TETRAGON [TWO]

TETRAGON

[CHAPTER 2]

Poster - Tetragon

[Apa ini definisi benar-benar mencintai, Sehun?]

Length: Chaptered – Rating: G – Cast: Chanyeol & Sooyoung – Genre: Angst ]

[AuthorGenie]

 

“apa kau pernah melihat ibu Sehun menggenggam pom-pom di tangannya, Sooyoung?”

***

Suara dering bel menyatu dengan suara puluhan siswa-siswi yang menghambur keluar kelas. Choi Sooyoung berdiri di depan deretan loker, pandangan menatap lurus ke arah sepasang sepatu hitam miliknya. Tidak berani menatap sosok laki-laki muda tampan di depannya. Ada banyak hal yang ingin dia pertanyakan pada sang laki-laki sampai membuatnya bingung harus memulai dari mana.

“ada apa, noona?” sang laki-laki memulai percakapan, melirik arloji yang melingkar di tangan kiri sementara sebelah tangan lagi tersimpan di balik saku celana.

“Sehun-ah, wanita yang bersamamu tempo hari—”

“ibuku” kata Sehun memotong kalimat Sooyoung.

“tapi Yoona bilang wanita itu menggenggam pom-pom, Sehun” sekarang Sooyoung mendongak, hanya untuk mendapati tatapan datar Sehun.

“jadi kau lebih percaya pada Yoona?”

Oh Tuhan, tidak lagi. Sehun selalu seperti ini, menjadikan kalimat ‘jadi kau lebih percaya’ sebagai kalimat andalan. Kalimat yang berisi seperti sihir karena setelahnya Sooyoung selalu merasa bersalah pada Sehun.

“Yoona tidak pernah bohong, Sehun”

“jadi menurutmu aku bohong, noona?” Sehun maju satu langkah sementara Sooyoung mundur satu langkah, detak jantung gadis itu mulai berdetak panik.

Sial, seharusnya tidak begini. Bukankah dia sudah menyiapkan diri tadi sebelum menemui Sehun? Seharusnya dia yang mengintimidasi Sehun bukan malah sebaliknya. Seharusnya dia bisa mengatakan semua isi hatinya dengan baik, bukan malah tergagap dan membuatnya terlihat konyol di hadapan Sehun.

“kau tau, noona. Aku lelah dengan semua tuduhanmu padaku. Aku lelah karena kau lebih mempercayai orang lain dari padaku. Apa kau benar-benar mencintaiku?” kalimat Sehun itu menyudahi pembicaraan mereka. Dia melangkah pergi di iringi tatapan sayu Sooyoung.

Sooyoung juga lelah, Sehun. Masalah benar-benar mencintai, bukankah sepantasnya pertanyaan itu di lontarkan padamu? apa kau benar-benar mencintai Sooyoung? Karena kalo jawabannya iya tidak mungkin setelah kejadian di loker malam harinya di toko buku Sooyoung melihat kau merangkul gadis yang kau akui sebagai ibumu.

Apa ini definisi benar-benar mencintai, Sehun?

***

Pagi pertama Sooyoung di Seoul  berjalan kurang menyenangkan, terimakasih untuk Yoona karena gadis itu menghubungi Sooyoung terlalu pagi. Well, salahkan ingatan Yoona lebih tepatnya. Mengira Seoul dan London memiliki waktu sama.

Alhasil baru pukul enam pagi Sooyoung sudah tampak rapi, mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna hitam-merah dan celana jeans dia duduk di atas meja makan menyantap sepotong roti berlapis selai coklat. Mengunyah selambat mungkin agar waktu berlalu cepat.

Setengah jam kemudian Sooyoung menyerah, tidak tau harus melakukan apalagi akhirnya dia melangkah keluar dari apartemen menuju halte terdekat menuju kampus. Sooyoung bisa saja menghentikan taxi tapi dia tidak. Dia lebih memilih bus dengan maksud dia bisa lebih hafal pada jalanan sekitar. Berpegangan pada sebuah peta lokasi Seoul, maka dia tidak perlu khawatir tersesat.

