[Freelance] Tales of 9 Death Angels (SooYeol Part)

artposter_talesofthe9deathangel4

Tales of the 9 Death Angel (Sooyoung and Chanyeol Part)

Author             :  _agrn

Main Cast        : Sooyoung and Chanyeol

Other Cast       : Tiffany, Park Kyungri (Nine Muses), Park Jungsoo (Leeteuk SJ), Kai, Yoona

Genre              : Romance, Fantasy, Family.

Rate                 : PG 15

Length             : Multichapter

A/N                 : Annyeong~ saatnya FF ini kembali… ternyata baru chapter ke 4 ya? Berarti tinggal 6 lagi dan FF ini tamat… Sebelumnya maaf karena aku telat update karena well, sebagai murid kelas 9 aku sibuk dan orang tua terus maksa buat belajar terus-_- jadi aku jarang nyentuh laptop… anyway, disini Chanyeol jadi anak yang kena autisme :’) maaf ya, tapi ideku kepentok disini. Itu pun terinspirasi dari banyak cerita dengan Chanyeol yang menderita autisme. Jadi aku kepikiran buat bikin Chanyeol gitu juga. Tapi alurnya tetep aku yang punya kok ‘-‘

Ngomong-ngomong soal autisme, coba kalian cari fanfiction Baby’s Breath itu brothership sih, tapi bagus kok’-‘ aku sampe nangis bacanya. Aku rekomen banget ff itu.

Sip, segitu aja. DON’T LIKE DON’T READ Happy Reading~

oOoOoOo

Yeoja itu kini terduduk diatas meja kerjanya. Tatapannya lurus ke depan dan rautnya terlihat sangat serius. Siapapun tahu bahwa yeoja cantik bernama Choi Sooyoung itu sedang berfikir keras. Matanya akhirnya tertuju pada sebuah bingkai foto dimana ada 4 orang sedang tersenyum bahagia disana. Yang satu sedang mencubit pipi sang namja, yang lainnya tersenyum kecil, si namja menunjukkan smirk meskipun terlihat lucu karena pipinya yang dicubit. Matanya kembali tertuju pada sosok dirinya pada foto tersebut. Ia tersenyum kecut. Pada foto itu, ia dapat melihat senyum lebar dan matanya yang membentuk lengkungan bulan sabit. Sekarang, ia tahu bahwa wajahnya sudah tidak bisa membentuk raut seperti itu lagi.

Sooyoung menghela nafas dan menutup matanya. Semua ini karena manusia. Ya. Semuanya karena manusia yang membuat orang-orang yang ia sayangi menjauh darinya. Manusia yang merenggut apa yang ia sayangi. Yang merenggut sahabatnya, yang merebut orang yang sudah ia anggap kakak, dan merebut orang yang ia cintai…

Sampai sekarang, ia masih tidak percaya bahwa Sunny rela menjalani hukuman karena bersikeras mempertahankan perasaannya( itu salah satu alasan kenapa ia tidak ingin Sunny turun ke bumi. Tapi ternyata rasa penasaran Sunny terhadap Hyoyeon lebih besar dari yang ia duga ) Ia juga tidak percaya Hyoyeon rela menghilang hanya karena namja bernama Zhang Yixing dan yang ia tidak habis pikir… kenapa Kai, orang yang ia cintai sepenuh hatinya itu mengabaikan ungkapan hatinya dan lebih memilih mencintai Yuri, manusia itu.

Namun, bagaimana pun juga, ia tetap mencintai Kai. Ia tidak akan tega melihat namja itu turun kasta. Akhirnya ia memutuskan untuk memohon pada para tetua. Ia yakin para tetua itu tidak akan menolaknya, walaupun permintaan Sooyoung sangat aneh. Sooyoung adalah anak emas mereka. Mereka sangat menyukai Sooyoung yang berdarah murni, dan tentunya cerdas. Mereka sudah pernah bilang, Sooyoung lebih berharga dibanding 100 malaikat biasa. Maka dari itu, dengan sedikit paksaan Sooyoung, akhirnya Kai tidak dihukum asal Sooyoung menggantikan tugas Kai sekali. Hanya sekali. karena para tetua tidak ingin Sooyoung bernasib sama seperti ketiga temannya.

Sooyoung besandar pada kursinya “Betapa bodoh mereka mengiraku akan mempunyai nasib seperti itu.”ucapnya kecil.

Ketika Sooyoung ingat akan orang macam apa yang akan ia cabut nyawanya, ia semakin percaya diri. Ia meraih sebuah kertas diatas mejanya dan membaca tulisan yang ada disana. “Park Chanyeol… 10 hari lagi. Tertabrak truk ketika ia akan menyebrang. Seorang pengidap autisme”baca Sooyoung. Ia terkekeh kecil. Tidak mungkin ia akan jatuh cinta pada seorang pengidap autisme.

Tidak mungkin.

oOoOoOo

Park Chanyeol. Anak kedua dari pasangan Park Jungsoo dan Park Kyungri. Kedua orang tuanya bilang, mereka sulit mendapatkan keturunan sehingga mereka mengasuh seorang anak perempuan cantik yang sekarang menjadi kakak Chanyeol. Park Minyeong namanya, namun nama aslinya adalah Tiffany Hwang. Dia ditemukan didepan panti asuhan dekat rumah Chanyeol, dan akhirnya Ibunya mengadopsi Tiffany. Syukurlah, sekitar 3 tahun kemudian, Chanyeol lahir.

Namun… terjadi sesuatu yang salah pada otak Chanyeol. Ada syaraf yang tidak berkembang sempurna hingga ia sekarang ia dianggap idiot, atau bisa dibilang sebagai seorang penyandang autisme.

Meskipun begitu, Chanyeol adalah namja tampan, dengan tinggi semampai dan suara bass yang dapat menghipnotis siapapun yang mendengarnya. Ia berumur 22 tahun, namun sayangnya pikirannya tak lebih dari pikiran seorang anak kecil berusia 5 tahun. Ia selalu tersenyum, memperlihatkan gigi-giginya yang putih cemerlang dan wajahnya yang tanpa beban. Banyak yang menyukainya, namun tak sedikit yang membencinya.

Chanyeol selalu memimpikan seorang malaikat yang akan menemaninya. Selalu berharap bahwa diantara orang-orang baik disekitarnya, akan ada malaikat yang bersembunyi. Ia pernah menganggap Ibu dan Kakaknya sebagai malaikat. Namun keduanya justru tertawa dan berkata bahwa mereka bukanlah malaikat. Kakaknya bahkan membuktikannya dengan menyuruh Chanyeol menatap punggungnya, dan memang tidak ada sayap disana.

Chanyeol sampai kebingungan. Mereka orang baik, mereka yeoja yang cantik. Kenapa mereka bukan malaikat? Apakah malaikat bukan orang baik dan cantik? Apa mereka orang jahat? Entahlah, Chanyeol tidak diperbolehkan lagi memikirkan hal itu oleh kakaknya. Kakaknya bilang, ia tidak boleh terlalu keras berpikir, kalau tidak dia akan sakit dan dibawa ke rumah sakit untuk disuntik. Chanyeol benci disuntik.

Dan sekarang… sepertinya impiannya itu menjadi nyata. Seorang malaikat dengan sayap hitam dipunggungnya menghampirinya. Dengan wajah dingin yang tidak bersahabat namun terlihat sangat menawan, yeoja itu menatapnya.

“Park Chanyeol. 10 hari lagi, kecelakaan lalu lintas”ujarnya dingin.

oOoOoOo

Chanyeol menatap Sooyoung dengan pandangan berbinar. Berbeda dengan Sooyoung yang menatapnya kesal dan bingung. entah apa yang dipikirkan namja itu hingga ia tersenyum seperti orang bodoh… ah. Dia memang bodoh. Idiot tepatnya.

“Malaikat… Ada malaikat”ucap namja itu.

