany, Taeyeon memang sedang punya masalah dan ingin menangis.

“Kau kenapa, Taeyon-a?”tanya Tiffany halus.

Taeyeon masih sesegukan. Yeoja itu baru sedikit tenang 3 menit kemudian. Setelah itu pun dia masih menstabilkan nafasnya yang terengah-engah dan menghapus air matanya. “Menangis itu melelahkan… sekarang aku lelah”ujar Taeyeon seraya terkekeh.

“Kau belum menjawab pertanyaanku”

Taeyeon tahu ia tidak bisa mengecoh Tiffany. Yeoja mengulas senyum kecil lalu menatap lurus ke depan. “Aku… akhirnya sadar bahwa aku menyukai Tao”

“Ya, aku tahu itu. lalu?”tanya Tiffany.

“Tadi, di sekolah aku memancingnya agar mengatakan apa maksudnya dengan kata-katanya… dan akhirnya aku keceplosan… aku mengatakan bahwa aku menyukainya. Sepertinya ia senang, ia langsung berubah menjadi Tao yang dulu. Tao yang ceria. Tapi… aku mendapat kabar… kalau dia sedang bersiap untuk pergi ke Beijing…”Semakin ke akhir, volume perkataan Taeyeon semakin mengecil. Suaranya digantikan lagi oleh isakan dan sedikit air mata.

Tiffany sendiri menutup matanya namun masih memasang telinganya. Ia sedang berpikir tentang apa yang harus ia katakan pada Taeyeon. Apa yang bisa membuat sahabatnya bangkit dari kesedihannya.

“Padahal… aku sudah berharap kalau setelah ini tidak akan ada masalah lagi. Tapi… dia justru pergi…”ujar Taeyeon. Kini ia kembali menutupi wajahnya dengan tangan.

“Aku mengerti…”ucap Tiffany. Yeoja itu mengelus-elus punggung Taeyeon, berusaha menguatkannya.

“Ini adalah salah satu alasan kenapa aku tidak ingin bersama dengan yang lebih muda. Mereka tidak berpikir kedepannya. Mereka egois. Mereka tidak memikirkan perasaanku… aku… aku akan menyerah…”gumam Taeyeon disela isakannya.

“Tidak”Tiffany berkata dengan tegas. “Kau belum memastikannya Taeyeon-a. Kau tidak mendengarnya dari Tao langsung. Kau harus menyanyakan kebenaran dan alasannya. Siapa tahu dia sudah membatalkannya kan?”

Taeyeon masih terisak dan sesegukan “Tetap saja… aku merasa… sak..sakit… Dia… berarti dia pernah berniat menjauh dariku”

“Iya, aku mengerti. Tapi dari pada kau berasumsi begitu terus, ada baiknya kau meminta kepastian darinya dulu Taeyeon-a”saran Tiffany dengan nada yang lembut.

Akhirnya Taeyeon mengangguk. Ia memang lebih merasa tenang setelah mendengar suara Tiffany. “Fany-a, aku akan menghubunginya sekarang. Kau bisa mengantarku ke café biasa?”tanya Taeyeon dan dijawab dengan anggukan oleh Tiffany.

“Yeoboseo, Tao?”Tiffany bisa mendengar Taeyeon yang sedang menelepon Tao.

“Sekarang kau dimana? Tidak sedang sibuk?… Tidak, aku hanya ingin menemuimu di café dekat sekolah. Kau bisa kesana sekarang?… Ne, aku akan menunggumu”

Taeyeon mematikan sambungan teleponnya dan menatap Tiffany dengan mata yang terlihat ragu dan sedikit khawatir. “Bahkan tadi dia bilang dia baru selesai memimpin rapat dengan para pemegang saham…”

Tiffany mencoba tersenyum dan kembali memberi nasihat “Mungkin dia sedang menggantikan pamannya. Belum tentu dia memang ingin pergi kan? Jangan berburuk sangka Taeyeon-a. Yang terpenting, ia masih menomorsatukanmu dan mengiyakan keinginanmu, iyakan?”bujuk Tiffany lagi, namun matanya tetap fokus ke jalan.

Taeyeon memberi seulas senyum kecil dan mengangguk. “Kuharap akan begitu seterusnya”

Kemacetan membuat mereka telat sampai di café yang dimaksud oleh Taeyeon. Entah kenapa sore yang tadinya cerah sekarang dituruni hujan yang cukup deras, itu juga menjadi hambatan mereka tadi. Taeyeon mengambil payung yang ada di mobil Tiffany dan keluar dari mobil. Yeoja bertubuh mungil itu memasuki pintu café dan meletakkan payungnya di tempat khusus payung didekat pintu.