Perjalanan dari apartemen menuju kampus ternyata tidak memakan waktu lama, meski begitu Sooyoung harus mengganti bus sebanyak tiga kali, sedikit repot sehingga mau tak mau Sooyoung harus memilih taxi seandainya suatu hari dia terlambat bangun kuliah.

Setibanya di kampus, Sooyoung tidak serta merta melangkah masuk mencari ruang kelasnya. Untuk beberapa detik dia berdiri di depan gerbang dengan dua pilar kokoh nan tinggi seperti tembok Cina. Baru dia melangkah masuk bersama beberapa mahasiswa yang juga baru datang.

Suasana kampus tampak masih sepi pagi ini, Sooyoung sibuk menggulirkan bola mata ke penjuru kampus, meneliti keadaan tempat dia akan menuntut ilmu kurang lebih sampai empat tahun ke depan. Ada banyak pohon memenuhi halaman kampus, di bawah setiap pohonpun tampak bangku melingkar di lengkapi sebuah meja bundar di tengahnya. Sooyoung yakin tersedia juga fasilitas wifi, karena para mahasiswa yang duduk di sana membawa serta laptop mereka.

Langkah Sooyoung kemudian membawa gadis itu ke kantin yang bisa di bilang cukup luas, di seberang kantin ada lapangan basket. Ini mengingatkannya pada sekolahnya dulu, ketika lonceng istirahat berdering nyaring semua murid berhamburan menenuhi kantin. Hanya tidak semua berniat untuk menyantap makan siang, beberapa dari mereka kebanyakan murid wanita duduk di kantin lebih karena ingin menyaksikan tim basket sekolah yang lebih memilih menghabiskan waktu istirahat dengan bermain basket ketimbang berburu makan.

Dari kantin dia beralih menyusuri lorong sepanjang lantai dasar, tepat ketika dia mau menginjak anak tangga ke lantai satu suara seseorang dari belakang terdengar memanggil namanya. Sooyoung tidak langsung menoleh, dia butuh beberapa detik tambahan menebak gerangan siapa yang memanggil namanya.

“Sooyoung?” kali ini di sertai sebuah tepukan halus di pundak kanannya. Sooyoung tidak perlu menoleh lagi, si pemilik suara kini sudah berdiri di hadapannya. Seorang gadis cantik, bersurai brunette sedang mengulum senyum ke arahnya.

“kau, Sooyoung kan? Choi Sooyoung?”

and you must be Jessica Jung” Sooyoung ikut mengulum senyum.  Gadis bernama Jessica Jung itu  mengangguk antusias.

Jessica Jung adalah sahabat Yoona. Sooyoung ingat sebelum berangkat ke Korea Yoona pernah bilang kalo sahabatnya yang tak lain adalah Jessica kuliah serta mengambil jurusan sama seperti Sooyoung. Yoona sudah memberitahu tentang Sooyoung kepada Jessica dan menyuruh Sooyoung untuk mencari Jessica di kampus.

Sooyoung tentu saja setuju, Yoona tahu betul sifatnya yang sedikit malas memulai pertemanan bersama  orang baru. Adanya Jessica yang merupakan salah satus teman baik Yoona sewaktu dia masih tinggal di Korea dulu di harap bisa membantu Sooyoung menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya.

Sebenarnya Sooyoung tidak menyangka akan bertemu Jessica secepat ini, dia bahkan belum sempat bertanya kepada Yoona tentang ciri-ciri sosok Jessica seperti apa. Namun sepertinya, Yoona sudah lebih dulu memberitahu tentang dirinya kepada Jessica.

Ah, Yoona benar-benar mengerti Sooyoung.

***

Park Chanyeol mungkin setengah hati mengambil jurusan kuliahnya sekarang, namun itu begitu bukan berarti dia mau terlambat di hari pertama kuliahnya seperti ini. Bahkan Baekhyun tidak datang membangunkannya, keterlaluan! Sahabat macam apa dia?!

