[Freelance] Complicated (Sequel of Breakeven) (Chapter 1)

complicated-redo

Tittle : Complicated (Sequel of Breakeven) (Chapter 1) || Author : Rie Fujiwara || Cast : Sehun – Seohyun || Other Cast : Kim Taeyeon,Jessica Jung, Xi Luhan, Tiffany || Genre : Sad, Romance, Angst, Friendship || Length : Multichapter (1/ ?) || Rating : T || Author’s note : Sequel dari FF Breakeven, Disini sebagian besar adalah dari sudut pandang Sehun. FF ini terinspirasi dari berbagai pengalaman author sendiri dan teman author  dengan beberapa modifikasi sana-sini. Big thanks to Xiao (YooraArtDesign) for gorgeous poster.Sorry for typo and happy reading

-o0o-

Sehun menggali tanah itu dengan bantuan ranting pohon. Walau sedikit memakan waktu, baginya tak masalah. Yang terpenting baginya saat ini adalah mendapatkan kotak yang gadis itu kubur disini. Jujur saja, ketika gadis berwajah malaikat—Seohyun—itu menitikkan airmata setelah mengubur kotak kecil itu, perasaan bersalah dan menyesal menghantui dirinya. Ia merasa bersalah karena menyakiti hati gadis tak bersalah itu. Dan ia kini menyesal karena ia pernah menyakiti gadis itu. Menyesal atas….Seluruh perbuatannya.

“Dapat” ujarnya setelah berhasil menemukan kotak putih berukuran sedang itu. Dengan segera dibukanya kotak itu dan Bingo !  Detak jantung Sehun seperti berhenti mendadak. Keringat dingin mulai bercucuran dari pelipisnya. Ia dapat merasakan sesuatu di dalam dirinya yang sangat sakit bak dihujam ribuan pedang. Kotak itu….Berisikan seluruh benda-benda yang pernah ia beri kepada Seohyun. Mulai dari foto, buku, bando bahkan cincin peringatan harijadi hubungan mereka yang ke sepuluh bulan. Semuanya tersimpan rapi dalam kotak itu.

Ia tersenyum. Namun bukan senyuman bahagia atau sejenisnya, melainkan senyuman miris. Ia turut prihatin dengan dirinya sendiri. Tangannya yang bergetar itu mengambil salah satu foto mereka. Dan foto yang tepat Sehun ambil adalah foto dimana ia dan Seohyun tengah duduk berdua, dengan membawa sebuah kue ulangtahun dengan lilin berangka 1 dan 7 di atasnya. Sehun ingat, foto itu adalah foto dimana ia dan dirinya merayakan harijadi Seohyun yang ke 17 tahun. Sehun kembali tersenyum miris, seakan-akan ia menyesal karena meninggalkan gadis itu. Kemudian dibaliknya foto itu dan membaca tulisan yang terpampang disana.

“Happy Sweet17 Birthday Seo Joo Hyun ! Wish you all the best, baby. I’ll be there for you, forever ^^ “

Sepenggal kalimat yang tertulis dibalik foto itu membuat Sehun semakin merasa bersalah. Pasalnya, ia yang berjanji akan setia dengan Seohyun.Dia juga melarang Seohyun terlalu dekat dengan lelaki, termasuk Luhan yang memang telah bernotaben sebagai teman dekat Seohyun sejak masa SMP. Tetapi pada akhirnya ia sendiri yang mengingkari janji itu. Dan dirinya sendiri yang telah terlalu dekat bahkan berpindah hati dengan Taeyeon yang juga bernotaben sebagai sahabat Seohyun.Namun, ia berbuat seperti itu semata-mata bukan karena apa, namun memang ia melakukan itu atas dasar sesuatu. Sesuatu yang harus membuatnya terpaksa meninggalkan gadis itu.

Kemudian Sehun beranjak pulang dengan kotak terbawa di tangannya.

-o0o-

Pada malam itu, disaat semua orang sedang berkumpul di ruang perapian dengan sendu gurau, Sehun memilih untuk tetap tinggal di ruangan besar bernuansa hijau itu—kamarnya.Sesuatu telah menarik perhatiannya untuk tetap tinggal di kamarnya.Sebuah benda kubus berukuran sedang itulah yang menarik perhatiannya.Kotak berisikan semua pemberiannya yang telah dikubur dalam-dalam oleh seorang gadis cantik bernama Seohyun. Gadis yang…ah! Ini bukan sepenuhnya salah Seohyun. Ini adalah salahnya sendiri karena ia tega meninggalkan gadis yang ia cintai itu.

Perlahan tangannya meraih penutup kotak itu dan melemparnya sembarangan. Ia sedikit meringis melihat begitu banyak benda-benda pemberiannya yang terpapang rapi di dalam kotak itu. Matanya tertuju pada setangkai bunga mawar putih yang mulai layu. Sangat jelas, ini adalah pemberiannya saat mereka merayakan hari jadi hubungan mereka yang ke satu minggu. Tepat disaat Seohyun yang tadinya sedikit pundung kepadanya kini sudah tidak lagi.

“Ya Hunnie ! Ayo cepat makan malam !”