Sooyoung menatapnya kesal. “Aku malaikat pencabut nyawa! Kau akan mati!”seru Sooyoung.

“Noona!! Noona!!!”Chanyeol memanggil Kakaknya dan berlari dari tempat itu, meninggalkan Sooyoung yang dongkol.

“Ada apa Chanyeol-a”Sooyoung dapat mendengar ucapan Tiffany, kakak Chanyeol yang sepertinya sedang ditarik-tarik oleh bayi besar itu.

“Malaikat! Malaikat!!”seru Chanyeol semangat sambil menunjuk-nunjuk Sooyoung. Namun Sooyoung hanya dapat memutar bola matanya. Terlihat bosan. Namja itu begitu bodoh. Sooyoung tidak menyangka kalau Chanyeol akan seidiot ini.

“Tidak ada apa-apa… Kau belajar menulis saja Chanyeol-a… jangan berpikir yang macam-macam lagi. arraseo?”ujar Tiffany lalu beranjak pergi keluar dari kamar Chanyeol.

Chanyeol yang ditinggalkan begitu saja menjadi kesal.  Ia menggembungkan pipinya dan duduk di lantai kamarnya. Sooyoung sendiri kembali menghela nafas dan berdiri didepan Chanyeol. Sekali lagi, dia mengulang perkataannya. “Aku bukan malaikat baik. Aku malaikat jahat. Aku akan mengambil nyawamu. Kau akan mati”

Chanyeol mengeryit mendengar kata-kata aneh itu keluar dari mulut Sooyoung. Malaikat jahat? Kakaknya bilang, tidak ada malaikat yang bersifat jahat. Mereka adalah yeoja baik yang sangat cantik. Dan nyawa. Yang Chanyeol tahu, nyawalah yang membuatnya hidup. Tanpa nyawa, dia akan mati. Mati yang ia tahu adalah meninggalkan Kakaknya, Ayahnya dan Ibunya.

“Chanyeol tidak mau meninggalkan Noona… tidak mau meninggalkan Ayah dan Ibu…”ucap Chanyeol kecil.

Sooyoung menghela nafas. “Kau akan segera meninggalkan mereka. Nah, aku punya…”

“Chanyeol tidak akan meninggalkan mereka! Tidak pernah!!!”seru Chanyeol kencang, membuat Sooyoung sedikit kaget.

“Apa kau tidak mendengarku?! Kau akan mati 10 hari lagi dan itu berarti kau akan meninggalkan mereka! Itu sudah pasti!!”balas Sooyoung tak kalah kencang. Ia sudah kesal karena Chanyeol yang terlalu idiot, sekarang ia harus menerima kenyataan bahwa namja didepannya ini juga sangat menyebalkan.

“Tidak!!! Tidak!!!”teriak Chanyeol seraya mencengkram kaos yang ia kenakan. Matanya berair, menahan tangisan yang akan keluar. Selama ini, Chanyeol paling ketakutan saat akan meninggalkan keluarganya, terutama Kakaknya. Waktu itu, saat Tiffany akan pergi untuk study tour, Chanyeol mengamuk dan berakhir dengan terbaring di rumah sakit. Ia terlalu merasakan ketakutan dan itu menyiksa batinnya lalu membuatnya lemah.

“Kau harus menerimanya bodoh! Apa kau begitu idiot sampai tidak mengerti perkataanku dan siapa aku?! Aku malaikat maut yang bertugas mengambil nyawamu!!”

Satu lagi, Chanyeol sensitif dengan kata idiot. Itu membuatnya lemah pula. “Tidak… Chanyeol tidak akan pergi… Chanyeol tidak idiot!!!”teriaknya sambil memegangi kepalanya. Kini Chanyeol berteriak keras dan menjambak rambutnya. Ia terlihat begitu kesakitan. Air mata turun dari kedua pelupuk matanya. Tubuhnya bermandikan keringat dingin dan nafasnya memburu.

Sooyoung membelalakkan matanya dan menatap Chanyeol kaget. Ia sedikit merasa panik ketika melihat Chanyeol yang seperti itu. Yeoja itu berjongkok didepan Chanyeol dan mengguncang tubuh namja itu. “Ya! Gwenchana?”tanyanya.

Chanyeol sendiri tidak menjawab. Ia mencengkram kuat lengan Sooyoung, berusaha membuat rasa sakit dan sesak yang menyiksanya itu menghilang atau paling tidak mengurang. “Aaaaa!”teriaknya lagi. Cengkramannya menguat, membuat Sooyoung merasa lebih panik lagi. Ia tidak biasa melihat orang kesakitan seperti ini. Apalagi sepertinya dia yang menyebabkannya.

“Chanyeol-a!!!”Park Kyungri, Ibu Chanyeol datang dengan Tiffany dibelakangnya. Sooyoung dapat melihat raut ketakutan dan panik yang ada di wajah keduanya. Keduanya segera mendekati Chanyeol dan meletakkan namja itu ke ranjangnya.

“Fany-a! Telepon Jongdae Uisa sekarang juga!”perintah sang Ibu seraya menggenggam tangan Chanyeol. “Chanyeol-a… ada apa denganmu?”gumamnya.

Selang 15 menit kemudian, Kim Jongdae, Dokter yang biasa merawat Chanyeol akhirnya datang. Beliau segera mengecek apa yang terjadi pada Chanyeol, sedangkan Park Kyungri dan Tiffany hanya dapat menatap mereka berdua. Sang Ibu yang telah berderai air mata pun sesegukan dalam rengkuhan Tiffany.

“Ada sesuatu yang menjadi pikirannya. Ada sesuatu yang bertentangan dengan apa yang ia yakini selama ini. Mungkin itu penyebabnya menjadi ambruk kembali. Setelah ia sadar, kalian bisa menanyainya dan bisa kembali membenarkan tentang apa yang ia yakini itu. kurasa itu sudah cukup untuk meringankan beban pikirannya”ucap Jongdae lalu bersiap kembali setelah memberi resep obat.

Tak lama setelah itu, Chanyeol pun sadar. Sang Ibu dan Tiffany segera menyerbunya dengan pertanyaan yang sama “Chanyeol-a gwenchana?”

“Eomma.. Noona… apa malaikat itu jahat?”Alih-alih menjawab, Chanyeol justru bertanya seraya memegangi kepalanya yang terasa sakit.

“Aniyo Chayeol-a. Tidak ada malaikat yang jahat. Semuanya baik”tutur Park Kyungri seraya mengusap kepala Chanyeol.

“Tapi Eomma…”

“Itu hanya khayalanmu Chanyeol-a… malaikat baik. Semuanya baik…”

“Iya. Malaikat yang jahat itu jelek Yeol-a. Kalau malaikat itu cantik, berarti dia baik”gurau Tiffany sambil terkekeh kecil.

“Arra! Yeoja tadi cantik sekali Noona! Cantiiiik sekali!”ujar Chanyeol seraya tersenyum riang. Mereka bertiga tidak menyadari bahwa Sooyoung sedang terdiam dengan wajah memerah disana.

Sooyoung sendiri bingung, kenapa ia bisa merasa malu dan salah tingkah begini. Tidak sedikit yang sering memujinya. Bahkan Kai pun sering memujinya cantik. Dan itu tidak membuatnya begini. Mungkin… karena Chanyeol menyebutkannya dengan begitu polosnya… dengan begitu jujurnya…

Sooyoung menggeleng pelan. Ia segera membentangkan sayapnya dan pergi dari sana. Mungkin ia harus menyusun strategi lain agar dapat menyelesaikan tugasnya kali ini.

oOoOoOo

“Chanyeol-a, sedang apa?”tanya Tiffany. Yeoja itu duduk disebelah Chanyeol yang sedang asyik menggambar. Begitu melihat apa yang digambar Chanyeol, Tiffany mengerutkan alisnya. Tidak biasanya Chanyeol menggambar manusia. Biasanya dia akan menggambar hewan atau tumbuhan. Khususnya bunga. “Siapa dia?”