Setelah memakan waktu hampir satu jam mengemudi seakan tidak ada lagi hari esok, mendapati omelan dari pengguna jalan lainnya Chanyeolpun tiba di depan pintu kelasnya di lantai dua. Untuk beberapa saat dia hanya berdiri, mengatur deru nafas yang masih terputus-putus baru kemudian di tengoknya keadaan dalam kelas melalui kaca transparan  di daun pintu berwarna coklat tersebut.

Seorang dosen wanita tengah berdiri di depan kelas. Mengenakan blazer berwarna merah darah senada dengan  rok selutut memamerkan bentuk tubuhnya yang langsing meskipun postur tubuhnya bisa di bilang mungil. Usia wanita itu sendiri mungkin baru memasuki angka tiga puluh, karena dia masih terlihat muda, wajah menarik.

Ah, Chanyeol janji tidak akan terlambat lagi di kelas dosen satu ini lain hari. Memberanikan diri, Chanyeol mengetuk pintu sebanyak tiga kali. Si dosen menoleh ke arah pintu dan untuk seperkian detik keduanya sempat bertukar pandang sebelum dosen wanita tersebut memberi tanda bagi Chanyeol agar masuk.

Daun pintu itu menimbulkan suara berdecit ketika Chanyeol buka, tidak berani menoleh pada lautan mahasiswa yang tentunya sedang menatap dia intens, maka dia memillih melangkah masuk kelas sambil menanatap ubin di bawah telapak sepatunya.

Hingga tinggal tiga langkah dari meja sang dosen, Chanyeol berhenti.

“ aku tidak menerima alasan telat karena tersesat. Kau tau berapa lama kau terlambat?” suara dosen wanita itu terdengar tenang, tapi itu justru membuat Chanyeol merasa dia dalam masalah besar. berdasarkan jarum jam yang berputar di arlojinya, Chanyeol sudah telat lebih dari tiga puluh menit dari waktu perkuliahan seharusnya.

“tiga puluh menit” dia berusaha berbisik, sayang suaranya yang besar tidak bisa di ajak berkerja sama. Suara bisikian itu tetap saja menggema di seluruh ruang kelas.

“kau beruntung, ini hari pertama perkuliahan. Aku tidak akan mengusirmu keluar”

Chanyeol mendongak, mendapati sang dosen tengah berdiri sambil sebelah tangan bertopang pada meja sementara sebelah lagi ada di pinggang. Di lihat sedekat ini, sang dosen terlihat semakin cantik! Nilai tambah dia juga baik, tidak memberi hukuman pada Chanyeol di hari pertama kuliahnya. Oh, rasanya dia ingin memeluk erat tubuh mungil dosen itu.

“aku tidak akan mengusirmu tapi aku bosan. Kalian juga bosan kan? hukuman apa yang akan kita berikan pada mahasiswa terlambat ini?” binar bahagia di sepasang manik hitam pekat Chanyeol seketika sirna mendengar kalimat dlanjutan dosennya. Sementara sang dosen menggulirkan pandangan ke arah mahasiswa lainnya.

“MENYANYIi!” kata suara cempreng. Chanyeol sepontan menoleh, mendapati sahabat baiknyaByun Baekhyun tengah tersenyum lebar. Setelahnya, bagaikan sedang berada di sebuah konser mahasiswa lain turut meneriakan kata menyanyi, di antaranya malah ada yang memukul meja.

Pada saat itu Chanyeol sadar, Baekhyun bukanlah satu-satunya orang yang dia kenal di kelas ada pula Jongdae teman duetnya berbuat onar dulu semasa SMA.

“Baiklah-baiklah kita suruh dia menyanyi” suara dosen terdengar lagi berhasil membuat suasana kelas kembali sunyi.

“kau bisa mulai sekarang” sebelah sudut bibir sang dosen terangkat, membentuk seringai. Chanyeol berubah pikiran, sang dosen tidak lagi cantik ataupun baik. Dia lebih mirip setan dalam kebanyakan buku dongeng tanpa tanduk di kepala.