Sehun terperanjat. Aliran darahnya seperti terhenti, begitu pula detak jantungnya. Kalimat itu… Adalah kalimat yang sama persis gadis itu lontarkan. Intonasinya…begitu pula dengan nadanya ! Apa gadis itu tahu dan pergi ke rumah ini ? Tidak. Sehun menggelengkan kepalanya cepat-cepat. Mana mungkin seorang gadis yang telah ia tinggal selama enam bulan kini mampir ke rumahnya, terlebih lagi menyuruh ia makan malam ? Mimpi yang takkan lagi terwujud, pikir Sehun.

“Hunnie !”

Sebuah tangan melingkar di tengkuk Sehun, membuatnya bergidik ngeri. Terlebih lagi saat ia merasakan hembusan nafas di tengkuknya.Sehun menggeleng kuat-kuat kemudian menepis tangan itu kasar dan berbalik menghadap pemilik-tangan-tak-tahu-sopan-santun itu. Sedetik kemudian pandangannya yang semula terkejut menjadi lebih terkejut lagi, melihat gadis itu bukanlah gadis sembarangan. Gadis itu menatap Sehun dengan tatapan terkejut juga,mungkin karena tangan Sehun menepis tangannya terlalu kuat tadi.

“Taeyeon-ssi” Perlahan pandangan Sehun semakin melembut, tetapi justru lebih berkesan pasrah.Dilihat dari nada ucapan Sehun, sepertinya sesuatu terjadi diantara keduanya. Namun Taeyeon tak menggubris panggilan Sehun dan lebih memilih untuk mengedarkan pandangannya ke arah kamar Sehun. Kamar kekasihnya itu pertama kali. “Kamar mu cukup bagus, bahkan untuk seorang lelaki. Aku sangat menyukai interiornya, peletakkan barang, bahkan warnanya. Seleramu sangat tinggi, Hunnie !” puji Taeyeon, namun Sehun hanya menunduk dan mengepalkan tangannya.

Pandangan gadis berwajah baby-face itu tertuju pada sebuah kotak yang terletak di atas ranjang Sehun dengan tutup yang entah kemana perginya. “Oh itu !!” Taeyeon menunjuk ke arah kotak itu, kemudian berjalan mendekatinya dan tak menghiraukan Sehun yang masih terdiam mematung. “Untuk apa kau menyimpan benda-benda ini ?” Lanjutnya yang masih tak membuat Sehun untuk membuka suaranya. “Ah ! Aku tahu ! Mungkin ini untukku kan ?” Taeyeon meraih sebuah kalung liontin dengan ukiran  S&S  diatasnya dan menunjukannya kepada Sehun. Kemudian ia terkejut karena Sehun merebut liontin itu dengan paksa dari tangannya.

“berhenti menyentuh benda-benda di dalam kotak itu, Taeyeon ssi !” perintah Sehun dengan nada yang cukup lirih, membuat Taeyeon mengerutkan dahinya dan mulai berkacak pinggang. Gadis ini sama sekali bingung dengan sikap pemuda ini yang jika di sekolah baik kepadanya, namun jika di luar sekolah menjadi dingin seperti ini.“Memang kenapa ?! Aku ini berhak untuk-“

“KAU SAMA SEKALI TIDAK BERHAK !!” bentak Sehun sebelum Taeyeon menyelesaikan kalimatnya. Kali ini sepertinya emosi Sehun sudah tak dapat ia kendalikan lagi sehingga ia dapat membentak seorang gadis bernama Kim Taeyeon itu. Sudah cukup untuk enam bulan bersabar dan ini saat yang tepat untuk melakukan semua ini, pikir Sehun. “Kau sama sekali tak memiliki hak untuk menyentuh benda-benda berharga itu, termasuk memasuki tempat ini !” lanjutnya lagi, namun kali ini dengan nada yang lebih melembut.

“YA HUNNIE !!” kali ini Taeyeon yang membentak. Sering kali Sehun memperlakukannya dengan sikap dinginnya, dan selama ini bersabar. Namun sepertinya bentakan Sehun kali ini sungguh di luar… Di luar dugaannya. “ YA ! SELAMA INI KAU MENGANGGAPKU SEBAGAI APA ?! SUDAH ENAM BULAN KITA MENJALANI HUBUNGAN INI, NAMUN MENGAPA SIKAP DINGINMU ITU TAK SAMA SEKALI MELELEH ?! AKU MUNGKIN SUDAH CUKUP SABAR MENGHADAPI SEMUA INI HUNNIE !” bentak Taeyeon, kali ini dengan linangan air mata yang turun dari pelupuk matanya. Membuat hati Sehun yang tadinya dingin menjadi sedikit luluh. “Tidakkah kau mengerti akan perasaanku selama ini Hunnie ? Apa kau lupa hah ? Aku adalah kekasihmu !”

Sehun meringis, mata sendunya bertemu dengan mata berair milik Taeyeon. Ia mungkin merasa bersalah, sangat bersalah pada gadis ini.Sehun sangat ingin memperbaiki sikapnya, namun mengingat hubungan mereka bukan didasari atas cinta dan terlebih lagi Sehun masih mencintai Seohyun, Sehun menggeleng pelan.