Namja itu terus menggambar dan Tiffany terus mengamatinya. Chanyeol menggambar sesuatu dibelakang punggung yeoja yang digambarnya tadi. Sesuatu yang terlihat seperti sayap, namun berwarna hitam.

“Sudah selesai!!”seru Chanyeol bahagia. Tiffany langsung menunjuk sesuatu dibelakang punggung yeoja itu.

“Apa ini Chanyeol-a? dan siapa dia?”

“Dia malaikat yang ada disampingku kemarin Noona. Dia cantik sekali… sayapnya berwarna hitam… katanya dia jahat, tapi dia cantik sekali Noona! Dia pasti bohong kalau dia jahat”ujar Chanyeol. Kemudian ia mulai berceloteh tentang bagaimana sosok malaikat itu. Hal itu justru tambah membuat Tiffany pusing.

“Eomma”panggil Tiffany seraya mendekati sang Eomma yang ada di dapur.

“Waeyo Tiffany-a? Ada apa?”

“Chanyeol berbicara tentang malaikat lagi. Dan sepertinya dia tambah parah karena sekarang dia mengaku melihat malaikat… apa matanya juga mulai terganggu?”tanya Tiffany sambil memijit dahinya.

Park Kyungri menghela nafas. “Entahlah… kurasa kita butuh pengasuh yang lebih bisa mengendalikannya dan mengaturnya…”ucap Kyungri.

Tepat setelah Kyungri mengatakannya, bel berbunyi. Menandakan ada seseorang yang mungkin saja bertamu. “Aku akan membukakan pintu”ujar Tiffany dan beranjak keluar dari dapur. Yeoja itu membuka pintu dan mendapati seorang yeoja cantik dengan pakaian putih dan senyum yang menawan.

“Annyeonghaseyo… aku Choi Sooyoung. Aku menawarkan jasa babysitter… apa ada bayi disini?”tanya Sooyoung ramah. Ya. Sooyoung berkedok sebagai babysitter sekarang. ia akan mendekati Chanyeol dengan sosok manusia.

“Bayi? Tidak ada… tapi… bisakah kau masuk sebentar? Ada yang perlu kudiskusikan… mungkin kau tertarik.”

Senyuman atau mungkin lebih seperti smirk terlihat diwajah cantik Sooyoung. “Ne, tentu bisa”

oOoOoOo

“Chanyeol-a”

Chanyeol menoleh kearah kakaknya yang datang dengan membawa seseorang dibelakangnya. Chanyeol tersenyum untuk merespon.

“Noona membawa seseorang untukmu. Namanya Choi Sooyoung, dia akan menjadi teman Chanyeol mulai sekarang. Bertemanlah ya…”ujar Tiffany seraya menyuruh Sooyoung keluar dari balik punggungnya.

Sooyoung tersenyum manis dan mengulurkan tangannya. “Namaku Choi Sooyoung. Kau bisa memanggilku Sooyoung. Mari berteman”

Alih-alih menyambut uluran tangan Sooyoung, Chanyeol justru mengerutkan keningnya. Ia merasa kenal dengan Sooyoung. Ia merasa pernah bertemu dengan Sooyoung. Tak lama kemudian Chanyeol berteriak kencang “AAAA!”

“Chanyeol-a! ada apa?!”tanya Tiffany yang kaget.

Raut kaget Chanyeol kembali berubah menjadi senyuman ketika berkata “Malaikat!!! Malaikat!!!”Chanyeol menunjuk-nunjuk Sooyoung. “Malaikat!!”serunya lagi.

Sooyoung memberikan senyuman ragu. Dalam hati, ia ingin sekali segera mencabut nyawa Chanyeol lalu pulang. Namun ia tidak bisa melakukannya. Ia harus bertahan selama 8 hari lagi dan terus berkedok sebagai baby sitter Chanyeol.

“M..Mianhaeyo Sooyoung-ssi.. Chanyeol memang sedikit fanatik dengan malaikat… dan baru-baru ini sepertinya ia berkhayal tentang malaikat yang mungkin mirip denganmu. Maafkan dia ya…”ujar Tiffany mewakili Chanyeol.

“Bukannya sedikit fanatik, tapi sangat”batin Sooyoung. Namun Sooyoung tetap tersenyum maklum.

Mungkin Sooyoung harus lebih bersabar lagi dalam menghadapi makhluk jangkung bersuara dalam dihadapannya ini.

oOoOoOo

“Park Chanyeol”panggil Sooyoung, kini dengan nada suara yang lebih tegas dan serius. Tiffany dan orang tua Chanyeol sedang tak ada di rumah. Jika ia ingin menyampaikan apa yang harus ia sampaikan, maka inilah saatnya.

Chanyeol tidak mendengarkan dan masih asyik dengan robot miliknya. Sooyoung semakin merasa kesal dan akhirnya menghela nafas. “Tenang Sooyoung, lawanmu hanyalah anak kecil. kau harus bersabar”batinnya.

“Aku bisa mengabulkan 3 permintaanmu”

Chanyeol menoleh dengan raut tertarik. “Jeongmal?! Semua permintaan?!”

Sooyoung mengangguk. “Iya. Jadi pikirkan…”

“Aku ingin kertas gambar yang banyaaaak sekali, aku ingin kue tart besar, aku ingin pensil yang bisa bicara, aku ingin susu rasa cokelat, aku ingin bubble tea yang seperti Noona minum, aku ingin mobil-mobilan dengan remote yang dimainkan Jungkook, aku ingin terbang, aku ingin punya sayap, aku ingin punya 10 anjing peliharaan aku ingin…”

“Hei! Kau pikir 3 itu seberapa banyak hah?!”seru Sooyoung dengan nada yang tinggi. Karena kesal, tentu saja.

Chanyeol terlihat berpikir sejenak lalu menujuk seluruh jarinya satu per satu. “Sebanyak ini…”

“Astaga…”Sooyoung menghela nafas. “Seluruh jarimu ada 20 bodoh! Haish… kau benar-benar i…”

Sooyoung diam. Ia ingat saat Chanyeol langsung hilang kendali setelah ia mengatainya idiot. Sooyoung tidak mau melihat Chanyeol seperti itu lagi. Ia harus lebih berhati-hati dalam perkataannya. “Apa yang sekarang sangat ingin kau lakukan?”

“Aku ingin bermain ke taman bermain… ingin naik biang lala, ingin makan kembang gula”jawab Chanyeol seraya menatap robotnya sendu. Sooyoung pun dapat merasakan betapa Chanyeol begitu ingin melakukannya. Ia bisa merasakannya dari tatapan Chanyeol yang begitu sendu. Sooyoung yakin dia tidak diperbolehkan keluarganya untuk sering pergi keluar rumah.

Sooyoung menghela nafas. “Aku akan mengabulkannya. Kau tidak perlu khawatir”

Senyum Chanyeol mengembang. “Jinjjayo? Hore!!!”teriak Chanyeol dan berlari mengelilingi ruangannya. Senyum ceria itu tidak terlepas seiring dengan tawanya yang semakin besar dan riang.

Sooyoung sendiri merasakan sesuatu yang membuatnya tersenyum. Membuat bibirnya tertarik dan membuat hatinya gembira. Sesuatu tersebut membuatnya juga merasa gembira. Mungkinkah, ini yang dirasakan ketika memenuhi keinginan orang-orang? Atau hanya Sooyoung yang merasa begini?

Ah, tidak. jika melihat senyum polos dan ceria milik Park Chanyeol, semua orang pasti merasakannya. Sooyoung yakin akan itu.

oOoOoOo

Hari ketiga. Sooyoung dan Chanyeol akhirnya diperbolehkan pergi ke taman bermain. Hanya berdua. Kedua orang tua Chanyeol sibuk dan Tiffany sedang sakit. Well, Sooyoung sendiri tahu kalau Tiffany memang memeliki penyakit. Terlihat dari kulit pucat dan tubuhnya yang lemah.