Matanya menelusuri café tersebut dan mendapati namja berambut hitam yang tadi baru saja dihubunginya. Baru saja Taeyeon berniat mendekat kearah namja itu, seorang namja lain datang dan mendekati Tao. Dari pendengaran Taeyeon yang cukup tajam, Taeyeon dapat mendengar kalimat yang dilontarkan namja itu.

“Besok jam 7 pagi akan kujemput. Jangan lupa persiapkan segala yang kau perlukan, jangan ada yang tertinggal.”

Perkataan namja jangkung itu diiyakan oleh Tao. Tao terlihat santai sambil mengatakan sesuatu yang tidak dapat didengar Taeyeon. Kemudian, namja jangkung itu pergi dari Tao. Menyisakan Taeyeon yang masih mematung.

Tubuh yeoja itu terasa berat dan tidak bisa digerakkan. Yeoja itu terlalu takut dan terlalu tidak bisa menerima keadaan yang ada. Tao memang berniat pergi darinya. Dan tadi ia mendengarnya secara jelas.

Kini Taeyeon melihat seorang yeoja berpenampilan rapi dan tinggi mendatangi Tao. Yeoja itu dengan santainya duduk didepan Tao dan meminum kopi yang sedang diminum oleh Tao. Taeyeon bisa melihat raut tak suka Tao. Namun yeoja itu terlihat tidak memperdulikannya dan beralih mencubit pipi Tao. Awalnya Tao terlihat tidak suka, namun pada akhirnya namja itu tertawa tawa dan mengenggam tangan yeoja yang menyentuh pipinya.

Sebutir air mata turun dari pelupuk mata Taeyeon. Cukup. Taeyeon sudah tahu bahwa ini semua memang tidak benar untuknya. Tidak seharusnya ia menyukai namja yang lebih muda. Tidak seharusnya ia mempunyai perasaan untuk Tao. Harusnya Taeyeon tahu kalau Tao hanya mempermainkannya.

“Taeyeon-a!”

Taeyeon tersentak dan menatap Tao yang telah berdiri dan berniat menghampirinya. Taeyeon segera berbalik dan meninggalkan café tersebut. Menyadari gelagat yang tidak baik dari Taeyeon, Tao mengejar Taeyeon, dan jelas, Tao berhasil meraih tangan Taeyeon.

“Taeyeon Noona, kau kenapa?”tanya Tao cemas seraya berusaha membalikkan badan Taeyeon, namun Taeyeon menahan badannya agar tidak membalik kearah Tao.

“Kepergianmu… dan yeoja itu… mau sejauh mana kau mempermainkanku?”

Ucapan Taeyeon yang dingin dan dalam itu membuat Tao sedikit terkejut dan mengendurkan pegangannya pada tangan Taeyeon. Disaat itulah Taeyeon berlari menjauh seraya melepaskan tangannya dari Tao.

“Kim Taeyeon!!”seru Tao begitu sadar. Namun Taeyeon sudah lebih dulu masuk kedalam mobil Tiffany, lalu mobil itu melaju di jalanan.

oOoOoOo

“Hiks.. Hiks…”

Isakan itu terus terdengar sejak Tiffany dan Taeyeon sampai di apartmen Tiffany. Tiffany sendiri kaget begitu Taeyeon dengan basah kuyup masuk kedalam mobilnya. Tiffany tidak mempermasalahkannya, apalagi ketika melihat air mata yang mengalir di pipi yeoja itu. Ia masih ingat Taeyeon langsung memitanya menuju apartmen Tiffany. Tiffany tahu, Taeyeon tidak mau Tao menemukannya.

“Taeyeon-a, sebenarnya ada apa?”tanya Tiffany seraya menyodorkan kotak tissue yang mana segera diambil Taeyeon.

“Aku memang tidak seharusnya menyukai Tao… tidak seharusnya aku menyukai namja itu…”gumam Taeyeon seraya mengelap air matanya dengan tissue.

“Memangnya kenapa? Apa yang terjadi disana?”

Taeyeon menatap Tiffany dengan air mata yang mengalir dari matanya. “Dia… benar-benar akan berangkat besok. Dan lagi, ada yeoja lain.. yang bersamanya tadi…”

Ok, Tiffany memang membujuk Taeyeon untuk tidak menganggap namja yang lebih muda itu buruk. Tapi, namja seperti Tao memang buruk. Tiffany tidak habis pikir. Untuk apa ia mengejar Taeyeon kalau hanya akan mencampakkan yeoja itu? Apa namja itu tak punya otak?