“Maafkan aku, Taeyeon-ssi. Sepertinya kau bukan lagi kekasihku sekarang”

-o0o-

Sehun menatap kosong langit biru di hadapannya. Berulang kali ia menghela nafas berat. Tatapannya kini semakin sendu. Ia sedang banyak pikiran untuk saat ini. Oleh sebab itu ia mengajak dirinya untuk menghempaskan tubuhnya di atas hamparan rumput sembari menatap langit. Semilir angin yang berhembus pelan, bunyi gemerisik rumput yang bergoyang akibat hembusan angin, dan langit biru dipenuhi dengan awan mungkin pilihan terbaik baginya untuk sekedar menghilangkan seluruh beban di otaknya.

Sehun memejamkan matanya sembari menghembuskan nafasnya.Hanya satu yang masih tidak dapat ia lupakan sekarang. Yaitu pikirannya tentang seorang gadis berhati baik yang ia tinggalkan demi menyelamatkan keluarganya. Demi menyelamatkan keluarganya, akhirnya ia harus meninggalkan Seohyun dan terpaksa harus menjalin hubungan kekasih, bahkan harus bertunangan dengan gadis yang selama ini tidak ia harapkan.Terlebih lagi gadis itu adalah teman dekat dari Seohyun, wanita yang ia cintai. Masih tersimpan rapi di benaknya ketika orang tuanya meminta dirinya untuk menyelamatkan perusahaan orangtuanya.

 

Sore itu, Sehun barusaja pulang dari ekstrakulikuler favoritnya, Basket. Bagi pemuda berbadan jangkung seperti Sehun, basket seperti sebagian dari hidupnya. Ia sangat giat berlatih sehingga ia diangkat menjadi kapten basket di sekolahnya.Sudahlah tak perlu membahas tentang basket lagi. Yang terpenting bagi Sehun sekarang adalah pulang dan segera mengunjungi rumah kekasihnya yang juga populer karena kepintaran dan keramahannya, Seo Joo Hyun.

Barusaja Sehun melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga, Ia mendengar suara ayah dan ibunya yang sepertinya sedang adu mulut. Bukan hanya orang tuanya, melainkan kakak yang sangat ia cintai, Miyoung juga meramaikan adu mulut yang sama sekali ia tak ketahui sebabnya itu. Yang ia ketahui, sepertinya Sehun adalah topik pembicaraan mereka.Terbukti karena telinga Sehun menangkap namanya disebut beberapa kali oleh mereka.

Tanpa sengaja, meja yang Sehun pakai untuk menyangga tubuhnya itu bergerak sehingga menimbulkan bunyi deritan yang cukup keras. Sehun sangat terkejut, terlebih saat ayahnya itu memanggilnya untuk mendekat. Seperti menyuruhnya untuk ikut serta berpartisipasi mengikuti adu mulut itu. “Ada apa, Appa ?”

“Sehun-ah” Ayah Sehun mengubah posisi duduknya. Dilihat dari ekspresi ayahnya, Sehun menduga sesuatu yang serius sedang melanda keluarganya. “Appa memang tidak memaksamu, Sehun-ah. Tapi Appa dan Eomma sangat berharap jika kau dapat membantu kami” Lanjut Ayah Sehun sembari menyeruput teh yang sedari tadi berada di atas meja ruang keluarga itu.

Detak jantung Sehun berjalan lebih kencang. Ia mulai merasakan firasat buruk sekarang yang membuatnya semakin merasa gugup untuk menjawab pernyataan ayahnya itu. “Me-memang a-ada apa dengan keluarga ini, Appa ? A-apa a-ada masalah yang se-serius yang menimpa kami ?” tanya Sehun terbata-bata, mengingat dirinya sangat gugup sekarang.

“Kau tahu, perusahaan Appa mengalami krisis serius.” Ayah Sehun mulai membenarkan kacamatanya. “Bahkan perusahaan kami akan diancam bangkrut, Sehun-ah. Beberapa dari pegawai Appa telah melakukan transaksi gelap sehingga perusahaan kita terjerat hutang yang cukup besar. Dan yang dapat membantu perusahaan Appa adalah dirimu, Sehun-ah” lanjut ayah Sehun.

“lalu apa yang dapat aku bantu?”

“Eomma dengar dari Appa, teman Appa yang bernama Kim Jaejoong akan membantu kami. Kau tahu kan Kim Jaejoong ? Ya, dialah pemilik JYJ corp. Dan kami sangat terkejut karena salah satunya cara untuk membantu perusahaan Appamu adalah dengan perjodohanmu dengan anak perempuan mereka yang sebaya dengan mu, Sehun-ah” Jelas Ibu Sehun panjang lebar, membuat Sehun menganga. Yang benar saja, perjodohan ?!

“Tetapi, Sehun tak mungkin melakukannya Eomma, Appa ! Bagaimana dengan Joohyun, kekasih Sehun ? Sehun sangat mencintai gadis itu, begitu pula sebaliknya. Dan aku tak setuju dengan—“

“Aku akan melakukannya” Tegas Sehun memotong ucapan Miyoung, kakaknya. Keputusan Sehun sangat diluar dugaan Ayah, ibu dan Kakaknya.Walaupun ini sangat berat—berat sekali bagi Sehun, harus melepaskan Seo Joohyun gadis yang ia cintai demi perjodohan dengan gadis yang sama sekali tak ia kenal. Namun, demi keluarganya, demi kebahagiaan orang tuanya ia rela melakukan ini. Semoga ia tak menyesal dengan pilihannya.

“Aku rela dijodohkan dengan wanita itu” tegas Sehun lagi dengan nada bergetar.

