Count On Me

Count On Me

Count on Me

By wolveswifeu

Starring

Yoona | Chen

Genre

Friendship | Sad

Rating

PG 13+

Credit Poster

Zee at YoongEXO

Wolveswifeu’s New Fiction, Count on Me

February 2005

                Yoona : Aku lapar.

Jongdae : Serius? Apakah kau juga lelah? Mau kubelikan makanan?

Yoona : Ya, aku lelah. Boleh, aku benar-benar butuh makanan.

Jongdae : Oh, baiklah tunggu aku di samping gedung SM sebentar lagi.

Pesan mereka berhenti karena Jongdae tidak membalasnya lagi. Jongdae langsung keluar dari rumahnya dengan beberapa uang di kantongnya serta ponsel yang masih tengah ia genggam. Kim Jongdae adalah sahabat baik dari seorang trainee di SM yang bernama Im Yoona.

                Jongdae : Yoong, aku sudah sampai. Dimana kau?

Yoona langsung berlari keluar gedung ketika melihat pesan masuk dari Jongdae –sahabatnya. Pasti makanannya sudah tiba bersama Jongdae. Ah, pasti Yoona sangat merindukan sahabat kecilnya itu.

“Jongdae!” Teriak Yoona sambil berlari ke samping gedung SM. Jongdae menoleh dan memamerkan senyumannya.

“Milikmu.” Kata Jongdae sambil memberi sebungkus makanan yang nampaknya masih hangat. Yoona meraih makanan itu dan tersenyum.

Gomawoyo.” Kata Yoona.

Cheonma,” Jongdae duduk di atas bangku panjang yang berada di pinggir jalan itu. “Bagaimana kabarmu, Yoong?” Tanya Jongdae.

“Sangat melelahkan untuk menjadi trainee di bawah naungan SM. Haha. Kau harus merasakannya, Jongdae-ah.” Kata Yoona.

“M-mwo? Ha-harus?” Tanya Jongdae dengan gugup.

“Iya, kau harus menjadi trainee di SM. Haha.” Balas Yoona.

Desember 2009

                Ketenaran Yoona dan teman-temannya sungguh hebat. Lagu Gee yang dibawakan oleh mereka sudah sangat meledak di seluruh dunia. Siapa yang tidak tahu lagu Gee yang dinyanyikan oleh SNSD? Sepertinya tidak ada.

Unnie, aku keluar ya?” Ijin Yoona kepada Taeyeon yang sedang duduk di atas sofa sambil menonton acara TV yang sedang disiarkan.

“Kemana?” Tanya Taeyeon tapi tetap fokus kepada TV-nya.

“Ke rumah temanku, Kim Jong Dae.  Hanya sebentar.” Ucap Yoona.

“Oh, baiklah.” Respon Taeyeon. Dengan penuh tekad, Yoona berjalan keluar dari dorm-nya sambil menggunakan topi, jaket tebal, dan kunci motor di tangannya. Ya, Yoona terlalu nekat.

                “Ya!! Kim Jong Dae! Kau dimana?” Teriak Yoona kepada ponselnya yang menyambungkannya ke ponsel Jongdae.

“Kau-kau kenapa? Aku di ru..”

                “Jemput aku sekarang! Ban motorku pecah!” Selak Yoona.

Kau dimana?” Tanya Jongdae dengan santai.

“Tempat biasa, cepatlah!” Suruh Yoona lagi lalu memutuskan sambungannya.

                Jongdae menepuk-nepuk ban yang sudah mengeras itu lalu tersenyum. Dia bangkit berdiri dan membersihkan telapak tangannya.

“Beres, pulanglah.” Suruh Jongdae.

“Aku mau bertemu denganmu, menyebalkan.”

Aniyo, kau sibuk sekarang. Aku tak mau sahabatku yang cantik ini sakit.”

“Baiklah. Aku antar kau, bagaimana?” Tawar Yoona.

Okay.”

                Diluar dugaan, bukannya Yoona yang mengantar Jongdae, malah Jongdae yang mengantar Yoona sampai di depan dorm-nya.