“Sudahlah… kalau begitu lupakan saja dia…”ujar Tiffany lalu memeluk Taeyeon. “Tenanglah Taeyeon-a, banyak yang lebih baiknya. Kyungsoo contohnya.”

Taeyeon menjawab disela-sela isakannya. “Aku hanya menganggap Kyungsoo teman”

“Kau juga menganggap Tao adik sebelum menyukainya. Kenapa kau tidak mencoba untuk menyukainya? Kyungsoo memang lebih muda 4 tahun darimu, tapi perilakunya dewasa. Bahkan terkadang kau yang terlihat lebih muda. Bukalah hatimu untuk Kyungsoo Taeyeon-a. paling tidak sebatas melupakan Tao”usul Tiffany seraya mengusap-usap rambut Taeyeon.

Setelah diam sesaat, Taeyeon mengangguk. Ia memang harus melupakan Tao. Dan usul Tiffany tidaklah buruk. Tidak hanya Tao yang bisa mendapatkan yeoja baru dalam sekejap. Taeyeon pun bisa mendapatkan namja baru. Dan jelas melupakan Huang Zi Tao.

oOoOoOo

Tao merasa sedikit frustasi sekarang. Tadi ia buru-buru menyelesaikan rapat hanya untuk Taeyeon, namun saat ia melihat yeoja itu berdiri di pintu masuk café, yeoja itu justru pergi menjauh. Apalagi saat Tao mengejarnya. Ia tahu Taeyeon berusaha menghindarinya. Bahkan tidak mau menatapnya kala itu.

Ia tak habis pikir. Apa yang terjadi dengan Taeyeon? Kata-katanya juga. Kalimat terakhir yang ia dengar dari Taeyeon sangat membuatnya bingung sekaligus frustasi

“Kepergianmu… dan yeoja itu… mau sejauh mana kau mempermainkanku?”

Mempermainkan? Sejak kapan Tao mempermainkan Taeyeon? Tao serius dengan Taeyeon. Tao serius menyukainya, mencintainya. Dan serius untuk menjalin hubungan dengan Taeyeon. Kenapa Taeyeon berpikir seperti itu?

Yeoja itu. Yeoja mana yang dimaksud Taeyeon sehingga berpikir kalau Tao mempermainkannya? Tao tidak pernah sekalipun dekat dengan yeoja selain Taeyeon dan keluarganya. Bukankah ia sudah bilang kalau ia serius dengan Taeyeon?

Kepergian…

Mata Tao membelalak. Apa Taeyeon tahu tentang kepergiannya? Tentang rencananya untuk pergi ke Beijing? Jadi itukah yang membuat Taeyeon berpikiran negatif? Astaga. Tao harus menjelaskan semuanya. Ia tidak boleh membiarkan Taeyeon salah paham.

Permasalahannya, dimana Taeyeon sekarang? Tao tidak tahu. Tao sudah mencoba mencarinya di playgroup, tapi anak yang cadel itu mengatakan kalau Taeyeon sudah lama pulang. Ia mencari di apartmen dan sekitar tempat tinggalnya, tapi nihil.

“Kemana kau?”gerutu Tao.

Tepat saat itu, Tao dapat melihat sosok yeoja yang dicarinya. Yeoja itu berjalan disamping seorang pria yang diketahui Tao sebagai Do Kyungsoo. Parahnya… mereka berpegangan tangan.

Detik berikutnya, Tao memarkirkan mobilnya sembarang dan keluar untuk menemui mereka.

oOoOoOo

“Tumben kau mengajakku pergi. apalagi malam-malam Seperti ini”ujar Kyungsoo seraya tersenyum.

“Aku pernah berjanji akan mengajakmu keliling Seoul kan? Setidaknya mala mini kita akan bersenang-senang”ucap Taeyeon membalas senyuman Kyungsoo. Dalam hati, ia hanya ingin melupakan Tao sejenak. Ia ingin memfokuskan dirinya pada Kyungsoo. Maka dari itu ia segera menghubungi Kyungsoo untuk makan malam bersama.

“Ya, kau benar. Dan suasana malam ini bagus sekali. Walaupun cuacanya dingin”Kyungsoo menambahkan. Namja itu menatap tubuh mungil Taeyeon yang sedikit gemetar. Namja itu menggenggam tangan Taeyeon dan memasukkannya kedalam kantung mantelnya.

Taeyeon menatap Kyungsoo dengan pandangan kaget. Pipinya bersemu merah. Kyungsoo pun terkekeh. “Kau kedinginan Noona. Mungkin lebih hangat jika ada disini”

Taeyeon mengangguk dan kembali berjalan beriringan dengan Kyungsoo. Tangannya digenggam oleh tangan Kyungsoo yang lebih besar darinya. Apa tangan Tao juga begini? Apa tangan Tao juga dapat menghangatkannya seperti ini?

