[Freelance] Don’t Forget Me

Don't Forget Me

Title : Don’t Forget Me || Author : Nawafil (@nafila_nida)

.

Rating : PG-13 || Length : Oneshoot
.

Genre : Romance, sad, friendship, Angst || Main Cast : EXO’s Luhan – GG’s Yoona
.

Other Cast : Find ‘em by yourself
.

Disclaimer : All cast belong to God , the plot of this story is mine. If you don’t like don’t read. Don’t bash Please. This is just a fiction and forever will be a fiction.

A/N : FF Don’t Forget Me yang aku janjikan datang /kibar bendera/ berarti tinggal yang Lucky yah? Ditunggu aja ya. Happy Reading and Enjoy^^

Poster By DelZeal at cafeposterart.wordpress.com

RECOMMENDED SONG
Suzy – Don’t Forget Me

Kita akan selalu bersama hari ini, esok, dan selamanya akan begitu

+++

Im Yoona dan Xi Luhan. Semua orang tau bahwa mereka adalah sepasang sahabat, sahabat yang selalu berbagi suka dan duka, sahabat yang selalu ada untuk saling mendukung, sahabat yang bersama menghadapi segalanya. Sahabat yang takkan pernah terpisahkan

Keduanya adalah tetangga sejak kecil, orang tua mereka meninggal dalam kecelakaan yang sama. Dan dari situlah mereka mulai mengenal satu sama lain

“Luhan-ah, apa kau tidak bosan membaca buku terus?” Tanya Yoona pada Luhan yang tengah membaca buku yang tebalnya mungkin sama dengan 3 jari orang dewasa. “Aniyo” jawab luhan tanpa mengalihkan pandangannya dari buku tebal tersebut.

Yoona mendengus kesal, sahabatnya yang satu ini benar benar telah membuat kesabarannya habis. Yoona pun mengambil buku yang dipegang Luhan dan memaksa Luhan berdiri

“Ayolah,kita harus pulang sekarang. Apa kau tidak lihat? Sudah hampir gelap” oceh yoona. Luhan tersenyum mendengar ocehan yeoja yang sangat ia sayangi ini, Tanpa berkata apapun Luhan menarik tangan Yoona dan keluar dari perpustakaan.

Ditengah perjalanan Yoona terus saja berbicara tentang semua hal yang ia alami hari ini yang hanya ditanggapi luhan dengan anggukan saja. Entah kenapa akhir akhir ini keceriaan yang selalu Luhan tunjukkan hilang begitu saja. Terkadang Yoona bingung dengan sikap Luhan, namun ia berusaha memakluminya karena ia tau betapa tertekan dan lelahnya Luhan

Tiba tiba saja Luhan berhenti, Yoona terlihat heran dengan sikap luhan? Kenapa ia berhenti?

“Kita sudah sampai di depan rumahmu Yoong” ucap Luhan dengan senyum hangatnya. Yoona melihat ke samping kiri dan benar saja, mereka telah sampai di depan rumah Yoona, ia lalu menoleh dan tersenyum kikuk “Ah ne, aku lupa”

“Kalau begitu cepat masuk lalu bersihkan dirimu dan beristirahatlah, maaf membuatmu pulang terlambat” Luhan memeluk Yoona sejenak kemudian melepaskannya.  “Kenapa kau belum masuk juga?” Luhan heran melihat Yoona yang masih saja belum beranjak dari tempatnya berdiri. “Aku ingin melihatmu masuk duluan” jawab Yoona

“Ayolah, rumahku bersebelahan dengan rumahmu, kau tidak usah khawatir” Luhan meyakinkan gadis dihadapannya, Ada sensasi menyenangkan ketika ia tahu bahwa yoona mengkhawatirkan keadaannya

“Akhir akhir ini kau tidak banyak bicara, aku juga tidak melihatmu bercanda, bahkan kau tidak merespon semua candaan yang aku lontarkan, kau pasti lelah” ucap yoona dengan pandangan sayu, Yoona hanya bisa melakukan ini, ia tak bisa berbuat lebih

“Mian, aku terlalu sibuk mempersiapkan ujian kelulusan nanti, belum lagi kerja paruh waktu yang ku jalani untuk membiayai kehidupan kita berdua makanya aku—“ Yoona memotong ucapan Luhan dengan pandangan tajam tapi masih meninggalkan kesan imut kepunyaannya

“Maka dari itu aku ingin melihatmu masuk rumah duluan, Ppalli” Yoona mendorong tubuh luhan menuju rumah disebelah rumahnya. “Sampaaaiii..kalau begitu aku pulang dulu” Yoona meninggalkan luhan dan berlari menuju rumahnya. “Luhan-ah annyeong, Jangan terlalu keras belajar, Beristirahatlah” Yoona melambaikan tangannya kemudian masuk ke dalam rumahnya

“Yeoja itu, yeoja unik yang takkan pernah ku temukan lagi di dunia, yeoja yang sangat ku sayangi, sahabat baikku. Im Yoona” ucap Luhan tersenyum dan kemudian memasuki rumahnya

+++

“Yoong, Ppalli, apa saja yang kau kerjakan didalam?” Teriak Luhan dari luar rumah Yoona.. “Apakah Yeoja memang selambat ini huh? Menyebalkan” keluh luhan.

“Aku sudah siap. Kajja” Yoona menarik tangan Luhan. “Tunggu dulu, kenapa kau tidak memakai seragam sekolah?” Tanya Yoona saat ia sadar luhan tak mengenakan baju yang sama seperti yang ia kenakan

“Hari ini kita bolos” Luhan menjawab dengan girangnya. “Hei tunggu dulu, apa yang baru saja kau ucapkan? Apa aku tidak salah dengar?kau kan paling anti dengan yang namanya BOLOS” ucap yoona dengan penekanan dikata terakhirnya

“KITA BOLOS SEKOLAH IM YOONA” Teriak Luhan. “tapi—“ Tak mempedulikan ucapan Yoona, Luhan menarik tangan Yoona dan mengajaknya berlari

“Sampai” Luhan melepaskan genggamannya pada tangan Yoona. “Bagaimana yoong?” Tanya Luhan namun tak ada jawaban sama sekali, merasa penasaran karena yoona tak meresponnya luhan pun menolehkan kepalanya dan betapa kagetnya ia melihat yoona yang jatuh terduduk dengan wajah yang pucat diiringi nafasnya yang tidak teratur

“Yoong, gwaenchana?” Tanya luhan panik “G-gwaenchan-na” jawab yoona sedikit tersendat. “Aku mohon jangan kambuh sekarang” batin yoona. “Yoong, kau kenapa?” Luhan semakin terlihat panik ketika melihat keadaan yoona yang semakin memburuk. “A-ambilkan vitamin di-di tasku”

Tanpa pikir panjang Luhan segera meraih tas yoona dan mengambil vitamin yang dimaksud yoona. “Ini yoong” Luhan memasukkan vitamin itu ke dalam mulut yoona dan memberinya sedikit air. Perlahan nafas yoona mulai teratur. Luhan pun tersenyum lega melihatnya