Ada jeda hening cukup lama di kelas, Chanyeol tidak mulai bernyanyi. Sepagi ini habis berlari dalam keadaan perut kosong lagu macam apa yang dosen wanita itu harap akan Chanyeol nyanyikan? Seandainya saja ada pengeras suara, sudah pasti dia dekatkan ke perutnya agar suara cacing-cacing di perut yang tengah bernyanyi riang dapat terdengar seantereo kampus.

Sampai akhirnya suara Jongdae terdengar. Namun itu bukan jenis suara nyanyian, laki-laki bermata tajam itu ber-beat-boxing. Memberi musik untuk Chanyeol, mendengar itu Chanyeol tidak bisa menahan senyumannya. Dan tanpa dia sadari, perlahan bibirnya mulai bergerak.

sangcheoreul chiryohae jul saram eodi ganna

gamanhi nwa dudaga kkeunhimeobsi deotna

sarangdo saramdo neomunado geop na

honjain ge museowo na ichyeojilkka duryeowo

Chanyeol semakin bersemangat, lagu ini mengingatkannya pada pentas seni SMA. Di mana dia bernyanyi sementara Jongdae mengiringi dengan suara mulutnya. Waktu itu, mereka berhasil membuat seluruh murid serta staff sekolah ikut bernyanyi, berjoget dan berteriak.

Keadaan itu ternyata terjadi juga di kelas sekarang. Cara Jongdae ber-beat-boxing, kecepatan Chanyeol bernyanyi memberi nyawa yang lebih hidup di kelas. Mereka mulai bertepuk tangan dan bersorak menyemangati keduanya. Mendapati dukungan seperti itu, Chanyeol semakin semangat, mengangkat kedua tangan agar semua ikut bernyanyi dan Jongdae berdiri dari duduknya.

sangcheoreul chiryohae jul saram eodi ganna

gamanhi nwa dudaga kkeunhimeobsi deotna

sarangdo saramdo neomunado geop na

honjain ge museowo na ichyeojilkka duryeowo

eonjena oetori mamui muneul datgo

seulpeumeul deunge jigo saraganeun babo

du nuneul gamgo du gwireul makgo

kamkamhan eodumsoge nae jasineul gamgo

Sayangnya euforia tersebut tidak di rasakan oleh sang dosen. Seringainya malah surut melihat hukuman yang seharusnya memalukan Chanyeol malah berdampak sebaliknya.

“BERHENTI” suaranya kali ini naik beberapa oktaf. Suasana hening kembali menyelimuti kelas. Semua pasang bola mata terpaku padanya. Dia berdeham sebelum bersuara lagi.

“aku bilang bernyanyi, bukan malah berbicara tidak jelas begitu. Dan kau? Si rambut coklat! Siapa yang menyuruhmu membantunya? Ulangi sekali lagi, kali ini bernyanyi tanpa ada bantuan dari siapapun” selesai bicara dia menjatuhkan diri duduk di bangku tinggi berlapis kulit berwarna merah. Ada sorot menantang di sepasang bola mata itu.

Melihat itu Chanyeol akhirnya sadar bila sang dosen mau mempermalukannya. Lupakan persepsi awal dia mengenai dosen wanita ini, lupakan juga kata-katanya tadi. Dia tidak suka dan tidak akan datang lebih awal di kelas sang dosen lain hari.

Merasa tidak terima menjadi bahan lelucon dosen cantik di hari perdana kuliahnya, Chanyeol mengulum senyum  seraya menatap ke dalam bola mata sang dosen tenang, tanpa emosi. Terus begitu sampai dia bernyanyi.

Oh every time I close my eyes

I see my name in shining lights

A different city every night oh I swear

The world better prepare for when I’m a billionaire

(oooh ooh) when I’m a Billio

“oke cukup. Sekali lagi terlambat lebih dari lima belas menit tidak usah repot-repot mengetuk pintu. Tunggu saja di luar hingga jam perkuliahanku berakhir, sekarang kau boleh duduk” potongnya sambil berdiri. Chanyeol sebenarnya masih ingin menggoda sang dosen namun dia urungkan, masih ada minggu depan pikirnya.

