[Twoshot] Barbie Girl [Jessica Ver – End]

KrisSica

Barbie Girl

Barbie Girl [Jessica Ver.]

Writing by Priskila (@priskilaaaa)

Jessica Jung [GG] – Wu Yi Fan [EXO M] | Shin Yoonjo [Hello Venus] as cameo’s

Twoshoot | PG-13 | Romance – Fantasy – Fluff

Disclaimer:

I don’t own the cast. But the storyline and the plot is mine. Everything here belongs to God and their family, their agency too. I just used their physical representation. 

Note:

Prepare your popcorn or something before read this. Kenapa? Karena part ini panjang banget. Seharusnya aku bagi jadi dua lagi sih, hanya aku terlalu malas-____-“

Oh ya, di part kemarin maaf banget ada typo nama ‘Donghae’ soalnya cast awalnya disini adalah Lee Donghae, (kakak saya /dihajar/). Dan semoga di part ini tidak ada typo yg mengganggu para readers sekalian.

Selamat membacaaaa~

Tawa kecil keluar dari mulut Kris. “Kau terlihat penasaran sekali.”

 

Ne. Aku sangat penasaran~”

 

“Dia cinta pertamaku dan sampai sekarang aku masih menyukainya…”

Hati Jessica melengos saat mendengar penuturan Kris yang disertai senyum itu. Dia cinta pertamaku dan sampai sekarang aku masih menyukainya. Mulanya dia berpikir, Yoonjo hanyalah masa lalu Kris, namun dia salah.Yoonjo masih merupakan gadis yang dicintai Kris. Dalam hati Kris kecewa berat, gadis itu mengira dialah gadis yang disukai Kris. Buktinya? Tidak. Kris mencintai gadis lain.

 

“Oh. Begitu?” tanya Jessica dengan nada antusias. Tau kah Kris kalau hatinya saat itu terasa sangat perih?

 

Kris mengangguk dengan semangat. Lelaki itu mengira Jessica turut senang dengan ceritanya, “Ne. Dan kau tau? Tadi aku bertemu dengannya di café. Dia semakin cantik!”

 

“Oh ya? Aku jadi penasaran dengannya.”

 

“Suatu saat nanti aku akan mempertemukanmu dengan dia. Tenang saja”

 

“Baguslah. Aku akan menunggu saat – saat itu”

 

Mwo? Apa gege gila?” Tao membulatkan mulutnya begitu mendengar perkataan Kris. Lelaki itu berencana mengajak Yoonjo ke rumahnya, tengah malam lagi, apa dia gila? Pikir Tao.

 

Kris mendelik kesal, “Jangan berpikir macam – macam! Aku mau mengajaknya ke apartemenku itu untuk mempertemukannya dengan seseorang”

 

“Seseorang? Siapa?”

 

“Jessica” ucap Kris tanpa sadar. Kebutaan akan cinta benar – benar sudah membuatnya lupa untuk menyembunyikan siapa itu Jessica. Tao yang sedang menyesap kopi panas pun menyemburkan kopi itu dari mulutnya ke wajah Kris saking terkejutnya, “HEY!”

 

“Jessica? Maksudmu artis baru bernama Jung Jessica itu?” Tanya Tao dengan mata terbelalak. Wajahnya memperlihatkan keantusiasan yang amat. “EH?”

 

Gege kenal Jessica Jung, artis baru itu? Perkenalkan padaku juga,ge!” seru Tao sambil menggoyang – goyangkan pundak Kris. Membuat lelaki itu hanya menatap bingung pada sahabatnya itu. Sedetik kemudian,Kris menyadari kebodohannya. Dia hampir saja membongkar rahasia Jessica.

 

Kris menatap Tao jengkel, “Aniyo! Aku sudah berjanji pada Jessica untuk mengenalkannya hanya pada Yoonjo saja. Ingat! HANYA!” kata Kris penuh penekanan pada akhir kalimatnya. Dia mengangkat cappuccino yang menjadi teman pelengkap cemilannya sore itu dan menyesapnya sedikit demi sedikit. Sementara itu, lelaki yang duduk di hadapannya hanya merengut kesal karena larangan temannya.

 

Ish, lagipula kenapa harus tengah malam? Apa jangan – jangan kau mau berbuat sesuatu yang tidak—“

 

YA! Itu tidak mungkin!” pekik Kris kesal. Dasar si Tao, masa dia mengira Kris akan berbuat yang tidak – tidak pada Yoonjo? Kris yakin dirinya tak seperti itu.

 

Tao mencibir, “Terus kenapa harus tengah malam, coba?” tantangnya.

 

Kris menggigit bibir bawahnya. Benar juga kata Tao. Dan dirinya bingung alasan apa yang akan diutarakannya sekarang, “Hm… itu karena Jessica adalah seorang artis. Jadwalnya sangat padat sekarang, dan tidak ada waktu kosong baginya selain tengah malam. Betul kan?” karang Kris asal. Namun dalam hatinya dia merasa cukup puas dengan jawabannya itu. Benar sekali!

 

Jinjja? Tapi ge, kenapa saat aku mensearch nama Jessica Jung di situs pencarian, tidak ada namanya? Apa kau berbohong padaku soal Jessica Jung itu?” Pertanyaan Tao kembali diluncurkan. Dan hal itu cukup membuat Kris keringat dingin. Dia lupa kalau ‘adik’nya yang satu ini sangat tau mengenai dunia entertaiment.

 

“Hm, itu…” Kris kembali mencoba mencari alasan. “Dia masih sangat baru jadi ya… dia belum terlalu terkenal, walaupun sekarang jadwalnya sudah sangat padat!” cetusnya lagi.

 

Tao hanya ber-oh ria. “Kalau begitu, ajaklah aku juga ge…. Aku ingin bertemu dengannyaa” rajuknya.

 

“Tidak! Sekali tidak, tetap tidak!”

 

“Kau menyebalkan” desisnya tajam.

 

“Terima kasih” balas Kris tenang sambil menyunggingkan seringaian yang cukup menakutkan membuat Tao bergidik ngeri melihatnya.

 

“Dasar monster~”

 

“Kau yakin?” Yoonjo menatap Kris dengan penuh tanya. Gadis itu melipat kedua bibirnya rapat tanda dia cukup ragu dengan usul Kris barusan. Sedangkan Kris mengangguk pasti.

 

“Sepupuku itu penasaran sekali denganmu. Dia memaksaku untuk mempertemukanmu dengan dia.” Jelas Kris lebih lanjut.

 

“Begitukah?” ujar gadis itu sambil tersenyum malu. Sungguh sulit dipercaya baginya, mengingat dia baru bertemu dengan Kris kemarin. Dan yeah, bersama seorang lelaki pada tengah malam itu tidak normal. Tapi kalau memikirkan lelaki itu adalah seorang Kris, Yoonjo ragu lelaki itu berbuat macam – macam padanya, secara dia yakin Kris sangat alergi dengan tinjunya itu. Yoonjo menganggukan kepalanya setelah berpikir sejenak, membuat Kris merasa begitu bahagia. Lelaki itu bersorak dalam hati karena persetujuan Yoonjo.

 

Lagi, satu hal dilupakannya. Identitas Jessica berada di ambang kehancuran.

 

Malam itu, Jessica lagi – lagi menunggu Kris. Lelaki yang setia menemaninya setiap malam itu belum pulang, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam lewat, namun batang hidungnya pun belum muncul. Jessica memutuskan untuk keluar dari kamar Kris. Gadis itu menelusuri seluruh sudut apartemen Kris yang masih cukup asing baginya, karena dirinya selalu berada dalam kamar pemilik apartemen ini.

