[Ficlet] Simple Girl

simple-girl-asriwljng-krissica

Title : Simple Girl

Author : asriwljng

Length : Ficlet

Rating : General

Genre : Romance, Friendship

Main Cast :

–              Jessica Jung

–              Kris Wu

Other Cast : Find it by your self^^

Disclaimer : FF ini asli punyaku, jika ada kesamaan alur cerita dengan FF lain itu karna tidak kesengajaan.

BEWARE OF THE TYPO(s) GUYS!

Read it whit another cast in here!

***

Jessica POV

Aku berjalan turun menuruni anak tangga ini dengan sabar, tinggal di rumah susun yang berada di lantai 5 dan tidak ada lift sama sekali membuat tubuhku sangat lelah ternyata. Apalagi aku hidup di pinggiran kota London. Dan asalkan kalian tau bahwa hidup menumpang di negeri orang lain itu menyusahkan di tambah aku hanya hidup sendiri di negeri ini, tanpa ibu dan ayah. Bersyukur karna otakku ini yang cerdas bisa membuatku merasa seperti wanita paling beruntung di dunia ini karna mendapat beasiswa di universitas paling bagus di negri ini.

Ah akhirnya aku telah keluar juga dari rumah susun ini. Aku merapatkan jaketku dan memegang erat tas selempangku ini. Berjalan menuju halte bis terdekat untuk menuju ke universitasku yang lumayan jauh itu. Dengan tangan kiri yang memegang buku tebal miliik perpustakaan aku trus berjalan menuju halte bus dekat rumah susun ku ini. Beberapa orang juga sudah melakukan kegiatan yang sama denganku. Mereka yang berpakaian rapi untuk berangkat ke kantor mereka dan beberapa mahasiswa lain seperti ku.

Aku duduk di tempat menunggu bis ini datang, sambil menunggu, aku membaca buku yang sedari tadi ku pegang. Mengingat beberapa hal penting untuk nanti saat aku berada di kelas. Meluangkan waktu untuk belajar walaupun sebentar tidak apa kan? Tapi sepertinya kehidupanku hanya di isi dengan belajar saja, mengingat karna aku adalah siswa yang mendapat beasiswa gratis di negeri orang lain membuatku harus terus belajar untuk meningkatkan nilaiku. Terkadang kepalaku penat jika belajar terus menerus, membaca tulisan yang jumlahnya sangat banyak itu.

Singkat cerita, sekarang aku sudah sampai di universitas tempatku mendapat ilmu. Aku berjalan masih dengan memeluk buku yang sedari tadi kubaca selama di dalam perjalanan. Beberapa siswa/i tersenyum ramah padaku. Dan salah satu faktor yang membuatku nyaman disini adalah karna siswa disini sangat ramah, friendly, dan tidak memilih untuk berteman dengan siapapun. Yah walaupun aku hanya memiliki satu teman yang benar – benar mengerti aku sepenuhnya.

“Hai!”

Oh, baiklah. Mungkin kami memiliki ikatan batin. Baru saja dia aku bicarakan sekarang dia sudah muncul di sampingku dengan mengangetkan ku seperti biasa. Dia bernama Tiffany. Seorang gadis cantik dengan bola matanya yang berwarna biru mengkilat, berambut coklat bergelombang, dan kulitnya yang putih bersih. Terkadang dia membuatku iri dengan kesempurnaan fisiknya itu, namun dia mengatakan bahwa aku juga sama sempurnanya dengan dia.

Please, hilangkan kebiasaan mu yang sering mengangetkanku.”

No, i can’t.

You’re freak, Tiff.

It’s up to you, Jess~

Aku menghela nafas kesal, selalu seperti ini saat kami baru saja bertemu pertama kali di pagi hari. Dia selalu membuatku kesal dengan kebiasaannya itu, dan susah sekali untuk memintanya menghentikan kebiasaannya itu yang bisa saja membuatku terkena serangan jantung-walau tidak akan mungkin.

“Hei, kau sudah belajar?” tanya ku sembari meletakkan tas ku di tempat kami berdua duduk.

“Sudah. Kau?”

“Tentu sudah.”

Tiffany mengangguk – angguk paham. Lalu dia mengeluarkan buku yang sama dengan punyaku yang sedari tadi ku pegang. Dia membacanya lagi, lalu menghafal beberapa bacaan yang penting untuk nanti saat dosen kami akan mengadakan kuis. Aku menyederkan kepala ku ke tembok kelasku. Melamun tanpa alasan yang jelas.

Kris is looking at you again, Jess~

And then?