“Bawalah motor ini, tidak apa-apa kok.” Suruh Yoona.

“Tidak, aku sedang buru-buru. Lagi pula aku harus ke rumah temanku lagi.” Tolak Jongdae.

“Serius? Tapi, ah– aku tidak tega melihatmu pulang jalan kaki.” Kata Yoona.

Gwaenchana. Jalan kaki sudah biasa bagiku.” Balas Jongdae.

“Tapi—“

“Aku pulang, sampai nanti, arrasseo?” Pamit Jongdae.

Ne, arrasseo, hati-hati!” Yoona menutup pintu dorm-nya dan masuk ke ruang tengah dengan raut wajah yang agak cemas.

“Kau kenapa, unnie?” Tanya sang magnae, Seohyun.

“Tidak apa-apa.” Balas Yoona lalu masuk ke dalam kamarnya.

Yoona sedang merebahkan tubuhnya di atas kasur miliknya dan Yuri. Sayangnya kali ini dia sedang sendiri, Yuri sedang pergi ke gym bersama Minho. Yoona mengetik sebuah pesan untuk sahabatnya, Kim Jongdae.

Yoona : Jongdae-ah, bisakah kau menolongku?

Tak lama kemudian balasan dari Jongdae muncul.

Jongdae : Ada apa, Yoong?

Dengan cepatpun Yoona membalasnya, dia benar-benar butuh pertolongan Jongdae.

Yoona : Besok kan valentine, aku ingin minta tolong. Sangat banyak paparazzi di luar sana. Aku ingin membeli coklat untuk Xi Luhan, trainee baru di SM. Hehe.

Jongdae : Oh, arrasseo. Coklat pilihanku, bagaimana?

Yoona : Baiklah, selera kita sama bukan?

Jongdae : Selera kau, memangnya kau yang makan? Haha

February 2011

                “Im Yoona!! Aku diterima di SM!” Teriak Jongdae di tengah-tengah gedung SM ini. Yoona yang baru saja masuk langsung terkejut dengan suara Jongdae yang sangat keras.

Jinjjayo?” Tanya Yoona memastikan.

“Iya!!” Jawab Jongdae.

Suasana langsung hening. Ntah Yoona tidak merespon atau dia sedang mengelola jawaban Jongdae.

Satu.

Dua.

Tiga.

“HWAAAAAAA! Chukkae!!” Teriak Yoona. Jongdae langsung menutup teliganya.

“Lebih pelan sedikit.” Protes Jongdae.

“Hahaha, arrasseo. Ikutlah ke ruang latihanku.” Ajak Yoona.

Mwo?

“Ikut saja. Akan kukenalkan kau dengan Soehyun atau Tiffany nanti.” Kata Yoona sekali lagi.

“Serius?” Tanya Jongdae memastikan sekali lagi.

“Tentu!”

April 2012

                “Aku sudah debut secara resmi di China.” Lapor Luhan kepada Yoona yang berada di Korea. Jongdae atau yang lebih sering dipanggil Chen sekarang hanya mendengar suara Luhan yang bersahutan dengan Yoona lewat ponsel.

“Oh, iya, aku dan yang lainnya akan berada di China dan Suho, Baekhyun dan yang lainnya akan kembali ke Korea.” Jongdae –Chen hanya mendengarkannya.

“Oh, baiklah. Haha.” Kata Luhan. Luhan menurunkan ponselnya dari telinganya dan tersenyum ke Chen. “Yoona ingin bicara.” Kata Luhan sambil memberikan ponselnya ke Chen. Chen tersentak, dia pikir Yoona telah melupakannya.

“O-oh, baiklah.” Jawab Chen gugup sambil meraih ponsel Luhan.

Yeobosseyo?”

                “Jongdae-ah! Aku merindukanmu!”

                “O-oh, aku juga. Haha.”

                “Kau tahu? Kita sudah susah untuk berkomunikasi. Semasa kau training, aku tidak berani menganggu.”

                “O-oh, aku mengerti. Bagaimana kabarmu?”

                “Kau menanyakan kabarku atau Seohyun?”