“Noona! Noona!”

Ah, panggilan itu. Sooyoung sudah sedikit terbiasa dengan panggilan itu. Ia memang lebih tua beratus-ratus tahun dari Chanyeol (Dan tidak ada yang tahu). “Ne, apa?”jawab Sooyoung kecil.

“Aku ingin naik itu”tunjuk Chanyeol pada sebuah wahana yang diketahui Sooyoung sebagai roller coaster. Sooyoung tidak takut atau apa, tapi sepertinya wahana itu akan membuatnya mual.

Dan benar saja. Setelah menaikinya, ingin sekali Sooyoung memuntahkan isi perutnya. Tapi, Chanyeol justru tertawa riang seperti tak merasakan apapun kecuali kebahagiaan. Mau tak mau, sudut bibir Sooyoung terangkat.

“Chanyeol-a, kau tidak sakit perut?”tanya Sooyoung seraya menggenggam tangan Chanyeol. Ia tidak ingin namja itu tersesat.

Chanyeol menggeleng. Lalu ia menatap kearah tempat penjual permen kapas atau biasa disebut gulali. Chanyeol menatapnya lama. Ia dapat melihat seorang anak laki-laki memakannya dengan lahap. Chanyeol bisa merasakan betapa manisnya benda berwarna pink itu. Sooyoung yang melihat Chanyeol pun tertawa kecil. Di dunianya, ia tidak pernah melihat makanan itu. jadi, ia sendiri tidak tahu rasanya. Meskipun begitu, Chanyeol terlihat begitu menginginkannya.

“Kau mau itu?”tanyanya.

Chanyeol mengangguk kecil tanpa melepas pandangannya. Sooyoung kembali terkekeh lalu berkata. “Arraseo. Ayo kita beli itu”

Chanyeol memang lebih tinggi darinya. Chanyeol mempunyai suara berat yang jelas jauh berbeda dari milik Sooyoung. Namun tingkah polos Chanyeol membuat Sooyoung merasa memiliki seorang adik. Seorang yang bisa ia jaga dan seorang yang bisa merasa dilindunginya.

Sooyoung suka saat ia dapat menggenggam tangan besar Chanyeol. Ia suka panggilan Noona dari Chanyeol. Sooyoung juga suka saat Chanyeol menanyakan sesuatu padanya. Perlahan, hati Sooyoung mulai tergerak… untuk terus melindungi Chanyeol dan berada disampingnya.

Astaga. Sooyoung menggeleng. Ia tidak boleh berpikiran begitu. Ia hanya punya7 hari lagi sebelum mencabut nyawa Chanyeol. Ia harus fokus untuk menyenangkan namja ini lalu mencabut nyawanya.

oOoOoOo

Kini mereka berdua sudah ada didalam biang lala, wahana terakhir yang akan mereka naiki sebelum jam 5 sore. Sooyoung duduk di sisi kiri sedangkan Chanyeol di sisi kanan. “Kau lelah?”tanya Sooyoung.

Chanyeol mengangguk kecil. ia memang lelah. Seharian penuh ia bermain di taman ini bersama Sooyoung. Menyenangkan. Chanyeol mengerti itu. Hal yang selama ini tidak diperbolehkan orang tua dan kakaknya untuk ia lakukan, bisa ia lakukan sekarang bersama Sooyoung. Chanyeol semakin berpikir kalau Sooyoung adalah malaikat. Malaikat yang dapat mengabulkan permintaannya, malaikat yang baik, dan malaikat yang cantik.

Cantik. Ya, Sooyoung sangat cantik dimata Chanyeol. Jika selama ini ia selalu memilih Noonanya sebagai yeoja paling cantik di dunia, kini baginya Sooyoung-lah yeoja tercantik di dunia. Bibirnya yang tipis dan berwarna pink. Matanya yang membentuk bulan sabit saat tersenyum. Pipinya yang terkadang bersemu merah. Ditambah lagi dengannya yang tahu banyak hal.

Chanyeol menyukai Sooyoung. Dia mengaguminya. “Kenapa menatapku begitu?” Suara itu juga. Suara yang membuatnya ingin terus tersenyum. Suara yang begitu indah.

Sooyoung menatap Chanyeol yang juga masih menatapnya dalam dan lurus. Yeoja itu berdiri lalu sedikit membungkuk. Ia mengibaskan /?/ tangannya dihadapan Chanyeol. “Chanyeol-a gwenchana…”

Tiba-tiba saja biang lala yang sedang mereka naiki itu berhenti, membuat Sooyoung kehilangan keseimbangannya dan jatuh menimpa tubuh Chanyeol.

DEG!

Keduanya merasa jantung mereka berhenti berdetak sejenak. Sooyoung sendiri dapat merasakan betapa hangat tubuh Chanyeol. Hal itu semakin membuatnya salah tingkah. Merasa harus bangkit, Sooyoung menolehkan kepalanya dan berniat meminta maaf, namun ternyata, itu justru pilihan yang sangat buruk.

Pada saat Sooyoung menolehkan kepalanya, ia langsung dapat merasakan sesuatu yang hangat dan basah mengenai bibirnya. Matanya membulat dan nafasnya tertahan. Sesuatu itu… adalah bibir Chanyeol. Bibirnya menempel pada bibir Chanyeol yang berarti… mereka tengah berciuman.

Dan Chanyeol dengan bodohnya menjilat bibir Sooyoung, membuat Sooyoung segera berdiri, lalu duduk dibangkunya. Ia memalingkan wajahnya yang merah dan menutupi bibirnya. Air mata sedikit menggenang di pelupuk matanya. Ia tidak mau menatap Chanyeol. Ia merasa salah tingkah.

Sooyoung tahu Chanyeol tidak bermaksud melakukannya karena well… dia tidak tahu apa-apa. Tapi… tetap saja. Mereka baru saja… berciuman.

Sooyoung menutupi kedua wajahnya yang sudah memerah total. “Park Chanyeol…. Neo jinjja paboya!”rutuknya.

Chanyeol sendiri hanya dapat terdiam. Ia masih bingung. Seluruh kejadian tadi baginya sangatlah cepat dan sulit untuk ia mengerti. Tadi Sooyoung menempelkan bibirnya pada Chanyeol. Dan Chanyeol merasa ada sesuatu yang menggelitik hatinya. Entah kenapa Chanyeol menyukai hal itu. Ia suka bibir Sooyoung yang terasa seperti strawberry. Sudut bibirnya tertarik dan membuatnya terlihat tersenyum manis.

Chanyeol ingin melakukannya lagi. Mungkin dengan itu ia tidak perlu merengek meminta permen strawberry kesukaannya pada Tiffany.

oOoOoOo

Hari keempat. Sama seperti hari-hari sebelumnya. Sooyoung menunggui Chanyeol yang sedang asyik belajar menulis dan menggambar. Tiffany yang sekolah, Park Jungsoo bekerja, dan Park Kyungri sedang sibuk dengan kue-kue miliknya di dapur.

“Chan… Yeol…”eja Chanyeol seraya menuliskan guratan-guratan pada namanya. “Park… Chan… Yeol”ulangnya.

Sooyoung berdiri dan menghampiri Chanyeol. Ia memperhatikan bagaimana Chanyeol menulis namanya. Tak lama kemudian ia terkekeh. Tulisan Chanyeol mirip dengan tulisan anak kecil. Tapi, bukankah itu suatu yang wajar? Justru Sooyoung kagum dengan semangat Chanyeol untuk belajar.

“Noona”panggil Chanyeol tiba-tiba, membuat Sooyoung sedikit memundurkan tubuhnya. Ia tidka ingin kejadian tanpa sengaja saat di biang lala itu terjadi lagi.