Astaga, sekarang dia sudah memikirkan Tao lagi.

Tepat ketika pemikiran itu memasuki pikirannya, seseorang menggenggam tangannya yang ada diluar dan menariknya. Taeyeon berbalik dan mendapati sosok Tao disana. Matanya membelalak. Ia tidak menyangka Tao akan menemukannya. Apalagi dengan tatapan dingin miliknya.

Tanpa berkata apa-apa Tao segera menarik Taeyeon pergi. Taeyeon berbalik menatap Kyungsoo seperti meminta bantuan. Namun Kyungsoo justru hanya memberi isyarat bahwa Kyungsoo akan menelepon Taeyeon nanti dan membiarkan yeoja itu pergi.

“Aah, kau gagal Kyungsoo-ya”

Kyungsoo menoleh dan mendapati Tiffany yang ada tak jauh dari tempatnya berdiri. “Kau mengikuti kami?”

“Tentu saja.”jawab Tiffany enteng. “Tak kusangka namja itu akan datang. Mungkin perasaanny pada Taeyeon memang asli. Mungkin Taeyeon hanya salah paham”

Kyungsoo menghela nafas. “Ya, mungkin aku juga harus menyerah”

oOoOoOo

Taeyeon diam dan mengalihkan pandangannya. Tao membawanya ke mobil miliknya dan langsung menyuruh Taeyeon duduk di bangku penumpang depan sedangkan dia sendiri duduk di bangku pengemudi.

“Kenapa denganmu?”

Taeyeon masih tidak menjawab meskipun Tao telah mengucapkan sesuatu. “Kau tidak mendengarku?” Ia masih tidak menjawab dan tidak berkata apa-apa.

Tao menghela nafas. Kim Taeyeon masih sama. Masih tidak akan menjawab jika ia sedang berhadapan dengan orang yang ia benci. Ah, berarti Tao dibenci sekarang. “Kau membenciku?”

“Ya”Tao sedikit terkejut ketika mendengar jawaban singkat Taeyeon.

“Apa?”

“Aku membencimu”ujar Taeyeon lagi tanpa menatap Tao.

“Kenapa? Apa karena aku dekat dengan yeoja lain? Kau sendiri dekat dengan namja lain”

“Memangnya kau siapa?”Kini Taeyeon menatap Tao dengan pandangan dinginnya. “Kau bukan siapa-siapamu. Jadi aku bebas dekat dengan siapapun bukan? Kau juga bebas dekat dengan yeoja lain karena aku bukan siapa-siapa”

“Astaga, Kim Taeyeon! Siapa yang kau maksud sebenarnya?!”seru Tao frustasi. Ia panas mendengar perkataan Taeyeon tadi.

“Yeoja yang bersamamu tadi! Yeoja yang kau genggam tangannya di café bahkan sampai kau melihatku!”balas Taeyeon sengit.

“Dia kakakku. Dia Huang Soo Young! Dia Kakak Perempuanku! Dia sedang disana juga dan tadi dia melihatku!! Kami tidak memiliki hubungan lain selain adik-kakak! Aku serius padamu dan aku tidak mungkin bermain dengan yeoja lain!”Tao memberi penekanan di setiap perkataannya, berusaha membuat Taeyeon yakin.

“Oh ya? Serius!? Lalu kenapa kau akan meninggalkanku?! Untuk apa kau pergi ke Beijing setelah tahu bahwa aku menyukaimu juga?! Dan kenapa kau tidak memberi tahuku Huang Zi Tao!?”

Tao diam. Semua yang dikatakan Taeyeon menusuk ulu hatinya. Taeyeon memang benar. Tao memang akan pergi ke Beijing besok dan dia tidak memberi tahu Taeyeon. “Aku mempunyai alasan Taeyeon-a…”

“Alasan apa?! Alasan bahwa kau akan meninggalkanku?! Sudah cukup Tao! Sudah cukup aku sakit hati karenamu!”seru Taeyeon dan bersiap keluar dari mobil.

Namun Tao lebih cepat. Ia menarik salah satu tangan Taeyeon hingga Taeyeon berbalik, lalu ia mencium bibir Taeyeon lembut. Membuat yeoja itu terdiam.

Tao melepas tautan bibirnya dan membiarkan Taeyeon tetap diam ditempatnya. “Tenanglah dulu, Noona… biarkan aku menjelaskannya…”pinta Tao dengan nada memelas, membuat Taeyeon terdiam kembali.