                “Hahaha, yang benar saja Yoong.”

                “Baik dan Seohyun jauh lebih baik.”

                “Hahaha, sahabat yang aneh.”

Kau juga, kok!”

January 2013

                Yoona terisak di sudut kamarnya. Mungkin sudah biasa dengan antis. Tapi, penghinaan dan kritik dari orang-orang itu tetap bisa melukai hati seorang Im YoonA. Lahir tanpa ibu itu bukanlah kemauannya. Yoona itu pembawa sial pasti juga berefek pada soshi, wanita plastic tanpa otak, hanya memodalkan tampang dan tak ada talent.

                Komentar dari antis itu selalu diingat oleh Yoona. Padahal baru saja mereka comeback dari vacuum selama satu tahun itu. Ditambah lagi dia harus menjaga kesehatannya dua kali lebih lipat karena sudah divonis terkena anemia. Yoona yang malang. Mungkin taka da yang tahu seberapa beratnya hidup Yoona.

Pintu kamarnya terketuk, muncullah Chen dan Luhan. Well, mereka memang sering bertiga sekarang. Chen dan Luhan berjalan menghampiri Yoona yang masih terisak.

“Tenanglah.” Ucap Jongdae.

“Iya, Yoona. Jangan pedulikan mereka.” Lanjut Luhan.

“Aku tahu. Tapi, tidak bisa.” Jawab Yoona.

“Percayalah pada kami.” Luhan mengangkat tubuh Yoona sehingga wanita cantik itu berdiri.

“Masih ada aku dan Chen. Percayalah pada kami.” Lanjut Luhan.

Jeongmal?” Tanya Yoona memastikan.

Sure.” Jawab Chen sambil mengelus puncak kepala Yoona.

Gomawoyo.” Respon Yoona sambil tersenyum dan menyeka sisa air mata yang mulai mengering di pipinya. Luhan dan Chen pun memeluk Yoona. Sebagai kekasih dan sebagai sahabat terbaik.

September 2013

                “Terima kasih.” Ucap Chen dengan terharu. Suasana yang tadinya meriah dan ceria untuk merayakan ulang tahunnya menjadi haru seperti ini. Ya, memang acara ulang tahun Chen dipercepat karena mereka –EXO harus ke Jerman untuk photoshoot.

                “Aku tidak menyangka,” Chen menggantungkan perkataanya. “Bahka kalian sangat peduli denganku.” Lanjut Chen. Air mata hampir saja terjatuh dari matanya. Ditambah lagi perjuangan Yoona dan beberapa member soshi yang rela-rela datang kesini –Seohyun, Taeyeon dan Hyoyeon.

“Kau memang sangat berharga, Jongdae-ah.” Ucap Suho.

“Tidak ada kau, tak ada EXO.” Lanjut Kris.

“Itulah mengapa aku selalu mengatakan bahwa kau, Jongdae hyung dan Baekhyun hyung yang sangat berpengaruh besar terhadap EXO.” Kata Kai.

“Aku sangat berterima kasih.” Ucap Chen sekali lagi. “Aku sangat menghargai kalian semua.” Lanjut Chen.

“Yasudah, sekarang buatlah harapan terlebih dahulu!” Suruh Chanyeol. Chen mangangguk, dia menutup kedua matanya sambil melipat kedua tangannya.

Terima kasih kepada orang-orang yang ada di sekitarku, keluargaku, merekas angatlah berharga, jangan biarkan mereka mengeluarkan air mata mereka. Jagalah mereka. Jagalah juga ikatan persaudaraan kami. Aku sungguh bangga memiliki mereka, terutama Yoona dan Luhan. Mereka sahabat terhebatku. –Chen.

                Chen membuka kedua matanya dan meniup lilin yang menyala di hadapannya.

Saengil chukkahamnida!!!”

END

                Selesai sudah /lap keringet. Susah payah buat FF dari real life ya. Semoga menyentuh. FYI, ini ada sebagiannya kisah nyata aku loh😀 /pamer/ /dilempar tomat/ semoga berkenan ya /?

GOMAWO😀

8 thoughts on “Count On Me

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s