“Apa?”respon Sooyoung pada akhirnya.

Chanyeol menunjukkan gambarnya. Gambar seorang yeoja berambut cokelat panjang, memakai pakaian putih dan memiliki sayap putih yang indah. Di wajahnya terukir senyuman. Di sebelahnya terdapat seorang namja yang lebih tinggi dari yeoja itu. senyuman polos pun terlukis diwajahnya. Mereka berdua berpegangan tangan.

“Siapa ini?”tanya Sooyoung, menunjuk gambar sang yeoja.

Chanyeol tidak menjawab, ia justru menunjuk Sooyoung. Sooyoung menghela nafas. Baginya, yeoja digambar itu sungguhlah indah dan bercahaya. Berbeda dengannya. Apa Chanyeol tidak tahu? Sooyoung adalah bagian dari malaikat maut. Malaikat yang ditakdirkan untuk mengumpulkan nyawa. Malaikat jahat. Malaikat berwarna hitam. Berbeda dengan bagian malaikat berwarna putih  yang bertugas memberikan kebahagiaan bagi manusia, malaikat maut justru memberikan mimpi buruk bagi mereka.

“Dia terlalu cantik Chanyeol-a… Pasti bukan aku”

“Noona cantik”ucap Chanyeol kemudian. Ia memandangi gambarnya. “Noona baik. Noona terlihat bercahaya… sangat cantik…”

Ok, beruntung malaikat tidak bisa menangis. Kalau bisa, mungkin Sooyoung akan meneteskan air matanya untuk yang kesekian kalinya. Kenapa dirinya mudah sekali tersentuh? Padahal seharusnya perasaan mereka tidak sepeka manusia.

“Aniya Chanyeol-a. Aku berwarna hitam.”Sooyoung menunjuk krayon hitam. “Aku, malaikat hitam. Malaikat jahat”

“Aniya!! Noona tidak jahat!!”

Sooyoung kaget saat mendengar suara bass Chanyeol yang membentaknya. Chanyeol tidak pernah bersuara keras, oleh karena itu Sooyoung sedikit bingung dan jelas sangat kaget. Akhirnya ia hanya bisa menghela nafas. Chanyeol sepertinya sensitive dengan kalimat ‘malaikat jahat’ seperti yang dikatakan Tiffany, Chanyeol sangat fanatik pada malaikat, dan menurut pandangannya, malaikat adalah seorang yang baik. Padahal sebenarnya ada 2 jenis malaikat.

Dan malaikat jahatlah yang sedang ada dihadapannya sekarang.

“Chanyeol-a…”

“Aniya!!! Noona tidak jahat! Noona baik! Noona baik!”seru Chanyeol lagi. kini air mata menggenang di pelupuk matanya. “Noona… Noona baik… hiks.”

Sooyoung segera mendekati namja itu dan memeluknya erat. “Ne, Arraseo… jangan menangis…”ucapnya seraya menepuk-nepuk punggung Chanyeol. Chanyeol pun balas memeluk Sooyoung. Namja itu menghirup aroma strawberry dari Sooyoung yang teramat disukainya.

“Noona baik, sangat baik…”ujar Chanyeol lagi.

Sooyoung terdiam sejenak, lalu membalas “Gomawo… Maaf sudah membuatmu menangis Yeol-a”

“Noona, aku mau permen”ujar Chanyeol tiba-tiba, membuat Sooyoung melepas pelukannya dan menatapnya aneh. “Permen? Aku tidak punya permen Chanyeol-a”

Chanyeol menunjuk bibir Sooyoung. “Noona punya. Disana. Kemarin, Chanyeol merasakan rasa strawberry…”

Deg!

Jantung Sooyoung seperti berhenti tadi. Apa ia tidak salah dengar? Permintaan Chanyeol tadi… bisa diartikan kalau namja itu ingin menciumnya bukan? Sontak, wajah Sooyoung memerah. Ia tidak bisa menahan rasa salah tingkah dan rasa malunya. “A..Apa-apaan! Jangan bercanda Chanyeol-a!!”

Chanyeol menunjukkan pout miliknya. “Noona bilang..bisa mengabulkan permintaan Chanyeol..”

Sooyoung menelan salivanya dengan susah payah. “A..Aku tahu. Aku memang berkata begitu, tapi…”

Sooyoung tidak bisa mengelak lagi. permintaan. Ini adalah salah satu dari 3 permintaan Chanyeol. Dan kewajibannya adalah memenuhi semua permintaan Chanyeol bukan? Sooyoung menghela nafas untuk meredakan detak jantungnya yang begitu cepat. “Arraseo. Sekali saja ya?”

“Aniya! Besok Chanyeol juga ingin! Besoknya lagi, besoknya lagi… Chanyeol mau!”bantah Chanyeol, makin membuat Sooyoung salah tingkah.

“Aaaa! Iya aku mengerti! Terserah kau sajalah. Permintaanmu tinggal satu, mengerti?”jawab Sooyoung akhirnya. Ia sudah pasrah. Toh, setelah 5 hari kedepan, ia tidak akan bertemu dengan Chanyeol lagi.

Chanyeol tersenyum, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Sooyoung. Namja itu menutup matanya, lalu mencium bibir Sooyoung dengan lembut. Tidak ada nafsu, memang hanya sebuah kecupan yang ringan dan lembut.

Entah kenapa, Sooyoung menyukainya. Ia menikmatinya, walau ia tahu kalau itu salah. Ah, persetan dengan itu semua, ia hanya akan menikmatinya sekarang.

Paling tidak…. sebelum ia tidak akan bisa merasakan hal seperti ini lagi.

oOoOoOo

Hari ketujuh.

Sooyoung merasa hari-hari berlalu dengan cepat. Tak terasa, ini sudah hari ketujuh, dan tinggal 3 hari lagi, Ia akan mencabut nyawa Chanyeol.

Atau bisa ia bilang… ia akan mencabut nyawa orang yang sepertinya telah berhasil membuatnya berpaling dari Kai. Orang yang membuatnya tidak memikirkan Kai terus menerus dan orang yang membuatnya bahagia.

Apakah ini yang disebut dengan cinta? Sooyoung rasa tidak… ia tidak bisa menyamakan perasaannya pada Chanyeol dan perasaannya terhadap Kai. Saat bersama Kai, Sooyoung yakin kalau dia benar-benar membutuhkan dan menginginkan namja itu, namun saat bersama Chanyeol… ia hanya ingin melihat namja itu tersenyum, dan dia ingin melindunginya.

Apa itu cinta? Atau itu hanyalah rasa nyaman? Atau mungkin perasaan yang muncul karena Sooyoung sudah terlalu sering bersama Chanyeol?

Sooyoung sendiri tidak tahu. Sekarang ia hanya akan mengikuti alurnya, namun ia tidak akan membiarkan dirinya jatuh cinta pada Chanyeol.

Walaupun kenyataan bahwa Sooyoung mencintai Chanyeol benar… ia tidak akan mengakuinya. Sudah cukup Kai dan Sunny yang menderita karena manusia. Sooyoung tidak ingin merasakannya juga. Dan dia tidak akan mengecewakan para tetua yang sudah mempercayainya.

“Noona”

DEG!

Kali ini bukan suara Chanyeol. Bukan pula suara Park Jungsoo yang terkadang memanggilnya. Ini suara yang begitu familiar di telinga Sooyoung. Suara yang dulunya sering sekali terngiang didalam otaknya.

“Kai…”gumam Sooyoung setelah membalikkan badannya.

Dan memang benar. Kai ada disana. Rambutnya yang berwarna blonde dengan tatapan datarnya yang sudah biasa. Namja itu benar-benar ada disana. Dalam wujud seorang malaikat maut berpakaian serba hitam.

“Ya, ini aku”jawab Kai simpel seraya berjalan mendekati Sooyoung. “Bagaimana kabarmu Noona?”

