I.Y.E

In Your Eyes

In Your Eyes

+

+

Tumblr || RG

+

Kim Jong Dae | Bae Yeon Ji

Love . Family Imagination .  Sad

Ficlet . PG 13+

.

note

Nothing special but it touches. Possible.

.

.

Kenapa ”Bi”?

 

Karena setiap aku menangis, hari itu juga akan turun hujan. Padahal hari tampak begitu cerah.

 

Benarkah?

 

 

+.+.+

 

 

Jongdae mengerjapkan matanya sekali ketika bentakan keras mengarah kearahnya. Gadis yang selama ini terlihat bahagia dengan sejuta kekonyolan yang melengkapi hubungan keduanya. Kini memberontak karena hal yang tidak dimengerti Jongdae. Benar-benar tidak mengerti.

 

”Ada apa denganmu?” Tanya Jongdae dengan nada yang begitu polos. Jongdae berusaha memutar tubuh kecilnya untuk menghadap ke arahnya. ”Bi?! Berbicaralah padaku….” Desakan Jongdae membuat Bi semakin menjauh. ”Masalah pot bungamu yang pecah atau karena bulpoinmu kehabisan tinta??”

 

”Kenapa kau begitu bodoh!! Ish… Aku benci denganmu!” pekik Bi sambil memukul telapak tangan Jongdae yang tergeletak diatas pahanya dengan kesal. Tatapan tajam yang mengerikan menusuk bola mata Jongdae.

 

”Berhentilah seperti ini… Aku bukan pisang. Mungkin kau sejenis dengan Eunhyuk hyung.” kata Jongdae sambil membayangkan Bi yang sejenis dengan hewan primata yang disebut monkey.

 

Hal itu membuat nafas Bi tercekat. Perlahan-lahan pandangannya buram. Dia sadar akan ada lelehan air yang akan membanjiri wajahnya.

 

Jongdae diam sejenak. Dia memperhatikan kedua mata Bi. Ada satu pertanyaan yang dia pikirkan. ”Apa yang ada di matamu?” tanya Jongdae seraya mengangkat sebelah tangannya untuk menyentuhnya.

 

Bi sudah terlanjur kesal hingga akhirnya dia menepis tangan itu sebelum menyentuh wajahnya. Bi bangkit dari tempat duduknya lalu meninggalkan Jongdae dengan wajah yang super polos–dengan kata lain, tidak tahu apa yang terjadi.

 

Jongdae meraih selembar daun yang telah menguning dan meletakkannya di pertengahan buku milik Bi–dia meninggalkan semua barang bawaannya dan pergi tanpa membawa apapun, termasuk smartphonenya

 

+.+.+

 

”Dimana Bi?” tanya Minseok ketika decitan pintu rumah membuyarkan konsentrasinya untuk menata nail polish kaviar mahalnya dan menampilkan sosok Jongdae dengan tangan penuh barang–milik Bi.

 

”Aku tidak tahu…”jawabnya seraya meletakkan barang-barang itu diatas sofa panjang dihadapan Minseok. ”Aku hanya berbicara kenyataan dan dia malah pergi meninggalkanku.” papar Jongdae lemas. Ntah kenapa, hatinya begitu terasa berat untuk mengejar Bi dan bertanya yang sebenarnya.

 

Minseok menoleh. Dia mengambil majalah W lalu menggulungnya. Ketika Minseok berdiri tepat di depan adiknya dengan cepat dia memukul gulungan majalah itu ke atas kepalanya. ”Kau sangat bodoh… Kenyataan apa lagi yang kau bicarakan?” tanya Minseok, tidak memperdulikan kesakitan yang dirasakan Jongdae.

 

”Aku hanya mengatakan bahwa dia sejenis dengan Eunhyuk hyung. Dia melihatku dengan tatapan rakus. Memangnya aku pisang…”

 

”Dasar bodoh! Kenapa kau katakan seperti itu?!” bentak Minseok dengan nada gemas seperti yang dilakukannya setiap hari menghadapi adik perempuannya yang sangat menjengkelkan itu.