PLETAK

“Yak! Appo” Yoona meringis karena mendapat jitakkan dikepalanya “jangan membuatku khawatir seperti tadi” Yoona hanya mengeluarkan cengiran kudanya “Tadi aku hanya bercanda” jawabnya ringan

“Mwo? Hanya bercanda?!” Luhan menatap yoona dengan tatapan ‘Jadi kau membohongiku?” Menyadari tatapan Luhan yang terlihat sepertinya kesal ia pun mengalihkan pembicaraan “Ah ye tempat ini sangat Indah, aku belum pernah ke tempat ini” Yoona berakting kagum dengan pemandangan yang ada didepannya. Walaupun sebenarnya pemandangan didepannya memang patut di acungi jempol. Hamparan Rumput hijau yang sangat Luas, hanya rumput hijau, tapi entah mengapa hanya dengan adanya rumput itu saja membuat pemandangan didepannya ini menjadi lebih menarik

“Ini tempatku melepas lelah yoong, dan hanya kau yang tau tentang ini” Luhan mengalihkan pandangannya ke depan. Yoona memperhatikan wajah Luhan “wajahnya tenang, tidak terlihat seperti orang yang menanggung beban yang berat” batin yoona

Luhan tersenyum “Kau pasti akan menyukai tempat ini juga” gumamnya. “Aku harap begitu” jawab Yoona –masih memandang wajah Luhan

“Itu” ucap luhan menunjuk tikar yang tak jauh dari tempat mereka duduk, diatasnya ada berbagai macam makanan lezat “Darimana kau dapatkan itu semua Lu?”

“Aku berkerja lembur hanya untuk ini Yoong, Kajja” Luhan menarik tangan Yoona. Tak sampai 10 detik mereka sudah sampai ditikar yang ditunjuk Luhan “semua makanan ini mahal, kenapa kau tak gunakan saja uangnya untuk tabunganmu masuk perguruan tinggi, bodoh?!” Yoona menjitak kepala Luhan pelan. “Appo..lagipula tabungan kita untuk masuk perguruan tinggi sudah cukup deer”

“Kita? Aku rasa kau yang harus menggunakan sepenuhnya uangmu. Kau harus memikirkan masa depanmu sendiri Luhan-ah. aku sudah cukup membebanimu” batin Yoona. “kenapa kau melamun, ayo cepat duduk”

“Ahh, aku kenyang” ucap Yoona menggembungkan pipinya lucu. Luhan yang melihatnya hanya tersenyum geli “kau memang terlihat seperti anak kecil” sindirnya. “Terserah kau” Yoona meletakkan kepalanya dipaha Luhan dan memejamkan matanya

“Aish Ireona palli, seharusnya aku yang melakukan hal ini” Luhan mengguncang guncang tubuh Yoona yang hampir saja tertidur. Yoona hanya melihat wajah luhan dengan pandangan kesal “Yak! Aku benar benar mengantuk” Jawab Yoona “Aku juga” rajuk Luhan seperti anak kecil

“Shireo! Aku takkan bangun” tolak yoona dan kembali memejamkan matanya. “Bangun atau ku cium?!” ucap Luhan dengan nada yang sedikit err menggoda. Sontak mata yoona membulat sempurna, ia bangun dari posisi tidurnya. Luhan tersenyum puas “begini lebih baik” ucapnya mengambil posisi tidur dikaki jenjang Yoona

“Kau tidak ingin mengancamku?” Tanya Luhan beberapa saat setelah kepalanya mendarat dipaha yoona “maksudmu?” Tanya Yoona yang tak mengerti dengan arah pembicaraan Luhan “kau tidak mengancamku seperti Bangun atau ku cium” ucap Luhan penuh harap. “Harapanmu terlalu tinggi Tn.Xi”

“Aish pelit sekali” Luhan mengerucutkan bibirnya lucu, Yoona tersenyum melihat tingkah manja Luhan. Luhan yang dulu sempat hilang kini telah kembali, pikirnya

+++

Pukul 06.30 KST. Sekarang Luhan masih menunggu didepan rumah yoona,yeoja itu tak menampakkan batang hidungnya semalam, bahkan disekolah kemarin ia tak terlihat begitu ceria. Padahal biasanya ia akan terus menerus mengganggu Luhan dari ia bangun sampai ia tidur kembali.

“Yoong, Ppalli” Luhan berteriak didepan rumah yoona namun tak kunjung ada balasan. “Apa yoona belum bangun?” ucap Luhan pada dirinya sendiri

Ddrrtt…Ddrrtt

Tiba tiba ponsel luhan bergetar menandakan ada pesan masuk

From : Im Yoona

Lu, Mianhae aku sepertinya tak akan masuk sekolah sekarang. Aku mempunyai sesuatu yang sangat penting untuk dikerjakan. Mianhae

Luhan menghela nafasnya kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. “Aku takkan mendengar tawamu hari ini” ucap Luhan sedih lalu berjalan gontai meninggalkan rumah Yoona. Dari dalam rumah Yoona melihat lewat jendela “Mianhae aku membohongimu, aku hanya tak ingin kau khawatir melihat keadaanku yang menyedihkan seperti ini”

+++

Luhan kini tengah membaca buku dikelas. Teman temannya sudah terlebih dahulu pulang mendahuluinya. Memang sudah menjadi kebiasaannya membaca buku setelah pulang sekolah. Tapi ada yang berbeda hari ini, tak ada ocehan yoona yang biasanya mengajaknya pulang. “Aku merindukannya” gumam Luhan pelan kemudian menghela nafas

“Oppa” tiba tiba saja seorang yeoja berambut pirang menghampiri luhan dan bergelayutan manja dilengannya. “Oppa” yeoja itu memanggil nama luhan dengan manja. “Oppa-ya” yeoja tersebut kembali memanggil luhan karena tak kunjung mendapat jawaban

“Op—“ belum sempat yeoja yang bergelayutan manja dilengan luhan tadi menyelesaikan perkataannya luhan memotongnya. “Jessica, bisakah kau tak menggangguku, aku sedang ingin sendiri sekarang”

“Keunde oppa, aku merindukanmu. Akhir akhir ini kau selalu sibuk dengan yeoja tak penting yang bernama Im Yoona itu” Muka luhan memerah ketika Jessica menyebut Yoona dengan sebutan yeoja tak penting. “Bahkan kau tak mempedulikanku” ucap Jessica menundukkan kepalanya.

“Memang aku pernah mempedulikanmu?” Tanya Luhan ketus. “Oppa” suara Jessica parau, dimatanya telah terkumpul banyak cairan bening yang siap menerobos keluar tanpa diminta. “Untuk apa aku mempedulikan orang yang tak berarti bagiku? Kau hanyalah yeoja aneh yang mengejarku 1 tahun belakangan ini” Luhan melepaskan tangan Jessica kemudian pergi meninggalkannya

“Oppa hiks kenapa kau seperti ini?” Jessica menangis melihat sikap luhan yang biasanya lembut berubah menjadi sejahat ini. Luhan berhenti melangkah kemudian berbalik, Jessica tersenyum melihatnya. Ia tau luhan akan meminta maaf padanya.