Sooyoung mengalihkan pandangannya dari Kai. Ia mengambil buku tulis Chanyeol dan membacanya, berusaha membuatnya terlihat wajar. “Biasa saja.”

“Kukira kau akan merindukanku…”

Ya, Sooyoung memang merindukannya. Pada awalnya, ia sangat merindukan Kai sampai-sampai ingin segera terbang kembali dan memeluk namja itu. Tapi lama kelamaan, ia tidak memikirkan Kai sama sekali. semua pikirannya teralihkan pada…

“Park Chanyeol”

Sooyoung mengangkat kepalanya dan menatap Kai saat namja itu menyebut nama Chanyeol. Kai juga menatap Sooyoung, masih dengan tatapan datarnya. “Itu nama orang yang akan kau cabut nyawanya, bukan?”

“Ya. Memangnya kenapa?”

“Apa kau menyukainya Noona? Apa kau mencintainya?”

Sooyoung terdiam begitu Kai menanyainya tanpa menjawab pertanyaannya. Kalau biasanya Sooyoung akan menjitak Kai dan meminta namja itu menjawab pertanyaannya terlebih dulu, sekarang tidak. Ia tidak bisa berkata-kata. Ketika pertanyaan itu keluar dari mulut Kai, Sooyoung serasa tersudut.

“Aku benar?”tanya Kai lagi.

Sooyoung menghela nafasnya dan menggeleng, berusaha membuatnya yakin bahwa dia tidak mencintai Chanyeol. “Tidak.Aku hanya merasa nyaman dengannya. bagiku, dia hanya pelampiasan mungkin?”jawab Sooyoung acuh tak acuh.

Kai menunjukkan senyum tipisnya. “Begitukah? Aku ragu”

“Maksudmu aku berbohong?”

“Tidak. Kurasa kau hanya tidak mengakuinya Noona. Tapi aku hanya akan memperingatkan sesuatu…”

Sooyoung tidak menjawab ataupun merespon. Ia tahu Kai masih akan mengatakan sesuatu.

“Kau adalah salah satu dari malaikat murni yang sangat berharga. Para tetua sudah pernah bilang bukan? Kau lebih berharga dari 100 malaikat biasa. Jadi Noona, kuharap kau tidak melakukan kesalahan sepertiku.”ujar Kai.

Sooyoung mengangguk singkat lalu kembali beralih menatap buku Chanyeol. “Terimakasih untuk saranmu”

“Dan lagi… terimakasih untuk hal ini. Aku jadi semakin merasa kalau diriku pengecut”

Sooyoung membelalakkan matanya dan kembali mengangkat kepalanya. namun nihil, Kai sudah tidak ada lagi disana.

Sooyoung terlalu pintar untuk tidak mengetahui apa yang dimaksud Kai. Yang dimaksud Kai adalah apa yang ia lakukan demi membuat namja itu bebas dari hukuman. Astaga, apa ia telah membuat harga diri Kai jatuh? Apa dia telah membuat namja itu malu?

Tapi sesungguhnya Sooyoung tidak berniat seperti itu. Sooyoung hanya ingin membantu Kai dan menjaga agar namja itu tetap ada disampingnya. Semua itu hanya karena ia mencintainya.

Ah… apa sekarang Sooyoung masih mencintainya?

“Sooyoung-a?”

Sooyoung sedikit tersentak dan menoleh ke asal suara. Tiffany sedang berdiri disana seraya menatapnya bingung. “Apa ada masalah? Tadi aku mendengar ada orang berbicara disini..”

“Aniyo. Tidak ada yang bicara sedari tadi. Aku sendiri dan sedang memeriksa tulisan Chanyeol”jawab Sooyoung dengan meyakinkan.

“Geurae? Baiklah. Kalau begitu, Sooyoung-a.. tolong belikan Chanyeol permen strawberry, belilah di mini market dekat sini.”Tiffany merogoh sakunya dan memberikan uang pada Sooyoung. “Belilah beberapa macam”

“Bukannya Chanyeol hanya akan makan permen yang biasa diberi?”tanya Sooyoung sedikit bingung.

“Molla. Aku sendiri tidak tahu. Dia selalu bilang bukan yang itu yang ia inginkan. Aku tidak punya waktu untuk membeli, jadi tolong ya Sooyoung-a. Aku ada urusan. Annyeong”Tiffany pun berjalan menjauh dari Sooyoung.

“Noona… Noona!!!”Sooyoung dapat mendengar suara langkah kaki Chanyeol dan panggilan namja itu. benar saja, tak lama kemudian Chanyeol muncul dengan mata yang berair, seperti habis menangis.

“Ada apa? Kenapa kau menangis?”tanyanya.

“Aku mau permen…”rengeknya. “Tiffany Noona tidak mengerti… aku hanya ingin permen dari Sooyoung Noona…”

Sooyoung menghela nafas. Ia tahu apa yang dimaksdukan oleh Chanyeol. Dan itu adalah wajar jika Tiffany tidak mengerti. “Arraseo. Tapi lain kali jangan minta pada Tiffany Noona jika ingin minta permen dariku. Minta padaku langsung. Arra?”

Chanyeol mengangguk singkat lalu tersenyum. “Arraseo” Detik berikutnya, bibir Sooyoung kembali mendapat kecupan dari seorang Park Chanyeol.

Namja itu selama ini bisa dibilang bukan mencium Sooyoung. Ia hanya menjilatnya, dan menempelkan bibirnya. Namun sesuatu yang berbeda sekarang terjadi. Chanyeol tidak hanya menempelkan bibirnya. Chanyeol melumatnya sedikit, membuat Sooyoung segera membuka kedua matanya yang tertutup. Sooyoung kaget, jelas. Dari mana Chanyeol belajar melakukan itu? apa nalurinya sebagai laki-lakilah yang menuntunnya?

Makin lama, lumatan Chanyeol semakin ganas, Sooyoung bahkan memberontak. Ia memukuli dada Chanyeol, ingin membuat namja itu berhenti melakukan itu. namun nihil, Chanyeol tetap melakukannya. Pada akhirnya, Sooyoung sama sekali tidak bisa memberontak lagi. Ia pasrah.

Lagi pula… Sooyoung menikmatinya. Menikmati setiap sentuhan Chanyeol dan menikmati rasa manis pada bibir Chanyeol.

kuharap kau tidak melakukan kesalahan sepertiku

Sooyoung kembali membelalak. Ia teringat dengan kata-kata Kai. Dan itu membuatnya refleks mendorong Chanyeol menjauh. “Ini salah”gumamnya kecil.

Ya. Ini salah. Sangat salah. Seharusnya ia tidak menikmati setiap sentuhan Chanyeol. Seharusnya ia tidak bersikap ramah pada Chanyeol. Seharusnya ia tidak memiliki perasaan ini. Ia tidak boleh merasa nyaman, apalagi menyukai Chanyeol. Itu tidak boleh. Sama sekali tidak boleh.

“Noona?”panggil Chanyeol bingung pada Sooyoung.

“K..Kai…”gumam Sooyoung kecil, lagi. dan tak butuh waktu lama untuk dapat melihat Kai datang dan berdiri di sisi Sooyoung.

Sooyoung segera mendekat kearah Kai dan memegang ujung lengan bajunya. “Aku ingin pulang… sebentar saja”

Kai tidak bodoh untuk tidak mengetahui apa yang terjadi pada Sooyoung. Ia sudah lama mengenal Sooyoung, sampai ia bisa mengetahui apa yang ada didalam hati Sooyoung. Kai tahu, Sooyoung sudah terlalu bimbang dengan perasaannya sendiri.

“Ayo pulang, Noona”

Detik berikutnya, mereka menghilang entah kemana. Chanyeol sendiri terdiam. Namun didalam dirinya, ia merasakan emosi yang sangat besar. Ia merasa marah dan kesal. Namja yang tadi datang, namja yang berbaju serba hitam yang mirip seperti Sooyoung saat pertama Chanyeol melihatnya… namja itu juga malaikat. Dan Sooyoung tadi terlihat begitu memerlukannya.