Tiffany is rolling her eyes. Tampaknya dia gemas dengaku karna saat dia memberitahuku bahwa Kris sering memperhatikanku aku hanya menjawabny dengan malas. Walaupun aku dan Kris lahir di negeri yang sama, namun rasanya biasa saja. Dia juga menjadi lelaki paling populer di kampus ini dengan teman – temannya yang lain. Sedangkan aku hanya siswa yang mendapat beasiswa gratis di universitas ini.

Oh c’mon. Apa kau tidak tau apa arti tatapannya?”

“Tidak. Coba beritahu aku apa arti tatapannya~”

Never mind.

Aku tertawa pelan dan mulai duduk dengan tegap saat dosen yang akan mengajar kelas ku sudah masuk. Semua siswa di kelasku mulai diam tidak bicara lagi. Sudah sangat siap untuk belajar hari ini. Dan selama perjalanan berlangsung, aku merasa risih karna Kris masih menatapku seperti itu. Dengan tatapannya yang dingin namun tersirat tatapannya yang memelas dibaliknya yang membuatku tidak mengerti arti tatapannya itu.

“Aku merasa risih sekali, Tiff.”

Why?

“Kris sedari tadi masih memperhatikan ku. Membuatku sedikit tidak konsentrasi dengan penjelasan Mr. Scott.”

“Mungkin dia menyukai mu, Jess.”

Aku menggeleng dengan cepat dan mempercepat gerakan tanganku untuk memasukkan buku – buku yang masih tersisa di atas meja milikku ini. Dan sepertinya Kris masih menatapku dengan lekat dari belakang. Rasanya seperti dijaga oleh beberapa bodyguard saat ditatap dengan Kris, aku menjadi tidak bebas rasanya ingin melakukan apa saja.

“Aku tidak ada kelas lagi setelah ini. Aku pulang dulu ya, Tiff.” Aku segera keluar dari kelas saat mendapat anggukkan dan lambaian dari Tiffany. Aku berjalan dengan tergesa – gesa tanpa tujuan yang membuatku mendapat perhatian dari banyaknya siswa universitas disini. Dan sialnya, tak sengaja aku menabrak bahu seorang lelaki yang membuat buku ku jatuh di lantai.

Sorry.

Aku berkata dengan singkat dan pelan dan memungut buku – buku milikku yang jatuh.

It’s okay, dear.”ucap lelaki itu lembut. Aku mendongak dan tersenyum padanya. Dia juga tersenyum lalu mulai berjalan lagi seperti biasa. Dan lelaki tersebut adalah teman dari Kris, namanya Chanyeol. Berasal dari Korea juga.

“Kris!” Chanyeol berteriak memanggil Kris. Suaranya masih terdengar jelas dari ku karna jarak kami yang belum jauh. Mati kau Jessica, ucapku dalam hati. Pantas saja dari tadi rasanya aku merasa ada seseorang yang mengikutiku, ternyata lelaki itu. Apa boleh aku memanggilnya ‘Pria Misterius’?

Aku berjalan lagi dan memutuskan untuk berjalan menuju perpustakaan universitas ini yang berada di belakang dekat taman. Berarti aku harus memutar arah untuk menuju perpustakaan. Dan berarti aku harus berpapasan dengan Kris?! Okay Jessica, anggap saja dia lelaki biasa yang sama sekali tidak mengenalmu barang sedikit pun.

Benar kata ku, Kris ternyata tak berada jauh di belakangku. Tidak ada Chanyeol di sampingnya, hanya dia sendiri. Karna Chanyeol kini sudah pergi dengan kekasihnya kearah yang sama dengan ku. Kris menatapku, tatapannya sangat dingin seperti es. Tangannya memegang ranselnya yang berada di pundak kirinya. Aku menunduk mencoba tidak memperhatikannya. Namun tatapannya itu benar – benar membuatku risih. Jadi aku mempercepat jalanku menuju perpustakaan agar sampai disana dengan cepat.

***

Aku memasukki perpustakaan disini, lalu menunjukkan kartu identitas mahasiswa ku kepada penjaga perpustakaan ini. Aku memulai dari rak buku pelajaran, namun anehnya aku seperti tidak ada niat sama sekali untuk membaca buku pelajaran disini. Biasanya diantara buku – buku pelajaran itu seperti ada magnet yang akan menarikku untuk mengambil buku pelajaran itu. Tapi sekarang tidak ada. Mungkin moodku sedang tidak baik.