 

Sehun menghela nafas beratnya lagi. Kali ini ia menyesal…tidak. Ia sungguh menyesali pilihannya dulu. Kini perusahaan milik ayahnya sudah maju bahkan lebih terkenal dari perusahaan milik Kim Jaejoong—ayah Taeyeon itu sehingga ia tak perlu lagi untuk melanjutkan perjodohan mereka. Seandainya ia dulu menolak dan memilih untuk mencari cara lain, mungkin pada detik ini Seohyun  masih berada di dekapannya.

Namun semuanya mustahil.Ini sudah terlalu terlambat. Seohyun sudah memutuskan untuk melupakan dirinya beserta kenangan-kenangannya melalui kotak itu.Membuat niatnya untuk menyatakan perasaannya kembali pada Seohyun semakin memiliki kendala.Dan mungkin jika ia memang menyatakan perasaannya kembali kepada Seohyun mungkin Seohyun akan menolak dirinya.Sungguh masalah yang sangat merumitkan, pikir Sehun.

“Ya !!!”

Sehun terperanjak sejenak. Suara itu sama persis dengan suara Seohyun. Tapi apakah telinganya tidak salah mendengar  ? Mungkin saja.Tetapi dari nada, intonasi, dan pembawaannya sangat mirip dengan Seohyun. Namun bagaimana mungkin Seohyun bisa datang kemari ? Bukankah ini adalah salah satu tempat rahasia Sehun ? Ah sudahlah, mungkin suara itu hanya halusinasi dari otaknya yang terlalu memendam perasaan bersalah yang berlebih.

“sampai kapan kau akan tetap disitu ? Ayo bangun, pemalas !”

Kali ini sepertinya pendengaran Sehun tidak salah. Itu memang suara Seohyun. Dan jika itu bukan halusinasi Sehun, itu artinya Seohyun berada disini ? Untuk apa dia kemari ? Tak ingin ambil pusing, akhirnya Sehun pun mendudukkan dirinya dan mengedarkan pandangannya. Mencari gadis manis yang telah ia tinggal—Seohyun. Tak membutuhkan waktu lama, kedua manik mata Sehun menangkap seorang gadis berambut panjang dan dibalut dengan dress putih selutut. Gadis itu sedang berdiri di bawah pohon besar yang letaknya sedikit jauh dengannya.Seketika jantung Sehun seakan berhenti berdetak. Dia… Seohyun ?!

Tidak salah lagi. Gadis itu memang Seo Joo Hyun. Wajahnya, Senyumannya, Tingkah lakunya… Bingo! Itu benar-benar Seohyun. Namun, untuk apa ia berada di padang rumput seluas ini ? Apa ia sedang menjalankan sebuah misi ? Apa dia hanya sedang refreshing ? Apa dia sedang bersama seseorang atau sendiri? Beribu pertanyaan yang simpang siur di dalam pikiran Sehun membuatnya sedikit frustasi sekarang.Terlebih lagi perasaan gugup, bersalah, rindu, senang, dan takut semua berkecambuk di dalam hatinya.Ia tak tahu apa yang harus ia perbuat sekarang. Akankah dirinya menghampiri gadis itu, menyapanya dan seakan tidak ada masalah yang terjadi diantara mereka selama enam bulan terakhir ? Ataukah dirinya hanya diam disini, menunggu hingga gadis itu sadar akan kehadiran dirinya disini ? Ah entahlah.

Sehun tertegun ketika melihat gadis itu tertawa sembari memilin sebuah bunga rumput yang memang sedang bermekaran disini.Hatinya merasa sedikit sejuk ketika melihat gadis itu tertawa. Maklum, sudah hampir tujuh bulan dirinya tidak pernah melihat Seohyun tertawa selebar ini. Dan dibalik hatinya yang mengalami kesejukan, di dalam hati kecil Sehun merasa sedih. Jika gadis itu tertawa, itu artinya Seohyun telah sukses melupakan dirinya, dan semua tentangnya. Di dalam hati kecilnya juga Sehun merasa heran, apa yang membuat gadis itu tertawa di padang rumput yang luas sekaligus sepi ini ? Apa ia tak sendirian ? Atau jangan-jangan ia mengalami gangguan psikis….Tidak !!

Pemuda itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat.Ia yakin bahwa Seohyun tak mengalami gangguan kejiwaan. Seohyun yang dikenalnya adalah gadis yang kuat, dan tegar. Tentu saja ia takkan mengalami gangguan psikis seperti ini. Apalagi penyebabnya adalah dirinya. Walau Sehun memang telah membuat gadis itu menjadi gadis pendiam dan tertutup, namun Sehun yakin Seohyun tidak akan mengalami gangguan psikis.Sehun terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia merangkak pelan-pelan melewati rerumputan untuk mendekati gadis itu. Berusaha untuk meyakinkan dirinya sekaligus membuktikan bahwa Seohyun memang baik-baik saja.