Chanyeol membungukuk tanda terima kasih lalu sesudahnya dia duduk di kursi kosong yang sudah Baekhyun sisakan untuknya di deretan ketiga dari depan. Menoleh ke belakang, ada Jongdae di sana. Senyumnya semakin lebar, Jongdaepun begitu.

“aku tidak tahu kalo kau kuliah di sini” kata Chanyeol pada Jongdae.

“kau pikir aku tahu? Bisa satu kelas bersamamu dan Baekhyun saja sudah cukup membuatku bersemangat kuliah di tambah dosen secantik ini. Wah, aku tidak akan melewati kuliah seharipun!”

“cantik tapi menyebalkan” cibir Chanyeol.

“ayolah Park Chanyeol, mana selera usilmu? Tertinggal di bangku SMA? Justru karena dia menyebalkan malah membuatku semakin bersemangat. Kita bisa terus menggodanya, tahu”

“hei, kau terdengar seperti orang jahat” Chanyeol sengaja menyipitkan matanya.

“kau bicara sepeti kau tidak saja, Park Chanyeol” Jongdae memutar bola mata bosan. Dan setelahnya suara tawa tertahan mereka berdua terdengar.

Puas mengobrol singkat bersama funky Jongdae, julukannya dahulu semasa SMA, Chanyeol memutar tubuhnya menghadap depan tanpa sengaja siku kanannya mengenai lengan seseorang di sana hingga menyebabkan sebuah benda terjatuh. Chanyeol buru-buru menunduk, mengambil benda yang merupakan pulpen tersebut, lalu dia kembalikan pada pemiliknya.

“maaf-maaf, aku tidak sengaja” kata Chanyeol.

it’s fine” dua kata dan pulpen berwarna hijau itu beralih pada pemilik sebenarnya, seorang wanita mengenakan kemeja kotak-kotak bergaris merah hitam, tanpa seulas senyum ataupun kontak mata.

***

Pukul dua belas tepat seluruh mahasiswa berhamburan keluar kelas. Suasana bisu kampus mendadak berubah riuh waktu bel berdering nyaring. Bahkan dosen belum sempat mengucapkan kalimat penutup kelas sudah kosong. Terkadang rasa lapar bisa membuat manusia melupakan norma kesopanan.

Terik matahari siang ini tampak merata menyinari seluruh kota Seoul. Saat ini jam makan siang, hampir sebagian mahasiswa memenuhi kantin, sebagian memakan bekal bawaan di bangku-bangku yang telah di sediakan kampus dan sebagian lagi berolahraga di lapangan basket.

Langkah jenjang Choi Sooyoung membanyanya masuk ke dalam kantin. Dia sipitkan mata untuk mempertajam pandangan mencari sosok sahabat barunya.

“SOOYOUNG-AH!” suara teriakan membantu Sooyoung menemukan Jessica. Gadis cantik itu tengah melambaikan kedua tangan ke arahnya. Sooyoung mengangguk kemudian melangkah cepat menuju Jessica. Sesampainya di sana, ternyata Jessica tidak sendiri. Ada dua gadis lain.

“Soo, kenalkan ini teman-temanku. Di beberapa mata kuliah kita akan bertemu mereka”

“Halo, aku Tiffany Hwang. senang berkenalan denganmu” kata gadis bersuarai merah panjang. Senyum hangat memenuhi wajah gadis cantik itu.Satu tangan terulur. Sooyoung menyambutnya dengan senang hati.

“aku Choi Sooyoung. Senang juga berkenal denganmu, Tiffany”

“aku Kim Taeyeon” kali ini gadis berwajah datar di sisi Tiffany yang bicara. Ekspresi wajah Taeyeon berbanding terbarlik dengan milik Tiffany. Dia turut mengulurkan tangan dan sedikit ragu Sooyoung menggenggam tangan itu.

“Choi Sooyoung”

“Taeyeon sedang tidak dalam suasana hati yang baik karena dia tidak sekelas dengan kekasihnya tadi, Sooyoung. Biasanya dia tidak sedingin ini kok” lanjut Jessica menangkap wajah khawatir Sooyoung. Tiffany baru mau membuka mulut, tiba-tiba suara seorang lelaki mendahuluinya.