 

“Dia lucu sekali saat kecil” ujar Jessica sambil tertawa kecil. Gadis itu memandangi bingkai foto berukuran besar yang tergantung di dinding ruang tamu apartemen itu. Matanya menyipit karena geli saat melihat foto Kris kecil yang sedang bergaya pada kamera. Setelah itu, dia segera melihat – lihat benda – benda unik yang berada di sana. Sangat menyenangkan mengenal hal baru, menurutnya.

 

“Jessica~” Jessica tersentak dan nyaris saja menjatuhkan vas bunga berwarna gold  yang sedang dipegangnya. Sudut bibirnya tertarik melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman indah saat memalingkan wajahnya pada sumber suara. Namun sedetik kemudian, raut wajahnya berubah ketika melihat seorang perempuan bersama Kris saat itu.

 

Annyeonghaseyo Jessica-ssi” sapa perempuan itu dengan senyum ramah. Mau tak mau, Jessica ikut menyunggingkan senyum walau matanya menatap bingung ke arah Kris, yang mengatakan secara tak langsung siapa-gadis-ini.

 

“Jessica, kau ingat siapa dia? Dia Yoonjo” Hati Jessica terasa begitu tertusuk saat mendengar penjelasan Kris. Yoonjo. Gadis yang disukai Kris itu kan? Jessica hanya dapat tersenyum kecut. Gadis itu segera menghampiri Yoonjo dan memeluknya, “Salam kenal Yoonjo-ssi dan senang bertemu denganmu”

 

“Aku juga. Kris bercerita banyak tentangmu”

 

Yoonjo tersenyum manis, membuat wajahnya begitu mempesona. Pantas saja Kris begitu menyukainya, aku jelas kalah darinya, pikir Jessica saat melihat senyum itu. Matanya melirik pada Kris yang pergi ke dapur, mungkin membuat minuman dan mengambil cemilan kecil.

 

Setelah mempersilahkan Yoonjo duduk di sofa dan Jessica ikut mendudukkan dirinya disana. Kris  muncul dengan membawa banyak cemilan kecil pada sebuah nampan. Dirinya terlihat begitu kerepotan membawa nampan itu.

 

“Repot sekali. Kau mau membuatku makin gendut, hah?” celetuk Yoonjo dan segera berdiri membantu Kris meletakkan banyak cemilan dan minuman tersebut pada meja. Melihat hal itu, Jessica hanya dapat tersenyum miris.

 

“Terima kasih. Nah, makanlah. Kebetulan di kulkasku ada es krim kesukaanmu” ujar Kris. Lelaki itu segera duduk pada sofa dan mengambil minuman yang dibuatnya tadi. Setelah meminum minuman itu hingga hampir habis, Kris membuka mulutnya memulai pembicaraan, “Bagaimana pendapatmu,Yoon? Sepupuku ini cantik sekali, bukan?”

 

Jessica mengangkat kepalanya yang semula tertunduk dan menatap Kris sambil mengernyit. Sepupu? Maksudnya apa?

 

“Iya. Jessica-ssi cantik sekali. Dia mirip sekali dengan Barbie” kata Yoonjo dengan maksud bercanda. Namun mampu membuat Kris dan Jessica terpaku sesaat.

 

“Barbie?” ulang Jessica dengan suara pelan. Yoonjo mengangguk semangat karena Jessica membalas perkataannya. “Ne. Aku pernah melihat sebuah Barbie, dan boneka itu mirip sekali dengan dirimu, Jessica-ssi

 

“Ahahaha… Mungkin itu hanya perasaanmu saja. Tapi memang, banyak orang yang mengatakan Jessica mirip dengan Barbie. Aku jadi penasaran kenapa Bibi bisa melahirkan anak yang mirip dengan Barbie. Hahaha…“ kata Kris berusaha mencairkan kegugupan antara dirinya dan Jessica. Untung saja dirinya memiliki bakat akting yang cukup baik sehingga mampu menyusun skenario yang diluar dugaan seperti itu.

 

Yoonjo tertawa mendengar itu. Gadis itu menyuapkan sesendok es krim pada mulutnya dan segera berbicara lagi, “Jessica-ssi, kau beruntung sekali memiliki sepupu seperti Kris”

 

Jessica mengernyit, “Eh? Memangnya kenapa?”

 

“Dia sayang sekali padamu. Dia bahkan memaksaku untuk bertemu denganmu malam – malam begini karena katanya kau sangat penasaran denganku. Karena dia sahabatku, maka aku memenuhi permintaannya. Padahal ini sudah sangat malam. Huaaa~” Jessica tertawa kecil saat melihat Yoonjo menguap karena kantuk yang menderanya. Gadis ini tidak terlalu buruk, dia menyenangkan. Jessica menyunggingkan senyum pada Yoonjo yang menatapnya dengan bingung, “Kau humoris sekali”

 

“Terima kasih, Jessica-ssi. Kris  juga sering mengatakan itu padaku.”

 

Mereka tertawa lalu larut dalam pembicaraan yang mengasyikan. Sesekali Jessica melirik Kris yang terlihat begitu enjoy dan bahagia. Dirinya tersenyum dalam hati. Walaupun dadanya terasa begitu sesak karena ternyata Kris masih menyukai Yoonjo. Dia sadar kalaupun Kris menyukainya, bukankah itu akan sangat menyakitkan? Dia itu hanyalah sebuah Barbie, dan Kris adalah manusia.

 

“Aku tidur sendiri!” cetus Yoonjo saat waktu menunjukkan pukul 3 malam menuju subuh. Gadis itu menguap beberapa kali karena kantuk.

 

Kris mendengus, “Aniyo! Di apartemenku hanya ada 2 kamar. Berarti kau dan Jessica saja!”

 

“Aissh~ Pabo, apa kau lupa kalau aku dapat menguasai satu tempat tidur? Jessica bisa jatuh ke lantai jika tidur denganku. Kejam sekali.“ ucapan Yoonjo membuat Jessica tertawa. Gadis ini memang menyenangkan sekali.

 

“Aku tidur di sofa saja, tidak apa – apa” ucap Jessica kemudian saat melihat dua manusia di hadapannya berdebat karena dirinya. Dia sangat tidak mau Yoonjo dan Kris marahan hanya karena dirinya (Yah, walaupun Jessica tau itu menggelikan jika benar terjadi).

 

Kedua manusia yang tengah berdebat itu berhenti dan berbalik menatap Jessica dengan tatapan menyelidik, “Otakmu hilang, Jessie? Apa kau mau aku dimakan nenek sihir ini?” ucap Kris menyindir. Yoonjo mendelik pada Kris namun kemudian menatap Jessica lagi, “Tidak! Kau perempuan. Lebih baik Krislah yang tidur di sofa. Bagaimana?”

 

Gadis itu merangkul pundak Jessica akrab dan menuntunnya ke kamar Kris. “Kau tidur saja di kamar ini~”

 

“YAK! Kau bertindak seolah kau adalah pemilik apartemen ini—“ protes Kris namun kemudian dia bungkam. Yoonjo menatap tajam dirinya seakan mengatakan diam-atau-kubunuh.

 

“Baik, baik. Aku akan diam” pasrah Krs. Lelaki itu mendudukkan dirinya pada sofa dengan lemas dan mengambil posisi tidur. Yoonjo dan Jessica tertawa melihat itu.

