[Freelance] Luhan = Kai??!

luhan-kai

Luhan = Kai??!

by

TWINsomnia™

Tittle : Luhan = Kai??! || Main Casts : EXO-K’s Kim Kai, EXO-M’s Xi Luhan,  SNSD’s Im Yoona|| Sub casts : EXO-K’s Kim Suho ans SNSD’s Hwang Tiffany|| Genre : Friendship, Comedy, Fantasy, Romance|| Rating : G || Length : Ficlet|| Disclaimer : The story and the plot ORIGINALLY MINE. Inspired by ‘KocchiMuite – Miiko!’ with the original tittle ‘Tappei = Yoshida??!’|| Credit Poster : Pheonixfrombusan

The casts are belongs to God, their-self, their family, their friends, their company, and their fans

Close this page if you don’t have any interest with the tittle, the casts, the stories.

AGEs MANIPULLATION

WARNING TYPO!!

“Luhan = Kai?!”

Yoona memegang ke-2 kartu yang ada di tangannya dengan gemetar. Diliriknya sebentar Kai yang berbalik menghadapnya di kursi depan, lalu kembali memandangi kartunya. Jantungnya berdegup kencang, keringat mengaliri pelipisnya.

Kai menjulurkan sedikit lidahnya. Matanya bergantian menatap kartu di tangannya dan kartu Yoona.

Tiffany dan Suho bertatapan heran.

Tangan Kai terangkat perlahan kearah salah satu kartu Yoona.

Yoona menenguk salivanya. Dia berusaha bertingkah biasa, tapi tidak bisa. Keringat yang semakin banyak dan jemarinya yang gemetaran menjadi bukti.

SRET!

Tangan kanan Kai bergerak cepat menarik salah satu kartu Tiffany.

Ke-2 mata gadis itu membulat seketika, beriringan dengan jemarinya yang memegang lebih erat kartu yang hendak diambil Kai.

Jangan Joker! Sial!

“Berikan!”

“Tidak mau!”

Tangan Yoona bahkan sudah lurus keatas untuk mempertahankan kartunya.

Kai mendengus. “Cih. Kau mudah ditebak,” ledeknya. “Sudah dulu mainnya. Aku capek,” tanpa basa-basi disambarnya kartu miliknya dari Yoona, yang mempoutkan bibir kesal.

Tanpa mereka sadari, seseorang dari kursi lain menatapnya. Menatap Yoona lembut. Fantasinya membayangkan ketika dirinya menyatakan perasaan yang selama 2 tahun ini dia pendam di liburan kelas mereka ini.

Tangan kanannya mengepal. Dalam hati bertekad tidak akan melewatkan kesempatan ini. Dirinya optimis jika Yoona akan menerima perasaannya, dan mereka akan berpacaran—wajahnya sedikit bersemu merah ketika membayangkan itu.

“Hei, baju Luhan dan Kai sama!”

Seruan Tiffany membuyarkan fantasinya. Dilihatnya gadis bersuara khas itu.

“Benarkah?”

Kai menaikkan sedikit tubuhnya. Dia tidak berkomentar apa-apa, hanya mengamati baju yang dikenakannya sekarang. Memang sama. Baju dari bahan kaus lengan panjang berwarna hitam stripe putih dan gambar bom itu membuat mereka sekilas terlihat kembar.

“Iya, memang sama,” Yoona menimpali dengan senyum geli.

Tiffany terkekeh. “Acara kemping malah baju sama,” ucapnya.

Kai berdecak sembari mendudukkan kembali dirinya. “Mana aku tahu! Aku dibelikan ibuku.”

Luhan tertawa kecil. “Aku juga dibelikan ibuku.”

Yoona masih belum menghentikan kekehan khasnya. “Kekeke, kalian terlihat lucu!”

“Aish! Diam!”

Seruan Kai barusan tidak menghentikan aktivitasnya.

Perasaan cemburu mengobar sebentar di hati Luhan. Dia terlalu sering melihat saat-saat Kai bersama Yoona. Kai dan Yoona memang teman dekat, bersama Suho dan Tiffany juga. Tapi Luhan tidak bisa memaklumi status itu.

Beberapa kali saat ada festival sekolah, kelas mereka selalu menjadikan Kai dan Yoona sebagai penyambut tamu. Setiap tamu yang datang selalu mengira mereka adalah sepasang kekasih karena terlihat sangat cocok. Belum lagi, jadwal piket Kai yang kebetulan bersamaan dengan Yoona, rumah dan orangtua mereka yang dekat, bangku Kai berada tepat di depan bangku Yoona setelah rotasi bangku semester ini, dan masih banyak lagi momments Kai dan Yoona yang membuat tekadnya semakin membara.