Akan tetapi, barusaja Sehun melangkahkan kakinya, ia telah melihat sebuah pemandangan yang sangat membuat hatinya tertohok. Kedua manik matanya mulai memanas ketika ia melihat seorang lelaki tengah menyibakkan rambut panjang Seohyun dan menyelipkan setangkai bunga Mawar putih di telinga kiri gadis itu. Hatinya kian memanas setelah melihat gadis itu tersenyum lebar ke arah pemuda itu dan sang lelaki mengelus rambut Seohyun.Jika saja dirinya masih menjadi kekasih Seohyun, mungkin disaat ini juga lelaki itu telah jatuh tersungkur di tanah dengan beberapa luka lebam. Namun mengingat dirinya bukan siapa-siapa Seohyun lagi, Sehun hanya bisa menahan emosinya. Tangannya mulai mengepal dan tanpa sadar ia menyebutkan nama lelaki yang sedang bersama Seohyun itu.

“Xi Luhan….”

-o0o-

“Kau harus tetap mempertahankannya, Sehun-ah”

Sehun menatap sepasang mata berwarna hazel milik seorang gadis di depannya. Dari kedua mata Sehun, sudah dapat ditebak kedua manik mata itu memancarkan aura kelelahan. Sudah hampir sebulan ia mengakhiri hubungannya dengan Taeyeon, namun tetap saja gadis itu masih menjauhinya. Dan lebih parahnya lagi gadis itu mulai dekat dengan sahabatnya…atau mungkin mantan sahabatnya—Xi Luhan. Mantan sahabat ? Entahlah, Sehun sendiri juga sedikit ragu membubuhkan kata ‘mantan’ di depan kata ‘sahabat’. Sebenarnya Sehun tak menjadikan Luhan sebagai mantan sahabatnya.Namun sepertinya dilihat dari sifat Luhan beberapa bulan terakhir, sepertinya Luhan telah menganggap Sehun sebagai mantan sahabatnya. Sangat kontras dengan perbuatannya yang sudah menjauhi dirinya dan menatapnya sinis ketika mereka saling berpapasan.

Dan juga masalah Seohyun. Tampaknya kini gadis itu lebih menghindari Sehun. Hal yang membuat Sehun sangat sedih dan putus asa. Niatnya untuk kembali berbaikan dengan Seohyun pupus sudah setelah ia melihat gadis itu sedang menatapnya sinis tepat di depan koridor sesaat Sehun ingin mengambil bukunya yang tertinggal di kelas. Saat berpapasan dengan Seohyun di koridor, ada niatan darinya untuk menyapa Seohyun.Namun niatnya pupus setelah matanya menangkap gadis itu malah menatapnya dengan tatapan tanpa ekspresi dan kemudian membuang pandangannya sembari melanjutkan langkahnya. Sungguh itu membuat Sehun ber putus asa sekarang.

“Sehun-ah, percayalah. Apapun yang menghalangi dirimu untuk mendapatkannya, anggaplah itu sebuah badai. Dan ingatlah, badai pasti berlalu. Fighting~”

Seusai mendengarkan lontaran kalimat dari Miyoung, Sehun menyunggingkan senyumannya. Matanya kini menatap punggung Miyoung yang sedang berjalan meninggalkannya. Sehun memang sangat mengagumi Miyoung, kakak perempuannya. Kakaknya itu bijaksana, cantik dan baik hati. Kakaknya itu selalu mendukung apa yang ia inginkan. Termasuk untuk merebut hati Seohyun lagi. Miyoung lah satu satunya orang yang mendukung Sehun di depan. Mengingat Miyoung dan Seohyun adalah teman dekat, walau mereka memiliki selisih usia dua tahun. Namun pertemanan itu kandas setelah Sehun memutuskan Seohyun dan sejak saat itu Seohyun tak pernah menghampiri rumah Sehun.

“fighting Sehun-ah!”

-o0o-

Sore pada musim gugur hari ini nampaknya bersahabat dari yang lalu. Angin musim gugur yang biasanya berhembus kencang, kini hanya berhembus sepoi-sepoi menyegarkan.Membuat para warga di kota Seoul ini memilih untuk menghabiskan waktu bersama keluarga di luar. Akibat banyaknya masyarakat yang menghabiskan waktu di luar, banyak tempat wisata yang ramai oleh para pengunjung. Dan salah satunya sebuah taman yang pada musim gugur ini penuh dengan kelopak bunga Azalea yang berguguran indah. Taman dengan keindahan itu kali ini menjadi tempat favorit. Tak terkecuali dengan seorang pemuda tampan itu.

Lelaki tampan itu dibalut oleh mantel berwarna hitam, dengan celana jins sebagai bawahan.Lelaki itu tampak sedang duduk menikmati pemandangan di depannya—Kelopak bunga Azalea yang menari-nari diterpa angin. Namun jika dilihat lebih dekat lagi, lelaki itu lebih seperti menatap pemandangan di depannya dengan tatapan kosong. Pikirannya sedang berkeliaran dimana-mana. Ia menghela nafas berat untuk kesekian kalinya.Kemudian mengedarkan pandangannya, sekedar untuk menenangkan dirinya dengan menikmati kelopak Azalea yang berjatuhan.

Baru saja ia mengedarkan pandangannya, ia terkejut saat ia menangkap seorang gadis berambut panjang sedang berjalan di depannya. Spontan ia tak ingin membuang kesempatan itu dan sedikit berteriak memanggil nama gadis itu, “Jessica-ya !”