“Jangan pernah memanggil Yoona dengan sebutan ‘yeoja tak penting’, kau tau Yoona bahkan jauh lebih penting darimu. Bahkan lebih penting dari diriku sendiri” Luhan kembali berjalan meninggalkan Jessica yang kembali meneteskan air matanya. Sepenting itukah Yoona bagi Luhan?

LUHAN POV

Menyebalkan. Bagaimana bisa Jessica mengatakan bahwa yoona tak penting? Apa ia berpikir ia sangat penting huh? Aku hanya bersikap baik padanya karena dia itu yeoja, tak lebih.

Ddrrtt Ddrrtt

Ponselku tiba tiba bergetar,Akupun mengambil ponselku dari saku celanaku. Tak tertera nama siapapun disana, Siapa ya? Lebih baik aku mengangkatnya. “Yoboseyo? Nuguseyo?” tanyaku

“…”

“Ne, ada apa ahjumma?”

“…”

“MWO?! Baiklah, aku akan segera kesana. Tolong jaga Yoona” aku mematikan sambungan teleponku kemudian berlari sekencang mungkin. “Yoona, Aku segera datang” batinku

+++

“Permisi, apakah disini ada pasien atas nama Im Yoona?” Ucapku sedikit tak jelas karena lelah berlari dari sekolah sampai ke sini. “Im Yoona? Saya cek dulu” jawab suster itu, Tak lama kemudian ia berkata kembali “Pasien bernama Im Yoona dirawat dikamar 2030”

Tanpa pikir panjang aku segera berlari mencari kamar itu, bahkan aku lupa mengucapkan terima kasih pada suster itu, Aku terlalu sibuk memikirkan Yoona.

10 menit sudah aku berkeliling rumah sakit ini tapi tak kunjung menemukan kamar itu juga. Aku sedikit frustasi, aku menundukkan kepalaku. Ingin rasanya aku menangis sekarang, tapi karena rasa gengsiku yang terlalu besar aku menahannya

“Luhan-ah!” tiba tiba seseorang memanggilku, aku mengangkat kepalaku. Aku menarik sudut bibirku ke atas untuk membentuk sebuah senyuman. “Ahjumma!” ujarku dengan raut wajah yang bahagia. Akhirnya aku bisa menemukan Yoona

“Kenapa kau tidak masuk?” Tanya Ahjumma. Masuk? Aku bahkan belum menemukan kamar yoona. “Aku belum menemukan kamar tempat dimana yoona dirawat, bisakah ahjumma mengantarku?” tanyaku, Ahjumma hanya tersenyum lembut “Tepat dibelakangmu adalah kamar dimana yoona dirawat”

MWO?! Aku melihat nomor yang tertera diatas pintu ‘2030’. Berkali kali aku melewati kamar ini dan tak menyadari bahwa kamar ini adalah kamar yang aku cari?! Im Yoona, kepanikanku terhadapmu membuatku menjadi bodoh seperti ini. Kau benar benar hebat!

“Kenapa kau melamun? Ayo cepat masuk” Tanpa pikir panjang aku memasuki kamar yoona. Aku melihat yoona dengan berbagai peralatan medis yang menempel ditubuhnya, dengan wajah yang pucat ia memberikan senyuman terbaiknya untukku. Aku sedikit tak rela melihat yoona –sahabatku- menanggung semua beban ini sendiri. Aku tau ia menderita dan kesakitan

Aku menghampirinya perlahan kemudian duduk dan memegang tangannya. “Kau datang?” tanyanya dengan tatapan mata yang sendu dan suara yang lemah. Aku tersenyum melihatnya. Mencoba memberinya kekuatan “Aku pasti datang”

“Bogoshipeo” ujarnya. Ya Tuhan! Betapa lemahnya ia saat ini, aku tak kuasa melihat dirinya yang menyedihkan seperti ini. “Hei, kenapa kau menangis?” tanyanya sambil menghapus air mataku tapi aku menahan tangannya.

GREB

Aku memeluknya lembut, sangat lembut. Aku tak mau ia tersakiti karena pelukanku, Ia terlalu rapuh “Kenapa kau tak menceritakan tentang penyakitmu padaku? Kau tau betapa khawatirnya aku saat mendengar bahwa kau dilarikan ke rumah sakit? Rasanya jantungku berhenti berdetak saat itu” Aku terus saja mengungkapkan semua yang aku rasakan padanya

“Kkokkjeongmal, aku hanya sakit biasa. Tidak parah, beberapa hari lagi aku akan membaik” Apa kau baru saja mencoba menenangkanku, Im Yoona? Disaat keadaanmu yang seperti ini? Aku melepaskan pelukanku “Apa aku sebodoh itu? Dengan peralatan medis yang kini melekat pada tubuhmu kau masih bisa berkata bahwa ini tidak parah?”

“Apa aku pernah berbohong padamu? Ini benar benar bukan penyakit yang parah, coba saja tanyakan pada Nana ahjumma” Aku menolehkan kepalaku kebelakang dengan tatapan ‘Apakah itu benar?’

Ahjumma hanya tersenyum “Jika Yoona mengatakan bahwa penyakitnya tidak parah berarti penyakitnya memang tidak parah, Percayalah” ucap Nana Ahjumma dengan tenang. “Tapi—“ belum selesai aku mengucapkan sesuatu yoona memotongnya “Apa kau melihat raut wajah kebohongan dari wajahku? Tidakkan?” Aku hanya menganggukkan kepalaku kemudian memeluknya kembali “Lain kali, jika kau merasa sakit atau apapun itu kau harus mengatakannya padaku”

“Ne”

+++

YOONA POV

Maafkan aku Lu, aku membohongimu. Aku hanya tak ingin melihatmu bersedih melihat keadaanku yang seperti ini. Untunglah Nana Ahjumma mau menyembunyikannya darimu.

Selama beberapa hari dirumah sakit Luhan selalu datang setiap hari, bahkan disaat hari libur ia mengambil cuti dari kerjanya agar bisa menjagaku seharian. Aku rasa cintaku padamu semakin besar dengan sikapmu yang memperlakukanku seperti seorang kekasih. Sayangnya tidak denganmu, aku tau kau menganggapku hanya sebagai sahabat, satu satunya sahabat yang kau punya

Cklek

Luhan masuk dengan membawakan bunga mawar merah indah “Aku bawakan bunga kesukaanmu” ucapnya sambil meletakkannya dan duduk dikursi. “Kau hanya membuang buang uangmu saja dengan membeli bunga itu”

“Seharusnya kau bersyukur, pabo” dia memukul kepalaku pelan. “Yak! Kenapa kau memukulku hah?”

