[Drabble] Romance is Amorously

cover-104

Title : Romance is Amorously

Cast : Hyoyeon |LAY

Genre : Romance, Angst

Rating : PG-15

A/N : Annyeonghaseo reader-deul. Hyema akhirnya kembali lagi setelah padatnya jadwal kuliah menyita waktu luangku buat nulis atau sekedar update FF. Ini dia cerita ketiga yang akan Hye share sebagai penutup Romance is A. Sebelumnya bagi yang belum tahu, Hyema sedang share tiga kisah mengenai definisi romance berdasarkan abjad. Romance is ‘A’.  Ini dia dua kisah lainnya : Romance is Animosity Romance is Ambition

Warning : Hyema udah share ini di beberapa blog FF termasuk blog pribadi Hyema. Jadi jangan ada yang copy-paste ya?🙂

Romance is Amorously

Seorang namja terdiam di depan pintu sebuah apartemen bernomor 302. Di sebelahnya nampak koper besar berwarna hitam. Namja itu sedang meremas tangan kanannya dengan tangan kirinya karena cemas. Cemas? Ya, banyak kecemasan yang menghampirinya sekarang. Entah kenapa.

Namun ketika tangannya yang besar mengoyangkan kenop pintu dan suara berderit pintu itu terdengar, ada hal lain yang merasuki namja itu. Sesuatu yang aneh. Seakan hal yang hilang kembali padanya.

Pintu itu pun terbuka. Wajah namja itu tiba-tiba tersenyum. Seulas senyum yang seakan menghilangkan rasa cemas ketika pertama kali namja itu berada di tempat ini. Menginjakkan kaki di negara ini. Menghampiri apartemen ini. Berdiri di sini. Rasa cemas itu seakan lenyap begitu saja.

“Aku pulang.” Matanya menerawang ke seluruh penjuru apartemen dengan agak berkaca-kaca.

Di tariknya koper saat kakinya melangkah masuk. Baru tiga langkah, namja itu menghentikan langkahnya.

“Yeonnie, aku pulang.” Ucapnya dalam hati. Ada rasa sedih yang bergelayut di hatinya. Sedih dan kecemasan yang berbaur. Namun namja itu segera menepisnya dengan senyuman yang agak di paksakan.

Kaki namja itu mulai melangkah kembali. Pandangannya tidak lepas dari setiap inchi, setiap sudut, dan bahkan setiap celah dari setiap hal yang berada di dalam apartemen itu.

“Aku merindukan suasana ini. Hangat dan tenang.” Ucapnya kembali dalam hati. Di lepaskannya genggaman tangannya pada koper dan mulai melangkah kembali menyusuri rak buffet yang ada di samping jalan menuju ruang tengah.

“Aku kembali ke tempat ini, seperti mimpi kurasa. Entah sudah berapa lama aku pergi, namun tempat ini masih sama. Hangat.” Namja itu kembali berucap dalam hati. Ketika ia menyebut kata hangat, pandangan matanya tertuju pada sebuah bingkai foto dengan dua orang yang sedang menunjukkan cincin yang melingkar di kedua jarinya. Dua orang itu tersenyum gembira.

“Bahagia sekali melihat kita yang dulu, Yeonnie. Hh, aku merindukanmu.” Namja itu kembali berucap dalam hati. Di pandanginya lekat foto dua orang itu yang tak lain adalah dirinya dan kekasihnya Hyoyeon.

Namja itu tersenyum. Tangannya menyeret bingkai foto itu dan membaliknya. Mengeluarkan isinya dan mendekap foto itu lama di dadanya. Di dada yang selalu bergemuruh saat melihat senyuman itu. Di dada yang selalu merasa sesak dan rindu.

“Oh seandainya aku bisa mengulang waktu.” Namja itu membalik foto itu dan di situ terdapat pesan yang di tulis Hyoyeon.

“Hari ini Lay melamarku. Hari ini, rabu. Tanggal ini, 28 April 2010 – Aku akan terus mengingatnya. Untuk selamanya.

Namja bernama Lay itu terlihat terharu membaca pesan itu. Lebih tepatnya teringat kenangan saat mereka bertunangan beberapa tahun yang lalu.

-.-.-.-

Lay menatap sofa ruang tengah dengan sebuah senyum yang entah apa artinya. Kakinya melangkah mendekati sofa dan terduduk di atasnya. Tangannya membelai lembut setiap inchi sofa yang berwarna biru muda itu dan bayangan Hyoyeon muncul di depannya. Tersenyum cantik menatap Lay.

“Kau terlihat lelah.” Sapa Hyoyeon. Hyoyeon pun menghampiri Lay.  Ia duduk di samping Lay dan menatap Lay lembut.