Merasa terpanggil, gadis yang diketahui bernama Jessica itu pun menoleh, dan ia sempat terkejut dengan lelaki yang memanggilnya itu. Ketika melihat lelaki itu, Jessica pun menatapnya tajam. Emosinya hampir memuncak, namun ditahannya. Ia tak ingin mempermalukan dirinya sendiri dengan memukul atau meneriaki lelaki itu di tempat seramai ini. “Kau….” jari telunjuk Jessica menunjuk ke arah wajah lelaki itu. “Mau apa lagi kau ?”

Lelaki itu—Sehun—tampak bimbang ketika melihat tatapan Jessica ke arahnya yang seakan akan penuh dengan dendam dan kebencian. Yasudahlah, tak peduli dengan tatapan Jessica atau apalah, yang penting sekarang Sehun butuh bantuan dari gadis itu. Dengan menghela nafas berat, Sehun menceritakan segalanya. Mulai dari alasan dirinya memutuskan untuk meninggalkan Seohyun dan menyatakan perasaannya pada Taeyeon. Jessica yang awalnya menatap Sehun dengan tajam pun mulai luluh dan alangkah terkejutnya dia saat ia mengetahui bahwa Krisis Keluarga Sehun lah yang membuat Sehun terpaksa mengakhiri hubungan dengan sahabat karibnya itu.

“Begitulah, Sica-ya. Sekarang aku butuh bantuanmu”

-o0o-

“Ah jadi begitu alasannya…Kupikir kau sejahat itu, Sehun-ah. Baiklah, aku akan membantumu. Aku akan membuat Seohyun tidak benci lagi kepadamu. Namun jika masalah kedekatan Luhan dan Seohyun… Itu semua di luar kendali ku, Hun-ah. Maaf aku hanya dapat membantumu sedikit”

Sehun menggeleng pelan, baginya bantuan sekecil apapun dari Jessica sangat membantunya. Walau sempat cemas dengan Luhan dan Seohyun yang akhir-akhir ini lebih terlihat dekat dari sebelumnya, namun Sehun tak memikirkannya. Yang terpenting kali ini adalah bagaimana caranya agar Seohyun tak membenci dirinya lagi. “Tidak apa-apa, Sica-ya. Bantuan sekecil apapun, mungkin sangat berharga bagiku dan sangat membantu”

Jessica tersenyum, dan mengedarkan pandangannya ke seluruh restaurant ini. Terbesit sebuah pujian untuk restaurant ini. Walau dengan dekorasi yang sederhana, namun letak restaurant ini yang bersebrangan dengan ‘Azalea Park’ membuat taman ini tampak begitu sempurna. Pemandangannya bagus, selain itu juga makanannya enak dan pegawainya ramah. Menambah kesan positif dalam restaurant ini. Tidak sengaja, Jessica menatap pintu masuk yang kini terbuka. Kemudian mata Jessica pun melebar dan menarik tangan Sehun untuk bersembunyi di bawah meja.

“Psst.. Jangan berisik. Aku melihat Seohyun dan Luhan memasuki restaurant ini” bisik Jessica, dengan raut muka yang panik. Jika ia ketahuan sedang bersama Sehun sekarang, mungkin Seohyun bisa-bisa membenci dirinya. Membencinya dengan dua sebab. Pertama, Seohyun akan membenci dirinya karena sedang bersama mantan kekasihnya, padahal ia hanya berniat membantu Sehun. Kedua, Seohyun akan membenci dirinya karena ia sedang bersama dengan orang yang Seohyun hindari..atau lebih tepatnya Seohyun benci.

Sedangkan Sehun yang mendengarkan bisikan Jessica juga terlihat panik. “Lalu, bagaimana ini ?” bisik Sehun, yang dijawab oleh bahu Jessica yang terangkat.

“Ah !” Jessica memiliki sebuah ide. Walau terlihat tidak wajar, namun tak apalah. Jessica segera mendekatkan mulutnya ke arah telinga Sehun, dan membisikkan sesuatu disana. Awalnya Sehun menatap Jessica heran, namun akhirnya lelaki bertubuh tinggi itu mengiyakan juga ide Jessica. Dengan topi penyamaran dari Jessica, Sehun dan Jessica akhirnya sedikit berlari kecil dan berhasil keluar dengan melewati pintu depan tanpa sepengetahuan Seohyun maupun Luhan. Dan kemudian mereka memilih untuk duduk di sebuah bangku tak jauh dari restaurant itu.

“Bahkan dirinya telah mengajak lelaki lain memasuki restaurant yang penuh dengan kenangan dariku” ujar Sehun yang sedari tadi terus memperhatikan gerak-gerik Seohyun dan Luhan melalui etalase restaurant. Hatinya hancur ketika kedua bola matanya menangkap saat Seohyun mengarahkan sebuah sushi pada Luhan. Sedangkan Jessica yang juga melihat adegan itu merasa bersalah, andaikan saja ia tak bersikeras menyuruh Seohyun untuk melupakan Sehun, mungkin masalah ini tidak serumit dengan masalah yang sekarang.