“Yang benar saja, saat kau sedang sakit seperti ini kau masih punya kekuatan untuk memarahiku?” Aku hanya mendengus kesal mendengar perkataannya. Apa dia pikir aku akan tinggal diam? Xi Luhan, kau lupa dengan julukan orang orang kepadaku? Bahkan namja saja takut kepadaku

“Kau ingin mati?” ucapku santai sambil meregangkan otot ototku seolah olah aku bersiap memukulnya. “Whooaa Strong Yoona akan beraksi huh?” Aishh dia benar benar meremehkanku rupanya. “Ayo pukul aku” ucapnya sambil menunjuk pipinya. “Kau benar benar minta dipukul ya? Baiklah, jangan salahkan aku jika setelah ini kau babak belur”

“Silahkan” ucapnya santai. “Hana dul set————— Awww” Aku mengerang kesakitan dan memegang dadaku yang sakit. “Gwaenchana?” tiba tiba saja luhan menjadi panik, aku menunjukkan smirk-ku

BUK

“Aww! Apa yang kau lakukan” Luhan terlihat kesakitan sembari memegang perutnya yang tadi aku pukul dengan sangat keras. “Aku tidak mau memukul dibagian pipi, aku ingin memukulnya diperut bweeee Hahahaha” Perlahan aku turun dari ranjangku dan berlari keluar kamar

“Yoong, kau masih sakit” Luhan berteriak sambil mengejarku. “Aku bosan dikamar, aku ingin menghirup udara segar” Aku masih berlari sampai saat ini. Ya tuhan, aku harap waktu berhenti saat ini juga. Disaat melihatnya tersenyum sambil mengejarku begitu pula aku yang bahagia seakan akan aku tak pernah menanggung dan merasakan penyakit jantung yang sangat berbahaya ini

“Aku akan menangkapmu yoong” Dia masih berteriak sambil mengejarku dari belakang

Tiba tiba saja dadaku sesak, aku memperlambat lariku. Aku mohon jangan kambuh sekarang. “Ada yang sakit yoong?” Luhan kini telah berada disampingku sambil memegang tanganku. Aku tak menjawab sama sekali, aku tak bisa menjawab karena menahan rasa sakit ini

“Sudah kubilang kau masih sakit” Luhan memapahku menuju kamar rawatku. “wajahmu juga pucat” lanjutnya. “Nan gwaenchana. Hanya sakit sedikit” Untung saja aku masih bisa berbicara walau dengan volume suara yang kecil

Ayolah, ayo cepat sampai kamar. Aku sudah tak sanggup menahan rasa sakit ini “kenapa setiap sakit kau memegang dadamu?” Tanya Luhan. Luhan, kenapa kau bertanya disaat aku sulit menjawabnya?

“A-aniyo hanya saja—“

“Apa yang terjadi?” Nana Ahjumma datang kemudian menggantikan Luhan memapahku. “Tiba tiba saja Yoona seperti ini saat kami sedang berkejaran”

“Kalau begitu cepat belikan yoona makanan, mungkin ia telat makan” Ahjumma terus memapahku sedangkan luhan pergi membeli makanan. Tak lama kemudian kami sampai dikamar rawatku, akupun naik ke kasur dengan perlahan. Ahjumma mengambilkanku obat, akupun meminumnya

“Merasa lebih baik?” Tanya Ahjumma, Aku hanya menganggukkan kepalaku. “Seharusnya kau tak berlari tadi, kau tau kau tidak kuat untuk itu”

“Mianhae ahjumma, aku tadi lupa”

“Kalau begitu beristirahatlah”

+++

AUTHOR POV

Hari ini adalah hari dimana yoona keluar dari rumah sakit.  14 hari sudah ia dirawat disana karena penyakit jantungnya, namun anehnya luhan sama sekali tak mencurigainya. Tapi Yoona bersyukur akan hal itu, Biarlah luhan menganggapnya seperti orang sehat, setidaknya ia bisa menjauhi luhan terlebih dahulu agar luhan tak merasa begitu kehilangan saat kepergiannya nanti

“Akhirnya kau keluar yoong, kita bisa pergi ke tempat favorit kita dan melepas lelah kemudian makan makanan lezat lagi, lalu kita juga bisa membeli bunga yang kau suka, Aku juga merindukan ocehanmu saat kau minta pulang pada saat aku membaca buku, Aku juga ingin—“

“Jika kau terus menceritakan semua kenangan kita, 1 haripun takkan cukup” Yoona membekap mulut Luhan

“Yak! Apa yang kau lakukan?” Ucapan luhan agak tak jelas karena mulutnya yang dibekap tangan mungil yoona. “Lepaskan!” Luhan masih mengerang minta dilepaskan. Yoona pun melepaskannya kemudian berjalan mendahului Luhan

Luhan mempercepat langkahnya agar posisinya bisa sejajar dengan yoona. “Belikan aku ice cream rasa mint” ucap yoona sedikit manja. “Uangku habis, no ice cream” Luhan menggelengkan kepalanya lucu. “Jebal-yo” ucap yoona ditambah dengan sedikit aegyo khas dirinya

“Aisshh keure, tunggu disini” Luhan melangkahkan kakinya dengan sedikit terburu buru, kebetulan diseberang jalan ada super market. Yoona yang melihatnya hanya tersenyum kecil lalu membenarkan tali sepatunya yang tadi sempat lepas

BRUK

Mendengar itu yoona mengangkat kepalanya. Sesaat semua organ tubuhnya berhenti bekerja. Telah terjadi sebuah kecelakaan didepannya “Aku yakin itu bukan Luhan” gumamnya pelan sambil menahan tangis. Ia menghapus air mata yang tadi jatuh lalu perlahan berdiri dan berjalan mendekati kerumunan orang orang “Aku tau itu bukan kau” Yoona masih meyakinkan dirinya

“Dia tampan, tapi sayang sekali dia harus mengalami kecelakaan tragis seperti ini” ucap salah seorang dari kerumunan orang orang itu. Yoona mempercepat langkahnya, tak mempedulikan orang orang yang ia tabrak.

“Yoo-Yoona”

DEG

“Itu suara Luhan” batin Yoona. Yoona pun berlari “Luhan-ah!” Yoona merengkuh tubuh luhan ke dalam pangkuannya. Seketika air matanya tumpah “A-aku Aku—“ Yoona meletakkan telunjuknya dibibir Luhan “Ssttt, kau tak usah berbicara”

“Mi-mianhae Ice creamnya Ice creamnya belum—“

“Aku tak peduli dengan Ice cream atau apapun itu, yang aku mau hanya kau. Aku mohon jangan pergi hiks hiks”

“Yoong, kita harus cepat membawa Luhan ke rumah sakit sekarang!” ucap yeoja berambut pirang yang tak lain adalah Jessica. “Kau, sedang apa kau disini Hah?” bentak yoona. “A-aku Mianhae aku tak sengaja” Jessica mulai menangis

“Oh, kau yang menabrak Luhan ya?” Tanya Yoona dengan pandangan sedikit sinis. “Kau boleh memarahiku bahkan aku rela jika kau ingin membunuhku tapi aku mohon tidak sekarang. Luhan harus kita selamatkan”

“Kka! Aku tak membutuhkan orang sepertimu!” Yoona benar benar dikuasai emosi sekarang. Ia mengabaikan Jessica kemudian mengangkat luhan –tentunya dibantu orang orang

Jessica menahan langkah Yoona “Tunggu,Biarkan aku ikut. Aku hanya ingin tau keadaan Luhan”