 

Benar – benar gadis menyebalkan. Aku sendiri heran pada diriku sendiri bisa menyukai gadis liar sepertinya. Mungkin Yoonjo memang sudah berubah. Dulu dia manis pakai sekali, sekarang liar minta ampun.

 

Tubuhku serasa pegal tidur di sofa. Walau ini adalah sofa buatan Canada, aku tetap tidak terbiasa tidur di sofa. Kulirik jam yang tergantung di dinding (Jam itu keren! Glow in the dark!), pukul 3 pagi dan aku sama sekali tidak dapat tidur. Aku merindukan tempat tidurku~

 

“Kris~” Aku terkejut bukan main saat mendengar sebuah suara memanggilku dari balik sofa. Suasana ruangan saat ini sedang gelap karena lampu – lampu yang dimatikan. Tentu saja normal jika aku sedikit ketakutan. Perlahan aku bangkit dan melihat ke belakang, nyaris saja aku berteriak melihat sebuah sosok perempuan yang tersenyum padaku. Untung saja aku mengenali senyum manis itu, Jessica.

 

“Ah, Jessica! Kau mengagetkanku tau” kataku sambil menghela nafas lega. Percaya atau tidak, aku menahan nafas sedari tadi saking takutnya. Oke, ini sedikit memalukan.

 

Jessica tertawa kecil, “Mianhae. Tapi aku takut membangunkanmu tadi. Kau tidak tidur?”

 

Aku mendengus namun kemudian tersenyum membalasnya. Gadis ini memang terlalu perhatian padaku. Sayang sekali dia itu hanya sebuah Barbie. “Aniyo. Aku tidak bisa tidur di sofa”

 

“Kalau begitu, tidur saja di kamarmu. Aku juga tidak bisa tidur” katanya halus. Baik sekali~

 

“Boleh? Tapi bagaimana denganmu?”

 

Jessica mengangguk, “Tentu. Itu kamarmu. Lagipula beberapa jam lagi aku akan berubah menjadi Barbie lagi”

 

Oh ya! Aku lupa hal itu! Jessica sebentar lagi akan berubah. Ah, Wu Yi Fan tolol! Kenapa aku malah mengajak Yoonjo menginap disini? Bagaimana menyembunyikan identitas Jessica nantinya?

 

“Astaga aku lupa!” aku berteriak panik. Sementara itu, Jessica tetap menatapku bingung.

 

“Aku lupa kalau kau akan berubah menjadi boneka lagi. Aduh, bagaimana ini—“

 

BRAKK

 

“Jelaskan padaku! Maksud kalian apa!” Gerakanku berhenti seketika. Suara itu, Yoonjo.

 

“Yoonjo—“ Aku melihat Jessica yang juga terkejut. Sedangkan, Yoonjo menatap Jessica tak percaya.

 

“Barbie? Boneka? Beberapa jam lagi Jessica akan berubah menjadi Barbie?!”

 

Demi wajah tampanku, kenapa masalah ini kompleks sekali? Yoonjomendengar pembicaraan kami tadi?

 

“Jelaskan padaku! Siapapun jelaskan padaku!” Kulihat Jessica menundukkan kepalanya takut. Kini, Yoonjo berdiri di depanku dan meminta penjelasan. Dia menatapku geram.

 

“Kau! Jelaskan padaku! Siapa Jessica?!” teriaknya kesal.

 

“Aku Barbie.” Ungkap Jessica dengan sangat pelan namun dapat didengar oleh kami. Yoonjo melotot tak percaya. Dia jatuh terduduk di samping Jessica dan meremas kedua pundak Jessica dengan sedikit keras.

 

“Maksudmu apa?!” ucapnya keras hingga membuat Jessica terisak pelan. Dia mengguncang – guncangkan bahu Jessica gemas. “Jelaskan padaku! Kenapa bisa?!”

 

“Aku minta maaf. Aku ini sebuah Barbie. Aku—“

 

“Cukup. Yoon, jangan membuatnya menangis!” ucapku tegas sebelum Jessica melanjutkan perkataannya. Yoonjo menatapku tajam, “Aku tidak bisa terima ini! Kau membohongiku! Dan aku tidak mengerti!”

 

Aku terdiam sedangkan Yoonjo tetap menatapku penuh amarah. Wajah cantiknya yang sering kupuja berubah memerah karena marah. Sementara itu, Jessica terus terisak dan menangis. Hati kecilku berteriak – teriak melihatnya yang selalu tersenyum itu menangis. Entah apa yang merasukiku, aku segera memeluk Jessica dan menenangkannya dengan bisikan – bisikan halus.

 

“Ada apa dengan kalian berdua?”suara Yoonjo melembut ketika melihat aku memeluk Jessica. Biarkan dia menebak kami berdua ada hubungan apa.

 

“Jelaskan padaku—“ ucapnya sambil terduduk di sofa. Wajahnya terlihat begitu frustasi.

 

Setelah Jessica mulai sedikit tenang. Aku mulai menjelaskan semua pada Yoonjo. Buat apa kusembunyikan? Toh gadis itu malah akan semakin menerorku meminta penjelasan. Kujelaskan semua padanya, mulai dari aku yang membeli Jessica masih dalam wujud boneka hingga bagaimana dia berubah pada tengah malam dan subuh. Kulihat Yoonjo terus membelakakan matanya tak percaya. Kisah ini memang sulit dipercaya oleh nalar.

 

“Jadi—“ Yoonjo kini menatap Jessica yang menundukkan kepalanya tak percaya. Tangan gadis itu menarik Jessica dan memeluknya. “Kisahmu seperti dongeng, Sica”

 

Aku tertawa kecil saat melihat mata Jessica yang melotot karena terkejut. Namun sesaat kemudian, dia balas memeluk Yoonjo hangat. “Terima kasih mau mengerti” ucapnya lembut dan dibalas anggukan dari Yoonjo.

 

Aku melirik jam. Astaga… ini sudah hampir subuh! Tepat setelah itu, tubuh Jessica memancarkan cahaya. Yoonjo melepaskan pelukannya dan menatap Jessica tak percaya. “Jessica!” pekiknya kaget.

 

Cahaya berwarna merah muda dan putih itu perlahan menghilang seiring tubuh Jessica yang berubah menjadi boneka kembali. Yoonjo menatap boneka itu terkejut dan segera mengambilnya. “Ini… Jessica?” tanyanya padaku dengan tak percaya. Aku hanya menganggukan kepala.

 

 

Yoonjo mengaduk – aduk juicenya dengan tatapan kosong. Gadis itu sedari tadi seperti tidak bernafsu memakan makanan yang ada di hadapannya. Dia sepertinya masih terlalu shock dengan apa yang dia alami hari ini. “Jessica seperti dongeng” Aku mendongakkan kepalaku saat Yoonjo akhirnya membuka suara. Kepalaku mengangguk lemah sebagai tanggapannya. Benar kata Yoonjo, ini semua seperti dongeng. Manusia berubah menjadi boneka? Boneka jadi manusia? Sungguh sulit diterima oleh nalar.

 

“Aku masih tidak dapat percaya akan semua ini” Dia tertawa kecil. Sedangkan aku hanya dapat menutup mulut, tak berani berkomentar banyak.

 

“Dia cantik. Sangat cantik. Makanya itu aku mengatakan dia seperti boneka, dan ternyata benar. Dia boneka. Aku iri dengan kecantikannya…”

 

Yoonjo menghela nafas sebentar lalu kembali melanjutkan perkataannya, “Padahal pribadinya sangat menyenangkan. Sayang sekali dia hanya dapat hidup di malam hari. Aku ingin bertemu dengannya setiap hari. Yifan-ah, apa kau tidak punya niat menjadikannya manusia? Aku yakin pasti ada caranya!”