Sering sekali pertanyaan kenapa-tidak-aku-saja? terlintas di benaknya. Dirinya dan Kai sangat berbeda.

Jika dirinya anak yang cukup pendiam dan pintar, Kai terlalu banyak omong dan bodoh. Jika dirinya anak yang antengan, Kai agresif. Jika dirinya sopan, Kai sebaliknya. Jika dirinya tidak supel, Kai sebaliknya.

Dengusan kesal terhembus begitu saja dari bibirnya.

***

“Jangan keluar dari jalur ski! Kalian diberi waktu bebas 1 jam! Setelah itu, langsung masuk ke penginapan dan bersiap-siap untuk makan malam! Hati-hati!”

Ne!”

Anak-anak langsung bubar dari barisan.

“Huwaa, chupta,” Tiffany mengusap-usap ke-2 lengannya dengan tangannya. Wajahnya putihnya langsung memerang meskipun tubuhnya telah dibalut baju-baju yang menghangatkan.

“Kyaa! Ayo kita main ski!”

Berbalik dengan Tiffany, Yoona sangat menikmati ketika butiran salju tersangkut di topi rajutnya atau melewati matanya yang tertutup kacamata.

Tiffany mengangguk bersemangat. “Kajja!”

Mereka mulai menuruni arena ski perlahan.

Luhan mencari-cari sosok Yoona. Matanya segera mendapatkan sosoknya ketika mendengar seruan bahagia Yoona. Digerakkannya tongkat ski perlahan kearahnya, berniat meluncur bersamanya. Biarlah ada Tiffany, yang penting sedikit dekat dengannya, pikirnya.

Dirinya tidak sadar, bahwa Kai yang sedang bermain kejar-kejaran dengan Suho meluncur cepat kearahnya. Kai yang melihat itu langsung panik.

“LUHAN!! LUHAN!! Menyingkir!” serunya.

Luhan menoleh pelan, namun terlambat.

DUAK!

Tabrakan tak terelakkan.

Tubuh pingsan mereka langsung dikerumuni oleh anak-anak lain dan beberapa guru pendamping.

 

***

 

“Mereka baik-baik saja. Mungkin, tadi malam mereka begadang karena tidak sabar ikut kemping hari ini,” kepsek yang ikut mendampingi memberitahu setelah memeriksa keadaan Baekhyun dan Chanyeol yang masih pingsan.

Gurae?” wali kelas bertanya pelan.

Sonsaengnym,” panggil Suho. “Kai boleh kami tandu ke kamar kami?” tanyanya.

Wali kelas mengangguk. “Bawalah, hati-hati. Setelah itu, langsung makan malam.”

Suho mengangguk patuh kemudian memandu Kai bersama anak-anak yang lain.

 

***

 

Tiffany melirik Yoona heran. Gadis di sebelahnya ini terlihat tidak begitu bernafsu makan, padahal menu makan malamnya berupa sup kari yang masih cukup panas.

“Kenapa, Yoon?” tanyanya perhatian.

Yoona sedikit terlonjak, kemudian tersenyum gugup. “Eh?! A-aku.. Aku hanya mencemaskan mereka,” jawabnya pelan. “Aku mau lihat keadaan mereka,” tambahnya.

Tiffany terdiam sebentar. “Kalau begitu, nanti kita lihat,” ucapnya. “Tapi kau habiskan dulu makannya!”

Yoona tersenyum senang dan mengangguk bersemangat.

 

***

 

“Eungh..”

Luhan melenguh pelan sembari membuka matanya yang terasa sangat berat, sementara kepalanya sangat pening.

Ia bangkit duduk perlahan, tangan kirinya digunakan untuk memijit pelan kepalanya.

“Sial. Apa aku terlalu bersemangat?” gumamnya lengkap dengan gerutuan.

Dirinya membeku sesaat ketika matanya mendapatkan sesosok perempuan di balik pintu kamarnya yang tidak tertutup rapat.

Yoona sedang mengintipnya.

Wajahnya seketika memanas dan pening yang tadi dirasakannya menghilang.

“Yoon..”

“Ah! Kau sudah bangun?! Bagaimana perasaanmu? Pusing? Ada yang sakit? Kau baik-baik saja? Makanya jangan terlalu cepat meluncur..”