“Luhan juga tak membutuhkanmu!” Yoona pergi meninggalkan Jessica yang menangis. “Pabo! Kenapa kau mencelakai orang yang kau cintai Jessica!” ucap Jessica merutuki kebodohan dirinya. Tapi ia tak menyerah sampai disini, ia diam diam mengikuti yoona dan ikut menunggu kabar tentang Luhan

Selang 6 jam Dokter keluar, dokter terlihat berbincang bincang dengan Yoona kemudian pergi. Yoona pun masuk ke kamar rawat Luhan. Jessica mengintip dari luar, yang ia inginkan hanya melihat keadaan luhan sekarang

“Bukankah seharusnya kita keluar dari rumah sakit hari ini? Itu keinginanmu kan? Tapi kenapa kau malah masuk lagi?” ucap yoona memegang tangan Luhan. “Kau kuat Lu, aku tau itu”

Hello Hello moshi moshi ciao ciao busy busy
everytime ai ga Beep Beep Beep Beep

Tiba tiba saja ponsel yoona berdering, tak lama setelah berbincang bincang dengan orang diseberang sana yoona pergi meninggalkan Kamar. Setelah merasa Yoona pergi Jessica memasuki kamar Luhan dan duduk

“Mianhae Lu, kalau saja aku tak menabrakmu pasti kau takkan seperti ini hiks hiks”

“Yoo-Yoona” Terdengar suara Luhan walaupun sangat kecil. Perlahan luhan membuka matanya, dengan sigap Jessica memegang tangan luhan. “Akhirnya kau sadar Lu” gumam Jessica. “K-kau Yoona?” Tanya Luhan. Jessica mengerutkan dahinya, kenapa Luhan menanyakan hal itu?

“Kau baik baik saja Lu?” Tanya Jessica. “Apa kau orang yang bernama yoona?” Tanya Luhan sekali lagi

Tiba tiba saja sebuah ide gila melintas dipikirannya “Kenapa kau terus menanyakan gadis itu? gadis yang selalu membuatmu menderita, padahal aku yang selalu ada untukmu” Jessica mencoba membuat ekspresi wajahnya sesedih mungkin, Ini kesempatan bagus baginya

“Jessica?” luhan mengerutkan dahinya “Ya, apa kau benar benar tak ingat siapa aku?” Jessica kembali menundukkan kepalanya

“Yang aku ingat.. Aku selalu bersama seorang gadis dan arrghh” Luhan memegang kepalanya yang kesakitan, entahlah.. dipikirannya banyak melintas wajah seorang gadis tapi wajahnya tak begitu jelas

“Gadis itu aku! Apakah kau tak mengingatnya? Kenapa kau selalu mengingat yoona yang jelas jelas tak mempedulikanmu” Jessica berteriak seolah olah ia pihak yang tersakiti disini. “Kau.. Gadis itu?” Tanya Luhan pelan

“Aku merindukanmu Lu~” Jessica berhambur memeluk Luhan, Luhan hanya bisa diam sebelum akhirnya membalas pelukan Jessica “Gadis itu mungkin dia” batin Luhan

Cklek

Seketika Luhan dan Jessica melonggarkan pelukannya saat mendengar suara pintu yang terbuka. Di sana telah berdiri seorang yeoja dengan tatapan nanar dan air mata yang sepertinya siap meluncur kapan saja “Jessica! Sedang apa kau disini?!” Yoona setengah membentak Jessica, ada rasa sesak saat melihat mereka berpelukan seperti itu. “Siapa kau?! Kau tak pantas membentak Jessica!” Luhan balik membentak Yoona

“Lu-luhan-ah, hiks ini aku yoona Lu, kau tak ingat?” Liquid Liquid bening itu semakin tak bisa Yoona tahan, terlebih lagi luhan membentaknya karena Jessica. “Lalu apa urusanmu denganku?” Tanya luhan ketus. Ia mengingat perkataan Jessica tentang Yoona yang selalu membuatnya menderita

“Kenapa kau seperti ini? Apa yang terjadi padamu?!” ucap yoona sedikit berteriak. Ia tak percaya, Ia tak percaya dengan semua ini “Pergi Kau!” Bentak Luhan sambil mengarahkan telunjuknya mengisyaratkan bahwa yoona harus pergi dari tempat ini

“K-kau—“ dengan air mata yang kini telah membasahi pipinya yoona berlari meninggalkan kamar itu. Yoona tak peduli dengan penyakitnya yang bisa kambuh kapan saja jika ia berlari, yang Ia pedulikan sekarang hanyalah Luhan. Ia tak pernah menyangka jika Luhan mengusirnya  bahkan Luhan membentaknya Karena Jessica? Semua ini lebih buruk dari kematian, pikirnya

+++

Minggu pagi, suasana yang pas untuk berlari atau sekedar berjalan melihat kota seoul. Di antara ribuan orang yang memadati kota seoul ada seorang gadis –Yoona—  yang berjalan santai sambil menikmati suasana kota kelahirannya ini

Yoona teringat akan kejadian pekan lalu, kejadian dimana Luhan tidak mengenalinya dan bahkan menyuruhnya pergi karena Jessica. Ia tersenyum tipis, ternyata semuanya tak seburuk itu.

Luhan hanya amnesia sesaat, kata dokter, Luhan hanya melupakan seseorang dalam hidupnya. Orang itu sangat berarti untuk Luhan, dan karena begitu berartinya orang itulah memori Luhan tak dapat mengingatnya ketika kecelakaan itu terjadi dan sayangnya.. orang itu adalah aku

“Apakah sebegitu pentingnya arti diriku untukmu? Hingga kau….melupakanku” batin yoona. Entahlah, ia juga tak tau Apakah ia harus bahagia akan hal ini atau sebaliknya

Tapi ada satu hal yang ia sesali. Kenapa ia tidak menjadi orang pertama yang Luhan lihat saat ia membuka matanya? Dan bodohnya lagi, Ia membiarkan Jessica yang ada disamping Luhan

Saat ia tengah merenungi semua kejadian itu tiba tiba iris matanya menangkap Seorang yeoja dan namja yang  tengah berjalan bergandengan tangan, terlihat tak ada sama sekali raut wajah yang menyedihkan, keduanya terlihat sangat bahagia

Hei, Apakah kalian tak melihat seseorang disini? Seseorang yang sakit melihat kebersamaan kalian yang seharusnya tak pernah ada.