 

”Tidakkah hyung mendengar penjelasanku…” Jongdae menghembuskan nafasnya secara perlahan, menghadapi Minseok yang seperti ini. Pada kenyataannya dia sendirilah yang membuat Minseok seperti ini.

 

”Aku ingin pergi membeli nail polish untuk Polka.” kata Minseok sambil melempar majalah itu sembarang lalu berjalan menuju pintu depan.

 

Sementara itu, Jongdae memutar otaknya untuk mencerna kata-kata yang diucap Minseok.”Nail polish? Sejak kapan Polka pakai nail polish…”

 

”Aku tidak jadi pergi….”

 

Alis Jongdae berkerut samar mendengar kata-kata Minseok. ”Kenapa?”

 

”Diluar sedang hujan… Tidak mungkin aku hujan-hujanan hanya untuk membeli nail polish Polka.” kata Minseok setelah menghempaskan tubuhnya disamping Jongdae. Dia mengeluarkan smartphonenya dan mulai mengetik sebuah kata.

 

Disamping itu Jongdae terdiam, mencerna kembali kata-kata yang diucapkan Minseok. Dia berfikir bahwa beberapa menit yang lalu–saat dirinya berjalan kearah rumah, hari tampak begitu cerah. Ini sangat tidak masuk akal–pikirnya. Pandangannya dialihkan kearah smartphone milik Bi yang tengah berkelip. Dia meraihnya dan melihat sebuah pesan.

 

From : Mother

 

Dimana Bi? Sepertinya hari ini hujan akan turun lebat. Jika kau bersama Jongdae beri tahu eomma, ya… Eomma khawatir…

 

Jongdae terdiam menatap setiap kata yang tertulis dipesan itu. Dia mengira Bi lari meninggalkan dirinya untuk pulang tapi ternyata tidak. Hanya satu pertanyaan yang kini menghambatnya untuk tidak kebingungan, ”Kemana Bi?” tanya Jongdae seraya menoleh kearah Minseok.

 

”Mengapa kau tanya hal itu padaku? Memangnya seharian ini aku bersamanya… Dasar bodoh.” kata Minseok sambil menepuk kening Jongdae.

 

Tanpa berfikir lebih lama Jongdae bangkit lalu merebut kunci mobil milik Minseok. Dia sama sekali tidak peduli dengan bentakan keras dari Minseok dan memilih menerjang hujan untuk menghampiri mobil Bentley. Mencari keberadaan Bi.

 

+.+.+

 

Dia kembali ketempat dimana dirinya dan Bi menghabiskan hari setiap hari. Tapi dia tidak melihat sosok Bi. Lantas Jongdae kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah disekitar taman ini.

 

Jongdae sudah berusaha mencari. Tetap tidak ada.

 

Jongdae kesal dengan kebodohannya membiarkan Bi berlari terlebih lagi disaat hujan seperti ini. Dia menghentikan mobilnya di tepi jalan. Ketika pandangannya lurus kedepan, dia melihat sosok gadis berambut coklat tengah duduk di halte dengan kepala tertunduk. Lantas Jongdae turun dari mobil itu lalu berlari menghampiri sosok itu.

 

Ribuan tetes air terus menghujam tubuhnya hingga basah. Dia tidak peduli dengan apa yang akan terjadi setelah ini. Dia hanya memikirkan gadis kesayangannya. Tidak ingin sesuatu terjadi padanya. Dia takut.

 

Langkahnya berangsur lambat ketika tiba di samping halte. Dia melihat tangan kecilnya menutup wajahnya. Dia ingin tahu apa yang dilakukannya setelah ini. Biasanya gadis kesayangannya itu akan menghentakkan kakinya seperti anak kecil yang tidak dibelikan permen kapas.

 

Setelah menunggu, tidak terjadi apapun pada dirinya. Ntah hal apa yang mendorongnya untuk berjalan dan berhenti tepat didepannya. Jongdae berfikir bahwa gadis kesayangannya ini tidak menyadari kehadirannya karena derasnya hujan meredamkan suara langkah kakinya.