Yoona bertanya cepat sekali dan menempelkan tangannya di kening Luhan. Dirinya duduk dengan poisis ke-2 kakinya terlipat ke belakang, tepat di samping Luhan.

Wajah Luhan kini bukan hanya semakin panas, dapat dirasakannya darah seakan berkumpul di wajahnya.

“Yoona..”

“Syukurlah kau tidak apa-apa..” ucap Yoona pelan sambil menjauhkan tangannya dari kening Luhan.

“Yoona..”

Yoona sedikit tersentak ketika tangan kiri Luhan menahan tangannya dan tangannya yang lain digenggam pelan lelaki itu.

“Kau.. Begitu memperhatikanku?” sudut bibirnya terangkat ketika mempertanyakan itu dengan lirih.

Wajah Yoona ikut memerah. “K-Kai??”

Senyum kecil di wajahnya perlahan lenyap ketika mendengar nama itu. Dipegangnya tangan Yoona lebih keras. “Yang ada di sini aku, Yoon! Lihat aku seorang!”

Ekspresi tak mengerti kentara di wajah Yoona yang berjarak tak begitu jauh dari wajahnya, walaupun wajah cantik itu cukup ‘matang’.

“Lihat aku, Yoona!” ucap Luhan lagi, kali ini lebih keras.

Alis Yoona hampir bertaut, keringat mulai menuruni pelipis dan keningnya.

K-Kai jadi aneh?!

 

***

 

Tiffany meremas handuk kecil, tetesan air dingin menjatuhi baskom kecil, lalu menaruh handuk itu di kening Kai. Tak sampai 1 menit, namja bermarga Kim itu terbangun, ia langsung bangkit duduk dan melepas kompres di keningnya.

“Ah! Kau sudah sadar?” tanya Tiffany. “Ini di penginapan. Kau dan Kai sama-sama pingsan setelah terbentur tadi sore,” tambahnya melihat ekspresi kebingungan di wajahnya.

Kai manggut-manggut pelan. “Kau yang mengompresku?”

Tiffany tertegun sebentar. Untuk ukuran orang sesopan Luhan, cara bicaranya bisa dibilang kurang sopan. “Y-ya, kupikir bagus juga mengopresmu,” jawabnya gugup dengan senyuman canggung.

Gurae? Terima kasih.”

Tiffany mengibaskan tangan kanannya. “Tidak apa..” sahutnya ramah.

Kai berdiri dengan cepat dan merentangkan ke-2 tangannya. “Lalu, bagaimana dengan Luhan? Apa dia baik-baik saja?”

Tiffany kembali tertegun. “Hah? Jangan ngawur.. Kau sendiri Luhan,” jawabnya. Jari telunjuk kanannya digunakan untuk menunjuk Kai.

Kai meniliknya heran. “Kau yang bicaranya ngawur.. Kepalamu habis terbentur, ya?” balasnya. “Aish, aku lapar. Kalian sudah makan malam?”

Kai membuka pintu kamarnya, mengabaikan Tiffany yang menatapnya dengan penuh tanda tanya.

“Oh! Sudah bangun?”

Kai langsung menatap Suho yang kebetulan ingin lewat kamarnya. “Sudah makan malam?” ia balik tanya.

“Iya. Sup karinya enak sekali! Aku sampai nambah,” jawab Suho dengan senyum lebar.

Kai mendekatinya dan menarik pundaknya agar menunduk dan menjitak kepalanya.

“Dasar! Makan tidak tunggu teman,” gerutunya. Setelah itu, ia melepaskan Suho dan melangkah santai, ingin ke kafetaria penginapan. “Makan, ah..”

Pandangan Suho mengikuti sosoknya.

“Kenapa Luhan?” tanyanya bingung pada Tiffany yang sudah keluar dari kamar Luhan.

Tiffany menggerakkan ke-2 bahunya. “Aku tidak tahu, tapi dia sangat aneh!” balasnya setengah berbisik.

“Aissh.. Lihat keadaan Kai dulu, deh,” ujarnya sebelum tangannya meraih gagang pintu kamarnya dan Kai.

Kai yang belum begitu jauh darinya, mendengar jelas perkataan Suho. Ia segera berbalik menghampiri Suho.

“Hei! Jelas-jelas aku ada di sini,” ucapnya.

Suho tertawa garing. “Bicara apa, sih, Luhan?” balasnya.

Dan saat itu, Kai menyadari ada yang aneh padanya. Disentuhnya keningnya dan langsung menyentuh kulitnya.

Ada apa dengan poninya?! Kenapa poninya sekarang berwarna putih?