“Kau tahu? Saat melihatmu bersama dengan namja bernama Do Kyungsoo itu… aku merasa masih kecil. Masih belum dewasa dan belum bisa membanggakanmu. Aku sudah mencari data tentang Do Kyungsoo. Dia seorang yang hebat. Diumur yang sama sepertiku dia sudah masuk universitas dan sudah setara denganmu. Sedangkan aku? Aku hanya anak kecil biasa yang banyak mulut!”

Taeyeon diam. entah kenapa ia tidak suka cara Tao merendahkan dirinya sendiri. Menurutnya Tao adalah anak yang hebat dibidangnya sendiri. Tao punya kelebihan, begitu pula dengan Kyungsoo. Mungkin Tao tidak lebih pintar dari Kyungsoo, tapi Tao bisa martial arts. Itu salah satu kelebihannya bukan?

“Maka dari itu Noona. Aku akan belajar keluar negeri, dan menjadi Huang Zi Tao yang jauh lebih baik dari sekarang. Huang Zi Tao yang cocok untukmu dan pantas bagimu Noona. Aku sengaja tidak memberitahumu, karena aku takut. Aku takut aku tidak akan bisa pergi jauh darimu Noona”ungkap Tao lagi.

Taeyeon tetap terdiam. Ia tidak menyangka Tao akan berpemikiran seperti itu. Menurutnya, yang harus lebih banyak berkembang adalah dia. Dia harus banyak berkembang agar dapat cocok untuk Tao. “W..Walaupun begitu… kau tidak harus menciumku tiba-tiba seperti tadi”gumam Taeyeon kecil, masih mengalihkan pandangannya.

“A..aa… M..Maaf”ujar Tao gugup. Ia tadi refleks. Itu refleksnya, sungguh. Ia tidak punya niatan untuk melakukan itu. “Tapi… rasanya enak juga. Boleh kulakukan sekali lagi?”gurau Tao, berusaha mendapatkan kembali senyum Taeyeon.

“Silahkan saja”

Mata Tao membulat lebar. Ia tidak menyangka Taeyeon akan berkata begitu. Apalagi dari rautnya yang terlihat yakin dan tidak main-main. “Apa?”tanya Tao lagi, bingung apakah dia salah mendengar atau apa.

Taeyeon mengalihkan pandangannya dengan semburat merah dipipinya. “Silahkan saja… asal kau berjanji akan kembali lagi”

Tao menunjukkan senyum tipisnya, seakan tahu kalau Taeyeon masih ragu dan asal bicara. Tao mengacak-acak rambut Taeyeon sambil terkekeh. Membuat yeoja itu menatapnya bingung.

“Aku akan melakukannya nanti Noona. Saat aku pulang dan sudah menjadi orang hebat. Arraseo?”

“Siapa tahu ketika kau kembali ke Seoul kau sudah melupakanku dan memilih yeoja lain”

Tao terdiam sejenak, lalu mengulurkan tangannya untuk merengkuh Taeyeon kedalam pelukannya. “Bodoh. Aku tidak akan melakukan itu. Aku sudah benar-benar mencintaimu dan aku tidak akan menyia-nyiakanmu Taeyeon Noona”

Taeyeon merasa tangisnya akan pecah seketika. Ia sungguh kekanakan sekarang. Bahkan Tao yang lebih muda darinya memiliki pikiran yang jauh lebih dewasa. Bagaimana mungkin ia bisa mengira Tao akan pindah ke lain hati? Kenapa Taeyeon tidak mempercayainya.

“Mianhae… Mianhae…”ucap Taeyeon kecil lalu balas memeluk Tao erat. Isak tangisnya mulai terdengar seiring dengan pelukannya yang semakin erat.

Keduanya saling menikmati pelukan mereka. Mereka menghirup aroma satu sama lain, berusaha merekamnya kedalam otak mereka agar mereka tidak lupa. “Saranghae, Noona”ujar Tao tiba-tiba, membuat Taeyeon membuka matanya dan tersenyum.

Taeyeon menyandarkan kepalanya di bahu Tao dan membalas pelan. “Nado Saranghae”

TBC

‘-‘)~ aaaa gak tahu harus bilang apa. Maafkan aku atas chapter yang asal kubuat ini-_-)/

Anyway, maaf buat kalian yang belum kubalas komennya. Aku belum sempet on pc L ntar kalau on di bales deh. Buat yang tanya kapan me, and my husband tamat.. aku belum tahu lho. Yang jelas sebentar lagi J kuharap kalian gak bosen sama cerita itu.

Sip, RCL yo. Next chap tamat nih….

23 thoughts on “[Freelance] My Little Peterpan (Chapter 7)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s