 

Aku termenung mendengar perkataannya. Menjadikan Jessica manusia? Ah, itu keinginan terbesarku dari hati yang paling dalam. Aku juga ingin bertemu Jessica sesering yang aku bisa. Tidak setiap malam tetapi juga pagi, siang, dan sore. Mengajaknya berkeliling kota dan makan di salah satu restoran Italia favoritku. Juga mengajarinya banyak hal mengenai hidup manusia. Aku yakin itu sangat menyenangkan.

 

“Yifan~” Kepalaku terangkat saat Yoonjo menggenggam kedua tanganku yang terjulur di atas meja. Gadis itu menatapku penuh harap. “Jadikan Jessica manusia ya. Kumohon…”

 

Hati dan pikiranku berteriak padaku untuk mengatakan iya. Namun lidahku kelu untuk menjawab. Aku ragu. Tapi aku mau, sangat mau. Hingga secara perlahan, aku menganggukan kepalaku yakin.

 

Mwo?! Cara menjadikan aku manusia?” Tawa kecil keluar dari mulutku saat melihat ekspresi Jessica yang lucu. Mulutnya membulat dan kedua matanya membesar seperti kartun. Aku hanya mengangguk penuh semangat.

 

Kepala Jessica terpekur tiba – tiba. Gadis itu sepertinya sedang berpikir atau mengingat suatu hal. Lalu sesaat kemudian, dia mengangkat kepalanya dan menatapku lemah, “Aku tidak tau. Sepertinya itu mustahil, Kris”

 

Mustahil?! Tidak. Tidak ada yang mustahil jika berusaha. Aku menggelengkan kepalaku, “Apa yang kau katakan? Mustahil?” Tawa mengejek keluar dari mulutku. Tanganku mengusap wajahku sedikit frustasi.

 

“Pasti ada caranya, Jessica!” kataku penuh penekanan. Tanganku menggenggam dan meremas kedua lengan Jessica sedikit keras membuat gadis itu sedikit ketakutan.

 

“Kumohon jangan terlalu berharap, Kris. Walaupun ada caranya, kita tidak tau bagaimana! Aku memang sudah ditakdirkan seperti ini. Biarkanlah takdir yang mengatur semua” Setetes cairan bening mengalir di sudut matanya, menimbulkan rasa bersalah pada hatiku karena telah membuat gadis itu menangis dan ketakutan. Aku melepas kedua tanganku dari lengannya dan menatapnya dengan pandangan kosong. Seluruh tubuhku sedikit bergetar melihat Jessica kembali menangis dan aku pun segera memeluknya erat.

 

“Kumohon, Jessica. Jangan putus asa. Aku yakin-“

 

“Ini tidak mungkin, Kris”

 

Aniyo. Aku yakin pasti ada. Dan aku akan melakukannya walaupun sangat sulit. Aku ingin terus bersamamu, Jess” Aku tertohok akan ucapanku sendiri. ‘Aku ingin terus bersamamu’? Apa yang merasukiku hingga aku mengatakan hal itu? Ini memalukan.

 

Namun dapat kulihat sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman manis. “Aku juga, Kris.” Dan Jessica membalas pelukanku.

 

Demi dewi fortuna, aku sangat bahagia. Perasaanku sangat lepas ketika Jessica menampakan senyumnya padaku dan memelukku. Tubuhku terasa begitu ringan saat dirinya menatap mataku lembut. Jantungku bekerja dua kali lebih cepat. Darahku berdesir hebat. Oh tidak, ada apa denganku?

 

CUP

 

Shit!

 

Aku mencium pipinya.

 

“K—kris?” Matanya membelalak kaget begitu juga denganku. Argh! Setan! Aku menciumnya tanpa sebab. Tentu saja membuatnya terkejut. Aku sudah gila!

 

Pipiku memanas. Oh sial, aku seperti perempuan saja. “A-ah,  Maaf. Aku spontan”

 

Melihat ulah Kris, Jessica segera menundukkan kepalanya. Gadis itu merasa malu dengan perlakuan Kris atasnya. Tapi tanpa disadarinya, Jessica menyunggingkan senyum kecil. Sedangkan Kris hanya mengusap tengkuknya gugup. Dalam hati, Kris terus – menerus merutuk dirinya sendiri. Karena kecerobohan dirinya, dia mencium pipi Jessica secara tiba – tiba.

 

“Tidak apa – apa kok.” Sahut Jessica malu – malu dengan wajah memerah. Gadis berambut cokelat itu meremas ujung dress yang digunakannya sambil menunduk dalam.

 

Sedangkan Kris hanya menggigit bibir bawahnya. Merutuk dirinya sendiri. “A—aku ke dapur dulu” ujar Kris beralasan lalu segera pergi dari kamarnya. Di dapur, Kris segera mengacak – acak rambutnya frustasi. Dia terlihat seperti orang depresi sekarang. Entah bagaimana, sampai sekarang perasaan saat lembut bibirnya menyentuh permukaan kulit Jessica yang halus masih terasa di bibirnya. Masih dapat terasa saat darahnya berdesir dan tubuhnya memanas. Kris segera mengambil cangkir dari dalam lemari dan menuangkan air dingin ke dalamnya, berusaha menghilangkan rasa panas dalam tubuhnya itu, lalu meminumnya

 

“Huah— “ Tak ada efek. Kris meneguk air dingin itu kembali. Tetap tidak ada efek yang signifikan.

 

“Ada apa denganku?” bisik Kris pada dirinya sendiri sambil mengusap wajahnya dengan frustasi. Dia menggeleng – gelengkan kepalanya lalu kembali meneguk air dingin yang tersisa hingga habis.

 

“Tidak tidak tidak. Wu Yi Fan jangan pikirkan hal – hal yang tidak – tidak. Sadarlaaah~” racau Kris sambil kembali mengacak – acak rambutnya. Tanpa sadar, tangan Kris terangkat menyentuh kulit bibirnya lagi.

 

Namun sedetik kemudian, Kris bergumam tanpa sadar, “Kurasa aku… menyukainya”

 

“YA! WU YI FAN!”

 

Kris tersadar namun kemudian mendengus mendengar suara gadis yang berteriak tak jauh di belakangnya. Dia tak habis pikir, apa tidak bisa sejenak saja Yoonjo tidak berteriak? Dimana Yoonjo yang manis dan penurut yang sangat disukainya itu?

 

Mwo?” jawabnya sambil menoleh pada Yoonjo yang tengah mengatur nafasnya yang terengah – engah karena berlari mengejar Kris. Setelah yakin pernafasannya telah kembali seperti semula, Yoonjo menatap Kris dengan tatapan horrornya, “Aku memanggilmu sedari tadi, tapi kau tidak menanggapiku sama sekali!”

 

“Oh? Kau mengejarku dari tadi?” tanya Kris dengan tatapan tanpa dosanya – membuat Yoonjo serasa ingin mencekik leher lelaki itu saat ini juga.

 

“Tidak, dari dua ratus tahun yang lalu” serunya kesal dengan tangan terlipat di depan dada. Namun sesaat kemudian, gadis berambut panjang itu menatap Yoonjo dengan penuh ingin tau, “Bagaimana?”

