[Freelance] Just a Story

Just A Story 2

Judul : Just A Story

Genre : romance

Main cast : Seo Joo Hyun / Seohyun (SNSD), Wu Yi Fan / Kris (EXO-M)

Support cast : Kim Joon Myeon / Suho (EXO-K) sebagai guru

Length : drabble

Rating : G

Author : vii

Jangan lupa kunjungi blog saya di http://vivivanviction.wordpress.com

DON’T BE A SILENT READER AND DON’T TRY TO COPY THIS STORY!

Annyeong readers, silakan baca fan fiction yang telah saya buat. Setelah itu, harap komentari ya… FF ini murni ide saya. Don’t be plagiator, don’t bashing, etc. Jangan ada yang mengcopy FF ini dengan alasan apapun. Seluruh cast ini milik Tuhan, orangtua, agensi, serta mereka sendiri dan saya hanya pinjam nama saja, mian kalau ada kata yang kurang enak di hati serta kesamaan dalam tempat, alur, judul atau kalimat yang merupakan suatu ketidaksengajaan. Selamat membaca..

~

Seohyun POV

~

Aku kembali mengarang cerita yang indah. Memang setiap hari aku mengarang cerita. Hidupku hanya dihabiskan untuk membuat cerita. Hari-hariku dipenuhi dengan cerita. Bahkan di kelas, ketika pelajaran berlangsung, tanganku tetap saja tidak berhenti menulis.

Aku harap salah satu cerita indah yang kukarang dapat menjadi kenyataan. Punya pacar yang baik, punya kehidupan yang baik, hidup berkecukupan, tapi apa yang kupunya? Keluargaku tergolong sederhana, kehidupanku biasa saja, dan yang bisa kubanggakan hanyalah pacarku yang tampan.

Kris. Orang yang hampir satu tahun lalu menyatakan perasaannya padaku. Aku juga menyukainya. Ia sangat tampan, tinggi, pintar, namun sayang sifatnya dingin. Ia tidak pernah bersikap manis padaku, hanya satu kali saja, yaitu ketika ia menyatakan perasaannya. Huh, pacar macam apa dia?

“Seohyun! Berhenti melamun dan jawab soal yang saya berikan!” teriakan itu sontak membuat lamunanku buyar.

Kupandangi Kim Seonsaengnim yang menatapku dengan wajah sangar walau sebenarnya ia tidak cocok seperti itu. Menjawab soal? Tubuhku lemas seketika. Aku tidak pernah mengerti tentang Matematika. Apa hidup ini membutuhkan rumus? Kurasa cerita-ceritaku jauh lebih mudah dimengerti daripada rumus-rumus ini.

Aku berjalan dari bangkuku ke papan tulis selambat mungkin. Kapan bel pulang berbunyi? Masih lamakah? Bila aku tidak bisa menjawab, apa yang akan aku dapatkan? Sanksi? Teguran? Atau apa?

Aku mengenggam spidol dengan tanganku yang sedikit gemetar. Tenang, Seohyun. Kau pasti bisa. Semangat!

“Sudah dua menit berlalu, kamu belum mengerjakan apa-apa? Apa saya tidak pernah mengajari materi ini sebelumnya?” tanya Kim Seonsaengnim padaku.

Aku hanya diam, tidak berani menjawab.

“Baiklah. Mungkin kamu butuh tambahan pelajaran. Nanti kamu jangan pulang dulu. Tunggu di kelas. Kamu masih butuh belajar.”

“Saya bisa membantunya belajar.” Suara berat namja yang sangat kukenal membuat semua mata tertuju padanya, terutama aku.

“Kris? Kamu ingin membantu Seohyun belajar? Itu hal yang bagus.”

“K-kau yakin? Tapi kau pasti akan lama baru bisa pulang sekolah.” Ucapku sedikit terbata-bata.

“Tidak apa-apa.”

.

.

.

“Kau sudah mengerti?” tanya Kris padaku. Aku mengangguk dengan cepat. Sudah satu jam lebih kami berada di kelas, dan Kris benar-benar mengajariku sampai aku bisa. Kim Seonsaengnim telah memberikanku soal dan aku mampu menjawab semuanya.

“Ya. Aku bahkan sudah mengerjakan semua soal ini,” ucapku dengan yakin.

Kris terlihat sangat antusias. Ia mendorongku ke arah Kim Seonsaengnim yang sedang duduk di meja guru sambil memeriksa tugas murid.

“Seohyun, kamu sudah selesai mengerjakannya? Sini saya periksa,” ucap Kim Seonsaengnim sambil mengambil kertas yang kuserahkan padanya.