“Jessica, kau mengambil posisiku” gumam yoona pelan, Ia menghela nafas panjang. Berusaha menenangkan perasaannya yang kalut saat ini “Tapi itu takkan lama, ingatlah bahwa aku takkan pernah tinggal diam” lanjutnya lagi

+++

“Luhan-ah Annyeong” sapa yoona pada luhan yang tengah membaca buku diperpustakaan. Luhan mengangkat kepalanya sebentar kemudian melanjutkan lagi aktivitas membacanya. Yeoja ini, yeoja yang telah membentak Jessica.. Aku tak perlu mengenalnya, pikir Luhan

“Ayolah, kau tak usah sedingin itu padaku. Kau masih mengingat kejadian dirumah sakit ya? Soal itu aku juga ingin meminta maaf aku hanya—“ belum sempat yoona menyelesaikan ucapannya luhan memotongnya

“Hanya apa?” Tanya luhan dengan pandangan mengintimidasi “kalau aku jawab itu hanyalah kejahilanku, kau akan percaya?” Tanya yoona balik. Entahlah, apakah tindakan yang yoona lakukan tepat atau tidak. Ia hanya ingin luhan kembali seperti dulu lagi,  Luhan yang menyayanginya

“Entahlah, aku juga tak tau” Luhan kembali memfokuskan dirinya pada buku yang ada ditangannya. Ingin rasanya ia tak mempercayai apa yang diucapkan gadis dihadapannya ini, terlebih lagi jawabannya tak masuk akal. Tapi, hati ini menyuruhnya untuk percaya

“Aku tau itu terdengar tak masuk akal tapi itulah alasanku” ucap yoona

“….”

Merasa tak mendapat jawaban yoona menghela nafasnya “Aku pulang duluan ya, ah ya.. diluar sudah gelap, cepatlah pulang” setelah mengucapkan runtutan kata yang dulu sering Ia ucapkan pada luhan yoona berjalan menuju pintu keluar

Belum sampai Yoona didepan pintu keluar ia membalikkan badannya “Panggil aku Yoona” Yoona tersenyum simpul kemudian melanjutkan langkahnya menuju pintu

Luhan menatap punggung Yoona yang mulai menjauh. Saat Yoona menyuruhnya untuk segera pulang tiba tiba muncul sekelebat ingatan tentang dirinya dengan seorang yeoja ditempat ini

“Sudahlah, mungkin yeoja itu Jessica” pikir luhan

+++

“Luhan-ah” panggilan itu keluar dari seorang gadis cantik yang kini tengah melambaikan tangannya pada Luhan. “Yoona?” Tanya Luhan. “Annyeong, dimana Jessica?” Tanya Yoona

“Entahlah, dia akhir akhir ini sibuk dengan teman temannya” jawab luhan santai walaupun terdengar sedikit kecewa dalam nada bicaranya. “Itu memang kebiasaannya” batin yoona. “Ah ye, kau mau menemaniku membeli bunga?” pinta yoona dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya. “Sepertinya aku ada—“

“Ayolah, Jebaalll” Jurus andalan Yoona keluar –aegyo- . Dan entah makhluk apa yang merasuki Luhan, Luhan hanya mengiyakan ajakan yoona, ia tak tau kenapa ia bisa akrab secepat ini dengan orang asing, apalagi yoona pernah membentak gadis yang paling berharga dalam hidupnya

+++

1 Month Later

Kerja keras yoona dalam mengembalikan ingatan luhan mulai berhasil, walaupun terkadang luhan merasakan sakit yang sangat hebat saat ia mengingat sesuatu tentang Yoona. Apa kalian penasaran dengan Jessica? Entahlah, bahkan ia saja jarang berada disamping Luhan

“Yoong, dia mengabaikanku lagi” Luhan duduk disamping yoona dengan raut wajah sedihnya. Yoona tersenyum getir “Seharusnya bukan dia, tapi aku” batinnya. “Mungkin dia sedang sibuk, jika urusannya telah selesai pasti ia akan menemuimu” yoona menepuk nepuk punggung Luhan

Luhan menatap iris mata yoona “Tapi kapan? Bahkan beberapa hari ini kami tak bisa berkencan”

“Kencan? Luhan dan Jessica? Maksudku, mereka adalah sepasang kekasih? Tapi sejak kapan?” batin yoona, kini semua yang ia rasakan hanya bisa ia ungkapkan lewat hatinya. “err maaf, aku kira kalian hanya berteman”

“dulu kami memang berteman tapi sebenarnya aku sudah mencintainya sejak lama, hingga 2 minggu lalu aku menyatakan perasaanku padanya” Luhan menundukkan kepalanya, sepertinya ia belum selesai mengucapkan hal yang ingin ia ungkapkan.

Tunggu, Apakah ini berarti Luhan mencintainya? Mencintai Yoona?

“Tapi, aku merasakan kejanggalan, seingatku aku dengannya tinggal bersebelahan. Tapi kenapa kau yang tinggal disebelahku? Saat aku menanyakannya pada Jessica, ia menjawab bahwa sekarang ia pindah dan tinggal bersama pamannya” jelas luhan panjang lebar

“Jika ia berkata seperti itu, berarti itulah kebenarannya” Yoona tersenyum simpul “Tapi ini hal yang janggal, sungguh” Luhan masih bersikukuh dengan pendapatnya tentang adanya hal yang aneh pada diri Jessica “Kalau begitu kau harus mencari taunya”

“emm, aku akan mencari tau kebenarannya”

+++

Berhari hari Luhan mencari tahu tentang kejanggalan yang ada pada diri Jessica, Tapi tanpa seorang Yoona disampingnya. Entahlah, beberapa hari ini gadis itu tak menampakkan batang hidungnya,padahal luhan sangat berharap Yoona bisa membantunya mencari tahu tentang hal ini

Tiba tiba saja Ponselnya bergetar, Luhan pun merogohnya dari saku celananya

From : Im Yoona

Luhan-ah, bisakah kau menemuiku ditaman sekarang? Aku sangat merindukanmu

“Ada apa dengannya?” gumam luhan, 1 detik kemudian ia mengalihkan pandangannya pada jam tangan putih yang melingkar ditangan kirinya.

15.00 KST

Luhan langsung beranjak dari tempatnya berdiri, ia pergi ke tempat yang Yoona maksud dan Kurang dari 20 menit ia telah sampai. Berulang kali ia celingukan melihat ke kanan dan ke kiri, tapi orang yang ia cari tak kunjung ia temukan

PUK

Sepasang tangan mungil memukul pelan bahu luhan “kau sudah datang eoh?” ucap gadis itu dengan senyuman indah kepunyaannya, tapi senyumnya kali ini berbeda, terlihat lebih…bersinar

“Yak! Kenapa kau tiba tiba pergi huh?” Luhan langsung to-the-point dengan hal yang ia maksud. Yoona seakan canggung mendengarnya. Tiba tiba pergi?

“Ayolah, kau bahkan meninggalkanku berhari hari tanpa kabar sedikitpun” Luhan sedikit merajuk, Luhan juga tak tau sejak kapan tapi yang pasti rasanya ia sudah terbiasa dan nyaman dengan sikapnya yang seperti ini. Ia seperti sudah pernah atau bahkan terbiasa melakukannya

Mianhae, kau tau tugas tugas itu menumpukkan? Aku jadi tak sempat menghubungimu, Ah ya bagaimana hubunganmu dengan Jessica?” Tanya Yoona

“Aku tak tau, aku sedang tak ingin membahasnya” Luhan memandang lurus ke depan seolah olah ada hal yang lebih menarik di depan sana “Jangan Murung, bagaimana kalau kita bersenang senang?”