 

Kris kembali melangkahkan langkahnya menyusuri koridor kantornya menuju kantin – diikuti Yoonjo disampingnya. Sebenarnya Yoonjo tidak bekerja di kantor ini, hanya saja entah karena apa, gadis itu memutuskan untuk mendatangi kantor Kris hari ini. “Bagaimana apanya?”

 

“Bodoh! Tentu saja mengenai—“ Yoonjo menggantungkan kata – katanya, melihat ke kanan dan ke kiri. Memastikan tidak ada orang yang dapat mendengar perkataannya. “—Jessica”

 

Kris menghela nafas mendengar nama itu kembali. Sudah seminggu ini dia terus mendesak Jessica agar memberi tau cara menjadikannya manusia. Tapi tetap saja Jessica berkilah bahwa dia tidak tau – menau soal hal itu. Namun entah mengapa Kris merasa sebenarnya Jessica tau.

 

“Entahlah. Jessica tidak mau memberi tauku” jawab Kris sekenanya.

 

“Kenapa kau bertanya padanya?! Memangnya dia tau?” selidik Yoonjol sambil mendudukkan dirinya di bangku kantin – beserta Kris yang juga duduk di hadapannya.

 

Kris mengangkat kedua bahunya, “Kurasa”

 

“YA! Bodoh!” Yoonjo segera bergerak menjitak kepala Kris dengan keras, membuat lelaki itu berteriak. “Pasti dia tidak tau soal hal itu, bodoh!”

 

Kris meringis sambil mengusap – usap kepalanya, “Mungkin saja dia tau”

 

“Bodoh!” seru Yoonjo sekali lagi. “Pantas saja teman – temanmu mengataimu bodoh. Kemampuan berpikir otakmu itu memang lambat sekali!”

 

“Aku tidak lambat” bantah Kris. “Aku mengatakan hal itu karena aku merasa dia sebenarnya tau. Lagipula aku juga merasa kalau sebenarnya Jessica itu—“ Kris menggantungkan perkataannya. Dia memilih memesan makanan terlebih dahulu pada pelayan yang baru saja menghampiri mereka. Setelah selesai memesan, Kris menatap Yoonjo dengan mata disipitkan, “Tidak menyukaiku”

 

Mwo?” Yoonjo terkekeh mengejek. “Mana mungkin? Dari tatapannya padamu saja aku sudah dapat mengetahui kalau dia menyukaimu”

 

“Bohong.”

 

“Aku yakin dia tidak tau apapun, Wu Yi Fan. Karena kalau dia tau, pasti dia sudah melakukannya jauh – jauh hari, karena dia menyukaimu.”

 

Kris mendesis mendengar penuturan Yoonjo, “Jessica itu terlalu sempurna untuk menyukaiku”

 

“Tidak juga. Kalian cukup serasi karena yeah… parasmu juga tidak jelek” tukas Yoonjo.

 

“Sungguh? Aku tampan begitu, maksudmu?”

 

“Tidak! Maksudku, kau itu tidak terlalu jelek, juga tidak terlalu tampan. Ih, amit – amit deh kalau kau tampan”

 

Pikiranku terbagi dua saat ini. Perkataan Yoonjo beberapa waktu yang lalu terus melayang di pikiranku. Bukan! Bukan perkataannya yang mengataiku berotak lamban atau tidak terlalu tampan – tidak terlalu jelek. Kalau aku memikirkan hal itu semakin dalam, aku yakin tekanan darah tinggiku akan semakin naik. Oleh sebab itu, aku tidak akan memikirkan ledekan Yoonjo itu. Yang ada dalam pikiranku adalah kalau dia tau, pasti dia sudah melakukannya jauh – jauh hari, karena dia menyukaimu.

 

Mungkinkah Jessica menyukaiku?

 

Eyy, aku tidak mau berharap terlalu tinggi. Seperti yang sudah aku bilang sebelumnya, dia terlalu sempurna untukku. Yeah, walau memang wajahku ini terlalu bagus untuk seorang lelaki bujangan sepertiku, hanya saja… aku merasa minder sendiri kalau melihat Jessica dengan diriku sendiri. Dia terlalu sempurna.

 

Laju mobil yang kukendarai membelah jalanan Seoul yang dihiasi cahaya lampu – lampu jalanan. Walaupun waktu terus bergerak menuju tengah malam, namun masih cukup banyak kendaraan di jalanan. Yeah, zaman sekarang orang bekerja sudah tidak mengenal waktu lagi.

 

Mataku melirik jam digital yang terpasang di mobilku, 10:55. Artinya masih ada waktu satu jam lebih lagi untuk menemui Jessica. Sebenarnya mataku sudah sangat suntuk untuk kembali beraktivitas ataupun sekedar bercengkrama dengan gadis itu. Hanya saja hatiku sudah sangat merindukannya. Sepertinya aku benar – benar jatuh cinta padanya.

 

Mobilku berbelok, menuju suatu pusat perbelanjaan yang masih beroperasi. Mall ini memang buka selama 24 jam. Jadi aku tidak perlu khawatir mengejar waktu. Mungkin ada baiknya jika aku memberi Jessica suatu hadiah? Seperti dress begitu? Bukankah pakaian yang digunakan Jessica itu tidak pernah diganti – ganti.

 

Dia memang hanya sebuah boneka, hanya saja dia tetap harus berganti baju. Lagipula night dress berwarna hitam itu sangat menggoda iman lelakiku. Panjang dress itu hanya setengah pahanya dan cukup ketat. Dress itu sangat mengekpos tubuhnya yang mungil namun seksi itu – dan hal itu cukup membuatku mesti menelan ludah berkali – kali karena keseksiannya itu.

 

Kakiku melangkah menyusuri mall itu, menuju salah satu tempat yang kuketahui menjual dress yang bagus – bagus. Tentu saja aku mengetahui hal ini dari eomma, jadi jangan berpikir kalau aku tau ini karena aku adalah seorang shoppingaddict.

 

Seorang pramuniaga menghampiriku ketika aku memasuki butik yang cukup luas itu, “Ada yang bisa saya bantu, Tuan?”

 

“Saya ingin mencari dress untuk—“

 

“—Untuk kekasih anda ya, Tuan? “ sela pelayan itu sebelum aku sempat menyelesaikan perkataanku. Aku terkesiap mendengar sebutan itu, kekasih. Astaga, Jessica bukan kekasihku. Tapi yeah, tidak terlalu buruk juga. Lagipula aku harus menyebut apa? Eomma? Teman? Rasanya itu tidak pas dengan Jessica. Dengan perlahan, aku menganggukan kepalaku.

 

“Hm,” Pramuniaga itu segera mengantarku menuju deretan dress yang tergantung. Dia mulai memilih – milihkan dress dan menunjukkannya padaku. “Bagaimana dengan dengan ini, Tuan?”

 

Dia menunjukkan padaku sebuah dress dengan dalaman berwarna hitam dan dilapisi oleh flower lace berwarna hijau muda. Sebenarnya pakaian itu tidak buruk, hanya saja membayangkan Jessica menggunakan itu. Tidak tidak tidak. Itu terlalu seksi.

 

Aku menggeleng.

 

Pramuniaga itu tampak kecewa namun kemudian kembali memilihkan dress. Kali ini sebuah dress bertali satu berwarna putih polos. Tentu saja, tidak! Aku menggeleng cepat – mengisyaratkan bagaimana kerasnya aku menolak. Jangan, tidak, itu terlalu seksi. Pramuniaga itu menghela nafas – tampak frustasi karena aku terus menolak pilihannya. Berkali – kali dia menunjukkan dress yang sebenarnya sangat cantik, tapi membayangkan Jessica menggunakannya… TIDAK!