Tangannya mengepal dan air mata sedikit menggenang di pelupuk matanya. “Noona”gumamnya kecil.

oOoOoOo

Sooyoung menghela nafasnya. Sekarang ia berada di sebuah padang rumput yang luas… di tempat asalnya. Bukan di bumi tempat manusia berada, tempat Chanyeol berada.

Tadi ia baru saja menceritakannya pada Kai. Menceritakan perasaannya, dan apa yang terjadi sejak awal. Memang sepertinya Sooyoung tidak bisa lepas dari Kai. Mau bagaimanapun, Kai dan Sooyoung sudah lama bersama. Sooyoung sendiri tahu kalau ia hanya bisa bercerita dengan leluasa pada Kai, Sunny atau Sooyoung saja.

“Selagi sempat, lupakanlah. Jangan sampai kau benar-benar mengakui perasaanmu. Sebelum kau mencabut nyawanya, kau masih bisa dimaafkan.”

Sooyoung masih ingat betul perkataan Kai setelah Sooyoung menceritakannya. Apa benar Sooyoung masih akan dimaafkan jika bisa melupakan perasaannya? Tapi, pertanyaan yang paling besar adalah, apa mungkin dia bisa melupakan perasaannya itu? perasaan yang dia sendiri tidak tahu apa?

“Tinggalah disini sampai hari terakhir dia tinggal. Selama kau disini mungkin kau bisa melupakan perasaanmu padanya. Aku juga sempat berpikir begitu waktu itu. Aku tidak jamin akan berhasil, tapi apa salahnya mencoba?”

Perkataan Kai yang lainnya memasuki pikiran Sooyoung. Dan inilah yang Sooyoung lakukan sekarang. Berdiam diri di dunianya dan berusaha melupakan hari harinya di dunia manusia. Persetan dengan statusnya sebagai pengasuh Chanyeol di sana. Ia tidak peduli.

“Chanyeol… apa kau tahu? Saat aku datang, saat itu jugalah kau akan mati”gumam Sooyoung. Ada rasa sakit di hatinya saat ingat bahwa dialah yang akan menarik nyawa Chanyeol.

Sooyoung mengubah posisinya menjadi duduk. Yeoja itu menghela nafas sekali lagi. Ia teringat pemikirannya bahwa anak idiot seperti Chanyeol tidak akan bisa membuatnya memiliki perasaan ini. Ia mencabut pemikirannya itu. justru orang seperti Chanyeol dapat membuatnya menjadi pusing seperti ini.

Soyoung kembali menghela nafas. Kali ini ia akan mencoba. Ia akan mencoba membunuh perasaannya pada Chanyeol. Dan mungkin menumbuhkan kembali perasaannya terhadap Kai. Dengan begitu, ia akan selamat dan tidak menjalani hukuman. Selain itu, perasaannya juga akan semakin ringan karena beban itu hilang.

Namun tetap saja, perasaan yang masih bersemayam di hati Sooyoung membuat nama Park Chanyeol kembali menghiasi seluruh pemikirannya. Hatinya berteriak bahwa ia merindukan Chanyeol. Dan itu memang benar, Sooyoung tidak bisa mengelak, ia merindukan Chanyeol.

Puk!

Sebuah kertas mendarat di puncak kepala Sooyoung. Sooyoung mengambilnya dan menggerutu “Kai… dia pasti yang meneleportasikan kertas ini”

Mata Sooyoung tergerak untuk membaca rentetan kalimat di kertas itu, dan detik berikutnya ia kembali menghela nafas dan menutup matanya.

“Park Chanyeol, kecelakaan lalu lintas, 10 hari lagi 3 hari lagi”

Kata-kata itu tertulis disana. Dan Sooyoung yakin Kai yang mencoretnya. “Aku benar-benar tidak bisa mencintainya, eoh?”

oOoOoOo

Tiffany menghela nafasnya berat. Hari ini adalah hari ketiga ia melihat Chanyeol yang uring-uringan. Dia cepat marah, menangis.. emosinya tidak menentu. Jongdae Uisa bilang bahwa ada sesuatu yang sangat penting bagi Chanyeol yang menghilang. Entah kenapa, Tiffany merasa hal itu adalah Sooyoung. Sooyoung juga menghilang 3 hari yang lalu. Saat Tiffany bertanya dimana Sooyoung, Chanyeol menjawab, Sooyoung dibawa malaikat jelek. Dan semua itu membuat Tiffany pusing.

Seperti saat ini. Orang tuanya pergi bekerja walaupun ini Minggu. Eomma mengikuti Appa, entah untuk apa. Tiffany tidak betah di rumah dengan Chanyeol yang menangis tiap saat. Jadi, walaupun beresiko, dia membawa Chanyeol ke luar untuk makan siang.

Beruntung, Chanyeol masih tenang sampai sekarang dan masih sibuk dengan burger di tangannya. Namun tetap saja, dia terlihat murung. Entah apa yang ada di pikirannya.

“Chanyeol-a”panggil Tiffany.

Chanyeol menoleh dengan perlahan, sambil mengunyah burgernya dengan pelan pula.

“Apa Chanyeol menyukai Sooyoung?”tanya Tiffany, berharap Chanyeol mengerti apa yang ia maksudkan.

Chanyeol mengangguk singkat. “Sayang Sooyoung Noona… Sayang Tiffany Noona… Appa… Eomma”

“Kalau begitu, pilih satu, Sooyoung atau Noona?”

Chanyeol terlihat berpikir lalu berkata dengan polos “Sooyoung Noona”

“Appa atau Sooyoung?”

“Sooyoung Noona”

“Permen strawberry atau Sooyoung Noona?”

“Sooyoung Noona”

Tiffany menghela nafas. Sepertinya ia benar. Chanyeol menyukai Sooyoung. “Kenapa? Bukannya Chanyeol sangat suka permen itu?”

Chanyeol tersenyum lucu “Sooyoung Noona lebih manis”

Tiffany terkekeh geli. Mungkin Sooyoung adalah yeoja yang cukup beruntung. Ada anak sepolos dan setampan ini yang menyukainya. “Kalau begitu, jika bertemu dengan Sooyoung lagi… apa Chanyeol akan bilang kalau Chanyeol menyukainya?”

“Ng!”angguk Chanyeol bersemangat.

“Apa saja yang akan Chanyeol katakan?”tanya Tiffany lagi.

Namun Chanyeol tidak menjawab. Mata Chanyeol terfokus pada sesuatu di belakang Tiffany. Sadar bahwa adiknya sama sekali tidak memperhatikannya, Tiffany menoleh kebelakang dan tidak mendapati siapa pun disana. “Chanyeol-a?”

Tiffany mungkin tidak melihatnya, tapi Chanyeol jelas melihatnya. Seseorang yang merebut seluruh perhatiannya di seberang jalan ini. Seseorang dengan pakaian serba hitam dan sayap hitam besar yang sangat mengkilap.

Sooyoung. Choi Sooyoung ada disana.

oOoOoOo

Sooyoung sendiri hanya dapat terdiam di tempat dan menatap Chanyeol. Namja itu melihatnya, jelas sekali. Matanya terpaku pada dirinya. Namun Sooyoung tidak boleh melangkah lebih dari ini sebelum Chanyeol menjalani takdirnya. Sooyoung tidak boleh menemui Chanyeol atau mungkin nasibnya lah yang akan berubah.

Sooyoung mengepal tangannya kuat. Ia mati-matian menahan dirinya untuk tidak berlari kearah Chanyeol. Kai yang tadi bersamanya sudah mengingatkannya untuk tidak pergi atau beranjak dari tempatnya sebelum Chanyeol menjalani nasibnya. Kali ini Sooyoung akan menuruti Kai. Ia menggigit bibir bawahnya. Menahan teriakan ketika Chanyeol sudah berdiri namun tatapannya masih menatap Sooyoung.