Dan aku berhenti di rak buku siswa. Mengambil buku siswa angkatanku. Lalu berjalan menuju tempat yang biasa ku duduk saat membaca buku di perpustakaan ini. Namun saat baru saja ingin melangkah, sebuah tangan menarik pergelanganku. Ingin berteriak, tapi mulutku sudah di bekap dengan tangannya yang satu lagi. Sepertinya dia sudah tau kalau aku akan berteriak.

What are you doing hah?!” aku berbicara dengan berbisik dan mencoba untuk melepaskan tangannya yang masih berada di pergelangan tangaku. Sial, lelaki ini lagi. Apa mau mu Kris Wu?!

“Tenanglah.” Ucapnya datar dengan bahasa Korea. Aku melepaskan tanganku dengan kasar dari pegangannya, mencoba ingin kabur dari tempat ini. Namun apa daya, tenaganya lebih kuat daripada diriku. Aku jadi takut kalau dia akan melakukan hal yang tidak – tidak di tempat ini. Dan perpustakaan ini sedang sepi, hanya ada 5 orang sudah termaksud aku dan Kris.

Dia menarik tanganku lembut menuju tempat yang biasa aku duduki. Di pojok perpustakaan ini. Tempatnya gelap, namun aku suka. Dan tidak terlalu terlihat dari arah lain. Aku duduk dengan kesal. Memegang pergelangan tanganku yang sedikit berbekas karna pegangannya. Aku semakin di buat risih dengannya, dia masih memperhatikanku.

“Kau maunya apa?” tanyaku pelan dengan bahasa Korea. Sepertinya jika berbicara dengannya harus menggunakan bahasa Korea agar orang lain tidak mengerti pembicaraan kami berdua.

“Mendekatlah.”

“Tidak akan.”

“Kalau begitu aku yang akan mendekat.”

Skak mat! Wajahnya benar – benar mendekat ke arahku. Aku mulai was – was dengan sikapnya. Memundurkan sedikit wajahku dari wajahnya karna hidung kami sudah hamper bersentuhan. Dasar lelaki gila!

“Kau mau apa Kris Wu?” ucapku berusaha dengan tenang.

Dia mendekatkan bibirnya dengan telinga kananku.

“Jadilah kekasihku.”

Rasanya seperti di bebani oleh beribu – ribu batu dari belakang. Bahkan sekarang detak jantungku sudah bekerja lebih dari biasanya. Memompa lebih cepat. Dan kuharap suara detak jantungku yang tidak normal ini tidak terdengar oleh Kris. Namun sayang, sepertinya detak jantung kami sedang beradu dan mengejek kami berdua.

“Kalau aku tidak mau?” tanyaku setelah beberapa menit terdiam dan menormalkan detang jantungku ini. Badan Kris juga sudah menjauh dariku. Dia kembali menatapku tajam dan datar, seperti biasanya.

“Akan ku paksa.”

“Pemaksaan itu tidak baik!”

“Lalu jadilah kekasihku.”

“Tida-“

Telat. Bahkan sekarang bibirnya sudah bersentuhan denganku. Hanya bersentuhan saja tidak melakukan hal lain lagi. Oh ternyata dia masih bisa bersifat lembut juga dengan wanita. Tersadar, aku segera menjauhkan bibirku dari bibirnya. Kesal, rasanya ingin menampar pipi mulusnya itu, namun ada perasaan tidak tega.

“Jadi?” tanya Kris polos.

“Terserah.”

“Aku anggap iya.”

Aku menghela nafas kesal. Meninggalkan buku itu saja di meja yang tadi kutempati lalu pergi meninggalkan Kris sendirian di tempat itu. Kudengar sedikit bunyi  suara bangku berdecit dengan lantai. Pasti suara itu berasal dari Kris, lelaki itu menyebalkan sekali ternyata. Dia berjalan disampingku, merangku pundakku lembut dan berjalan bersama seperti kami memang sudah berpacaran sejak lama.

“Kenapa kau memilihku untuk menjadi kekasihmu?” tanya ku cuek padanya.

“Karna kau gadis yang simple, apa adanya, pintar, dan cantik.”

“Kau yakin?”

“Yakin. Saranghae.” Ucapnya lalu mencium pipi kiriku.

Blush! Rasanya darahku semua langsung mengalir ke pipiku. Benar – benar lelaki ini. Sepertinya aku akan mencoba mencintainya dengan tulus, akan mencoba melewati hari – hariku bersamanya mulai dari hari ini. Nado saranghe, Kris Wu.

END

Advertisements

21 thoughts on “[Ficlet] Simple Girl

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s