“Kenapa wajahmu terlihat pucat? Apa kau mau ku buatkan coklat panas?” Hyoyeon mengelus tangan Lay pelan. Manik matanya bergerak-gerak. Lay yang di tanya hanya diam. Tak menjawab. Matanya terlalu sibuk mengamati wajah manis Hyoyeon yang selalu tersenyum lembut padanya. Sementara mulutnya terlalu kelu, tak bisa berbicara

“Akan ku ambilkan.” Hyoyeon bangkit dari duduknya dan menuju ke arah dapur. Lay yang sedari tadi diam hanya bisa menatap punggung Hyoyeon yang menjauh dan semakin memudar dan akhirnya menghilang.

“Kenapa aku selalu melihatmu dimana-mana?” Lay berbicara pada dirinya sendiri. Nada bicara terkesan lirih dan tak bertenaga. Manik matanya menatap ke arah dapur yang terlihat kosong.

Lay pun berdiri, kakinya melangkah ke arah dapur. Tangannya bergerak pelan menjamah benda-benda yang ada di sana. Sampai tangannya berhenti di sebuah alat penggorengan. Dan bayangan Hyoyeon pun muncul kembali.

“Apa kau ingin memasak?” Lay menoleh ke arah Hyoyeon yang sedang memotong timun tipis-tipis. “Tapi aku sangsi kau bisa memasak.” Sindir Hyoyeon kemudian yang di sertai senyum mengejek.

“Apa yang sedang kau buat?” Kali ini Lay mencoba untuk berbicara pada bayangan Hyoyeon yang seakan hidup di depannya.

“Dak Naengchae. Salad bagus untuk kulit.” Lay tersenyum.

“Kenapa kau memasak itu, kau tahu aku tak terlalu suka salad.” Hyoyeon menoleh kearah Lay. Ditinggalkannya jamur shitake kering yang sedang ia rendam dan menghampiri Lay.

“Kau harus memakannya. Aku ingin melihatmu selalu sehat.” Hyoyeon memeluk Lay dari depan. Tangannya melingkar di punggung Lay. Sementara kepala Hyoyeon bersandar di dada Lay.

“Kau harus makan sayuran.” Pesan Hyoyeon sekali lagi. Lay melepaskan tangannya dari penggorengan dan bayangan Hyoyeon pun menghilang.

“Sekali lagi kau muncul.” Lay merasakan dadanya terasa sakit. ‘Apa ini? Kenapa dadaku terasa sangat sakit sekali? Kenangan manis itu. Semuanya muncul begitu saja.’

Dengan masih merasakan sakit di dadanya, Lay beranjak dari dapur dan segera mengambil kopernya. Di bawanya koper menuju kamarnya. Namun belum sempat Lay masuk ke kamarnya, Lay tiba-tiba terdiam. Lay terdiam di depan dua kamar yang bersebelahan.

“Aku lupa. Kalau..,” Lay menghentikan ucapannya saat memandang kamar yang ada di depan sebelah kirinya. Kamar itu, kamar Hyoyeon. “Ah.., aniya.” Dan kemudian masuk ke kamar yang ada di hadapannya.

Ceklek!

Pintu terbuka dan Lay terkejut dengan apa yang dilihatnya. Kamarnya kosong. Semua isinya menghilang. Semua barang-barangnya menghilang. Dalam keterkejutannya bayangan Hyoyeon muncul dengan cerianya.

“Kau tahu bukan apa impianku?” Tanyanya sambil menari-nari kecil di kamar Lay yang kosong. “Aku ingin menjadi seorang penari. Penari yang menari dengan powerfull dan enerjik.” Hyoyeon masih menari. “Dan karena itu aku ke Seoul. Mengejar impianku.” Ucapnya kemudian dan berhenti menari. Hyoyeon memandang ke arah Lay. “Terima kasih. Terima kasih karena kau telah mewujudkan impianku.” Hyoyeon tersenyum manis dan kembali menari-nari kecil sambil bersenandung. Dan menghilang.

Sesaat setelah bayangan Hyoyeon menghilang, Lay pun ambruk. Dia jatuh sambil terduduk. “Mianhae.. Mianhaeyo Yeonie.”

Lay menutup matanya dan mencoba menghirup nafas sebanyak-banyaknya. Dadanya terasa sesak dan kepalanya tiba-tiba pusing. Dan pada saat itu, tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang dan menyandarkan kepalanya di punggung Lay.

“Kau sudah berjanji untuk kembali. Kembali pulang. Terima kasih. Terima kasih karena kau menepati janjimu.” Itu Hyoyeon. Bayangan Hyoyeon kembali. “Jangan meminta maaf. Semua yang terjadi bukanlah kesalahanmu. Justru aku beruntung memiki kekasih sepertimu. Karena kebahagiaanku itu bersumber dari kasih sayang tulusmu. Sungguh aku beruntung.” Hyo melepaskan pelukannya dan berjalan dan terduduk kembali di depan Lay yang masih menutup matanya.