 

Kedua tangannya tergerak untuk memeluknya. Dia tidak merasakan apapun, yang dirasakannya hanyalah ketenangan ketika memeluknya.

 

Jongdae mengakhirinya karena dia tahu satu hal bahwa Bi tidak akan terpengaruh dengan apa yang di lakukan Jongdae sebelum mengucapkan satu kata, maaf.

 

Jongdae menumpukan lututnya ke tanah, mencoba menyetarakan tinggi Bi. Dia masih mendapati Bi menutup wajahnya. Perlahan Jongdae menggenggam tangan kecilnya lalu menyingkirkannya dari wajahnya. ”Wajahmu penuh dengan air… Kau habis mencuci muka.” kata Jongdae teramat polos.

 

Tiba-tiba saja Bi melepaskan tangannya dari genggaman Jongdae. Bi kembali berontak mendengar kata-kata itu. ”Kenapa kau begitu bodoh! Gongchan saja tidak seperti ini…” pekikan Bi membuat langit semakin bergemuruh dan hujan semakin lebat.

 

Suara Bi memang teredam oleh gemuruh itu tapi dihati kecil Jongdae timbul rasa sakit yang tidak dimengerti olehnya.

 

Seperti itu lah rasa sakit yang aku alami. Sekarang oppa sudah paham arti dari kata sakit hati?

 

Jongdae mengingat kembali kata-kata Juny tempo hari. Dia mengatakan bahwa sakit hati itu adalah ketika ada satu hal yang aneh dibagian hatinya dan itu sangat menyakitkan. Jongdae menyentuh dadanya. Sesekali dia menoleh kearah Bi yang masih menundukkan kepalanya.

 

Dia melihat bulir air terus bergulir di wajahnya. Jongdae mencoba mencerna semua yang diingat dengan apa yang dilihatnya saat ini.

 

Aku adalah Bi.

 

”Bi?”

 

Bi… Ya, Bi. Dia hanya diam saat merasakan tubuhnya didekap erat oleh Jongdae. Bi tidak pernah merasakan dekapan yang begitu erat seperti saat ini. Dekapan yang penuh maksud. Bi membiarkan Jongdae membenam wajahnya diantara helaian rambutnya.

 

”Aku minta maaf… Aku memang bodoh tapi jangan jatuhkan air itu lagi di wajahmu…”

 

Kata-katanya membuat Bi tersentak. Dia tidak pernah berfikir bahwa Jongdae bisa membuat kata-kata yang begitu menyentuh walaupun dengan kata-kata polosnya. Bi kembali sadar ketika dekapan itu semakin erat, menyuruhnya untuk mengatakan sesuatu. Bi menggangguk pelan sebagai jawaban lalu menutup matanya. Begitupun Jongdae, melakukan hal yang sama dengan Bi–menutup matanya.

 

Cukup lama keduanya memejamkan mata hingga akhirnya yang terdengar hanyalah rintik kecil jatuh diatas genangan air hujan. Secara serentak Jongdae maupun Bi membuka matanya, mendapati sinar matahari berlomba-lomba menembus kapas putih dilangit dan menyinari jalanan yang basah karena hujan.

 

Bi melepaskan diri dari dekapannya. Dia sadar, saat ini ibu jarinya berusaha menghapus sisa bulir air matanya. Senyum simpul mulai terukir dibibirnya dan dibalas dengan hal serupa olehnya.

 

”Kau basah…” kata Bi sambil mengacak-acak rambut Jongdae yang basah.

 

”Aku tidak peduli…” jawab Jongdae.

 

”Nanti kau sakit.” sahut Bi, tidak mau membenarkan kata-kata aneh dari Jongdae. Tangannya kembali digenggam lalu diarahkan kewajahnya yang dingin–akibat air hujan yang dingin.

 

”Itulah peranmu dalam hidupku, menjagaku dengan penuh kasih sayang.” gurau Jongdae dan mendapat jeweran gemas dari Bi. Jongdae mengusap telinganya yang diyakini merah karena tangan kecilnya–bukan! karena ulahnya sendiri.

 

 

=THE END=

13 thoughts on “I.Y.E

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s