“Maaf…”

Sehun menoleh ke arah Jessica yang kini menundukkan kepalanya. “Jika aku tahu tentang ini dari awal.. pasti aku takkan menyuruh Seohyun untuk segera melupakanmu, dan membuang seluruh benda darimu” lanjut gadis berambut pirang itu.Jessica meremas ujung cardigannya, menggigit bibir bawahnya. “Dan jika saja aku tak meminta bantuan Luhan yang memang menyukai Seohyun untuk membantu Seohyun untuk melupakanmu…”

Sehun terhenyak. Luhan.. menyukai Seohyun ? Sejak kapan ? Apa sejak mereka masih menjadi sepasang kekasih ? Kalau memang iya sejak dulu… Ini bukankah Sehun telah menyakiti hati sahabat nya itu ? “Sica-ya…” panggil Sehun menatap kosong pemandangan di depannya.Otaknya tidak berjalan dengan baik. Semua ini adalah diluar dari dugaan seorang Oh Sehun. Ia sungguh terkejut… Tidak, ia terlalu terkejut untuk ini.

“Sejak kapan Luhan menyukai Seohyun ?”

-o0o-

Seorang pemuda berbadan tinggi sedang melangkahkan…tidak, ia sedang menyeret kakinya menuju ke sebuah bangunan lama yang di desain se modern mungkin namun tetap saja ia benci yang sering ia sebut sebagai sekolah. Pada awalnya, ia sangat giat dan rajin untuk berangkat ke sekolah. Seluruh orang yang ia temui di sepanjang perjalanan menuju kelasnya yang memang berada di lantai atas puntak luput dari senyuman dan sapaan pemuda itu. Namun itu dulu, sebelum pemuda itu terpaksa berpisah dengan gadis cantik nan baik yang sangat ia cintai—Seo Joo Hyun. Sejak saat itu pemuda itu—Sehun—menjadi sangat malas pergi ke sekolah dan terlebih lagi ia sering terlambat dan membolos. Ia juga tampak murung sepanjang perjalanan ke kelasnya.

“Berhentilah membenci dirinya…”

Langkah Sehun terhenti tepat beberapa langkah dari pintu kelasnya. Suara itu adalah milik Jessica, sahabat Seohyun. Kalimat Jessica itu membuat hatinya tertohok. Tentu ia tahu yang sedang Jessica bahas itu adalah dirinya. Dan lawan bicara Jessica tak lain adalah Seohyun, tentu saja. Pemuda itu mundur beberapa langkah dan mengintip melalui jendela pojok belakang kelas. Benar saja, Jessica da Seohyun kini sedang bercengkrama. Dan beruntung, hanya kedua gadis itu yang telah hadir di dalam kelas bernuansa hijau itu.

“Siapa ?”

“Aku tahu kau pasti mengerti siapa yang ku maksud saat ini, Seohyun-ah.Ku harap kau dapat berhenti untuk membencinya.”

“Mengapa ?”

Sehun membulatkan matanya. Respon yang Seohyun berikan membuat hatinya terluka. Walau tidak secara langsung berbicara padanya, namun respon Seohyun yang memang singkat dan terkesan dingin itu membuat hatinya tertohok. Terlalu tega kah dirinya sehingga membuat Seohyun sangat membenci dirinya ?

“Tentu saja. Setelah ku pikir-pikir dia pasti mempunyai alasan untuk semua ini.”

“Alasan ? Tentu saja ia pasti memiliki alasan, Jessica. Dan alasan itu tak bukan dan tak lain adalah Taeyeon, benar ?”

“Kalau alasannya bukan Taeyeon ?”

“Entahlah, Jessica. Yang ku tahu, saat itu ia menjauhiku dan tampak membenciku. Bahkan ia tega ,bermesraan di hadapanku. Catat, Jessica. Di hadapanku. Kau tahu ? Aku sangat terluka melihat itu. Aku seperti ingin menangis saat melihatnya. Namun, aku rela menahan itu semua agar aku tak dianggap sebagai gadis lemah. Sejak itu aku menyadari, jika Sehun saja dapat membenciku dan mencampakkanku, mengapa aku tidak ? Aku juga dapat membencinya seperti ia membenciku…”

Sehun mengepalkan tangannya. Matanya mulai berkaca-kaca. Walaupun ia laki-laki, namun saat mendengar pernyataan dari gadis itu membuatnya sangat terluka. Sejahat itukah dirinya ? Sehingga gadis yang awalnya bukan seorang pendendam menjadi dendam kepadanya dan menjadi membencinya ? Sejahat itukah ? Sehun membuang nafasnya kemudian berputar arah dan melangkahkan kakinya menjauh dari kelas itu menuju lantai bawah. Namun sebelum beranjak, pemuda itu kembali menatap Seohyun yang melanjutkan kalimatnya dengan tatapan nanar. Kemudian bibir pemuda itu mengatakan sesuatu walaupun gadis itu takkan mendengarnya.

“Maafkan aku, Seohyun-ah”

-o0o-

Bel sekolah berdering dengan lantangnya, menandakan waktu pelajaran telah berakhir. Seluruh siswa di salah satu kelas yang terletak di lantai atas itu berhamburan keluar, menyambut bahagia bunyi bel ini. Namun tak seluruh siswa kelas itu yang menyambut bahagia. Buktinya terlihat seorang pemuda sedang menatap kosong papan tulis di depannya, sembari mengetukkan pulpen yang ia pegang di meja bangkunya.