“Hei, Kai! Jangan tidur terus!”

Fokusnya teralihkan seiring keadaan yang berubah menjadi begitu hening, semua mata tertuju pada 2 orang yang sedang berpelukan di dalam kamar—hanya si namja yang terlihat memeluk erat pinggang si yeoja, sebenarnya.

“Kyaaa!” teriakan histeris langsung menggema.

Perhatian Kai bukan hanya tertuju pada Yoona yang ada di pelukan tubuhnya, tapi mengetahui jiwanya berada di tubuh yang salah.

Jiwanya dan jiwa Luhan tertukar.

“K-Kau?!”

“Luhan!”

Yoona langsung menghambur kearahnya. “Kai aneh sekali— Kyaa!”

Kai tidak peduli jika dirinya sudah mendorong keras Yoona agar menjauh. Ia dan Luhan sama-sama meraba wajah mereka dengan ekspresi horor.

GREB!

Kai -dalam wujud Luhan- menarik keras kerah bajunya. “Siapa kau?!” tanyanya, sangat pelan.

“Luhan. Kau sendiri?”

“Kai.”

Ekspresi horor mereka bertambah parah.

“He-hei! Apa apa kalian ini?? Biasanya tidak seperti ini sebelumnya,” Suho menengahi mereka.

Tangan kanan Kai beralih merangkul erat pundak Luhan -dalam wujud tubuhnya-.

“Kami.. Mau ke toilet dulu!”

Setelah mengatakan itu, mereka langsung berlari menuju toilet pria, tanpa memedulikan tatapan heran dan kaget setiap pasang mata yang ada.

 

***

 

“Ki-kita jadi begini setelah tubrukan.”

“Aissh, serius nih?!”

Kai memandangi dirinya dalam balutan tubuh Luhan. Sementara Luhan tampak enggan melihat dirinya berada di tubuh Kai lewat pantulan cermin.

Setelah lama bercermin dalam hening dan tidak menemukan hal lain, mereka berjalan menuju kafetaria penginapan dan makan malam dengan tenang.

“Berarti aku memeluk Yoona dalam wujud Kai!”

BYUUUR!

Kai menyemprotkan air minum yang belum diteguknya dan hampir tersedak.

“Untung aku belum menyatakan perasaanku,” Luhan menghembuskan napas sedikit lega.

Kai menatapnya kesal dan jengkel. “Kau ini.. Aku tidak mau tahu apa urusanmu pada Yoona, tapi kembalikan tubuhku!”

Keureom! Kau juga, kembalikan tubuhku!”

Kai -ingat, masih dalam wujud Luhan- bertopang dagu. “Tapi, bagaimana kita kembali?” tanyanya pelan.

“Mungkin, tubrukan lagi?” imbuh Luhan agak ragu.

“Kai! Dari tadi sama Luhan terus,” ujar Suho sedikit menggerutu sembari merangkul akrab tubuh Kai, Luhan sedikit tersentak dibuatnya.

“Main kartu, yuk! Di kamar,” ajak Suho.

“Ya,” sahut Luhan.

“Boleh saja,” tambah Kai sebelum meneguk minumnya.

Saat Luhan berbalik hendak berdiri, dirinya melihat Yoona yang memasuki kafetaria. Membawa nampan berisi penuh piring dan gelas kotor dari guru-guru.

Mata mereka bertemu selama beberapa detik. Tak begitu lama karena Yoona segera mengalihkan pandangannya.

“Hei, Yoona! Mau ikut main kartu?” ajak Suho ramah.

Yoona menatapnya ragu sebelum menjawab ucapan ‘terima kasih’ dari bibi kafetaria.

“Iya! Kau ikut saja, Yoon!” kali ini Luhan yang mengajaknya.

Yoona menatapnya dengan pandangan yang sulit dimengerti beberapa detik, kemudian menggeleng cepat. “Tidak!”

“Kalau mau, datang saja ke kamar kami! Ajak juga Tiffany dan teman yang lain, biar tambah seru,” kata Suho.

Yoona tak merespon. Namun perhatiannya teralihkan ketika mendengar derat kursi yang Kai duduki.

“Terima kasih, bu,” ucap Kai sembari mengangkat piring kotornya dan berdiri. “Kenapa?” tanyanya  sewot saat melihat tatapan aneh Yoona.

“Luhan aneh, deh..”

Kai sedikit tersentak. “A-aneh apanya?”

“K-Kai apalagi! Aneh banget!”

Ingin sekali Kai terkekeh mendengar itu. “Dia jauh lebih baik ‘kan?”