 

“Kalau ini, Tuan?” Dia kembali menyodorkan sebuah dress dengan wajah pasrah. Aku memalingkan pandanganku pada dress yang dipilihnya itu.

 

Wow.

 

“Oke. Aku ambil yang ini, dan juga… ini” Aku menunjuk dua dress yang sebelumnya. Sebagai wujud rasa kasihanku padanya karena telah kususahkan beberapa waktu.

 

Pramuniaga itu tampak sumringah. Dengan semangat yang kembali bangkit, dia segera mengambil ketiga dress itu dan membawanya ke kasir.

 

Dalam hati aku berharap, semoga saja Jessica suka dengan hadiah kecilku.

 

Keluar dari butik itu, aku kembali melangkah menuju salah satu toko kaset yang ada di lantai yang sama dengan butik itu. Mungkin menonton kaset malam ini adalah rencana yang cukup yang baik.

 

“Kaset yang kemarin eomma belikan untukku sangat bagus! Ceritanya manis sekali, eomma!” Sepasang ibu dan anak yang berdiri tak jauh dariku memilih kaset. Mereka juga tampak memilih kaset sama sepertiku. Anak perempuan itu berdiri sambil menggenggam sebuah kotak kaset berwarna pink dengan gambar Cinderella pada cover depannya.

 

“Sungguh?” Ibunya tampak merespon perkataan cadel anak kecil itu. “Kalau begitu, coba ceritakan pada eomma bagaimana jalan ceritanya”

 

Anak kecil itu tersenyum, kemudian membuka mulut mungilnya – memulai cerita singkatnya, “Ada seorang putri yang bernama Putri Salju. Dia sangat cantik, tak ada orang yang memiliki kecantikan seperti dirinya di negeri itu. Namun sayangnya, sang ratu yang merupakan meninggal dunia dan ayahnya itu menikah lagi dengan seorang wanita cantik namun sangat sombong.” Sudut bibirku terangkat membentuk senyuman ketika mendengar anak kecil itu bercerita dengan sangat baik. Dia berbakat menjadi seorang pendongeng.

 

Anak kecil itu terus bercerita hingga akhir, “Para kurcaci sangat sedih dengan kematian Putri Salju. Karena sangat menyayangi Putri Salju, akhirnya para kurcaci memutuskan untuk meletakkan jasad Putri Salju di sebuah peti kaca, agar mereka dapat melihat Putri Salju kapan saja. Pada suatu hari, seorang pangeran tampan mendatangi hutan tempat para kurcaci tinggal, dan dia melihat peti kaca yang berisi jasad Putri. Dia terpesona dengan kecantikan yang dimiliki Putri Salju dan jatuh cinta. Dan akhirnya, pangeran tampan mencium Putri Salju yang sudah mati itu. Namun ajaibnya, tiba – tiba selepas ciuman itu, Putri Salju kembali hidup. Dan akhirnya mereka hidup bahagia!”

 

Aku terpekur mendengar cerita itu. Sungguh, bukannya karena aku udik dengan cerita dongeng seperti ini. Namun cara pangeran tampan yang diceritakan anak kecil itu untuk menghidupkan Putri membuatku sadar akan sesuatu. Mungkinkah ciuman adalah cara yang sama untuk membuat Jessica menjadi seorang manusia?

 

Annyeong~” Jessica menyambutku dengan riang. Ternyata dia sudah berubah terlebih dahulu. Setelah menutup pintu apartemen, Jessica segera menghampiriku yang sedang menaruh paper bag di atas meja. “Apa itu?” tanyanya polos dengan tangan terunjuk pada barang – barang bawaanku itu.

 

Aku tersenyum geli melihat wajah polosnya itu. Tanganku segera meraih satu paper bag berwarna pink, “Aku tadi sempat berbelanja di mall”

 

“Mall?” Jessica mendudukkan dirinya di sampingku. Alisnya mengernyit mendengar suatu nama yang asing baginya.

 

“Mall itu tempat berbelanja. Kau bisa berbelanja kebutuhanmu disana. Tas, baju, sepatu. Semuanya bisa kau dapatkan disana” jelasku.

 

Jessica membulatkan mulutnya – tampak kagum pada penjelasanku mengenai Mall. “Lain kali kau harus mengajakku kesana!” serunya semangat.

 

Aku mengangguk lalu tersenyum geli. Tingkah Jessica begitu menggemaskan. Tanganku kemudian bergerak menyodorkan paper bag itu pada Jessica, “Untukmu”

 

“Untukku?” Jessica tampak penasaran kemudian mengeluarkan salah satu dress yang tadi kubeli itu. Mulutnya terbuka lebar ketika melihat bentuk dress itu.

 

“Kau suka?”

 

Jessica menoleh padaku, kemudian mengangguk penuh semangat. “Sangat suka! Gomawo, Kris!”

 

Ugh, dia imut sekali dengan wajah seperti itu. Wajah penuh kagum yang sangat menggemaskan. “Cobalah” ucapku kemudian.

 

“Mencoba ini?” Aku mengangguk. Beberapa saat kemudian, sosok Jessica menghilang dari pandanganku. Gadis itu tampak begitu semangat mencoba dress dress yang kubelikan itu. Tidak lama, Jessica keluar dari kamar dengan pakaian yang telah terganti. Seperti dugaanku, dia terlihat begitu manis dengan dress itu. Aku tidak dapat menjelaskan bagaimana sosoknya saat ini, hanya saja yang aku tau… aku terpesona padanya.

 

“Bagaimana menurutmu? Apa aku terlihat aneh?” Dunia kiamat jika aku mengatakan Jessica jelek atau aneh. Dia sangat cantik. Cantik, sangat cantik. Aku menyunggingkan senyum ketika dia kembali duduk di sampingku.”Kris—“

 

You’re so pretty, Sica”

 

Jessica tampak tersipu. Pipinya memerah seperti kepiting rebus. Dan seperti biasa, dia meremas ujung dress yang dikenakannya. “T-thanks”

 

Saranghae” ucapku kemudian. Tidak tanpa sadar ataupun asal, tapi aku sungguh mengucapkannya. Aku benar – benar jatuh cinta pada boneka berwujud manusia ini.

Jessica terpaku sesaat. Matanya memandang kaku meja di hadapannya. Seakan perkataan Krisbarusan adalah satu cara untuk menghentikan kerja tubuhnya. Bahkan nafasnya berhenti bekerja. Hanyalah detak jantungnya yang bekerja, namun tidak normal, dua kali lebih cepat dan darahnya berdesir hangat.
“Jess, i think i’ve fall in love with you

 

Jessica tergagap. Tak percaya dengan kenyataan barusan. Kris mencintainya? Apakah Kris bercanda?”

 

I’m not kidding anymore

 

Bukankah dia adalah sebuah boneka? Tak mungkin Kris mencintainya! Ini salah.

 

“Aku tak peduli siapa dirimu, tetapi yang kupedulikan adalah hatiku. Hatiku benar – benar jatuh cinta padaku. Aku tau ini salah, tapi… aku mencintaimu, Jess”

 

Air mata Jessica mulai mengalir tanpa disuruh. Kepala gadis itu tertunduk dan dia mulai terisak. “I’m sorry

 

Kris terperangah. Apa kata Jessica barusan? Tidak. Jangan sampai.