Pikiran pemuda itu tidak menentu. Tetapi, di antara beribu hal yang berlalu lalang di pikirannya, terdapat sebuah hal yang paling mencolok di pikirannya. Ia merasakan penyesalan yang amat dalam. Pemuda itu—Sehun—sangat menyesali perbuatannya yang menerima begitu saja permintaan ayahnya untuk mengatasi krisis perusahaannya tanpa memikirkan resiko yang ia dapat. Dan diluar dugaannya, ternyata resiko kali ini lebih besar dari apa yang ia pikirkan.

Sehun melemparkan pulpennya ke arah papan tulis, sehingga membuat bunyi yang sedikit keras. Ia menyangga dagunya menggunakan tangan kanannya. “Andai saja aku menolak permintaan itu dan memikirkan cara lain.” Ucapnya gusar. Kemudian ia mengacak-acak rambutnya sendiri layaknya orang yang depresi. “Mengapa kau begitu ceroboh, eh ?”

Sehun meraih tasnya kasar dan beranjak dari bangkunya. Ia menghentakkan kakinya ke lantai dengan keras. Jika dilihat sekilas, Sehun memang seperti orang yang depresi. Pikirannya terasa penuh dengan penyesalan dan perasaan bersalah. Selain itu hatinya pula merasakan hal yang sama, penyesalan dan perasaan bersalah yang mendalam, juga perasaan gelisah. Ah, ingin sekali ia menjatuhkan dirinya ke jurang yang dalam atau menceburkan dirinya ke laut lepas.

Saat berada di perempatan koridor, langkahnya terhenti. Kedua matanya menangkap seorang gadis dan seorang pemuda yang sangat ia kenal. Gadis itu..tak lain adalah Seohyun, mantan kekasihnya. Dan pemuda itu adalah Xi Luhan, sahabat karibnya yang mungkin Luhan sudah tak menganggapnya sebagai sahabat lagi. Lupakan masalah itu, namun untuk apa mereka disini ? Apa yang mereka sedang lakukan ? Bukankah bel pulang berdering setengah jam yang lalu ?

“Seohyun-ah….” Luhan mulai membuka suara. Sehun yang memang posisinya berada di beberapa meter dari punggung Sehun pun menajamkan telinganya. Sedangkan gadis itu hanya menatap Luhan dengan pandangan yang sulit di artikan. “Ada apa, Luhan-ah ? Mengapa kau mengajakku kemari dan menyuruh Jessica menunggu di depan gerbang ?”

“Lupakan tentang Jessica, ada yang perlu aku bicarakan denganmu, Seohyun-ah” Luhan menggigit bibrinya sendiri. Ia tampak gugup setelah mengatakan ini. Sedangkan Sehun yang dibelakangnya juga ikut gugup. Sehun sangat takut jika Luhan, sahabatnya itu malah menyatakan perasaannya sendiri kepada Seohyun. Pasalnya, ia mengerti jika Luhan telah lama menyukai Seohyun. Terlebih lagi dengan situasi yang membuat ia dan Seohyun menjauh, ini tentu lebih mempermudah Luhan untuk mendapatkan Seohyun.

“sebenarnya hal ini sudah lama ingin aku katakan, Seohyun-ah” balas Luhan. Sedetik kemudian Luhan berlutut di depan Seohyun dengan posisi tangannya meraih tangan kanan Seohyun. “Seohyun, would you be mine ?”

DEG !!

Baik Seohyun maupun Sehun, mereka sama-sama terkejut. Di sisi Seohyun, tentu ia sangat terkejut karena Luhan yang bernotabene sebagai sahabat karib mantan kekasihnya—Sehun—malah menyatakan perasaan kepadanya. Sedangkan di sisi Sehun, tentu ia merasakan hatinya bak tertusuk ribuan pedang yang tajam ketika menyaksikan peristiwa ini di depan matanya sendiri Luhan menyatakan perasaannya pada Seohyun.Ini sangat perih.

Seohyun menggigit bibir bawahnya sembari mengedarkan pandangannya. Tanpa sengaja, pandangannya bertemu dengan pandangan Sehun yang ternyata dibelakang Luhan dan sedang menatapnya. Seketika emosinya perlahan menaik. Kembali berputar di dalam ingatannya saat Sehun menyatakan perasaannya kepada Taeyeon, dan parahnya Taeyeon menatap dirinya seolah olah meminta maaf dan malah membalas perasaan Sehun.

Tangan kirinya mengepal. Dengan cepat pandangannya beralih kepada Luhan yang kini menatap penuh harap kepadanya. Dengan mengatur emosinya yang tadi sempat meninggi, ia menghela nafas panjang. Bibirnya terbuka perlahan dan menjawab pertanyaan dari Luhan. Jawaban yang sangat membuat Luhan maupun Sehun sangat terkejut.

“Yes, i would Luhan-ah”

 

Haruskah ia tidak mengiyakan permintaan ayahnya dulu ?

Haruskah ia lebih memilih Seohyun daripada Taeyeon dulu ?

Haruskah ia menyesali apa yang ia putuskan dulu ?

Apakah ia masih memiliki kesempatan ?

Sepertinya kesempatannya untuk kembali sudah tidak ada lagi.

–          To Be Continue      –

Bagaimana Reader?  Gaje ? Maafkan T_T maaf juga kalau gak dapet feelnya, maklum author masih abal-abal ._. Need more kritik dan saran. Thanks for read and please leave ur comment^^…

21 thoughts on “[Freelance] Complicated (Sequel of Breakeven) (Chapter 1)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s