“Maksudmu?” Luhan mengalihkan pandangannya pada yoona. Yoona hanya tersenyum lebar menampilkan deretan gigi putihnya “Bermain, kau pasti tau arti kata itu ‘kan?”

“Tunggu dulu, kau sakit?” Luhan menempelkan punggung tangannya pada dahi yoona, wajahnya terlihat pucat dan bibirnya sedikit putih

“Apa yang kau bicarakan? Aku baik baik saja, lebih baik kita bermain sekarang..waktu kita tidak banyak” Yoona menarik tangan luhan dengan sekali hentakkan yang membuat luhan sedikit terhuyung

Yoona menarik luhan memasuki mobil yang ia bawa Dan dengan kecepatan tinggi ia mengendarai mobil itu, Luhan hanya bisa diam mengikuti ajakan Yoona

“Cha~ Kita sampai sekarang” Yoona dan Luhan keluar dari mobil. Yoona menghirup udara segar sebanyak banyaknya. Dia sangat merindukan tempat ini. Tak jauh berbeda dengan Yoona, Luhan juga melakukan hal yang sama

“Ya Tuhan, apa yang salah denganku? Kenapa semua hal yang baru terlihat tidak asing bagiku jika aku bersamanya?” Ucap Luhan dalam hatinya. “Kau Suka?” Luhan mengalihkan pandangannya pada yoona “Tentu saja!”

“Keure, aku senang kau menyukainya” Yoona berjalan pelan ke depan, ia memasukkan tangannya ke dalam jaket tebalnya “Udara disini dingin” ucap yoona.

Tiba tiba sesuatu yang agak berat bertengger dibahunya, Yoona menoleh dan mendapati Luhan tersenyum –senyum yang sangat yoona rindukan. “Kau kedinginan” jawab luhan seolah olah bisa membaca pikiran yoona

“Gomawo” Yoona menjatuhkan tubuhnya dihamparan rumput hijau itu – duduk dan memanjangkan kakinya— lalu memandang lurus ke depan, Luhan mengikuti apa yang yoona lakukan. “Seandainya aku bisa memberi tahumu bahwa ini adalah tempat yang paling indah untukmu” batin yoona

+++

Setelah Kejadian itu Yoona menghilang dari kehidupan Luhan, Tidak ada kabar tentangnya bahkan hingga saat ujian kelulusan yoona tak kunjung menampakkan batang hidungnya, seakan akan ia mentari yang hilang ditelan kegelapan

Tercatat 2 bulan sudah Yoona hilang dari hidup Luhan “Bogoshipeosseo” gumam Luhan. “Aku tau kau merindukanku” tiba tiba Jessica datang dan memeluk Luhan lembut “Maaf karena telah mengacuhkanmu akhir akhir ini, aku hanya.. tak suka melihatmu berada didekatnya”

“Aku merindukanmu, Yoong” Luhan memeluk Jessica lebih erat, Jessica tersentak kaget dan seketika ia melepaskan pelukannya “MWO?! Apa yang kau katakan?! Yoona?! Kenapa dipikiranmu hanya ada gadis tak penting itu?  Aku yang kekasihmu, bukan dia!” Bentak Jessica

Luhan sama kagetnya dengan Jessica, kenapa ia memikiran Yoona bahkan disaat ia sedang bersama Jessica? “Mianhae” Luhan merengkuh Jessica ke dalam pelukannya “Aku tak bermaksud seperti itu” lanjutnya sambil mengecup lembut puncak rambut Jessica

“A-aku takut kehilanganmu, aku tak mau kau kembali ke pelukan Yoona” ucap Jessica masih menangis dalam pelukan luhan

Luhan mengerutkan keningnya, kembali ke pelukan yoona? Apa maksudnya?

“Kau bahkan selalu mengacuhkanku dan lebih mementingkan gadis itu.. Kau selalu peduli dengannya, kau selalu hiks hiks” Jessica tak sanggup melanjutkan kata katanya, ini terlalu berat baginya

“Hingga kecelakan itu datang dan merenggut memorimu tentangnya, kau masih saja mengingat gadis itu! Bahkan saat kau kehilangan ingatanmu tentangnya kau masih mengingat bagaimana dia berjalan, bagaimana dia berbicara, bagaimana dia tertawa. Kau sangat mengenalnya dengan baik! Aku.. Aku.. ingin kau memperlakukanku seperti kau memperlakukannya” Racau Jessica, Ia sudah tak sanggup lagi bersikap seolah olah ia Yoona, ia lelah dengan semua ini

Luhan diam terpaku mendengar perkataan Jessica. Ia sulit hanya sekedar untuk menggerakkan anggota tubuhnya, mulutnya terkunci rapat, semua organ tubuhnya berhenti berfungsi untuk sesaat

Luhan melepaskan pelukannya dan menatap Jessica tajam “Mianhae” gumam Jessica pelan. “Kau membohongiku” Emosinya memuncak, matanya memerah “Kau berkata bahwa kau adalah gadis itu dan itu artinya kau membohongiku!” bentak Luhan

“Aku tidak bermaksud beg—” Luhan memotong ucapan Jessica “Kau membohongiku dan menyakiti Yoona! Aku.. Menyakiti Yoona” nada suaranya merendah di 3 kata terakhir. Jadi dirinya yang menyakiti Yoona?

“Luhan-ah” Jessica mencoba menyentuh Luhan tapi Luhan menepis tangan Jessica “Jangan pernah menyentuhku!” Luhan berlalu dari hadapan Jessica, Jika Jessica bukan wanita mungkin ia telah memukulnya

Jessica menatap nanar kepergian Luhan, air mata itu jatuh lagi. “hiks Aku tak bisa memilikimu”

Diluar sana Luhan terlihat frustasi, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Yoona menghilang dari hidupnya, bagaimana caranya agar ia menemukan Yoona?

Tiba tiba ponsel di sakunya bergetar, memaksanya untuk melihat siapa yang mengiriminya pesan

From : Nana Ahjumma

Luhan-ah, Yoona akan di makamkan. Bisakah kau ke sini sekarang dan mengantarnya ke tempat peristirahatan terakhirnya? Dia membutuhkanmu

Deretan kata itu menohok hati luhan, seperti ribuan pedang damaskus menusuk hatinya “Yoona.. Meninggal?” suaranya tercekat, Ia menjatuhkan ponselnya “Bagaimana bisa?” Dengan secepat kilat ia berlari menuju tempat yang Nana Ahjumma maksud, berharap bahwa ini semua tidak benar

Langit ikut menumpahkan cairannya, menemani luhan yang kini masih berlari, tubuhnya bergetar. Ia menangis. Langkahnya perlahan mulai terhenti saat melihat semua orang mengitari peti mati yoona yang akan segera dimasukkan ke dalam tanah

“ANDWAEEEEEEEEE!!” Luhan berlari menuju peti Yoona, mencoba menghentikan pergerakkan peti itu yang masuk ke dalam tanah “Yoong, kau tak bisa meninggalkanku sekarang.. Kau masih ingat bahwa kita berdua akan hidup bahagia selamanya? Kita akan masuk universitas bersama, memasak bersama, berangkat bersama, menjalani kehidupan berdua.. Ti-tidakkah kau mengingatnya? Aku.. tak ingin kau pergi sekarang”

“Luhan-ah, ikhlaskanlah kepergiannya” Nana ahjumma mencoba menenangkan pikiran Luhan yang kalut karena kepergian Yoona yang secara tiba tiba “Chogiyo Agasshi, kami harus melakukannya sekarang” ucap salah seorang dari mereka

Luhan hanya menatap nanar peti mati Yoona, tubunya mulai menjauh. Yang ia lakukan selama pemakaman hanya diam, tak menangis, tak mengeluarkan suara sama sekali, tak bergerak sama sekali, Hanya menatap Peti mati itu hingga hilang dari pandangannya

Satu persatu mulai pergi dari tempat itu, menyisakan Luhan dan Nana Ahjumma. “Menangislah” ucap Nana Ahjumma. Luhan menjatuhkan tubuhnya ke bawah, membiarkan pakaiannya menyentuh tanah “Ahjumma, apa aku bermimpi?”