“Justru itu anehnya!” balas Yoona cepat. “Tidak! Tidak! Itu bukan Kai!”

Kai tertegun karena ucapan Yoona barusan.

“Apaan ini?! Kenapa setelah bertubrukan, kalian jadi aneh?!” rengek Yoona.

“He-hei..”

BLEP!

Mereka ber-2 terdiam di tempat. Detik berikutnya teriakan histeris anak-anak perempuan di kamar mereka terdengar menggema.

“Ada apa?”

“Maaf! Tegangan listriknya turun! Jangan panik!” bibi kafetaria berlari tergopoh-gopoh dengan senter besar di tangannya.

“Jangan banyak bergerak!” suara sonsaengnym terdengar nyaring.

Sementara itu, Suho dan Luhan menempel di dinding—meraba-raba dinding untuk berjalan lebih tepatnya.

“Yo-Yoona..” Luhan mulai panik. Dia melihat jelas kalau Yoona sedang bersama Kai tadi.

Sial!

“Gelap sekali,” keluh Yoona. Dia teringat dengan kakaknya, bisa-bisa dia sudah pingsan kalau berada di ruangan ini.

Kai meraba-raba depannya, sampai tangannya memegang pucuk kepala Yoona dan beralih menggenggam erat tangannya.

“Jangan takut. Sebentar lagi pasti menyala,” ucapnya.

Dia tidak tahu, kalau wajah Yoona sepenuhnya memerah sekarang. Dan jantung ke-2nya seakan beradu untuk menjadi yang tercepat.

“Kau.. Kau Kai ‘kan?”

Kai segera menoleh menatap Yoona yang menatapnya dalam.

“Kau bukan Luhan. Kau Kai, iya ‘kan?” ulangnya pelan.

Bukannya menjawab. Kai malah memegang pipi Yoona dengan tangannya yang bebas dan mendekatkan wajahnya pada wajah Yoona yang semakin bersemu. Namun…

BLEP!

Pergerakannya sukses terhenti karena lampu kembali menyala.

Luhan yang -masih memeluk dinding- melihat itu langsung heboh.

Ya! Kau bilang jangan macam-macam sebelum kita kembali!” serunya sembari mendekati dengan cepat Kai.

“A-aku tidak..”

“Kyaa!”

BRUKK!

Dikarenakan terburu-buru, Luhan kehilangan kesimbangan dan kepala mereka bertemu kembali. Dan..

Mereka kembali! Luhan kembali ke tubuh aslinya, Kai kembali ke tubuhnya yang semula.

“Ka-kalian baik-baik saja?” Suho bertanya dengan ekspresi kaget yang belum beranjak dari wajahnya.

“A-aku kembali!” Kai berseru senang dalam hati. Tangannya mengusap-usap bagian kepalanya yang terbentur.

“Syukurlah..” Luhan berucap bahagia dalam hati. “Kai apaan, sih?! Dari tadi tubrukan melulu!”

Kai cengengesan. “Kau yang kehilangan keseimbangan!” balasnya.

Suho dan Yoona terbengong-bengong.

“Hei.. Ayo cepat main kartu,” ujar Suho memelas.

“Sepertinya, sudah kembali,” gumam Yoona senang. Jujur saja, dirinya tidak tahu harus bagaimana kalau jiwa Luhan dan Kai terus tertukar, selamanya. Mungkin, dia akan sedikit bersyukur, namun Kai yang dekat dengannya bukanlah Kai. Dia akan sangat merindukan Kai yang sebenarnya, karena dia menyayanginya dan tidak mau Kai berubah.

—THE END—

Astaga-___-v

Sumpah, kesannya aneh banget kalo bikin FF yang castnya bukan bias sejati._.v Biarlah~ sesekali membahagiakan penggemar YoonKaiHan^^

Maaf atas kegajean di segala sisi FF ini :3 Maklum saja~ FF ini tercipta dari otak yang gaje dan jari-jari tangan yang kurang terampil, jadinya begini deh~ :3

FF ini juga ada dengan cast lain^^ Kalo mau baca, silakan cari di Google dengan keyword Baekhyun = Chanyeol??! kalo mau visit blogku yang semua FFnya bercast bias sejatiku *lirik Fany unnie :3*, silakan visit~^^ kalian diterima dengan pintu yg terbuka lebar~^^ asalkan gak ngebash aja, gk bakalan kutendang keluar dari blog._.v

13 thoughts on “[Freelance] Luhan = Kai??!

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s