 

I’m sorry, Kris. But, you know… It’s wrong

 

I don’t care

 

But you must accept it

 

No.. Jess, no” Kris tertohok ketika tatapan Jessica berpaling padanya. Tatapan menyesal. “Aku minta maaf”

 

“Jess…” Tangan kekar itu bergerak menyentuh pipi gadis itu yang basah. Menghapus air mata yang terus membasahi pipi itu. Kris merasa pertahanannya rubuh, air matanya mulai menetes satu per satu. Rasanya sakit. Lebih sakit daripada saat Yoonjo memberitahukan bahwa dia berpacaran dengan lelaki lain.

 

Sorry” Kepala itu perlahan mulai tertunduk kembali, namun dengan cepat tangan itu berpindah menyentuh dagu Jessica agar kepala itu tetap tegak. Jessica memejamkan matanya, tak tahan dengan kenyataan ini.

 

Bohong kalau dia mengatakan dia tidak menyukai Kris. Dia menyukai lelaki itu, sangat. Dia yakin tidak akan ada wanita yang sanggup lepas dari pesona Kris, dan itu termasuk dirinya. Dia sudah merasakan getaran itu sejak awal pertemuannya dengan Kris. Dia merasakan hal yang baru baginya itu. Dia juga jatuh cinta pada lelaki itu.

 

Hanya, otaknya memaksa dirinya untuk berpikir lebih logis. Bahwa dirinya hanyalah sebuah boneka yang secara kebetulan dapat berubah pada tengah malam dan kembali menjadi boneka saat matahari beranjak dari peraduannya. Kenyataan bahwa Kris adalah sebuah manusia yang beraktivitas saat terang dan beristirahat pada saat gelap. Dan kehadirannya hanya dapat membuat waktu istirahat Kris terganggu.

 

Tangan Jessica bergerak, menggenggam tangan Kris yang masih berada di dagunya. Memindahkannya secara perlahan kemudian beranjak berdiri. Jessica menolehkan kepalanya, menatap Krise nanar. Lalu sedetik kemudian Jessica mulai mengkomat – kamitkan kata – kata yang dapat membuatnya berubah saat itu juga – kembali menjadi sebuah boneka. Dengan resiko, tak dapat kembali menjadi manusia.

 

“Apa yang kau lakukan?” Suara lelaki itu terdengar lirih. Dia tau Kris sedang berusaha menahan tangisnya.

 

“Aku harus pergi. Maaf.” Balasnya tanpa menoleh. Dia kembali melanjutkan kata – kata itu.  Kata – kata yang dipelajarinya saat dia baru dibuat dahulu. Kata – kata yang sangat tidak ingin dia ucapkan, namun kini keadaan memaksanya.

 

Kris menggeleng – gelengkan kepalanya tak percaya. Tidak, dia tidak ingin kehilangan lagi. Tidak! “Andwae! Jess, andwae” Kris berdiri dan meraih lengan gadis itu yang mulai bercahaya. Sekali lagi, tidak. Dia tidak ingin kehilangan gadis itu.

 

Jessica tak menanggapi. Mantra itu nyaris selesai dan dia akan menghilang. Namun sikap Kris malah membuatnya terisak kembali. Air matanya mengalir dengan deras. Jessica berusaha sekuat tenaga untuk berhenti menangis, dia harus menyelesaikan mantra itu. Sedikit lagi.

 

Andwae. Jangan tinggalkan aku, kumohon” bisik Kris lagi.

 

“Jess… Andwae!”

 

Mata yang terpejam itu perlahan membuka kelopak indahnya. Pandangannya kabur dan tak jelas. Pikirannya pun begitu. Dia seakan terserang amnesia mendadak. Namun sesuatu akhirnya menyadari kalau dia sedang tidak bermimpi.

 

Bibirnya menyentuh sesuatu dan tubuhnya serasa sesak. Jessica membuka matanya lebar – lebar, dan betapa terkejutnya dia saat menyadari bahwa bibirnya menempel dengan bibir Kris. Saat ini jarak tubuhnya dengan Kris sangatlah dekat. Tubuhnya menindih tubuh Kris yang berada di bawahnya. Bibir mereka saling menyatu sedangkan kedua tangan Kris berada di atas punggungnya.

 

Jessica berusaha mengingat apa yang terjadi. Kris menyatakan cinta padanya dan kemudian dia memutuskan untuk pergi meninggalkan Kris dengan tidak kembali menjadi manusia lagi. Namun saat dia hendak menyelesaikan mantra itu, Kris menariknya dan… mencium bibirnya.

 

Jessica memandang Kris yang berada di bawahnya dengan tatapan sayu. Mata lelaki itu terpejam. Ya Tuhan, dalam jarak sedekat ini bahkan Jessica merasa jantungnya berdetak begitu kencang. Lebih terkejut lagi saat Kris mulai mengeluh pelan dan membuka matanya.

 

“Jess—“

 

Senyum itu terpampang dengan manisnya di wajah lelaki itu. Jessica tersenyum kaku, dia tampak salah tingkah.

 

“Kau—“ Kris melepaskan kedua tangannya yang memeluk tubuh Jessica hingga akhirnya gadis itu beranjak dari atas tubuhnya. Matanya menatap Jessica bingung. Seingatnya gadis itu hendak pergi, tapi kenapa…

 

Kris juga beranjak. Tubuhnya disandarkan pada sofa empuk miliknya sedang Jessica juga duduk di sampingnya dengan memeluk kedua lututnya.

 

“Jess—“

 

Jessica tak menjawab. Kris memegang kepalanya yang terasa pening. Matanya mendapati kalau matahari telah terbit. Ruang tamunya tampak diterangi oleh cahaya matahari yang mulai berpindah ke atas kepala. “Apa kau—“

 

“Apa aku sudah menjadi seorang manusia?” gumam Jessica lirih – menyela perkataannya barusan.

 

Kris membulatkan kedua matanya, namun sesaat kemudian senyum cerah tampak di wajahnya. “Manusia?”

 

Mata Jessica beralih menatap Kris, “Mungkinkah?”

 

Senyum Kris semakin melebar. Kebahagiaan menguar di hatinya. Jessicanya menjadi seorang manusia! Tanpa menunggu waktu, Kris segera meraih Jessica ke dalam pelukannya. Memeluknya erat seakan tidak ingin melepasnya lagi. “Thanks God! Now, you’re a human!”

 

Jessica masih tampak linglung dan tak percaya. Namun pada akhirnya, gadis itu juga tersenyum dan membalas pelukan lelaki itu. Dia seorang manusia! Sekarang, bukan boneka lagi dan tidak akan berubah – ubah lagi. Sekarang dan selamanya, dia adalah manusia.

 

Dan juga, sekarang dan selamanya, dia akan sekali ada di sisi lelaki itu. Karena kini tak ada ragu lagi, bahwa dia apakah dia harus menerima lelaki itu atau tidak. Tetapi yang ada adalah, dia yakin, bahwa takdirnya adalah Kris. Wu Yi Fan.

 

“Wu Yi Fan—” Pendeta itu mengalihkan tatapannya padaku. “—apakah kau bersedia menerima Jessica Jung sebagai istrimu, sebagai seorang pendamping hidupmu baik dalam suka maupun duka bahkan hingga maut menjemput?”

 

Ne, saya bersedia” jawab lelaki lantang. Tanpa keraguan sama sekali. Tangannya menggenggam erat tangan gadis yang akan menjadi pendamping hidupnya nanti. Bersamaan dengan sang pendeta, Kris menoleh menatap Jung Jessica yang akan menjadi istrinya itu.