~

Seohyun POV end

~

~

Kris POV

~

Aku mengajarkan Seohyun dengan hati yang gembira. Bagaimana tidak, selama ini aku tidak mampu mencari alasan untuk dekat dengannya. Aku memang namjachingunya, tapi aku bukanlah namjachingu yang romantis. Sikapku cenderung dingin, dan mungkin Seohyun tidak suka dengan sikapku selama ini. Inilah kesempatan untuk membuat Seohyun menjadi lebih dekat denganku lagi, haha… Dan Seohyun pasti akan berterima kasih padaku karena telah mengajarinya.

Sambil menunggu soal-soal yang dikerjakan Seohyun selesai diperiksa, aku mengambil buku coret-coret milik Seohyun dan membaca isinya. Yah, sebenarnya Seohyun sangat suka mengarang, tapi aku jarang membaca cerita yang dibuatnya. Aku memang pacar yang tidak mengerti pasangannya -.-

~ By Seohyun ~ Aku memang orang yang biasa saja. Tidak kaya, tidak pintar, tidak terkenal, dan kehidupan yang kumiliki adalah kehidupan orang standar. Tidak ada hal yang menyenangkan hatiku, kecuali satu hal. Namjachinguku. Walau ia tidak pernah bersikap manis padaku (kecuali saat ia mengutarakan perasaannya padaku), tapi aku sangat senang bisa bersamanya. Menurutku, ia itu dapat dibilang ‘almost perfect’. Baik, kaya, tampan, pintar, terkenal, dan kekurangannya hanyalah sifat dinginnya. Aku tidak pernah menuntutnya untuk bersikap manis padaku karena aku sangat menyayanginya, bagaimana pun sifatnya. Tapi, sebagai orang biasa, aku iri dengan orang-orang lainnya. Punya pacar yang perhatian dan manis. Huh, sampai kapan ia tidak sadar akan sikapnya yang terlalu dingin itu? Please, my ice prince, bersikaplah seperti pasangan lainnya. Aku ingin tahu apa arti romantis saat bersamamu, bukan dari cerita yang kubuat. Hanya dari cerita yang kubuat aku merasakan kisah romantis. Sampai kapan harus begini? ~ By Seohyun ~

Aku membaca dengan seksama. Yang ini termasuk cerita atau curhatan? Bisa saja bentuk ceritanya seperti bentuk curahan hati. Tapi bila ini benar-benar curhatannya, berarti yang dimaksud dengan pacarnya adalah aku. Dia mengatakan aku dingin? Dia ingin aku bersikap romantis? Tepat sekali di saat aku ingin berubah menjadi lebih perhatian.

~

Kris POV end

~

Seohyun menatap wajah gurunya yang tampak cukup senang. Seohyun mengalami peningkatan nilai dengan waktu yang sangat singkat. Hanya dengan diajar oleh Kris, ia mampu menjawab soal-soal, walau ada beberapa yang salah. Faktor kehebatan Seohyun menangkap apa yang Kris ajarkan, faktor Kris yang pandai mengajar, atau faktor Seohyun dan Kris yang belajar dan mengajar dengan penuh cinta?

“Hebat, Seohyun. Walau ada beberapa soal yang salah, tapi kamu sudah menunjukkan peningkatan. Bagus. Sekarang kamu boleh pulang.”

Seohyun berjalan ke arah Kris yang sudah merapikan tas mereka.

“Aku akan mengantarmu pulang. Kau lapar? Apa kita sebaiknya makan dulu? Ehm, tasmu sudah kubereskan. Sekalian saja ketika aku merapikan tasku.” Aku menatap Kris dengan tatapan menyelidik.

“Kau tampak aneh hari ini,” ucapku dengan penuh tanda tanya di wajah. Ya, hari ini Kris memang aneh.

Kris menatapku dengan wajahnya yang agak aneh. “Apa yang aku lakukan bagimu salah. Terlalu dingin, salah. Terlalu baik juga salah. Bukankah kau ingin merasakan keromantisan dari seorang Wu Yi Fan?” ledek Kris padaku sambil tersenyum.

“Kau tahu dari mana??!” aku pura-pura marah. Bila ia bisa membaca pikiranku, aku perkirakan ketika besar ia akan menjadi peramal. Istilah kerennya, paranormal.

“Aku bukan peramal, aku bukan paranormal. Aku membaca tulisanmu di buku coret-coret itu. Mulai sekarang, cerita-cerita yang kau buat akan menjadi nyata.”

Kris berdiri dari kursi dan menarik tanganku, menarikku keluar dari kelas.

“Ayo kita wujudkan cerita romantis yang kau buat itu,” ucap Kris dengan nada yang dingin dan tatapan yang dingin.

“Kau ini!” ucapku sambil menjitak kepalanya.

Sampai kapan pun, bicaranya tetap dingin. Sampai kapan pun, wajahmu tetap dingin. Sampai kapan pun, cerita hanyalah cerita.

.

.

.

THE END

.

.

.

Jangan lupa dikomentari, ya!

9 thoughts on “[Freelance] Just a Story

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s