“Buka matamu. Dan lihatlah aku.” Lay membuka matanya. Hyoyeon menggerakan manik matanya. “Percayalah. Selama ini, aku merasa sangat beruntung. Karena kau kebahagiaanku maka aku akan bahagia jika kau juga bahagia. Aku akan tersenyum jika kau tersenyum. Aku yakin, kau juga merasakan hal yang sama. Sekarang tersenyumlah.” Hyo membelai pipi Lay lembut. Dan menarik kedua sudut bibir Lay agar membentuk senyuman. “Sekarang kau tersenyum.” Dan Hyoyeon pun tersenyum.

Hyoyeon hendak pergi saat Lay memegang tangan Hyoyeon. Hyo menoleh.

“Apa kabarmu?” Tanya Lay.

“Baik. Amat baik.”

“Apakah aku jahat?”

“Tidak. Kau amat baik.”

“Apakah kau marah padaku?”

“Tidak. Aku justru bahagia.”

“.. ”

“Kau yang terbaik.”

“Aku minta maaf.”

“Tidak ada yang perlu di maafkan.”

“Apa yang kau inginkan?”

“Bersamamu dan es krim.” Hyoyeon tersenyum. Lay juga tersenyum. Di dalam hatinya ia mengulang perkataan Hyo. ‘Es krim. Es krim. Ya, kita suka es krim.’

Lay berdiri dari duduknya. Matanya bergoyang menatap Hyoyeon yang sedang tersenyum padanya. Lay terus menatap Hyoyeon dengan senyumannya yang paling indah. Bahkan saat bayangan Hyoyeon mulai memudar. Lay berusaha tetap tersenyum. Sampai akhirnya bayangan Hyoyeon benar-benar menghilang dan Lay tetap tersenyum. Tersenyum. Tersenyum. Hingga tanpa sengaja air matanya menetes pelan. Menetes tanpa ada yang meminta. Lay pun mulai menangis dalam diam dan walaupun begitu ia masih tersenyum. Walau sekarang senyuman itu adalah senyuman miris.

Lay’s SIDE

Aku berada di sini. Kembali di sini. Tempat dimana kebahagian terus mengalir setiap harinya. Hari-hari itu, Hyoyeon dan es krim. Adalah hari-hari terbaik yang pernah ku miliki.

“Jika kau tetap di sini Ayah akan merusak hidup yeoja itu. Apa kau ke Korea hanya untuk pacaran? Ayah mengirimmu untuk belajar. BELAJAR!”

“Yang terjadi padaku bukan salah Hyo, Ayah. Bukan salah dia. Ini keinginanku.”

“Bagaimana bukan salah dia? Heh! Lupakan. Lupakan yeoja itu dan kembalilah ke rumah. Ayah akan mengajarimu sendiri bagaimana caranya berbisnis. Bukannya menari. BERBISNIS LAY! BISNIS!”

“Ayah, aku ingin tinggal di sini.”

“Tidak, Kau harus kembali.”

“Tidak mau.”

“Maka yeoja itu akan lenyap.”

“Ayah!”

“Kau pilih mana?”

“Ayah!?”

Apakah pilihanku salah?

“Pergilah!” Ucap Hyoyeon dengan senyuman tipisnya.

“Aku tak mau meninggalkanmu sendirian. Aku tak mau.”

“Jangan jadikan aku sebagai alasan. Dia itu ayahmu. Turuti perintahnya.”

Aku masih mengingat saat dia menyuruhku pulang. Kembali bersama ayahku. Tapi aku menolaknya. Walaupun begitu aku tetap ingin bersamanya.

“Chagi-aa, kita bisa bertemu kembali beberapa tahun lagi. Kita masih bisa berkomunikasi lewat e-mail. Ikuti saja mau ayahmu. Jangan membangkang lagi.”

Yeoja itu selalu saja mementingkan orang lain dibandingkan kebahagiaanya sendiri. Apa dia tidak tahu bahwa sumber kebahagiaanku ada padanya? Ah tidak. Hyo pasti tahu itu.

“Aku pergi. Tapi kau harus berjanji kau harus menungguku disini.” Pintaku saat itu dan Hyoyeon hanya membalas tersenyum. Senyum yang sangat manis.

Senyuman itu menjadi senyuman terakhirnya. Karena tepat hari ini, di hari kedatanganku kembali ke apartemen ini. Adalah hari dimana ia meninggal saat sebuah lampu panggung menimpanya saat ia sedang menari. Ya, menari.

Tapi ia menempati janjinya untuk menungguku di sini. Walau cuma bayangannya saja.

END

A/N : Hyema mohon kritik dan sarannya ya? #BOW

26 thoughts on “[Drabble] Romance is Amorously

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s