 

“Jung Jessica, apakah kau bersedia menerima Wu Yi Fan sebagai suamimu, sebagai seorang pendamping hidupmu baik dalam suka maupun duka bahkan hingga maut menjemput?”

 

Jessica mendongakkan kepalanya. Menatap pendeta tua itu kemudian menoleh pada Kris, dia menggigit bibir bawahnya. Jantungnya berdegup begitu kencang, masih ada rasa tak percaya bahwa Kris akan menjadi suaminya nanti.

 

Jessica mengangguk gugup, dan kemudian berkata “N-ne. Aku mau, eh.. bersedia” Gadis itu segera menundukkan kepalanya malu. Bahkan dia salah mengucapkan kata – kata simpel itu. Jessica merutuk dirinya sendiri.

 

Pendeta itu terlihat tertawa kecil melihat kegugupan Jessica. Sedangkan Kris hanya tersenyum geli melihat tingkah istrinya itu. Yeah, sekrang mereka resmi menjadi suami istri.

 

“Dan sekarang, di hadapan semua hadirin. Kedua anak manusia ini telah dipersatukan, baik secara agama maupun hukum. Di hadapan Tuhan juga seluruh hadirin. Masing – masing mempelai dipersilahkan memasang cincin pada pasangannya”

 

Wu Amber – adik Kris yang tomboy itu melangkah mendekati sepasang pengantin itu. Penampilan Amber yang tampak feminim tentu mengundang senyuman geli dari pada hadirin. Bagaimana tidak? Seorang Amber yang selalu menolak menggunakan rok kini tampak manis dengan dress berwarna putih yang panjangnya hanya di atas lutut, dan juga dia mengenakan high heels putih. Sangat berbeda dengan Amber yang biasanya.

 

Amber menyodorkan nampan perak yang di atasnya terdapat dua kotak cincin beludru merah – simbol pernikahan Kris dan Jesssica. Tatapannya tampak tertuju pada Kris. Kalau saja bukan karena Kris adalah kakaknya yang memohon agar dia menggunakan dress pada hari pernikahannya, pasti sosok lelaki di hadapannya sudah babak belur sekarang. Kris tersenyum tipis melihat tatapan sinis adiknya itu. Tanpa membuang banyak waktu, lelaki itu mengambil salah satu dari kotak itu, mengambil cincin, kemudian meraih tangan Jessica dan memasangkannya pada jari manis istrinya. Begitu pun Jessica melakukan hal yang sama. Para tamu bertepuk tangan dengan riuhnya ketika kedua tangan yang telah terpasang cincin emas putih itu terangkat –menunjukkan pada hadirin mengenai simbol mereka.

 

“Mereka tampak sangat serasi. Manis sekali~” komentar Yoonjo yang berada pada bangku nomor dua dari depan. Gadis itu menatap pasangan itu dengan tatapan kagum. Sungguh dia sangat senang dengan pernikahan sahabatnya ini.

 

Tao – yang kebetulan duduk di sebelahnya ikut mengomentari, “Ne. Hah, aku tak percaya kalau Kris dapat menikah dengan gadis secantik Barbie itu”

 

Yoonjo membulatkan kedua matanya, “Barbie? Kau—“

 

Aish, jangan berpikir yang macam – macam! Aku hanya bilang kecantikan Jessica itu seperti Barbie!” Yoonjo menghela nafas lega. Dia pikir Tao tau soal hal itu.

 

“Memangnya kenapa?” lanjut Tao tampak penasaran karena ekspresi Yoonjo yang tampak begitu lega. “Ada apa dengan Barbie?”

 

A-ani. Bukan apa – apa”

 

“Oh. Kukira ada apa. Oh? Joomyun hyung?” Tao tampak menajamkan penglihatannya pada sosok yang tak jauh darinya. Lelaki tegap dan tampan bernama Joonmyun itu tersenyum, dia segera berjalan menghampiri Tao yang berada di depan melalui jalan samping karena terlambat datang ke pesta pernikahan sahabatnya itu.

 

“Hai” Joonmyun – atau Suho? –  menyapa Tao juga gadis cantik di sebelahnya – Yoonjo.

 

“Terlambat, eoh?” Tao menyindir.

 

Suho terkekeh, “As always. Kameraku merengek karena tidak ingin kutinggalkan”

 

Tao memutar kedua bola matanya malas. Lalu memandang Suho dengan geli, “Bagaimana kau bisa menikah jika kau lebih tertarik pada kamera daripada wanita, hyung?”

 

“Aku masih normal, Tao. Aku masih tertarik pada wanita. Bahkan sekarang ada seorang gadis yang menjadi incaranku” tutur Suho.

 

“Oh, baiklah. Semoga aku bisa mendapat undangan nantinya”

 

“Jess—“

 

“Hm?”

 

“Jessica~” Kris mulai merajuk tak tentu. Dia memeluk istrinya itu dari belakang dan sangat mengganggu aktivitas gerak Jessica. Jessica mendengus, ini sifat yang paling tidak disukainya dari Kris. Manja. Padahal dia baru saja membersihkan dirinya karena baru saja pulang dari acara resepsi pernikahan mereka. Namun Kris sudah bermanja begini.

 

Wae?” Dia berusaha melepaskan pelukan Kris. Dan berhasil. Lelaki itu melepaskan pelukannya. Matanya menatap Kris penuh selidik karena lelaki itu merangkak ke atas ranjang dan kemudian menepuk – nepuk tempat kosong di sampingnya. “Ayo kesini~”

 

Jessica menaikkan satu alisnya curiga, namun dengan polosnya gadis itu menuruti permintaan Kris. Baru saja dia hendak mendudukkan dirinya di atas ranjang, tiba – tiba lengan Kris melingkar di pinggangnya dan menariknya hingga jatuh terpental di atas kasur.

 

It’s our first night, right?” Matanya membulat ketika menyadari posisi mereka kini sangat tidak menguntungkan. Tubuh Kris berada di atasnya dan lelaki itu menatapnya dengan tatapan nakalnya.

 

“Ka-kau mau apa—“

 

Do something—“ Kris mendekatkan bibirnya pada wajah Jessica – hendak mencium bibir gadis itu. Namun sebelum hal itu berhasil, semuanya terjadi dengan sangat cepat. Sekonyong – konyong saat dia membuka mata, tubuhnya sudah dibanting ke lantai dan Jessica tampak bertongkat pinggang di atas kasur dengan tatapan kejamnya.

 

Wa-wae?!” tanya Kris sambil mengelus pantatnya yang terasa sangat sakit karena berhantaman dengan lantai.

 

“JANGAN COBA MENYENTUHKU! KAU BELUM MANDI, TAU!!!”

 

END

Note:

WUAAA!!! THANKS BANGET YANG UDAH TETAP STAY HINGGA AKHIR CERITAAA!!!

Really big thanks for it…

Jessica version is ending now~~~ Wuhuuuuuuuu!!! /hiphiphula/

Oh ya, aku udah kasih sedikit potongan (?) siapa yang akan jadi pasangan di cerita selanjutnya /winkwink/

Sampai jumpa di cerita selanjutnyaaa… Pai paiii~

81 thoughts on “[Twoshot] Barbie Girl [Jessica Ver – End]

  1. Kocak endingnya wkwkwk ngakak pas di ending aja tuh, gak tau deh sebenernya si Jessica tau atau gak kalau kris mau ngelakuin “itu” kkk
    daebak author-nim~ i like yoour story

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s