“Dia meninggalkan ini untukmu” Nana Ahjumma menghiraukan pertanyaan Luhan kemudian memberikan sesuatu pada Luhan “Ini yang ia titipkan padaku” Luhan menerima benda —Recorder—  itu kemudian Nana Ahjumma pergi meninggalkan Luhan

Perlahan ia menekan tombol play agar benda yang digenggamnya itu berfungsi

Annyeong Luhan-ah, Apa kabarmu? Maafkan aku karena hilang begitu saja belakangan ini.. Kau tau, pengobatan yang aku jalani mengharuskanku untuk tinggal dirumah sakit.

Luhan meneteskan air matanya saat mendengar suara yang terdengar dari recorder itu. Itu.. Suara Yoona.

Hei, apa kau ingin mendengar sebuah cerita? Aku punya cerita yang bagus. Ini kisah tentang Persahabatan seorang gadis dan seorang lelaki.. Mereka adalah sepasang sahabat dari kecil, banyak orang yang mendefinisikan kedekatan mereka seperti sepasang kekasih, Mereka saling melindungi, saling berbagi, saling melengkapi. Rasanya begitu indah, bukan? tapi sayangnya Waktu tak mengizinkan kebersamaan mereka lebih lama lagi

Mulai terdengar isakan kecil disela sela Yoona melanjutkan ceritanya

Sahabat si gadis harus kehilangan ingatannya tentang si gadis karena sebuah kecelakaan. Sangat menyedihkan, bukan? Dan kau tau apa yang terjadi selanjutnya? Posisi gadis itu tergantikan.. Bahkan hingga saat saat terakhirnya di dunia ini sahabatnya masih belum bisa mengingatnya.

Lama Suara Yoona tak terdengar, hanya isakan kecil yang bisa di dengar Luhan. Gadis itu menangis?

Lu-Luhan-ah.. Mianhae, aku tak bisa menahan hiks aku tak bisa menahan tangisku, kisah tadi sangat menyedihkan

Tentu saja menyedihkan, Kisah itu menceritakan kehidupan mereka berdua

Bolehkah aku meminta satu hal padamu? Jika nanti kau bertemu dengan sahabat si gadis, tolong katakan bahwa gadis tadi sangat merindukannya dan maaf karena tak bisa menemaninya lagi di dunia ini, katakan juga bahwa gadis tadi… Mencintainya

“Yoong” lirih luhan “Sebesar inikah penderitaanmu? Bahkan akulah yang menyebabkan kau seperti ini” gumamnya pada dirinya sendiri

Ah ya, Boleh aku meminta satu hal lagi? Aku tau ini tidak masuk akal tapi.. Bisakah kau selalu mengingatku? Gadis aneh yang membentak orang yang paling berharga dalam hidupmu lalu tiba tiba masuk ke dalam lembaran kehidupanmu dan pergi dengan tiba tiba pula.. Bisakah kau tak.. Melupakanku? Aku berharap kau bisa mengabulkannya. Annyeong~

Recorder itu jatuh dari tangan Luhan. Dengan pandangan kosong Luhan mulai berdiri lalu melangkah gontai pergi dari tempat tadi

Im Yoona, Kau adalah hidup dan matiku. Aku tak tau apa yang akan aku lakukan jika kau tak berada disampingku. Haruskah aku menyusulmu? Maafkan aku yang bahkan tak bisa mengenalimu, aku tau aku pantas dihukum seperti ini.. Tapi jika boleh, aku juga ingin meminta satu hal pada Tuhan, Pertemukanlah aku dengannya dikehidupan selanjutnya

Xi Luhan

+++

500 years later

Seorang gadis kecil tengah bermain salju dipekarangan rumahnya. Ya, sekarang sedang turun salju di negerinya. Ketika ia sedang sibuk membuat boneka salju tiba tiba mendarat 2 benda kecil disebelahnya

Gadis kecil itu hanya mengarahkan pandangannya pada benda yang jatuh tadi hingga sebuah suara anak laki laki membuyarkan lamunannya

“Chogiyo, pistol mainan itu punyaku” ucap anak laki laki itu, gadis kecil itu hanya mendongakkan kepalanya “kenapa bermain mainan seperti ini?” Tanyanya

“Ini sangat menyenangkan, mau ikut bermain?” Anak laki laki itu mengulurkan tangan kananya, menyuruh gadis kecil di depannya mengiyakan ajakannya, namun gadis itu hanya memandangnya tanpa ekspresi apapun. Melihat pandangan gadis itu anak laki laki tadi tersenyum “Namaku Luhan, Xi Luhan”

Gadis kecil tadi membalas senyuman Luhan kemudian membalas uluran tangan Luhan sambil beranjak berdiri “Aku Im Yoona, kau bisa memanggilku Yoona atau apapun itu”

“Kajja, kita bermain sekarang” Keduanya berlarian sambil bersikap seolah olah mereka 2 kubu yang saling berperang, menembak satu sama lain , tak jarang pula salju salju di sekitar mereka dipakai untuk melempar lawannya. Mungkinkah kisah itu akan terulang kembali? Aku juga tak tau

Takdir itu.. adalah skenario tuhan yang takkan pernah bisa ditebak oleh manusia. Sekuat apapun manusia menolaknya, takkan pernah ada yang bisa menghindarinya

END

Gimana fanfic yang abal ini? Semoga memuaskan readers ya.. Aku ga nyangka oneshootnya ternyata jadi sepanjang ini, maaf kalau jadi berbelit belit atau ngebosenin. Seenggaknya tinggalkan comment atau like ya^^ Cuma kata ‘Nice Thor’ | ‘Keep writing thor’ | ‘Nice fanfic’ udah ngebuat aku senang :3 Mohon kritikannya dengan bahasa yang baik, bisa langsung kritik di comment atau ke acc twitter aku @nafila_nida , Gomawooooo

28 thoughts on “[Freelance] Don’t Forget Me

  1. Kasihan Yoona😥 rekaman yoona yang di tape recorder nya mnyedihkan. Nyesek deh tuh luhan pas dengerin. Feel nya dpt. Keren!

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s