“selamat siang gadis-gadis cantik, wah kalian sungguh berkilau di bawah terik matahari siang. Sepertinya aku harus mengenakan kacamata hitam untuk meredam kilauan kalian, apalagi kau, Taeyeon-ah” seorang lelaki berwajah manis menjatuhkan dua nampan makanan ke atas meja kemudian duduk di samping Taeyon serta merangkul pundak Taeyeon. Senyum manis tidak tinggal di bibirnya.

“diam, Byun Baekhyun. aku masih marah padamu tahu” lelaki bernama Byun Baekhyun itu mengelus rambut blonde Taeyeon penuh sayang.

“kalian bisa berhenti tidak? kita sedang di kantin. Kalo mau bermanja-manja sana pergi ke ke kelas  kosong saja” suara lelaki lain terdengar, menaruh dua nampan makanan lagi di atas meja. Orang normal mungkin akan malu mendengar kalimat itu, namun ini Byun Baekhyun. Dia malah tertawa. Memberi satu ciuman di pipi sang kekasih barulah dia melepas rangkulan dan berdiri.

“baiklah kakek Jongdae-ah. Selamat menikmati makanan kalian gadis-gadis titipan malaikat langit” sebelum melangkah pergi, Baekhyun mengedipkan sebelah mata ke arah Taeyeon. Sooyoung bersumpah dia melihat rona merah mewarnai pipi putih susu gadis itu.

Ternyata perlakuakan sederhana Baekhyun barusan mampu merubah suasana hati Taeyeon menjadi lebih baik. Buktinya dia terus saja mengulum senyum sambil menyantap menu makan siang yang di bawakan Jongdae juga Baekhyun. Taeyeonpun meminta maaf pada Sooyoung karena sikap kurang menyenangkannya dan memutuskan untuk kembali berkenalan. Kali ini dengan wajah lebih bersahabat tentunya.

Mengenal tiga wanita di hadapannya ini, Sooyoung rasa dia bisa melewati masa perkuliahan penuh canda tawa.

“bagaimana kuliahmu tadi, Sooyoung?” tanya Taeyeon.

“tidak buruk. Dosennya cantik, tapi bila menghadapi mahasiswa terlambat dia berubah bagai monster, menyebalkan”

“apa kau mengenal seseorang di kelas?” giliran Jessica bertanya. Sooyoung menggeleng. Makan siangnya tinggal tersisa satu suapan.

“oh, dua lelaki barusan ada di kelasku”tambahnya setelah menyelesaikan suapan terakhir. Taeyeon mendongak, kedua bola matanya melebar.

“kau sekelas dengan Jongdae dan Baekhyunku?”

—To Be Continued—

A/N: aku udah kuliah lagi, semester ini lebih mengerikan dari semester lain. di tambah acara scereening film indie dan ngumpulin duit buat acara tahunan kampus, aku minta maaf ga bisa update Tetragon cepet-cepet ;-; chapter ini aku dedikasikan buat ByunBaek yg seneng kebangetan jadi model nature republic bareng Taeyeon. makasih buat kalian yg setia nunggu lanjutan Tetragon walau lama :”) aku sayang kaliaaaan! oh, lagi pancaroba katanya, hati-hati jangan sampe kena flu! cukup aku dan teman-temanku saja yg jadi korban – Genie.

30 thoughts on “TETRAGON [TWO]

  1. kenapa tae kaget??
    Next part di tunggu, oh ya di part 2 ini masih belum banyak moment sooyeolnya, klo bisa next part nya ada banyak😀

  2. Wah capter 2’a juga keren
    Three member yang paling berisik dexo kumpul di FF ini
    Pas baca malah ngebayangin muka dio yg suka ditindas mereka disetiap acara #plak
    Tapi qw seneng hahahaha
    Chanyeol kasihan banget telat dihari pertama n harus nyanyi. N baca beat box malah kok ngerasa ini terbalik ya. Tapi FF ini ngasih penggambaran cerita yang menyenangkan
    Fighting ya

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s