“Jangan berteriak, Noona”peringat Kai yang kini kembali ada disampingnya. “Biarkan dia menjalani takdirnya.”

Sooyoung menangguk. Ia kembali menatap Chanyeol yang berlari. Dia berlari menuju Sooyoung yang tetap menggigit bibir bawahnya.

Chanyeol berlari menyebrang tanpa melihat kanan-kiri, menyebabkannya tidak melihat truk yang melaju kencang. Akhirnya… Truk tersebut menabrak tubuh namja itu, membuatnya terlempar lumayan jauh dari truk dan membentur tanah. Darah segar mengalir seiring dengan teriakan Tiffany dan Sooyoung.

“CHANYEOL-AAA!!!!!!!”

Semuanya terjadi dengan begitu cepat, orang-orang segera berlari kearah Chanyeol yang tergeletak tak berdaya disana. Tiffany pun berlari dan menerobos orang-orang yang sibuk mengelilingi adiknya.

“Chanyeol-a!! Park Chanyeol!!!”panggil Tiffany pada adiknya yang meringis kesakitan disana. “Seseorang tolong! Panggilkan ambulans!! Kumohon tolong adikku!!!”

Sooyoung mencengkram lengan baju Kai, namun matanya tak lepas dari kerumunan orang yang mengelilingi Chanyeol. “Bolehkah… sekarang…”

“Pergilah Noona. Ia sudah menjalani nasibnya. Tapi ingat… kau sudah sejauh ini. Jangan membuat kesalahan”ucap Kai.

Sooyoung tidak mengindahkan perkataan Kai, begitu mendengar kata pergilah, ia segera mengepakkan sayapnya dan terbang dengan cepat kearah Chanyeol. Tanpa menerobos orang-orang pun ia bisa melewatinya, ia tembus pandang, ingat?

Saat melihat keadaan Chanyeol… mungkin jika ia bisa menangis, Sooyoung akan menangis hebat. Perasaan yang berusaha ia pendam dalam-dalam selama 3 hari ini kembali mencuat ke permukaan kala melihat Chanyeol yang terbaring di pangkuan Tiffany dengan darah segar yang keluar dari beberapa bagian tubuhnya.

Chanyeol membuka matanya perlahan dengan susah payah. Dan dia memaksakan senyum saat melihat Sooyoung.

“Noona…”gumamnya kecil. Bahkan mungkin hanya Sooyoung yang mendengarnya. “Noona datang… Chanyeol senang…”

“Jangan bicara bodoh!”teriak Sooyoung. Ia tidak sanggup, ia tidak sanggup melihat Chanyeol yang lemah seperti itu.

“Noona… kabulkan permintaan Chanyeol…”Sooyoung diam, ia memberi isyarat bagi Chanyeol untuk menyebutkan permintaannya.

Chanyeol mengangkat sedikit tangannya dan memberi isyarat agar Sooyoung mendekatinya. Sooyoung patuh dan mendekat kearah Chanyeol untuk mendengar permintaannya. Tak ia sangka, Chanyeol justru menggenggam tangannya dan membisikkan permintaannya dengan lembut.

“Berjanjilah… kalau kita akan bertemu lagi…”

Sooyoung rasa ia akan mengeluarkan air mata ketika mendengarkannya. Rasanya sakit sekali, rasanya dadanya begitu sesak. Apa ini yang Kai rasakan ketika akan mencabut nyawa Kwon Yuri? Apa ini yang dirasakan kalau kita harus membunuh orang yang kuta sayangi?

“Noona… katakan…”gumam Chanyeol lagi, sebelum merintih kesakitan.

“A..Aku… Aku berjan…berjanji….”gumam Sooyoung kecil dan terbata-bata.

“Lebih besar Noona…”

“Sooyoung Noona! Cepat cabut nyawanya!!! Kita tidak punya banyak waktu!!!”teriak Kai yang ternyata telah melayang diatas mereka.

Begitu mendengar teriakan Kai, entah kenapa Sooyoung terasa tersihir. Yeoja itu menggenggam tangan Chanyeol dengan sebelah tangannya, lalu sebelahnya lagi ia angkat dan jari-jarinya ia rentangkan. Sooyoung merapal beberapa mantra sebelum akhirnya, ia mengepalkan tangannya yang terangkat.

Tepat saat itu juga, Chanyeol menutup matanya, namja itu berhenti bernapas, jantungnya berhenti berdetak, semuanya terhentikan. Karena nyawanya telah terenggut.

Sooyoung membelalak kecil. Ia menatap tangannya lalu memeluk dirinya sendiri. Tubuhnya bergetar, seperti menangis, namun tak keluar air mata dari pelupuk matanya. Kai yang ada diatas segera turun kebawah dan merengkuh tubuh Sooyoung yang gemetar tersebut. Namja itu mengelus kepala Sooyoung dengan penuh kasih sayang.

“Kau telah melakukan hal yang terbaik Noona.. kau sudah melakukan hal yang terbaik…”

Sooyoung mengangkat sebelah tangannya lagi.  Merapal mantra lalu mengeluarkan asap pekat yang akhirnya berubah menjadi sosok bayangan Chanyeol.

“Chanyeol-a… aku janji… aku janji kita akan bertemu lagi Chanyeol-a… aku janji”ujar Sooyoung dengan terbata. Ada sesuatu yang membuat tenggorokannya tercekat, dan dadanya sesak. Hal itu membuatnya sulit mengatakan sesuatu.

Bayangan tersebut terlihat tersenyum dan mengangguk. Senyumannya terlihat begitu tulus dan tenang, seperti Park Chanyeol yang biasanya.

Sekelebat bayangan pun muncul disebelah Chanyeol. Bayangan tersebut membentuk yeoja berambut panjang, berpakaian serba hitam dan berkulit pucat. Tak lupa, sayap hitam terlihat jelas di punggungnya.

“Nona Choi Sooyoung telah melakukan tugas dengan baik. Mulai dari sini, saya yang akan mengantar jiwa Park Chanyeol.”ujarnya datar, sedatar tatapannya.

“Terimakasih, Yoona”ucap Kai.

Yoona mengangguk lalu membimbing jiwa Chanyeol pergi dari sana. Menyisakan Sooyoung dan Kai yang masih terduduk.

“Kai… kenapa rasanya begitu sakit? Kenapa aku harus merasakan ini?”

Kai menatap langit. “Takdir Noona. Inilah takdirmu… takdirmu untuk merasakan kisah cinta yang pahit. Namun percayalah Noona. Kau pasti akan bahagia nanti.”

Sooyoung ikut menatap langit. “Ya, aku akan bahagia nanti”

“Bersamamu, Park Chanyeol” tambahnya dalam hati.

END of This Part

Selesai-_- sumpah, menurutku ini salah satu dari yang paling ancur plotnya. Feelnya jelas gak akan dapet dan alurnya jelek banget. Maafkan aku readersTT_TT

Aku punya banyak masalah belakangan ini. Tugas sekolah juga numpuk. Maafkan aku untuk hasil yang absurd ini. Maafkan aku untuk kegagalanku L

At least, RCL ya. Komen kalian adalah bahan bakar untuk semangatku /?

37 thoughts on “[Freelance] Tales of 9 Death Angels (SooYeol Part)

  1. Aku biasa baca ff ini di exoshidae thor
    Terus katanya author udh punya wordpress terus buka deh mau ngefollow sekalian iseng ngeliat ff2 nya, mana tau ada yg gak author post di exoshidae
    Dan ternyata aku kelewatan sooyeol
    Sedih bgt, knp mereka punya takdir kyk gitu:(
    Semangat thor buat ff nya
    Fighting!!!!
    Ditunggu lanjutannya

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s